MIRACLE IN CELL NO. 7
Tugas 2
Psikologi Sosial
Ken Gelis Widiahapsari
22310410063
Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
|
Topik |
Perjuangan seorang ayah yang
memiliki keterbatasan mental,penyandang stabilitas intelektual yang dipenjara
Karena kesalahan yang tidak ia perbuat dan berusaha membahagiakan sang putri
kecilnya |
|
Sumber |
Miracle in call no. 7 ( 2020 ) |
Full movie | Creative Land Entertainment | Korean - Film - 03:07:28 https://youtu.be/oe0-P5-KbX4 |
|
Ringkasan |
Perjuangan seorang ayah penyandang
stabilitas intelektual menjual balon dan menjadi juru parkir demi sang putri
tunggalnya yang sangat ia cintai agar dapat menempuh pendidikan,namun pada
akhirnya sang ayah meninggal pada usia 87 tahun karena di hukum mati akibat
kesalah pahaman. Sang anak membayar semua penderitaan ayahnya dengan menjadi
hakim yang adil terhadap terdakwa
penyandang stabilitas seperti ayahnya,selain itu ia juga membela keadilan
ayahnya dan membuktikan almarhum ayahnya tidak bersalah pada akhirnya sang
ayah terbukti tidak bersalah setelah mendapatkan hukuman mati |
|
Ringkasan sambungan |
Pada saat itu Ye-Sung masih kecil
bersama ayahnya bernama Yong-Goo di depan sebuah toko, Yong-Goo merupakan
pria 40 tahun yang memiliki disabilitas mental, karena kecerdasannya yang
sangat rendah. Kemudian di depan toko itu Ye-Sung menginginkan sebuah tas
Sailor Moon berwarna kuning yang sangat cantik, namun ayah Ye-Sung saat itu
tidak membawa uang dan berjanji kepada Ye-Sung untuk membelikan tas itu,namun
tiba-tiba tas itu ada yang mengambilnya dan ayah Ye-Sung segera masuk kedalam
toko untuk meghentikan orang yang ingin membeli tas itu, pertengkaranpun terjadi diantara dua belah pihak, sampai
akhirnya petugas dapat melerai keduannya. Malamnya Yong-Goo berjanji kepada
Ye-Sung untuk membelikan tas Sailor Moon yang disukai olehnya.Keesokan
harinya, seperti biasa Ye-Sung mengantarkan ayahnya untuk bekerja, Yong-Goo
bekerja sebagai tukang parkir di salah satu toko dekat daerahnya, ketika
sedang menghitung uang gaji miliknya yang akan ia belikan tas Sailor Moon,
tiba-tiba munculah anak yang kemarin telah mengambil tas Silor Moon dan
membelinya terlebih dahulu, anak itu berkata bahwa dia akan menu jukan tempat
yang menjual tas Sailor Moon itu.Di tengah perjalanan tiba-tiba Yong-Goo
terpeleset karena cuaca yang sangat dingin membuat jalanan disana sangalah
licin, sama seperti anak itu, ia juga terpeleset, namun naasnya anak itu terbentur
oleh sebuah batu yang mengakibatkan dirinya meninggal ditempat. Mengetahui
hal tersebut Yong-Goo langsung memberikan pertolongan pertama yang membuat
kejadian itu salah paham di mata seorang ibu-ibu yang kebetulan melewati
jalan tersebut. Karena hal tersebut kemudian Yong-Goo menjadi tersangka atas
penculikan dan pembunuhan terhadap anak dibawah umur.Setelah kejadian itu
Yong-Goo dimasukan kedalam penjara nomor.7, disana ia dipertemukan dengan 5
narapidana juga yang bernama Leader, Bung-Sik, Choon-Ho, Man-Bum, dan kakek
Seo. Pada awal pertemuan itu Yong-Goo digebukin karena alasan kasus pelecehan
seksual serta pembunuhan. Namun dikemudia hari seorang Leader berterima kasih
kepda Yong-Goo karena telah menolongnya dari suatu peristiwa. Setelah
kejadian itu Leader bertanya kepada Yong-Goo untuk memberikan permintaan
untuk membalas budi. Namun Yong-Goo hanya berkata menginginkan anaknya,
setelah itu 5 narapidana itu membantu Yong-Goo untuk mempertemukannya dengan
anaknya. Dan akhirnya mereka dapat dipertemukan. Namun tak berselang lama
Ye-Sung akhirnya ketahuan juga.Ketika itu cuaca diluar sedang hujan, ketua
sipir langsung mengeluarkan Yong-Goo dari selnya menuju lapangan kemudian
ketua sipir membanting dan menendang Yong-Goo, sedangkan Ye-Sung yag sudah ketahuan
kini ia sedang berada di ruangan staff.Yong-Goo akhirnya dimasukan kedalm sel
pengasingan, namun tak lama setelah itu terjadi kebakaran. Yong-Goo dengan
setengah sadar langsung menyelamatkan diri, namun ketika sedang dalam
penyelamatan diri, tiba-tiba Yong-Goo menemukan ketua sipir sedang terjeak
dalm kebakarang, kemudian tanpa berfikir panjang Yong-Goo akhirnya menolong
sang ketua sipir itu. Setelah kejadian penolongan itu ketua sipir lantas
sadar bahwasanya seorang pembunuh ingin menolong dirinya. Setelah itu ketua
sipir ingin mengetahui lebih dalam lagi mengenai kasus yang terjadi kepada
Yong-Goo.Suatu saat ketua sipir memberikan sebuah kardus besar kepada sel
nomor 7, yang awalny dikira sebuah roti beras yang enak, ternyata isinya
adalah Ye-Sung. Kemudian Yong-Goo diajak menuju ruang ketua sipir, disana
Yong-Goo sangat berterima kasih kepada ketua sipir karena telah mempertemukan
dirinya dengan Ye-Sung. Kemudian hari-hari pun berjalan seperti biasa,
saking akrabnya Ye-Sung dengan penghuni sel nomor 7 itu, Ye-Sung bahkan
sampai mengajarkan Leader cara menulis dan membaca, dia juga ikut membantu
Bung-Sik untuk menghubungi istrinya yang baru melahirkan serta memberikan
namanya. Keputusan Yong-Goo yang
telah ditetapkan membuat para penghuni sel nomor 7 untuk merekap ulang
kejadian yang menimpa Yong-Goo untuk mempermudah membantu Yong-Goo untuk
menjawab saat sidang nanti. Dalam rekaan ulang kejadian terbukti bahwasanya
saat itu di tengah perjalanan Yong-Goo terpeleset karena cuaca yang sangat
dingin membuat jalanan disana sangalah licin, anak itu juga terpeleset, namun naasnya saat dirinya
terpeleset tanganya tak sengaja menarik tali dan itu membuat sebuah batu
jatuh tepat dikepala anak itu, sehingg anak itu meninggal ditempat, Yong-Goo
dengan pengalaman CRP yaitu memberikan pertolongan pertama dengan nafas
buatan, langsung mempraktekan kepada anak itu, tapi karena kondisi Yong-Goo
yang tidak bisa menjelaskan secara panjang maka ia dijadikan tersangka. Namun yang seharusnya Yong-Goo
bisa diselamatkan dari eksekusi mati gagal, dikarenakan Yong-Goo saat di
wawancarai tidak dapat memberikan penjelasan terhadap Sang Hakim. Maka hasil
persidangan tingkat satu diberikan kepadanya.Kemudian para penghuni sel nomor
7 berusaha membantu Yong-Goo untuk kabur dari sel, namun rencana itu gagal.
Pada tanggal 23 Desember hari dimana Yong-Goo akan di eksekusi mati, para
tahana sel nomor 7 memberikan hadiah kepada Ye-Sung, mereka juga memberikan
sebuah roti tart, kemudian Yong-Goo memberikan sebuah kotak kepada Ye-Sung yang
mana itu berisikan tas Sailor Moon yang diinginkan Ye-Sung sejak dulu.Ending
dari cerita ini adalah Ye-Sung sudah beranjak dewasa lagi yang sedang membela
keadilan atas ayahnya, dan keadilan itu didapatkannya dan membuktikan
bahwasanya Yong-Goo tidak bersalah. Namun hal itu sudah terlambat, kini
Yong-Goo sudah tiada dan Ye-Sung hanya bisa memandang langit yang indah
mengingatkebersamaanya dengan ayahnya. |
|
Permasalahan |
Hanya karena yang terlibat dalam
kasus adalah seorang menyandang disabilitas,kemudia orang orang dengan seenaknya menghakimi
dirinya dan tidak memberikan kesempatan untuk bisa memahami lebih jauh apa
yang terjadi Tidak ada sedikitpun keadilan yang
ia dapatkan,tidak hanya keadilan saja bahkan rasa kemanusiaan telah hilang
dari hari mereka |
|
Opini saya |
Sangat amat disayangkan orang yang
tidak bersalah mendapatkan hukuman dari apa yang dia tidak perbuat apalagi ia
adalah penyandang stabilitas Penyandang stabilitas ia juga
manusia biasa seperti kita,namun kenapa suara mereka tidak dapat dilihat
maupun didengarkan sedikitpun hingga membuat ia dan keluarganya menderita Pendapat saya jika masalah seperti
ini terjadi dinegara kita sendiri sangat disayangkan,agar tidak terulang
kejadian yang sama seperti apa yang telah tertuang didalam film tersebut
hendaknya pemerintah dalam bidang politik dan kepolisian harus memperhatikan
permasalahan permasalahan yang ada. Hal hal yang sudah saya terapkan
di kehidupan sehari hari mengenai penyandang stabilitas,kita harus memberikan
perlakuan khusus untuk mereka,hargai dan hormati mereka karena mereka adalah
spesial,tidak ada manusia yang ingin merasakan apa yang mereka rasakan
menjadi penyandang stabilitas itu seperti apa, bukankah begitu jadi hargailah semua orang dan
berikan keadilan yang seadil adilnya sehingga tidak ada pihak yang akan di
rugikan |






0 komentar:
Posting Komentar