Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Selasa, 12 Mei 2026

ESSAI 9 MENJADI NASABAH DI BANK SAMPAH

 

Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 9

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 

PENGALAMAN MENJADI NASABAH di BANK SAMPAH

 


Berawal dari pemberian tugas mata kuliah Psikologi Lingkungan, dimana Dosen meminta kami untuk menjadi nasabah Bank Sampah, awalnya saya tidak begitu memahami tentang apa itu dan dimana lokasi Bank Sampah yang ada ditempoat tinggal saya di Kota Salatiga, kemudian hasil memungut sampah botol plastik saat Plogging dan beberapa botol-botol yang ada dirumah, saya kumpulkan dan kemudian saya berikan di Bank Sampah Induk yang ada di Kota Salatiga.

Saya mulai menjadi nasabah bank sampah pada tanggal 21 April 2026. Pada penyetoran pertama, saya mengumpulkan sampah botol plastik dengan berat sekitar 1,25 kilogram dan memperoleh nilai sebesar Rp1.375. Nilai tersebut memang sangat kecil apabila dilihat dari sisi ekonomi. Akan tetapi, pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata masih dapat dimanfaatkan kembali apabila dipisahkan / dikelompokkan dengan benar.

Kemudian, pada tanggal 11 Mei 2026 saya kembali menyetorkan sampah plastik ke bank sampah. Saat itu, sampah yang saya kumpulkan berupa botol plastik dan beberapa wadah botol bekas dengan berat sekitar 0,75 kilogram dan 0,55 kilogram. Dari hasil penimbangan tersebut saya memperoleh nilai sekitar Rp2.200 dan Rp2.860. Pengalaman mengumpulkan sampah untuk kedua kalinya membuat saya semakin memahami bahwa kegiatan bank sampah bukan sekadar tentang mendapatkan uang dari sampah. Nilai uang yang diperoleh memang tidak besar, tetapi terdapat makna yang jauh lebih penting, yaitu membangun kesadaran untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

Melalui kegiatan tersebut, saya mulai memahami pentingnya memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Sampah organik dapat diuraikan atau dimanfaatkan kembali menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik seperti botol plastik dapat dikumpulkan dan didaur ulang melalui bank sampah. Kebiasaan sederhana seperti ini ternyata memiliki pengaruh terhadap pengurangan penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir, termasuk di TPA Ngronggo yang volumenya terus meningkat dari waktu ke waktu. Jika masyarakat tidak memiliki kesadaran dalam mengelola sampah, maka penumpukan sampah akan semakin besar dan dapat menimbulkan berbagai masalah lingkungan.

Permasalahan

Selain memberikan pengalaman positif, kegiatan di bank sampah juga memperlihatkan berbagai persoalan yang masih terjadi dalam pengelolaan sampah. Salah satu masalah yang saya lihat adalah para relawan bank sampah yang bekerja dengan penuh kepedulian, tetapi belum mendapatkan penghargaan atau upah yang layak. Padahal, mereka memiliki peran penting dalam membantu masyarakat mengelola sampah dan mengurangi beban TPA. Pemerintah dalam hal ini DLH Kota Salatiga sepertinya kurang begitu peduli terhadap relawan-relawan yang ada di Bank Sampah hal ini terlihat dari beberapa petugas atau relawan yang disana bercerita tentang harus membayar dengan uang sendiri ketika tidak ada kas yang diperuntukkan untuk membayar tenaga seperti pengepresan botol-botol plastik dan orang-orang yang disewa untuk memilah/ mengelompokkan sampah-sampah yang masih tercampur, atau kebutuhan-kebutuhan lainnya yang berkaitan dengan pengelolaan sampah yang ada di Bank Sampah Induk Kota Salatiga.

 

Kesimpulan

Menjadi nasabah bank sampah memberikan pengalaman yang berharga dalam memahami persoalan sampah secara lebih nyata. Selama ini sampah sering dianggap sebagai barang yang tidak berguna dan hanya perlu dibuang. Namun, melalui kegiatan bank sampah, saya mulai memahami bahwa sampah sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi apabila dipilah dan dikelola dengan baik. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama untuk mengurangi penumpukan sampah di lingkungan dan tempat pembuangan akhir (TPA). Dan dengan menjadi nasabah bank sampah, saya belajar bahwa persoalan sampah bukan hanya tentang kebersihan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan kesadaran sosial, kebijakan pemerintah, dan tanggung jawab bersama. Bank sampah memang belum mampu menyelesaikan seluruh persoalan sampah, tetapi keberadaannya menjadi salah satu hal yang penting untuk membangun kebiasaan peduli lingkungan di masyarakat.

 

 SAMPAHMU ADALAH TANGGUNG JAWABMU

ESSAY PRESTASI (1)


YOSY TEGAR SEPTIAN

NIM: 24310410242

PSIKOLOGI LINGKUNGAN (B)

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA


JUDUL : MENGISI MATERI KEGIATAN ANAK TPQ & MUSYAWARAH REMAJA 


        Kegiatan masyarakat merupakan aktivitas yang dilakukan bersama oleh warga masyarakat, untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan harmonis. Kegiatan masyarakat tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa saja, tetapi juga dapat dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat, seperti remaja dan anak anak. Kegiatan bertujuan sebagai sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga. 

        Salah satu contoh kegiatan masyarakat di kalangan anak anak yaitu di TPQ (Tempat Pendidikan Al-Quran). Melalui kegiatan ini, anak-anak bersama-sama belajar tentang agama Islam seperti membaca IQRO dan Al-Quran, menerapan akhlak mulia, serta pembelajaran lainnya. TPQ menciptakan lingkungan yang baik, juga melatih generasi yang beraklak mulia. Dalam ilmu psikologi sosial, kegiatan seperti ini dapat meningkatkan rasa kebersamaan dan solidaritas antar sesama anak.

        Saya menjadi bagian dari RISMA (Remaja Islam Masjid) Muntiyamah, sehingga saya ikut andil dalam kegiatan TPQ di Masjid Muntiyamah. Setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat Masjid ini mengadakan TPQ. Pada Kesempatan kali ini tanggal 21 April 2026 sore, saya berkesampatan untuk mengisi kegiatan TPQ dalam pelajaran Akhlak Mulia. 

(kegiatan 1)

        Materi yang saya bahas yaitu tentang “pentingnya menjaga keamanan di usia anak anak”. Saya menyampaikan kata indah pada adik-adik dengan perkataan yang lembut baik dan bersifat persuasif untuk mengajak mereka dalam kebaikan dan tidak menjadi pelaku merusak keamanan. Dalam materi itu saya memberikan contoh kepada mereka kebaikan seperti patuh kepada orangtua, tidak mengendarai motor sendiri ketika masih anak-anak, berani menolak ajakan oranglain yang tidak dikenal,  serta berhati hati dalam bermain di luar rumah. Itu saya sampaikan dengan tujuan agar anak-anak dapat tumbuh dengan didikan yang baik serta lingkungan yang mendukung.

(saya menggunakan baju batik hijau)

        

(kegiatan 2)

    Selain itu, salah satu contoh kegiatan masyarakat di kalangan remaja yaitu MUSYAWARAH RISMA (Remaja Islam Masjid) Muntiyamah. Melalui kegiatan ini, remaja bersama-sama membahas tentang perkembangan dan kemajuan organisasi RISMA. Kegiatan ini menciptakan kebersamaan antara sesama, memberikan kemakmuran masjid juga menumbuhkan rasa peduli, tanggung jawab, dan meningkatkan akhlak Remaja. 

        Pada kesempatan kali ini kami mengadakan kegiatan MUSYAWARAH RISMA pada tanggal 9 Mei 2026 Pukul 19.00- 22.00 WIB. Kegiatan ini membahas tentang kegiatan menjelang Hari Raya Idul Adha. Pada organisai ini saya sebagai ketua RISMA sekaligus sebagai mederator dalam Musyawarah. Hasil musyawarah ini adalah 

1. Penyampaian nama-nama yang akan berkurban sapi dan kambing,

2. Penyampaian kegiatan solat idul adha di beberapa tempat terdekat,

3. Mengadakan dan mengkosep kegiatan Takbir Keliling pada tanggal 26 Mei 2026 pukul 19.00,

4. Melakukan penyembelihan hewan dan membagian daging pada tanggal 27 Mei 2026 mulai pukul 09.00 (setelah solat), dan lainnya.

                                   (saya menggunakan baju merah diantara mereka)

        Berdasarkan kegiatan yang saya lakukan, kegiatan masyarakat memiliki peran penting dalam membangun lingkungan sosial yang positif, aman, dan harmonis. Kegiatan seperti TPQ dan musyawarah RISMA tidak hanya menjadi sarana pembelajaran agama, tetapi juga membentuk karakter, akhlak, serta rasa tanggung jawab pada anak-anak dan remaja.

Esai 4-Komitmen Pro Lingkungan Hidup

MAT.KUL. : Psikologi Lingkungan Masyarakat

DOSEN PENGAMPU : Dr. ARUNDATI SHINTA M.A.

NAMA : AYOM PURWANINGSIH

PRODI : PSIKOLOGI ( KELAS B).

Universitas Proklamasi 45


Melawan Darurat Sampah Dengan Zero Waste dari Dapur Sendiri



Pendahuluan

  Sampah bukanlah sekadar sisa buangan, melainkan cerminan budaya dan tanggung jawab kita terhadap bumi. Saat ini, Indonesia menghadapi tantangan besar terkait pengelolaan sampah, mulai dari pencemaran lingkungan hingga potensi bencana kesehatan. Melalui esai ini, saya berkomitmen untuk bertransformasi dari sekadar penghasil sampah menjadi pengelola sampah yang bijak. Komitmen ini dimulai dari rumah, mulai dengan memilah sampah organik dan anorganik hingga menerapkan prinsip reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle (mendaur ulang) secara konsisten. 


  Langkah pertama yang saya ambil adalah memilah sampah dari sumbernya. Dengan memisahkan sisa makanan (organik) dan sampah kemasan (anorganik), saya membantu mempermudah proses daur ulang dan mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sampah organik akan saya jadikan kompos, sedangkan sampah anorganik akan disalurkan ke bank sampah terdekat untuk didaur ulang. 


  Selain memilah, komitmen saya mencakup pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Membawa botol minum, tas belanja, dan wadah makan sendiri adalah tindakan nyata untuk mengurangi sampah plastik. Perubahan perilaku ini, meskipun terasa kecil, memiliki dampak besar jika dilakukan secara konsisten dan didukung oleh kesadaran bersama. 


  Pengelolaan sampah yang baik adalah tanggung jawab bersama untuk menjaga kesehatan masyarakat dan kelestarian alam. Melalui komitmen pribadi ini, saya ingin menjadi bagian dari solusi untuk menciptakan lingkungan yang lebih hijau, bersih, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

  Kesadaran kita terhadap masalah sampah seringkali terlambat muncul, baru terasa ketika dampaknya sudah meresahkan dan membahayakan kehidupan. Tumpukan sampah yang menjulang tinggi di pinggir jalan atau banjir yang dipicu oleh sampah yang menyumbat saluran drainase menjadi gambaran jelas betapa merugikannya dampak dari penanganan sampah yang kurang baik. Maka dari itu, sudah saat nya kita mengingatkan diri sendiri bahwa menangani sampah bukanlah tugas mudah yang bisa diabaikan. Membangun kebiasaan hidup bersih dan peduli terhadap lingkungan adalah kunci untuk mengatasi masalah sampah yang semakin kompleks.

Isi:

  Berikut cara-cara menanggulangi sampah yang saya lakukan untuk berkomitmen dengan penanggulangan tumpukan sampah yaitu dengan: 

Reduce (Mengurangi Sampah):

1. Membawa tas belanja sendiri untuk mengurangi sampah kantong plastik pembungkus barang belanja;

2. Membeli kemasan isi ulang untuk shampoo dan sabun daripada membeli botol baru setiap kali habis;

3. Membeli susu, makanan kering, deterjen, dan lain-lain dalam paket yang besar daripada membeli beberapa paket kecil untuk volume yang sama.

Re-use (Menggunakan sisa sampah yang masih bisa dipakai):

1. Memanfaatkan botol / kaleng / ember cat bekas untuk tempat sampah;

2. Memanfaatkan kantong plastik bekas kemasan belanja untuk pembungkus atau sebagai tas laundry;

3. Memanfaatkan pakaian atau kain-kain bekas untuk kerajinan tangan, perangkat pembersih (lap), maupun berbagai keperluan lainnya.




Recycle(Mendaur Ulang Sampah):

  Daur ulang sendiri memang tidak mudah, karena kadang dibutuhkan teknologi dan penanganan khusus.

Tapi teman-teman bisa membantu dengan cara-cara ini :

1. Mengumpulkan kertas, majalah, dan surat kabar bekas untuk di daur ulang;

2. Mengumpulkan sisa-sisa kaleng atau botol galon bekas untuk di daur ulang;

3. Menggunakan berbagai produk kertas maupun barang lainnya hasil daur ulang.






Penutup:

 Masalah sampah merupakan tantangan bersama yang memerlukan perhatian dan solusi dari semua pihak. Pemerintah berperan penting dalam menyediakan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai dan menjalankan program sosialisasi tentang pengelolaan sampah yang baik dan benar.

   Namun, peran kita sebagai masyarakat juga sangat penting. Dengan meningkatkan kesadaran dan mengubah perilaku kita terhadap sampah, kita bisa menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Ingat, sampah bukan sekadar barang buangan, tetapi juga sumber daya yang berharga jika kita mengelolanya dengan baik.

  Semoga esai ini bisa mengingatkan kita agar tetap selalu berkomitmen tentang pentingnya menangani masalah sampah dan memotivasi kita untuk bertindak positif dalam melindungi lingkungan.







Essai 3,Kegiatan Before & After

 MAT.KUL : Psikologi Lingkungan Masyarakat

NAMA TUGAS : ESAI 3 - Kegiatan Before & After

DOSEN PENGAMPU : Dr. ARUNDATI SHINTA M.A.

NAMA : AYOM PURWANINGSIH

PRODI : PSIKOLOGI ( KELAS B) 

 Universitas Proklamasi 45


Transformasi Lingkungan Kerja melalui Aksi Bersih Cafetaria 


Pendahuluan

  Lingkungan kerja bukan hanya sekedar tempat menukar waktu dengan penghasilan, melainkan rumah kedua dimana sebagian besar waktu produktif manusia dihabiskan. Sayangnya, kesibukan seringkali membuat kebersihan lingkungan sekitar terabaikan. Penumpukan sampah baik di sudut ruangan kantor, toilet, kantin maupun kafetaria. Baik di bawah meja, maupun di halaman kantor, menjadi pemandangan biasa yang lambat laun menurunkan semangat kerja. Melalui kegiatan intensif yang saya lakukan dengan melakukan transformasi menyeluruh pada area kerja, hal ini saya lakukan untuk menciptakan atmosfer yang lebih kondusif.



Isi Pembahasan

Sebelum ( before ) : 



   Keadaan kotor di area cafetaria kantor saya karena banyak sampah dan asbak yang penuh latu dan puntung rokok berserakan di atas meja cafetaria. Sebelum kegiatan pembersihan dilaksanakan, kondisi lingkungan cafetaria terasa menyesakkan. Pemandangan ini berdampak langsung pada psikologis karyawan. Suasana terasa suram dan kaku, memicu rasa malas, serta mengurangi fokus kerja. Bau tak sedap sesekali muncul menjadi gangguan konsentrasi yang nyata. Lebih jauh, kebersihan yang terabaikan ini berpotensi menjadi sarang kuman dan penyakit. 


Sesudah ( after ) :


   Setelah beberapa meja saya bersihkan, maka tercipta lingkungan Cafetaria yang bersih, rapi, nyaman dan sehat. Dampak positifnya langsung terasa pada produktivitas, lebih nyaman, bersemangat, dan tidak mudah stres. Lingkungan yang bersih menciptakan suasana kerja yang positif dan profesional, yang secara tidak langsung meningkatkan kepuasan dalam bekerja. 


Kesimpulan

  Kegiatan membersihkan sampah di lingkungan kerja bukan sekadar memindahkan kotoran dari satu tempat ke tempat lain, melainkan sebuah bentuk investasi kesehatan dan produktivitas. Aksi "before-after" ini membuktikan bahwa lingkungan yang tertata rapi, bersih, dan higienis mampu mengubah semangat kerja menjadi lebih maksimal. Dan kegiatan selalu menjaga kebersihan ini dapat juga kita lakukan di lingkungan kerja termasuk Cafetaria karyawan. Kebersihan adalah tanggung jawab bersama, dan wajah baru ruang kerja yang bersih adalah cerminan dari budaya kerja yang disiplin dan berkualitas. 





Senin, 11 Mei 2026

ESAI PRESTASI (EPRES) BERPARTISIPASI DALAM KEGIATAN KEMASYARAKATAN

 BERPARTISIPASI DALAM KEGIATAN KEMASYARAKATAN (MENJADI NARASUMBER PENERANGAN HUKUM DI LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL DAN MEMBANTU KEGIATAN  WARGA DI LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL)


Reni Prabandari
24310410221
Kelas Psikologi Lingkungan-B
Tugas Esai Prestasi
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta



Pelayanan masyarakat merupakan salah satu bentuk kepedulian sosial yang dilakukan untuk membantu lingkungan sekitar serta meningkatkan kesejahteraan bersama. Kegiatan ini dapat berupa kerja bakti, pembagian bantuan sosial, edukasi kesehatan, penanaman pohon, hingga kegiatan membersihkan lingkungan. Dalam kehidupan bermasyarakat, pelayanan masyarakat memiliki peran penting karena mampu menumbuhkan rasa empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial antar individu.

Kegiatan pelayanan masyarakat juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan sosial. Ketika masyarakat bekerja sama dalam suatu kegiatan, muncul rasa kebersamaan dan saling membantu tanpa memandang perbedaan latar belakang.

Sebagai makhluk sosial yang bermasyarakat, Saya juga sering berpartisipasi dalam kegiatan pelayanan masyarakat. Kegiatan - kegiatan tersebut di antaranya adalah:

1. Menjadi Narasumber dalam Kegiatan Pertemuan Kader PKK di Lingkungan Tempat Tinggal

Pada hari Minggu, tanggal 12 April 2026 pukul 16.00 WIB s/d pukul 17.30 WIB telah dilaksanakan pertemuan rutin PKK Perum Pesona Kota Mungkid RW 15 Desa Donorojo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang. Saya juga menjadi salah satu kader PKK di lingkungan tersebut. Karena background pekerjaan Saya, Saya kerap memberikan penerangan hukum saat kegiatan pertemuan rutin tersebut. Dalam kesempatan tersebut Saya memberikan penerangan hukum tentang Undang- Undang Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) yang disambut antusias oleh Ibu-Ibu yang hadir terbukti dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan. Harapan Saya semoga sedikit ilmu yang Saya berikan bisa bermanfaat bagi Ibu-Ibu Kader PKK di lingkungan tempat tinggal Saya.

   



2. Membantu Kegiatan Warga di Lingkungan Tempat Tinggal

Pada hari Minggu, tanggal 26 April 2026 sekitar pukul 08.00 WIB s/d 10.00 WIB telah dilaksanakan kegiatan kerja bakti warga Perum Pesona Kota Mungkid RW 15 Desa Donorojo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Bapak-Bapak, sedangkan Ibu-Ibu diberikan tugas memasak untuk dihidangkan kepada Bapak-Bapak tersebut, Saya pun turut membantu dalam kegiatan tersebut.



Kegiatan pelayanan masyarakat tidak hanya memberikan manfaat secara fisik, tetapi juga memperkuat hubungan sosial di lingkungan sekitar.

Selain itu, pelayanan masyarakat memberikan pengalaman berharga bagi individu yang terlibat. Melalui kegiatan ini, seseorang belajar untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan memahami kondisi orang lain. Sikap peduli terhadap sesama akan semakin berkembang sehingga terbentuk karakter yang lebih bertanggung jawab dan peka terhadap permasalahan sosial. 

Namun, keberhasilan pelayanan masyarakat membutuhkan partisipasi aktif dari semua pihak. Kesadaran masyarakat untuk ikut terlibat menjadi faktor penting agar kegiatan dapat berjalan dengan baik dan memberikan dampak positif yang berkelanjutan. 

Kesimpulannya, kegiatan pelayanan masyarakat merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Kegiatan ini tidak hanya membantu menyelesaikan permasalahan sosial, tetapi juga menumbuhkan nilai-nilai kebersamaan, empati, dan tanggung jawab sosial. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang terlibat dalam pelayanan sosial, maka kehidupan bermasyarakat akan menjadi lebih harmonis, sehat, dan sejahtera.