Jejak Kata, Cinta, dan Suara Alam yang Terluka
Cinta adalah salah satu misteri terbesar dalam kehidupan manusia. Ia tidak berwujud, tetapi dampaknya nyata; tidak memiliki suara, tetapi gaungnya mampu meruntuhkan benteng kesedihan dan membangun jembatan harapan. Melalui lembaran-lembaran kertas dan goresan pena, saya mencoba merangkum kompleksitas rasa tersebut—bukan hanya cinta pada sesama, tetapi juga cinta yang mendalam pada tanah kelahiran dan kelestarian bumi—ke dalam bait-bait puisi yang mengantarkan saya pada sebuah pencapaian tak terduga: menjadi pemenang dalam lomba puisi bertema cinta.
1. Menemukan Esensi Cinta di Balik Kepedihan Alam
Bagi saya, menulis puisi cinta bukan sekadar merangkai kata-kata manis tentang kasih sayang personal. Cinta memiliki spektrum yang luas, termasuk keberanian untuk bersuara ketika bumi tempat kita berpijak sedang terluka. Rasa cinta yang tulus sering kali berpadu dengan kepedihan ketika melihat realitas sosial di sekitar kita.
Hal inilah yang saya curahkan dalam bait-bait puisi berjudul "Di Bawah Langit yang Lupa Warna Biru", sebuah karya yang lahir dari jeritan nurani melihat tanah Jambi yang diselimuti kabut asap dan karhutla:
Di tanah tempat rimba pernah bernapas,
kami belajar mengeja sunyi.
Bukan karena malam terlalu lelap,
namun fajar tertutup kabut pekat nan menyesakkan.
Sungai Batanghari mengalir bagai cermin pecah,memantulkan wajah yang merindukan aroma tanah segar.
Kami mencintai bumi ini tanpa syarat,
mengapa dibalas jelaga nan pekat?
Melalui puisi ini, saya ingin menyampaikan bahwa cinta pada tanah air berarti siap berdiri membela ruang hidup anak-anak, menjaga ruang belajar mereka yang terenggut oleh asap, dan menolak diam di atas penderitaan alam.
Dari Kertas Kosong Menuju Sebuah Buku Antologi
Kemenangan ini terasa jauh lebih bermakna ketika puisi tersebut tidak hanya berhenti pada lembar pengumuman pemenang, tetapi dibukukan bersama karya-karya hebat dari penulis lainnya. Menjadi bagian dari sebuah buku antologi puisi adalah mimpi besar bagi banyak penulis.
Melihat karya tulis yang membawa isu kemanusiaan dan lingkungan ini tercetak rapi di atas kertas, dijilid menjadi sebuah buku fisik yang dapat disentuh dan dibaca oleh khalayak luas, memberikan kepuasan batin yang luar biasa. Buku antologi ini menjadi wadah di mana suara-suara kecil dari daerah dapat bergema lebih nyaring, menyadarkan siapa pun tentang pentingnya menjaga bumi:
Wahai pemetik rupiah di balik dinding asap,
kembalikan langit biru yang kalian curi tanpa pamit.
Sebab di bumi Jambi ini,
kami ingin membesarkan manusia, bukan mewariskan penyakit.
Sertifikat Sebagai Pengingat dan Pemacu Semangat
Selain buku antologi, sertifikat penghargaan yang saya terima adalah simbol legitimasi dan apresiasi atas kerja keras yang telah dicurahkan. Sertifikat ini bukan sekadar selembar kertas berbingkai, melainkan sebuah pengingat abadi bahwa seni dan sastra memiliki daya gugah untuk menyuarakan kebenaran dan kepedulian sosial.
Lomba Ke satu
Penghargaan ini menjadi bahan bakar baru bagi saya untuk terus menulis, mengeksplorasi diksi, dan menjadi penyambung lidah bagi alam yang tak bisa berbicara sendiri.
Lomba Ke Dua
Penutup
Perjalanan ini mengukuhkan keyakinan saya bahwa sastra memiliki kekuatan untuk merangkul, menyuarakan keresahan, dan menyembuhkan. Menang lomba, melihat puisi yang menyuarakan realitas lingkungan ini dibukukan, serta memegang sertifikat kemenangan adalah sebuah anugerah yang menyadarkan saya bahwa pena terkadang jauh lebih tajam daripada amarah. Semoga karya ini dapat mengetuk hati banyak pihak untuk kembali mencintai bumi tanpa syarat.























