PSIKOLOGI
LINGKUNGAN
Essay 2 : Eksperimen Pembuatan Kompos Sederhana di Rumah
Evan Prima Pohan
23310420033
Dosen Pengampu : Dra. Arundati Shinta, M.A.
Di Indonesia, kelangkaan pupuk menjadi
ancaman serius terhadap produktivitas pertanian dan ketahanan pangan.
Faktor-faktor seperti perubahan iklim, distribusi logistik yang tidak efisien,
dan kendala dalam rantai pasok pupuk berkontribusi pada situasi ini. Petani
sering menghadapi kesulitan dalam mengakses pupuk tepat waktu karena musim
tanam yang tidak terduga akibat perubahan iklim.
Pemerintah telah berusaha mengatasi masalah ini melalui kebijakan dan
program, tetapi tantangan tetap ada. Solusi jangka panjang membutuhkan kerja
sama antara pemerintah, produsen pupuk, dan petani dengan optimalisasi
distribusi, peningkatan kapasitas produksi, dan peningkatan infrastruktur.
Sebenarnya, masyarakat dapat mengatasi kelangkaan pupuk dengan membuat
pupuk kompos sendiri dari limbah organik. Dengan mengumpulkan sisa makanan,
dedaunan, dan material organik lainnya, masyarakat yang membutuhkan kompos
dapat menciptakan pupuk kompos yang kaya nutrisi. Pendekatan ini tidak hanya
membantu mengurangi limbah, tetapi juga memberikan solusi lokal yang ramah
lingkungan untuk meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi ketergantungan pada
pupuk kimia, serta mendukung pertanian berkelanjutan.
Pada 17 Oktober 2023, penulis dan rekan mahasiswa menjalankan eksperimen
pembuatan kompos di rumah Ibu Dra. Arundati Shinta, M.A., dosen pengampu
Psikologi Lingkungan Universitas Proklamasi 45. Eksperimen menggunakan sisa
limbah dapur dan daun kering sebagai bahan utama. Kunjungan kami sekitar jam 12
siang disambut hangat dengan cemilan tradisional, bebuahan dan teh tawar.
Setelah santap ringan, kami memulai eksperimen sesuai panduan dan arahan Ibu
Shinta.
Dalam proses pembuatan kompos secara mandiri yang kami lakukan, alat dan
bahan yang dibutuhkan adalah: saringan halus, saringan kasar, gunting atau
pisau dapur, kultur bakteri (EM4), dedaunan kering, bio-fungisida (Anfush),
kapur tani (Dolomite), sisa limbah organik rumah tangga, 25 lembar daun sirih,
abu sisa pembakaran, serbuk gergaji, tetes tebu (Molase), dedak, garam, net
mesh dibentuk menjadi pouch, potongan kardus, air bersih, kulit telur halus,
gentong tanah liat.
Langkah awal adalah mengumpulkan daun kering di sekitar rumah. Daun ini
dipotong kecil dan dimasukkan ke wadah berdiameter sekitar 1 meter dan tinggi
30 cm. Potongan daun dicampurkan dengan abu pembakaran sebanyak 4 genggam dan
diaduk. Limbah organik rumah tangga dicampurkan ke dalam wadah, diikuti dengan
penambahan air secukupnya untuk menjaga tingkat kelembapan. Masukkan kultur
bakteri EM4 (2-3 tutup botol), Anfush (2-3 tutup botol), Molase (5 tutup
botol), Dolomite (4-5 genggam), dedak (4-5 genggam), serbuk gergaji (6
genggam), dan garam (3 sendok makan), kemudian aduk rata. Daun sirih yang telah
dipotong kecil ditambahkan ke dalam campuran, lalu aduk. Selanjutnya masukkan
potongan kardus ke pouch netmesh dan letakkan di dasar gentong. Campuran kompos
dimasukkan ke dalam gentong hingga mencapai ¾ ukuran gentong, lalu tutup.
Proses pencampuran selesai, langkah selanjutnya adalah mengaduk campuran
tersebut setiap hari selama 3 hari. Campuran akan mengering, dan kompos siap
digunakan. Alangkah baiknya, saring kompos menggunakan saringan kasar kemudian
halus, lalu masukkan ke wadah khusus. Untuk meningkatkan kualitas kompos,
tambahkan kulit telur halus dan abu sisa pembakaran sampah atau daun kering.
Kompos dapat ditaburkan langsung ke akar tanaman.
Kelebihan kompos buatan daripada kompos pabrik adalah kontrol kualitas yang
jelas, ekonomis, ramah lingkungan, dan bahan baku pembuatan lebih mudah
didapatkan. Aspek ramah lingkungan, utamanya sangat penting demi keberlanjutan
lingkungan dan pertanian, karena pupuk pabrik cenderung mengandung bahan kimia
berlebih yang menghancurkan tingkat kesuburan tanah jika digunakan dalam jangka
waktu yang lama.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar