Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Minggu, 28 Juni 2026

Essai 5 - Eksperimen Anorganik

 Eksperimen Upcycling Anorganik


Rahardian Wicaksono

24310410218

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 5

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Juni 2026

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta 



    Sampah anorganik seperti plastik menjadi jenis sampah yang mendominasi di lingkungan dan kehidupan sehari-hari. Aktivitas yang kita lakukan tanpa sadar berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah sampah plastik. Plastik memiliki sifat yang tahan lama dan sulit hancur secara alami, apabila plastik yang telah kita konsumsi tidak bisa langsung dibuang begitu saja. Maka, diperlukan kegiatan seperti “upcycling” secara mandiri yang dapat dengan mudah dan sederhana untuk mengurangi jumlah sampah plastik (anorganik) yang berpotensi merusak lingkungan. Oleh karena itu, sisa kemasan plastik yang telah kita gunakan tidak boleh dibuang begitu saja tanpa pengelolaan yang bijak. Di sinilah diperlukan tindakan nyata seperti gerakan upcycling secara mandiri, solusi sederhana yang dapat dilakukan oleh siapa saja untuk menekan jumlah sampah anorganik yang berpotensi merusak ekosistem bumi.

Upcycling tidak hanya menggunakan barang bekas, melainkan mengubahnya menjadi suatu barang dengan nilai guna dan ekonomis yang lebih tinggi tanpa melalui proses manufaktur. Dalam eksperimen upcycling kali ini, saya memilih untuk memanfaatkan botol minuman plastik sebagai bahan dasar utama. Tujuan utama dari eksperimen ini adalah merubah botol plastik bekas yang nilai gunanya sudah habis menjadi sebuah produk baru yang fungsional, estetik, dan bernilai jual tinggi, yaitu gantungan kunci. Alasan saya memilih untuk membuat gantungan kunci dari botol plastik, selain mudah untuk dilakukan adalah adanya tren gantungan kunci di kalangan anak muda.


Proses pembuatan gantungan kunci ini dimulai dengan langkah yang cukup mudah. Pertama, saya mengumpulkan beberapa botol plastik bekas, lalu mencucinya hingga benar-benar bersih dan mengeringkannya. Setelah itu, bagian bawah botol dipotong secara hati-hati, kemudian dibentuk menyerupai kelopak bunga. Agar meningkatkan nilai estetikanya, potongan plastik tersebut diwarnai menggunakan cat akrilik dengan warna yang menarik. Saya juga menambahkan aksen manik-manik berwarna di bagian tengahnya menggunakan lem tembak agar tampilannya lebih menarik. Langkah terakhir adalah melubangi bagian ujung plastik dan merangkainya bersama gantungan besi atau tali.



Melalui eksperimen sederhana ini, saya menyadari bahwa permasalahan sampah anorganik sebenarnya dapat diurai secara perlahan jika kita mau mengubah cara pandang kita terhadap barang bekas. Botol plastik yang semula dianggap sebagai sampah kotor di sudut rumah, kini berhasil diubah menjadi gantungan kunci yang bernilai ekonomis. Kegiatan ini tidak hanya mengasah kreativitas dan inovasi, tetapi juga memberikan kepuasan diri karena mampu berkontribusi langsung dalam menjaga kelestarian alam, dimulai dari langkah kecil di lingkungan rumah kita sendiri.



Sabtu, 27 Juni 2026

ESSAY 6 - EKSPERIMEN SAMPAH ORGANIK

 Berliana Adinda Putri Wiyanto

24310410216

Psikologi Lingkungan B

Tugas Essay 6

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi Yogyakarta



Eksperimen Sampah Organik

Pada hari Minggu tanggal 17 Mei 2026 pukul 09.00  hingga 11.00 WIB, saya bersama rekan mahasiswa berkunjung ke rumah Ibu Arundati Sinta selaku dosen yang mengampu mata kuliah psikologi lingkungan. Disana, kami belajar cara untuk mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti kompos, sabun cair, dan eco enzym. Untuk mendukung kegiatan pembelajaran tersebut, setiap mahasiswa diminta untuk membawa satu makanan berbungkus daun pisang dan satu makanan berbungkus plastik. Ketika sampai di rumah dosen, kami harus menghabiskan makanan yang kami bawa sebagai bentuk tanggung jawab sebagai mahasiswa psikologi dan langkah awal dalam menjaga lingkungan.

Hingga saat ini, sampah masih menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang seringkali dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian besar dari masyarakat masih menganggap sampah sebagai benda yang sudah tidak memiliki nilai sehingga hanya dibuang begitu. Padahal, dengan pengelolaan dengan benar, banyak jenis sampah dapat diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai guna hingga nilai jual. Maka dari itu, pada kegiatan kunjungan dosen kali ini, saya belajar bagaimana cara pengolahan sampah yang baik hingga dapat diolah menjadi kompos, sabun cair, dan eco enzyme.

Kegiatan diawali dengan menghabiskan makanan yang telah dibawa setiap mahasiswa sambil dosen memberikan penjelasan mengenai jenis-jenis sampah serta cara pengolahannya. Setelahnya, bungkus makanan dipilah secara terpisah antara bungkus daun pisang dan bungkus plastik. Dosen menjelaskan bahwa sampah dibagi menjadi beberapa macam. Ada sampah anorganik seperti plastik yang akan dicuci bersih dan dipilah kembali untuk disetorkan kepada bank sampah. Selain itu, ada juga sampah organik, seperti daun kering, sisa sayuran, dan kulit buah, dapat dimanfaatkan menjadi kompos maupun eco enzyme.  Selain dari sampah sampah tersebut, ternyata minyak jelantah yang biasanya dibuang setelah digunakan memasak ternyata masih dapat diolah menjadi sabun cair yang bermanfaat untuk keperluan rumah tangga. 

Dalam kegiatan tersebut, kami dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama melakukan kegiatan praktek membuat kompos dari sampah organik. Mahasiswa diminta mengumpulkan berbagai bahan seperti daun kering, rumput, dan sisa sayuran yang ada di sekitar rumah dosen. Semua bahan kemudian dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil agar proses penguraian berlangsung lebih cepat. Setelah itu, sampah organik yang telah dipotong kecil-kecil dimasukkan ke dalam wadah kompos dan dicampurkan dengan tanah, kapur tani, POC, molase, dedak, dan daun sirih. Setelah diaduk hingga tercampur secara rata. Setelah membuat kompos, kami juga lanjut memanen kompos yang sudah disimpan selama beberapa minggu.

Kelompok kedua adalah praktek membuat eco enzyme. Bahan yang digunakan cukup sederhana, yaitu 90 gram gula merah, 270 gram kulit buah, dan 900 gram air matang (perbandingan 1 : 3 : 10). Gula merah direbus dengan 450 gram air. Setelah itu, semua bahan dimasukkan ke dalam jerigen lalu memasukan sisa air 450 gram ke jerigen. Jangan lupa untuk menyiapkan satu botol plastik berisi air yang sudah ada selang kecil kemudian hubungkan selang itu dengan corong jerigen, hal itu untuk mengantisipasi cairan eco enzym yang meledak karena akan menghasilkan gas yang besar. Cairan eco enzym yang sudah selesai akan difermentasi selama beberapa bulan hingga menghasilkan cairan eco enzyme. Cairan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pembersih alami, pupuk cair, bahkan sebagai penghilang bau. Melalui kegiatan ini kita belajar bahwa sampah organik dapat diolah menjadi produk yang ramah lingkungan dan memiliki banyak kegunaan jika diproses dengan benar.

Sementara itu, kelompok ketiga melakukan praktek membuat sabun eco enzym. Sabun dibuat dengan mencampurkan mess (metyl etyl sulfonat), garam industri, EDTA, Aminon, gliserin, sedikit pewarna dan air. Semua bahan dicampurkan ke dalam cairan mess yang sudah diaduk-aduk bersama air mendidih dengan cairan garam yang dimasukkan paling akhir lalu didiamkan semalaman. Cairan mess yang sudah dingin ditambah dengan cairan eco enzym fermentasi kedua yang sudah disaring dan ditambah aroma jeruk. Terakhir, dibagi ke dalam botol botol kecil untuk dikemas.

Kegiatan kunjungan ke rumah dosen untuk belajar pengolahan sama organik memberikan pengalaman yang bermanfaat. Saya sebagai mahasiswa tidak hanya mempelajari teori saja, tetapi juga terlibat langsung dalam setiap tahap pengolahan sampah yang baik. Menurut saya, kegiatan praktik pengolahan sampah di rumah dosen ini memberikan banyak manfaat. Selain menambah pengetahuan, kegiatan ini juga mengajarkan pentingnya memanfaatkan limbah rumah tangga agar tidak langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir. Produk yang dihasilkan, seperti kompos, sabun cair, dan eco enzyme, dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus mengurangi pencemaran. Kegiatan sederhana ini ternyata bisa memiliki dampak yang besar dalam proses untuk menjaga lingkungan. Dengan lingkungan yang bersih dan sehat, kita juga telah membantu untuk menjaga masyarakat dari paparan berbagai penyakit.


Jumat, 26 Juni 2026

ESSAY 7 - BELAJAR DI TPST RANDU ALAS

 Berliana Adinda Putri Wiyanto

24310410216

Psikologi Lingkungan B

Tugas Essay 7

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi Yogyakarta


Kunjungan Observasi di TPST Randu Alas



Pada hari Sabtu tanggal 2 Mei 2026, saya mengikuti kegiatan observasi dalam rangka perkuliahan Psikologi Lingkungan di TPST Randu Alas. TPST Randu Alas beralamat di Dusun Candi Karang, Kelurahan Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 09.00 sampai dengan pukul 11.00 WIB. Kegiatan observasi ini dilakukan untuk pemenuhan tugas psikologi lingkungan dan bertujuan untuk meningkatkan ilmu pemahaman tentang bagaimana cara mengelola sampah secara langsung di lingkungan warga. Selama kegiatan kunjungan ini, kami para mahasiswa dipandu oleh Pak Joko dimana beliau merupakan salah satu pengelola TPST Randu Alas. Beliau menjelaskan secara rinci tentang proses pengolahan berbagai sampah yang ada di sana dan sejarah terbentuknya tempat pengelolaan sampah tersebut.

TPST Randu Alas diurus oleh sekitar sepuluh orang pekerja yang setiap hari bekerja mengelola sampah dari warga sekitar. Setiap sampah yang masuk akan dipilah dan dipisahkan terlebih dahulu sesuai dengan jenisnya, misalnya plastik, kertas, botol, hingga sampah organik. Proses ini sangat penting karena dapat meningkatkan nilai ekonomi dari sampah dan membantu proses pengolahan selanjutnya agar menjadi lebih mudah. Untuk mendukung proses pengelolaan sampah tersebut, terdapat beberapa fasilitas dan mesin yang bisa digunakan, seperti area untuk memilah sampah, mesin penghancur, mesin penekan, alat timbang, dan lokasi pembakaran sampah yang tersisa.

Selain itu, di TPST Randu Alas, ada penggunaan air lindi yaitu cairan yang berasal dari pembusukan sampah organik. Bau air lindi sangat menyengat. Namun, air lindi yang dihasilkan oleh sampah organik tidak langsung dibuang. Air lindi tersebut diolah menjadi eco lindi dengan mencampurkan air lindi, molase atau tetes tebu, katalis organik, dan asam sulfat. Eco lindi ini bisa digunakan untuk menghilangkan bau dan membantu mempercepat pembusukan sampah organik. 

Kepedulian Pak Joko terhadap masalah sampah dimulai dari kondisi lingkungan di tempat ia tinggal pada tahun 2010 dimana saat itu banyak masyarakat yang terjangkit penyakit demam berdarah. Puncaknya pada tahun 2013, dimana 13 orang warga termasuk anaknya sendiri, terjangkit demam berdarah. Pengalaman itu memberi motivasi kepada Pak Joko agar mencari cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah sampah di sekitar rumahnya. Sejak itulah, Pak Joko mulai aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan lingkungan hingga berdirilah TPST Randu Alas dan terus berkembang sampai tahun 2015, di mana TPST Randu Alas mendapatkan bantuan dana hingga ratusan juta rupiah untuk meningkatkan fasilitas pengelolaan sampah menjadi lebih modern sehingga proses pengolahan yang sampah jadi lebih baik dan lebih cepat. Selain menjaga kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah di TPST Randu Alas juga memberikan nilai ekonomi dengan mengirimkan 1,5 hingga 3 ton sampah yang sudah tidak dapat didaur ulang untuk bahan bakar alternatif untuk pabrik semen di Cilacap. Hal itu dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi pengurusnya.

Dari kunjungan observasi ini, saya mendapatkan banyak pelajaran yang berguna. Saya mulai sadar bahwa mengelola sampah bisa dimulai dari hal kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya dan mulai belajar memilah sampah. Kebiasaan sederhana tersebut bisa berdampak besar jika diterapkan secara terus-menerus oleh semua orang dalam masyarakat dan membuat kita lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah bisa jadi sumber manfaat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebab itu, diperlukan kerja sama yang lebih baik antara pemerintah dan masyarakat dalam mendukung pengelolaan sampah yang tepat. Program pembelajaran tentang pentingnya memilah sampah dan menerapkan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) harus terus ditingkatkan. Selain itu, dibutuhkan dukungan teknologi dan pelatihan untuk para pengelola agar sistem pengelolaan sampah dapat berjalan lebih baik.

TPST Randu Alas menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan sampah bisa berhasil jika adanya dukungan oleh masyarakat dan pemerintah. Dengan kreativitas, inovasi, dan kemauan, sampah bisa diubah dari penyebab masalah lingkungan menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai bagi kehidupan dan orang orang di sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab yang harus dilakukan bersama, langkah awal yang penting dimulai dari diri kita sendiri.

Kamis, 25 Juni 2026

ESSAY 8: MELAKUKAN UPCYCLING SAMPAH ANORGANIK DAN MERINTIS SEBAGAI PENGUSAHA EKONOMI SIRKULER

Nama : Wulan Rahmawati

NIM : 24310410236

Kelas     : B/ Karyawan

Bulan/Tahun Terbit: Juni 2026

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Tugas  : Essay 8 melakukan upcycling sampah anorganik dan merintis sebagai pengusaha ekonomi sirkuler


Langkah Awal Merintis Usaha Ekonomi Sirkuler

Melalui Upcycling Sampah Anorganik

Link IG Promosi Produk Upcycling: https://www.instagram.com/p/DaAyazozqGe/?igsh=MWFmYXg5ajZ3bWk2bA==

Permasalahan akibat sampah anorganik kian marak terjadi di lingkungan sekitar kita karena dianggap sebagai barang yang tidak berguna, sulit terurai dan hanya akan menumpuk di tempat sampah. Berdasar beberapa hal tersebut saya ingin membuat upcycling dari produk sampah anorganik yang biasa ada di rumah kita. Upcycling merupakan proses mengubah sampah atau barang bekas menjadi produk baru yang lebih bernilai dengan mengandalkan kreativitas dan ketekunan kita. Upcycling selain menjadi sarana mengurangi penumpukan sampah yang ada di rumah kita juga dapat digunakan sebagai peluang membuka bisnis dalam ekonomi sirkuler. Ekonomi sirkuler yaitu sistem ekonomi yang memaksimalkan penggunaan kembali sumber daya untuk mengurangi limbah dan memiliki nilai jual.

Agar dapat merintis sebagai pengusaha muda yang bergerak di bidang ekonomi sirkuler saya akan memanfaatkan barang-barang yang ada di dalam rumah. Untuk produk yang akan saya jadikan sebagai produk upcycling yaitu sebuah celengan atau tabungan unik yang bisa kita gunakan sehari-hari. Prosesnya mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja dengan alat dan bahan sederhana. Bahan utama yang digunakan yaitu dari produk sampah anorganik yaitu botol air minum kemasan ukuran besar, kardus bekas dan kertas bekas.

Berikut merupakan proses kreatif yang saya lakukan untuk membuat celengan upcycling:

  1. Menyiapkan Alat dan Bahan: Alat yang saya gunakan yaitu gunting, lem, krayon warna, dan spidol warna. Untuk bahan upcycling saya menggunakan kertas bekas, kardus bekas, dan botol air mineral ukuran besar.

Alat dan bahan yang digunakan

  1. Sentuhan Seni pada Kertas: Sebelum dirakit saya menggambar dan mewarnai kertas bekas ukuran A4 menggunakan krayon dan spidol. Pada proses ini penting untuk memberikan nilai seni dan estetika agar celengan terlihat menarik.

Sentuhan seni dengan memanfaatkan kertas bekas

  1. Menyiapkan pola: Membuat pola pada botol mineral lalu melubangi bagian atasnya. Sisakan hanya bagian badan botol sebagai wadah utama celengan.

Menyiapkan pola

  1. Membuat Alas dan Tutup: Kardus bekas digunting menjadi dua bagian berbentuk bulat. Dua bulatan kardus ini nantinya berfungsi sebagai alas dan tutup celengan agar strukturnya kokoh. Setelah itu menghiasnya dengan dilapisi potongan kertas berbentuk bulat yang sudah dihias sebelumnya.

Membuat alas dan tutup lalu menghiasnya

  1. Perakitan Akhir: Selanjutnya merekatkan badan botol dengan kertas A4 yang sudah diberi gambar dan warna menggunakan lem. Bagian alas dan tutup dari kardus juga direkatkan dengan kuat di ujung botol. Pastikan semua bagian menempel dengan rapi dan tidak lupa membuat lubang untuk memasukkan uang ke dalam celengan.

Saya memulai membuat produk upcycling ini pada tanggal 22 Juni 2026 dan pada prosesnya saya menghadapi beberapa hambatan. Hambatan yang pertama yaitu bahan bekas yang digunakan bentuknya tidak rapi sehingga perlu waktu untuk memotong dan menyesuaikan ukurannya. Hambatan kedua yang saya alami saat menempelkan kertas pada botol dan kardus perlu lem berulang kali agar menempel dengan kuat serta saat proses menggambar dan mewarnai butuh proses ketelitian agar produk terlihat rapi dan estetik. Cara saya mengatasinya yaitu dengan lebih sabar dan berhati-hati baik dalam mengukur ataupun menghiasnya. 

Setelah produk upcycling berupa celengan sudah jadi dan terlihat estetik langkah selanjutnya yang saya lakukan yaitu mempromosikannya. Saya melakukan pemasaran menggunakan media sosial saya yaitu instagram. Saya membuat postingan dengan menampilkan foto dan harga celengan upcycling dan menjelaskan dengan menarik produk tersebut. Saya juga menyertakan pesan edukatif makna dan manfaat upcycling dan ekonomi sirkuler agar menjadi sarana edukasi untuk masyarakat. Untuk produk yang saya pasarkan saat ini belum terjual tetapi saya sudah membagikan link promosinya kepada teman dan keluarga. Respon mereka cukup baik karena melihat tampilan yang menarik dan ide yang kreatif. Harapannya merintis usaha berbasis upcycling memiliki manfaat selain mengurangi sampah yang menumpuk juga bisa membuka peluang usaha ekonomi sirkuler yang memberi dampak positif bagi lingkungan kita.

ESSAY 9: NASABAH BANK SAMPAH

 ESSAY 9: NASABAH BANK SAMPAH

Nama : Wulan Rahmawati

NIM : 24310410236

Kelas   : B/ Karyawan

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Tugas  : Essay 9 Nasabah Bank Sampah

Bulan/Tahun Terbit: Juni 2026

Belajar Bertanggung jawab akan Sampah dengan Menjadi Nasabah Bank Sampah di Bumiku Lestari Sleman

Sampah plastik dan kardus yang seringkali dianggap masalah kini bisa diatasi dengan menjadi nasabah bank sampah sekaligus bisa menjadi sumber ekonomi. Saya mulai belajar mengelola sampah dengan menjadi nasabah bank sampah di daerah jalan Damai Sleman bernama “Bumiku Lestari”. Pelayanan yang dilakukan petugas bank sampah Bumiku Lestari sangatlah interaktif dan ramah. Disana petugas menjelaskan proses dalam menjadi nasabah bank sampah dari mulai pendaftaran hingga laporan hasil tabungan. 

Photo saya saat menurunkan galon dibantu oleh petugas bank sampah

Untuk buku tabungan di bank sampah Bumiku Lestari sistemnya dengan menggunakan digital sehingga kita tidak langsung mendapat buku secara fisik. Semua data tabungan akan tercatat di sistem komputer dan kita akan dikirimkan bukti tabungannya melalui whatsApp. Hal ini bisa menjadi solusi dalam bijak menggunakan kertas dan mengandalkan digital untuk mengurangi sampah.

Bukti buku tabungan pertama dikirim melalui whatsApp
tertulis setoran galon le minerale Rp 3.200

Pengalaman pertama saya menabung di bank sampah pada tanggal 23 juni 2026 sekitar pukul 16.00 dengan membawa delapan galon plastik kosong. Galon plastik termasuk jenis sampah plastik yang punya nilai jual karena bisa didaur ulang menjadi produk baru. Petugas bank sampah menimbang galon saya dan tercatat berat totalnya 8 kilogram untuk 8 galon yang saya bawa. Kemudian dihitung untuk tarif pembelian galon plastik per kilogram sekitar Rp 400, sehingga saya menerima uang sebesar Rp 3.200. Uang yang saya terima langsung tercatat sebagai saldo di buku tabungan bank sampah. Tabungan sampah pertama ini membuat saya sadar bahwa benda yang sebelumnya saya anggap biasa saja ternyata memiliki nilai guna dan memiliki nilai ekonomi.

Proses menimbang kardus dibantu oleh petugas bank sampah

Selanjutnya saya kembali menabung di bank sampah Bumiku Lestari dengan membawa kardus bekas atau duplex pada tanggal 24 juni 2026 jam 15.30 ketika cuaca hujan di daerah Sleman. Pada menabung yang kedua saya membawa kardus dengan berat setelah ditimbang masing-masing 0,1 kg untuk kertas duplex dan tertulis pet kotor di buku tabungan. Untuk uang yang didapat dengan menabung kardus yaitu Rp 190 karena memang belum terlalu banyak kardus yang bisa dibawa. Sehingga jika dijumlahkan total uang yang didapat dalam dua kali menabung yaitu Rp 3.390. Untuk selanjutnya saya akan lebih giat lagi dalam mengumpulkan kardus tidak terpakai yang ada di gudang rumah agar bisa kita tabung di bank sampah.

Bukti menabung kedua di bank sampah berupa duplex dan pet kotor B2C

Setoran hari ini senilai Rp 190 dan total saldo tabungan senilai Rp 3.390

Pada proses menabung di bank sampah saya tidak hanya belajar menimbang ataupun menerima uang saja. Saya belajar dari mulai pemilahan sampah sebelum dibawa, saya diajarkan cara mencuci dan membersihkan galon dan melipat kardus agar rapi ketika dibawa. Petugas dengan ramah memberikan edukasi jenis sampah anorganik apa saja yang bisa dijual di bank sampah dan bernilai jual tinggi. Selanjutnya saya juga diajarkan untuk memilah sampah organik dan anorganik yang ada di rumah sehingga membantu saya dalam mengelola sampah di rumah. 

Secara keseluruhan pengalaman saya menjadi bank sampah bisa membuat saya belajar peduli dan bertanggung jawab dalam mengelola sampah setiap harinya. Sampah yang kita anggap biasa saja ternyata dengan menjadi nasabah bank sampah mempunyai nilai secara ekonomis. Harapannya semua masyarakat bisa mendapat sosialisasi dan bijak dalam mengelola sampah. Perubahan kecil yang bisa kita lakukan akan berdampak besar bagi lingkungan kita.