Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Sabtu, 25 April 2026

ESAI 2-Plogging

 Psikologi Lingkungan dan Pembentukan Perilaku Pro-Lingkungan


Nama : Banun Havifah Cahyo Khosiyono

NIM : 24310440002

Kelas : B

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Tugas : Esai 2 (Plogging)

Pendahuluan


Plogging adalah kegiatan menggabungkan olahraga (jogging) dengan aksi sosial berupa pembersihan sampah di jalan. Tujuan kegiatan ini bukan hanya menjaga kebugaran tubuh, tetapi juga membentuk perilaku pro-lingkungan dengan mengaitkan aktivitas menyenangkan (olahraga) dengan tindakan peduli lingkungan (memungut sampah). Dengan demikian, sampah tidak lagi dipersepsikan sebagai beban, melainkan bagian dari aktivitas positif.

Pelaksanaan Kegiatan

Saya melakukan plogging sebanyak dua kali di lokasi berbeda:

  1. Lokasi 1: RT 01, Sribitan,  Bangunjiwo

    • Tanggal/Waktu: 11 April 2026, pukul 07.00–08.00 WIB

    • Jarak jogging: ±3 km

    • Sampah terkumpul: 2,5 kg (plastik kresek, botol plastik, kertas)

    • Pengelolaan sampah: dipilah, lalu disetorkan ke bank sampah Dukuh Sribitan.

  1. Lokasi 2: RT 02, Sribitan, Bangunjiwo

    • Tanggal/Waktu: 25 April 2026, pukul 07.00–08.00 WIB

    • Jarak jogging: ±2 km

    • Sampah terkumpul: 3 kg (plastik makanan, kaleng minuman, puntung rokok)

    • Pengelolaan sampah: dipilah, sebagian dijual ke bank sampah Dukuh Sribitan, sisanya diolah menjadi kompos (sampah organik).


Permasalahan yang Ditemukan:

  • Kurangnya kesadaran masyarakat: banyak sampah plastik sekali pakai dibuang sembarangan.

  • Dominasi sampah nonorganik: sulit terurai, menimbulkan pencemaran jangka panjang.

  • Stigma negatif: sebagian orang merasa memungut sampah adalah pekerjaan “rendah” sehingga enggan melakukannya.

Refleksi dan Pembentukan Perilaku

Melalui plogging, saya merasakan bahwa aktivitas fisik yang menyenangkan dapat mengubah persepsi terhadap sampah. Tindakan memungut sampah dikaitkan dengan rasa senang karena berolahraga. Hasilnya, terbentuk perilaku baru: sampah bukan lagi sesuatu yang menjijikkan, melainkan bagian dari rutinitas sehat. Selain itu, kegiatan ini menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. Saya menyadari bahwa perubahan besar dimulai dari tindakan kecil. Jika mahasiswa terbiasa melakukan plogging, maka perilaku peduli lingkungan bisa menyebar ke masyarakat luas.

Kesimpulan

Plogging adalah praktik psikologi lingkungan yang efektif untuk membentuk perilaku pro-lingkungan. Dengan menggabungkan olahraga dan aksi sosial, kegiatan ini mengajarkan bahwa menjaga kebersihan bukan sekadar kewajiban, tetapi juga bisa menjadi aktivitas menyenangkan. Sampah yang terkumpul tidak hanya dibuang, tetapi juga dipilah dan dikelola melalui bank sampah serta kompos, sehingga memberi manfaat nyata bagi keberlanjutan lingkungan.


Jumat, 24 April 2026

ESSAI 2 - PLOGGING SAMPAH

PLOGGING SAMPAH

Kinanthi Kembang Asmoro (24310410224)

Dosen Pengampu : Dr. Dra. Arundati Shinta, MA

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 



Ploging sampah merupakan kegiatan yang bermanfaat dan memiliki dampak yang besra bagi lingkungan dan kesehatan. Saya melakukan ploging di area lingkungan kerja kegiatan ini bertujuan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekaligus menjaga kesehatan karyawan. Saya melakukan kegiatan ploging setelah selesai pengamanan unjuk rasa yang dilaksanakan pada malam hari, anggota yang lain bertugas dan berjaga selama 24 jam penuh. Saya membersihkan area kerja dengan mengumpulkan sampah berupa botol plastik bekas minuman, plaisik bekas makanan, kertas dan sampah lainnya yang berserakan di sekitar ruangan. Kegiatan ini menunjukkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan kerja setelah aktivitas padat.

Setelah pelaksanaan pengamanan unjuk rasa, biasanya terdapat sisa sampah konsumsi, kemasan minuman, maupun barang sekali pakai. Oleh karena itu, plogging merupakan langkah positif untuk mengembalikan kondisi ruangan adagr tetap bersih dan rapi agar nyaman digunakan kembali

Plogging di lingkungan kerja seperti gambar diatas memiliki manfaat yang besar serta menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama terhadap lingkungan. Kegiatan ini juga mencerminkan disiplin dan kepedulian personel dalam menjaga kebersihan setelah menjalankan tugas.

Kegiatan plogging jumat sehat dilingkungan kerja yaitu aktivitas membersihkan area kantor dengan mengumpulkan sampah sekaligus membersihkan area sekitar kantor dengan menggumpulkan sampah sekaligus menjaga kebugaran tubuh. Membuang ampah ke tempat sampah yang telah disediakan termasuk dalam kepedulian terhadap kebersihan lingkungan kerja.

   

Kegiatan plogging ini dilakukan dengan cara memungut sampah yang berada di sekitar area kantor, halaman parkir, maupun fasilitas umum lainnya. Kami menggumpulkan sampah sesuai jenisnya antara sampah organik dan an organik. Sampah organik seperti daun kering, sisa makanan dan bahan yang mudah terurai dipisahkan dari sampah anorganik seperti plastik, botol minuman, kaleng dan kertas.

Pemiliahan sampah sangat penting karena memudahkan proses pengelolahan dan daur ulang. Sampah anorganik dapat dimanfaatkan kembali menjadi barang yang berguna. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos dengan adanya pemisahan ini, jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dapat berkurang. Dan untuk mempermudah proses pengolahan maka di sediakan tempat sampah anorganik dan organik untuk mempermudah pemilahan.

Selain menjaga kebersihan, kegiatan jumat sehat ini memberikan manfaat bagi kesehatan karena melakukan jalan kaki sehingga bergerak aktif, dan bekerja sama antar personel. Sehingga kegiatan ini akan menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama untuk menjaga lingkungan kerja untuk tetap bersih dan nyaman. Melalui kegiatan plogging ini, saya merasa turut berkontribusi dalam menjaga kebersihan lingkungan tempat kerja dan mengurangi jumlah botol plastik yang mencemari lingkungan.

 

 

Essay meringkas jurnal tentang sampah

 

Pengelolaan Sampah dan Dampaknya terhadap Lingkungan
Nama : Fitri Oktafia
24310410222

• Pendahuluan
Sampah merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas manusia. Peningkatan jumlah sampah, baik organik maupun anorganik, menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan, seperti pencemaran tanah, air, dan udara. Selain itu, pengelolaan sampah yang kurang efektif juga dapat berdampak pada kesehatan masyarakat dan menurunkan kualitas hidup.

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengkaji sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan. Pendekatan seperti pengurangan sampah dari sumbernya, daur ulang, serta pemanfaatan kembali menjadi fokus utama dalam upaya mengatasi permasalahan ini. Namun, implementasi strategi tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kurangnya kesadaran masyarakat hingga keterbatasan infrastruktur.

Oleh karena itu, ringkasan jurnal ini bertujuan untuk mengkaji dan menyajikan secara singkat hasil penelitian terkait pengelolaan sampah, termasuk permasalahan yang dihadapi serta solusi yang ditawarkan. Diharapkan, ringkasan ini dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.

• Pembahasan
Pembahasan dalam jurnal ini menyoroti berbagai aspek terkait pengelolaan sampah, mulai dari jenis, sumber, hingga metode penanganannya. Sampah umumnya dibedakan menjadi sampah organik dan anorganik. Sampah organik berasal dari sisa makhluk hidup seperti makanan dan daun yang mudah terurai, sedangkan sampah anorganik seperti plastik, kaca, dan logam membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai.

Permasalahan utama dalam pengelolaan sampah adalah meningkatnya volume sampah yang tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan yang memadai. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya menjadi salah satu faktor penyebab. Selain itu, keterbatasan fasilitas seperti tempat pengolahan dan daur ulang juga memperparah kondisi tersebut.

Berbagai metode pengelolaan sampah telah diterapkan, seperti metode 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Reduce dilakukan dengan mengurangi penggunaan barang sekali pakai, reuse dengan menggunakan kembali barang yang masih layak pakai, dan recycle dengan mengolah kembali sampah menjadi produk baru yang bermanfaat. Selain itu, pengolahan sampah organik dapat dilakukan melalui proses komposting, sedangkan sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi berbagai produk.

Jurnal ini juga menekankan pentingnya peran pemerintah dan masyarakat dalam mengatasi masalah sampah. Pemerintah berperan dalam menyediakan kebijakan dan infrastruktur yang mendukung, sedangkan masyarakat diharapkan aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan pola hidup ramah lingkungan. Kolaborasi antara berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan dalam pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.

 

• Kesimpulan dan Saran
 
Kesimpulan
Permasalahan sampah merupakan isu lingkungan yang terus berkembang dan memerlukan perhatian serius. Peningkatan jumlah sampah yang tidak diimbangi dengan pengelolaan yang efektif dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Pengelolaan sampah melalui pendekatan seperti 3R (Reduce, Reuse, Recycle) serta pengolahan yang tepat terbukti dapat menjadi solusi dalam mengurangi volume sampah. Namun, keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada kesadaran masyarakat, dukungan kebijakan pemerintah, serta ketersediaan fasilitas yang memadai.

Saran
Diperlukan upaya yang lebih intensif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya, seperti melalui edukasi dan sosialisasi. Pemerintah diharapkan dapat memperkuat kebijakan serta menyediakan infrastruktur yang mendukung pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Selain itu, perlu adanya kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif. Pengembangan inovasi dalam pengolahan dan daur ulang sampah juga perlu terus didorong guna mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

• Daftar Pustaka
Sukarni, M., & Widodo, T. 2019. “Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat untuk Lingkungan Berkelanjutan.” Jurnal Ilmu Lingkungan, 17(2), 123–130.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

World Bank. 2018. What a Waste 2.0: A Global Snapshot of Solid Waste Management to 2050. Washington, DC: World Bank.

Yuliana, L. 2021. “Analisis Pengelolaan Sampah Plastik di Perkotaan.” Jurnal Kesehatan Lingkungan, 13(1), 45–52.

 

 

 

Rabu, 22 April 2026

ESSAI 1: MERINGKAS JURNAL PENGELOLAAN SAMPAH



 Pengelolaan Sampah Desa Gudang Tengah Melalui Manajemen Bank Sampah

Reni Prabandari

24310410221

Kelas Psikologi Lingkungan-B

Tugas Essai I

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universtas Proklamasi 45 Yogyakarta




Topik

 

Pengelolaan Sampah, Manajemen Bank Sampah, Desa Gudang Tengah.

Sumber

 

Ariefahnoor,D.,Hasanah,N.,&Surya,A.(2020). Pengelolaan Sampah Desa Gudang Tengah Melalui Manajemen Bank Sampah. Jurnal Kacapuri, 3 (1).


Permasalahan

 

Belum sadarnya masyarakat di Desa Gudang Tengah tentang arti kebersihan lingkungan dan adanya dampak ekonomi langsung apabila mampu mengolah sampah di Pasar Desa Gudang Tengah dan juga belum adanya bank sampah di Desa Gudang Tengah.

 

Tujuan Penelitian

 

Untuk mengetahui mengapa selama ini masyarakat Desa Gudang Tengah belum sadar tentang arti kebersihan lingkungan dan adanya dampak ekonomi langsung apabila mampu mengolah sampah di Pasar Desa Gudang Tengah dan mengapa selama ini belum ada bank sampah di Desa Gudang Tengah.

 

Isi

 

Bank sampah dalam melaksanakan kegiatan operasionalnya terdapat beberapa tahap, mulai dari pengumpulan, pemilahan hingga pencatatan. Proses tersebut meliputi: 1. Pemilahan sampah rumah tangga oleh nasabah bank sampah; 2. Penyetoran sampah ke bank sampah oleh nasabah bank sampah; 3. Penimbangan, sampah yang sudah ditimbang kemudian ditimbang sesuai dengan kesepakatan minimal; 4. Pencatatan, pencatatan bobot bank sampah setelah penimbangan; 5. Hasil sampah dilaporkan kedalam buku tabungan nasabah bank sampah; 6. Sampah dimanfaatkan untuk dibuat produk kreasi sampah.

Kendala-kendala dalam pengelolaan sampah Desa Gudang Tengah melalui Manajemen Bank Sampah Yang menjadi kendala-kendala dalam Penerapan Bank Sampah di Desa Gudang Tengah (dalam diskusi dan wawancara) yaitu : 1. Belum sadarnya masyarakat arti kebersihan lingkungan dan adanya dampak ekonomi langsung apabila mampu mengolah sampah Pasar Desa Gudang Tengah. 2. Belum adanya Bank Sampah, baru proses pembentukan struktur organisasi Bank Sampah, diharapkan bisa bersinergi bersama-sama dengan diterapkannya Konsep 3 R dan Teknologi Lingkungan. 3. Belum memahami konsep manajemen Bank Sampah. Strategi pengelolaan sampah Desa Gudang Tengah melalui manajemen Bank Sampah.

 

Metode

 

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-kualitatif. Metode deskriptif-kualittatif analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan, dengan maksud untuk menemukan unsur-unsurnya kemudian dianalisis bahkan juga diperbandingkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode deskriptif adalah sebuah cara atau teknik yang dilakukan untuk memaparkan suatu permasalahan sehingga dapat dengan jelas dianalisis dan ditarik kesimpulan.

 

Hasil

 

Masyarakat sangat antusias dan menginginkan pengelolaan sampah pasar yang baik berwawasan lingkungan melalui konsep 3 R dan teknologi lingkungan yang diterapkan agar lingkungan pasar menjadi bersih dan nyaman serta mendatangkan nilai ekonomis.

Masyarakat akan segera membentuk Bank Sampah Desa Gudang Tengah untuk mengurus segala sesuatu berkenaan sampah desa termasuk didalamnya sampah pasar dan sampah rumah tangga.

Dengan konsep Manajemen Bank Sampah dapat diterapkan dengan baik, menyadarkan masyarakat bahwa sampah bisa mendatangkan nilai ekonomis dengan menukarkan sampah plastik dengan rupiah per kg melalui Bank Sampah.

 

Diskusi

 

Perlu kedepannya diberikan pelatihan manajemen organisasi bank sampah untuk meningkatkan produksi (pengumpulan jenis sampah yang bernilai ekonomis) dan penjualan (pengempul sampah yang memberikan daftar harga sampah) yang efektif serta menguntungkan bagi masyarakat.

 










Selasa, 21 April 2026

Essay 1- Meringkas Jurnal Pengelolaan Sampah


ANALISIS PERILAKU MASYARAKAT DALAM MEMBUANG SAMPAH DI SUNGAI BEDADUNG KABUPATEN JEMBER


YOSY TEGAR SEPTIAN/ NIM: 24310410242

PSIKOLOGI LINGKUNGAN (B)

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

Topik :

Menganalisa perilaku masyarakat menggunakan metode deskriptif kualitatif.

Sumber :

Syarifah Y Nur Azizah, Sudarti (2023), Analisis Perilaku Masyarakat Dalam Membuang Sampah Di Sungai Bedadung Kabupaten Jember. Jurnal Ilmiah Publika.

Alamat : https://jurnal.ugj.ac.id/index.php/Publika/article/view/8202/3184Permasalahan. 

Permasalahan :

Sungai Bedadung di Kabupaten Jember merupakan salah satu sungai utama di Cekungan Bedadung. Sungai ini mempunyai fungsi strategis yaitu menyediakan air irigasi untuk persawahan serta menjadi salah satu penyedia sumber air bersih. Selain itu sungai Bedadung juga digunakan oleh masyarakat sebagai tempat kegiatan sehari-hari seperti mencuci, mandi dan kakus atau MCK. Indonesia berpenduduk 72.5 juta jiwa dengan sanitasi buruk, dimana 240 kota di antaranya memiliki masalah pengelolaan sampah. Sampah-sampah yang dihasilkan menggapai 130.000 ton/hari karena jumlah penduduk yang terus bertambah.

Tujuan penelitian :

Menganalisis  bagaimana  perilaku  masyarakat  dalam  membuang  dan  mengelola sampah  rumah  tangga. Melalui penelitian ini diharapkan masyarakat lebih memahami permasalahan yang timbul akibat membuang sampah sembarangan  di  bantaran  Sungai  Bedadung  Kabupaten  Jember.

Isi :

Sampah yang menumpuk di sungai Bedadung ini sebagian besar berasal dari sampah yang dihasilan dari kegiatan rumah tangga. Berupa sampah organik dan sampah anorganik. Di sungai ini didominasi oleh sampah-sampah plastik. Sampah yang menumpuk di sungai ini merupakan sampah buangan masyarakat di suatu lokasi tertentu di bantaran sungai dan dari pemukiman masyarakat sekitar sungai.

Metode :

Menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dalam mengumpulkan data primer menggunakan teknik wawancara dan observasi langsung. Penelitian ini menggunakan sampel responden sebanyak 15 rumah warga yang membuang sampah di bantaran Sungai Bedadung.

Hasil :

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan terhadap masyarakat mengenai tingkat pencemaran sungai Bedadung, bahwa total dari responden pada penelitian ini sebanyak 15 responden, diketahui sebanyak 12 responden (80%) berpendapat bahwa tingkat pencemaran sungai Bedadung sudah tergolong sangat tercemar. Sedangkan sebanyak 3 responden (20%) berpendapat bahwa tingkat pencemaran sungai Bedadung masih tergolong sangat. Sebanyak 10 responden (66,7%) berpendapat bahwa di lingkungan bantaran sungai Bedadung tidak tersedia sarana dan prasarana pembuangan sampah. Sedangkan sebanyak 5 responden (33,3%) berpendapat bahwa tersedia sarana dan prasarana pembuangan sampah namun tidak merata. sebanyak 8 responden (53,3%) belum melakukan pengelolaan terhadap sampah yang akan dibuang. Sedangkan sebanyak 7 responden (46,7%) telah melakukan pengelolaan sampah namun masih terbatas. hasil observasi terkait keadaan lingkungan di bantaran sungai Bedadung kabupaten Jember terlihat mencemaskan. Terlihat bahwa keadaan air sungai sudah berwarna coklat dengan banyak sampah yang mengambang di daerah DAM sungai. Selain itu aliran sungai terlihat tidak mengalir dikarenakan saluran yang tertutup oleh sampah.

Diskusi :

Melalui kegiatan observasi langsung di lokasi, didapatkan hasil bahwa faktor-faktor yang menyebabkan perilaku masyarakat membuang sampah di Sungai Bedadung yaitu kurangnya sarana dan prasarana pembuangan sampah, kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah. Sehingga perlu adanya sosialisai dan penyediaan sarana tempat pembuangan sampah atau TPA disekitar Sungai Bedadung.