Nama : B Arifin
NIM : 25310440002
JAWABAN SOAL
UTS
Pernyataan tersebut sudah tepat dalam
menempatkan hierarki pengelolaan sampah secara normatif, yaitu menjadikan
reduce sebagai prioritas utama, diikuti reuse, lalu recycle. Namun, dari perspektif
psikologi lingkungan, yang lebih penting untuk dicermati bukan sekadar urutan
ideal dalam hierarki tersebut, melainkan kesenjangan antara urutan yang
dianjurkan dan perilaku nyata masyarakat, atau yang dikenal sebagai value action gap. Inti kajian psikologi lingkungan justru terletak pada
pertanyaan mengapa perilaku pro-lingkungan kerap tidak sejalan dengan
pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang. Dengan kata lain, mengetahui
bahwa 3R itu baik tidak otomatis membuat seseorang melakukannya.
Bukti empiris mendukung kritik ini.
Studi di Shah Alam, Malaysia (Ali et al., 2021) menemukan bahwa perilaku yang
paling banyak dilakukan justru reuse, dengan penggunaan ulang kantong plastik
mencapai 58%, botol 48,6%, dan koran 45,3%. Sebaliknya, tingkat partisipasi
dalam recycle tergolong sangat rendah karena mayoritas responden lebih memilih
membuang elektronik bekas dan minyak jelantah daripada membawanya ke pusat daur
ulang. Temuan ini menunjukkan bahwa urutan prioritas normatif tidak otomatis
tercermin dalam urutan perilaku aktual. Pola serupa juga tampak di Bangladesh
(Chowdhury et al., 2014), di mana praktik daur ulang sebagian besar bergantung
pada sektor informal sementara sistem formalnya masih lemah. Maka, klaim bahwa
3R efektif di berbagai konteks sosial dan geografis sebaiknya diperhalus
menjadi pernyataan bahwa 3R menghadapi hambatan psikologis dan struktural yang
serupa di berbagai konteks.

Bagan 1. Hierarki pengelolaan sampah
3R disandingkan dengan tingkat partisipasi nyata masyarakat (data: Ali et al.,
2021).
Mengapa kesenjangan ini terjadi
dapat dijelaskan melalui sejumlah teori psikologi lingkungan. Berdasarkan
Theory of Planned Behavior (Ajzen), perilaku 3R dipengaruhi oleh sikap, norma
subjektif, dan persepsi kemampuan mengendalikan perilaku atau perceived
behavioral control. Perilaku reuse lebih dominan karena mudah, murah, dan telah
menjadi kebiasaan rumah tangga sehari-hari, sehingga persepsi kendali atasnya
tinggi. Sebaliknya, recycle menuntut usaha yang jauh lebih besar, seperti memilah
sampah dan mengangkutnya ke pusat daur ulang, sehingga persepsi kendalinya
rendah dan niat untuk melakukannya melemah. Faktor ekonomi turut berperan diantaranya studi di Malaysia mencatat banyak
orang merasa mampu membeli barang baru sehingga insentif kecil dari daur ulang
dianggap tidak berarti. Hal ini sejalan dengan Norm Activation Model, yang
menjelaskan bahwa perilaku pro-lingkungan baru muncul ketika seseorang merasa
bertanggung jawab secara personal dan menyadari konsekuensi dari tindakannya. Ketika
kesadaran ini lemah, kesenjangan antara sikap dan tindakan semakin lebar.
Temuan tersebut memberikan implikasi
penting bagi rancangan intervensi. Rekomendasi yang umum diberikan, yaitu
kampanye edukasi, sebenarnya belum memadai. Dari sudut pandang psikologi
lingkungan, perubahan perilaku tidak hanya bergantung pada niat baik individu,
tetapi juga pada apakah faktor situasional memungkinkan perilaku tersebut
terjadi. Edukasi yang hanya menambah pengetahuan tanpa diiringi kemudahan
bertindak cenderung gagal mengubah perilaku. Karena itu, edukasi sebaiknya
dikombinasikan dengan penyediaan fasilitas daur ulang yang mudah diakses,
pemberian insentif yang berarti, dorongan halus atau nudges, umpan balik
berkala, serta pemanfaatan norma sosial agar perilaku 3R menjadi hal yang lazim
dan diharapkan dalam komunitas.
Sebagai penutup, pernyataan dalam
soal akan menjadi lebih kuat apabila tidak berhenti pada urutan hierarki yang
ideal, melainkan turut menjelaskan faktor individual dan struktural yang
menjembatani kesenjangan antara sikap dan perilaku 3R. Dengan demikian,
hierarki 3R tidak dipahami semata sebagai aturan normatif yang ideal, tetapi
sebagai perilaku nyata yang dipengaruhi oleh psikologi individu sekaligus
konteks lingkungan tempat individu itu berada. Pemahaman ini sejalan dengan
tujuan psikologi lingkungan, yakni menjelaskan dan mendorong perilaku
berkelanjutan melalui pendekatan yang memadukan dimensi kognitif, sosial, dan
situasional secara menyeluruh.
Daftar Pustaka
Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior. Organizational
Behavior and Human Decision Processes, 50(2), 179–211.
Ali, N. E. H., Talmizi, N. M., Wahab, S. N. A., Rijal, N. S.,
Rased, A. N. N. W. A., & Saleh, A. A. (2021). Solid waste management hierarchy:
An empirical investigation. International Invention & Innovative
Competition (InIIC) Series 1.
Bahraini, A. (2023). Apa itu 3R? Pengertian reduce, reuse,
recycle dan contohnya. Waste4Change. Diakses dari
https://waste4change.com/blog/konsep-prinsip-3r-reduce-reuse-recycle/
Chowdhury, A. H., Mohammad, N., Haque, M. R. U., & Hossain, T.
(2014). Developing 3Rs (reduce, reuse and recycle) strategy for waste
management in the urban areas of Bangladesh: Socioeconomic and climate adoption
mitigation option. IOSR Journal of Environmental Science, Toxicology and
Food Technology, 8(5), 9–18.
Schwartz, S. H. (1977). Normative influences on altruism. Advances
in Experimental Social Psychology, 10, 221–279.
25/5/2026
Suatu hari
di sebuah mall yang berlokasi di depan Polda Provinsi.
Di suatu
toilet, ketika saya menghampiri ruang janitor dilantai 1 dan bertanya kepada seorang OB,
"Pak,
izin tanya, OB yang
tunawicara, hari ini shiftnya di mana ya?"
"Oh, si
Muslih."
"Dia
biasanya ada di LG atau di Ruang Loading, Mas, Ada apa ya pak ?"
"Oh,
gpp Mas, tanya aja…"
Sampai
akhirnya saya cari cari di toilet LG, kok tidak ada ya. Sampailah saya teringat,
kalau tidak ada di toilet, cari aja ke ruang loading. Jadi di LG ada pintu dengan
pembatas plastik, didorong aja, itu akan mengarah ke ruang loading.
Saya pun
mencari beliau di ruang loading, cari sana sini, sana sini, gak ketemu. Sampailah saya
menghampiri seorang satpam yang bernama Pak Rizky.
"Pak,
izin tanya, Muslih di
mana ya, Pak? Kok saya cari di ruang loading gak ada?"
"Ada
keperluan apa ya, Pak?"
"Gpp
Pak, jadi…"
"Oh,
baik Pak, sebentar pak, saya carikan dulu ya."
Akhirnya
beliau pun mencarikannya di ruang OB, dengan saya pun mengekor dibelakang.
Sampai pada akhirnya di kantor OB
pun saya dihampiri seseorang yang sepertinya seniornya, yg menanyakan ada apa, dan saya pun menjawab hal yang
sama seperti menjawab ke OB pertama dan ketika menjawab ke Pak Rizky. Sampai pada akhirnya, "Sebentar
Pak, saya carikan…"
Tidak lama
kemudian, beliau pun datang. Dengan membawa Ember dan kain pel. Dan pada akhirnya saya bilang sama rekannya yang juga sama sama datang dari lokasi yang sama, mbak izin saya ngobrol berdua sama Pak Muslih, ada hal yang mau dibicarakan…
"oh baik baik pak"
Sampai pada akhirnya, episode itu pun tiba. Di sekitar jam 10.30. 25/5/2025.
Dan saya agak deg degan juga.
"Pak,
masih inget saya gak pak ? jumat lalu, di tanggal 22 mei
saya pernah ketemu bapak di ......dan bapak ……."
Habis ngomong itu, saya pun langsung menunjukkan sebuah teks, yang izin saya blur bagian
bawahnya…
Dan ketika beliau membaca tulisan tersebut, saya pun
melihat wajah haru di wajahnya.
Beliau pasti gak nyangka
bahwa paparan paparan kebaikan yang dia lakukan di tanggal 22 mei 2026 sekitar jam 15.00
itu memiliki........... tersendiri dan merupakan suatu hal yang…………..... bagi saya.
Dan, Setelah itu,
kita pun berfoto.
-End
Terima
kasih, Pak Muslih. Terima kasih, Bu Shinta, Terimakasih atas segala ilmu yang
telah Ibu berikan, saya memaknai betul pengalaman seru ke tpst, seluruh pengamatan detail saya se every detailnya everydetailnya dari berinteraksi antar teman, mahasiswa ke dosen, mahasiswa ke tim tpst memiliki daya tular positifnya tersendiri ke mahasiswa-mahasiswanya. 😊
Dokumentasi Ketika Kunjungan ke TPST