Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Jumat, 15 Mei 2026

Essai 1 : Meringkas Jurnal Sampah

 Pengolahan Sampah Plastik dengan Metode Pirolisis menjadi Bahan Bakar Minyak




Sucianingsih M Rivai 

24310410209 

Kelas Psikologi Lingkungan - B 

Tugas Essai : 1 

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 

Yogyakarta 



Topik 

Jurnal ini membahas tentang pemanfaatan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak menggunakan metode pirolisis. Penelitian difokuskan pada bagaimana limbah plastik yang selama ini menjadi masalah lingkungan dapat diolah kembali menjadi sumber energi alternatif yang memiliki nilai ekonomi. Topik ini dipilih karena jumlah sampah plastik terus meningkat setiap tahun, sementara plastik sangat sulit terurai secara alami sehingga dapat mencemari tanah, air, dan lingkungan sekitar dalam jangka waktu yang lama.

Sumber Jurnal 

Jurnal yang digunakan berjudul "Pengolahan Sampah Plastik dengan Metode Pirolisis menjadi Bahan Bakar Minyak" oleh beberapa peneliti dari Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung, yaitu : Endang K, Mukhtar G, Abed Nego, F.X. Angga Sugiyana, diterbitkan dalam acara Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia "Kejuangan" yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 17 Maret 2016.

Permasalahan 

Permasalahan utama yang dibahas dalam jurnal ini adalah meningkatnya jumlah sampah plastik yang sulit diuraikan oleh alam dan semakin menumpuk di lingkungan. Sampah plastik yang dibuang sembarangan dapat menyebabkan pencemaran tanah, sungai, hingga laut. Selain itu, penggunaan bahan bakar fosil yang terus meningkat menyebabkan persediaan energi semakin menepis. Oleh karena itu, peneliti mencoba mencari solusi yang dapat mengatasi dua masalah sekaligus, yaitu mengurangi limbah plastik dan menghasilkan energi alternatif dari sampah tersebut. Penelitian ini juga melihat bahwa sebagian besar masyarakat masih belum memanfaatkan limbah plastik secara optimal sehingga diperlukan teknologi yang dapat mengubah sampah menjadi sesuatu yang lebih berguna.

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak melalui metode pirolisis. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan mengetshui pengaruh suhu terhadap hasil minyak yang dihasilkan serta melihat kualitas minyak hasil pirolisis tersebut. Peneliti ingin membuktikan bahwa sampah plastik sebenarnya masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi alternatif yang dapat membantu mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi.

Isi 

Isi jurnal menjelaskan proses pengolahan sampah plastik menggunakan metode pirolisis. Penelitian diawali dengan pengumpulan sampah plastik seperti jenis Polypropylene (PP) dan Low Density Polyethylene (LDPE). Plastik tersebut dibersihkan dan dipotong kecil-kecil agar lebih mudah diproses di dalam reaktor pirolisis. Setelah itu, plastik dimasukkan ke dalam alat pirolisis dan dipanaskan pada suhu tinggi tanpa adanya oksigen. Pada kondisi tersebut, plastik akan meleleh dan terurai menjadi uap hidrokarbon. Uap yang dihasilkan kemudian dialirkan menuju kondensor untuk didinginkan sehingga berubah menjadi cairan berupa minyak.

Jurnal ini juga menjelaskan bahwa suhu pemanasan sangat memengaruhi jumlah dan kualitas minyak yang dihasilkan. Semakin tinggi suhu pemanasan, proses penguraian plastik menjadi minyak berlangsung lebih cepat dan hasil minyak yang diperoleh juga semakin banyak. Minyak hasil pirolisis memiliki karakteristik yang mendekati bahan bakar minyak sehingga berpotensi digunakan sebagai sumber energi alternatif.

Metode 

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Peneliti melakukan percobaan secara langsung dengan menggunakan alat pirolisis untuk mengolah sampah plastik menjadi minyak. Tahapan penelitian dimulai dari pengumpulan dan pembersihan plastik, kemudian plastik dipotong kecil dan dimasukkan ke dalam reaktor pirolisis. Plastik dipanaskan pada suhu tertentu tanpa oksigen hingga menghasilkan uap. Uap tersebut kemudian didinginkan menggunakan kondensor sehingga berubah menjadi cairan minyak. Setelah minyak diperoleh, peneliti melakukan pengamatan terhadap jumlah minyak yang dihasilkan dan kualitasnya berdasarkan suhu pemanasan dan jenis plastik yang digunakan.

Hasil 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampah plastik dapat diolah menjadi bahan bakar minyak melalui proses pirolisis. Jenis plastik dan suhu pemanasan sangat memengaruhi jumlah minyak yang dihasilkan. Plastik jenis PP dan LDPE mengahasilkan minyak yang cukup baik dibandingkan jenis plastik lainnya. Selain itu, semakin tinggi suhu yang digunakan, semakin cepat proses penguraian plastik terjadi dan semakin besar jumlah minyak yang diperoleh. Minyak hasil pirolisis memiliki nilai kalor yang cukup tinggi sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan bakar alternatif untuk kebutuhan tertentu. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa metode pirolisis mampu mengurangi volume sampah plastik secara signifikan sehingga dapat membantu mengurangi pencemaran lingkungan. 

Diskusi/Pembahasan 

Dalam pembahasannya, jurnal menjelaskan bahwa plastik pada dasarnya berasal dari minyak bumi sehingga masih memiliki kandungan hidrokarbon yang dapat diubah kembali menjadi bahan bakar. Teknologi pirolisis dinilai cukup efektif karena dapat memanfaatkan limbah plastik yang sulit terurai menjadi produk yang memiliki nilai guna. Peneliti juga menjelaskan bahwa proses pirolisis memerlukan suhu tinggi dan alat khusus agar proses penguraian plastik berjalan dengan baik. Selain itu, pengendalian suhu sangat penting karena memengaruhi kualitas minyak yang dihasilkan. Walaupun metode ini memilki potensi besar, masih terdapat beberapa kendala seperti biaya alat yang cukup mahal, kebutuhan energi panas yang tinggi, serta kemungkinan munculnya emisi gas jika proses tidak dilakukan dengan benar. Namun secara keseluruhan, teknologi pirolisis dianggap sebagai salah satu solusi yang menjanjikan untuk mengatasi masalah sampah plastik sekaligus menghasilkan energi alternatif.

Kesimpulan 

Kesimpulan dari jurnal ini adalah bahwa sampah plastik dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar minyak menggunakan metode pirolisis. Proses pirolisis terbukti mampu mengurangi jumlah limbah plastik sekaligus menghasilkan minyak yang memiliki potensi sebagai sumber energi alternatif. Jenis plastik dan suhu pemanasan sangat memengaruhi hasil minyak yang diperoleh. Penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi pirolisis memiliki pekuang besar untuk dikembangkan sebagai solusi pengelolaan sampah plastik di masa depan karena tidak hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi melalui produksi bahan bakar alternatif.


Essai 4 - Komitmen Pro Lingkungan

 KOMITMEN PRO LINGKUNGAN

Rahardian Wicaksono

24310410218

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 4

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Mei 2026

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta


Klik tulisan berikut: Video Komitmen Pro Lingkungan

    Kesadaran terhadap lingkungan sering kali muncul dari sebuah momen refleksi yang mendalam tentang hubungan manusia dengan alam. Saya menyadari bahwa setiap aktivitas konsumsi yang saya lakukan meninggalkan jejak karbon dan limbah. Gaya hidup praktis yang serba instan mendukung akumulasi sampah plastik sekali pakai. Mata kuliah Psikologi Lingkungan menjadi pengingat bagi saya bahwa krisis lingkungan bukan haya berdampak untuk masa saat ini, tetapi juga menentukan bagaimana kehidupan di masa mendatang dengan kondisi alam atau lingkungan yang mengikuti.

    Refleksi diri saya bahwa ketidakpedulian adalah kontributor terbesar bagi kerusakan alam. Membuang sampah tanpa memilah atau menggunakan plastik secara berlebihan merupakan bentuk kegagalan tanggung jawab individu. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menjadi seorang agen perubahan yang proaktif terhadap lingkungan. Langkah awal dalam komitmen saya adalah melakukan pemilahan sampah pribadi dan mengenali apa saja yang selama ini saya buang ke tempat pembuangan akhir tanpa proses pengolahan lebih lanjut.

    Sebagai wujud nyata komitmen yang telah saya buat dalam bentuk video, saya menerapkan tiga aksi dasar. Pertama, saya berkomitmen untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari dengan membawa botol minum, wadah makan, dan tas belanjaan. Kedua, saya melakukan pemilahan sampah rumah tangga (pribadi) dengan memisahkan sampah organik untuk dijadikan kompos dan mendaur ulang sampah anorganik menjadi barang dengan fungsi lain seperti gelas atau botol plastik menjadi pot bunga, kardus bekas menjadi wadah penyimpanan barang, dan sedotan menjadi bunga hiasan. Ketiga, saya berusaha menjadi contoh dan mengedukasi orang-orang di sekitar untuk peduli dengan lingkungan.

    Komitmen ini bukan sekadar pemenuhan tugas kuliah, melainkan pengingat bagi saya untuk tetap berperilaku secara konsisten dalam menjaga kelestarian lingkungan. Saya percaya bahwa perubahan besar bisa terjadi melalui aksi kecil yang konsisten pada setiap individu. Dengan menjaga kebersihan lingkungan dari diri sendiri, kita sedang menjaga keberlangsungan hidup masa depan. Mari kita mulai bergerak. Karena alam tidak membutuhkan  janji, melainkan aksi nyata kepedulian kita terhadap lingkungan.

Kamis, 14 Mei 2026

ESSAI 7 KUNJUNGAN KE TPST RANDU ALAS

PENGELOLAAN SAMPAH DI TPST RANDU ALAS

Bintar Tri Atmaji

25310430003

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 7

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

 

KUNJUNGAN : 

Hari/Tanggal     :  Sabtu, 2 Mei 2026

Waktu               :  09.00 - 11.30 WIB

Tempat             : TPST Randu Alas, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman.

 

 

 

TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) Randu Alas berada di Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman. Dinamakan Randu Alas menurut informasi dari Bapak Joko Tri Waluyo selaku pengelola dulu lokasi TPST sekarang adalah hutan (alas-bahasa jawa) yang banyak pohon randu. TPST Randu Alas ini mempunyai luas kurang lebih 200 meter persegi dan berada di area permukiman warga. 

TPST Randu Alas di ketuai oleh Bapak Joko Tri Waluyo dengan sejarah awal mulanya pada tahun 2010 di wilayah sekitar ditemukan kasus Demam Berdarah. Setelah ditelusuri sampah menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Kondisi semakin parah pada tahun 2013 ketika terdapat 13 warga yang terkena DB, termasuk anak Pak Joko.

TPST Randu Alas secara bisnis mengelola pengelolaan sampah berbasis komunitas yang mengubah sampah menjadi berkah untuk lingkungan bersih dan bernilai ekonomi. Karyawan di TPST Randu Alas sudah dibagi pekerjaannya ada yang mengumpulkan, memilah dan membuat kompos dengan jumlah karyawan 8-10 orang yang mempunyai standar gaji UMR dan sudah tercover menjadi anggota BPJS dikarenakan tingkat resiko pekerjaan yang tinggi. Menurut informasi karyawan pernah mengalami tertusuk paku di kakinya. 

Pada awalnya seluruh proses masih dilakukan secara manual tanpa bantuan mesin modern sehingga membutuhkan banyak tenaga dan waktu. Namun, seiring berjalannya waktu fasilitas mulai berkembang dan mendapatkan bantuan alat dari pemerintah, seperti gerobak, alat pemisah sampah. 

Alur management operasional TPST Randu Alas yaitu dengan door to door ke warga lingkungan sekitar, dengan pengambilan sampah dalam 1 minggu 2 kali selanjutnya warga di pungut antara Rp.25.000,- sampai dengan Rp.100.000,- per bulan tergantung dari jarak dan volume sampah tersebut.

Area TPST Randu Alas ada 2 tempat, untuk area utama untuk menerima sampah dan memilah sampah serta untuk pembakaran tungku. Sampah dipisahkan berdasarkan jenisnya, seperti organik, anorganik, dan bahan berbahaya. Pemilahan ini sangat penting karena menentukan metode pengolahan selanjutnya. TPST Randu Alas juga menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam pengelolaannya. Reduce berarti mengurangi jumlah sampah dari sumbernya, Reuse yaitu menggunakan kembali barang yang masih layak pakai, dan Recycle berarti mendaur ulang sampah menjadi produk baru yang bernilai ekonomis.

Di area utama terdapat tungku untuk pembakaran yang masih manual pembuatannya, dalam perjalanannya TPST Randu Alas pernah di demo oleh warga karena asap pembakaran yang membuat udara tercemar polusi, menurut Pak Joko pada hasil diskusi yang di fasilitiasi oleh pemerintah desa setempat di tentukan jam tertentu untuk pembakaran sampah.

Di area belakang lokasi, sebelumnya pernah digunakan sebagai tempat budidaya maggot. Namun, kegiatan tersebut dihentikan sementara karena pada masa darurat sampah tahun 2023 area tersebut dipenuhi tumpukan sampah sehingga dialihfungsikan untuk mendukung proses pengelolaan lainnya.

TPST Randu Alas masih banyak kekurangan dari segi infrastrukur seperti keterbatasan sarana dan prasarana, kapasitas pengolahan yang terbatas, dan yang paling utama adalah warga rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam memilah sampah. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan fasilitas, inovasi teknologi, dan program sosialisasi yang berkelanjutan.

 

 

 

 

 

 

 


ESAI PRESTASI: 1

Pelayanan Masyarakat melalui Edukasi Lingkungan dan Keselamatan Jalan

Yufika Dwi Rezeki

25310440003

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Dokumentasi pribadi.

    Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, saya beberapa kali melakukan kegiatan pelayanan masyarakat bersama pemuda-pemudi di daerah tempat tinggal saya. Kegiatan ini berawal dari keresahan saya melihat kondisi lingkungan di sekitar kali yang memiliki dam dan berada dekat jembatan jalan raya di kawasan Jalan Sultan Agung. Banyak pengendara maupun masyarakat yang melintas sering membuang sampah sembarangan ke sungai. Akibatnya, aliran air menjadi kotor, tersumbat sampah, dan ketika hujan deras turun air sering terhambat karena penumpukan sampah.

    Melihat kondisi tersebut, saya memiliki inisiatif untuk membuat dan memasang banner larangan membuang sampah sembarangan di beberapa titik yang mudah terlihat masyarakat. Saya juga mengajak pemuda-pemudi di daerah saya untuk ikut terlibat dalam kegiatan ini, mulai dari proses pembuatan banner hingga pemasangannya. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan dan menjaga aliran sungai tetap bersih.

    Tidak hanya tentang kebersihan lingkungan, saya dan teman-teman juga beberapa kali membuat banner edukasi keselamatan jalan. Hal ini karena di daerah Jalan Sultan Agung cukup banyak kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi, padahal area tersebut berada dekat permukiman warga dan sering dilalui masyarakat. Oleh karena itu, kami berinisiatif memasang banner peringatan agar pengendara tidak mengebut demi mengurangi risiko kecelakaan dan meningkatkan keselamatan bersama.

Dokumentasi pribadi.

    Kegiatan terakhir yang kami lakukan adalah pemasangan banner “Dilarang Ngebut di Jalan” pada tanggal 26 April 2026 di kawasan Jalan Sultan Agung. Kegiatan tersebut dilakukan bersama pemuda daerah sebagai bentuk aksi nyata kepedulian terhadap lingkungan sosial sekitar. Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil dan kepedulian sederhana. Mengajak anak muda untuk ikut terlibat juga menjadi pengalaman berharga karena dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial, kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

    Saya berharap kegiatan pelayanan masyarakat seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan keselamatan di jalan. Dengan kepedulian bersama, lingkungan tempat tinggal akan menjadi lebih bersih, aman, dan nyaman untuk semua warga.



Selasa, 12 Mei 2026

ESSAI 9 MENJADI NASABAH DI BANK SAMPAH

 

Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 9

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 

PENGALAMAN MENJADI NASABAH di BANK SAMPAH

 


Berawal dari pemberian tugas mata kuliah Psikologi Lingkungan, dimana Dosen meminta kami untuk menjadi nasabah Bank Sampah, awalnya saya tidak begitu memahami tentang apa itu dan dimana lokasi Bank Sampah yang ada ditempoat tinggal saya di Kota Salatiga, kemudian hasil memungut sampah botol plastik saat Plogging dan beberapa botol-botol yang ada dirumah, saya kumpulkan dan kemudian saya berikan di Bank Sampah Induk yang ada di Kota Salatiga.

Saya mulai menjadi nasabah bank sampah pada tanggal 21 April 2026. Pada penyetoran pertama, saya mengumpulkan sampah botol plastik dengan berat sekitar 1,25 kilogram dan memperoleh nilai sebesar Rp1.375. Nilai tersebut memang sangat kecil apabila dilihat dari sisi ekonomi. Akan tetapi, pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata masih dapat dimanfaatkan kembali apabila dipisahkan / dikelompokkan dengan benar.

Kemudian, pada tanggal 11 Mei 2026 saya kembali menyetorkan sampah plastik ke bank sampah. Saat itu, sampah yang saya kumpulkan berupa botol plastik dan beberapa wadah botol bekas dengan berat sekitar 0,75 kilogram dan 0,55 kilogram. Dari hasil penimbangan tersebut saya memperoleh nilai sekitar Rp2.200 dan Rp2.860. Pengalaman mengumpulkan sampah untuk kedua kalinya membuat saya semakin memahami bahwa kegiatan bank sampah bukan sekadar tentang mendapatkan uang dari sampah. Nilai uang yang diperoleh memang tidak besar, tetapi terdapat makna yang jauh lebih penting, yaitu membangun kesadaran untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

Melalui kegiatan tersebut, saya mulai memahami pentingnya memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Sampah organik dapat diuraikan atau dimanfaatkan kembali menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik seperti botol plastik dapat dikumpulkan dan didaur ulang melalui bank sampah. Kebiasaan sederhana seperti ini ternyata memiliki pengaruh terhadap pengurangan penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir, termasuk di TPA Ngronggo yang volumenya terus meningkat dari waktu ke waktu. Jika masyarakat tidak memiliki kesadaran dalam mengelola sampah, maka penumpukan sampah akan semakin besar dan dapat menimbulkan berbagai masalah lingkungan.

Permasalahan

Selain memberikan pengalaman positif, kegiatan di bank sampah juga memperlihatkan berbagai persoalan yang masih terjadi dalam pengelolaan sampah. Salah satu masalah yang saya lihat adalah para relawan bank sampah yang bekerja dengan penuh kepedulian, tetapi belum mendapatkan penghargaan atau upah yang layak. Padahal, mereka memiliki peran penting dalam membantu masyarakat mengelola sampah dan mengurangi beban TPA. Pemerintah dalam hal ini DLH Kota Salatiga sepertinya kurang begitu peduli terhadap relawan-relawan yang ada di Bank Sampah hal ini terlihat dari beberapa petugas atau relawan yang disana bercerita tentang harus membayar dengan uang sendiri ketika tidak ada kas yang diperuntukkan untuk membayar tenaga seperti pengepresan botol-botol plastik dan orang-orang yang disewa untuk memilah/ mengelompokkan sampah-sampah yang masih tercampur, atau kebutuhan-kebutuhan lainnya yang berkaitan dengan pengelolaan sampah yang ada di Bank Sampah Induk Kota Salatiga.

 

Kesimpulan

Menjadi nasabah bank sampah memberikan pengalaman yang berharga dalam memahami persoalan sampah secara lebih nyata. Selama ini sampah sering dianggap sebagai barang yang tidak berguna dan hanya perlu dibuang. Namun, melalui kegiatan bank sampah, saya mulai memahami bahwa sampah sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi apabila dipilah dan dikelola dengan baik. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama untuk mengurangi penumpukan sampah di lingkungan dan tempat pembuangan akhir (TPA). Dan dengan menjadi nasabah bank sampah, saya belajar bahwa persoalan sampah bukan hanya tentang kebersihan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan kesadaran sosial, kebijakan pemerintah, dan tanggung jawab bersama. Bank sampah memang belum mampu menyelesaikan seluruh persoalan sampah, tetapi keberadaannya menjadi salah satu hal yang penting untuk membangun kebiasaan peduli lingkungan di masyarakat.

 

 SAMPAHMU ADALAH TANGGUNG JAWABMU