Mengunjungi TPS Randu Alas: Belajar Mengelola Sampah
Sabtu, 12 Oktober 2024, merupakan hari yang penuh makna bagi mahasiswa Psikologi yang sedang menempuh mata kuliah Psikologi Lingkungan. Kegiatan kunjungan lapangan yang dilaksanakan di TPS Randu Alas memberikan pengalaman langsung mengenai pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Dengan sistem pembongkaran sampah menjadi dua jenis, yakni organik dan anorganik, TPS ini menjadi contoh nyata bagaimana pengelolaan sampah dapat dilakukan secara efektif dan ramah lingkungan.
Tujuan Kegiatan
Kunjungan ini bertujuan untuk mengintegrasikan teori Psikologi Lingkungan dengan praktik nyata, khususnya dalam memahami bagaimana perilaku manusia terhadap sampah dapat mempengaruhi keterlibatan lingkungan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk melihat langsung proses pengelolaan sampah, memahami dampaknya terhadap lingkungan, serta mempelajari strategi untuk mengubah perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap sampah.
Di TPS Randu Alas, sampah dipisahkan menjadi dua kategori utama:
1. Sampah Organik
Sampah organik mencakup sisa makanan, dedaunan, dan bahan alami lainnya yang dapat terurai secara biologis. Sampah ini diolah menjadi kompos melalui proses penguraian alami. Selama kunjungan, mahasiswa menyaksikan langsung proses pembuatan kompos, mulai dari pengumpulan sampah, penyusunan dalam komposter, hingga pengolahan menjadi pupuk siap pakai.
2. Sampah Anorganik
Sampah anorganik, seperti plastik, kaca, dan logam, dipisahkan untuk didaur ulang atau diolah lebih lanjut. TPS ini memiliki area khusus untuk menyortir sampah anorganik berdasarkan jenisnya. Beberapa jenis sampah yang memiliki nilai ekonomi, seperti botol plastik dan kardus, dijual kepada pengepul atau pabrik daur ulang. Mahasiswa juga diajak untuk memahami pentingnya upaya pengurangan sampah anorganik dengan menerapkan prinsip pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang.
Kegiatan dimulai dengan sesi pengenalan dari pengelola TPS yang menjelaskan sejarah dan tujuan didirikannya TPS Randu Alas. Selanjutnya, siswa dibagi beberapa menjadi kelompok untuk mengikuti berbagai aktivitas, di antaranya:
• Observasi langsung: Mahasiswa mengamati proses pemilahan, pengolahan kompos, dan daur ulang sampah anorganik.
• Diskusi interaktif: Mahasiswa berdiskusi dengan pengelola TPS mengenai tantangan dalam mengelola sampah, seperti rendahnya kesadaran dalam memilah sampah.
• Simulasi pengelolaan sampah: Mahasiswa mencoba menanam cara memilah sampah dan membuat kompos dengan alat yang tersedia di TPS.
Kunjungan ini memberikan banyak pelajaran penting bagi siswa. Dari perspektif Psikologi Lingkungan, mereka memahami bahwa perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah memerlukan pendekatan edukasi yang konsisten dan berbasis komunitas. TPS Randu Alas menunjukkan bahwa dengan sistem yang sederhana namun terorganisasi, pengelolaan sampah dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Selain itu, mahasiswa juga menyadari bahwa tanggung jawab pengelolaan sampah tidak hanya berada di tangan pemerintah atau pengelola TPS, tetapi juga individu. Setiap orang memiliki peran dalam mengurangi produksi sampah, memilahnya dengan benar, dan mendukung daur ulang.
Kesimpulan
Kunjungan ke TPS Randu Alas menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa Psikologi. Tidak hanya memberikan wawasan tentang pengelolaan sampah secara teknis, tetapi juga memperkuat pemahaman mereka mengenai pentingnya perubahan perilaku untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Pengalaman ini diharapkan dapat memotivasi mahasiswa untuk menjadi agen perubahan, baik di lingkungan kampus maupun di masyarakat. Dengan membawa semangat dari TPS Randu Alas, mereka dapat turut berkontribusi dalam membangun budaya peduli sampah demi masa depan yang lebih hijau.







0 komentar:
Posting Komentar