Essay 1
MERINGKAS
ARTIKEL DAN OPINI SAYA TENTANG PELAKU PENEMBAKAN KANTOR MUI TEWAS, POLISI
GANDENG PSIKOLOGI FORENSIK UNTUK UNGKAP MOTIFNYA
PELAKU
PENEMBAKAN KANTOR MUI TEWAS, POLISI GANDENG PSIKOLOGI FORENSIK UNTUK UNGKAP
MOTIFNYA
PSIKOLOGI
SOSIAL
RIFKY
BACHTIAR LISANDRA
22310410011
DOSEN
PENGAMPU: Dr. Dra. ARUNDATI SHINTA, MA
FAKULTAS
PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA
|
Topik |
Koran
Jawa Pos. Rabu, 3 Mei 2023. |
|
Sumber |
Pelaku
Penembakan Kantor MUI Tewas, Polisi Gandeng Psikologi Forensik untuk Ungkap
Motifnya. |
|
Ringkasan |
Dirreskrimum Polda
Metro Jaya Kombes Pol Hengki Haryadi mengatakan akan menggunakan melakukan
otopsi psikologi dengan metode restrospektive terhadap jasad Mustopa. Dalam proses tersebut,
ia mengatakan akan menggandeng Asosiasi Psikologi Forensik (APSIFOR) untuk
melakukan profiling secara lengkap terhadap pelaku. Sebelumnya,
Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Hengki Haryadi menyebut bahwa motif
sementara dari Mustopa, 60, melakukan penembakan di Kantor MUI Pusat adalah
lantaran membutuhkan pengakuan atau legitimasi sebagai wakil nabi. ‘‘Memang dari alat
bukti yang ada tulisan-tulisan yang pertama motif sementara bahwa yang
bersangkutan ini ingin mendapat pengakuan sebagai wakil nabi,‘‘ ujar Hengki kepada
wartawan, Selasa (2/5). Penarikan kesimpulan motif penembakan sementara itu
diambil, kata Hengki, berdasarkan adanya surat-surat yang ditinggalkan
pelaku. ‘‘Dan itu adalah saya sebagai wakil Tuhan,‘‘ kata Hengki menirukan
isi surat tersebut. |
|
Permasalahan |
Dirreskrimum
Polda Metro Jaya Kombes Pol Hengki Haryadi mengatakan akan menggunakan
melakukan otopsi psikologi dengan metode restrospektive terhadap jasad
Mustopa pelaku penembakan Kantor MUI yang tewas, agar membuat kasus ini
semakin terang benderang. |
|
Opini
saya |
·
Adanya inisiator dari Dirreskrimum
Polda Metro Jaya dalam penanganan otopsi jasad Mustopa pelaku penembakan
Kantor Mui yang tewas, dengan menggunakan otopsi psikologi dengan metode
restrospektive, dapat membantu mempercepat otopsi jasad pelaku tersebut dan
patut diberikan apresiasi. ·
Dalam membangun sudut pandang yang
lebih baik, perlu kiranya peran pemberitaan atau publikasi dalam setiap
kegiatan positif yang digelar sehingga kegiatan positif tersebut dapat
tersampaikan ke telinga masyarakat. ·
Agar dalam kejadian tersebut bisa
dijadikan pembelajaran untuk kedepannya kepada masyarakat bahwa selalu
berhati-hati terhadapt situasi sekitar, dan tidak terpengaruh oleh
radikalisme. |
LAMPIRAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar