Pages - Menu
▼
Pages - Menu
▼
Minggu, 15 April 2018
ARTIKEL DEPRESI
PSIKOLOGI ABNORMAL
Nama: Emiliano Domingos Lemos
Nim : 16.310.410.1150
Fakultas: Psikologi
Dosen: Fx Wahyu Widiantoro S,Psi M,Psi
Depresi dapat memiliki dampak negatif pada hidup anda. Depresi merupakan perasaan yang dialami oleh setiap orang pada satu masa dalam kehidupan mereka. Artikel ini menjelaskan bagaimana mengatasi depresi dan mengubah hidup anda dengan menyingkirkan efek-efek negatif yang muncul dari depresi.
Perasaan-perasaan negatif seperti kesedihan, kekhawatiran, dan frustrasi merupakan perasaan-perasaan yang umum dirasakan oleh banyak orang. Merupakan suatu hal yang wajar jika anda merasa kecewa setelah mengalami kegagalan, sedih, perpisahan atau kehilangan.
Sekali lagi, perasaan-perasaan tersebut adalah hal yang wajar dan dalam beberapa kejadian, perasaan-perasaan tersebut justru dapat digunakan untuk keuntungan kita karena perasaan-perasaan tersebut menunjukkan kelemahan kita. Pengalaman yang muncul dari kondisi negatif dalam hidup kita tersebut memberikan kita keberanian dan kemauan untuk mengubah hidup kita serta kekuatan untuk menangani depresi dan situasi negatif lainnya di masa yang akan datang.
Ketika perasaan negatif semacam ini terus menerus muncul, bertahan lebih dari dua minggu, dan mulai mengganggu kegiatan sehari-hari kita, pekerjaan, diet, tidur dan hubungan kita; maka kemungkinan besar kita mengalami depresi dan kita harus menemukan cara untuk mengatasinya. Karakteristik utama depresi adalah perasaan negatif dan kesedihan yang sangat mendalam dan terjadi dalam waktu yang lama.
Apa Gejala-Gejala Utama Depresi Yang Muncul Dalam Kehidupan Kita?
– Duka berkepanjangan
– Stamina rendah dan sering merasa letih
– Bertambah atau berkurangnya nafsu makan
– Bertambah atau berkurangnya keinginan untuk tidur
– Stress, cepat marah dan frustrasi
– Tidak ada hasrat seksual
– Tidak memiliki harapan terhadap masa depan.
Bagaimana Kita Mengatasi Depresi?
Kita bisa mengatasi depresi dengan bantuan seorang spesialis. Nasihat yang diberikan seorang spesialis dapat sangat bermanfaat. Pengobatan yang diberikan bertujuan untuk memperbaiki mekanisme biologis dalam pola pikir yang memungkinkan seseorang merasa depresi. Untuk mengatasi depresi dengan efektif, anda harus merubah pandangan dan pola pikir anda. Dengan mengubah pola pikir bagi mereka yang menderita depresi, anda bisa menciptakan perlindungan jangka panjang terhadap depresi.
Bagaimana Mengatasi Depresi dengan Mengandalkan Diri Sendiri?
Selain bantuan dari seorang spesialis, anda bisa mengatasi depresi dengan mengandalkan diri anda sendiri; antara lain dengan:
Menerima Diri Anda Sendiri dan Kelemahan
AndaKenali Pikiran-Pikiran Serta Perasaan Negatif Anda
Menurut saya Depresi itu adalah salah satu gangguan yang diawali dari pemikiran seseorang di mana ia menghadapi setiap situasi dan kurangnya kemampuan akan kontrol diri makanya sangat mempengaruhi kepribadianya. Oleh karena itu depressi itu dapat bisa di obati dari diri sendiri bagaimana bisa menerima diri kita serta kelemahan dan juga kenali pikiran pikiran serta perasaan negative kita.
ARTIKEL TENTANG STRESS
PSIKOLOGI ABNORMAL
Nama: Emiliano Domingos Lemos
Nim : 16.310.410.1150
Fakultas: Psikologi
Dosen: Fx Wahyu Widiantoro S,Psi M,Psi
Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain.
Menurut Robbins (2001) stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang. Dan apabila pengertian stress dikaitkan dengan penelitian ini maka stress itu sendiri adalah suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik atau psikis seseorang karena adanya tekanan dari dalam ataupun dari luar diri seseorang yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka.
Menurut Woolfolk dan Richardson (1979) menyatakan bahwa adanya system kognitif, apresiasi stress menyebabkan segala peristiwa yang terjadi disekitar kita akan dihayati sebagai suatu stress berdasarkan arti atau interprestasi yang kita berikan terhadap peristiwa tersebut, dan bukan karena peristiwa itu sendiri.Karenanya dikatakan bahwa stress adalah suatu persepsi dari ancaman atau dari suatu bayangan akan adanya ketidaksenangan yang menggerakkan, menyiagakan atau mambuat aktif organisme.
Sedangkan menurut Handoko (1997), stress adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Stress yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungannya.
Efek-efek stress menurut Hans selye:
Stress dapat menyebabkan perasaan negatif atau yang berlawanan dengan apa yang diinginkan atau mengancam kesejahteraan emosional. Stress dapat menggangu cara seseorang dalam menyerap realitas, menyelesaikan masalah, berfikir secara umum dan hubungan seseorang dan rasa memiliki. Terjadinya stress dapat disebabkan oleh sesuatu yang dinamakan stressor,stressor ialah stimuli yang mengawali atau mencetuskan perubahan. Stressor secara umum dapat diklasifikasikan sebagai stressor internal atau eksternal.Stressor internal berasal dari dalam diri seseorang (mis. Kondisi sakit,menopause, dll ). Stressor eksternal berasal dari luar diri seseorang atau lingkuangan (mis. Kematian anggota keluarga, masalah di tempat kerja, dll).
Faktor-faktor individual dan sosial yang menjadi penyebab stress:
• Sumber-sumber stress didalam diri seseorang: Kadang-kadang sumber stress itu ada didalam diri seseorang. Salah satunya melalui kesakitan. Tingkatan stress yang muncul tergantung pada rasa sakit dan umur inividu (sarafino, 1990). Stress juga akan muncul dalam seseorang melalui penilaian dari kekuatan motivasional yang melawan, bila seseorang mengalami konflik. Konflik merupakan sumber stress yang utama.
• Sumber-sumber stress di dalam keluarga: Stress di sini juga dapat bersumber dari interaksi di antara para anggota keluarga, seperti : perselisihan dalam masalah keuangan, perasaan saling acuh tak acuh, tujuan-tujuan yang saling berbeda dll. Misalnya : perbedaan keinginan tentang acara televisi yang akan ditonton, perselisihan antara orang tua dan anak-anak yang menyetel tape-nya keras-keras, tinggal di suatu lingkungan yang terlalu sesak, kehadiran adik baru. Khusus pada penambahan adik baru ini, dapat menimbulkan perasaan stress terutama pada diri ibu yang selama hamil (selain perasaan senang, tentu), dan setelah kelahiran.
• Sumber-sumber stress didalam komunitas dan lingkungan: interaksi subjek diluar lingkungan keluarga melengkapi sumber-sumber stress. Contohnya: pengalaman stress anak-anak disekolah dan di beberapa kejadian kompetitif, seperti olahraga. Sedangkan beberapa pengalaman stress oang tua bersumber dari pekerjaannya, dan lingkungan yang stressful sifatnya. Khususnya ‘occupational stress’ telah diteliti secra luas.
• Pekerjaan dan stress: Hampir semua orang didalam kehidupan mereka mengalami stress sehubungan denga pekerjaan mereka. Tidak jarang situasi yang ‘stressful’ ini kecil saja dan tidak berarti, tetapi bagi banyak orang situasi stress itu begitu sangat terasa dan berkelanjutan didalam jangka waktu yang lama. Faktor-faktor yang membuat pekerjaan itu ‘stressful’ ialah :
• 1. Tuntutan kerja: pekerjaan yang terlalu banyak dan membuat orang bekerja terlalu keras dan lembur, karena keharusan mengerjakannya.
• 2. Jenis pekerjaan: jenis pekerjaan itu sendiri sudah lebih ‘stressful’ dari pada jenis pekerjaan lainnya. Pekerjaan itu misalnya: jenis pekerjaan yang memberikan penilaian atas penampilan kerja bawahannya (supervisi), guru, dan dosen.
• 3. Pekerjaan yang menuntut tanggung jawab bagi kehidupan manusia: contohnya tenaga medis mempunyai beban kerja yang berat dan harus menghadapi situasi kehidupan dan kematian setiap harinya. Membuat kesalahan dapat menimbulkan konsekuensi yang serius.
Strategi koping yang spontan mengatasi strees:
Dukungan sosial dan konsep-konsep terkait : beberapa penulis meletakkan dukungan sosial terutama dalam konteks hubungan yang akrab atau ‘kualitas hubungan’ (Winnubst dkk,1988). Menurut Robin & Salovey (1989) perkawinan dan keluarga barangkali merupakan sumber dukungan sosial yang penting. Akrab adalah penting dalam masalah dukungan sosial, dan hanya mereka yang tidak terjalin suatu keakraban berada pada resiko.
Para ilmuan lainnya menetapkan dukungan sosial dalam rangka jejaring sosial. Wellman (1985) meletakkan dukungan sosial didalam analisis jaringan yang lebih longgar : dukungan sosial yan hanya dapat dipahami kalau orang tahu tentang struktur jaringan yang lebih luas yang didalamnya seorang terintegrasi. Segi-segi struktural jaringan ini mencangkup pengaturan-pengaturan hidup, frekuensi kontak, keikutsertaan dalam kegiatan sosial, keterlibatan dalam jaringan sosial (Ritter, 1988). Rook (1985) menganggap dukungan sosial sebagai satu diantara fungsi pertalian (atau ikatan) sosial. Segi-segi fungsional mencangkup : dukungan emosional, mendorong adanya ungkapan perasaan, pemberian nasehat atau informasi, pemberian bantuan material (Ritter, 1988). Ikatan-ikatan sosial menggambarkan tingkat dan kualitas umum dari hubungan interpersonal.
Menurut Saya stress merupaka n kondisi interpersonal yang tidak terselesaikan dengan baik seperti urusan pribadi, keluarga, pekerjaan dan lain lain yang tidak di arahkan dengan baik dan pada akhirnya mengakibatkan stress ba individu. Dan hal yang paling penting adalah untuk mempersiapkan kondisi interpersonal yang baik dalam hal lingkungan, keluarga, social, kerja dan lain lain agar dapat mengkondisikan pikiran yang baik agar tidak dapat mengakibatkan stress.
PSIKOLOGI ABNORMAL
Nama: Emiliano Domingos Lemos
Nim : 16.310.410.1150
Fakultas: Psikologi
Dosen: Fx Wahyu Widiantoro S,Psi M,Psi
Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain.
Menurut Robbins (2001) stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang. Dan apabila pengertian stress dikaitkan dengan penelitian ini maka stress itu sendiri adalah suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik atau psikis seseorang karena adanya tekanan dari dalam ataupun dari luar diri seseorang yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka.
Menurut Woolfolk dan Richardson (1979) menyatakan bahwa adanya system kognitif, apresiasi stress menyebabkan segala peristiwa yang terjadi disekitar kita akan dihayati sebagai suatu stress berdasarkan arti atau interprestasi yang kita berikan terhadap peristiwa tersebut, dan bukan karena peristiwa itu sendiri.Karenanya dikatakan bahwa stress adalah suatu persepsi dari ancaman atau dari suatu bayangan akan adanya ketidaksenangan yang menggerakkan, menyiagakan atau mambuat aktif organisme.
Sedangkan menurut Handoko (1997), stress adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Stress yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungannya.
Efek-efek stress menurut Hans selye:
Stress dapat menyebabkan perasaan negatif atau yang berlawanan dengan apa yang diinginkan atau mengancam kesejahteraan emosional. Stress dapat menggangu cara seseorang dalam menyerap realitas, menyelesaikan masalah, berfikir secara umum dan hubungan seseorang dan rasa memiliki. Terjadinya stress dapat disebabkan oleh sesuatu yang dinamakan stressor,stressor ialah stimuli yang mengawali atau mencetuskan perubahan. Stressor secara umum dapat diklasifikasikan sebagai stressor internal atau eksternal.Stressor internal berasal dari dalam diri seseorang (mis. Kondisi sakit,menopause, dll ). Stressor eksternal berasal dari luar diri seseorang atau lingkuangan (mis. Kematian anggota keluarga, masalah di tempat kerja, dll).
Faktor-faktor individual dan sosial yang menjadi penyebab stress:
• Sumber-sumber stress didalam diri seseorang: Kadang-kadang sumber stress itu ada didalam diri seseorang. Salah satunya melalui kesakitan. Tingkatan stress yang muncul tergantung pada rasa sakit dan umur inividu (sarafino, 1990). Stress juga akan muncul dalam seseorang melalui penilaian dari kekuatan motivasional yang melawan, bila seseorang mengalami konflik. Konflik merupakan sumber stress yang utama.
• Sumber-sumber stress di dalam keluarga: Stress di sini juga dapat bersumber dari interaksi di antara para anggota keluarga, seperti : perselisihan dalam masalah keuangan, perasaan saling acuh tak acuh, tujuan-tujuan yang saling berbeda dll. Misalnya : perbedaan keinginan tentang acara televisi yang akan ditonton, perselisihan antara orang tua dan anak-anak yang menyetel tape-nya keras-keras, tinggal di suatu lingkungan yang terlalu sesak, kehadiran adik baru. Khusus pada penambahan adik baru ini, dapat menimbulkan perasaan stress terutama pada diri ibu yang selama hamil (selain perasaan senang, tentu), dan setelah kelahiran.
• Sumber-sumber stress didalam komunitas dan lingkungan: interaksi subjek diluar lingkungan keluarga melengkapi sumber-sumber stress. Contohnya: pengalaman stress anak-anak disekolah dan di beberapa kejadian kompetitif, seperti olahraga. Sedangkan beberapa pengalaman stress oang tua bersumber dari pekerjaannya, dan lingkungan yang stressful sifatnya. Khususnya ‘occupational stress’ telah diteliti secra luas.
• Pekerjaan dan stress: Hampir semua orang didalam kehidupan mereka mengalami stress sehubungan denga pekerjaan mereka. Tidak jarang situasi yang ‘stressful’ ini kecil saja dan tidak berarti, tetapi bagi banyak orang situasi stress itu begitu sangat terasa dan berkelanjutan didalam jangka waktu yang lama. Faktor-faktor yang membuat pekerjaan itu ‘stressful’ ialah :
• 1. Tuntutan kerja: pekerjaan yang terlalu banyak dan membuat orang bekerja terlalu keras dan lembur, karena keharusan mengerjakannya.
• 2. Jenis pekerjaan: jenis pekerjaan itu sendiri sudah lebih ‘stressful’ dari pada jenis pekerjaan lainnya. Pekerjaan itu misalnya: jenis pekerjaan yang memberikan penilaian atas penampilan kerja bawahannya (supervisi), guru, dan dosen.
• 3. Pekerjaan yang menuntut tanggung jawab bagi kehidupan manusia: contohnya tenaga medis mempunyai beban kerja yang berat dan harus menghadapi situasi kehidupan dan kematian setiap harinya. Membuat kesalahan dapat menimbulkan konsekuensi yang serius.
Strategi koping yang spontan mengatasi strees:
Dukungan sosial dan konsep-konsep terkait : beberapa penulis meletakkan dukungan sosial terutama dalam konteks hubungan yang akrab atau ‘kualitas hubungan’ (Winnubst dkk,1988). Menurut Robin & Salovey (1989) perkawinan dan keluarga barangkali merupakan sumber dukungan sosial yang penting. Akrab adalah penting dalam masalah dukungan sosial, dan hanya mereka yang tidak terjalin suatu keakraban berada pada resiko.
Para ilmuan lainnya menetapkan dukungan sosial dalam rangka jejaring sosial. Wellman (1985) meletakkan dukungan sosial didalam analisis jaringan yang lebih longgar : dukungan sosial yan hanya dapat dipahami kalau orang tahu tentang struktur jaringan yang lebih luas yang didalamnya seorang terintegrasi. Segi-segi struktural jaringan ini mencangkup pengaturan-pengaturan hidup, frekuensi kontak, keikutsertaan dalam kegiatan sosial, keterlibatan dalam jaringan sosial (Ritter, 1988). Rook (1985) menganggap dukungan sosial sebagai satu diantara fungsi pertalian (atau ikatan) sosial. Segi-segi fungsional mencangkup : dukungan emosional, mendorong adanya ungkapan perasaan, pemberian nasehat atau informasi, pemberian bantuan material (Ritter, 1988). Ikatan-ikatan sosial menggambarkan tingkat dan kualitas umum dari hubungan interpersonal.
Menurut Saya stress merupaka n kondisi interpersonal yang tidak terselesaikan dengan baik seperti urusan pribadi, keluarga, pekerjaan dan lain lain yang tidak di arahkan dengan baik dan pada akhirnya mengakibatkan stress ba individu. Dan hal yang paling penting adalah untuk mempersiapkan kondisi interpersonal yang baik dalam hal lingkungan, keluarga, social, kerja dan lain lain agar dapat mengkondisikan pikiran yang baik agar tidak dapat mengakibatkan stress.
ARTIKEL TENTANG GANGGUAN KEPRIBADIAN
PSIKOLOGI ABNORMAL
Nama: Emiliano Domingos Lemos
Nim : 16.310.410.1150
Fakultas: Psikologi
Dosen: Fx Wahyu Widiantoro S,Psi M,Psi
Gangguan psikologi yang terjadi dapat berupa gangguan yang ringan hingga parah. gangguan tersebut harus diatasi dengan baik agar orang yang mengalaminya dapat hidup dengan layak seperti sebelumnya. Keluarga sebagai orang terdekat dapat membantu memperbaiki psikologi yang sedang sakit ini. Namun apabila tidak sanggup atau kurang mengerti tentang cara menangani gangguan psikologi ini dapat meminta bantuan dari ahli yang memahami psikologi. Lantas, apa saja yang termasuk di dalam psikologi abnormal dan jenis gangguan kepribadian yang dapat terjadi pada seseorang?
Bagi Anda yang tertarik ingin mengetahui lebih jauh seputar psikologi abnormal dan jenis gangguan kepribadian, melalui artikel ini kami akan membahasnya secara detail. Berikut ini adalah beberapa bentuk psikologi yang abnormal dan jenis dari gangguan kepribadian.
1. Borderline.
Orang yang mengalami gangguan jenis ini mempunyai keinginan yang tertentu dan kadang sulit diperoleh sehingga menimbulkan kondisi yang kurang stabil. Apabila tidak diperoleh yang diharapkan mereka cenderung bertindak ekstrim hingga bunuh diri.
2. Avoidant.
Orang yang mengalami gangguan jenis ini cenderung menolak interaksi dengan orang lain dan kurang suka berkomunikasi sehingga sering menyendiri.
3. Obsesif.
Orang dengan gangguan kepribadian jenis ini menginginkan segala sesuatunya berjalan dengan sempurna dan tidak menerima kesalahan meskipun hanya sedikit. Orang ini sering melakukan segala sesuatunya sendiri karena tidak mempercayai kemampuan orang lain.
4. Paranoid.
Orang yang memiliki gangguan kepribadian paranoid selalu bersikap curiga kepada orang lain. Mereka menganggap orang lain ingin melakukan hal yang negatif terhadap dirinya sehingga sering menuduh kepada orang lain. Kondisi ini dapat menyebabkan hubungan dengan orang lain tidak dapat berjalan dengan baik.
5. Histrionic.
Orang jenis ini selalu mencari perhatian dan mendominasi percakapan. Ia ingin menjadi pusat perhatian dan akan melakukan segala sesuatu untuk memperoleh perhatian dari banyak orang.
6. Narcissistic.
Orang dengan gangguan kepribadian ini mempunyai sifat yang egois dan tidak senang apabila orang lain menjadi pusat perhatian.
Menurut aku gangguan kepribadian terkait psikologi abnormal dan jenis gangguan kepribadian yang dapat terjadi di dalam kehidupan adalah yang seperti saya sebutkan di atas serta bentuk bentuk dan penjelasannya dan juga setiap individu memiliki kepribadian yang berbedah bedah.
ARTIKEL DEPRESI
PSIKOLOGI ABNORMAL
Nama: Emiliano Domingos Lemos
Nim : 16.310.410.1150
Fakultas: Psikologi
Dosen: Fx Wahyu Widiantoro S,Psi M,Psi
Depresi dapat memiliki dampak negatif pada hidup anda. Depresi merupakan perasaan yang dialami oleh setiap orang pada satu masa dalam kehidupan mereka. Artikel ini menjelaskan bagaimana mengatasi depresi dan mengubah hidup anda dengan menyingkirkan efek-efek negatif yang muncul dari depresi.
Perasaan-perasaan negatif seperti kesedihan, kekhawatiran, dan frustrasi merupakan perasaan-perasaan yang umum dirasakan oleh banyak orang. Merupakan suatu hal yang wajar jika anda merasa kecewa setelah mengalami kegagalan, sedih, perpisahan atau kehilangan.
Sekali lagi, perasaan-perasaan tersebut adalah hal yang wajar dan dalam beberapa kejadian, perasaan-perasaan tersebut justru dapat digunakan untuk keuntungan kita karena perasaan-perasaan tersebut menunjukkan kelemahan kita. Pengalaman yang muncul dari kondisi negatif dalam hidup kita tersebut memberikan kita keberanian dan kemauan untuk mengubah hidup kita serta kekuatan untuk menangani depresi dan situasi negatif lainnya di masa yang akan datang.
Ketika perasaan negatif semacam ini terus menerus muncul, bertahan lebih dari dua minggu, dan mulai mengganggu kegiatan sehari-hari kita, pekerjaan, diet, tidur dan hubungan kita; maka kemungkinan besar kita mengalami depresi dan kita harus menemukan cara untuk mengatasinya. Karakteristik utama depresi adalah perasaan negatif dan kesedihan yang sangat mendalam dan terjadi dalam waktu yang lama.
Apa Gejala-Gejala Utama Depresi Yang Muncul Dalam Kehidupan Kita?
– Duka berkepanjangan
– Stamina rendah dan sering merasa letih
– Bertambah atau berkurangnya nafsu makan
– Bertambah atau berkurangnya keinginan untuk tidur
– Stress, cepat marah dan frustrasi
– Tidak ada hasrat seksual
– Tidak memiliki harapan terhadap masa depan.
Bagaimana Kita Mengatasi Depresi?
Kita bisa mengatasi depresi dengan bantuan seorang spesialis. Nasihat yang diberikan seorang spesialis dapat sangat bermanfaat. Pengobatan yang diberikan bertujuan untuk memperbaiki mekanisme biologis dalam pola pikir yang memungkinkan seseorang merasa depresi. Untuk mengatasi depresi dengan efektif, anda harus merubah pandangan dan pola pikir anda. Dengan mengubah pola pikir bagi mereka yang menderita depresi, anda bisa menciptakan perlindungan jangka panjang terhadap depresi.
Bagaimana Mengatasi Depresi dengan Mengandalkan Diri Sendiri?
Selain bantuan dari seorang spesialis, anda bisa mengatasi depresi dengan mengandalkan diri anda sendiri; antara lain dengan:
Menerima Diri Anda Sendiri dan Kelemahan
AndaKenali Pikiran-Pikiran Serta Perasaan Negatif Anda
Menurut saya Depresi itu adalah salah satu gangguan yang diawali dari pemikiran seseorang di mana ia menghadapi setiap situasi dan kurangnya kemampuan akan kontrol diri makanya sangat mempengaruhi kepribadianya. Oleh karena itu depressi itu dapat bisa di obati dari diri sendiri bagaimana bisa menerima diri kita serta kelemahan dan juga kenali pikiran pikiran serta perasaan negative kita.
ARTIIKEL TENTANG GANGGUAN JIWA
PSIKOLOGI ABNORMAL
Nama: Emiliano Domingos Lemos
Nim : 16.310.410.1150
Fakultas: Psikologi
Dosen: Fx Wahyu Widiantoro S,Psi M,Psi
Gangguan jiwa adalah gangguan pada satu atau lebih fungsi jiwa. Gangguan jiwa adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses berpikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan panca indera). Gangguan jiwa ini menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita dan keluarganya (Stuart & Sundeen, 1998).
Gangguan jiwa dapat mengenai setiap orang, tanpa mengenal umur, ras, agama, maupun status sosial dan ekonomi. Banyak tokoh jenius yang mengalami gangguan kejiwaan, seperti Abraham Lincoln yang mengalami Depression, Michaelangelo mengalami Autism, Ludwig von Beethoven mengalami Bipolar Disorder, Charles Darwin mengalami Agoraphobia, Leo Tolstoy mengalami Depression.
Gangguan jiwa bukan disebabkan oleh kelemahan pribadi. Di masyarakat banyak beredar kepercayaan atau mitos yang salah mengenai gangguan jiwa, ada yang percaya bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh gangguan roh jahat, ada yang menuduh bahwa itu akibat guna-guna, karena kutukan atau hukuman atas dosanya. Kepercayaan yang salah ini hanya akan merugikan penderita dan keluarganya karena pengidap gangguan jiwa tidak mendapat pengobatan secara cepat dan tepat (Notosoedirjo, 2005).
Secara lebih rinci, gangguan jiwa bisa dimaknai sebagai suatu kondisi medis dimana terdapat gejala atau terjadinya gangguan patofisiologis yang menganggu kehidupan sosial, akademis dan pekerjaan. Gangguan tersebut bisa berbentuk apa saja yang beresiko terhadap pribadi seseorang dan lingkungan sekitarnya.
Contoh ekstrim yang sering kita lihat dari gangguan jiwa ini adalah mereka yang menderita skizophrenia. Mereka sering bicara sendiri, tertawa sendiri, cepat tersinggung atau marah sehingga tidak bisa ikut dalam kegiatan sosial.
Contoh gangguan jiwa ringan yang sebenarnya banyak terjadi, namun sering dianggap masalah sepele adalah phobia. Takut ketinggian atau acrophobia misalnya, sebenarnya masalah sepele, namun akan berdampak negatif apabila si penderita diharuskan untuk bekerja di tempat yang tinggi. Misal si penderita menjadi pegawai di sebuah perusahaan yang kantornya ada di lantai 8 sebuah gedung.
Ada penderita phobia yang harus rela kehilangan pekerjaan yang sebenarnya sangat ia impikan karena masalah seperti tadi. Kasus seperti ini juga contoh dari efek negatif gangguan jiwa terhadap diri sendiri.
Penyebab Gangguan Jiwa
Pertama, Faktor Organobiologi seperti faktor keturunan (genetik), adanya ketidakseimbangan zatzat neurokimia di dalam otak.
Kedua, Faktor Psikologis seperti adanya mood yang labil, rasa cemas berlebihan, gangguan persepsi yang ditangkap oleh panca indera kita (halusinasi).
Dan yang ketiga adalah Faktor Lingkungan (Sosial) baik itu di lingkungan terdekat kita (keluarga) maupun yang ada di luar lingkungan keluarga seperti lingkungan kerja, sekolah, dll. Biasanya gangguan tidak terdapat penyebab tunggal, akan tetapi beberapa penyebab sekaligus dari berbagai unsur itu yang saling mempengaruhi atau kebetulan terjadi bersamaan, lalu timbulah gangguan badan atau pun jiwa.
Jenis/Macam Gangguan Jiwa
Skizofrenia
Merupakan bentuk psikosa fungsional paling berat, dan menimbulkan disorganisasi personalitas yang terbesar.
Skizofrenia juga merupakan suatu bentuk psikosa yang sering dijumpai dimana-mana sejak dahulu kala. Meskipun demikian pengetahuan kita tentang sebab-musabab dan patogenisanya sangat kurang (Maramis, 1994).Dalam kasus berat, klien tidak mempunyai kontak dengan realitas, sehingga pemikiran dan perilakunya abnormal.
Perjalanan penyakit ini secara bertahap akan menuju kearah kronisitas, tetapi sekali-kali bisa timbul serangan. Jarang bisa terjadi pemulihan sempurna dengan spontan dan jika tidak diobati biasanya berakhir dengan personalitas yang rusak ” cacat ” (Ingram et al.,1995).
Depresi adalah gangguan patologis terhadap mood mempunyai karakteristik berupa bermacam-macam perasaan, sikap dan kepercayaan bahwa seseorang hidup menyendiri, pesimis, putus asa, ketidakberdayaan, harga diri rendah, bersalah, harapan yang negatif dan takut pada bahaya yang akan datang.
Depresi menyerupai kesedihan yang merupakan perasaan normal yang muncul sebagai akibat dari situasi tertentu misalnya kematian orang yang dicintai. Sebagai ganti rasa ketidaktahuan akan kehilangan seseorang akan menolak kehilangan dan menunjukkan kesedihan dengan tanda depresi (Rawlins et al., 1993).
Individu yang menderita suasana perasaan (mood) yang depresi biasanya akan kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya energi yang menuju keadaan mudah lelah dan berkurangnya aktifitas (Depkes, 1993). Depresi dianggap normal terhadap banyak stress kehidupan dan abnormal hanya jika ia tidak sebanding dengan peristiwa penyebabnya dan terus berlangsung sampai titik dimana sebagian besar orang mulai pulih (Atkinson, 2000).
Kecemasan
kecemasa pengalaman psikis yang biasa dan wajar, yang pernah dialami oleh setiap orang dalam rangka memacu individu untuk mengatasi masalah yang dihadapi sebaik-baiknya, Maslim (1991). Suatu keadaan seseorang merasa khawatir dan takut sebagai bentuk reaksi dari ancaman yang tidak spesifik (Rawlins 1993).
Penyebab maupun sumbernya biasa tidak diketahui atau tidak dikenali. Intensitas kecemasan dibedakan dari kecemasan tingkat ringan sampai tingkat berat. Menurut Sundeen (1995) mengidentifikasi rentang respon kecemasan ke dalam empat tingkatan yang meliputi, kecemasan ringan, sedang, berat dan kecemasan panik.
Menurut aku Gangguan Jiwa adalah gangguan pada satu atau lebih fungsi jiwa. Gangguan jiwa adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses berpikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan panca indera). Gangguan jiwa ini menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita dan keluarganya.
PSIKOLOGI ABNORMAL
Nama: Emiliano Domingos Lemos
Nim : 16.310.410.1150
Fakultas: Psikologi
Dosen: Fx Wahyu Widiantoro S,Psi M,Psi
Gangguan jiwa adalah gangguan pada satu atau lebih fungsi jiwa. Gangguan jiwa adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses berpikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan panca indera). Gangguan jiwa ini menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita dan keluarganya (Stuart & Sundeen, 1998).
Gangguan jiwa dapat mengenai setiap orang, tanpa mengenal umur, ras, agama, maupun status sosial dan ekonomi. Banyak tokoh jenius yang mengalami gangguan kejiwaan, seperti Abraham Lincoln yang mengalami Depression, Michaelangelo mengalami Autism, Ludwig von Beethoven mengalami Bipolar Disorder, Charles Darwin mengalami Agoraphobia, Leo Tolstoy mengalami Depression.
Gangguan jiwa bukan disebabkan oleh kelemahan pribadi. Di masyarakat banyak beredar kepercayaan atau mitos yang salah mengenai gangguan jiwa, ada yang percaya bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh gangguan roh jahat, ada yang menuduh bahwa itu akibat guna-guna, karena kutukan atau hukuman atas dosanya. Kepercayaan yang salah ini hanya akan merugikan penderita dan keluarganya karena pengidap gangguan jiwa tidak mendapat pengobatan secara cepat dan tepat (Notosoedirjo, 2005).
Secara lebih rinci, gangguan jiwa bisa dimaknai sebagai suatu kondisi medis dimana terdapat gejala atau terjadinya gangguan patofisiologis yang menganggu kehidupan sosial, akademis dan pekerjaan. Gangguan tersebut bisa berbentuk apa saja yang beresiko terhadap pribadi seseorang dan lingkungan sekitarnya.
Contoh ekstrim yang sering kita lihat dari gangguan jiwa ini adalah mereka yang menderita skizophrenia. Mereka sering bicara sendiri, tertawa sendiri, cepat tersinggung atau marah sehingga tidak bisa ikut dalam kegiatan sosial.
Contoh gangguan jiwa ringan yang sebenarnya banyak terjadi, namun sering dianggap masalah sepele adalah phobia. Takut ketinggian atau acrophobia misalnya, sebenarnya masalah sepele, namun akan berdampak negatif apabila si penderita diharuskan untuk bekerja di tempat yang tinggi. Misal si penderita menjadi pegawai di sebuah perusahaan yang kantornya ada di lantai 8 sebuah gedung.
Ada penderita phobia yang harus rela kehilangan pekerjaan yang sebenarnya sangat ia impikan karena masalah seperti tadi. Kasus seperti ini juga contoh dari efek negatif gangguan jiwa terhadap diri sendiri.
Penyebab Gangguan Jiwa
Pertama, Faktor Organobiologi seperti faktor keturunan (genetik), adanya ketidakseimbangan zatzat neurokimia di dalam otak.
Kedua, Faktor Psikologis seperti adanya mood yang labil, rasa cemas berlebihan, gangguan persepsi yang ditangkap oleh panca indera kita (halusinasi).
Dan yang ketiga adalah Faktor Lingkungan (Sosial) baik itu di lingkungan terdekat kita (keluarga) maupun yang ada di luar lingkungan keluarga seperti lingkungan kerja, sekolah, dll. Biasanya gangguan tidak terdapat penyebab tunggal, akan tetapi beberapa penyebab sekaligus dari berbagai unsur itu yang saling mempengaruhi atau kebetulan terjadi bersamaan, lalu timbulah gangguan badan atau pun jiwa.
Jenis/Macam Gangguan Jiwa
Skizofrenia
Merupakan bentuk psikosa fungsional paling berat, dan menimbulkan disorganisasi personalitas yang terbesar.
Skizofrenia juga merupakan suatu bentuk psikosa yang sering dijumpai dimana-mana sejak dahulu kala. Meskipun demikian pengetahuan kita tentang sebab-musabab dan patogenisanya sangat kurang (Maramis, 1994).Dalam kasus berat, klien tidak mempunyai kontak dengan realitas, sehingga pemikiran dan perilakunya abnormal.
Perjalanan penyakit ini secara bertahap akan menuju kearah kronisitas, tetapi sekali-kali bisa timbul serangan. Jarang bisa terjadi pemulihan sempurna dengan spontan dan jika tidak diobati biasanya berakhir dengan personalitas yang rusak ” cacat ” (Ingram et al.,1995).
Depresi adalah gangguan patologis terhadap mood mempunyai karakteristik berupa bermacam-macam perasaan, sikap dan kepercayaan bahwa seseorang hidup menyendiri, pesimis, putus asa, ketidakberdayaan, harga diri rendah, bersalah, harapan yang negatif dan takut pada bahaya yang akan datang.
Depresi menyerupai kesedihan yang merupakan perasaan normal yang muncul sebagai akibat dari situasi tertentu misalnya kematian orang yang dicintai. Sebagai ganti rasa ketidaktahuan akan kehilangan seseorang akan menolak kehilangan dan menunjukkan kesedihan dengan tanda depresi (Rawlins et al., 1993).
Individu yang menderita suasana perasaan (mood) yang depresi biasanya akan kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya energi yang menuju keadaan mudah lelah dan berkurangnya aktifitas (Depkes, 1993). Depresi dianggap normal terhadap banyak stress kehidupan dan abnormal hanya jika ia tidak sebanding dengan peristiwa penyebabnya dan terus berlangsung sampai titik dimana sebagian besar orang mulai pulih (Atkinson, 2000).
Kecemasan
kecemasa pengalaman psikis yang biasa dan wajar, yang pernah dialami oleh setiap orang dalam rangka memacu individu untuk mengatasi masalah yang dihadapi sebaik-baiknya, Maslim (1991). Suatu keadaan seseorang merasa khawatir dan takut sebagai bentuk reaksi dari ancaman yang tidak spesifik (Rawlins 1993).
Penyebab maupun sumbernya biasa tidak diketahui atau tidak dikenali. Intensitas kecemasan dibedakan dari kecemasan tingkat ringan sampai tingkat berat. Menurut Sundeen (1995) mengidentifikasi rentang respon kecemasan ke dalam empat tingkatan yang meliputi, kecemasan ringan, sedang, berat dan kecemasan panik.
Menurut aku Gangguan Jiwa adalah gangguan pada satu atau lebih fungsi jiwa. Gangguan jiwa adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses berpikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan panca indera). Gangguan jiwa ini menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita dan keluarganya.
ARTIKEL TENTANG GANGGUAN KECEMASAN
PSIKOLOGI ABNORMAL
Nama: Emiliano Domingos Lemos
Nim : 16.310.410.1150
Fakultas: Psikologi
Dosen: Fx Wahyu Widiantoro S,Psi M,Psi
Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya “anxiety” berasal dari Bahasa Latin “angustus” yang berarti kaku, dan “ango, anci” yang berarti mencekik. Konsep kecemasan memegang peranan yang sangat mendasar dalam teori-teori tentang stres dan penyesuaian diri (Lazarus, 1961).
Menurut Post (1978), kecemasan adalah kondisi emosional yang tidak menyenangkan, yang ditandai oleh perasaan-perasaan subjektif seperti ketegangan, ketakutan, kekhawatiran dan juga ditandai dengan aktifnya sistem syaraf pusat.
Freud (dalam Arndt, 1974) menggambarkan dan mendefinisikan kecemasan sebagai suatu perasaan yang tidak menyenangkan, yang diikuti oleh reaksi fisiologis tertentu seperti perubahan detak jantung dan pernafasan. Menurut Freud, kecemasan melibatkan persepsi tentang perasaan yang tidak menyenangkan dan reaksi fisiologis, dengan kata lain kecemasan adalah reaksi atas situasi yang dianggap berbahaya.
Gangguan kecemasan adalah gangguan yang menyebabkan anak-anak dan orang dewasa merasa takut, sedih dan gelisah tanpa alasan yang jelas. Meskipun sebagian besar pengalaman ketakutan remaja dan kekhawatiran yang dapat dicap sebagai kecemasan, dimana yang hadir dalam gangguan kecemasan sebenarnya menghambat kegiatan sehari-hari (Christophersen & Mortweet, 2001).
Masalah berkaitan dengan kecemasan yang relatif umum di masa muda, dengan tingkat prevalensi klinis seumur hidup masalah mulai dari 6 sampai 15% (Silverman & Ginsburg, 1998; US Public Health Service, 2000).
Para prevalensi gangguan kecemasan di masa muda lebih tinggi dibandingkan hampir semua gangguan mental lainnya (US Department of Health and Human Service, 1999). Pemuda dengan pengalaman masalah kecemasan yang signifikan dan sering berlangsung gangguan, seperti masalah sosial, konflik keluarga, dan kinerja yang buruk di sekolah dan bekerja (Langley, Bergman, McCracken & Paiacentini, 2004).
Rangkuman Berbagai Gangguan Anxietas Utama:
Fobia Ketakutan dan penolakan terhadap objek atau situasi yang tidak mengandung bahaya yang sesungguhnya
Gangguan Panik Serangan panik berulang yang mencakup timbulnya simptom-simtom fisiologis secara mendadak, seperti pusing, denyut jantung yang cepat dan gemetaran, disertai dengan teror dan perasaan berada dalam bencana; kadangkala disertai dengan agorafobia, ketakutan berada di tempat umum
Gangguan Anxietas Menyeluruh Kekhawatiran yang menetap dan tidak dapat dikontrol, sering kali terhadap hal-hal kecil
Gangguan Obsesif-komplusif Pemikiran, impuls, dan citra yang tidak dapat dikontrol-obsesi-dan perilaku atau tindakan mental yang berulang-kompulsi
Gangguan Stres Pascatrauma
Masa setelah pengalaman traumatis dimana seseorang mengalami peningkatan kemunculan, penolakan stimuli yang diasosiasikan dengan kejadian traumatis yang dialami, dan kecemasan yang disebabkan oleh ingatan terhadap peristiwa tersebut
Gangguan Stres Akut Simptom-simptomnya sama dengan gangguan stress pascatrauma, namun hanya berlangsung selama empat minggu atau kurang.
Menurut Saya gangguan kecemasan itu merupakan gangguang yang yang menyebabkan anak-anak dan orang dewasa merasa takut, sedih dan gelisah tanpa alasan yang jelas. Meskipun sebagian besar pengalaman ketakutan remaja dan kekhawatiran yang dapat dicap sebagai kecemasan, dimana yang hadir dalam gangguan kecemasan sebenarnya menghambat kegiatan sehari-hari.
PSIKOLOGI ABNORMAL
Nama: Emiliano Domingos Lemos
Nim : 16.310.410.1150
Fakultas: Psikologi
Dosen: Fx Wahyu Widiantoro S,Psi M,Psi
Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya “anxiety” berasal dari Bahasa Latin “angustus” yang berarti kaku, dan “ango, anci” yang berarti mencekik. Konsep kecemasan memegang peranan yang sangat mendasar dalam teori-teori tentang stres dan penyesuaian diri (Lazarus, 1961).
Menurut Post (1978), kecemasan adalah kondisi emosional yang tidak menyenangkan, yang ditandai oleh perasaan-perasaan subjektif seperti ketegangan, ketakutan, kekhawatiran dan juga ditandai dengan aktifnya sistem syaraf pusat.
Freud (dalam Arndt, 1974) menggambarkan dan mendefinisikan kecemasan sebagai suatu perasaan yang tidak menyenangkan, yang diikuti oleh reaksi fisiologis tertentu seperti perubahan detak jantung dan pernafasan. Menurut Freud, kecemasan melibatkan persepsi tentang perasaan yang tidak menyenangkan dan reaksi fisiologis, dengan kata lain kecemasan adalah reaksi atas situasi yang dianggap berbahaya.
Gangguan kecemasan adalah gangguan yang menyebabkan anak-anak dan orang dewasa merasa takut, sedih dan gelisah tanpa alasan yang jelas. Meskipun sebagian besar pengalaman ketakutan remaja dan kekhawatiran yang dapat dicap sebagai kecemasan, dimana yang hadir dalam gangguan kecemasan sebenarnya menghambat kegiatan sehari-hari (Christophersen & Mortweet, 2001).
Masalah berkaitan dengan kecemasan yang relatif umum di masa muda, dengan tingkat prevalensi klinis seumur hidup masalah mulai dari 6 sampai 15% (Silverman & Ginsburg, 1998; US Public Health Service, 2000).
Para prevalensi gangguan kecemasan di masa muda lebih tinggi dibandingkan hampir semua gangguan mental lainnya (US Department of Health and Human Service, 1999). Pemuda dengan pengalaman masalah kecemasan yang signifikan dan sering berlangsung gangguan, seperti masalah sosial, konflik keluarga, dan kinerja yang buruk di sekolah dan bekerja (Langley, Bergman, McCracken & Paiacentini, 2004).
Rangkuman Berbagai Gangguan Anxietas Utama:
Fobia Ketakutan dan penolakan terhadap objek atau situasi yang tidak mengandung bahaya yang sesungguhnya
Gangguan Panik Serangan panik berulang yang mencakup timbulnya simptom-simtom fisiologis secara mendadak, seperti pusing, denyut jantung yang cepat dan gemetaran, disertai dengan teror dan perasaan berada dalam bencana; kadangkala disertai dengan agorafobia, ketakutan berada di tempat umum
Gangguan Anxietas Menyeluruh Kekhawatiran yang menetap dan tidak dapat dikontrol, sering kali terhadap hal-hal kecil
Gangguan Obsesif-komplusif Pemikiran, impuls, dan citra yang tidak dapat dikontrol-obsesi-dan perilaku atau tindakan mental yang berulang-kompulsi
Gangguan Stres Pascatrauma
Masa setelah pengalaman traumatis dimana seseorang mengalami peningkatan kemunculan, penolakan stimuli yang diasosiasikan dengan kejadian traumatis yang dialami, dan kecemasan yang disebabkan oleh ingatan terhadap peristiwa tersebut
Gangguan Stres Akut Simptom-simptomnya sama dengan gangguan stress pascatrauma, namun hanya berlangsung selama empat minggu atau kurang.
Menurut Saya gangguan kecemasan itu merupakan gangguang yang yang menyebabkan anak-anak dan orang dewasa merasa takut, sedih dan gelisah tanpa alasan yang jelas. Meskipun sebagian besar pengalaman ketakutan remaja dan kekhawatiran yang dapat dicap sebagai kecemasan, dimana yang hadir dalam gangguan kecemasan sebenarnya menghambat kegiatan sehari-hari.
Gangguan Kepribadian Skizotipal
Gangguan
Kepribadian Skizotipal
Nama
: Meissy Bella Sari
Nim
: 163104101143
Psikologi
Abnormal
Gangguan
skizotipal adalah gangguan kepribadian yang menyebabkan seseorang kesulitan
untuk menjalin hubungan dekat dengan orang lain karena merasa sangat tidak
nyaman untuk berinteraksi. Selain itu, seseorang dengan gangguan ini memiliki
cara berpikir yang abnormal sehingga memiliki perilaku yang cenderung
eksentrik. Orang yang mengalami gangguan ini sering memiliki pemikiran yang
salah akibat pemaham tentang kejadian sehari-hari yang keliru, meskipun
kejadian tersebut merupakan hal yang biasa bagi orang lain. Mereka sangat
mempercayai takhayul dan memiliki pemikiran sendiri akan suatu hal meskipun hal
tersebut tidak wajar atau menyimpang dari norma sosial dari lingkungan di
sekitarnya.
Gejala dari gangguan skizotipal yang
seirng terjadi, menjadi penyendiri dan kurang bersosialiasi dengan teman dekat
bahkan keluarga atau menjadi gangguan
kepribadian anti sosial, memiliki pemikiran, keyakinan dan perilaku
yang aneh dan ekstrensik, tidak biasa untuk lingkungannya, dressing dengan cara
aneh, kepercayaan kepada kekuatan yang khusus, perubahan perseptual, pada
beberapa kasus mengenai ilusi tubuh, memiliki kecemasan sosial yang berlebihan
dan persisten, memiliki gaya bicara yang aneh, samar-samar berbicara dan
bertele-tele serta tidak pernah berhenti selama melakukan percakapan, memiliki
ide-ide yang mencurigakan atau paranoid, ragu akan kesetiaan orang lain, emosi
yang datar, respon emosionalnya terbatas bahkan tidak pantas.
Contoh kasus, Jonathan merupakan
seorang mekanik mobil yang berusia 27 tahun, memiliki sedikit teman dan lebig
memilih membaca novel fiksi ilmiah daripada bersosialisasi dengan orang lain. Ia
jarang bergabung dalam percakapan dengan orang lain. Suatu saat, ia tampak
seperti hanyut dalam pemikirannya sendiri, dan rekan kerjanya harus besiul unuk
mendapatkan perhatiannya saat ia sedang mengerjakan sebuah mobil. Ia sering
menunjukkan ekspresi “ganjil” diwajahnya. Mungkin ciri perilaku yang paling
tidak umum adalah ia melaporkan pengalaman yang datang sewaitu-waktu akan “perasaan”
bahwa almarhumah ibunya berdiri didekatnya. Ilusi ini menenangkan baginya, dan
ia menantikan terjadinya peristiwa itu. Jonathan menyadari hal tersebut tidak
nyata. Ia tidak pernah mencoba untuk menyentuh roh tersebut, mengetahui bahwa
roh itu akan menghilang begitu ia mendekat. Itu sudah cukup katanya untuk
merasakan kehadiran ibunya.
Menurut saya, gejala kondisi dari
gangguan kepribadian skizotipal ini dapat membaik seiring dengan berjalannya
waktu. Faktor-faktor yang dapat membantu menurunkan gejala nya bisa didapatkan
dari orang-orang di sekitarnya, misalnya saja memiliki hubungan yang positif
dengan keluarga dan teman, prestasi di sekolan dan tempat kerja, dan berbagai
pengalaman positif lainnya yang dapat meyakinkan seseorang untuk bisa mengatasi
berbagai kesulitan dan memiliki dukungan sosial.
Sumber :
Jeffrey S. Nevid, Spencer A Rathus, Beverly Greene. (2003). Psikologi Abnormal. Edisi kelima Jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga
Sumber :
Jeffrey S. Nevid, Spencer A Rathus, Beverly Greene. (2003). Psikologi Abnormal. Edisi kelima Jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga
Gangguan Kepribadian Narsistik
Gangguan
Kepribadian Narsistik
Nama
: Meissy Bella Sari
Nim
: 163104101143
Psikologi
Abnormal
Orang
dengan gangguan narsistik memiliki rasa bangga dan keyakinan yang berlebihan
terhadap diri mereka sendiri dan kebutuhan yang ekstrem akan pemujaan. Mereka membesar-besarkan
prestasi mereka dan berharap orang lain menghujani mereka dengan pujian, orang
pada gangguan ini bersidat self-absorbed dan kurang memiliki empati pada orang
lain.
Ciri
dari orang yang mengalami gangguan narsistik adalah, melebih-lebihkan bahwa dirinya orang
yang istimewa., lebih fokus pada fantasi akan kebesaran dirinya (kesuksesan,
kecantikan, atau kepandaiannya), meyakini dirinya istimewa dan hanya bisa
dimengerti oleh orang yang juga istimewa, selalu butuh perhatian dan pujian
dari orang lain, punya kemauan tidak rasional akan perlakuan dari orang lain, suka
mengambil kesempatan dari orang lain demi keberhasilannya. kurang empati dan tak
peduli perasaan orang lain, sering cemburu dengan keberhasilan orang lain dan
yakin orang lain juga cemburu pada dirinya, perilakunya arogan.
Seorang narsistik mungkin tampak
memiliki harga diri yang tinggi, tetapi sebenarnya bisa saja sebaliknya. Ada
rasa ketidakamanan yang mendalam di balik eksterior dirinya yang besar. Pribadi
narsistik ingin orang lain untuk menjadi iri dengan dirinya, tetapi sebenarnya
dia adalah orang yang memiliki rasa cemburu yang besar dan merasa terancam oleh
prestasi orang lain. Seseorang yang memiliki kepribadian narsistik tidak bisa
mendengarkan dan sering menyela. Kepribadian jenis ini cenderung berkomunikasi
satu arah dan tidak memberikan kesempatan orang lain untuk berbicara.
Contoh
kasus gangguan narsistik, David berprofesi sebagai pengacara dan berusia awal 40an. Dia pertama
kali datang mengunjungi psikolog untuk mengatasi mood negatifnya. Sejak awal
pertemuan tampak bahwa David sangat menaruh perhatian pada penampilannya. Dia
secara khusus menanyakan pendapat terapis mengenai baju setelan model terbaru
yang dikenakannya dan juga sepetu barunya. David juga bertanya kepada terapis
tentang mobil yang digunakan dan berapa banyak klien kelas atas yang ditangani
oleh terapis tersebut. David sangat ingin memastikan bahwa dia sedang
berhubungan dengan seseorang yang terbaik bidangnya. David bercerita tentang
kesuksesannya dalam bidang akademis dan olahraga, tanpa mampu memberikan bukti
apapun yang memastikan keberhasilannya. Selama bersekolah di sekolah hukum, dia
adalah seorang work- aholic, penuh akan fantasi akan keberhasilannya hingga
tidak memiliki waktu untuk isterintya. Setelah anak mereka lahir, David semakin
sedikit menghabiskan waktu dengan keluarganya. Tidak lama setelah dia memliki
pekerjaan yang mapan, David menceraikan isterinya karena tidak lagi membutuhkan
bantuan ekonomi dario sang istri. Setelah perceraian tersebut, David memutuskan
bahwa dia benar-benar bebas untuk menikmati hidupnya. Dia sangat suka
menghabiskan uang untuk dirinya sendiri, misalnya dengan menghias apaartemennya
dengan berbagai benda-benda yang sangat menarik perhatian. Dia juga seringkali
berhubungan dengan wanita-wanita yang sangat menarik. Dalam pergaulannya, David
merasa nyaman apabila dirinya menjadi pusat perhatian semua orang. Dia pun
merasa nyaman ketika dia berfantasi mengenai kepopuleran yang akan diraihnya,
mendapatkan suatu penghargaan, ataupun memiliki kekayaan berlimpah (sumber :
Barlow & Durant, 1995).
Menurut saya Penderita narsisme
terjebak dalam lingkaran setan, di mana sebuah tindakan dapat membuat mereka
semakin mengalami kesulitan. Kondisi psikologis ambivalen (atau keadaan
memiliki hubungan yang ambivalen dengan seseorang yang penting) seperti itu,
jelas bukan keadaan yang nyaman. Nemiah juga menjelaskan bahwa penderita
narsisme besar kemungkinannya menderita kesulitan emosional, bila dihadapkan
pada kematian individu tempat dirinya bergantung dalam memenuhi
kebutuhan-kebutuhan narsistiknya.
Sumber :
Jeffrey S. Nevid, Spencer A Rathus, Beverly Greene. (2003). Psikologi Abnormal. Edisi kelima Jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga
Sumber :
Jeffrey S. Nevid, Spencer A Rathus, Beverly Greene. (2003). Psikologi Abnormal. Edisi kelima Jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga
Gangguan Kepribadian Skizoid
Gangguan Kepribadian Skizoid
Nama
: Meissy Bella Sari
Nim
: 163104101143
Psikologi
Abnormal
Isolasi
sosial adalah ciri utama dari gangguan kepribadian schizoid, orang yang dengan
kepribadian schizoid kehilangan minat pada hubungan sosial. Emosi dari orang
dengan kepribadian schizoid tamoak dangkal atau tumpul, namun pada derajat yang
lebih rendah dibandingkan skizofenia.
Ciri-ciri
gangguan skizoid, orang tersebut tampak jarang mengalami kemarahan, kebahagiaan
dan kesedihan yang kuat, mereka tampak jauh dan menjaga jarak, wajah mereka
cenderung tidak menampilkan ekspresi emosional, dan mereka jarang bertukar
senyum sosial atau salam yang disertai anggukan kepada orang lain. Mereka tanpak
tidak berpengaruh terhadap kritik atau pujian dan tampak terbungkus dalam
ide-ide abstrak daripada dalam pikiran mengenai manusia. Meski mereka lebih
senang menjaga jarak dari orang lain, mereka membina kontak yang lebih baik
dengan realitas daripada orang yang menderita skizopenia. Pola kepribadian
skizoid umumnya dapat dikenali saat awal dewasa, pria dengan gangguan ini
jarang berkencan atau menikah. Perempuan dengan gangguan ini cenderung merima
ajakan romantic secara pasif dan menikah, namun mereka jarang berinisiatif
untuk membina hubungan atau mengembangkan ikatan yang kuat dengan pasangan
mereka.
Akhtar
(1987) menyatakan bahwa kemungkinan terdapat kesenjangan antara penampilan luar
dan kehidupan terdalam dari orang-orang dengan kepribadian skizoid. Merki
mereka terlihat memiliki sedikit minat terhadap seks, misalnya. Mereka mungkin
memiliki keinginan voyeuristic dan menjadi tertarik pada pornografi. Akhtar juga
menyatakan bahwa perilaku menjauh dan menjaga jarak osial dari orang-orang
dengan kepribadian skizoid mungkin hanya dipermukaan saja. Mereka juga memiliki
sensitivas yang kuat, rasa ingin tahu yang mendalam tentang orang lain, dan
harapan akan cinta yang tidak dapat mereka ekspresikan.
Contoh
kasus gangguan kepribadian skzoid, John pensiunan polisi berusia 50 tahun,
mencari penanganan selama beberapa minggu setelah anjingnya ditabrak mobil dan
mati. Sejak kematian aningnya, John merasa sedih dan lelah. Ia menjadi sulit
berkonsentrasi dan juga sulit tidur. Ia tinggal sendiri dan lebih senang
sendirian, membatasi kontaknya dengan orang lain dengan hanya mengatakan “halo”
atau “apa kabar?” sambil terus berlalu. Ia merasa bahwa percakapan sosial hanya
membuang-buang waktu dan merasa canggung bila ada orang lain yang mencoba
membina persahabatan dengannya. Meski ia hobi membaca surat kabar dan tetap
mengikuti perkembangan dari peristiwa terkini, ia tidak memilii minat yang
nyata terhadap manusia. Ia bekerja sebagai penjaga keamanan dan digambarkan
oleh rekan kerjanya sebagai “penyendiri”. Satu-satunya hubungan yang ia miliki
adalah dengan anjingnya, yang dengannya ia merasa dapat berbagi perasaan yang
lebih sensitive dan lebih hangat daripada yang dapat ia bagi dengan orang lain.
Saat natal, ia akan brtukar kado dengan anjingnya, membelikan hadiah untuk
anjingnya dan membungkus sebotol scotch untuk dirinya sendiri sebagai hadiah
dari binatang tersebut. Satu-satunya peristiwa yang pernah membuatnya sedih
adalah kehilangan anjingnya. Sebaliknya, kehilangan orang tuanya tak mampu
membangkitkan suatu respon emosional. Ia merasa dirinya berbeda dari orang lain
dan bingung dengan adanya emosionalitas yang dia lihat pada orang lain.
Menurut
saya orang yang mengalam gangguan kepribadian skizoid akan lebih menjadi
tertutup atas perasaannya, terutama bila berada ditengah-tengah orang asing. Tapi
orang yang berkepribadian skizoid jarang selalu mengeskpresikan emosi dan
tampak jauh seta menjaga jarak, namun emosinya tidak dangkal atau setumpul
emosi orang yang skizopenia. Serta orang yang memiliki gangguan skizoid
memiliki perasaan yang lebih mendalam trhadap binatang dari pada terhadap sesame,
mereka menunjukkan sedikit tidak ada minat pada sesame namun mengembangkan
perasaan yang kuat pada binatang.
Sumber :
Jeffrey S. Nevid, Spencer A Rathus, Beverly Greene. (2003). Psikologi Abnormal. Edisi kelima Jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga





