Panic buying pada pandemi COVID-19: Telaah literatur dari perspektif psikologi
Essay 3
Psikologi Sosial
Ilma Putri Andriasih
22310410059
Dosen Pengampu : Dr.,Dra.ARUNDATI SHINTA,MA
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Topik | Pandemi COVID-19 berdampak pada kesehatan, sosial, ekonomi, hingga psikologis. Salah satu dampak dari COVID-19 adalah panic buying. |
Sumber | Shadiqi, M. A., Hariati, R., Hasan, K. F. A., I’anah, N., & Al Istiqomah, W. (2021). Panic buying pada pandemi COVID-19: Telaah literatur dari perspektif psikologi. Jurnal Psikologi Sosial, 19(2), 131-141. |
Permasalahan | Dampak pandemi COVID-19 mengakibatkan stress dan pengaruh media sosial akan dampak pandemi menyebabkan panic buying untuk menimbun bahan dan barang sehingga menyebabkan stok ketersediaan bahan dan barang sulit untuk ditemukan. |
Tujuan Penelitian | 1. Untuk menelaah definisi panic buying beserta perbandingannya dengan istilah lain yang serupa. Untuk membandingkan definisi konsep panic buying, kami menggunakan tambahan beberapa referensi yang relevan, yaitu konsep panik dan perilaku membeli, seperti “buying frenzies”, “impulsive buying”, dan “compulsive buying”. 2. Untuk mencari faktor penyebab terjadinya panic buying pada peristiwa wabah penyakit. Tidak semua artikel yang kami telaah merupakan artikel studi empiris dari bidang psikologi, tetapi artikel yang kami pilih berkaitan dengan konsep perilaku, perasaan, dan pikiran terkait panic buying. |
Isi | 1). Definisi panic buying Dijelaskan sebagai perilaku konsumen berupa tindakan orang membeli produk dalam jumlah besar untuk menghindari kekurangan di masa depan. Perilaku ini juga disebut sebagai perilaku penimbunan barang yang dilakukan oleh konsumen. Secara implisit merefleksikan panic buying dengan perbedaan antara jumlah pesanan dan permintaan yang mendasarinya, yang searah dengan antisipasi perubahan harga. 2). Perbedaan panic buying dan buying frenzies. Pada perilaku panic buying lebih didasarkan pada kekhawatiran akan ketersediaan barang di masa depan. Buying frenzies membuat orang berani membeli dengan harga yang lebih mahal karena ketidakjelasan penilaian suatu barang. 3). Perbedaan panic buying, impulsive buying, dan compulsive buying. Perilaku impulsive buying merupakan perilaku pembelian barang dengan sedikit atau tanpa pertimbangan setelah hasil dari dorongan mendadak dan kuat.Persamaan antara kedua perilaku ini terletak pada sedikitnya pertimbangan dan merupakan hasil dari dorongan yang mendadak dan kuat. Namun, perbedaannya adalah pada impulsive buying, sedikitnya pertimbangan dan dorongan yang mendadak didasari didorong oleh motif utilitarianistik (kegunaan barang) dan hedonik (bersenang-senang), kontrol diri yang rendah, dan mood positif Penjelasan psikologis: Mengapa panic buying terjadi? a, Perilaku Konsumen. b. Ketakutan dan kecemasan c. Stress d. Ketidakpastian e. Peran paparan media Dinamika Psikologi Sosial dari Perilaku Panic Buying Teori yang dapat menjelaskan dinamika psikologi sosial dari perilaku panic buying adalah teori kognitif sosial (cognitive social theory) dari Albert Bandura. Bandura (2012) menerangkan bahwa teori ini secara orisinal awalnya disebut sebagai teori belajar sosial (social learning theory). Bandura (2012) menilai bahwa penggunaan istilah teori kognitif sosial muncul karena pikiran, motivasi, dan tindakan manusia ditentukan oleh faktor ‘sosial’ dan proses ‘kognitif’. Bandura (2012) mengajukan “triadic reciprocal causation” untuk menjelaskan teori kognitif sosial, yaitu fungsi psikologis manusia berasal dari interaksi kausalitas dari dimensi interpersonal (personal=P), perilaku (behavioral=B), dan lingkungan (environmental= E). |
Metode | Menggunakan pendekatan telaah literatur (literature review) yang terdiri dari bagian pendahuluan, metode penelitian, diskusi, dan kesimpulan (Kysh, 2013). Kysh (2013) dan American Psychological Association (2020) menerangkan bahwa telaah literatur bertujuan untuk membuat kesi |
Hasil | Dapat diketahui lebih dalam perbedaan antara panic buying dengan buying frenzies, compulsive buying, dan impulsive buying perilaku yang tiba-tiba, tidak terkontrol, terjadi pada banyak orang, terlihat berlebihan, dan disebabkan oleh kekhawatiran. Artikel ini juga memaparkan faktor penyebab perilaku panic buying, yaitu faktor dari perilaku konsumen seperti munculnya persepsi kelangkaan barang, adanya ketakutan, kecemasan, perasaan tidak aman, konflik psikologis, stres, persepsi ketidakpastian, dan paparan media. Kami juga mengajukan model dinamika psikologi sosial yang dapat memicu munculnya panic buying menggunakan teori kognitif sosial. |
Diskusi | Panic buying yang dilakukan oleh konsumen seringkali mengarah kepada hal-hal negatif seperti antrian panjang, kehabisan stok dalam jumlah besar, kecemasan yang luar biasa, hingga akhirnya secara signifikan berdampak negatif pada pasar. Sehingga, panic buying menjadi suatu hal yang perlu diatasi saat menghadapi keadaan maupun krisis apapun. Beberapa saran implikasi praktis menghadapi panic buying, yaitu (1) membatasi penjualan barang, misal setiap orang boleh membeli dengan jumlah tertentu setiap waktu tertentu (per minggu) dan penerapan besaran harga berkali-kali lipat jika konsumen membeli lebih dari jumlah yang ditentukan; (2) membuat aturan prioritas bagi orang lanjut usia dan anak- anak; (3) menguatkan peran otoritas dalam mengontrol harga, pengatur penyaluran barang, dan menindak oknum yang merugikan konsumen; (4) menyediakan pembelian barang secara daring dengan tetap menerapkan aturan jumlah barang dan prioritas pembeli; (5) menyebarkan informasi positif, jelas, terbuka, dan proporsional mengenai ketersediaan barang; (6) menekan penyebaran informasi yang menyesatkan dan palsu (hoaks). |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar