Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Senin, 08 Juni 2026

Essai 6 - Eksperimen tentang Sampah

 

Belajar Mengolah Sampah Organik Menjadi Eco Enzyme di Rumah

Pingkan Winahyuningtyas

24310410234

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 6

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 

Pengelolaan sampah tidak hanya dapat dilakukan dengan memilah dan mendaur ulang sampah anorganik, tetapi juga dengan memanfaatkan sampah organik menjadi produk yang berguna. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membuat eco enzyme. Eco enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah yang dicampur dengan gula dan air. Cairan ini memiliki banyak manfaat, mulai dari pembersih alami, pupuk organik cair, penghilang bau, hingga membantu menjaga kebersihan lingkungan.

Pada hari Minggu, 31 Mei 2026 yang lalu, saya tidak dapat mengikuti kegiatan pembuatan eco enzyme yang dilaksanakan di rumah Ibu Dr.Arundati Shinta M.A. selaku dosen mata kuliah psikologi lingkungan, okeh karena itu saya memutuskan untuk melakukan eksperimen pembuatan eco enzyme sendiri di rumah bersama ibu dan seorang teman. Kegiatan ini menjadi pengalaman baru yang sangat berkesan karena saya dapat belajar secara langsung bagaimana mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Tujuan pembuatan eco enzyme adalah mengurangi jumlah sampah organik yang berakhir di tempat pembuangan sampah serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Selain itu, kegiatan ini juga mengajarkan bahwa limbah rumah tangga masih dapat dimanfaatkan kembali sehingga mendukung gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Pengetahuan mengenai pengelolaan sampah seperti ini penting diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dunia kerja.

Saya mengajak seorang teman untuk mengikuti kegiatan ini karena ia sangat tertarik dengan proses pembuatan eco enzyme. Bahkan, sejak awal ia sudah berencana untuk memanfaatkan hasil panen eco enzyme ketika proses fermentasi selesai. Antusiasmenya membuat kegiatan ini menjadi lebih menyenangkan karena kami dapat belajar bersama mengenai pengelolaan sampah organik.

Kegiatan pembuatan eco enzyme kami lakukan pada hari minggu, 24 Mei 2026, pukul 18.00 WIB setelah saya pulang bekerja. Sebelum memulai, kami menyiapkan seluruh alat dan bahan yang diperlukan, diantaranya galon ukuran 15L, pisau, telenan, botol 1.500ml, selang , kompor, panci, wadah besar, 9 liter air, 900 gram gula merah, dan 2,7 kilogram kulit buah segar. Pembuatan eco enzyme menggunakan perbandingan bahan 1 : 3 : 10, yaitu 1 bagian gula, 3 bagian sampah organik, dan 10 bagian air.

Kulit buah yang digunakan harus dalam kondisi segar dan tidak boleh busuk agar proses fermentasi berjalan dengan baik. Pada kegiatan ini kami menggunakan berbagai jenis kulit buah, seperti kulit jeruk, jambu, nanas, dan apel.

Langkah pertama yang dilakukan adalah menimbang gula merah, kemudian merajangnya menjadi potongan kecil agar lebih mudah larut. Setelah itu, gula direbus bersama 4,5 liter air hingga larut sempurna. Larutan gula yang telah dingin kemudian dimasukkan ke dalam galon yang sudah dibersihkan sebelumnya.

Selanjutnya, kulit buah dirajang menjadi potongan kecil agar proses fermentasi berlangsung lebih optimal. Setelah ditimbang sesuai kebutuhan, kulit buah dimasukkan ke dalam galon yang berisi larutan gula. Kemudian kami menambahkan sisa 4,5 liter air ke dalam galon hingga seluruh bahan tercampur dengan baik.

Untuk mengantisipasi gas yang dihasilkan selama proses fermentasi, kami menyiapkan sebuah botol plastik berukuran 1.500 ml yang telah dipasang selang kecil. Botol tersebut diisi air mentah, lalu ujung selang dimasukkan ke dalam air. Alat sederhana ini berfungsi sebagai saluran pembuangan gas sehingga tekanan di dalam galon tidak berlebihan dan wadah fermentasi tidak berisiko meledak.

Setelah semua proses selesai, galon ditutup rapat dan disimpan di tempat yang teduh. Proses fermentasi eco enzyme membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Agar tidak lupa, saya menuliskan informasi mengenai tanggal pembuatan dan jadwal panen pada sebuah label yang kemudian ditempel pada galon. Berdasarkan perhitungan tersebut, eco enzyme yang kami buat dapat dipanen pada tanggal 24 Agustus 2026.

Melalui kegiatan ini, saya memperoleh banyak pelajaran berharga. Saya menjadi lebih memahami bahwa sampah organik yang sering dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi produk yang memiliki banyak manfaat. Selain membantu mengurangi jumlah sampah rumah tangga, pembuatan eco enzyme juga mengajarkan pentingnya kesabaran, ketelitian, dan kepedulian terhadap lingkungan. Pengalaman pertama membuat eco enzyme ini memberikan kesadaran bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan dari rumah sendiri dengan mengajak keluarga dan orang- orang terdekat.

Dengan memanfaatkan sampah organik menjadi eco enzyme, kita tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga menghasilkan produk yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata penerapan gaya hidup ramah lingkungan yang dapat dilakukan oleh siapa saja.

ESSAI VI- MENGOLAH SAMPAH MENJADI KOMPOS, SABUN CAIR, DAN ECO ENZYM

Pengalaman Mengolah Sampah Menjadi Kompos, Sabuin Cair Dan Eco Enzyme Di Rumah Dosen 

Kinanthi Kembang Asmoro

24310410224

ESSAI VI

Dosen pengampu Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta





Sampah merupakan salah satu masalah lingkungan yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang masih menganggap sampah sebagai barang yang tidak berguna dan harus segera dibuang. Padahal, jika dikelola dengan baik, sampah dapat diolah menjadi berbagai produk yang bermanfaat. Untuk menambah pemahaman mengenai pengelolaan sampah, saya mengikuti kegiatan eksperimen mengolah sampah menjadi kompos, sabun cair, dan eco enzyme yang dilaksanakan di rumah dosen. Kegiatan ini diawali dengan penjelasan mengenai jenis-jenis sampah dan cara pengolahannya. Dosen menjelaskan bahwa sampah organik seperti sisa sayuran, daun kering, dan kulit buah dapat diolah menjadi kompos maupun eco enzyme. Selain itu, minyak jelantah yang biasanya dibuang juga dapat dimanfaatkan menjadi sabun cair yang berguna untuk kebutuhan rumah tangga. Penjelasan tersebut membuat saya menyadari bahwa banyak limbah rumah tangga yang sebenarnya masih memiliki nilai manfaat.
Eksperimen pertama adalah membuat kompos dari sampah organik. Kami mengumpulkan daun kering, rumput, dan sisa sayuran yang ada di sekitar rumah dosen. Bahan-bahan tersebut dicacah menjadi ukuran yang lebih kecil agar proses penguraian berlangsung lebih cepat. Setelah itu, sampah organik dimasukkan ke dalam wadah kompos dan dicampur dengan tanah. Dari kegiatan ini saya belajar bahwa proses pembuatan kompos membutuhkan kesabaran karena memerlukan waktu beberapa minggu hingga sampah benar-benar terurai menjadi pupuk yang siap digunakan. Eksperimen kedua adalah membuat sabun cair dari minyak jelantah. Sebelum diolah, minyak bekas terlebih dahulu disaring untuk menghilangkan kotoran. Selanjutnya minyak dicampur dengan bahan-bahan lain sesuai petunjuk yang diberikan dosen. Saya merasa kagum karena minyak yang biasanya dibuang ternyata dapat diubah menjadi produk yang berguna. Kegiatan ini mengajarkan bahwa limbah tidak selalu menjadi masalah jika kita memiliki kreativitas untuk mengolahnya.
Eksperimen terakhir adalah membuat eco enzyme dari kulit buah, gula merah, dan air. Semua bahan dicampur dalam wadah tertutup dan kemudian difermentasi dalam jangka waktu tertentu. Eco enzyme yang dihasilkan nantinya dapat digunakan sebagai pembersih alami dan pupuk cair. Dari kegiatan ini saya memahami bahwa sampah organik memiliki banyak manfaat jika diproses dengan benar. Melalui ketiga eksperimen tersebut, saya memperoleh pengalaman yang sangat berharga. Saya tidak hanya memahami teori mengenai pengelolaan sampah, tetapi juga melihat dan mempraktikkan langsung proses pengolahannya. Kegiatan ini membuat saya lebih peduli terhadap lingkungan dan lebih bijak dalam memperlakukan sampah rumah tangga.
Menurut saya, kegiatan mengolah sampah di rumah dosen sangat bermanfaat karena memberikan wawasan baru tentang pentingnya menjaga lingkungan. Selain dapat mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, kegiatan ini juga menghasilkan produk yang memiliki nilai guna. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga dapat membantu kebutuhan sehari-hari.
Sebagai kesimpulan, eksperimen mengolah sampah menjadi kompos, sabun cair, dan eco enzyme memberikan pengalaman belajar yang menarik dan bermanfaat. Kegiatan ini mengajarkan bahwa sampah bukan sekadar limbah, tetapi dapat diubah menjadi sesuatu yang berguna melalui kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan. Saya berharap kebiasaan mengelola sampah seperti ini dapat diterapkan oleh lebih banyak orang agar lingkungan menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman untuk ditinggali.


Esai 5-Eksperimen anorganik di rumah dosen

 Nama : Banun Havifah Cahyo Khosiyono

NIM : 24310440002

Kelas : B

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.


Mengubah Keresahan Menjadi Berkah: Seni Upcycling Sampah Anorganik di Rumah Dosen



Jujur saja, akhir-akhir ini kepala saya rasanya mau pecah setiap kali melihat tumpukan sampah anorganik di sudut ruangan. Masalahnya klasik, tapi sangat menjebak: botol plastik bekas, kaleng tebal, hingga sisa kain perca seolah-olah selalu mengikuti ke mana pun saya pergi. Saya berada di titik yang sangat membingungkan; tahu bahwa membuangnya sembarangan itu merusak bumi, tetapi saya benar-benar buntu dan tidak tahu cara memperlakukannya secara ramah lingkungan agar barang-barang mati ini tidak sekadar berakhir di TPA. Keresahan mendalam inilah yang akhirnya membawa saya melangkah ke rumah dosen pengampu saya untuk melakukan sebuah eksperimen nyata yang membuka mata.


Tujuan utama saya datang ke rumah dosen hari itu bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban kuliah menjelang ujian akhir, melainkan agar saya benar-benar terampil melakukan upcycling dengan sampah anorganik yang selama ini menghantui saya. Di bawah bimbingan beliau yang penuh kesabaran, atmosfer rumah dosen yang tenang seketika berubah menjadi laboratorium kreativitas yang seru. Kami sepakat untuk menyulap barang-barang tak terpakai tersebut menjadi produk yang fungsional dan memiliki nilai estetika tinggi. Fokus eksperimen kami hari itu terbagi ke dalam beberapa produk kreatif, mulai dari pembuatan gantungan kunci unik dari tutup botol, hingga melelehkan sisa lilin lama untuk dicetak kembali menjadi lilin aromaterapi baru menggunakan wadah kaleng bekas yang estetik.


Tidak berhenti di situ, tantangan kreativitas saya semakin diuji saat kami mulai mengolah limbah plastik tebal menjadi piring cantik penampung aksesori, serta merangkai parcel beserta bungkusnya yang seluruhnya memanfaatkan anyaman plastik kemasan bekas dan kain perca. Proses menyablon, memotong, dan mengelem ini benar-benar memicu adrenalin inovasi saya. Saya belajar bahwa upcycling membutuhkan ketekunan psikologis dan pemecahan masalah yang matang di setiap tahapannya.


Melihat hasil akhir dari gantungan kunci, lilin aromaterapi, piring cantik, hingga parcel yang tampak sangat elegan, ada rasa lega dan kepuasan batin yang luar biasa di dalam diri saya. Eksperimen di rumah dosen ini berhasil menyembuhkan kebingungan saya dan membuktikan bahwa sampah anorganik tidak harus menjadi musuh yang menakutkan jika kita mau mengasah keterampilan inovasi. Menulis esai ini  menjadi pengingat berharga bagi saya bahwa langkah ramah lingkungan selalu bisa dimulai dari mengubah cara pandang kita terhadap barang yang dianggap sudah habis nilainya.


Minggu, 07 Juni 2026

ESAI 5 EKSPERIMEN KE -2 DI RUMAH DOSEN PENGELOLAAN SAMPAH ANORGANIK

 

Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Esai  5

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 

 

EKSPERIMEN DI RUMAH DOSEN : PENGELOLAAN SAMPAH ANORGANIK MELALUI UPCYCLING

Lokasi Kegiatan : Kediaman Ibu Dr. Arundati Shinta M.A.

Tanggal              : 31 Mei 2026

Pukul                  :  09.00 Wib  s/d 12.00  Wib

Peserta               : Mahasiswa Psikologi dalam mata kuliah Psikologi Lingkungan

 

Pada hari minggu, saya dan temna-teman lainnya yang mengambil mata kuliah psikologi lingkungan, kembali mengadakan eksperimen di kediaman dosen kami Ibu Arundati Shinta. Kegiatan eksperimen yang kedua kalinya ini (sesuai jadwal kegiatan), untuk mengikuti kegiatan praktik pengelolaan sampah anorganik yang dilaksanakan di rumah dosen. Kegiatan berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga sekitar pukul 12.00 WIB. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pengalaman langsung kepada kami, tentang pemanfaatan kembali sampah anorganik menjadi barang yang bernilai guna dan bernilai ekonomi.

Dalam kegiatan tersebut, ada sekitar 7 orang Mahasiswa yang hadir dan 2 orang ibu-ibu yang juga ikut belajar dalam pengelolaan sampah anorganik. Keeudian kami dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama bertugas menghias piring kaca bekas dan paper bag dari kertas. Pada proses menghias piring, mahasiswa menggunakan kain batik atau kain bermotif lainnya yang sudah tidak dipakai sebagai bahan utama dekorasi. Kain tersebut ditempelkan pada permukaan piring menggunakan lem, kemudian dijemur hingga kering. Setelah itu, piring kembali dilapisi lem dan kain tambahan agar hasilnya lebih rapi dan kuat. Tahapan ini dilakukan sebanyak 2 x kemudian sisa kain yang tidak menempel dipiring digunting mengikuti pola pinggiran piring agar terlihat rapi, sehingga menghasilkan kerajinan yang menarik dan memiliki nilai seni.

Selain menghias piring, kelompok pertama juga menghias paper bag kertas menggunakan cat air. kami diberi kebebasan untuk berkreasi dan mengekspresikan ide melalui berbagai gambar, warna, dan motif sesuai dengan imajinasi masing-masing. Kegiatan ini sangat menyenangkan karena kami menuangkan ekspresi melalui gambar.

Sementara itu, kelompok kedua membuat gantungan kunci dari bahan-bahan bekas, seperti tali masker yang sudah tidak digunakan serta tali-tali sisa. Dengan kreativitas yang dimiliki, kami diajak oleh dosen kami untuk mengubah bahan yang awalnya dianggap tidak berguna menjadi gantungan kunci dengan bentuk yang unik dan menarik.

Kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk penerapan upcycling, yaitu proses mengolah kembali barang-barang bekas menjadi produk baru yang memiliki nilai guna, nilai seni, dan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Melalui kegiatan ini, kami diajarkan untuk melihat sampah bukan hanya sebagai bahan sisa yang harus dibuang, melainkan sebagai barang yang masih dapat dimanfaatkan secara kreatif. Berbagai bahan bekas, seperti piring kaca, kertas yang digunakan untuk membuat paper bag, kain sisa, masker bekas, dan tali-tali bekas dimanfaatkan kembali menjadi produk yang menarik dan bermanfaat.

Apabila melihat dari perspektif Psikologi Lingkungan, kegiatan ini memberikan pengalaman langsung yang dapat meningkatkan kesadaran seseorang / individu terhadap pentingnya menjaga lingkungan melalui tindakan nyata. Kami sebagai mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga keterampilan praktis dalam mengelola sampah secara kreatif. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran yang efektif dalam menumbuhkan kreativitas, kepedulian lingkungan, dan tanggung jawab sosial. Selain membantu mengurangi jumlah sampah, kegiatan ini juga menunjukkan bahwa barang-barang bekas/ bahan sisa pakai dapat diubah menjadi produk yang bernilai guna, nilai seni dan nilai ekonomi, dan tentunya menciptakan lingkungan yang bersih secara berkelanjutan.

Selasa, 02 Juni 2026

Essai 9 - Nasabah Bank Sampah

 

Berkontribusi Menjadi Nasabah Bank Sampah di KUPAS Panggungharjo

 

Pingkan Winahyuningtyas

24310410234

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 9

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 

Permasalahan sampah hingga saat ini masih menjadi tantangan yang sulit diselesaikan. Setiap aktivitas manusia pasti menghasilkan sampah, baik dalam jumlah sedikit maupun banyak. Namun, yang menjadi persoalan utama bukan hanya banyaknya sampah yang dihasilkan, melainkan bagaimana sampah tersebut dikelola dengan baik dari hulu hingga hilir. Pengelolaan sampah yang tidak komprehensif serta kurangnya keterlibatan berbagai pihak sering kali menyebabkan masalah sampah terus berulang.

Kalurahan Panggungharjo, Kabupaten Bantul, menjadi salah satu contoh daerah yang berupaya mengatasi permasalahan tersebut melalui Kelompok Usaha Pengelolaan Sampah (KUPAS). KUPAS didirikan pada tahun 2013 sebagai salah satu unit usaha di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Panggungharjo. Tujuan awal pembentukannya adalah meningkatkan kebersihan lingkungan sekaligus menjaga kesehatan masyarakat melalui pengelolaan sampah berbasis konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Seiring perkembangannya, pada awal tahun 2025 pengelolaan KUPAS beralih menjadi bagian dari PT APA Plastik Indonesia (APLASINDO).

KUPAS memiliki prinsip bahwa pengelolaan sampah tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan kerja sama antara masyarakat, pengelola, dan pemerintah agar tercipta sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Selain memberikan manfaat lingkungan, keberadaan KUPAS juga mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat dan menjadi sumber pemasukan bagi desa.

Salah satu hal yang menarik dari KUPAS adalah fokusnya pada pemberdayaan masyarakat. Dalam proses perekrutan tenaga kerja, aspek sosial lebih diutamakan dibandingkan latar belakang pendidikan. KUPAS tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berkembang dan berkontribusi dalam menjaga lingkungan.

Saya sendiri menjadi nasabah Bank Sampah TPS3R KUPAS yang beralamat di Sawit, Panggungharjo, Sewon, Bantul. TPS3R KUPAS jam operasionalnya dari Senin hingga Sabtu pukul 08.00–16.00 WIB. Melalui pengalaman menjadi nasabah bank sampah, saya belajar bahwa sampah bukanlah akhir dari suatu barang, melainkan sampah masih memiliki nilai yang dapat dimanfaatkan kembali.


     

Penyetoran pertama saya lakukan pada hari Selasa tanggal 15 April 2026 pukul 10.00 WIB bersama keponakan saya menggunakan granmax pickup. Dalam penyetoran tersebut saya di sambut hangat dan oleh salah satu pengurus KUPAS yaitu Mas Isgi. Beliau membantu saya dalam proses menimbang ,menghitung jumlah limbah sampah, membuatkan nota/invoice, serta dalam melakukan pembayaran.

Dari setoran tersebut, saya menerima uang sebesar Rp34.800. Sampah yang saya setorkan cukup banyak 5 hingga 6 kantong plastik besar yang terdiri atas kertas duplek seperti dus makanan, kotak sepatu, map bekas, dus keramik dan lain-lain; badong atau karung plastik bekas pakan dan beras; arsip berupa buku, kertas HVS/ bekas tugas dan fotokopian yang sudah tidak terpakai; serta plastik PP bening bersih(plastik jenis polypropylene seperti botol air mineral, gelas plastik yang telah dipisahkan dari tutup dan labelnya sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi). Selain itu, terdapat pula badong kotor (limbah plastik besar yang belum sempat dipilah karena sudah lama tersimpan di gudang sehingga bercampur debu dan kotoran). Sampah-sampah tersebut saya peroleh dari kegiatan plogging yang masih rutin saya lakukan, serta hasil membersihkan gudang rumah dan limbah pembangunan kost milik orangtua saya.


Penyetoran kedua saya lakukan pada hari Selasa tanggal 5 Mei 2026 pukul 14.30 WIB bersama ibu saya menggunakan motor. Dari setoran ini saya memperoleh Rp13.440. Sampah yang disetorkan 2 hingga 3 kantong plastik besar yang berupa gelas/botol minum yang sudah tidak layak pakai, wadah oli bekas, beberapa botol plastik, ember plastik berwarna yang pecah,galon isi ulang yang sudah rusak, serta berbagai jenis sampah plastik lainnya.


Selanjutnya, pada hari Selasa tanggal 26 Mei 2026 jam 08.30 saya kembali melakukan penyetoran sampah sendiri menggunakan motor karena hanya 1 kantong plastik besar yang jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya, saya memperoleh Rp3.725. Sampah yang saya setorkan berupa botol sirup bekas, kardus bekas barang elektronik, aluminium seperti peralatan memasak yang sudah rusak, dan beberapa kaleng minuman dan sampah plastik lainnya.

Melalui pengalaman menjadi nasabah Bank Sampah KUPAS, saya mendapatkan banyak manfaat. Pertama, saya menjadi lebih peduli terhadap lingkungan karena terbiasa memilah sampah sejak dari rumah. Saya turut mengajak keluarga saya dalam melakukan pemilahan dan penyetoran sampah. Kedua, saya belajar bahwa sampah yang sering dianggap tidak berguna yang biasanya hanya menumpuk di gudang ternyata masih memiliki nilai ekonomi dan dapat menghasilkan uang. Ketiga, kegiatan ini membantu mengurangi jumlah sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Keempat, saya menjadi lebih bertanggung jawab dalam membeli dan mengonsumsi barang. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan pengalaman edukatif bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana dari lingkup keluarga yang dilakukan secara konsisten sehingga bisa menjadi contoh untuk oranglain atau masyarakat yang lebih luas.

Pengalaman menjadi nasabah Bank Sampah KUPAS memberikan pemahaman bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pengelola sampah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Dengan memilah dan menyetorkan sampah secara rutin, tidak hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga ikut menciptakan manfaat ekonomi dan sosial yang berkelanjutan. Dari sinilah saya belajar bahwa sampah bukan sekadar limbah, melainkan sumber daya yang masih memiliki nilai apabila dikelola dengan bijak.