Menjadi Nasabah Bank Sampah
Yufika Dwi Rezeki
25310440003
Kelas Psikologi Lingkungan
Tugas 9 – Nasabah Bank Sampah
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.
Juli 2026
Kelas B
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Sebelumnya saya belum pernah menjadi nasabah bank sampah. Melalui tugas mata kuliah ini, saya akhirnya berkesempatan mengunjungi Bank Sampah Gemah Ripah yang beralamat di Jl. Urip Sumoharjo, Badegan RT 12, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55711. Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa sampah anorganik yang sering dianggap tidak berguna ternyata masih memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik.
Sebelum berangkat, saya mengumpulkan dan memilah sampah anorganik yang ada di rumah. Sampah yang saya bawa terdiri atas botol plastik, plastik kemasan, serta kertas dan kardus. Setelah sampai di Bank Sampah Gemah Ripah, petugas menerima sampah yang saya bawa, kemudian menimbangnya sesuai dengan jenis masing-masing. Dari proses tersebut saya mengetahui bahwa setiap jenis sampah memiliki harga yang berbeda sehingga pemilahan sejak dari rumah menjadi hal yang penting.
Pada kunjungan pertama, hasil penjualan sampah saya sebesar Rp1.342,50. Karena jumlah tersebut belum mencapai ketentuan minimal Rp5.000, saya belum mendapatkan buku tabungan. Sebagai gantinya, petugas memberikan bukti setoran yang nantinya akan digabungkan dengan setoran berikutnya. Saat berada di lokasi, saya juga melihat sebuah pemberitahuan bahwa sampah yang dititipkan tanpa mencantumkan identitas pemilik akan dimasukkan sebagai donasi. Menurut saya, aturan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan administrasi di Bank Sampah Gemah Ripah dilakukan dengan tertib agar setiap hasil penjualan sampah dapat tercatat kepada nasabah yang tepat.
Beberapa waktu kemudian, saya kembali datang untuk menabung sampah yang telah saya kumpulkan dan pilah di rumah. Jenis sampah yang saya bawa masih sama, yaitu botol plastik, plastik kemasan, serta kertas dan kardus. Setelah kembali ditimbang, hasil penjualan sampah tersebut ditambahkan ke saldo sebelumnya hingga total tabungan saya melebihi Rp5.000. Pada kunjungan kedua inilah saya akhirnya memperoleh Buku Tabungan Sampah dan resmi menjadi nasabah Bank Sampah Gemah Ripah. Rasanya cukup menyenangkan melihat bahwa sampah yang sebelumnya hanya menumpuk di rumah kini memiliki nilai dan tercatat sebagai tabungan.
Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah dan membawanya ke bank sampah. Meskipun uang yang diperoleh tidak terlalu besar, manfaat yang saya rasakan jauh lebih berarti karena saya belajar untuk lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang saya hasilkan. Saya berharap kebiasaan ini dapat terus saya lakukan dan menjadi salah satu cara sederhana untuk ikut menjaga kebersihan lingkungan.







.jpeg)

























