Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Minggu, 10 Mei 2026

ESSAY 3 BEFORE AFTER





 

Sabtu, 09 Mei 2026

ESSAI 7 : KUNJUNGAN DI TPA NGRONGGO KOTA SALATIGA

 Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 7

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 

KUNJUNGAN DI TPA NGRONGGO SALATIGA


Pada hari Selasa, tanggal 5 Mei 2026, saya berkesempatan mengunjungi lokasi Tempat pembuangan Sampah Akhir yang berada di daearah Ngronggo Kota Salatiga yang berdiri atau sudah beroperasi sejak tahun 1997,  Saat itu saya tidak sendirian, dimana saya didampingi oleh Pak Adwin yang merupakan salah satu pegawai dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Salatiga. Kunjungan ke TPA Ngronggo memberikan pengalaman langsung yang tidak hanya memperlihatkan kondisi fisik pengelolaan sampah, tetapi juga membantu memahami berbagai persoalan yang melatar belakangi sistem pengelolaan sampah yang ada ditempat tersebut,

Sejak awal memasuki area TPA, saya mengamati adanya sistem pencatatan yang cukup terstruktur. Setiap truk yang masuk akan dicatat muatannya, kemudian saat keluar dilakukan penimbangan kembali menggunakan sistem timbangan otomatis. Dari selisih berat tersebut dapat diketahui jumlah sampah yang dibuang. Sistem ini juga berkaitan dengan tarif yang dikenakan, baik dari pihak pemerintah maupun swasta, karena TPA ini memang melayani pembuangan sampah dari berbagai sumber. Hal ini menunjukkan jika TPA Ngronggo merupakan satu-satunya tempat pembuangan akhir di Kota Salatiga, sehingga seluruh beban sampah kota terpusat di lokasi ini.

Secara fisik, luas TPA ini sekitar 5 hektar, dengan sekitar ± 3,5 hektar digunakan sebagai zona pembuangan aktif, sementara sisanya digunakan untuk fasilitas pendukung seperti tempat alat berat, area pengomposan, dan kantor operasional. Namun, kondisi yang paling mencolok adalah penumpukan sampah yang membentuk gundukan besar menyerupai bukit. Dari tiga zona yang tersedia, hanya satu yang masih aktif, yaitu zona A, sedangkan zona lainnya sudah tidak digunakan dan sebagian telah tertutup rumput dan beberapa pohon. Hal ini menunjukkan keterbatasan daya tampung sampah yang semakin mendesak. Dalam Operasionalnya, TPA tersebut terdapat 21 Pekerja dimana terdiri dari  15 pegawai / pekerja yang berasal dari DLH Kota Salatiga sedangkan 6 orang yang berasl dari luar atau diperbantukan dari pihak swasta yang bertugas untuk membantu mengelola sampah organik menjadi Kompos.

Selama observasi, saya juga melihat banyak pemulung yang beraktivitas di area tersebut. Ketika saya menanyakan kepada Pak Adwin mengenai akses mereka, ia menjelaskan bahwa secara formal tidak semua orang diizinkan masuk. Namun dalam praktiknya, keberadaan pemulung sulit dibatasi karena aktivitas tersebut menjadi sumber mata pencaharian utama bagi mereka. Menariknya, Pak Adwin juga mengakui bahwa aktivitas pemulung secara tidak langsung membantu proses pengurangan sampah, karena mereka memilah dan mengambil material yang masih memiliki nilai ekonomi.


Permasalahan di TPA Ngronggo Kota Salatiga 

Dalam hal pengelolaan, terdapat pemisahan sederhana atau manual antara sampah organik dan anorganik. Sampah organik, terutama dari pasar, diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik seperti botol plastik dipilah untuk didaur ulang jika masih layak. Meski demikian, sistem ini belum berjalan optimal karena sebagian besar sampah masih datang dalam kondisi tercampur. Hal ini memperkuat asumsi bahwa persoalan utama bukan hanya pada TPA, tetapi juga pada kurangnya pemilahan sejak dari sumber.

Di bagian belakang area pembuangan, terdapat instalasi pengolahan air lindi (IPAL), yaitu cairan yang dihasilkan dari sampah yang terurai dan tercampur air hujan. Instalasi ini berfungsi untuk mengolah limbah cair agar tidak mencemari lingkungan sekitar. Namun, keberadaan air lindi tetap menjadi tantangan, terutama saat musim hujan ketika volume cairan meningkat dan membuat kondisi sampah menjadi lebih sulit dikelola.

Kendala lain yang disampaikan oleh Pak Adwin adalah keterbatasan alat berat. Saat ini hanya terdapat dua eksavator  yaitu yang digunakan untuk meratakan tumpukan sampah yang mulai meninggi dan yang satunya lagi digunakan untuk memindahkan sampah dari bawah (tempat pembuangan dari truk-truk sampah) yang di dorong keatas. Dengan volume sampah yang terus meningkat, keterbatasan ini tentu memengaruhi efektivitas pengelolaan di lapangan.

Sebagai langkah ke depan, DLH Kota Salatiga berencana memperkuat sistem pemilahan sampah, terutama dengan memisahkan sampah anorganik sejak awal. Harapannya, di masa mendatang TPA khususnya zona A yang masih aktif hanya akan menampung sampah organik, sehingga beban volume dapat dikurangi dalam jumlah yang cukup besar.


Kesimpulan

Dari kunjungan ini, saya menyadari bahwa TPA bukan sekadar tempat pembuangan, melainkan cerminan dari perilaku masyarakat dan sistem pengelolaan lingkungan yang ada. Permasalahan sampah tidak dapat diselesaikan hanya di hilir, tetapi membutuhkan perubahan dari hulu, yaitu melalui peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam memilah serta mengelola sampah secara bertanggung jawab. Dalam hal ini dlH Kota Salatiga terus memberikan edukasi kepada masyarakat, mulai dari lingkungans ekolah hingga kelompok Ibu PKK, mengenai pentingnya pemilihan sampah sejak dari sumbernya. Meskipun demikian, pad kenyataannya masih banyak masyarakat yang belum terbiasa melakukan pemilihan sampah organik dan anorganik secara konsisten. Kondisi tersebut menunjukkan jika kebiasan yang telah etrbentuk sejak lama tidak mudah untuk dirubah, sehingga diperlukan proses edukasi dan pembiasaan yang terus menerus atau berkelanjutan.


Jumat, 08 Mei 2026

ESSAI 4 - KOMITMEN TENTANG SAMPAH

 

SAMPAH DAN KOMITEN PRO-LINGKUNGAN HIDUP
“LANGKAH KECIL KITA BERDAMPAK NYATA BAGI LINGKUNGAN”


 KUS WITA WARDANI

25310430002
Psikologi Lingkungan/ Kelas Karyawan (B)
Tugas: Essai 4 – KOMITMEN TENTANG SAMPAH
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.
Bulan/ tahun terbit: Mei/ 2026
 
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45
YOGYAKARTA



PENDAHULUAN

Sampah dan komitmen …

Sampah adalah sesuatu yang dianggap negatif, sesuatu yang tidak menyenangkan, sesuatu yang menjadi sumber bau dan sumber penyakit. Merubah persepsi tentang sampah bukanlah hal yang mudah, diperlukan kesadaran dari dalam diri sendiri untuk merubah image sampah yang bersifat negatif menjadi sesuatu yang berdaya guna dan bermanfaat (positif).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), komitmen adalah perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. Komitmen pribadi tentang sampah adalah perjanjian/ keterikatan seseorang mengenai sampah dengan tujuan menjaga kebersihan lingkungan. Komitmen yang lakukan dengan penuh kesadaran diharapkan nantinya akan bisa terus dilakukan secara berkesinambungan (continue). Komitmen kecil yang dibangun dalam diri, diharapkan nantinya akan terus dilakukan dengan skala lebih besar (bertumbuh) di kemudian hari, baik di lingkungan rumah maupun di tempat publik.

Pada dasarnya kegiatan pro-lingkungan membutuhkan kesadaran dari diri masing-masing, dan dibutuhkan pentingnya mengubah persepsi mengenai sampah dan pengelolaan sampah. Pada kesempatan kali ini saya membuat video singkat mengenai kegiatan pro-lingkungan yang saya lakukan di lingkungan rumah dan juga di tempat publik. Pro-lingkungan di lingkungan rumah memiliki tantangan yang berbeda dengan tempat publik. Di lingkungan rumah hambatan yang saya hadapi selain minimnya fasilitas untuk pengelolaan sampah, faktor keterbatasan waktu dan tenaga serta dukungan (support) anggota keluarga lain sangat berpengaruh untuk keberhasilan tujuan/goa yang kita canangkan, sementara di ruang publik tantangan pro-lingkungan lebih kompleks karena meliputi banyak aspek. Walaupun banyak tantangan yang bisa menjadi penghambat saya untuk melakukan tindakan pro-lingkungan, tidak menyurutkan niat saya untuk tetap berkomitmen berperilaku pro-lingkungan.

  

KOMITMEN PRIBADI SAYA TERHADAP KEGIATAN PRO-LINGKUNGAN DI LINGKUNGAN RUMAH DAN TEMPAT PUBLIK (UMUM)

§  Pertama:

Saya, dengan penuh kesadaran akan melakukan tindakan pro-lingkungan yang dimulai dari lingkungan rumah, seperti memilah sampah (berdasarkan jenisnya), mengurangi penggunaan sampah plastik dalam lingkungan rumah, dan hemat energi.

§  Kedua:

     Saya, dengan penuh kesadaran melakukan tindakan pro-lingkungan di tempat publik, seperti menggunakan tumbler sebagai pengganti botol plastik, menggunakan totebag saat berbelanja, tidak membuang sampah sembarangan di tempat umum tempat dan membuangnya di fasilitas umum yang telah disediakan. 


Link Videohttps://youtu.be/9dJDCBFU0TY

Komitmen pro-lingkungan hidup yang kita manifestasikan ke dalam langkah-langkah kecil kita akan berdampak nyata bagi lingkungan ... Jika bukan kita yang memulai, lalu siapa lagi?

… SELAMAT BERPROSES …


Daftar Pustaka:

Budiasih, K. S. (2013). Pemilahan Sampah sebagai Upaya Pengelolaan Sampah yang Baik. Yogyakarta: UNY

Pemerintah Republik Indonesia. (2008). Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Pusat Bahasa. (2026). Komitmen. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).





ESSAY 3: BEFORE AFTER

ESSAY 3: BEFORE AFTER


Nama : Wulan Rahmawati

NIM : 24310410236

Kelas : B

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Tugas : Essay 3 Before After


Ketika sesuatu dimulai dari kepedulian maka selanjutnya akan menjadi kebiasaan. Kali ini di tempat dan waktu yang berbeda saya menyusuri beberapa tempat publik yang ada di kota Yogyakarta. Miris ketika melihat tempat yang seharusnya ramah akan keindahan tapi di selasar sana masih ada tumpukan sampah berserakan. Berikut adalah dua kegiatan saya dalam rangkaian peduli lingkungan di lokasi dan tempat yang berbeda.

Lokasi 1: Stadion Sultan Agung Bantul

Waktu pelaksanaan: Minggu, 3 mei 2026

Durasi: 1 jam (16.30-17.30)


Pada kegiatan pertama saya mulai di Stadion Sultan Agung Bantul waktu sore hari. Disana sangat rame masyarakat yang sedang melakukan aktivitas olahraga sore. Ketika saya mengitari sekitar stadion ternyata di sebelah parkiran barat terdapat banyak tumpukan sampah berserakan dimana-mana. Saya mulai melakukan pembersihan sampah di sekitar area parkiran dan ternyata cukup banyak sampah yang terkumpul hingga satu plastik polybag besar. Sampah yang sudah terkumpul saya pilah antara sampah organik dan anorganik lalu saya berikan pada tempat pembuangan sampah yang ada di stadion dimana disana ada tempat sampah khusus organik dan anorganik. Jenis sampah kebanyakan adalah plastik bekas makanan. Banyaknya sampah jenis ini kemungkinan karena setiap hari minggu terdapat sunmor di stadion dan masyarakat yang kurang peka terhadap lingkungan membuang sampah sembarangan.


Lokasi 2: Lapangan Jambidan Banguntapan

Waktu pelaksanaan: Rabu, tgl 6 Mei 2026

Durasi: 1 jam (16.00 - 17.00)


Kegiatan kedua before after ini saya lakukan di Lapangan Jambidan Banguntapan pada waktu sore hari. Pada tengah lapangan memang terlihat bersih dan terawat tetapi pada bagian pinggir lapangan masih banyak tumpukan sampah berserakan. Ada dua area yang banyak sampah di pinggir lapangan ini yaitu sisi utara dan sisi pojok selatan. Untuk jenis sampah di area ini yaitu jenis daun kering dan sampah plastik bekas wadah makanan karena di sisi barat lapangan ada tempat jualan UMKM. Setelah sampah terkumpul saya masukkan dalam satu polybag hitam dan diletakkan di tempat pembuangan sampah milik LPMD Desa Jambidan.

Pada dua kegiatan diatas before dan after sangat kontras perbedaanya. Sebelumnya terlihat banyak tumpukan sampah dimana-mana dan merusak pemandangan orang yang melihatnya apalagi ini termasuk ruang publik. Secara psikologis pastinya kondisi ini memberikan sinyal negatif kepada kita bahwa tempat tersebut kurang terawat, sehingga orang merasa tidak masalah untuk buang sampah sembarangan karena mengira tidak ada yang peduli.

Setelah saya melakukan pembersihan terjadi perubahan yang signifikan dimana tidak ada lagi tumpukan sampah dan area menjadi tampak bersih, rapi dan sedap dipandang mata. Selain itu adanya perubahan positif yang dirasa sehingga memberikan rasa nyaman dan kita yang memandang pun menjadi bahagia. Semoga dengan kegiatan sederhana ini dapat membuat warga sekeliling lebih peduli dengan lingkungannya dan dapat dibersihkan secara rutin.

Kegiatan before-after membersihkan tempat publik yang tadinya kotor menjadi bersih membuktikan bahwa perubahan fisik dapat mengubah cara pandang dan perilaku masyarakat. Berdasarkan ilmu psikologi lingkungan, lingkungan yang bersih dan terawat tidak hanya membuat pengunjung merasa lebih nyaman dan terhindar dari stres, tetapi juga menumbuhkan rasa peduli dan sesuatu hal yang positif untuk tidak membuang sampah sembarangan. Sehingga hal sederhana ini semoga kedepannya bisa membangun jiwa peduli lingkungan untuk orang-orang yang ada di sekitar dan menjaga ruang publik menjadi milik bersama agar indah, rapi dan nyaman untuk ditempati.

 

Kamis, 07 Mei 2026

ESSAY 3 - BEFORE AFTER

Berliana Adinda Putri Wiyanto

24310410216

Psikologi Lingkungan (B)

Tugas essay 3

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


BEFORE AFTER

Lingkungan yang bersih adalah hal yang begitu penting untuk mendapatkan hidup yang sehat dan nyaman. Menjaga lingkungan selalu bersih merupakan ikhtiar kita untuk menjaga diri sendiri dan terhindar dari berbagai penyakit. Namun, pada kenyataannya masih banyak lingkungan sekitar yang tidak terawat kebersihannya.

Before

After

Pada kesempatan kali ini, saya melakukan kegiatan membersihkan halaman rumah. Pada hari Kamis tanggal 30 April 2026 kebetulan sore sepulang dari bekerja, saya melihat halaman rumah saya yang sedikit kotor oleh sampah dedaunan dan plastik. Saya membersihkan lingkungan dengan menyapu daun kering dan sampah yang berserakan di halaman rumah. Karena itu, saya berusaha membersihkannya agar lingkungan menjadi lebih rapi dan indah.

Bagi saya, menjaga kebersihan lingkungan adalah hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan yang bersih membuat suasana menjadi nyaman dan sehat. Selain itu, kebersihan juga membuat orang-orang merasa lebih senang saat berada di sekitar rumah. Jika lingkungan kotor dan banyak sampah, suasana akan terasa tidak nyaman dan dapat menimbulkan berbagai penyakit. Oleh karena itu, saya mencoba untuk selalu menjaga kebersihan mulai dari lingkungan sekitar rumah sendiri.

Kegiatan menyapu yang saya lakukan memang terlihat sederhana, tetapi memiliki manfaat yang besar. Dengan membersihkan sampah dan daun kering, halaman rumah menjadi lebih rapi dan enak dipandang. Saya juga merasa lebih tenang ketika melihat lingkungan dalam keadaan bersih. Selain itu, kegiatan tersebut mengajarkan saya untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.

Melalui kegiatan membersihkan lingkungan, saya belajar bahwa kebersihan harus dimulai dari diri sendiri. Saya tidak boleh menunggu orang lain untuk membersihkan lingkungan terlebih dahulu. Hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya dan menyapu halaman rumah dapat memberikan dampak positif jika dilakukan secara rutin. Saya percaya bahwa jika setiap orang memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan, lingkungan akan menjadi lebih sehat dan nyaman untuk semua orang.

Before

After

Kegiatan kedua, saya melakukan kegiatan membersihkan sepanjang jalan yang ada di dekat rumah saya pada hari Senin tanggal 4 Mei 2026. Terlihat adanya sampah plastik, daun-daun kering, dan kotoran lainnya yang terlihat berserakan di jalan. Awalnya, kondisi sekitar jalan kotor karena ada beberapa sampah yang berserakan. Meski jumlah sampah tidak terlalu banyak, kondisi itu tetap membuat lingkungan terlihat tidak nyaman dipandang.

Sebelum dijaga kebersihannya, kondisi jalan terlihat agak kotor dan kurang terawat. Sampah plastik yang tercecer membuat lingkungan terlihat berantakan. Selain itu, daun-daun yang sudah kering dan menumpuk di beberapa bagian jalan juga membuat area tersebut terlihat tidak bersih. Jika kondisi seperti ini tidak diatasi, maka lingkungan akan menjadi lebih kotor.

Melihat situasi seperti itu, saya merasa harus melakukan hal kecil dengan membersihkan area di sekitar. Saya mulai membersihkan daun-daun kering dan mengumpulkan sampah plastik yang ada di sepanjang jalan. Meskipun kegiatan itu tampak mudah, saya merasa bahwa menjaga lingkungan bersih adalah tugas yang harus dilakukan bersama-sama. Membersihkan lingkungan tidak harus dengan cara besar-besaran, tapi bisa dimulai dari hal kecil seperti menyapu jalan dan membuang sampah ke tempatnya.

Setelah lingkungan tersebut dibersihkan, suasana di sekitar jalan terlihat lebih nyaman dan teratur. Jalan yang sebelumnya penuh dengan daun kering dan sampah plastik kini terlihat lebih bersih. Perubahan itu membuat lingkungan terlihat lebih cantik dan nyaman dipandang. Selain itu, lingkungan yang bersih membuat orang merasa nyaman saat melintasi area tersebut.

Kondisi setelah dibersihkan menunjukkan bahwa tindakan kecil bisa menghasilkan perubahan yang sangat besar. Lingkungan yang dulu tampak kurang terawat kini menjadi lebih bersih dan rapi. Hal itu membuat saya semakin paham bahwa menjaga kebersihan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Jika semua orang peduli sama terhadap lingkungan, maka tempat kita tinggal akan lebih bersih dan terjaga.

Melalui kegiatan membersihkan lingkungan ini, saya memperoleh banyak pelajaran, terutama mengenai rasa tanggung jawab dan perhatian terhadap masyarakat. Saya tahu bahwa menjaga kebersihan tidak hanya pekerjaan tukang bersihkan, tetapi juga tanggung jawab semua orang. Kebiasaan kecil seperti membuang sampah ke tempatnya, menyapu halaman rumah, dan membersihkan sekitar rumah bisa memberikan pengaruh positif yang besar jika dilakukan terus-menerus.

Dari pengalaman sebelum dan setelah membersihkan lingkungan itu, saya tahu bahwa kebersihan sangat berpengaruh terhadap kenyamanan hidup masyarakat. Lingkungan yang bersih tidak hanya membuat suasana terlihat lebih cantik, tetapi juga berguna untuk menjaga kesehatan dan membuat setiap orang merasa nyaman. Oleh karena itu, saya ingin terus berusaha menjaga kebersihan lingkungan agar tempat tinggal tetap terjaga kebersihannya, nyaman, dan menyenangkan untuk ditempati bersama.