Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Kamis, 07 Mei 2026

ESSAY 3 - BEFORE AFTER

Berliana Adinda Putri Wiyanto

24310410216

Psikologi Lingkungan (B)

Tugas essay 3

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


BEFORE AFTER

Lingkungan yang bersih adalah hal yang begitu penting untuk mendapatkan hidup yang sehat dan nyaman. Menjaga lingkungan selalu bersih merupakan ikhtiar kita untuk menjaga diri sendiri dan terhindar dari berbagai penyakit. Namun, pada kenyataannya masih banyak lingkungan sekitar yang tidak terawat kebersihannya.

Before

After

Pada kesempatan kali ini, saya melakukan kegiatan membersihkan halaman rumah. Pada hari Kamis tanggal 30 April 2026 kebetulan sore sepulang dari bekerja, saya melihat halaman rumah saya yang sedikit kotor oleh sampah dedaunan dan plastik. Saya membersihkan lingkungan dengan menyapu daun kering dan sampah yang berserakan di halaman rumah. Karena itu, saya berusaha membersihkannya agar lingkungan menjadi lebih rapi dan indah.

Bagi saya, menjaga kebersihan lingkungan adalah hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan yang bersih membuat suasana menjadi nyaman dan sehat. Selain itu, kebersihan juga membuat orang-orang merasa lebih senang saat berada di sekitar rumah. Jika lingkungan kotor dan banyak sampah, suasana akan terasa tidak nyaman dan dapat menimbulkan berbagai penyakit. Oleh karena itu, saya mencoba untuk selalu menjaga kebersihan mulai dari lingkungan sekitar rumah sendiri.

Kegiatan menyapu yang saya lakukan memang terlihat sederhana, tetapi memiliki manfaat yang besar. Dengan membersihkan sampah dan daun kering, halaman rumah menjadi lebih rapi dan enak dipandang. Saya juga merasa lebih tenang ketika melihat lingkungan dalam keadaan bersih. Selain itu, kegiatan tersebut mengajarkan saya untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.

Melalui kegiatan membersihkan lingkungan, saya belajar bahwa kebersihan harus dimulai dari diri sendiri. Saya tidak boleh menunggu orang lain untuk membersihkan lingkungan terlebih dahulu. Hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya dan menyapu halaman rumah dapat memberikan dampak positif jika dilakukan secara rutin. Saya percaya bahwa jika setiap orang memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan, lingkungan akan menjadi lebih sehat dan nyaman untuk semua orang.

Before

After

Kegiatan kedua, saya melakukan kegiatan membersihkan sepanjang jalan yang ada di dekat rumah saya pada hari Senin tanggal 4 Mei 2026. Terlihat adanya sampah plastik, daun-daun kering, dan kotoran lainnya yang terlihat berserakan di jalan. Awalnya, kondisi sekitar jalan kotor karena ada beberapa sampah yang berserakan. Meski jumlah sampah tidak terlalu banyak, kondisi itu tetap membuat lingkungan terlihat tidak nyaman dipandang.

Sebelum dijaga kebersihannya, kondisi jalan terlihat agak kotor dan kurang terawat. Sampah plastik yang tercecer membuat lingkungan terlihat berantakan. Selain itu, daun-daun yang sudah kering dan menumpuk di beberapa bagian jalan juga membuat area tersebut terlihat tidak bersih. Jika kondisi seperti ini tidak diatasi, maka lingkungan akan menjadi lebih kotor.

Melihat situasi seperti itu, saya merasa harus melakukan hal kecil dengan membersihkan area di sekitar. Saya mulai membersihkan daun-daun kering dan mengumpulkan sampah plastik yang ada di sepanjang jalan. Meskipun kegiatan itu tampak mudah, saya merasa bahwa menjaga lingkungan bersih adalah tugas yang harus dilakukan bersama-sama. Membersihkan lingkungan tidak harus dengan cara besar-besaran, tapi bisa dimulai dari hal kecil seperti menyapu jalan dan membuang sampah ke tempatnya.

Setelah lingkungan tersebut dibersihkan, suasana di sekitar jalan terlihat lebih nyaman dan teratur. Jalan yang sebelumnya penuh dengan daun kering dan sampah plastik kini terlihat lebih bersih. Perubahan itu membuat lingkungan terlihat lebih cantik dan nyaman dipandang. Selain itu, lingkungan yang bersih membuat orang merasa nyaman saat melintasi area tersebut.

Kondisi setelah dibersihkan menunjukkan bahwa tindakan kecil bisa menghasilkan perubahan yang sangat besar. Lingkungan yang dulu tampak kurang terawat kini menjadi lebih bersih dan rapi. Hal itu membuat saya semakin paham bahwa menjaga kebersihan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Jika semua orang peduli sama terhadap lingkungan, maka tempat kita tinggal akan lebih bersih dan terjaga.

Melalui kegiatan membersihkan lingkungan ini, saya memperoleh banyak pelajaran, terutama mengenai rasa tanggung jawab dan perhatian terhadap masyarakat. Saya tahu bahwa menjaga kebersihan tidak hanya pekerjaan tukang bersihkan, tetapi juga tanggung jawab semua orang. Kebiasaan kecil seperti membuang sampah ke tempatnya, menyapu halaman rumah, dan membersihkan sekitar rumah bisa memberikan pengaruh positif yang besar jika dilakukan terus-menerus.

Dari pengalaman sebelum dan setelah membersihkan lingkungan itu, saya tahu bahwa kebersihan sangat berpengaruh terhadap kenyamanan hidup masyarakat. Lingkungan yang bersih tidak hanya membuat suasana terlihat lebih cantik, tetapi juga berguna untuk menjaga kesehatan dan membuat setiap orang merasa nyaman. Oleh karena itu, saya ingin terus berusaha menjaga kebersihan lingkungan agar tempat tinggal tetap terjaga kebersihannya, nyaman, dan menyenangkan untuk ditempati bersama.


ESSAY 2: PLOGGING

 ESSAY 2: PLOGGING

 

Nama : Wulan Rahmawati

NIM : 24310410236

Kelas : B

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Tugas   : Essay 2 Plogging

 

Pada era saat ini masalah kepedulian lingkungan termasuk sampah masih menjadi topik hangat yang selalu diperbincangkan oleh semua kalangan. Adanya permasalahan ini banyak kalangan pecinta lingkungan mulai melakukan kegiatan plogging. Kegiatan ini selain merubah gaya hidup sehat karena selain melakukan olahraga ringan yaitu jogging disertai dengan sesuatu hal yang bermanfaat yaitu peduli lingkungan dengan mengumpulkan sampah yang kita temui di jalan.

 

Dahulu plogging dilakukan oleh orangtua atau lansia yang peduli terharap lingkungan. Tetapi era ini bergeser karena maraknya public figure di dunia digital mulai banyak melakukannya. Plogging merupakan gabungan kata dari "jogging" atau berlari santai dan "plocka upp" bahasa Swedia yang berarti "mengambil".  Makna dari kata Plogging merupakan aktivitas berlari santai sambil memungut sampah yang berserakan di sekitar.

 

Pengalaman plogging ini mulai saya lakukan setiap hari libur agar selain olahraga juga dapat menyalurkan jiwa peduli lingkungan. Kegiatan ini saya mulai pada hari sabtu dan minggu dimana mulai dari lingkungan sekitar rumah hingga mengitari jalanan di wilayah Yogyakarta. Fenomena yang terjadi di jalan memang masih banyak sampah berserakan. Entah kurangnya kepedulian masyarakat atau sampah ini dianggap barang kotor yang hanya ditinggal begitu saja.

Photo diambil di sebelah pom bensin SPBU Pertamina Singosaren, Ringroad Selatan dekat Giwangan.


Pada plogging pertama saya mulai dari taman Ketandan Banguntapan ke arah selatan sampai terminal Giwangan. Jarak yang saya tempuh kurang lebih 5,4 km dengan durasi 1 jam 18 menit berjalan kaki dan lari-lari kecil. Plogging pertama saya lakukan pada hari sabtu tgl 2 mei 2026 ketika libur kerja. Sampah yang saya dapatkan lumayan cukup banyak sebanyak 2 kantong plastik karena di area ringroad banyak sekali sampah berserakan khususnya botol minum dan kantong jajan. Sampah yang saya dapatkan dipilah kemudian setelah terkumpul saya mencari dan tempatkan di bank sampah atau tempat sampah umum terdekat di titik terminal Giwangan untuk membuang sampah.

Photo diambil di jalan Sultan Agung Jejeran Pleret

Pada kegiatan ini saya mulai dengan mengumpulkan sampah satu persatu ke dalam kantong yang dibawa. Plogging kedua saya lakukan pada hari Minggu tgl 3 mei 2026 dimana untuk rute plogging saya mulai dari jl. Pleret selatan lapangan Jambidan sampai finish di pak Pong jl. Sultan Agung, jarak yang ditempuh 3,5 km dengan durasi kurang lebih 1 jam. Sampah yang saya dapatkan lalu dikumpulkan dan saya tempatkan di tempat sampah umum di jl. Sultan Agung.

 

Dalam perjalanan ketika plogging kedua ini saya bertemu dengan beberapa komunitas lansia yang melakukan hal yang sama. Mereka semangat bersama – sama melakukan kegiatan ini selain menjaga kesehatan juga mereka prihatin atas maraknya issue sampah yang ada di Yogyakarta ini. Mereka memberikan semangat juga kepada saya dan anak muda agar selalu peduli terhadap lingkungan sekitar. 


Harapan kedepan banyak warga Indonesia untuk semua kalangan dapat memulai hidup sehat dan peduli lingkungan dengan melakukan plogging. Hal ini karena plogging bermanfaat untuk menjaga kesehatan fisik dan juga menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan dan kesehatan. Mulai dari hal kecil yang dapat berdampak besar bagi diri sendiri, lingkungan dan kehidupan. Tanamkan jiwa peduli lingkungan dan gaya hidup sehat mulai saat ini dan dari diri sendiri.


Rabu, 06 Mei 2026

ESSAY 3 - BEFORE AFTER

KEGIATAN BEFORE - AFTER

Rahardian Wicaksono

24310410218

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 3

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Mei 2026

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Kegiatan Before - After 1: Area Parkir Jogja Water Park, Maguwoharjo

Kegiatan pertama ini saya lakukan pada hari Jumat 1 Mei 2026 pukul 06.00 - 07.00 dengan memilih lokasi di area parkir Jogja Water Park Maguwoharjo. Pada lokasi pertama, kondisi sebelum kegiatan menunjukkan penumpukan sampah plastik dengan dominasi kantong plastik, plastik kemasan makanan, kemasan minuman, dan beberapa puntung rokok. Karena biasanya area parkir tersebut digunakan untuk bus dan beberapa kegiatan acara, kemungkinan residu sampah berasal dari hal tersebut. Setelah satu jam pembersihan, area tersebut tampak jauh lebih bersih. Sampah yang terkumpul adalah jenis non-organik sebanyak kurang lebih 500 gram. Sampah ini kemudian saya pilih, botol plastik yang masih layak untuk dijual atau diolah kembali saya serahkan ke tetangga yang kebetulan memiliki tempat pengumpulan botol plastik untuk di jual kembali, sementara sisa sampah yang tidak dapat diolah secara mandiri saya salurkan ke pengepul sampah agar tidak kembali mencemari lingkungan.


Kegiatan Before - After 2: Lapangan Kayen

Kegiatan kedua ini saya lakukan pada hari Minggu 3 Mei 2026 pukul 16.00 - 17.00 dengan memilih lokasi di Lapangan Kayen. Pada lokasi kedua, jenis sampah yang ditemukan sama dengan di lokasi pertama, yaitu plastik minuman dan kantong plastik. Setelah dilakukan pembersihan selama 1 jam, area lapangan tampak lebih bersih. Sampah yang berhasil saya kumpulkan di lokasi kedua sebanyak kurang lebih 400 gram. Sampah ini kemudian saya pilih, botol plastik yang masih layak untuk dijual atau diolah kembali saya serahkan ke tetangga yang kebetulan memiliki tempat pengumpulan botol plastik untuk di jual kembali, sementara sisa sampah yang tidak dapat diolah secara mandiri saya salurkan ke pengepul sampah agar tidak kembali mencemari lingkungan.
Menjadi pahlawan lingkungan bukan berarti melakukan perubahan besar dalam semalam, melainkan konsisten dalam tindakan kecil yang terlihat oleh masyarakat. Perubahan kondisi before - after di dua lokasi berbeda ini memberikan kepuasan psikologis tersendiri dan membuktikan bahwa intervensi individu dapat mengubah wajah ruang publik. Kendala utama yang ditemukan adalah rendahnya kepedulian masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, meskipun ada fasilitas tempat sampah yang disediakan di ruang publik. Maka, aksi ini diharapkan tidak hanya membersihkan secara fisik, tetapi juga memicu semangat atau menginspirasi bagi warga yang melihat agar lebih menghargai kebersihan lingkungan. Pengalaman ini memperkuat pemahaman saya mengenai tanggung jawab sosial (CSR) yang dimulai dari kepekaan terhadap isu-isu lingkungan di daerah sekitar saya.


ESSAY 1: MERINGKAS JURNAL SAMPAH

ESSAY 1: MERINGKAS JURNAL SAMPAH

 

Nama : Wulan Rahmawati

NIM : 24310410236

Kelas : B

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Tugas   : Essay 1 Meringkas Jurnal Sampah



Topik

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Masyarakat dalam Membuang Sampah Sembarangan. 

Sumber Jurnal

Zaskia, I., Ikbal, M., & Lukman. (2025). Faktor yang memengaruhi perilaku masyarakat dalam membuang sampah sembarangan di Kelurahan Rappang. Jurnal Publikasi Manajemen Informatika, 4(3), 266–277. https://doi.org/10.55606/jupumi.v4i3.4164

Permasalahan

Permasalahan yang dibahas adalah rendahnya perilaku masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya. Permasalahan itu dipengaruhi oleh kurangnya kesadaran masyarakat yang dapat memperburuk kualitas lingkungan. Selain itu penanganan pemerintah khususnya di wilayah pedesaan juga masih bisa dikatakan belum maksimal sehingga menimbulkan masalah kebersihan dan pencemaran di Kelurahan Rappang. Permasalahan lain yang terjadi dalam penelitian ini yaitu minimnya fasilitas TPS dan lemahnya tanggung jawab individu sehingga juga menjadi penyebab penumpukan sampah.

Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat dalam membuang sampah sembarangan di kelurahan Rappang kabupaten Sidenreng Rappang.

Isi

- Pada penelitian ini membahas tentang perilaku membuang sampah sembarangan yang dipengaruhi oleh faktor predisposing, enabling, dan reinforcing. 

- Adanya kajian teoritis yang mencakup teori perilaku seperti Theory of Planned Behavior dan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku menurut Notoatmodjo.

- Terdapat hasil deskriptif menunjukkan faktor predisposing seperti pengetahuan, sikap, dan keyakinan berada pada kategori sangat baik dengan persentase 83,8%. Selanjutnya faktor enabling yaitu fasilitas, infrastruktur, dan jarak TPS 59,3% dan faktor reinforcing yaitu adanya dukungan sosial, tekanan lingkungan, dan kebijakan 60,8% berada pada kategori cukup baik.

- Terdapat pembahasan dampak sampah yang tidak dikelola dengan baik terhadap kerusakan ekologis dan resiko kesehatan serius serta adanya kesenjangan antara pengetahuan dan tindakan nyata atas kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah.

Metode

Pada metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku membuang sampah sembarangan di Kelurahan Rappang. Sampel yang digunakan 86 responden dari 585 kepala keluarga, dipilih menggunakan random sampling dan rumus Slovin. Data dikumpulkan melalui observasi, kuesioner, dan studi pustaka, lalu dianalisis menggunakan SPSS dengan uji validitas, reliabilitas, regresi linier berganda, uji F, uji t, dan koefisien determinasi (R²).

Hasil

Hasil penelitian menunjukkan:

- Konstanta bernilai positif 9,147, yang bisa diartikan jika variabel independen (X₁, X₂, dan X₃) bernilai nol, perilaku masyarakat tetap sebesar 9,147.

- Faktor Predisposisi (X₁) memiliki koefisien regresi 0,330 dan signifikansi 0,069 (< α = 0,10), menunjukkan pengaruh signifikan terhadap perilaku membuang sampah sembarangan. Peningkatan pengetahuan, sikap, dan kepercayaan akan memperbaiki perilaku tersebut.

- Faktor Pemungkin (X₂) menunjukkan koefisien regresi 0,253 dengan signifikansi 0,040 (<0,10), mengindikasikan fasilitas memadai mendorong perilaku membuang sampah yang benar.

- Faktor Penguat (X₃) memiliki koefisien regresi negatif -0,045 dan signifikansi 0,714, menunjukkan tidak ada pengaruh signifikan terhadap perilaku masyarakat. Dukungan sosial dan himbaun belum efektif untuk perubahan perilaku. 

- Hasil regresi menunjukkan indikasi R² sebesar 0,118, menjelaskan 11,8% variasi perilaku masyarakat oleh faktor Predisposisi, Pemungkin, dan Penguat, sementara 88,2% dipengaruhi faktor lain. 

Diskusi

Penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan, sikap dan keyakinan akan lebih menentukan perilaku masyarakat dibanding dukungan sosial dan kebijakan yang ada. Selanjutnya masih diperlukan edukasi untuk masyarakat, tidak hanya penyuluhan saja tetapi juga tindakan nyata. Kemudian diperlukan adanya tambahan fasilitas tempat sampah yang memadai dan pengawasan lingkungan agar meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. 

ESSAI 1 - Meringkas Jurnal

 

  • MAT.KUL : Psikologi Lingkungan Masyarakat

  • NAMA TUGAS : ESAI 1- Meringkas Jurnal

  • TOPIK    : Pengelolaan Sampah Untuk Mengurangi Pencemaran Air

  • Sumber :

“ PENGELOLAAN TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH (TPAS) SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR di KOTA BALIKPAPAN “

MICHELLE YOSELIN HERDION WONG (2019)

  • DOSEN PENGAMPU       : Dr. ARUNDATI SHINTA M.A.

  • NAMA         : AYOM PURWANINGSIH

  • PRODI         : PSIKOLOGI ( KELAS B) 

 Universitas Proklamasi 45


  1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas program pemilahan sampah yang perlu dilakukan oleh masyarakat, pelaku bisnis maupun pemerintah. Serta menganalisis dampaknya terhadap kesehatan lingkungan dengan cara pengurangan volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) atau langsung ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS).


  1. Metode Penelitian

  • Penelitian hukum : Jenis penelitian hukum yang digunakan adalah penelitian hukum empiris yang berfokus pada fakta sosial.

  • Pendekatan : Kuantitatif deskriptif dengan studi kepustakaan dengan mempelajari bahan hukum primer berupa peraturan perundang-undangan dan bahan hukum sekunder berupa pendapat hukum dan non hukum yang diperoleh dari buku, jurnal, internet dan statistik yang berkaitan dengan pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) sebagai upaya pengendalian pencemaran air di kota Balikpapan. 

  • Pengumpulan Data : Observasi lapangan dengan pengumpulan data yang dibutuhkan terdiri dari data primer sebagai data utama yang diperoleh dari responden, dan data sekunder sebagai data pendukung. Data juga diperoleh dari wawancara dengan responden atau narasumber secara lisan.

  • Analisis Data : Metode analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan menganalisis data dari berbagai sumber lalu dihubungkan untuk memaparkan dan menjelaskan persoalan sehingga diperoleh kesimpulan. Proses berpikir yang digunakan adalah deduktif yaitu berawal dari proposisi umum dan berakhir pada kesimpulan khusus.


  1. Hasil Pembahasan

  • Gambaran Umum TPAS Manggar

TPAS Manggar adalah fasilitas yang diberikan pemerintah kota Balikpapan yang berada di Jalan Proklamasi RT 36, kelurahan Manggar, kecamatan Balikpapan Timur. Pembangunan TPAS Manggar dimulai tahun 1997-1998. Proyek pembangunannya selesai pada 13 Januari 2002 dan resmi beroperasi hingga saat ini. TPAS Manggar terbagi atas 7 zona yang merupakan zona landfill 

  1. Zona I, dengan luas 2,6 Ha

  2. Zona II, dengan luas 3 Ha

  3. Zona III, dengan luas 0,6 Ha

  4. Zona IV, dengan luas 1,5 Ha

  5. Zona V, dengan luas 2,5 Ha

  6. Zona VI, dengan luas 3,25 Ha

  7. Zona VII, dengan luas 3,25 Ha


Sampah yang ada di TPAS Manggar didominasi sampah organik, plastik dan kertas. Selain itu ada juga sampah kaleng, aluminium, kaca, logam dan kain yang jumlahnya lebih sedikit.


  • Lembaga Pengelola TPAS 

Lembaga yang mengelola TPAS Manggar adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) TPAS Manggar yang berada di bawah Dinas Lingkungan Hidup kota Balikpapan. Berdasarkan Pasal 4 Peraturan Walikota Balikpapan Nomor 41 Tahun 2012 tentang Organisasi, Tata Kerja, dan Uraian Tugas Unit Pelaksana Teknis Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Manggar pada Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman Kota Balikpapan, UPT TPAS Manggar mempunyai tugas melaksanakan urusan teknis di bidang pemrosesan akhir persampahan. Berdasarkan Pasal 5 Nomor 10 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Walikota Balikpapan Nomor 41 tahun 2012 menyatakan bahwa UPT TPAS Manggar untuk melaksanakan tugas tersebut mempunyai fungsi sebagai berikut : 

  1. Penyusunan rencana kerja UPT TPAS Manggar;

  2. Penyelenggaraan teknis maupun manajemen bidang operasional sarana dan prasarana kebersihan, pemrosesan akhir sampah, kegiatan 3R dan pemanfaatan gas methane dan pengelolaan limbah leacheat ;

  3. Pelaksanaan identifikasi dan inventarisasi permasalahan UPT TPAS Manggar dan alternatif usulan tindak lanjut;

  4. Pelaksanaan koordinasi dan pemantauan pelaksanaan seluruh kegiatan TPAS Manggar;

  5. Penyusunan program peningkatan, perbaikan, dan pemeliharaan sarana dan prasarana TPAS Manggar, kegiatan 3R, dan pemanfaatan gas methane dan pengelolaan limbah leacheat ;

  6. Pelaporan pelaksanaan tugas operasional pemrosesan akhir sampah,  kegiatan 3R, dan pemanfaatan gas methane dan pengelolaan limbah leacheat , dan pelaksanaan tugas lainnya yang diberikan oleh atasan/pimpinan sesuai peraturan yang berlaku.



  • Pengelolaan TPAS Manggar

Pengelolaan TPAS tidak dapat dipisahkan dengan pengelolaan sampah karena mempunyai tujuan yang sama. Dengan pengelolaan sampah yang baik maka pengelolaan TPAS pun juga baik. Pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah yang dapat dilakukan dengan pembatasan timbulan sampah, pendaur ulangan sampah, pemanfaatan kembali sampah.

Penanganan sampah di kota Balikpapan terbagi menjadi 2 sistem yaitu sistem lama dan sistem baru. Sistem lama dengan cara kumpul, angkut dan buang. Sedangkan sistem baru yaitu dengan cara sistem pengelolaan sampah berbasis 3R. Sejak tahun 2014, sistem baru telah dilaksanakan di Kelurahan Gunung Bahagia dan diadopsi oleh 21 rukun tetangga (RT) di kota Balikpapan. Pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga meliputi pemilahan (sampah organik, anorganik, sampah lainnya), pengumpulan dan pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir. 


  • Kendala Pengelolaan TPAS Manggar

Adapun kendala yang dihadapi dalam pengelolaan TPAS Manggar adalah : 

  1. Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM);

  2. Keterbatasan anggaran;

  3. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam keterlibatan pemeliharaan sarana dan prasarana persampahan. 


D. Kesimpulan 

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa pengelolaan sampah di TPAS Manggar sudah berjalan dengan baik sesuai Peraturan Daerah Kota Balikpapan Nomor 13 Tahun 2015 Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga meskipun belum optimal karena adanya beberapa kendala. Program pemilahan sampah skala rumah tangga sangat efektif menekan penumpukan sampah di TPAS. Kunci keberhasilan program ini terletak pada konsistensi penyuluhan kepada masyarakat dan penyediaan fasilitas yang mudah digunakan. Dengan demikian apabila pengelolaan TPAS baik maka pencemaran air juga dapat dicegah dan diminimalisir. 


E. Referensi 

Basriyanta, 2007 , Memanen Sampah, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Entatarina Simanjuntak, dkk, 2014, Peluang Investasi Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum, Penerbit Pusat Kajian Strategis  Sekretariat Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta.

I.Ketut Irianto, 2015, Buku Bahan Ajar Pencemaran Lingkungan, Penerbit Universitas Warmadewa, Bali.

Kuncoro Sejati, 2009, Pengolahan Sampah Terpadu, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Nirwono Joga dan Dhaneswara Nirwana Indrajoga, 2018, Membangun Peradaban Kota, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Rinrin Migristine, 2007, Pengolahan Sampah Plastik, Penerbit Titian Ilmu, Bandung.

Rudi Hartono, 2008, Penanganan dan Pengolahan Sampah, Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.

Wati Hermawati, Hartiningsih, dkk, 2015, Pengelolaan dan Pemanfaatan Sampah di Perkotaan, Cetakan Pertama, Penerbit Plantaxia, Yogyakarta.

Wisnu Arya Wardhana, 1995, Dampak Pencemaran Lingkungan, Penerbit Andi Offset, Yogyakarta. 



Jurnal

I Wayan Suarna, 2008, Model Penanggulangan Masalah Sampah Perkotaan dan Perdesaan, Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Udayana, Pertemuan Ilmiah Dies Natalis Universitas Udayana.


Rizky Puteri Mahyudin, 2017, Kajian Permasalahan Pengelolaan Sampah dan Dampak Lingkungan di TPAS (Tempat Pemrosesan Akhir), Jurnal Teknik Lingkungan Vol.3 No.1, Universitas Lambung Mangkurat.