Pages - Menu

Pages - Menu

Selasa, 26 Desember 2023

Tugas Essay 2 : Eksperimen Pembuatan Kompos Sederhana di Rumah_EvanPrimaPohan_23310420033

 

 PSIKOLOGI LINGKUNGAN

Essay 2 : Eksperimen Pembuatan Kompos Sederhana di Rumah

Evan Prima Pohan

23310420033

Dosen Pengampu : Dra. Arundati Shinta, M.A.


(Penulis (Biru Langit) dan Rekan Mahasiswa)


(Memasukan campuran ke Gentong)


Di Indonesia, kelangkaan pupuk menjadi ancaman serius terhadap produktivitas pertanian dan ketahanan pangan. Faktor-faktor seperti perubahan iklim, distribusi logistik yang tidak efisien, dan kendala dalam rantai pasok pupuk berkontribusi pada situasi ini. Petani sering menghadapi kesulitan dalam mengakses pupuk tepat waktu karena musim tanam yang tidak terduga akibat perubahan iklim.

Pemerintah telah berusaha mengatasi masalah ini melalui kebijakan dan program, tetapi tantangan tetap ada. Solusi jangka panjang membutuhkan kerja sama antara pemerintah, produsen pupuk, dan petani dengan optimalisasi distribusi, peningkatan kapasitas produksi, dan peningkatan infrastruktur.

Sebenarnya, masyarakat dapat mengatasi kelangkaan pupuk dengan membuat pupuk kompos sendiri dari limbah organik. Dengan mengumpulkan sisa makanan, dedaunan, dan material organik lainnya, masyarakat yang membutuhkan kompos dapat menciptakan pupuk kompos yang kaya nutrisi. Pendekatan ini tidak hanya membantu mengurangi limbah, tetapi juga memberikan solusi lokal yang ramah lingkungan untuk meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, serta mendukung pertanian berkelanjutan.

 Kompos adalah pupuk organik yang dihasilkan melalui proses penguraian atau pengomposan bahan organik. Proses ini melibatkan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur yang menguraikan bahan organik, seperti sisa makanan, dedaunan, rumput, dan bahan organik lainnya menjadi materi yang lebih stabil dan kaya akan nutrisi, yang disebut humus.

Pada 17 Oktober 2023, penulis dan rekan mahasiswa menjalankan eksperimen pembuatan kompos di rumah Ibu Dra. Arundati Shinta, M.A., dosen pengampu Psikologi Lingkungan Universitas Proklamasi 45. Eksperimen menggunakan sisa limbah dapur dan daun kering sebagai bahan utama. Kunjungan kami sekitar jam 12 siang disambut hangat dengan cemilan tradisional, bebuahan dan teh tawar. Setelah santap ringan, kami memulai eksperimen sesuai panduan dan arahan Ibu Shinta.

Dalam proses pembuatan kompos secara mandiri yang kami lakukan, alat dan bahan yang dibutuhkan adalah: saringan halus, saringan kasar, gunting atau pisau dapur, kultur bakteri (EM4), dedaunan kering, bio-fungisida (Anfush), kapur tani (Dolomite), sisa limbah organik rumah tangga, 25 lembar daun sirih, abu sisa pembakaran, serbuk gergaji, tetes tebu (Molase), dedak, garam, net mesh dibentuk menjadi pouch, potongan kardus, air bersih, kulit telur halus, gentong tanah liat.

Langkah awal adalah mengumpulkan daun kering di sekitar rumah. Daun ini dipotong kecil dan dimasukkan ke wadah berdiameter sekitar 1 meter dan tinggi 30 cm. Potongan daun dicampurkan dengan abu pembakaran sebanyak 4 genggam dan diaduk. Limbah organik rumah tangga dicampurkan ke dalam wadah, diikuti dengan penambahan air secukupnya untuk menjaga tingkat kelembapan. Masukkan kultur bakteri EM4 (2-3 tutup botol), Anfush (2-3 tutup botol), Molase (5 tutup botol), Dolomite (4-5 genggam), dedak (4-5 genggam), serbuk gergaji (6 genggam), dan garam (3 sendok makan), kemudian aduk rata. Daun sirih yang telah dipotong kecil ditambahkan ke dalam campuran, lalu aduk. Selanjutnya masukkan potongan kardus ke pouch netmesh dan letakkan di dasar gentong. Campuran kompos dimasukkan ke dalam gentong hingga mencapai ¾ ukuran gentong, lalu tutup.

Proses pencampuran selesai, langkah selanjutnya adalah mengaduk campuran tersebut setiap hari selama 3 hari. Campuran akan mengering, dan kompos siap digunakan. Alangkah baiknya, saring kompos menggunakan saringan kasar kemudian halus, lalu masukkan ke wadah khusus. Untuk meningkatkan kualitas kompos, tambahkan kulit telur halus dan abu sisa pembakaran sampah atau daun kering. Kompos dapat ditaburkan langsung ke akar tanaman.

Kelebihan kompos buatan daripada kompos pabrik adalah kontrol kualitas yang jelas, ekonomis, ramah lingkungan, dan bahan baku pembuatan lebih mudah didapatkan. Aspek ramah lingkungan, utamanya sangat penting demi keberlanjutan lingkungan dan pertanian, karena pupuk pabrik cenderung mengandung bahan kimia berlebih yang menghancurkan tingkat kesuburan tanah jika digunakan dalam jangka waktu yang lama.


(Dokumentasi Kegiatan Eksperimen)


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar