Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Sabtu, 25 April 2026

Essai 1 - Meringkas Jurnal Mengenai Pengelolaan Sampah

 Meringkas Jurnal Mata Kuliah Psikologi Lingkungan

"Teknologi InsinerasiSebagai Solusi Pengolahan Sampah Perkotaan dan Pemulihan Energi: A Review"

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, M.A


LAURENTIUS ANDHIKA HARYANTO
24310410215


FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

Komponen Detail Penelitian
Topik Teknologi InsinerasiSebagai Solusi Pengolahan Sampah Perkotaan dan Pemulihan Energi: A Review
Sumber Idris, M., Setyawan, M., & Mufrodi, Z. (2024). Teknologi insinerasi sebagai solusi pengolahan sampah perkotaan dan pemulihan energi: A review. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi (Semnastek). Lihat Jurnal Asli.
Permasalahan Permasalahan yang digambarkan majalah ini adalah kenyataan yang menyedihkan bahwa limbah dihasilkan dengan jumlah yang jauh melebihi daya dukung lingkungan kita. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di seluruh Indonesia telah mencapai titik jenuh dan berubah menjadi tumpukan sampah, melepaskan emisi metana dan air lindi berbahaya yang mencemari sistem air tanah. Kita terjebak oleh metode pembuangan terbuka (open dumping) yang sudah kuno dan keterbatasan lahan yang semakin realistis. Saya sebagai generasi penerus memandang hal ini sebagai kegagalan kolektif dan jika dibiarkan, kita akan kehilangan hak atas lingkungan yang sehat di masa depan. Ketidakmampuan mengurangi jumlah sampah secara signifikan bukan hanya permasalahan teknis namun juga merupakan ancaman sistemik terhadap kedaulatan lingkungan.
Analisis Data Terpusat
Tujuan Penelitian Riset ini mengusung misi edukatif untuk memvalidasi teknologi insinerasi sebagai solusi definitif dalam mereduksi volume limbah perkotaan secara signifikan. Fokus utamanya adalah menetapkan parameter teknis pembakaran suhu tinggi yang efisien tanpa mengorbankan kualitas udara bersih. Lebih dari sekadar pemusnahan sampah, penelitian ini berambisi mengoptimalkan konsep Waste-to-Energy guna mentransformasikan masalah lingkungan menjadi sumber energi listrik yang produktif. Melalui pendekatan ini, saya ingin membuktikan bahwa inovasi teknologi dapat diselaraskan dengan prinsip konservasi alam demi mencapai efisiensi sumber daya yang maksimal serta masa depan bumi yang lebih lestari.
Isi Ulasan ini membedah mekanisme oksidasi termal pada suhu ekstrem 850°C–1200°C yang mampu mereduksi massa sampah domestik secara drastis hingga menyisakan abu minimal. Inti inovasinya terletak pada pemanfaatan energi panas yang ditangkap sistem boiler untuk menghasilkan uap penggerak turbin listrik, mewujudkan prinsip Waste-to-Energy. Sebagai mahasiswa, saya melihat urgensi pada sistem flue gas treatment yang menjamin emisi tetap aman di bawah ambang batas bahaya. Teknologi ini bukan sekadar membakar, melainkan mentransformasi limbah menjadi sumber daya produktif melalui siklus ekonomi sirkular yang bersih, menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan kelestarian ekosistem lingkungan.
Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif melalui metode Systematic Literature Review. Metode ini sangat krusial karena mengandalkan sintesis data sekunder dari berbagai literatur ilmiah dan laporan teknis yang kredibel. Pemilihan sumber data dilakukan secara selektif guna memastikan validitas variabel teknis, seperti nilai kalor dan efisiensi termal pembakaran. Analisis dilakukan secara deskriptif-komparatif untuk menguji adaptasi teknologi insinerasi global terhadap karakteristik sampah lokal Indonesia yang memiliki kadar air tinggi. Ini merupakan langkah intelektual yang konsisten dalam memastikan bahwa solusi pengolahan sampah yang ditawarkan bener-benar berbasis pada bukti ilmiah yang aman bagi kelestarian lingkungan.
Hasil Temuan riset menunjukkan bahwa teknologi insinerasi mampu mereduksi volume sampah secara drastis hingga lebih dari 90%, menjawab tantangan keterbatasan lahan TPA secara nyata. Efektivitas ini selaras dengan potensi pemulihan energi listrik yang signifikan, membuktikan bahwa sampah adalah sumber daya strategis jika dikelola dengan sains yang tepat. Selain itu, residu pembakaran berupa abu dasar terbukti dapat dimanfaatkan kembali sebagai material konstruksi berkualitas tinggi. Hasil ini di perkuat bahwa sistem Waste-to-Energy bukan sekadar teori, melainkan solusi produktif yang konsisten dalam menciptakan sirkularitas ekonomi sekaligus menjaga integritas ekosistem dari pencemaran limbah berkelanjutan.
Diskusi Hal ini akhirnya menjadi sebuah bagian teknologi insinerasi yang memerlukan sinergi komitmen kolektif, terutama pada bagian pemilahan sampah di hulu agar efisiensi termal tetap optimal. investasi tinggi tidak sebanding dengan harga kerusakan alam yang harus dibayar di masa depan. Juga memerlukan konsistensi agar hal yang beralih dari sekadar 'membuang' menjadi 'mengelola' dengan integritas tinggi. Dibutuhkan kolaborasi antara kebijakan pemerintah yang tegas, riset akademis berkelanjutan, dan perubahan perilaku masyarakat yang pro-lingkungan. 

© 2026 Academic Report Design • Created for Blogger

ESAI 2: PLOGGING

Melakukan Plogging

Reni Prabandari
24310410221
Kelas Psikologi Lingkungan-B
Tugas Essai 2
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas Psikologi Universtas Proklamasi 45 Yogyakarta 


PENDAHULUAN

Plogging adalah kegiatan olahraga yang menggabungkan lari (jogging) dengan memungut sampah di sepanjang rute yang dilalui. Istilah ini berasal dari bahasa Swedia “plocka upp” (memungut) dan jogging yang mulai popoler sekitar tahun 2016.

Di Indonesia sendiri plogging mulai booming sekitar tahun 2018 yang dilakukan oleh komunitas lari di Jakarta. Setelah itu, plogging semakin populer lewat acara publik seperti car free day.

Yang dilakukan saat plogging adalah berlari santai seperti jogging biasa dan sambil berlari itu Kita berhenti untuk mengambil sampah yang terlihat di rute yang Kita lewati. Sampah tersebut dikumpulkan dalam kantong yang Kita bawa.


KEGIATAN YANG DILAKUKAN

Plogging 1


Kegiatan plogging yang pertama ini Saya lakukan di hari Sabtu, tanggal 18 April 2026 sekitar pukul 16.00 WIB s/d pukul 17.15 WIB dengan jarak tempuh sekitar 5,2 kilometer dan berlokasi di jalanan sekitar tempat tinggal Saya di Desa Donorojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Di sepanjang rute yang Saya lewati tersebut, Saya menemukan banyak sampah di jalanan. Yang paling banyak Saya temui adalah sampah botol plastik, plastik bekas dan bungkus makanan kemasan anak - anak.

Sampah - sampah tersebut kemudian Saya pungut dan Saya masukkan dalam kantong plastik. Setelah selesai plogging, Saya kemudian membawa sampah tersebut ke penjual rongsok di dekat rumah Saya. Setelah ditimbang, jumlah sampah plastik yang berhasil Saya kumpulkan adalah 2,3 kilogram dan dihargai Rp.4.700,- oleh pengepul rongsok tersebut.



Plogging 2


Kegiatan plogging yang kedua ini Saya lakukan di hari Sabtu, tanggal 25 April 2026 sekitar pukul 15.30 WIB s/d pukul 16.35 WIB dengan jarak tempuh sekitar 5,0 kilometer dan berlokasi di lingkungan sekitar tempat tinggal Saya di Perumahan Pesona Kota Mungkid, Desa Donorojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Di lingkungan perumahan tempat tinggal Saya tersebut, Saya menemukan banyak botol plastik dan bungkus makanan kemasan anak - anak.

Sampah - sampah tersebut kemudian Saya pungut dan Saya masukkan dalam kantong plastik. Setelah selesai plogging, Saya kemudian membawa sampah tersebut ke penjual rongsok di dekat rumah Saya. Setelah ditimbang, jumlah sampah plastik yang berhasil Saya kumpulkan adalah 1,5 kilogram dan dihargai Rp.3.200,- oleh pengepul rongsok tersebut.



PEMBAHASAN

Dari kegiatan plogging yang Saya telah lakukan tersebut, dapat kita pahami bahwa di Indonesia ini kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempat yang telah disediakan masih sangat rendah. Kebanyakan orang masih membuang sampah seenaknya.

Selain itu, kebanyakan sampah yang Saya temukan adalah sampah anorganik seperti botol plastik, kantong kresek bekas dan bungkus jajanan kemasan anak - anak yang notabene sangat sulit terurai bisa mencapai ratusan tahun.

Masyarakat di Indonesia pun masih sangat abai jika melihat banyak sampah berserakan di jalanan. Jarang yang dengan sadar mau memungut sampah - sampah tersebut dan membuangnya di tempat yang telah disediakan.



PENUTUP

Plogging adalah kegiatan olahraga yang menggabungkan lari (jogging) dengan memungut sampah di sepanjang rute yang dilalui.

Manfaat plogging di antaranya adalah menyehatkan tubuh, menjaga lingkungan dengan membantu mengurangi sampah di ruang publik dan juga meningkatkan kesadaran sosial.



KESIMPULAN DAN SARAN

Plogging adalah aktivitas yang efektif dan inovatif untuk merepresentasikan pro lingkungan sebagai seorang mahasiswa psikologi lingkungan karena plogging mengajarkan Kita bahwa kegiatan menjaga lingkungan dengan cara memungut sampah di jalanan bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan.

Sebagai seorang mahasiswa piskologi lingkungan alangkah lebih baiknya jika Kita bisa lebih mempopulerkan plogging kepada masyarakat di Indonesia pada umumnya dan masyarakat di sekitar tempat tinggal Kita pada khususnya.











ESAI 2-Plogging

 Psikologi Lingkungan dan Pembentukan Perilaku Pro-Lingkungan


Nama : Banun Havifah Cahyo Khosiyono

NIM : 24310440002

Kelas : B

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Tugas : Esai 2 (Plogging)

Pendahuluan


Plogging adalah kegiatan menggabungkan olahraga (jogging) dengan aksi sosial berupa pembersihan sampah di jalan. Tujuan kegiatan ini bukan hanya menjaga kebugaran tubuh, tetapi juga membentuk perilaku pro-lingkungan dengan mengaitkan aktivitas menyenangkan (olahraga) dengan tindakan peduli lingkungan (memungut sampah). Dengan demikian, sampah tidak lagi dipersepsikan sebagai beban, melainkan bagian dari aktivitas positif.

Pelaksanaan Kegiatan

Saya melakukan plogging sebanyak dua kali di lokasi berbeda:

  1. Lokasi 1: RT 01, Sribitan,  Bangunjiwo

    • Tanggal/Waktu: 11 April 2026, pukul 07.00–08.00 WIB

    • Jarak jogging: ±3 km

    • Sampah terkumpul: 2,5 kg (plastik kresek, botol plastik, kertas)

    • Pengelolaan sampah: dipilah, lalu disetorkan ke bank sampah Dukuh Sribitan.

  1. Lokasi 2: RT 02, Sribitan, Bangunjiwo

    • Tanggal/Waktu: 25 April 2026, pukul 07.00–08.00 WIB

    • Jarak jogging: ±2 km

    • Sampah terkumpul: 3 kg (plastik makanan, kaleng minuman, puntung rokok)

    • Pengelolaan sampah: dipilah, sebagian dijual ke bank sampah Dukuh Sribitan, sisanya diolah menjadi kompos (sampah organik).


Permasalahan yang Ditemukan:

  • Kurangnya kesadaran masyarakat: banyak sampah plastik sekali pakai dibuang sembarangan.

  • Dominasi sampah nonorganik: sulit terurai, menimbulkan pencemaran jangka panjang.

  • Stigma negatif: sebagian orang merasa memungut sampah adalah pekerjaan “rendah” sehingga enggan melakukannya.

Refleksi dan Pembentukan Perilaku

Melalui plogging, saya merasakan bahwa aktivitas fisik yang menyenangkan dapat mengubah persepsi terhadap sampah. Tindakan memungut sampah dikaitkan dengan rasa senang karena berolahraga. Hasilnya, terbentuk perilaku baru: sampah bukan lagi sesuatu yang menjijikkan, melainkan bagian dari rutinitas sehat. Selain itu, kegiatan ini menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. Saya menyadari bahwa perubahan besar dimulai dari tindakan kecil. Jika mahasiswa terbiasa melakukan plogging, maka perilaku peduli lingkungan bisa menyebar ke masyarakat luas.

Kesimpulan

Plogging adalah praktik psikologi lingkungan yang efektif untuk membentuk perilaku pro-lingkungan. Dengan menggabungkan olahraga dan aksi sosial, kegiatan ini mengajarkan bahwa menjaga kebersihan bukan sekadar kewajiban, tetapi juga bisa menjadi aktivitas menyenangkan. Sampah yang terkumpul tidak hanya dibuang, tetapi juga dipilah dan dikelola melalui bank sampah serta kompos, sehingga memberi manfaat nyata bagi keberlanjutan lingkungan.


Jumat, 24 April 2026

ESSAI 2 - PLOGGING SAMPAH

PLOGGING SAMPAH

Kinanthi Kembang Asmoro (24310410224)

Dosen Pengampu : Dr. Dra. Arundati Shinta, MA

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 



Ploging sampah merupakan kegiatan yang bermanfaat dan memiliki dampak yang besra bagi lingkungan dan kesehatan. Saya melakukan ploging di area lingkungan kerja kegiatan ini bertujuan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekaligus menjaga kesehatan karyawan. Saya melakukan kegiatan ploging setelah selesai pengamanan unjuk rasa yang dilaksanakan pada malam hari, anggota yang lain bertugas dan berjaga selama 24 jam penuh. Saya membersihkan area kerja dengan mengumpulkan sampah berupa botol plastik bekas minuman, plaisik bekas makanan, kertas dan sampah lainnya yang berserakan di sekitar ruangan. Kegiatan ini menunjukkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan kerja setelah aktivitas padat.

Setelah pelaksanaan pengamanan unjuk rasa, biasanya terdapat sisa sampah konsumsi, kemasan minuman, maupun barang sekali pakai. Oleh karena itu, plogging merupakan langkah positif untuk mengembalikan kondisi ruangan adagr tetap bersih dan rapi agar nyaman digunakan kembali

Plogging di lingkungan kerja seperti gambar diatas memiliki manfaat yang besar serta menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama terhadap lingkungan. Kegiatan ini juga mencerminkan disiplin dan kepedulian personel dalam menjaga kebersihan setelah menjalankan tugas.

Kegiatan plogging jumat sehat dilingkungan kerja yaitu aktivitas membersihkan area kantor dengan mengumpulkan sampah sekaligus membersihkan area sekitar kantor dengan menggumpulkan sampah sekaligus menjaga kebugaran tubuh. Membuang ampah ke tempat sampah yang telah disediakan termasuk dalam kepedulian terhadap kebersihan lingkungan kerja.

   

Kegiatan plogging ini dilakukan dengan cara memungut sampah yang berada di sekitar area kantor, halaman parkir, maupun fasilitas umum lainnya. Kami menggumpulkan sampah sesuai jenisnya antara sampah organik dan an organik. Sampah organik seperti daun kering, sisa makanan dan bahan yang mudah terurai dipisahkan dari sampah anorganik seperti plastik, botol minuman, kaleng dan kertas.

Pemiliahan sampah sangat penting karena memudahkan proses pengelolahan dan daur ulang. Sampah anorganik dapat dimanfaatkan kembali menjadi barang yang berguna. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos dengan adanya pemisahan ini, jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dapat berkurang. Dan untuk mempermudah proses pengolahan maka di sediakan tempat sampah anorganik dan organik untuk mempermudah pemilahan.

Selain menjaga kebersihan, kegiatan jumat sehat ini memberikan manfaat bagi kesehatan karena melakukan jalan kaki sehingga bergerak aktif, dan bekerja sama antar personel. Sehingga kegiatan ini akan menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama untuk menjaga lingkungan kerja untuk tetap bersih dan nyaman. Melalui kegiatan plogging ini, saya merasa turut berkontribusi dalam menjaga kebersihan lingkungan tempat kerja dan mengurangi jumlah botol plastik yang mencemari lingkungan.

 

 

Essay meringkas jurnal tentang sampah

 

Pengelolaan Sampah dan Dampaknya terhadap Lingkungan
Nama : Fitri Oktafia
24310410222

• Pendahuluan
Sampah merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas manusia. Peningkatan jumlah sampah, baik organik maupun anorganik, menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan, seperti pencemaran tanah, air, dan udara. Selain itu, pengelolaan sampah yang kurang efektif juga dapat berdampak pada kesehatan masyarakat dan menurunkan kualitas hidup.

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengkaji sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan. Pendekatan seperti pengurangan sampah dari sumbernya, daur ulang, serta pemanfaatan kembali menjadi fokus utama dalam upaya mengatasi permasalahan ini. Namun, implementasi strategi tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kurangnya kesadaran masyarakat hingga keterbatasan infrastruktur.

Oleh karena itu, ringkasan jurnal ini bertujuan untuk mengkaji dan menyajikan secara singkat hasil penelitian terkait pengelolaan sampah, termasuk permasalahan yang dihadapi serta solusi yang ditawarkan. Diharapkan, ringkasan ini dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.

• Pembahasan
Pembahasan dalam jurnal ini menyoroti berbagai aspek terkait pengelolaan sampah, mulai dari jenis, sumber, hingga metode penanganannya. Sampah umumnya dibedakan menjadi sampah organik dan anorganik. Sampah organik berasal dari sisa makhluk hidup seperti makanan dan daun yang mudah terurai, sedangkan sampah anorganik seperti plastik, kaca, dan logam membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai.

Permasalahan utama dalam pengelolaan sampah adalah meningkatnya volume sampah yang tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan yang memadai. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya menjadi salah satu faktor penyebab. Selain itu, keterbatasan fasilitas seperti tempat pengolahan dan daur ulang juga memperparah kondisi tersebut.

Berbagai metode pengelolaan sampah telah diterapkan, seperti metode 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Reduce dilakukan dengan mengurangi penggunaan barang sekali pakai, reuse dengan menggunakan kembali barang yang masih layak pakai, dan recycle dengan mengolah kembali sampah menjadi produk baru yang bermanfaat. Selain itu, pengolahan sampah organik dapat dilakukan melalui proses komposting, sedangkan sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi berbagai produk.

Jurnal ini juga menekankan pentingnya peran pemerintah dan masyarakat dalam mengatasi masalah sampah. Pemerintah berperan dalam menyediakan kebijakan dan infrastruktur yang mendukung, sedangkan masyarakat diharapkan aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan pola hidup ramah lingkungan. Kolaborasi antara berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan dalam pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.

 

• Kesimpulan dan Saran
 
Kesimpulan
Permasalahan sampah merupakan isu lingkungan yang terus berkembang dan memerlukan perhatian serius. Peningkatan jumlah sampah yang tidak diimbangi dengan pengelolaan yang efektif dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Pengelolaan sampah melalui pendekatan seperti 3R (Reduce, Reuse, Recycle) serta pengolahan yang tepat terbukti dapat menjadi solusi dalam mengurangi volume sampah. Namun, keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada kesadaran masyarakat, dukungan kebijakan pemerintah, serta ketersediaan fasilitas yang memadai.

Saran
Diperlukan upaya yang lebih intensif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya, seperti melalui edukasi dan sosialisasi. Pemerintah diharapkan dapat memperkuat kebijakan serta menyediakan infrastruktur yang mendukung pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Selain itu, perlu adanya kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif. Pengembangan inovasi dalam pengolahan dan daur ulang sampah juga perlu terus didorong guna mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

• Daftar Pustaka
Sukarni, M., & Widodo, T. 2019. “Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat untuk Lingkungan Berkelanjutan.” Jurnal Ilmu Lingkungan, 17(2), 123–130.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

World Bank. 2018. What a Waste 2.0: A Global Snapshot of Solid Waste Management to 2050. Washington, DC: World Bank.

Yuliana, L. 2021. “Analisis Pengelolaan Sampah Plastik di Perkotaan.” Jurnal Kesehatan Lingkungan, 13(1), 45–52.