Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Sabtu, 18 Juli 2026

Essai 2 : Plogging

Kegiatan Plogging Dan Pemanfaatan Sampah Melalui Bank Sampah

Sucianingsih M Rivai 

24310410209

Kelas Psikologi Lingkungan - B 

Tugas Essai 2 

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A. 

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta 

Saya melakukan kegiatan plogging selama dua kali, masing-masing selama satu jam, di dua tempat yang berbeda. Kegiatan plogging merupakan aktivitas memungut sampah sambil berjalan kaki atau berolahraga ringan. Saya memilih melakukan kegiatan ini karena masih banyak sampah plastik, terutama botol minuman, yang dibuang sembarangan di sekitar jalan dan halaman rumah warga. 

Lokasi pertama berada di lingkungan dekat rumah warga, ada di antara rumput dan semak-semak. Di tempat tersebut saya menemukan beberapa botol plastik bekas minuman yang terselip di antara rumput dan semak-semak. Sampah seperti ini sering kali tidak terlihat dari kejauhan sehingga dibiarkan menumpuk dan dapat merusak pemandangan lingkungan. Selama satu jam di lokasi pertama, saya berhasil mengumpulkan beberapa botol plastik yang masih dapat didaur ulang. 


Setelah itu, saya melanjutkan plogging di lokasi kedua, yaitu di gang pemukiman. Di sepanjang selokan dan pinggir jalan masih terdapat botol plastik yang dibuang sembarangan. Saya memungut satu per satu botol tersebut dan memasukannya ke dalam wadah yang saya bawa. Kegiatan ini membuat saya menyadari bahwa kebiasaan membuang sampah sembarangan masih sering terjadi, padahal tempat sampah sebenarnya tersedia di beberapa titik. 


Dari dua lokasi tersebut, saya memperoleh total 10 botol minuman plastik. Botol-botol tersebut kemudian saya jual ke bank sampah. Dari hasil penjualan, saya mendapatkan uang sebesar Rp 15.000, walaupun jumlahnya tidak terlalu besar, saya merasa senang karena sampah yang semula mencemari lingkungan dapat memiliki nilai ekonomi setelah dipilah dan didaur ulang. 

Kegiatan plogging ini memberikan manfaat yang cukup besar bagi saya. Selain membantu membersihkan lingkungan, saya juga belajar tentang pentingnya memilah sampah dan memanfaatkan kembali barang yang masih bisa didaur ulang. Dalam psikologi lingkungan, perilaku seperti ini termasuk pro-lingkungan, yaitu tindakan yang dilakukan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Pengalaman ini membuat saya lebih peduli terhadap kebersihan sekitar dan ingin mengajak orang lain untuk tidak membuang sampah sembarangan serta memanfaatkan bank sampah sebagai salah satu solusi pengelolaan sampah di lingkungan masyarakat. 








Jumat, 17 Juli 2026

Essai 8 sampah anorganik di olah menjadi manfaat ekonomi

PENGOLAHAN SAMPAH ANORGANIK RUMAH TANGGA MENJADI GANTUNGAN KUNCI, LILIN HIAS, DAN PARCEL RAMAH LINGKUNGAN SEBAGAI UPAYA MENDUKUNG EKONOMI SIRKULAR


Abstrak

Sampah anorganik merupakan salah satu jenis limbah rumah tangga yang sulit terurai secara alami sehingga berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Peningkatan jumlah konsumsi masyarakat menyebabkan volume sampah anorganik, seperti botol plastik, tutup botol, kaleng bekas, plastik kemasan, kardus, dan kaca, terus meningkat setiap tahunnya. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah mendaur ulang sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Artikel ini bertujuan menjelaskan proses pengolahan sampah anorganik rumah tangga menjadi gantungan kunci, lilin hias, serta parcel beserta bungkusnya. Selain menjelaskan tahapan pembuatannya, artikel ini juga menguraikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang diperoleh melalui kegiatan daur ulang. Hasil pengolahan menunjukkan bahwa sampah anorganik dapat dimanfaatkan menjadi produk kreatif yang bernilai jual sehingga mampu mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga.

Kata kunci: sampah anorganik, daur ulang, ekonomi sirkular, rumah tangga, kerajinan.


Pendahuluan

Permasalahan sampah menjadi tantangan utama dalam pengelolaan lingkungan di Indonesia. Sebagian besar sampah rumah tangga terdiri atas sampah organik dan anorganik. Berbeda dengan sampah organik yang mudah terurai, sampah anorganik membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terdegradasi secara alami. Oleh karena itu, pengelolaan sampah anorganik memerlukan pendekatan yang lebih inovatif melalui prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R).

Pemanfaatan sampah anorganik menjadi produk kerajinan merupakan salah satu bentuk implementasi ekonomi sirkular. Pendekatan ini bertujuan memperpanjang umur pakai suatu barang sehingga mengurangi jumlah limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Selain memberikan manfaat ekologis, kegiatan ini juga dapat meningkatkan kreativitas masyarakat serta membuka peluang usaha berbasis lingkungan.


Pembahasan

1. Pengolahan Sampah Anorganik Menjadi Gantungan Kunci




Gantungan kunci merupakan salah satu produk kerajinan sederhana yang dapat dibuat dari berbagai jenis sampah anorganik seperti tutup botol plastik, resin bekas, akrilik sisa, plastik kemasan, hingga potongan CD bekas.

Tahapan pembuatannya dimulai dengan mengumpulkan bahan-bahan bekas yang masih layak digunakan. Selanjutnya bahan dibersihkan menggunakan air sabun agar bebas dari kotoran dan minyak. Setelah kering, bahan dipotong sesuai bentuk yang diinginkan menggunakan gunting atau cutter.

Tahap berikutnya adalah menghias permukaan menggunakan cat akrilik, stiker bekas, kain flanel, atau potongan plastik warna-warni. Setelah desain selesai, dibuat lubang kecil menggunakan bor mini atau solder panas untuk memasang ring gantungan kunci. Selanjutnya dipasang rantai dan cincin besi sehingga produk siap digunakan.

Produk ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi karena biaya produksinya rendah, namun memiliki nilai estetika yang menarik. Selain itu, kegiatan ini mampu mengurangi jumlah sampah plastik yang sulit terurai.


2. Pengolahan Sampah Anorganik Menjadi Lilin Hias




Salah satu inovasi menarik adalah memanfaatkan wadah bekas sebagai tempat lilin hias. Gelas kaca bekas, kaleng susu, cangkir retak, dan botol kaca merupakan contoh limbah anorganik yang dapat dimanfaatkan kembali.

Langkah pertama adalah membersihkan wadah hingga benar-benar steril. Selanjutnya lilin bekas dipotong kecil-kecil kemudian dilelehkan menggunakan metode double boiler agar tidak terbakar langsung. Setelah meleleh, ditambahkan pewarna lilin dan aroma terapi sesuai kebutuhan.

Sumbu dipasang pada bagian tengah wadah menggunakan perekat tahan panas. Cairan lilin kemudian dituangkan secara perlahan hingga memenuhi wadah. Setelah mengeras selama beberapa jam, permukaan lilin dapat dihias menggunakan pita bekas, tali goni, renda, atau label dari kertas daur ulang.

Produk lilin hias memiliki fungsi sebagai dekorasi rumah, aromaterapi, maupun suvenir. Pemanfaatan wadah bekas juga mengurangi kebutuhan membeli tempat lilin baru sehingga lebih ramah lingkungan.

3. Pengolahan Sampah Anorganik Menjadi Parcel dan Bungkus Ramah Lingkungan




Parcel merupakan salah satu produk yang banyak digunakan pada hari raya, pernikahan, maupun acara resmi. Sayangnya, sebagian besar kemasan parcel hanya digunakan sekali sebelum dibuang.


Melalui konsep daur ulang, kardus bekas, plastik mika, botol plastik, kaleng, dan pita bekas dapat dimanfaatkan menjadi parcel yang menarik.


Proses pembuatannya diawali dengan memilih kardus bekas yang masih kuat. Kardus dipotong sesuai ukuran kemudian dibentuk menjadi kotak atau keranjang menggunakan lem tembak. Selanjutnya permukaan dilapisi menggunakan kertas koran, majalah bekas, atau plastik kemasan yang disusun menyerupai anyaman.


Untuk mempercantik tampilan, ditambahkan hiasan berupa bunga dari plastik bekas, pita bekas, tali rafia warna-warni, maupun tutup botol yang dibentuk menjadi ornamen dekoratif.


Bungkus parcel juga dapat dibuat dari plastik kemasan kopi, detergen, maupun makanan ringan yang telah dibersihkan. Kemasan tersebut dijahit atau dianyam sehingga menghasilkan motif unik yang memiliki daya tarik tersendiri.


Produk parcel hasil daur ulang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi karena bersifat unik, dapat digunakan kembali, dan mendukung gaya hidup ramah lingkungan.


Manfaat Pengolahan Sampah Anorganik


Pengolahan sampah anorganik memberikan manfaat yang sangat luas.


Dari aspek lingkungan, kegiatan ini mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir sehingga pencemaran tanah dan air dapat ditekan. Selain itu, penggunaan kembali barang bekas mengurangi kebutuhan bahan baku baru sehingga membantu menghemat sumber daya alam.


Dari aspek ekonomi, hasil kerajinan memiliki nilai jual yang dapat meningkatkan pendapatan keluarga. Banyak pelaku UMKM berhasil mengembangkan usaha berbasis daur ulang karena modal yang dibutuhkan relatif kecil.


Dari aspek sosial, kegiatan ini mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan kreativitas, serta memperkuat kerja sama melalui pelatihan dan kegiatan kelompok.


Dari aspek pendidikan, pengolahan sampah menjadi media pembelajaran mengenai pentingnya pelestarian lingkungan dan penerapan prinsip ekonomi sirkular sejak usia dini.


Kesimpulan


Pengolahan sampah anorganik rumah tangga menjadi gantungan kunci, lilin hias, serta parcel beserta bungkusnya merupakan salah satu solusi efektif dalam mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah rumah tangga. Melalui proses pemilahan, pembersihan, pembentukan, dan dekorasi, berbagai jenis sampah dapat diubah menjadi produk kreatif yang memiliki fungsi dan daya jual tinggi. Penerapan kegiatan daur ulang ini juga mendukung konsep ekonomi sirkular karena memperpanjang masa pakai suatu barang dan mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi kepada masyarakat agar pengelolaan sampah anorganik dapat menjadi budaya yang berkelanjutan serta memberikan manfaat bagi lingkungan, sosial, dan ekonomi.


Daftar Pustaka


Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2021). Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis 3R. Jakarta: KLHK.


Suryani, A. S. (2014). Peran Bank Sampah dalam Efektivitas Pengelolaan Sampah. Jurnal Aspirasi, 5(1), 71–84.


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.


World Bank. (2018). What a Waste 2.0: A Global Snapshot of Solid Waste Management to 2050. Washington, DC: World Bank.


Lisa Sugiarty_24310410230_tugas essai 8_psikologi lingkungan_Ibu Arudanti Sinta_Psikologi Up45

Essai 5 : Eksperimen Anorganik di Rumah

 Kegiatan Daur Ulang Piring Kaca Menjadi Hiasan Dinding 

Sucianingsih M Rivai 

24310410209

Kelas Psikologi Lingkungan - B 

Tugas Essai 5 

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A. 


Pada tanggal 17 Juli 2026, saya membuat sebuah kerajinan tangan dengan memanfaatkan barang bekas yang ada di rumah. Kerajinan yang saya buat berupa hiasan dinding dari piring kaca yang sudah rusak dan kain batik bekas. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan nilai guna baru pada barang yang sudah tidak terpakai sehingga tidak langsung menjadi sampah. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk penerapan konsep reuse dalam menjaga kelestarian lingkungan. Melalui kegiatan sederhana ini, saya menyadari bahwa barang bekas masih dapat dimanfaatkan kembali apabila diolah dengan kreativitas dan ketelitian. 


Sebelum memulai proses pembuatan, saya menyiapkan beberapa alat dan bahan, yaitu Piring kaca yang sudah pecah di bagian pinggirnya, kain batik bermotif biru, lem tembak, dan stik lem. Langkah pertama yang saya lakukan adalah membentangkan kain batik di atas meja, kemudian meletakkan piring di atas kain sebagai pola. Setelah itu, saya menggunting kain mengikuti bentuk piring dengan memberikan sedikit sisa pada bagian tepinya agar lebih mudah direkatkan. Selanjutnya, kain ditempelkan menggunakan lem tembak pada bagian belakang piring secara perlahan hingga seluruh permukaannya tertutup dengan rapi. Setelah semua bagian menempel dengan baik, saya merapikan sisa kain di bagian tepi sehingga hasil akhirnya terlihat lebih bersih dan menarik. 


Selama proses pembuatan, saya harus berhati-hati karena piring yang saya digunakan terbuat dari kaca dan memiliki bagian yang sudah rusak, Oleh karena itu, saya memastikan tidak menyentuh bagian yang tajam agar terhindar dari cedera. Selain itu, penggunaan lem tembak juga memerlukan ketelitian karena lem yang masih panas dapat menyebabkan tangan terkena panas apabila tidak digunakan dengan hati-hati. Meskipun prosesnya cukup sederhana, saya merasa kegiatan ini melatih kesadaran, kelitian, serta kemampuan saya dalam membuat kerajinan tangan. 

Hasil akhir dari kegiatan ini cukup memuaskan. Piring kaca yang awalnya terlihat rusak dan tidak layak pakai berubah menjadi hiasan dinding yang memiliki tampilan lebih menarik karena dipadukan dengan motif batik. Saya juga merasa bangga karena dapat menghasilkan karya yang bermanfaat tanpa harus membeli bahan baruu. Hal ini menunjukkan bahwa barang bekas tidak selalu menjadi limbah, tetapi masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai estetika bahkan nilai ekonomi apabila dikembangkan dengan desain yang lebih kreatif. 


Dari kegiatan yang saya lakukan, saya memperoleh pengalaman yang sangat berharga. Saya belajar bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti memanfaatkan kembali barang bekas menjadi sesuatu yang berguna. Kegiatan ini juga mengajarkan bahwa kreativitas memiliki peran penting dalam mengurangi limbah rumah tangga dan mendukung gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Saya berharap kebiasaan seperti ini dapat terus saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat memberikan manfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan sekitar. 
















ESSAY-7 Belajar Pengelolaan Sampah Terpadu di TPST GO-SARI BUMDes Guworasi Bantul




 FARREL EZA SANDIVA 

NIM: 24310410241

PSIKOLOGI LINGKUNGAN (B)

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA


Pada Sabtu 4 Juli 2026, pukul 10.15 hingga 11.20 WIB saya berkesempatan melakukan kunjungan ke TPS Go-Sari (Unit layanan kebersihan BUMDes Guwosari) 3R yang beralamat di Iroyudan, Guwosari, Kec. Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55751. 

Kunjungan ini menambah pengetahuan saya mengenai bagaimana sebuah inisiatif lokal berbasis kepemudaan mampu berkembang menjadi pilar pengelolaan sampah formal, sekaligus mengetahui tantangan nyata yang masih membayangi sistem pengelolaan sampah. Masalah pengelolaan sampah bukan sekadar menyediakan tempat pembuangan, melainkan sebuah wujud nyata dari perilaku, konsistensi, dan kebijakan yang saling berkolaborasi.

TPS Go-Sari

TPS Go-Sari merupakan unit layanan pengelolaan sampah yang dikelola oleh TPS Go-Sari (unit layanan kebersihan BUMDes Guwosari) yang berlokasi di Iroyudan, Kalurahan Guwosari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. TPS Go-Sari didirikan pada bulan November 2019 sebagai upaya Kalurahan Guwosari dalam mengatasi permasalahan sampah secara mandiri dan berkelanjutan. TPS ini menjadi salah satu unit usaha Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal/BUMDes) Guwosari yang bertujuan meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Pendirian TPS Go-Sari dilatarbelakangi oleh meningkatnya volume sampah rumah tangga serta kebutuhan akan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif di tingkat kalurahan. Dengan mengusung konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan pengelolaan berbasis masyarakat, TPS Go-Sari berupaya mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) serta mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

Dalam perkembangannya, TPS Go-Sari menerapkan konsep zero waste dengan melakukan pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan kembali sampah yang masih memiliki nilai guna. Sampah organik diolah menjadi kompos dan produk ramah lingkungan lainnya, sedangkan sampah anorganik dipilah untuk didaur ulang atau dijual kembali. Melalui sistem tersebut, Kalurahan Guwosari secara bertahap mampu mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke TPA Piyungan dan menjadi salah satu contoh pengelolaan sampah mandiri di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Keberadaan TPS Go-Sari tidak hanya berkontribusi dalam menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Hingga saat ini, TPS Go-Sari terus berkembang sebagai pusat layanan kebersihan dan edukasi lingkungan yang mendukung terwujudnya masyarakat Guwosari yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.



Tantangan dan Kendala TPS Go-Sari (Singkat)

1. Meningkatnya volume sampah dari masyarakat yang harus dikelola setiap hari.
2. Kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari rumah masih belum merata.
3. Keterbatasan sarana dan prasarana pengolahan sampah dibandingkan jumlah sampah yang masuk.
4. Biaya operasional dan perawatan alat yang cukup besar untuk menjaga keberlanjutan layanan.
5. Pemasaran hasil daur ulang dan kompos yang terkadang menghadapi kendala permintaan pasar.
6. Konsistensi partisipasi masyarakat dalam mendukung program pengelolaan sampah berbasis lingkungan.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan tersebut, TPS Go-Sari terus berupaya meningkatkan kualitas pengelolaan sampah melalui edukasi masyarakat, inovasi pengolahan sampah, dan penguatan kerja sama dengan berbagai pihak.

Kesimpulan dan Refleksi

Kunjungan saya dan pengamatan di TPS Go-Sari, dapat saya simpulkan bahwa pengelolaan sampah yang dilakukan secara terorganisir dan melibatkan masyarakat mampu memberikan manfaat yang besar bagi lingkungan. TPS Go-Sari tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengolahan sampah, tetapi juga sebagai sarana edukasi yang mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan. Melalui proses pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan kembali sampah, jumlah sampah yang berakhir di TPA dapat dikurangi sehingga membantu mengatasi permasalahan sampah di wilayah Bantul.

Dari kegiatan ini, saya memperoleh pemahaman bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan partisipasi aktif dari seluruh masyarakat. Saya menyadari bahwa kebiasaan sederhana seperti memilah sampah dari rumah dapat memberikan dampak positif yang besar apabila dilakukan secara konsisten. Kunjungan ke TPS Go-Sari juga menumbuhkan kesadaran bahwa perubahan perilaku peduli lingkungan dapat dimulai dari tindakan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai mahasiswa psikologi, saya melihat bahwa edukasi dan pembentukan perilaku ramah lingkungan memiliki peran penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih sadar dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.



ESSAY-9 NASABAH BANK SAMPAH


FARREL EZA SANDIVA 

NIM: 24310410241

PSIKOLOGI LINGKUNGAN (B)

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA



Menjadi nasabah bank sampah merupakan salah satu bentuk nyata perilaku peduli lingkungan yang dapat dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, sampah yang masih memiliki nilai ekonomis tidak langsung dibuang begitu saja, melainkan dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali. Jenis sampah seperti botol plastik, kertas, kardus, kaleng, dan kaca terlebih dahulu dipilah sesuai dengan kategorinya agar lebih mudah dalam proses pengelolaan. Setelah dipilah, sampah tersebut kemudian disetorkan ke bank sampah untuk ditimbang dan dicatat sebagai tabungan atas nama nasabah. Nilai ekonomi dari sampah yang disetorkan akan diakumulasikan sebagai saldo tabungan yang nantinya dapat dicairkan dalam bentuk uang tunai atau dimanfaatkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada masing-masing bank sampah. Selain memberikan manfaat ekonomi, kegiatan ini juga berkontribusi dalam mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.

Melalui tugas mata kuliah Psikologi Lingkungan ini, saya menjadi tertarik untuk mencoba menabung di bank sampah karena juga di wilayah Bantul Kota ini tempat saya tinggal. saya menemukan beberapa bank sampah jadi minim hambatan bagi saya tempatnya juga tudak jauh dari tempat tinggal saya yang berlokasi di Babadan, Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Maps lokasi : https://maps.app.goo.gl/JvMYeVquQRjwC2FS9?g_st=ac

Saya datang dengan 2 rekan saya yang sama kuliah dengan saya dan jurusan yang sama. Sehingga kami datangnya dengan bersamaan, membawa sampah masing masing dari rumah.

Berawal dari kami memilah sampah yang saya bagi di beberapa wadah plastik bekas. Kemudian kami menuju ke bank sampah bersamaan dan menyerahkan ke tempat tersebut, kami datang dan barang bawaan kami di cek selanjutnya di timbang. Barang bawaan saya di timbang dengan jumlah timbangan 3 Kg. Kemudian masing masing kami di tanyakan nama dan di buatkan ID kard untuk mendata setiap sampah yang masuk agar diberikan uang.

Rasanya semangat untuk menabung sampah lagi karena saya mendapatkan uang. Menjadi nasabah bank sampah juga menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan, meningkatkan kepedulian masyarakat, serta mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Oleh karena itu, menjadi nasabah bank sampah merupakan salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan oleh setiap individu untuk berkontribusi dalam mengatasi permasalahan sampah. Kegiatan ini tidak hanya membantu mengurangi timbunan sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, tetapi juga mendukung penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, keberadaan bank sampah juga dapat mendorong masyarakat untuk melihat sampah sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Secara keseluruhan, pengalaman menjadi nasabah bank sampah memberikan banyak manfaat, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Kegiatan ini membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pihak tertentu, melainkan tanggung jawab bersama yang dapat dimulai dari tindakan kecil di lingkungan sekitar. Pengalaman tersebut memotivasi saya untuk terus menabung sampah secara rutin, menerapkan perilaku hidup bersih dan ramah lingkungan, serta mengajak keluarga, teman, dan masyarakat sekitar untuk ikut berpartisipasi dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan demi terciptanya lingkungan yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.