Belajar dan Mengenal Pengelolaan Sampah di TPST
Randu Alas dalam Upaya Menjaga Lingkungan
Moch Aziiz Suharyadi
24310410211
Kelas Psikologi Lingkungan – B
Tugas Essai 7
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Pada hari Sabtu, 2 Mei 2026 pukul 09.00 hingga 11.30 WIB,
saya melakukan kunjungan observasi ke TPST Randu Alas yang berlokasi di Candi
Karang, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman. Kegiatan ini bertujuan untuk mempelajari
secara langsung proses pengelolaan sampah di masyarakat. Dalam kunjungan
tersebut, saya berkesempatan untuk bertemu dan melakukan wawancara dengan Pak
Joko, salah satu pengurus TPST Randu Alas.
TPST Randu Alas merupakan tempat pengolahan sampah yang
dikelola oleh sekitar 10 orang karyawan yang setiap harinya menangani sampah
dari masyarakat. Di lokasi ini terdapat berbagai fasilitas pengolahan, seperti
alat pemilahan, mesin pres, mesin penghancur, tempat pembakaran sampah residu,
serta timbangan. Proses pengelolaan sampah dimulai dengan pemilahan berdasarkan
jenisnya, seperti plastik, botol, kertas, dan sampah organik. Pemilahan ini
sangat penting karena sampah yang telah dipisahkan memiliki nilai jual lebih
tinggi dibandingkan sampah yang masih tercampur.
Salah satu inovasi yang menarik di TPST Randu Alas adalah
pemanfaatan air lindi. Air lindi merupakan cairan yang berasal dari tumpukan
sampah organik yang kemudian diolah menjadi eco lindi, yaitu cairan penetral
bau yang ramah lingkungan. Eco lindi dibuat dengan mencampurkan air lindi,
molase (tetes tebu), katalis organik, dan asam sulfat. Inovasi ini terbukti
mampu mengurangi bau menyengat serta membantu proses penguraian sampah organik,
sehingga lingkungan sekitar tetap nyaman.
Pengendalian bau menjadi perhatian utama karena lokasi TPST
berada dekat dengan aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, pembakaran sampah
dibatasi hanya pada pukul 08.00 hingga 13.00 WIB agar tidak mengganggu
lingkungan sekitar. Selain itu, pengelolaan sampah dilakukan secara cepat dan
terstruktur agar tidak terjadi penumpukan.
Pak Joko juga menceritakan latar belakang keterlibatannya
dalam pengelolaan sampah. Kesadaran tersebut muncul sejak tahun 2010 ketika
lingkungan tempat tinggalnya mengalami masalah kesehatan akibat penumpukan
sampah yang menjadi sarang nyamuk penyebab Demam Berdarah (DB). Kondisi
tersebut semakin parah pada tahun 2013 ketika 13 warga, termasuk anak beliau,
terkena DB. Peristiwa ini menjadi titik awal bagi Pak Joko untuk serius mencari
solusi pengelolaan sampah.
Sejak saat itu, beliau aktif mengikuti berbagai sosialisasi
dan program lingkungan, termasuk bank sampah. Pada tahun 2015, TPST Randu Alas
mendapatkan dukungan dana sekitar Rp400 juta untuk pengembangan fasilitas.
Awalnya, proses pengolahan masih dilakukan secara manual, namun seiring waktu
fasilitas semakin berkembang dengan bantuan alat dari pemerintah.
Dalam operasionalnya, masyarakat yang menggunakan layanan
TPST dikenakan iuran sekitar Rp75.000 per bulan untuk rumah tangga dan Rp25.000
untuk kos-kosan. Iuran ini digunakan untuk mendukung biaya operasional seperti
transportasi, listrik, dan pengolahan sampah.
Menariknya, sampah yang telah diolah juga memiliki nilai
ekonomi. Sebagian sampah dikirim ke Cilacap untuk dimanfaatkan oleh pabrik
semen sebagai bahan bakar alternatif. Jumlah pengiriman bahkan mencapai 1,5
hingga 3 ton dalam satu periode, menunjukkan bahwa sampah yang sebelumnya
dianggap tidak bernilai dapat dimanfaatkan kembali.
Secara umum, proses pengelolaan sampah di TPST Randu Alas
meliputi pemilahan, pengeringan, penghancuran, penyemprotan eco lindi,
pengepresan, hingga distribusi hasil olahan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa
pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi
juga kesehatan masyarakat dan nilai ekonomi.
TPST Randu Alas juga menjadi tempat pembelajaran yang nyata
mengenai prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R). Sampah organik diolah menjadi
kompos dan pupuk cair, sedangkan sampah anorganik didaur ulang atau
dimanfaatkan kembali. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung yang sangat
berharga, karena peserta dapat melihat proses pengolahan secara nyata, bukan
hanya secara teori.
Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa pengelolaan sampah
dapat dimulai dari hal sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya dan
memilah sampah dari rumah. Kesadaran ini penting karena pengelolaan sampah
bukan hanya tanggung jawab petugas, tetapi tanggung jawab bersama seluruh
masyarakat.
Selain itu, kegiatan ini juga meningkatkan kepedulian saya
terhadap lingkungan. Saya menjadi lebih memahami bahwa sampah yang sering
dianggap tidak berguna ternyata masih memiliki manfaat jika diolah dengan baik.
Pembelajaran langsung di lapangan juga terbukti lebih efektif dalam membangun
kesadaran dibandingkan hanya mempelajari teori di kelas.
Namun demikian, TPST Randu Alas juga menghadapi beberapa
tantangan, seperti kurangnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari
sumber, keterbatasan teknologi dan fasilitas, serta dampak pencemaran udara
dari pembakaran sampah residu. Selain itu, masalah regenerasi sumber daya
manusia juga menjadi kendala dalam keberlanjutan pengelolaan.
Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif antara
masyarakat, pemerintah, dan pihak swasta untuk mengoptimalkan pengelolaan
sampah. Edukasi mengenai prinsip 3R perlu ditingkatkan, serta inovasi teknologi
dan pelatihan bagi pengelola harus terus dikembangkan.
Sebagai kesimpulan, TPST Randu Alas merupakan contoh nyata
bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat memberikan manfaat
lingkungan, sosial, dan ekonomi. Dengan adanya kesadaran, kerja sama, dan
inovasi, sampah tidak lagi menjadi masalah, tetapi dapat menjadi solusi untuk
keberlanjutan lingkungan di masa depan.
.jpeg)