Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Rabu, 01 Juli 2026

ESSAY 8: MELAKUKAN UPCYCLING SAMPAH ANORGANIK DAN MERINTIS SEBAGAI PENGUSAHA EKONOMI SIRKULER

 

UPCYCLING KAIN PERCA YANG DISULAP MENJADI 

BANTAL KURSI ESTETIK”




 KUS WITA WARDANI

25310430002

Psikologi Lingkungan/ Kelas Karyawan (B)

Tugas: Essai 8 

Melakukan upcycling sampah anorganik dan merintis sebagai pengusaha ekonomi sirkuler

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Bulan/ tahun terbit: Juli/ 2026

 

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45


HARI/TANGGAL PELAKSANAAN KEGIATAN      : Rabu/ 01 Juli 2026

TEMPAT PELAKSANAAN                                         : Rumah pribadi

LOKASI                                                                        : Jalan Kaliurang, Harjobinangun, Yogyakarta

 

TUJUAN KEGIATAN:

Melalui eksperimen ini, secara langsung saya diajak untuk belajar merintis sebuah usaha ekonomi sirkuler mulai dari hulu (produksi barang) sampai hilir (memasarkan barang). Selain itu, kegiatan ini dilakukan untuk mengolah sampah anorganik (yaitu limbah yang bukan berasal dari makhluk hidup) melalui metode upcycling, yang diharapkan dapat menjadi salah satu solusi penanganan limbah anorganik. Kegiatan upcycling adalah kegiatan dengan dengan cara mengubah sampah anorganik menjadi bentuk baru yang lebih bermanfaat sekaligus memiliki nilai jual di pasar.

 

PENDAHULUAN

Kegiatan eksperimen ini berpusat pada dua poin penting: praktik upcycling (daur guna ulang) dan ekonomi sirkuler. Upcycling yang hadir sebagai metode alternatif untuk mengubah sampah menjadi produk baru yang bernilai guna. Selain potensial mengurangi penumpukan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), kegiatan ini juga berfungsi melatih kreativitas dan menciptakan barang yang memiliki nilai jual. Ekonomi Sirkuler adalah model pendekatan sistem ekonomi dengan cara mengoptimalkan kegunaan dan nilai suatu barang untuk menekan volume limbah yang terbuang di TPA. Berbeda dengan model ekonomi linear, model ekonomi sirkuler tidak mengusung konsep yang lurus tetapi lebih bersifat melingkar melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Jikalau dalam model ekonomi linier proses akhir produksinya adalah membuang (dispose), sedangkan dalam model ekonomi sirkuler didesain dari product, use, end of life, remanufacture (Valavanidis, 2018). Dimana hasil produksi atau sisa konsumsi yang tidak lagi memiliki nilai akan diubah kembali menjadi produk yang memiliki nilai, hal ini selain bermanfaaat dari sisi ekonomi juga membantu menjaga kelestarian lingkungan.

Setelah menghasilkan suatu produk dari proses upcycling, langkah selanjutnya adalah memasarkan barang atau produk tersebut melalui media sosial. Dalam era digitalisasi saat ini, pemanfaatan media sosial sebagai salah satu cara yang cepat dan efisien untuk memasarkan suatu produk yang akan kita jual atau pasarkan, banyaknya platform media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook membuat kita semakin leluasa untuk memasarkan produk tersebut. Sebagai seorang pemula dalam usaha ini, sebaiknya kita cermat dalam memanfaatan media sosial sebagai sarana pemasaran produk, selain itu kita juga harus menjaga etika yang baik dalam bermedia sosial (dalam arti sebagai seorang produsen/ seller) kita harus memverifikasi dengan cermat dan teliti mengenai spesifikasi produk yang kita jual, dan menjunjung tinggi kejujuran. 

 

PELAKSANAAN KEGIATAN

Dalam kegiatan kali ini. saya melakukan kegiatan upcycling dengan Judul “UPCYCLING KAIN PERCA YANG DISULAP MENJADI BANTAL KURSI ESTETIK”. Banyaknya kain perca (yang bisa dikategorikan sebagai sampah anorganik) yang ada di rumah yang menumpuk memberikan saya ide untuk mengubahnya menjadi bantal kursi estetik.

Langkah-langkah pembuatan bantal kursi dari kain perca adalah sebagai berikut:

1.   Mempersiapkan alat dan bahan

-          Bahan: kain perca beberapa motif, dakron silicon

-          Alat: mesin jahit, gunting, penggaris, pensil kain, benang jahit.

2.  Mengukur dan memotong kain perca yang digunakan sesuai dengan kebutuhan, disini saya mengambil ukuran 33 x 33 cm dan 30 x 45 cm.

3.   Menyatukan potongan-potongan kain tersebut sesuai dengan ide/ kreasi masing-masing.

4.  Menjahit potongan-potongan kain tersebut di 3 sisi terlebih dahulu (sisakan satu sisi   untuk memasukkan dakron silikon).

5.  Memasukkan dakron silikon kedalam kain yang telah dijahit tersebut, kemudian menjahit sisa sisi bantal tersebut.

Setelah bantal kursi selesai dijahit, saya melakukan sesi foto produk yang saya hasilkan yang nantinya hasil foto terbaik akan saya pilih untuk melakukan penjualan di media sosial. Dalam kegiatan kali ini, saya tidak menemukan kendala yang berarti dalam proses produksi, tetapi ini adalah pertama kalinya saya menjual produk hasil sendiri yang saya promosikan lewat media sosial, ini merupakan tantangan baru buat saya. Persepsi rasa sedikit tidak percaya diri terhadap karya hasil produksi sendiri dan penentuan harga jual merupakan kendala tersendiri bagi saya.

LINK PENJUALAN PRODUK: https://www.facebook.com/share/1CstpFnn7V/

  
Ket: Dok alat dan bahan                                           Ket: Dokumentasi proses menjahit  dan mengisi bantal dengan dakron
Ket: Dokumentasi dengan produk upcycling 


KESIMPULAN

Melalui metode upcycling dan ekonomi sirkuler, diharapkan dapat mengurangi penumpukan sampah anorganik di TPA seiring dengan meluasnya promosi gerakan kreatif yang ramah lingkungan. Kegiatan ini menyadarkan kita bahwa dengan sedikit modal, ide dan kreativitas mampu mengubah limbah anorganik yang terbengkalai menjadi karya yang berdaya jual dan bernilai seni tinggi dan secara tidak langsung mengajarkan kita untuk dapat merintis usaha sebagai pengusaha ekonomi sirkuler. Kegiatan ini selain bermanfaaat dari sisi ekonomi juga dapat membantu menjaga kelestarian dan keharmonisan ekosistem lingkungan.

Essai 7 - Belajar Pengolahan Sampah di TPST

 Belajar Pengolahan Sampah Di TPS 3R Brama Muda 


Rahardian Wicaksono

24310410218

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 7

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Juli 2026

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta 


    Masalah pengelolaan sampah bukan sekadar menyediakan tempat pembuangan, melainkan sebuah wujud nyata dari perilaku, konsistensi, dan kebijakan yang saling berkolaborasi. Pada Rabu 1 Juli 2026, pukul 09.00 hingga 10.00 WIB saya berkesempatan melakukan kunjungan ke TPS 3R Brama Muda yang beralamat di Dayakan, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Kunjungan ini menambah pengetahuan saya mengenai bagaimana sebuah inisiatif lokal berbasis kepemudaan mampu berkembang menjadi pilar pengelolaan sampah formal, sekaligus mengetahui tantangan nyata yang masih membayangi sistem pengelolaan sampah.

Sejarah dan Transformasi Brama Muda


    Perjalanan TPS 3R Brama Muda merupakan potret menarik dari efektivitas gerakan dari bawah yang lahir pada tahun 2010, tempat ini awalnya bukanlah sebuah bank sampah konvensional. Gerakan ini diinisiasi oleh kepedulian para pemuda setempat yang bergerak secara mandiri. Mereka mengambil inisiatif mengumpulkan sampah rumah tangga dari rumah ke rumah dengan sistem iuran bulanan yang kala itu disepakati sebesar Rp20.000.

    Transformasi terjadi pada tahun 2017. Motivasi untuk mengembangkan skala pengelolaan, para pemuda ini mengikuti kompetisi yang diselenggarakan oleh Dinas Pemerintah Daerah Yogyakarta untuk program pembangunan TPS 3R Terpadu. Dari tujuh kandidat yang berkompetisi, hanya dua yang terpilih untuk mendapatkan fasilitas penuh, dan kelompok pemuda Brama Muda berhasil membuktikan kapasitas mereka. Komponen penilaian yang digunakan oleh pihak Dinas adalah kesiapan warga, sistem pengelolaan, dan SDM. Sejak tahun 2017 hingga hari ini, TPS 3R Brama Muda resmi beroperasi di bawah binaan dinas terkait, serta menerima dukungan struktural berupa bangunan fisik, alat pemilah, mesin operasional, dan program pengembangan kapasitas lainnya.

Alur Operasional dan Kemitraan Internasional

    Secara teknis, proses pengolahan sampah di TPS 3R Brama Muda saat ini sudah mengadopsi mekanisasi terpadu. Alur kerja dimulai dari pengumpulan sampah rumah tangga yang kemudian dimasukkan ke dalam mesin pemilah untuk memisahkan berbagai jenis material sampah. Salah satu aspek menarik dari tata kelola di Brama Muda adalah jejaring kemitraannya. Untuk pengelolaan residu anorganik, mereka bermitra dengan Got Bag, sebuah program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan asal Jerman. Sampah anorganik yang terkumpul disalurkan ke Got Bag untuk didaur ulang secara profesional. Sinergi ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah lokal memiliki potensi besar untuk terhubung dengan rantai pasok sirkular global jika dikelola dengan manajemen yang kredibel.



Tantangan/Kendala 

    Meski secara infrastruktur dan kemitraan telah berkembang pesat, TPS 3R Brama Muda masih menghadapi tantangan yaitu perilaku dan kesadaran masyarakat. Mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah terbukti jauh lebih rumit daripada mengoperasikan mesin pemilah. Di awal program berjalan, tingkat partisipasi masyarakat sangat memprihatinkan. Hanya sekitar 20% warga yang bersedia membayar iuran pengumpulan sampah. Mayoritas masyarakat 80% sisanya lebih memilih jalan pintas yang merusak lingkungan seperti membuang sampah ke sungai atau membakarnya di pekarangan rumah. Hingga saat ini, edukasi mengenai pentingnya pemilahan sampah antara organik dan anorganik dari hulu (skala rumah tangga) masih menjadi tantangan utama.

    Kunjungan ini juga memberikan saya informasi bahwa terdapat kendala dalam regulasi dan teknis pengelolaan sampah daerah saat ini yaitu terkait sampah kain. TPS 3R Brama Muda dan pemerintah daerah kerap menghadapi kendala besar terkait masuknya sampah tekstil, mulai dari pakaian bekas layak buang hingga kasur yang sengaja dicampur oleh warga ke dalam kantong sampah rumah tangga mereka. Sampah jenis ini sangat sulit diurai dan belum memiliki jalur daur ulang yang seefektif sampah plastik atau kertas. Akibatnya, demi menghindari penumpukan yang dapat melumpuhkan area operasional, pihak TPS 3R Brama Muda terpaksa mengambil langkah yaitu melakukan pembakaran sampah kain. Langkah ini di satu sisi menyelesaikan masalah penumpukan ruang, namun disisi lain berpotensi memicu polusi udara baru.

Kesimpulan dan Refleksi

    Kunjungan ke TPS 3R Brama Muda memberikan pelajaran berharga bahwa intervensi teknologi dan bantuan fasilitas dari pemerintah tidak akan pernah cukup jika tidak diimbangi dengan intervensi perilaku. Brama Muda telah menyediakan sistem dan dedikasi, namun keberlanjutannya secara hulu-hilir menuntut tanggung jawab kolektif dari setiap individu di dalam rumah tangga mereka masing-masing. Masalah sampah kain yang berujung pada pembakaran juga menjadi sinyal kuat bagi pemerintah daerah bahwa regulasi tata kelola sampah spesifik seperti limbah tekstil harus segera dirumuskan.


ESAI 8: MELAKUKAN UPCYLING SAMPAH ANORGANIK & MERINTIS SEBAGAI PENGUSAHA EKONOMI SIRKULER

 MELAKUKAN UPCYCLING SAMPAH ANORGANIK & MERINTIS SEBAGAI PENGUSAHA EKONOMI SIRKULER (MEMBUAT PIRING HIAS DENGAN KAIN PERCA DAN MENJUALNYA DI MEDIA SOSIAL)

Reni Prabandari
24310410221
Kelas Psikologi Lingkungan-B
Tugas Esai 8  (Membuat Piring Hias dari Kain Perca dan Menjualnya di Media Sosial)
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A,
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta




Kain perca merupakan sisa potongan kain dari proses menjahit yang sering kali tidak dimanfaatkan dan berakhir menjadi limbah. Padahal, kain perca masih dapat diolah menjadi berbagai kerajinan yang menarik dan bernilai guna. Salah satunya adalah membuat piring cantik sebagai hiasan. Dalam proses upcycling ini, kain perca diolah menjadi piring cantik yang memiliki nilai estetika serta membantu mengurangi limbah tekstil.

Saya membuat piring hias berbahan kain perca pada akhir bulan Juni 2026. Proses pembuatan piring hias dari kain perca (upcycling) tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Menyiapkan alat dan bahan, seperti piring bekas, kain perca bermotif, lem putih atau lem tembak, gunting dan kuas;
  2. Membersihkan permukaan piring agar bebas dari debu dan minyak sehingga lem dapat merekat dengan baik;
  3. Memotong kain perca menjadi beberapa bagian dengan bentuk tidak beraturan sesuai kebutuhan desain;
  4. Mengoleskan lem secara merata pada permukaan piring kemudian menempelkan potongan-potongan kain perca satu per satu hingga seluruh permukaan tertutup. Susunan warna dan motif dibuat bervariasi agar menghasilkan tampilan yang menarik;
  5. Merapikan bagian tepi dengan melipat atau memotong sisa kain sehingga hasil akhir terlihat lebih rapi;
  6. Setelah seluruh kain terpasang, piring didiamkan hingga lem benar-benar kering.

Akhirnya kita pun mendapatkan sebuah piring hias yang memiliki nilai estetika tinggi sekaligus menjadi contoh pemanfaatan limbah tekstil melalui proses upcycling, yaitu mengubah barang bekas menjadi produk baru yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.

Pembuatan piring hias dari kain perca tersebut merupakan salah satu contoh penerapan ekonomi sirkuler. Ekonomi sirkuler adalah sistem yang mengutamakan penggunaan kembali, perbaikan dan pengolahan barang agar tidak langsung menjadi limbah. Dalam konsep ini, barang bekas tidak dipandang sebagai sampah, tetapi sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai.

Kain perca yang sebelumnya hanya menjadi limbah diubah menjadi produk kerajinan yang unik, menarik dan bernilai jual. Selain mengurangi jumlah limbah, kegiatan ini juga membuka peluang berusaha kreatif.

Dalam kesempatan ini, Saya mencoba memasarkan produk piring hias dari kain perca tersebut di instagram. Saya memposting hasil pembuatan piring cantik tersebut mulai tanggal 01 Juli 2026 di akun instagram saya. Dalam postingan tersebut, Saya mengajak masyarakat untuk peduli pada lingkungan karena keunggulan produk piring hias tersebut adalah ramah lingkungan (upcycling). Selain itu, produk piring hias tersebut bernilai seni tinggi, unik dan memiliki motif yang berbeda-beda sehingga tidak ada piring yang bermotif sama. Piring hias tersebut cocok untuk dekorasi rumah, pajangan di ruang tamu dan bisa juga diberikan sebagai hadiah untuk teman atau keluarga.

Dalam merintis usaha pembuatan piring hias dari kain perca tersebut (upcycling), terdapat beberapa hambatan yang muncul dalam proses produksi dan pemasaran.

Hambatan dalam proses produksi antara lain adalah: ketersediaan bahan baku tidak konsisten, proses pembuatan membutuhkan ketelitian dan waktu, kualitas produk bisa berbeda-bedaa tergantung ukuran dan motif kain perca, dan juga masalah daya tahan produk. Sedangkan hambatan saat pemasaran antara lain adalah: kurangnya kesadaran masyarakat terhadap nilai produk upcycling sehingga masih menganggap barang dari limbah kurang bernilai, promosi di media sosial membutuhkan konsistensi, kesulitan membangun kepercayaan konsumen dan biaya dalam pengemasan dan pengiriman. 

Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut adalah: Kita sebagai pelaku usaha ekonomi sirkuler dapat menjalin kerja sama dengan penjahit atau konveksi sebagai pemasok kain perca, semakin meningkatkan keterampilan dalam proses produksi, menggunakan bahan perekat berkualitas, membuat konten promosi yang kreatif di media sosial dan menawarkan harga yang sesuai dengan kualitas produk. 

Kegiatan pembuatan piring hias berbahan kain perca tersebut bukan hanya bertujuan memperoleh keuntungan, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Melalui penerapan ekonomi sirkuler, limbah dapat diubah menjadi produk yang bernilai, membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan kreativitas masyarakat dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Dengan demikian, usaha ini mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus manfaat secara sosial dan  lingkungan.

Link promosi di instagram: https://www.instagram.com/p/DaPesUzlOT1/?igsh=eXQwNnFsOWl6NHc=










Selasa, 30 Juni 2026

 

Tugas                    : Esai 10 – Partisipasi Lomba RUN 

Nama MK            : Psikologi Lingkungan 

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A. 

Kelas                    : Karyawan (online)

Titik Muti’ah       (243010440004)  

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta 


 


Saya berpartisipasi mengikuti lomba Run 2 kali, pada 20 Juni 2026 FUN & RUN Liliput World 3K dan JALARUN FEST UMY 6K pada 28 Juli 2026. Pengalaman yang pertama dan luar biasa untuk pribadi saya diusia yang tidak muda lagi.   Keduanya saya lakukan dengan mengkombinasikan antara olahraga yang santai dan menyenangkan. Peserta biasanya menikmati rute pendek dengan berjalan atau joging ringan, dihibur dengan musik dan stand sponsor, serta menerima medali finisher. Suasananya kasual dan cocok untuk semua kalangan. 
Sebagian besar peserta perseorangan dan ada juga yang family (ayah-ibu-anak), beberapa momen yang menarik, tantangan, dan fasilitas diantaranya mulai dari Persiapan dan Start, jaraknya yang relatif singkat 3K, saya tidak latihan fisik  ekstrem. Tetapi untuk yang 6K mesti pakai persiapan. Biasanya, sebelum bendera start dikibarkan, peserta akan melakukan pemanasan bersama (seperti senam atau perenggangan) masing-masing [1, 2]. Kemudian menikmati suasana di sepanjang rute, berbeda dengan lomba lari profesional yang mengedepankan kompetisi, fun run healthy sarat akan kebersamaan. Di titik-titik tertentu, terdapat water station untuk minum, spot foto yang estetik, bahkan pertunjukan musik dari sponsor yang membuat rasa lelah tidak terlalu terasa. [1, 2, 3]. Mendekati garis finish sejauh 3 km memberikan rasa pencapaian yang membanggakan, terlebih saat panitia mengalungkan medali finisher. Acara selanjutnuya diisi dengan pesta hiburan (panggung musik) dan pembagian doorprize. [1, 2]. Bagi saya yang pemula disarankan untuk mengenakan pakaian yang nyaman (menyerap keringat), melakukan pemanasan yang cukup untuk mencegah kram, dan mengatur ritme lari sendiri tanpa memaksakan diri mengejar pelari lain.
Manfaat dari Run meskipun dilakukan dengan lebih santai, tetap mendapatkan manfaatnya, lho! [2] Berikut adalah manfaat fun run yang bisa dirasakan; dapat Meningkatkan Kebugaran karena lari adalah salah satu olahraga kardiovaskular yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh dan kesehatan jantung sehingga tubuh menjadi lebih bugar dari biasanya. Dapat mengurangi Stres, karena berlari dapat melepaskan hormon endorfin sehingga meningkatkan suasana hati. Dengan mengikuti Fun Run akan menambah Relasi,  dengan berbagai jenis orang serta memperdalam pengetahuan soal lari pada pelari berpengalaman. 
Referensi:
1. FunRun VS Race Apabedanya? Senin, 09 Maret 2026 08.00 https://schedules.run/blog/fun-run-vs-race-apa-bedanya 
2. R30 April 2026 un Run Artinya Apa Sih? Tren Lari yang Hype Banget! https://www.byu.id/v2/blog/detail/fun-run-artinya 
3. EIGER Tropical Advanture. 14 Oktober 2025. https://www.eigeradventure.com/blog/fun-run-artinya/  
 


Essai 6 - Eksperimen Upcycling Organik

 Eksperimen Upcycling Organik

Rahardian Wicaksono

24310410218

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 6

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Juni 2026

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta 


Produksi sampah organik, khususnya limbah rumah tangga seperti kulit buah, seringkali berakhir begitu saja di tempat pembuangan akhir tanpa pengelolaan yang optimal. Padahal, melalui upcycling, limbah organik ini dapat diubah menjadi produk baru yang memiliki nilai guna lebih tinggi dan ramah lingkungan. Salah satu inovasi yang potensial untuk dikembangkan adalah pemanfaatan kulit jeruk sebagai bahan baku pembuatan sabun cuci alami. Kulit jeruk yang memiliki sifat antibakteri dan mampu melarutkan minyak, sehingga sangat berpotensi menjadi pembersih alami. Eksperimen ini dilakukan untuk menguji efektivitas kulit jeruk dengan kombinasi bahan kimia pendukung dalam menghasilkan sabun cuci. 

Eksperimen ini memanfaatkan bahan utama berupa 179 gram kulit jeruk segar. Sebagai bahan kimia pendukung, digunakan 7 gram sodium sulfate dan 1/2 sendok teh cairan SLES. Langkah pertama yang dilakukan adalah menghaluskan 179 gram kulit jeruk bersama 250 ml air bersih menggunakan blender. Setelah halus, campuran tersebut disaring untuk memisahkan cairan ekstrak dari ampas serat kulit jeruk. Cairan hasil saringan inilah yang kemudian dicampurkan secara bertahap dengan sodium sulfate dan SLES, lalu diaduk hingga seluruh bahan terlarut dengan baik.



Berdasarkan eksperimen yang telah saya lakukan, hasilnya menunjukkan perbedaan jika dibandingkan dengan sabun cuci pada umumnya. Sabun cuci dari olahan kulit jeruk ini sama sekali tidak menghasilkan busa saat digunakan untuk mencuci. Selain itu, masih ditemukan sisa-sisa butiran serat kulit jeruk yang tidak tersaring dengan baik dalam proses penyaringan. Namun, hasil eksperimen ini memiliki keunggulan yaitu warna kuning khas jeruk terlihat sangat pekat dan keluar secara alami, juga memiliki wangi dari aroma jeruk yang sangat kuat dan menyegarkan.

Tidak ada busa dan adanya sisa serat menunjukkan adanya aspek teknis yang belum sempurna. SLES sebanyak satu sendok teh rupanya belum cukup untuk menurunkan tegangan permukaan air dan menghasilkan busa yang melimpah dalam volume cairan tersebut. Sementara itu, kehadiran butiran serat menunjukkan bahwa metode penyaringan manual yang digunakan masih memerlukan alat yang lebih rapat, seperti kain saring, agar menghasilkan cairan yang benar-benar jernih.

Eksperimen upcycling organik menggunakan kulit jeruk ini memberikan pengalaman yang baru. Produk ini masih memerlukan banyak perbaikan, terutama dalam melakukan penakaran bahan kimia pendukung agar formulasi sabun dapat bekerja lebih efektif dan ideal. Proses ini menjadi motivasi bagi diri saya sendiri untuk memiliki kesadaran lingkungan yang penting. Eksperimen ini mengajarkan saya bahwa pengelolaan sampah organik tidak terbatas pada pembuatan kompos saja, tapi juga bisa dikembangkan secara inovatif dan aplikatif menjadi produk pembersih alami rumah tangga yang bernilai guna tinggi.

Saya menyadari bahwa perilaku pro-lingkungan tidak akan pernah terwujud jika kita terus menuruti dorongan untuk menunda-nunda sesuatu. Secara jangka panjang, keterampilan mengolah limbah menjadi sabun cair ini memiliki urgensi yang tinggi di kehidupan. Dalam lingkup keluarga, kita dapat meminimalkan paparan bahan kimia sintetis yang merusak tanah. Dalam kehidupan bermasyarakat, keterampilan ini dapat dibagikan kepada komunitas lokal sebagai peluang pemberdayaan ekonomi kreatif. Eksperimen sederhana ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah yang bertanggung jawab harus dimulai dengan mengelola kedisiplinan diri sendiri dan melawan kemalasan yang ada di dalam pikiran kita.