Pages - Menu

Pages - Menu

Rabu, 27 Desember 2023

UAS PSIKOLOGI LINGKUNGAN (ELIA PUTRI UTAMI_NIM 22310410111)

 

HUBUNGAN PERSEPSI DENGAN PERILAKU MASYARAKAT PEMBANGKANG

TERHADAP UU NO.18 TAHUN 2008 TENTANG PENGOLAHAN SAMPAH

Disusun Oleh :

Elia Putri Utami (22310410111)

Dosen Pengampu :

Dr., Dra. ARUNDATI SHINTA MA

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta



Arti persepsi merupakan proses kognitif kompleks yang menghasilkan gambaran dunia yang unik, yang mungkin agak berbeda dari realita. Persepsi tidak hanya tergantung pada rangsangan dalam bentuk fisik, tetapi juga tergantung pada rangsangan yang ada di sekitarnya dan kondisi yang ada pada seseorang. Persepsi merupakan kesan yang diperoleh oleh individu melalui panca indera kemudian dianalisa (diorganisir), diintepretasi dan kemudian dievaluasi, sehingga individu tersebut memperoleh makna. Persepsi sesungguhnya memerlukan proses belajar dan pengalaman. Persepsi dipelajari melalui interaksi dengan lingkungan sekitar. Persepsi seseorang timbul sejak kecil melalui interaksi dengan manusia lain. Menurut Kotler (2009), persepsi adalah proses seorang individu memilih, mengorganisasikan dan menafsirkan masukan-masukan informasi untuk menciptakan suatu gambaran yang bermakna tentang dunia. Menurut Sugihartono (2007), persepsi adalah kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia. Menurut Asrori (2009), persepsi adalah proses individu dalam menginterprestasikan, mengorganisasikan dan memberi makna terhadap stimulus yang berasal dari lingkungan di mana individu itu berada yang merupakan hasil dari proses belajar dan pengalaman. Menurut Thoha (1999), persepsi adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang dalam memahami setiap informasi tentang lingkungannya baik melalui penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman.Proses terjadinya persepsi Menurut Walgito (1989), terbentuknya persepsi melalui suatu alur proses, yaitu sebagai berikut: berawal dari objek yang menimbulkan rangsangan dan rangsangan tersebut mengenai alat indra atau reseptor. Proses ini dinamakan proses kealaman (fisik). Kemudian rangsangan yang diterima oleh alat indra dilanjutkan oleh syaraf sensoris ke otak. Proses ini dinamakan proses fisiologis. Selanjutnya terjadilah suatu proses di otak, sehingga individu dapat menyadari apa yang ia terima dengan reseptor itu, sebagai suatu rangsangan yang diterimanya. Proses yang terjadi dalam otak/pusat kesadaran itulah dinamakan dengan proses psikologis. Pada taraf terakhir dari proses persepsi ialah individu menyadari tentang apa yang diterima melalui alat indra (reseptor).Dapat dipahami dari tulisan Ibu Arundati Shinta di Kupasiana UP 45 bahwa persepsi positif disaat situasi lingkungan memburuk itu sangat dibutuhkan.di Kecamatan Wongsorejo,Kabupaten Banyuwangi,Jawa timur tahun 1970 kondisi laut begitu memprihatinkan.terumbu karang yang berguna dan sebagai tempat tinggal berkembang biak ikan telah rusak parah.dikarenakan nelayan yang menggunakan bom dan bahan kimia lainnya untuk menangkap ikan.sehingga berdampak pada kerusakan terumbu karang dan akibat besarnya lagi pendapatan ikan menurun.Persepsi terhadap lingkungan hidup adalah cara-cara individu memahami dan menerima stimulus lingkungan yang dihadapinya. Proses pemahaman tersebut menjadi lebih mudah karena individu mengaitkan objek yang diamatinya dengan pengalaman tertentu, dengan fungsi objek, dan dengan menciptakan makna-makna yang terkandung dalam objek itu. Penciptaan makna-makna itu terkadang meluas, sesuai dengan kebutuhan individu (Fisher, Bell, & Baum, 1984). Contoh dari persepsi itu ialah individu mengamati sebuah pohon besar dengan batangnya yang besar dan daunnya rimbun. Persepsi yang muncul adalah sebuah benda yang dapat menjadi peneduh yang menyenangkan, tempat untuk pesta kebun, tempat untuk berpose bagi penganti yang senang dengan hal-hal yang alami, atau bisa juga sebagai tempat yang mengerikan karena banyak hantunya. Pohon itu juga bisa berfungsi penyumbang devisa negara dengan cara dijual, dan juga untuk kayu bakar.Persoalan yang muncul dengan persepsi adalah manusia terlalu kreatif dalam menciptakan persepsi berdasarkan manfaat. Dampaknya adalah keseimbangan ekologi menjadi terguncang. Dampak yang segera muncul akibat terlalu kreatifnya manusia adalah penggundulan hutan, banjir, serta keanekaragaman flora dan fauna turun. Kalau melihat dampak yang mengerikan itu, maka sebenarnya bukan persepsi manusia yang terlalu kreatif, tetapi persepsi manusia yang terlalu serakah. Manusia ingin memanfaatkan semua isi bumi secepat-cepatnya tanpa memikirkan kebutuhan makhluk lainnya.dibawah ini cara menjelaskan persepsi dalam bentuk skema yang dikemukakan oleh Paul A.Bell dan kawan kawan (Sarwono,1995)

menunjukkan bahwa individu menghadapi/mengamati dan ingin memahami suatu objek fisik yang ada di lingkungannya. Objek fisik itu mempunyai sifat-sifat tertentu misalnya pohon besar mempunyai sifat daunnya banyak dan batang kayunya besar (nyaman untuk berteduh), buahnya banyak, enak dimakan dan tempat bergantung buah mudah dijangkau (pohon itu memang menyenangkan). Individu juga mempunyai sifat, pengalaman, pengetahuan, dan ketrampilan tertentu. Misalnya individu itu bersifat penyabar, pengalamannya luas dan ia sering berada di tempat-tempat konservasi hutan karena profesi pekerjaannya. Ia juga mempunyai ketrampilan merawat pohon karena semenjak kecil ia dilatih orangtuanya untuk peduli pada lingkungan hidupnya. Oleh karena itu ia berpengalaman dalam bidang konservasi hutan.Kini, ia berhadapan dengan situasi baru yang mana banyak pohon besar tumbuh di sekelilingnya. Untuk memahami lingkungan barunya, ia melakukan persepsi. Apabila lingkungan barunya tersebut dipersepsikan hampir sama dengan tempat kerjanya yang lama, maka penyesuaian dirinya berlangsung cepat dan mulus. Hal ini karena lingkungan barunya tersebut dipersepsikan masih dalam batas-batas optimal. Dampaknya adalah keadaan individu tetap kosntan dan stabil, atau disebut sebagai homeostatis. Dalam situasi homeostatis, individu akan merasa nyaman dan ia akan berusaha untuk mempertahankan situasi itu. Di Indonesia masih sangat kurang kesadaran terhadap persepsi pro lingkungan.hal ini menimbulkan permasalahan yang kadang terjadi masih acuh terhadap kebersihan lingkungan,kemudian terhadap sampah dan masih banyak lagi pada situasi lingkungan.inilah yang masih menjadi PR Bersama untuk mencari jalan keluar dari permasalahan permasalahan tersebut.namun dari diri sendiri kita perlu untuk meningkatkan kesadaran terhadap kebersihan lingkungan dan menjaga lingkungan tetap asri dan tidak merusak sumber daya alam di bumi ini.

Seperti dalam Undang-Undang No.18 Tahun 2008 pasal 12 bahwa setiap orang dalam pengelolaan sampah rumah tangga wajib mengurangi dan menangani sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan.kemudian ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan kewajiban pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan daerah.



Unilever indonesia percaya bahwa permasalahan sampah terutama sampah plastik tidak bisa ditangani hanya oleh satu pihak saja,melainkan harus secara bersama sama dan diperlukan upaya yang terintegrasi.semua pihak termasuk masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam mata rantai sampah.untuk itu unilever indonesia secara konsisten melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan pera serta masyarakat untuk bergerak bersama,mulai dari diri sendiri,mulai dari rumah demi mewujudkan indonesia yang hijau.Unilever indonesia juga memperkuat eksistensi dan peranan bank sampah binaannya melalui upaya digitalisasi,bekerja sama dengan platform google my business.Masyarakat kini lebih mudah mengakses dan memanfaatkan bank sampah terdekat,sejalan dengan upaya pemerintah dalam menggalakkan digitalisasi bank sampah.banyak manfaat dari CSR bagi masyarakat sendiri dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia,kelembagaan,tabungan,konsumsi,dan investasi dari rumah tangga warga masyarakat.dan bagi perusahaan CSR bermanfaat untuk meningkatkan kinerja keungan perusahaan dengan menarik investor yang peduli dengan dampak sosial dan lingkungan.

 

Daftar Pustaka

-       Shinta, Arundati (2013).

Persepsi Terhadap Lingkungan.

http://kupasiana.psikologiup45.com/2013/04/persepsi-terhadap-lingkungan.html

 

-       muchlisin Riadi (2015)

Pengertian,Jenis dan dampak sampah

Pengertian, Jenis dan Dampak Sampah - KajianPustaka

 

-       Saiful Hadi Arofad

Pengertian,Jenis, cara mengelola sampah

Sampah : Pengertian, Jenis, Cara mengelola (made-blog.com)

 

 

-       Neraca Cinta Dzilhag

Serba serbi tentang enviromental perception

Psikologi Lingkungan: Serba-Serbi Tentang Environmental Perception - Kampus Psikologi

 

-        Unilever Indonesia Encourages Active Community Role Through #GenerasiPilahPlastik | Unilever

 

-       Unilever

 

Kemajuan terkait penggunaan plastik

Kemajuan kami terkait penggunaan plastik | Unilever



Tidak ada komentar:

Posting Komentar