Pages - Menu

Pages - Menu

Minggu, 07 Mei 2023

Essay 3. Review Jurnal. Nazarudin Latif. 22310410082

 

 Meningkatkan pengetahuan untuk Mencegah Pelecehan

Seksual pada Anak Prasekolah

Tugas 3

Psikologi Sosial

Nazarudin Latif

22310410082

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Topik

Meningkatkan pengetahuan untuk Mencegah Pelecehan Seksual pada Anak Prasekolah

 

Sumber

Jurnal “Psikoedukasi Seks untuk Mencegah Pelecehan Seksual pada Anak Prasekolah

Permasalahan

Terjadi peningkatan pelecehan seksual pada anak dari tahun 2013 dengan

jumlah 590 kasus dan meningkat 100% pada tahun 2014 dengan jumlah 1217 kasus.

Pada April 2014 Indonesia dikagetkan dengan kabar kasus pelecehan seksual terhadap

anak TK oleh petugas cleaning service di Jakarta Internasional School (JIS), disusul kasus yang sama terjadi pada tahun 2016 yaitu pelecehan seksual pada anak TK di

Lampung oleh oknum penjaga sekolahnya (kompas.com)

Isi

Pelecehan seksual adalah perilaku atau perhatian yang bersifat seksual yang tidak

diinginkan dan tidak dikehendaki serta berakibat mengganggu diri penerima pelecehan,

pemaksaan melakukan kegiatan seksual, pernyataan merendahkan tentang orientasi

seksual, permintaan melakukan tindakan seksual yang disukai pelaku, ucapan atau

perilaku yang berkonotasi seksual; semua dapat digolongkan sebagai pelecehan seksual

(Triwijati, 2007).

Senada dengan Chomaria (2014) mengungkapkan pelecehan seksual adalah interaksi

antara anak dengan orang dewasa untuk stimulasi seksual oleh pelaku yang memiliki

kekuatan atau kendali terhadap korban. Korban pelecehan seksual digunakan sebagai

objek yang berkaitan dengan aktivitas seksual baik kontak fisik maupun nonfisik.

Handayani (dalam Hastuti, 2014) menguraikan pelecehan seksual adalah segala macam

bentuk perilaku yang mengarah kepada hal seksual (pemuasan kebutuhan seksual) yang

dilakukan oleh satu pihak dan tidak diharapkan oleh korban sehingga menimbulkan

reaksi negatif seperti benci, marah, malu, sedih, tersinggung, dan lain sebagainya,

pelecehan seksual bisa mengarah menjadi pelecehan seksual.

Faktor penyebab pelecehan seksual pada Anak (Erlinda, 2014) yaitu rendahnya

kesadaran masyarakat terhadap hak anak, pendidikan karakter dirumah, kemiskinan atau

rendahnya pengetahuan tentang pendidikan seks, penyebaran perilaku jahat antar

generasi, ketegangan sosial, serta lemahnya penegakan hukum.

 

 

Metode

Variabel bebas adalah Psikoedukasi seks yaitu model intervensi psikologi dengan materi

pendidikan seks berupa video, gambar, dan materi dengan cerita yang dilakukan baik

pada individu atau kelompok, bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang

perbedaan jenis kelamin, pelecehan seksual, dan sebagai bentuk pencegahan agar subyek

tidak mengalami masalah yang sama ketika subyek harus menghadapi gangguan seperti

pelecehan seksual pada anak. Variabel terikat adalah Pengetahuan anak tentang

pelecehan seksual yaitu anak tahu tentang perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan

perempuan seperti alat kelamin dan pakaian, selain itu anak tahu tanda dan cara

pencegahan pelecehan seksual.

 

Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dan

skala. Skala digunakan sebagai alat ukur pengetahuan anak tentang pelecehan seksual

yang disusun berdasarkan Choirudin (2008) yang mengungkapkan bahwa anak juga

harus diajarkan 3L sebagai upaya pencegahan pelecehan seksual yaitu (a) Latih anak

untuk mengenali organ seksual dengan bahasa sederhana. (b) Larang orang lain untuk

menyentuh atau meraba organ seksual tersebut. (c) Lapor pada orang tua atau guru jika

pelecehan tersebut terjadi, yang terdiri dari 23 aitem pernyataan dan memiliki koefisien

reliabilitas sebesar 0,868. Skala pengetahuan pelecehan seksual pada penelitian yang

digunakan yaitu alat ukur dengan tipe pilihan yang bersifat tertutup subyek diminta untuk

memilih jawaban dengan pilihan dua jawaban “iya” dan “tidak” dengan pemberian nilai

“1 dan 0”.

 

Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kuantitatif metode quasi eksperimen

dengan desain one group pretest-posttest untuk mengukur pengetahuan anak tentang

pelecehan seksual sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Subyek penelitian adalah

siswa di TK Baitul Mukmin Surabaya yang berusia 4-6 tahun, dengan jumlah 20 subyek

dan belum pernah mendapatkan materi psikoedukasi seks. Penelitian tersebut

menggunakan kelompok eksperimen tanpa kelompok kontrol, dengan kelompok 10

subyek laki-laki dan 10 subyek perempuan. Analisa data pada tahap intervensi dilakukan

menggunakan teknik analisa statistik menggunakan uji statistic non parametric Wilcoxon

Signed Rank Test dan Mann Whitney U test dengan Statistical Product and Service

Solution (SPSS) 20.0 for windows, dilakukan untuk membandingkan selisih antara skor

pretest dan skor posttest untuk mengetahui apakah variable bebas (psikoedukasi seks) Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dan

skala. Skala digunakan sebagai alat ukur pengetahuan anak tentang pelecehan seksual

yang disusun berdasarkan Choirudin (2008) yang mengungkapkan bahwa anak juga

harus diajarkan 3L sebagai upaya pencegahan pelecehan seksual yaitu (a) Latih anak

untuk mengenali organ seksual dengan bahasa sederhana. (b) Larang orang lain untuk

menyentuh atau meraba organ seksual tersebut. (c) Lapor pada orang tua atau guru jika

pelecehan tersebut terjadi, yang terdiri dari 23 aitem pernyataan dan memiliki koefisien

reliabilitas sebesar 0,868. Skala pengetahuan pelecehan seksual pada penelitian yang

digunakan yaitu alat ukur dengan tipe pilihan yang bersifat tertutup subyek diminta untuk

memilih jawaban dengan pilihan dua jawaban “iya” dan “tidak” dengan pemberian nilai

“1 dan 0”.

Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kuantitatif metode quasi eksperimen

dengan desain one group pretest-posttest untuk mengukur pengetahuan anak tentang

pelecehan seksual sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Subyek penelitian adalah

siswa di TK Baitul Mukmin Surabaya yang berusia 4-6 tahun, dengan jumlah 20 subyek

dan belum pernah mendapatkan materi psikoedukasi seks. Penelitian tersebut

menggunakan kelompok eksperimen tanpa kelompok kontrol, dengan kelompok 10

subyek laki-laki dan 10 subyek perempuan. Analisa data pada tahap intervensi dilakukan

menggunakan teknik analisa statistik menggunakan uji statistic non parametric Wilcoxon

Signed Rank Test dan Mann Whitney U test dengan Statistical Product and Service

Solution (SPSS) 20.0 for windows, dilakukan untuk membandingkan selisih antara skor

pretest dan skor posttest untuk mengetahui apakah variable bebas (psikoedukasi seks)

 

Diskusi

Pendidikan seks atau psikoedukasi seks mampu meningkatkan pengetahuan tentang seks

sehingga menurunkan kejadian pelecehan seksual pada anak, hal ini sesuai dengan

penelitian Cecen & Harisci (2013) bahwa program psikoedukasi untuk mencegah

pelecehan seksual pada anak terbukti efektif dengan peningkatan pengetahuan, keahlian

dan dukungan untuk proteksi diri.

Psikoedukasi seks atau pendidikan seks sendiri merupakan upaya transfer informasi

tentang perbedaan jenis kelamin dan pelecehan seksual. Psikoedukasi dilakukan untuk

meningkatan pengetahuan anak, hal tersebut dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu

banyaknya informasi yang diberikan akan meningkatkan pengetahuan, dalam penelitian

tersebut psikoedukasi seks yang didalamnya terdapat materi seperti perbedaan jenis

kelamin dan pelecehan seksual yang disampaikan dengan bahasa sederhana dan contoh

yang kongkret atau menggunakan alat peraga, sehingga anak dengan mudah dalam

menerima informasi yang diberikan.

Psikoedukasi tersebut diberikan dengan bahasa dan cara yang sederhana yaitu sesuai

dengan perkembangan kognitif anak prasekolah menurut Piaget (dalam Boeree, 2008)

pada tahap ini masih dalam tahap pra-operasional konkret, dengan cara mengajak anak

untuk menonton video, gambar, dan cerita dengan menggunakan alat peraga seperti

boneka sehingga anak dengan mudah memahami materi yang diberikan, karena sebagian

besar pengetahuan manusia diperoleh melalui penglihatan dan pendengaran.

Alat peraga digunakan karena masa perkembangan kognitif anak prasekolah berada pada

tahap praoperasional kongkret, anak dapat mengerti atau menerima informasi yang

diberikan dengan melihat contoh yang jelas tidak hanya menggunakan kata-kata, selain

itu pengetahuan banyak didapat dari hasil pengindraaan. Notoatmodjo (2007)

mengungkapkan bahwa penyampaian bahan hanya menggunakan kata-kata kurang

efektif, penggunaan alat peraga merupakan salah satu prinsip proses pendidikan.

Faktor lingkungan seperti tidak pernah mendapatkan materi atau pembelajaran tentang

seks dan pelecehan seksual baik dirumah maupun disekolah karena dianggap suatu hal

yang tabu sehingga tidak jarang menggunakan istilah yang berbeda dengan nama yang

sebenarnya, namun rasa ingin tahu yang tinggi pada anak membuat subyek penelitian

antusias dalam mengikuti psikoedukasi tersebut hal tersebut menjadi salah satu faktor

meningkatnya pengetahuan pelecehan seksual pada anak prasekolah setelah diberikan

psikoedukasi.

Pentingnya psikoedukasi seks diberikan sejak dini terutama pada anak usia prasekolah

karena dalam perkembangan psikoseksual menurut Freud (dalam Boeree, 2008) usia

prasekolah berada pada tahap phallus dimana pada tahap tersebut anak mendapatkan

kepuasan libidonya dengan memanipulasi alat kelaminnya, namun ketika orang tua

melarang maka akan timbul perasaan bersalah, hal tersebut dapat menghambat

perkembangan psikoseksual anak selanjutnya. Freud mengungkapkan pada tahap perkembangan ini anak harus diberikan pendidikan seksual yang benar, karena jika tidak,

maka akan menjadi awal terjadinya penyimpangan seksual dikemudian hari.

Anak dapat diberikan pengetahuan seks sejak anak bertanya tentang perbedaan alat

kelamin pada laki-laki dan perempuan, oleh karena itu pengetahuan dasar yang perlu

diberikan sejak dini ialah dengan melatih anak mengenalan anatomi tubuh laki-laki dan

perempuan terutama tentang alat kelamin, cara bergaul dengan lawan jenis, cara

mencegah anak dari pelecehan seksual selanjutnya yaitu dengan mengajari anak untuk

melarang orang lain menyentuh, meraba, atau lainnya pada alat kelamin anak.

Hasil

Hasil analisa data statistik nonparametrik IBM SPSS Statistics Version 20 dengan Teknik

Wilcoxon Signed Rank-Test menunjukkan hasil analisis nilai z sebesar -3.926b pada taraf

signifikansi 0,000 (p<0,01) menunjukkan bahwa secara kuantitatif, psikoedukasi seks

memiliki pengaruh terhadap meningkatnya pengetahuan tentang pelecehan seksual pada

anak prasekolah, dengan demikian hipotesa menyatakan bahwa ada pengaruh

psikoedukasi seks dalam meningkatkan pengetahuan tentang pelecehan seksual pada

anak prasekolah diterima.

Terdapat perbedaan mean antara pre-test dan post-test pengetahuan tentang pelecehan

seksual pada anak prasekolah setelah setelah diberikan psikoedukasi, di mana mean posttest untuk pengetahuan pelecehan seksual pada anak prasekolah lebih tinggi daripada

nilai pret-test, dengan nilai mean pre-test adalah sebesar 13,50 sedangkan nilai post-test

psychological well-being ibu bekerja sebesar 21.20. Hal ini dapat diasumsikan

psikoedukasi seks dapat meningkatkan pengetahuan pelecehan seksual pada anak

prasekolah.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar