Perilaku Manusia Dalam Perspektif Psikologi Sosial
ESSAI III
PSIKOLOGI SOSIAL
Naufal Muhtarom Akbar Lubis
22310420087
Dosen Pengampu : Dr., Dra. ARUNDATI SHINTA, MA
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Topik | Perilaku organisasi, manajemen sumber daya manusia, prilaku konsumen. |
Sumber | Perilaku Manusia Dalam Perspektif Psikologi Sosial, jurnal. Jurnal Administrasi Bisnis (2011), Vol.7, No.2: hal. 143–156, (ISSN:0216–1249) 2011 Center for Business Studies. FISIP - Unpar . |
Permasalahan | Menjelaskan bahwa meskipun psikologi sosial telah ada sejak zaman Plato dan Aristotle, namun secara resmi disiplin ilmu ini menjadi ilmu baru yang independen pada tahun 1908. Artikel ini mencoba untuk menjelaskan perilaku manusia dari berbagai sudut pandang atau perspektif yang umumnya dipelajari dalam psikologi sosial. Perspektif-perspektif yang dibahas dalam artikel tersebut adalah perspektif perilaku, perspektif kognitif, perspektif struktural, dan perspektif interaksionis. Melalui studi dari berbagai sudut pandang ini, kita dapat memahami perilaku manusia secara lebih komprehensif. |
Tujuan penelitian | Upaya memahami perilaku manusia dari perpektif Psikologi Sosial yang terkandung dalam mata kuliah. Ilmu Manajemen, Perilaku Organisasi, Manajemen Sumberdaya Manusia, Perilaku Konsumen, merupakan contoh dari mata kuliah - mata kuliah yang mengkaji perilaku manusia baik secara individual maupun kelompok. |
Isi | Yang dimaksud dengan perspektif adalah asumsi-asumsi dasar yang paling banyak sumbangannya kepada pendekatan psikologi sosial. Perspektif perilaku menyatakan bahwa perilaku sosial kita paling baik dijelaskan melalui perilaku yang secara langsung dapat diamati dan lingkungan yang menyebabkan perilaku kita berubah. Perspektif kognitif menjelaskan perilaku sosial kita dengan cara memusatkan pada bagaimana kita menyusun mental (pikiran, perasaan) dan memproses informasi yang datangnya dari lingkungan . Kedua perspektif tersebut banyak dikemukakan oleh para psikolog sosial yang berlatar belakang psikologi. Di samping kedua perspektif di atas, ada dua perspektif lain yang sebagian besarnya diutarakan oleh para psikolog sosial yang berlatas belakang sosiologi. Perspektif struktural memusatkan perhatian pada proses sosialisasi, yaitu proses di mana perilaku kita dibentuk oleh peran yang beraneka ragam dan selalu berubah, yang dirancang oleh masyarakat kita. Perspektif interaksionis memusatkan perhatiannya pada proses interaksi yang mempengaruhi perilaku sosial kita. Perbedaan utama di antara kedua perspektif terakhir tadi adalah pada pihak mana yang berpengaruh paling besar terhadap pembentukan perilaku. Kaum strukturalis cenderung meletakan struktur sosial (makro) sebagai determinan perilaku sosial individu, sedangkan kaum interaksionis lebih memandang individu (mikro) merupakan agen yang aktif dalam membentuk perilakunya sendiri. Karena banyaknya teori yang dikemukakan untuk menjelaskan perilaku sosial maka seringkali muncul pertanyaan : ”Teori mana yang paling benar ?” atau ”teori mana yang terbaik?” . Hampir seluruh psikolog sosial akan menjawab bahwa tidak ada teori yang salah atau yang paling baik, atau paling jelek. Setiap teori mempunyai keterbatasan dalam aplikasinya. Misalnya dalam mempelajari agresi (salah satu bentuk perilaku sosial), para behavioris bisa memusatkan pada pengalaman belajar yang mendorong terjadinya perilaku agresif - pada bagaimana orang tua, guru, dan pihakpihak lain yang memberi perlakuan positif pada perilaku agresif. Bagi yang tertarik pada perspektif kognitif maka obyek kajiannya adalah pada bagaimana seseorang mempersepsi, interpretasi, dan berpikir tentang perilaku agresif. Seorang psikolog sosial yang ingin menggunakan teori medan akan mengkaji perilaku agresif dengan cara melihat hubungan antara karakteristik individu dengan situasi di mana perilaku agresif tersebut ditampilkan. Para teoritisi pertukaran sosial bisa memusatkan pada adanya imbalan sosial terhadap individu yang menampilkan perilaku agresif. Jika memakai kacamata teori peran, perilaku agresif atau tidak agresif ditampilkan oleh seseorang karena harapan-harapan sosial yang melekat pada posisi sosialnya harus dipenuhi. |
Metode |
|
Hasil |
|
Diskusi |
|






0 komentar:
Posting Komentar