Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Senin, 27 April 2026

ESSAI 1: Meringkas Jurnal Sampah

Perilaku Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Perkotaan

(Community Behavior in Household Waste Management in Urban Areas)

Yufika Dwi Rezeki

25310440003

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta


Topik:

Pengelolaan sampah rumah tangga, perilaku masyarakat, kesadaran lingkungan, 3R.

Sumber:

Salsabilla, H., Hutahayan, H. R., Sulhas, S., & Saputra, B. (2025). Perilaku Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Perkotaan. Jurnal Edu Research, Vol 6(4), 829–839.

Permasalahan:

Jurnal ini membahas perilaku masyarakat perkotaan dalam mengelola sampah rumah tangga yang masih belum efektif. Banyak masyarakat masih terbiasa membakar sampah, membuang sampah sembarangan, dan belum memilah sampah dari rumah. Selain itu, keterbatasan fasilitas seperti TPS dan layanan pengangkutan sampah membuat pengelolaan sampah belum berjalan dengan baik. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan hanya soal volume sampah, tetapi juga berkaitan dengan kebiasaan masyarakat sehari-hari.

Tujuan Penelitian:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga di Kecamatan Kuranji, Kota Padang, serta faktor-faktor yang memengaruhinya.

Isi:

Jurnal ini menjelaskan bahwa persoalan sampah rumah tangga di perkotaan tidak hanya berkaitan dengan jumlah sampah, tetapi juga dengan kebiasaan masyarakat sehari-hari. Di Kecamatan Kuranji, sebagian masyarakat masih mengelola sampah dengan cara dibakar atau dibuang ke tempat terbuka karena dianggap lebih praktis dan cepat. Padahal, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa masyarakat masih jarang memilah sampah organik dan anorganik dari rumah. Kebiasaan mencampur sampah membuat proses pengelolaan menjadi lebih sulit. Selain itu, keterbatasan fasilitas seperti TPS, sarana pengelolaan, dan pengangkutan sampah membuat masyarakat cenderung memilih cara yang paling mudah dalam membuang sampah.

Metode:

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, lalu dianalisis secara deskriptif untuk melihat gambaran perilaku masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.

Hasil:

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku masyarakat dalam mengelola sampah masih didominasi cara tradisional, terutama membakar sampah. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah juga masih rendah. Namun, sebagian kecil masyarakat mulai menunjukkan perubahan dengan membuang sampah ke TPS, memilah sampah sederhana, dan mengolah sampah organik menjadi kompos.

Diskusi:

Dari sudut pandang psikologi lingkungan, perilaku masyarakat terhadap sampah terbentuk dari kebiasaan yang terus diulang dan dianggap wajar di lingkungan sekitar. Kebiasaan membakar sampah akhirnya menjadi perilaku yang dianggap normal. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh kebiasaan sosial, lingkungan fisik, dan fasilitas yang tersedia.

Kesimpulan:

Jurnal ini menunjukkan bahwa masalah sampah rumah tangga di perkotaan masih dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat, rendahnya kesadaran lingkungan, dan keterbatasan fasilitas. Karena itu, pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan perubahan kebiasaan masyarakat agar tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.


Minggu, 26 April 2026

ESSAI 2 - PLOGGING

 

KUS WITA WARDANI
25310430002
Psikologi Lingkungan
Kelas Karyawan (B)
Tugas Essai 2 – Plogging
Dosen Pengampu        : Dr. Arundati Shinta M.A.

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 
YOGYAKARTA



PENDAHULUAN

Plogging

Mungkin dari kita banyak yang belom mengenal istilah "plogging". Kata plogging berasal dari gabungan 2 bahasa, yaitu Bahasa Swedia “plocka upp,” yang berarti “pick-up” atau mengambil, dengan kata “jogging,” yang berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu berlari kecil/berlari santai. Jadi plogging dapat diartikan berlari santai sambil memungut sampah. 
Pada kesempatan kali ini, secara sekilas saya akan membagikan aktifitas plogging yang saya lakukan. Aktifitas ini saya lakukan selain untuk memenuhi tugas Psikologi Lingkungan, saya juga ingin mencoba hal baru selain hanya olahraga/jogging semata. Aktifitas plogging ini adalah pengalaman baru buat saya, sebelum saya melakukan plogging saya terlebih dahulu mencari referensi apa saja yang perlu saya siapkan dan menentukan rute yang akan saya lalui dalam kegiatan plogging ini. Selain itu juga, kita perlu mempersiapkan perlengkapan plogging yang dibutuhkan dalam menunjang kegiatan pemungutan sampah seperti sarung tangan, plastik sampah yang akan digunakan untuk media tempat saat kita mengumpulkan sampah-sampah tersebut, dan juga pembersih tangan/ hand sanitizer (jika diperlukan).


PELAKSANAAN PLOGGING

Plogging 1

Kegiatan plogging pertama ini saya lakukan sendirian. Saya melakukan plogging di hari Jumat, 24 April 2026, sore hari sekitar pukul 15.00 WIB – 16.30 WIB yang berlokasi di area sekitar rumah, rute yang saya lalui adalah Jalan Palem Raya - Jalan Tugu Penen – Jalan Pandanaran, Desa Pelem, Harjobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. 

Plogging pertama ini saya lakukan dengan cukup antusias, ini pertama kalinya saya melakukan jogging dengan kegiatan memungut sampah di waktu yang bersamaan. Disepanjang rute yang saya lalui, saya cukup banyak menemukan botol plastik kemasan, cup minuman plastik, bungkus kemasan snack, botol kopi kemasan, tas plastik bekas pakai, baterai bekas, baju bekas,putung rokok, tisu bekas. 

 Foto plogging 1:   Before - After

 Plogging 2

Kegiatan plogging yang kedua saya lakukan dengan konsep yang berbeda, kali ini saya mengajak anggota keluarga kecil untuk ikut aktif dalam kegiatan ini, motif saya adalah memberikan informasi/ mengedukasi, mengajak sekaligus  family time dengan style/ cara yang berbeda dalam satu waktu. Untuk kegiatan plogging yang kedua ini, kami lakukan pada pagi hari, Sabtu, 26 April 2026 sekitar pukul 06.00 WIB -08.00WIB. Untuk areanya, masih dalam area sekitar rumah tetapi kali ini saya mengambil rute agak jauh. Rute kali ini adalah Jalan Pandanaran – Jalan Dusun Mrisen -Jalan rejodani Desa Pelem, Harjobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta.

Plogging kedua ini dirasa memberikan tambahan stimulus tersendiri, terasa sangat berbeda karena dilakukan bersama orang-orang tersayang. Bersama-sama saling belajar merubah persepsi tentang sampah yang dikonotasikan dan dinilai buruk diubah menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Di sepanjang rute kedua ini, sampah yang saya temui kurang lebihnya masih sama seperti saat plogging pertama, bahkan kami menemui juga di beberapa tempat ditemukan sampah basah yang diletakkan tidak pada tempatnya, sehingga menimbulkan bau tidak sedap.

Foto plogging ke 2: Before-After


PEMBAHASAN

Hasil yang saya kumpulkan dari aktivitas plogging satu dan kedua yang sudah saya lakukan tidaklah banyak, karena langkah awal yang saya lakukan ini dimulai dengan langkah kecil dengan area yang tidak luas. Menurut pendapat saya pribadi, proses belajar tidak harus dilakukan dengan langkah dengan skala besar, tetapi langkah kecil dan nyata serta konsistensi jauh lebih efektif daripada hanya sekedar opini dan perencanaan tanpa tindakan nyata. Hasil plogging tersebut saya pilah berdasarkan jenis sampah (organik, anorganik, sampah B3) lalu saya bawa ke pengepul rongsok, ditimbang dan dihargai sebesar Rp.5200,-, memang tidak banyak dari segi hasil penjualan (motif ekonomi), tetapi disini saya (khususnya) dan anggota keluarga kecil mendapat manfaat yang lebih dari sekedar nominal/materi, dimana kita dapat merubah persepsi buruk mengenai sampah menjadi persepsi baik, bahwa berinteraksi dengan sampah itu menyenangkan dan sampah itu bermanfaat, selain itu kita dapat belajar lebih memperhatikan lingkungan sekitar (khususnya masalah sampah) sambil berolahraga.

Dari kegiatan plogging yang saya lakukan ini dengan melihat banyaknya sampah fisik yang berserakan di sepanjang jalan, dapat kita simpulkan bahwasanya minimnya edukasi dan kesadaran masyarakat untuk membuang sampah di tempatnya, serta kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kepedulian lingkungan dan ekosistem sekitar. 


KESIMPULAN dan SARAN

Permasalah mengenai sampah adalah permasalahan global yang tidak kunjung usai, plogging adalah salah satu dari sekian cara yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi nyata untuk lingkungan sekitar. Dengan plogging kita dapat berperan secara nyata untuk ikut berpartisipasi menangani masalah sampah di sekitar kita dengan mengurangi jumlah sampah yang dibuang secara sembarangan. Dari kacamata ilmu psikologi, khususnya psikologi lingkungan, plogging tidak hanya memberikan manfaat secara fisik/ jasmani tetapi juga pada kesehatan mental dan juga meningkatkan kesadaran sosial kita untuk lebih mencintai lingkungan. Plogging selain dapat dilakukan secara sendiri, juga dapat dilakukan bersama keluarga, teman, kerabat, komunitas.  Plogging yang dilakukan secara berkelompok memberikan tambahan manfaat seperti melatih kerjasama dan meningkatkan rasa solidaritas.

Sebagai masyarakat, dan juga sekaligus sebagai mahasiswa jurusan psikologi lingkungan, hendaknya kita lebih perduli terhadap kebersihan lingkungan, khususnya dengan aktivitas plogging dapat merubah persepsi atau cara pandang kita mengenai sampah ke arah yang positif dan dapat ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan secara berkesinambungan/continue, dimulai dari diri sendiri dan berusaha untuk mengajak teman, keluarga, komunitas atau orang lain untuk bisa ikut aktif dalam aktivitas tersebut. 

Langkah nyata kecil kita diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi lingkungan ... Selamat Berproses ...




 

Sabtu, 25 April 2026

Essai 1 - Meringkas Jurnal Mengenai Pengelolaan Sampah

 Meringkas Jurnal Mata Kuliah Psikologi Lingkungan

"Teknologi InsinerasiSebagai Solusi Pengolahan Sampah Perkotaan dan Pemulihan Energi: A Review"

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, M.A


LAURENTIUS ANDHIKA HARYANTO
24310410215


FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

Bagian Keterangan Review
Topik Teknologi InsinerasiSebagai Solusi Pengolahan Sampah Perkotaan dan Pemulihan Energi: A Review
Sumber Idris, M., Setyawan, M., & Mufrodi, Z. (2024). Teknologi insinerasi sebagai solusi pengolahan sampah perkotaan dan pemulihan energi: A review. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi (Semnastek). Lihat Jurnal Asli.
Permasalahan Permasalahan yang digambarkan majalah ini adalah kenyataan yang menyedihkan bahwa limbah dihasilkan dengan jumlah yang jauh melebihi daya dukung lingkungan kita. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di seluruh Indonesia telah mencapai titik jenuh dan berubah menjadi tumpukan sampah, melepaskan emisi metana dan air lindi berbahaya yang mencemari sistem air tanah. Kita terjebak oleh metode pembuangan terbuka (open dumping) yang sudah kuno dan keterbatasan lahan yang semakin realistis. Saya sebagai generasi penerus memandang hal ini sebagai kegagalan kolektif dan jika dibiarkan, kita akan kehilangan hak atas lingkungan yang sehat di masa depan. Ketidakmampuan mengurangi jumlah sampah secara signifikan bukan hanya permasalahan teknis namun juga merupakan ancaman sistemik terhadap kedaulatan lingkungan.
Analisis Data Terpusat
Tujuan Penelitian Riset ini mengusung misi edukatif untuk memvalidasi teknologi insinerasi sebagai solusi definitif dalam mereduksi volume limbah perkotaan secara signifikan. Fokus utamanya adalah menetapkan parameter teknis pembakaran suhu tinggi yang efisien tanpa mengorbankan kualitas udara bersih. Lebih dari sekadar pemusnahan sampah, penelitian ini berambisi mengoptimalkan konsep Waste-to-Energy guna mentransformasikan masalah lingkungan menjadi sumber energi listrik yang produktif. Melalui pendekatan ini, saya ingin membuktikan bahwa inovasi teknologi dapat diselaraskan dengan prinsip konservasi alam demi mencapai efisiensi sumber daya yang maksimal serta masa depan bumi yang lebih lestari.
Isi Ulasan ini membedah mekanisme oksidasi termal pada suhu ekstrem 850°C–1200°C yang mampu mereduksi massa sampah domestik secara drastis hingga menyisakan abu minimal. Inti inovasinya terletak pada pemanfaatan energi panas yang ditangkap sistem boiler untuk menghasilkan uap penggerak turbin listrik, mewujudkan prinsip Waste-to-Energy. Sebagai mahasiswa, saya melihat urgensi pada sistem flue gas treatment yang menjamin emisi tetap aman di bawah ambang batas bahaya. Teknologi ini bukan sekadar membakar, melainkan mentransformasi limbah menjadi sumber daya produktif melalui siklus ekonomi sirkular yang bersih, menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan kelestarian ekosistem lingkungan.
Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif melalui metode Systematic Literature Review. Metode ini sangat krusial karena mengandalkan sintesis data sekunder dari berbagai literatur ilmiah dan laporan teknis yang kredibel. Pemilihan sumber data dilakukan secara selektif guna memastikan validitas variabel teknis, seperti nilai kalor dan efisiensi termal pembakaran. Analisis dilakukan secara deskriptif-komparatif untuk menguji adaptasi teknologi insinerasi global terhadap karakteristik sampah lokal Indonesia yang memiliki kadar air tinggi. Ini merupakan langkah intelektual yang konsisten dalam memastikan bahwa solusi pengolahan sampah yang ditawarkan bener-benar berbasis pada bukti ilmiah yang aman bagi kelestarian lingkungan.
Hasil Temuan riset menunjukkan bahwa teknologi insinerasi mampu mereduksi volume sampah secara drastis hingga lebih dari 90%, menjawab tantangan keterbatasan lahan TPA secara nyata. Efektivitas ini selaras dengan potensi pemulihan energi listrik yang signifikan, membuktikan bahwa sampah adalah sumber daya strategis jika dikelola dengan sains yang tepat. Selain itu, residu pembakaran berupa abu dasar terbukti dapat dimanfaatkan kembali sebagai material konstruksi berkualitas tinggi. Hasil ini di perkuat bahwa sistem Waste-to-Energy bukan sekadar teori, melainkan solusi produktif yang konsisten dalam menciptakan sirkularitas ekonomi sekaligus menjaga integritas ekosistem dari pencemaran limbah berkelanjutan.
Diskusi Hal ini akhirnya menjadi sebuah bagian teknologi insinerasi yang memerlukan sinergi komitmen kolektif, terutama pada bagian pemilahan sampah di hulu agar efisiensi termal tetap optimal. investasi tinggi tidak sebanding dengan harga kerusakan alam yang harus dibayar di masa depan. Juga memerlukan konsistensi agar hal yang beralih dari sekadar 'membuang' menjadi 'mengelola' dengan integritas tinggi. Dibutuhkan kolaborasi antara kebijakan pemerintah yang tegas, riset akademis berkelanjutan, dan perubahan perilaku masyarakat yang pro-lingkungan. 

© 2026 Academic Report Design • Created for Blogger

ESAI 2: PLOGGING

Melakukan Plogging

Reni Prabandari
24310410221
Kelas Psikologi Lingkungan-B
Tugas Essai 2
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas Psikologi Universtas Proklamasi 45 Yogyakarta 


PENDAHULUAN

Plogging adalah kegiatan olahraga yang menggabungkan lari (jogging) dengan memungut sampah di sepanjang rute yang dilalui. Istilah ini berasal dari bahasa Swedia “plocka upp” (memungut) dan jogging yang mulai popoler sekitar tahun 2016.

Di Indonesia sendiri plogging mulai booming sekitar tahun 2018 yang dilakukan oleh komunitas lari di Jakarta. Setelah itu, plogging semakin populer lewat acara publik seperti car free day.

Yang dilakukan saat plogging adalah berlari santai seperti jogging biasa dan sambil berlari itu Kita berhenti untuk mengambil sampah yang terlihat di rute yang Kita lewati. Sampah tersebut dikumpulkan dalam kantong yang Kita bawa.


KEGIATAN YANG DILAKUKAN

Plogging 1


Kegiatan plogging yang pertama ini Saya lakukan di hari Sabtu, tanggal 18 April 2026 sekitar pukul 16.00 WIB s/d pukul 17.15 WIB dengan jarak tempuh sekitar 5,2 kilometer dan berlokasi di jalanan sekitar tempat tinggal Saya di Desa Donorojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Di sepanjang rute yang Saya lewati tersebut, Saya menemukan banyak sampah di jalanan. Yang paling banyak Saya temui adalah sampah botol plastik, plastik bekas dan bungkus makanan kemasan anak - anak.

Sampah - sampah tersebut kemudian Saya pungut dan Saya masukkan dalam kantong plastik. Setelah selesai plogging, Saya kemudian membawa sampah tersebut ke penjual rongsok di dekat rumah Saya. Setelah ditimbang, jumlah sampah plastik yang berhasil Saya kumpulkan adalah 2,3 kilogram dan dihargai Rp.4.700,- oleh pengepul rongsok tersebut.



Plogging 2


Kegiatan plogging yang kedua ini Saya lakukan di hari Sabtu, tanggal 25 April 2026 sekitar pukul 15.30 WIB s/d pukul 16.35 WIB dengan jarak tempuh sekitar 5,0 kilometer dan berlokasi di lingkungan sekitar tempat tinggal Saya di Perumahan Pesona Kota Mungkid, Desa Donorojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Di lingkungan perumahan tempat tinggal Saya tersebut, Saya menemukan banyak botol plastik dan bungkus makanan kemasan anak - anak.

Sampah - sampah tersebut kemudian Saya pungut dan Saya masukkan dalam kantong plastik. Setelah selesai plogging, Saya kemudian membawa sampah tersebut ke penjual rongsok di dekat rumah Saya. Setelah ditimbang, jumlah sampah plastik yang berhasil Saya kumpulkan adalah 1,5 kilogram dan dihargai Rp.3.200,- oleh pengepul rongsok tersebut.



PEMBAHASAN

Dari kegiatan plogging yang Saya telah lakukan tersebut, dapat kita pahami bahwa di Indonesia ini kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempat yang telah disediakan masih sangat rendah. Kebanyakan orang masih membuang sampah seenaknya.

Selain itu, kebanyakan sampah yang Saya temukan adalah sampah anorganik seperti botol plastik, kantong kresek bekas dan bungkus jajanan kemasan anak - anak yang notabene sangat sulit terurai bisa mencapai ratusan tahun.

Masyarakat di Indonesia pun masih sangat abai jika melihat banyak sampah berserakan di jalanan. Jarang yang dengan sadar mau memungut sampah - sampah tersebut dan membuangnya di tempat yang telah disediakan.



PENUTUP

Plogging adalah kegiatan olahraga yang menggabungkan lari (jogging) dengan memungut sampah di sepanjang rute yang dilalui.

Manfaat plogging di antaranya adalah menyehatkan tubuh, menjaga lingkungan dengan membantu mengurangi sampah di ruang publik dan juga meningkatkan kesadaran sosial.



KESIMPULAN DAN SARAN

Plogging adalah aktivitas yang efektif dan inovatif untuk merepresentasikan pro lingkungan sebagai seorang mahasiswa psikologi lingkungan karena plogging mengajarkan Kita bahwa kegiatan menjaga lingkungan dengan cara memungut sampah di jalanan bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan.

Sebagai seorang mahasiswa piskologi lingkungan alangkah lebih baiknya jika Kita bisa lebih mempopulerkan plogging kepada masyarakat di Indonesia pada umumnya dan masyarakat di sekitar tempat tinggal Kita pada khususnya.











ESAI 2-Plogging

 Psikologi Lingkungan dan Pembentukan Perilaku Pro-Lingkungan


Nama : Banun Havifah Cahyo Khosiyono

NIM : 24310440002

Kelas : B

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Tugas : Esai 2 (Plogging)

Pendahuluan


Plogging adalah kegiatan menggabungkan olahraga (jogging) dengan aksi sosial berupa pembersihan sampah di jalan. Tujuan kegiatan ini bukan hanya menjaga kebugaran tubuh, tetapi juga membentuk perilaku pro-lingkungan dengan mengaitkan aktivitas menyenangkan (olahraga) dengan tindakan peduli lingkungan (memungut sampah). Dengan demikian, sampah tidak lagi dipersepsikan sebagai beban, melainkan bagian dari aktivitas positif.

Pelaksanaan Kegiatan

Saya melakukan plogging sebanyak dua kali di lokasi berbeda:

  1. Lokasi 1: RT 01, Sribitan,  Bangunjiwo

    • Tanggal/Waktu: 11 April 2026, pukul 07.00–08.00 WIB

    • Jarak jogging: ±3 km

    • Sampah terkumpul: 2,5 kg (plastik kresek, botol plastik, kertas)

    • Pengelolaan sampah: dipilah, lalu disetorkan ke bank sampah Dukuh Sribitan.

  1. Lokasi 2: RT 02, Sribitan, Bangunjiwo

    • Tanggal/Waktu: 25 April 2026, pukul 07.00–08.00 WIB

    • Jarak jogging: ±2 km

    • Sampah terkumpul: 3 kg (plastik makanan, kaleng minuman, puntung rokok)

    • Pengelolaan sampah: dipilah, sebagian dijual ke bank sampah Dukuh Sribitan, sisanya diolah menjadi kompos (sampah organik).


Permasalahan yang Ditemukan:

  • Kurangnya kesadaran masyarakat: banyak sampah plastik sekali pakai dibuang sembarangan.

  • Dominasi sampah nonorganik: sulit terurai, menimbulkan pencemaran jangka panjang.

  • Stigma negatif: sebagian orang merasa memungut sampah adalah pekerjaan “rendah” sehingga enggan melakukannya.

Refleksi dan Pembentukan Perilaku

Melalui plogging, saya merasakan bahwa aktivitas fisik yang menyenangkan dapat mengubah persepsi terhadap sampah. Tindakan memungut sampah dikaitkan dengan rasa senang karena berolahraga. Hasilnya, terbentuk perilaku baru: sampah bukan lagi sesuatu yang menjijikkan, melainkan bagian dari rutinitas sehat. Selain itu, kegiatan ini menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. Saya menyadari bahwa perubahan besar dimulai dari tindakan kecil. Jika mahasiswa terbiasa melakukan plogging, maka perilaku peduli lingkungan bisa menyebar ke masyarakat luas.

Kesimpulan

Plogging adalah praktik psikologi lingkungan yang efektif untuk membentuk perilaku pro-lingkungan. Dengan menggabungkan olahraga dan aksi sosial, kegiatan ini mengajarkan bahwa menjaga kebersihan bukan sekadar kewajiban, tetapi juga bisa menjadi aktivitas menyenangkan. Sampah yang terkumpul tidak hanya dibuang, tetapi juga dipilah dan dikelola melalui bank sampah serta kompos, sehingga memberi manfaat nyata bagi keberlanjutan lingkungan.