Selasa, 10 Oktober 2023

Essay II "BUDAYA PLOGGING AREA RUMAH"

 

BUDAYA PLOGGING AREA RUMAH

Psikologi Sosial Essay 2 Melakukan Kegiatan Plogging

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta MA



 

Nama : Muhammad Arba’an

Nim : 21310410199

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Plogging dapat diartikan sebagai aktivitas jogging yang dibarengi dengan aksi pungut sampah. Hal ini dimulai dari kepedulian segelintir orang yang hobi lari pagi tentang sampah yang ada di sekeliling mereka. Alhasil, mereka berniat untuk membantu membersihkan sampah-sampah yang ada pada sepanjang rute jogging. Caranya adalah dengan berhenti sejenak dan mengambil sampah disela-sela aktivitas jogging. Dalam melakukan plogging, tidak ada aturan khusus yang harus diikuti. Anda bebas mengenakan pakaian apapun asal sesuai dan nyaman dengan aktivitas olahraga. Hanya saja, saat plogging Anda perlu membawa tas atau keranjang punggung yang digunakan sebagai tempat penyimpanan sampah sementara sebelum membuangnya pada tempatnya. Apabila diperlukan, Anda juga bisa memakai sarung tangan agar terhindar dari bakteri yang menempel pada sampah.

      Rumah tinggal saya masih di area desa wisata yang harus kita jaga lingkungannya dari keberadaan sampah,  Namun masih saja banyak sekali masyarakat daerah atau wisatawan local yang masih suka membuang sampah sembarangan. Padahal di setiap sudut lokasi banyak sekali tempat untuk membuang sampah. Desa saya berada di Kampung Alun-alun kotagede dan yang Saya bersihkan adalah jl. Kopral humam serta gang tikus karena desa saya sangat padat penduduknya. Berbeda dengan plogging yang biasanya di lakukan sembari ber olah raga seperti jogging, jalan sehat atau jalan santai saya lebih suka ketika setelah pulang kerja. Hal ini karena jadeal kerja saya yang padat dan sulit untuk melakukan kegiatan lain dalam mengatur waktu.

     Masyarakat sekitar sebetulnya sangat peduli dengan lingkungan tempat tinggalnya, namun Sebulan terakhir ini masyarakat dan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ramai membahas dan memikirkan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah sampah yang diperparah dengan penutupan TPST Piyungan. Pemerintah mulai terlihat huru-hara dalam mengupayakan kebijakan cepat dan tepat untuk segera menyelesaikan masalah sampah ini. Selan itu, protes warga menimbulkan tekanan emosional terhadap pemerintah yang dikejar waktu, dikejar janji, dan dikejar gengsi sebagai kota yang "istimewa namun sayang darurat sampahnya". Penumpukan sampah di beberapa titik di kota Jogja memperburuk kecemasan dan diprediksi pemicu gesekan sosial masyarakat dengan topik yang baru akibat sampah. Sampah kini menjadi barang yang ditolak di mana-mana. TPS di tingkat kelurahan ditutup dan sampah warga tak tahu bisa dibuang di mana,

      Hal ini juga ber imbas pada masyarakat yang mulai lupa dengan kebudayaan bersih dari sampah. Dalam kegiatan yang saya biasakan mungkin banyak warga yang lalu Lalang melihat apa yang saya lakukan semoga masyarakat menjadi peduli soal polemic sampah dan bisa mengubah budaya yang berubah menjadi budaya yang lama atau bersih dari sampah.

 


0 komentar:

Posting Komentar