Jumat, 15 Mei 2026
Essai 1 : Meringkas Jurnal Sampah
Essai 4 - Komitmen Pro Lingkungan
KOMITMEN PRO LINGKUNGAN
Rahardian Wicaksono
24310410218
Kelas Psikologi Lingkungan - B
Tugas Essai 4
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
Mei 2026
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Kesadaran terhadap lingkungan sering kali muncul dari sebuah momen refleksi yang mendalam tentang hubungan manusia dengan alam. Saya menyadari bahwa setiap aktivitas konsumsi yang saya lakukan meninggalkan jejak karbon dan limbah. Gaya hidup praktis yang serba instan mendukung akumulasi sampah plastik sekali pakai. Mata kuliah Psikologi Lingkungan menjadi pengingat bagi saya bahwa krisis lingkungan bukan haya berdampak untuk masa saat ini, tetapi juga menentukan bagaimana kehidupan di masa mendatang dengan kondisi alam atau lingkungan yang mengikuti.
Refleksi diri saya bahwa ketidakpedulian adalah kontributor terbesar bagi kerusakan alam. Membuang sampah tanpa memilah atau menggunakan plastik secara berlebihan merupakan bentuk kegagalan tanggung jawab individu. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menjadi seorang agen perubahan yang proaktif terhadap lingkungan. Langkah awal dalam komitmen saya adalah melakukan pemilahan sampah pribadi dan mengenali apa saja yang selama ini saya buang ke tempat pembuangan akhir tanpa proses pengolahan lebih lanjut.
Sebagai wujud nyata komitmen yang telah saya buat dalam bentuk video, saya menerapkan tiga aksi dasar. Pertama, saya berkomitmen untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari dengan membawa botol minum, wadah makan, dan tas belanjaan. Kedua, saya melakukan pemilahan sampah rumah tangga (pribadi) dengan memisahkan sampah organik untuk dijadikan kompos dan mendaur ulang sampah anorganik menjadi barang dengan fungsi lain seperti gelas atau botol plastik menjadi pot bunga, kardus bekas menjadi wadah penyimpanan barang, dan sedotan menjadi bunga hiasan. Ketiga, saya berusaha menjadi contoh dan mengedukasi orang-orang di sekitar untuk peduli dengan lingkungan.
Komitmen ini bukan sekadar pemenuhan tugas kuliah, melainkan pengingat bagi saya untuk tetap berperilaku secara konsisten dalam menjaga kelestarian lingkungan. Saya percaya bahwa perubahan besar bisa terjadi melalui aksi kecil yang konsisten pada setiap individu. Dengan menjaga kebersihan lingkungan dari diri sendiri, kita sedang menjaga keberlangsungan hidup masa depan. Mari kita mulai bergerak. Karena alam tidak membutuhkan janji, melainkan aksi nyata kepedulian kita terhadap lingkungan.
Kamis, 14 Mei 2026
ESSAI 7 KUNJUNGAN KE TPST RANDU ALAS
PENGELOLAAN SAMPAH DI TPST RANDU ALAS
Bintar Tri Atmaji
25310430003
Kelas Psikologi Lingkungan – B
Tugas Essai 7
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A
KUNJUNGAN :
Hari/Tanggal : Sabtu, 2 Mei 2026
Waktu : 09.00 - 11.30 WIB
Tempat : TPST Randu Alas, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman.
TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) Randu Alas berada di Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman. Dinamakan Randu Alas menurut informasi dari Bapak Joko Tri Waluyo selaku pengelola dulu lokasi TPST sekarang adalah hutan (alas-bahasa jawa) yang banyak pohon randu. TPST Randu Alas ini mempunyai luas kurang lebih 200 meter persegi dan berada di area permukiman warga.
TPST Randu Alas di ketuai oleh Bapak Joko Tri Waluyo dengan sejarah awal mulanya pada tahun 2010 di wilayah sekitar ditemukan kasus Demam Berdarah. Setelah ditelusuri sampah menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Kondisi semakin parah pada tahun 2013 ketika terdapat 13 warga yang terkena DB, termasuk anak Pak Joko.
TPST Randu Alas secara bisnis mengelola pengelolaan sampah berbasis komunitas yang mengubah sampah menjadi berkah untuk lingkungan bersih dan bernilai ekonomi. Karyawan di TPST Randu Alas sudah dibagi pekerjaannya ada yang mengumpulkan, memilah dan membuat kompos dengan jumlah karyawan 8-10 orang yang mempunyai standar gaji UMR dan sudah tercover menjadi anggota BPJS dikarenakan tingkat resiko pekerjaan yang tinggi. Menurut informasi karyawan pernah mengalami tertusuk paku di kakinya.
Pada awalnya seluruh proses masih dilakukan secara manual tanpa bantuan mesin modern sehingga membutuhkan banyak tenaga dan waktu. Namun, seiring berjalannya waktu fasilitas mulai berkembang dan mendapatkan bantuan alat dari pemerintah, seperti gerobak, alat pemisah sampah.
Alur management operasional TPST Randu Alas yaitu dengan door to door ke warga lingkungan sekitar, dengan pengambilan sampah dalam 1 minggu 2 kali selanjutnya warga di pungut antara Rp.25.000,- sampai dengan Rp.100.000,- per bulan tergantung dari jarak dan volume sampah tersebut.
Area TPST Randu Alas ada 2 tempat, untuk area utama untuk menerima sampah dan memilah sampah serta untuk pembakaran tungku. Sampah dipisahkan berdasarkan jenisnya, seperti organik, anorganik, dan bahan berbahaya. Pemilahan ini sangat penting karena menentukan metode pengolahan selanjutnya. TPST Randu Alas juga menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam pengelolaannya. Reduce berarti mengurangi jumlah sampah dari sumbernya, Reuse yaitu menggunakan kembali barang yang masih layak pakai, dan Recycle berarti mendaur ulang sampah menjadi produk baru yang bernilai ekonomis.
Di area utama terdapat tungku untuk pembakaran yang masih manual pembuatannya, dalam perjalanannya TPST Randu Alas pernah di demo oleh warga karena asap pembakaran yang membuat udara tercemar polusi, menurut Pak Joko pada hasil diskusi yang di fasilitiasi oleh pemerintah desa setempat di tentukan jam tertentu untuk pembakaran sampah.
Di area belakang lokasi, sebelumnya pernah digunakan sebagai tempat budidaya maggot. Namun, kegiatan tersebut dihentikan sementara karena pada masa darurat sampah tahun 2023 area tersebut dipenuhi tumpukan sampah sehingga dialihfungsikan untuk mendukung proses pengelolaan lainnya.
TPST Randu Alas masih banyak kekurangan dari segi infrastrukur seperti keterbatasan sarana dan prasarana, kapasitas pengolahan yang terbatas, dan yang paling utama adalah warga rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam memilah sampah. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan fasilitas, inovasi teknologi, dan program sosialisasi yang berkelanjutan.
ESAI PRESTASI: 1
Pelayanan Masyarakat melalui Edukasi Lingkungan dan Keselamatan Jalan
Yufika Dwi Rezeki
25310440003
Kelas Psikologi Lingkungan – B
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, saya beberapa kali melakukan kegiatan pelayanan masyarakat bersama pemuda-pemudi di daerah tempat tinggal saya. Kegiatan ini berawal dari keresahan saya melihat kondisi lingkungan di sekitar kali yang memiliki dam dan berada dekat jembatan jalan raya di kawasan Jalan Sultan Agung. Banyak pengendara maupun masyarakat yang melintas sering membuang sampah sembarangan ke sungai. Akibatnya, aliran air menjadi kotor, tersumbat sampah, dan ketika hujan deras turun air sering terhambat karena penumpukan sampah.
Melihat kondisi tersebut, saya memiliki inisiatif untuk membuat dan memasang banner larangan membuang sampah sembarangan di beberapa titik yang mudah terlihat masyarakat. Saya juga mengajak pemuda-pemudi di daerah saya untuk ikut terlibat dalam kegiatan ini, mulai dari proses pembuatan banner hingga pemasangannya. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan dan menjaga aliran sungai tetap bersih.
Tidak hanya tentang kebersihan lingkungan, saya dan teman-teman juga beberapa kali membuat banner edukasi keselamatan jalan. Hal ini karena di daerah Jalan Sultan Agung cukup banyak kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi, padahal area tersebut berada dekat permukiman warga dan sering dilalui masyarakat. Oleh karena itu, kami berinisiatif memasang banner peringatan agar pengendara tidak mengebut demi mengurangi risiko kecelakaan dan meningkatkan keselamatan bersama.
Kegiatan terakhir yang kami lakukan adalah pemasangan banner “Dilarang Ngebut di Jalan” pada tanggal 26 April 2026 di kawasan Jalan Sultan Agung. Kegiatan tersebut dilakukan bersama pemuda daerah sebagai bentuk aksi nyata kepedulian terhadap lingkungan sosial sekitar. Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil dan kepedulian sederhana. Mengajak anak muda untuk ikut terlibat juga menjadi pengalaman berharga karena dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial, kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Saya berharap kegiatan pelayanan masyarakat seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan keselamatan di jalan. Dengan kepedulian bersama, lingkungan tempat tinggal akan menjadi lebih bersih, aman, dan nyaman untuk semua warga.
Selasa, 12 Mei 2026
ESSAI 9 MENJADI NASABAH DI BANK SAMPAH
Heni Dwi Anggreani
25310440001
Kelas Psikologi Lingkungan
- B
Tugas Essai 9
Dosen Pengampu: Dr.
Arundati Shinta M.A.
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
PENGALAMAN MENJADI NASABAH di BANK SAMPAH
Berawal dari pemberian tugas mata kuliah Psikologi Lingkungan, dimana Dosen meminta kami untuk menjadi nasabah Bank Sampah, awalnya saya tidak begitu memahami tentang apa itu dan dimana lokasi Bank Sampah yang ada ditempoat tinggal saya di Kota Salatiga, kemudian hasil memungut sampah botol plastik saat Plogging dan beberapa botol-botol yang ada dirumah, saya kumpulkan dan kemudian saya berikan di Bank Sampah Induk yang ada di Kota Salatiga.
Saya mulai menjadi nasabah bank sampah pada tanggal 21 April 2026. Pada penyetoran pertama, saya mengumpulkan sampah botol plastik dengan berat sekitar 1,25 kilogram dan memperoleh nilai sebesar Rp1.375. Nilai tersebut memang sangat kecil apabila dilihat dari sisi ekonomi. Akan tetapi, pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata masih dapat dimanfaatkan kembali apabila dipisahkan / dikelompokkan dengan benar.
Kemudian, pada tanggal 11 Mei 2026 saya kembali menyetorkan sampah plastik ke bank sampah. Saat itu, sampah yang saya kumpulkan berupa botol plastik dan beberapa wadah botol bekas dengan berat sekitar 0,75 kilogram dan 0,55 kilogram. Dari hasil penimbangan tersebut saya memperoleh nilai sekitar Rp2.200 dan Rp2.860. Pengalaman mengumpulkan sampah untuk kedua kalinya membuat saya semakin memahami bahwa kegiatan bank sampah bukan sekadar tentang mendapatkan uang dari sampah. Nilai uang yang diperoleh memang tidak besar, tetapi terdapat makna yang jauh lebih penting, yaitu membangun kesadaran untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Melalui kegiatan tersebut, saya mulai memahami pentingnya memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Sampah organik dapat diuraikan atau dimanfaatkan kembali menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik seperti botol plastik dapat dikumpulkan dan didaur ulang melalui bank sampah. Kebiasaan sederhana seperti ini ternyata memiliki pengaruh terhadap pengurangan penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir, termasuk di TPA Ngronggo yang volumenya terus meningkat dari waktu ke waktu. Jika masyarakat tidak memiliki kesadaran dalam mengelola sampah, maka penumpukan sampah akan semakin besar dan dapat menimbulkan berbagai masalah lingkungan.
Permasalahan
Selain memberikan pengalaman positif, kegiatan di bank
sampah juga memperlihatkan berbagai persoalan yang masih terjadi dalam
pengelolaan sampah. Salah satu masalah yang saya lihat adalah para relawan bank
sampah yang bekerja dengan penuh kepedulian, tetapi belum mendapatkan
penghargaan atau upah yang layak. Padahal, mereka memiliki peran penting dalam
membantu masyarakat mengelola sampah dan mengurangi beban TPA. Pemerintah dalam
hal ini DLH Kota Salatiga sepertinya kurang begitu peduli terhadap
relawan-relawan yang ada di Bank Sampah hal ini terlihat dari beberapa petugas
atau relawan yang disana bercerita tentang harus membayar dengan uang sendiri
ketika tidak ada kas yang diperuntukkan untuk membayar tenaga seperti
pengepresan botol-botol plastik dan orang-orang yang disewa untuk memilah/
mengelompokkan sampah-sampah yang masih tercampur, atau kebutuhan-kebutuhan
lainnya yang berkaitan dengan pengelolaan sampah yang ada di Bank Sampah Induk
Kota Salatiga.
Kesimpulan
Menjadi nasabah bank sampah memberikan pengalaman yang
berharga dalam memahami persoalan sampah secara lebih nyata. Selama ini sampah
sering dianggap sebagai barang yang tidak berguna dan hanya perlu dibuang.
Namun, melalui kegiatan bank sampah, saya mulai memahami bahwa sampah
sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi apabila dipilah dan dikelola dengan
baik. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran bahwa pengelolaan
sampah merupakan tanggung jawab bersama untuk mengurangi penumpukan sampah di
lingkungan dan tempat pembuangan akhir (TPA). Dan dengan menjadi nasabah bank
sampah, saya belajar bahwa persoalan sampah bukan hanya tentang kebersihan
lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan kesadaran sosial, kebijakan
pemerintah, dan tanggung jawab bersama. Bank sampah memang belum mampu
menyelesaikan seluruh persoalan sampah, tetapi keberadaannya menjadi salah satu
hal yang penting untuk membangun kebiasaan peduli lingkungan di masyarakat.
”SAMPAHMU
ADALAH TANGGUNG JAWABMU”









.jpeg)






