Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Jumat, 10 Juli 2026

 

Tugas                    : Esai 8 – Malakukan Revitalisasi Lahan Terkelola EDUPARK Merapi Valley   https://share.google/1EpS0bCVHy5FKyf8Y    

Nama MK            : Psikologi Lingkungan 

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A. 

Kelas                    : Karyawan (online)

Titik Muti’ah (243010440004)  

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta 

 

Merapi Valley (MV) Turi, Sleman, secara geografis masuk kawasan di lereng selatan Gunung Merapi, di Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan ini terbentuk dari endapan lahar pasca-erupsi yang terbengkalai awalnya kita revitalisasi. Merapi Valley mencakup kelurahan Girikerto, kawasan yang unik, bertransformasi dari lahan terdampak lahar terbukti ada batuan yang berdiameter 2 meteran peninggalan 3000 tahun lalu (ada artikel jurnalnya) yang kita namakan Gajah Duduk. MV kita ubah menjadi kawasan pertanian, ekosistem buatan, dan wisata edukasi. Lanskap ini merupakan hasil restorasi alami pascaerupsi 2010, di mana vegetasi kembali tumbuh dan membentuk habitat baru selama 15 tahun terakhir (rist mahasiswa biologi UAD). Area ini sering menjadi lokasi penelitian biodiversitas, studi habitat, serta konservasi lingkungan bagi murid-murid TK, SD disekitaran MV hingga Mahasiswa. Suasana di área ini relatif udara masih bersih dan air gunung sangat sejuk menyegarkan berada di ketinggian sekitar lereng Merapi (700 m), Memiliki panorama Gunung Merapi yang terbuka terutama pada pagi hari yang dapat dilihat jelas dari Gardu Pandang MV, Lingkungannya masih tenang sehingga cocok untuk healing, retreat, gathering, maupun kegiatan edukasi, camping. 

Yang menarik, MERAPI VALLEY dikenal kawasan pendidikan, pelatihan, retreat, atau wisata berbasis komunitas. Merapi Valley sangat potensial dijadikan laboratorium lapangan (field laboratory) untuk penelitian sains hingga psikologi, pemberdayaan masyarakat, Penelitian yang pernah dilakukan terkait minyak atsiri, pasir merapi, biologi terkait burung elang jawa dan binatang lain, hingga mitigasi bencana dengan dibuatnya miniatur gunung merapa seperti gambar diatas. Beberapa tanaman tumbuh subur di MV seperti kopi, mrica, salak, kayumanis, sereh, nanas hingga edelweis. Sedangkan fasilitasnya listrik menggunakan solarcell, drone, wifi, 3 toilate dan dapur yang ada , oven-batuannya  untuk barbeqeu ala azalbaizan. 

Semua ini mempunyai misi back to nature for happiness. Kegiatan yang rutin dilakukan adalah aktivitas kelas bahasa Inggris untuk  anak SD sekitar merapi dan diakhir tahun selalu diadakan lomba telling-story Get Talent in English, reunian beberapa teman-teman, Juggle Golf untuk orang dewasa dan anak-anak SD, kadang ada komunitas yang Camping atau menginap di Cottage/rumah kayu (ala Firlandia). Produk MV yang sudah dipasarkan adalah kopi MV, minyak atsiri sere wangi dan isi ulang air RO sehat untuk lansia, Merapi Valley akan terus berbenah sehingga nyaman untuk aktivitas dan hunian bagi masyarakat.    










ESAI 8: Melakukan Upcycling Sampah Anorganik dan Merintis sebagai Pengusaha Ekonomi Sirkuler

 Patchéra: Merintis Usaha Fesyen Berbasis Ekonomi Sirkular melalui Upcycling Kain Perca

Yufika Dwi Rezeki
NIM 25310440003
Psikologi Lingkungan — Kelas B
Esai 8 – Eksperimen Upcycling Sampah Anorganik
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Juli 2026

Pendahuluan

Lingkungan sekitar sering kali menyimpan potensi yang tidak disadari. Rumah saya berada di kawasan yang dikelilingi beberapa penjahit. Tepat di sebelah kanan rumah, di belakang rumah, dan beberapa rumah di sekitarnya terdapat usaha jahit yang setiap hari menghasilkan potongan-potongan kain perca sisa produksi. Karena ukurannya kecil, kain tersebut umumnya tidak lagi digunakan untuk membuat pakaian dan hanya disimpan atau dibuang.
Melihat kondisi tersebut, saya melihat adanya peluang untuk memanfaatkan kain perca menjadi produk yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi. Pemanfaatan kembali kain perca merupakan salah satu bentuk upcycling, yaitu mengolah sisa material menjadi produk baru dengan nilai yang lebih tinggi. Kegiatan ini juga sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yaitu memperpanjang masa pakai suatu material agar tidak langsung menjadi limbah.
Berangkat dari ide tersebut, saya merintis sebuah usaha kecil bernama Patchéra dengan slogan Giving Fabric a Second Story. Melalui Patchéra, kain perca diolah menjadi dua model rompi, yaitu Patchéra Elias Vest dan Patchéra Nara Vest, serta aksesori rambut Patchéra Lune Scrunchie. Selain bertujuan mengurangi limbah tekstil, proyek ini juga menjadi upaya membuktikan bahwa sisa kain produksi masih memiliki nilai jual apabila diolah secara kreatif.

Pengumpulan Bahan dan Proses Produksi

Bahan baku utama yang saya gunakan berupa kain perca sisa produksi dari beberapa penjahit di sekitar rumah. Selain itu, saya juga memanfaatkan sisa kain dari pakaian yang pernah saya jahitkan. Setelah pakaian selesai dibuat, sisa kain tersebut dikembalikan kepada saya dan saya simpan karena masih layak digunakan. Seluruh kain kemudian dipilah berdasarkan warna, motif, ukuran, dan kualitas agar sesuai dengan desain produk yang akan dibuat.
Setelah bahan terkumpul, saya mulai membuat desain produk yang sederhana agar potongan kain dengan ukuran yang beragam tetap dapat dimanfaatkan secara optimal. Kain dipotong sesuai pola, kemudian disusun berdasarkan kombinasi warna dan motif sebelum dijahit menjadi rompi. Potongan kain yang masih tersisa kembali dimanfaatkan menjadi Patchéra Lune Scrunchie, sehingga penggunaan bahan menjadi lebih efisien dan limbah kain dapat diminimalkan.
Kain-kain sisa yang tidak terpakai.
Proses pembuatan.

Hasil Produk

Melalui proses tersebut, saya berhasil menghasilkan tiga produk utama, yaitu Patchéra Elias Vest, Patchéra Nara Vest, dan Patchéra Lune Scrunchie.
Patchéra Elias Vest merupakan rompi dengan model tali samping sehingga ukuran dapat disesuaikan dengan penggunanya. Sementara itu, Patchéra Nara Vest menggunakan model berkancing dengan desain yang lebih sederhana. Adapun Patchéra Lune Scrunchie dibuat dari potongan kain yang masih tersisa agar pemanfaatan bahan menjadi lebih maksimal.
Karena dibuat dari kain perca, setiap produk memiliki susunan motif yang berbeda. Hal tersebut menjadikan setiap produk memiliki karakter yang unik dan tidak ada yang benar-benar sama.
Patchéra: Elia Vest.

Patchéra: Nara Vest.

Patchéra Lune Scrunchie.

Pemasaran dan Hasil Penjualan

Setelah produk selesai dibuat, saya membangun identitas merek dengan nama Patchéra dan slogan Giving Fabric a Second Story. Untuk memperkenalkan produk kepada calon konsumen, saya memanfaatkan media sosial, yaitu Instagram (@patchera.co) dan WhatsApp. Melalui Instagram, saya mengunggah foto produk, memberikan deskripsi singkat, serta mencantumkan harga agar calon pembeli dapat mengenal produk yang saya tawarkan. Sementara itu, WhatsApp saya gunakan untuk membagikan informasi produk melalui status dan kepada teman.
Promosi produk melalui Instagram dan WhatsApp.
Harga yang saya tetapkan adalah Rp77.000 untuk model Elia Vest, Rp57.000 untuk model Nara Vest, dan Rp5.000 per paket (2 buah) untuk Lune Scrunchie. Penetapan harga mempertimbangkan biaya produksi, tingkat kesulitan pembuatan, serta nilai dari produk hasil upcycling.
Pada tahap awal pemasaran, Lune Scrunchie berhasil terjual sebanyak 4 paket (delapan buah scrunchie). Meskipun masih dalam tahap perintisan, penjualan tersebut menunjukkan bahwa kain perca yang sebelumnya merupakan sisa produksi dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual dan diminati oleh konsumen.

Kaitan dengan Psikologi Konsumen dan Psikologi Lingkungan

Dari perspektif psikologi konsumen, keputusan seseorang dalam membeli produk tidak hanya dipengaruhi oleh fungsi produk, tetapi juga oleh persepsi terhadap nilai yang ditawarkan. Pada Patchéra, nilai tersebut dibangun melalui desain yang unik, penggunaan kain perca hasil upcycling, serta cerita di balik proses pembuatannya. Selain itu, setiap produk memiliki motif yang berbeda sehingga memberikan kesan eksklusif dan tidak diproduksi secara massal. Persepsi tersebut dapat meningkatkan ketertarikan konsumen untuk membeli produk. Hal ini terlihat dari penjualan awal Patchéra Lune Scrunchie, yang menunjukkan bahwa produk hasil upcycling memiliki peluang untuk diterima oleh konsumen dan memiliki nilai ekonomi.
Dari perspektif psikologi lingkungan, proyek ini menunjukkan bagaimana lingkungan sekitar dapat menjadi sumber inspirasi dalam menciptakan solusi terhadap limbah tekstil. Kain perca yang sebelumnya hanya menjadi sisa produksi dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memiliki fungsi baru. Upaya tersebut mencerminkan penerapan ekonomi sirkular karena memperpanjang masa pakai material sekaligus mengurangi potensi limbah tekstil. Melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa perubahan sederhana dalam memanfaatkan sumber daya di sekitar dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus membuka peluang usaha.

Hambatan dan Upaya Mengatasinya

Selama proses merintis Patchéra, saya menghadapi beberapa hambatan. Hambatan pertama adalah keterampilan menjahit. Saya pernah belajar menjahit secara otodidak, tetapi sudah cukup lama tidak berlatih sehingga pada proyek ini saya perlu kembali mengingat dasar-dasar menjahit dan membiasakan diri menggunakan mesin jahit. Akibatnya, proses produksi membutuhkan waktu lebih lama karena beberapa bagian harus diperbaiki agar hasil jahitan lebih rapi.
Hambatan berikutnya adalah karakteristik kain perca yang beragam, baik dari segi ukuran, motif, maupun warna. Kondisi tersebut membuat saya harus menyesuaikan desain dengan bahan yang tersedia sehingga setiap produk memerlukan proses penyusunan yang berbeda. Selain itu, sebagai usaha yang masih dalam tahap perintisan, saya juga menghadapi tantangan dalam memperkenalkan produk kepada calon konsumen.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, saya terus berlatih melalui praktik secara langsung agar keterampilan menjahit semakin berkembang. Saya juga memanfaatkan media sosial, yaitu Instagram dan WhatsApp, sebagai sarana promosi untuk memperkenalkan Patchéra kepada masyarakat. Pengalaman ini mengajarkan bahwa keterbatasan keterampilan dan sumber daya bukan menjadi penghalang untuk memulai, tetapi justru menjadi proses pembelajaran dalam mengembangkan usaha berbasis ekonomi sirkular.

Kesimpulan

Melalui proyek Patchéra, saya belajar bahwa kain perca sisa produksi masih dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna, nilai estetika, dan nilai ekonomi. Dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar, saya berhasil menghasilkan rompi dan scrunchie hasil upcycling serta memperoleh penjualan awal melalui promosi di Instagram dan WhatsApp. Pengalaman ini menunjukkan bahwa penerapan ekonomi sirkular dapat dimulai dari langkah sederhana dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, sekaligus membuka peluang usaha dan mengurangi potensi limbah tekstil.

ESSAY 10: PARTISIPASI LOMBA HERITAGE PHOTOGRAPHY COMPETITION 2026 DAN JALARUN FEST 6K (BUDAYAKAN LARIMU) 2026

 

HERITAGE PHOTOGRAPHY COMPETITION 2026

DAN JALARUN FEST 6K (BUDAYAKAN LARIMU) 2026

 


 KUS WITA WARDANI

25310430002

Psikologi Lingkungan/ Kelas Karyawan (B)

Tugas: Essai Partisipasi Lomba

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Bulan/ tahun terbit: Juli/ 2026

 

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45


PELAKSANAAN KEGIATAN

1.  HERITAGE PHOTOGRAPHY COMPETITION 2026

Hari/ Tanggal        : Sabtu/ 27 Juni 2026

Tempat                  : KgD Kedhaton, KgD Wahanarata, dan KgD Tamansari Kraton Yogya

Pukul                     : 07.30 – 16.30 wib

Tujuan kegiatan    :

Heritage Photography Competition 2026 adalah sebuah event foto yang diselenggarakan oleh Kawedanan Radya Kartiyasa Keraton Yogyakarta bekerja sama dengan mahasiswa salah satu kampus swasta di Yogyakarta, kompetensi ini mengusung tema “LANGGENG RUPA” tema ini meyoroti bagaimana manusia menjadi bagian yang menghidupkan ruang, tradisi, dan budaya di tengah perubahan jaman dengan biaya pendaftaran sebesar Rp.85.000,- Warisan budaya tidak hanya hidup dalam bangunan dan ruang bersejarah, tetapi juga melalui manusia yang terus beraktivitas, berinteraksi, dan menjaga nilai-nilai budaya di dalamnya. Juri dalam lomba Heritage Photography Competition 2026 kali ini adalah RM. Purwoguritno (Pengajeng Guritno Laksana Kawedanan Tandha Yekti Keraton Yogyakarta), Bima Adithya (Fotografer Profesional sejak 2009), dan Rio Pharaoh (Fotografer Profesional).

Secara umum lomba ini mengajak seluruh peserta lomba untuk mengeksplorasi kawasan wisata budaya Keraton Yogyakarta melalui pendekatan human interest photography (salah satu genre dalam seni foto yang menampilkan manusia sebagai subjek utama dan visual storytelling (mengabadikan momen otentik yang memiliki narasi visual kuat, sehingga karya tersebut mampu berkomunikasi dan menyampaikan pesan mendalam kepada penikmatnya). Dalam kompetensi ini, peserta akan mendokumentasikan kehidupan, emosi, serta interaksi manusia yang menghidupkan ruang-ruang warisan budaya. Di dalam event ini, peserta dapat mengikuti pengalaman fotografi ekslusif 1 day, 3 places Photography Experience dengan mengunjungi tiga unit wisata Kraton Yogyakarta (Kedhaton, Wahanarata, dan Taman Sari).

Bagi saya pribadi ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti kompetensi fotografi, saya tertarik memilih event lomba ini karena karena selain untuk mengeksplor hal baru yang belom pernah saya lakukan di bidang seni foto, selain itu saya tertarik dengan konsep event/ kompetensinya, dimana memasukkan unsur kebudayaan dalam acara ini (terjadi stimulus penguatan motivasi internal). Selain itu, dalam event Heritage Photography Competition 2026 ini saya juga dapat berkenalan dengan orang-orang baru dari berbagai daerah, terjadi transfer knowledge mengenai ilmu fotografi.

Acara dimulai dengan registrasi peserta, selanjutnya Opening dan Breefing yang dibuka oleh perwakilan dari Kraton Yogyakarta dan breefing dari perwakilan team panitia mengenai peraturan lomba beserta yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama mengikuti event tersebut. Dalam lomba kali ini, peraturan lomba tidak hanya menekankan masalah teknis pengambilan foto tetapi juga meliputi etika dalam bersikap dan cara berpakaian yang harus sopan (karena lomba ini masih dalam naungan Kraton Yogyakarta). Yang menarik disini bagi saya, dalam aturan lomba ini juga concern terhadap lingkungan seperti tidak boleh membuang sampah sembarangan atau melakukan tindakan yang merusak kawasan heritage dan dilarang merokok dan rokok elektronik selama kegiatan berlangsung. Setelah opening dan breefing, selanjutnya adalah aktivitas hunting session di tiga tempat wisata (sesi pertama berlokasi di Kedhaton, sesi ke-2 berlokasi di Wahanarata, dan sesi ke-3 berlokasi di Taman Sari).

Dalam event ini, Kraton Yogyakarta sangat hangat dalam menyambut kami (para peserta) dan dikolaborasikan dengan team panitia lomba yang bekerja dengan sangat professional menjadikan event ini adalah event yang sangat luar biasa di mata saya, selain itu interaksi antar peserta lomba juga sangat humanis dan kekeluargaan sehingga kesan kompetensinya menjadi sangat sehat, saya merasa sangat bahagia enjoy selama event berlangsung. Banyak manfaat yang saya dapatkan dari event Heritage Photography Competition 2026 ini selain pengalaman, transfer ilmu fotografi, relasi baru, selain itu juga melalui event ini saya semakin menghormati dan mencintai budaya dengan pendekatan yang berbeda. Sampai blog ini dipublish, untuk e-sertifikat belom didapatkan dari panitia lomba tersebut.


                                
Ket: Dok Tiket Heritage Photography Competition "Langgeng Rupa"  2026                Ket: Opening ceremony perwakilan Kraton Yogyakarta



Ket: Dok foto bersama panitia dan peserta Heritage Photography Competition "Langgeng Rupa"  2026


2.  JALARUN FEST 6K (BUDAYAKAN LARIMU) 2026

Hari/ Tanggal         : Minggu/ 28 Juni 2026

Tempat                  : Kampus UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta),  

Pukul                     : 04.30 – 10.00 wib

Tujuan kegiatan     :

Acara ini diselenggarakan dengan memadukan semangat olahraga dengan kekayaan budaya dalam satu pengalaman yang seru, sehat dan penuh warna. Biaya pendaftaran dalam event lari ini adalah sebesar Rp. 70.000, - dengan mengusung konsep budaya, Jalarun Fest 2026 bukan hanya sekedar sebagai ajang lari, tetapi juga sebagai ruang untuk mengekspresikan kreativitas, kebersamaan, dan kecintaan terhadap budaya lokal, ditambah lagi dalam event lomba lari ini saya melakukan bersama teman kelas psikologi lingkungan lainnya sehingga hal ini merupakan penguatan motivasi internal bagi saya.

Kegiatan Fun Run (FR) sendiri akhir-akhir ini sangat diminati di kalangan masyarakat dan menjadi gaya hidup sehat, kegiatan ini merupakan kegiatan lari yang dilakukan secara santai dan menyenangkan, baik yang bersifat kompetensi maupun tidak (Scheerder et al., 2015). Selain kesehatan secara fisik dan mental, kegiatan ini juga berperan penting dalam menciptakan budaya olahraga yang positif dari berbagai kelmpok masyarakat. Fun Run sendiri masuk kedalam kategori aktivitas fisik atau psychical activity (PA), dimana aktivitas tersebut dapat mengurangi resiko penyakit kardiovaskular, kelebihan berat badan, obesitas, diabetes tipe 2, stress dan depresi. 

Saya menikmati rute dengan atmosfer festival yang energik, tidak hanya itu Jalarun Fest juga menghadirkan kompetisi best costume bagi pelari yang tampil unik, kreatif, dan mengangkat unsur budaya dengan gaya masing-masing. Dengan perpaduan olahraga, hiburan dan budaya, bagi saya Jalarun Fest menjadi pengalaman festival lari yang berbeda, menyenangkan, dan berkesan. Di dalam event ini juga terdapat beberapa stand makanan, minuman, parfum dan beberapa usaha UMKM lainnya, event ini ditutup dengan performance atau penampilan dari beberapa band indies yang cukup meriah.

Bagi para peserta yang tidak mencapai podium utama akan diberikan Finisher Medal, terjadi opini dalam masyarakat mengenai “Kenapa semua finisher dapat medali padahal tidak juara?”. Menurut pendapat saya, hal tersebut tidak perlu menjadi hal yang perlu diperdebatan, karena berpartisipasi dalam sebuah lomba adalah simbol bahwa kita sudah berhasil melawan rasa malas, takut gagal, keberanian untuk start dan bertahan sampai melewati finish itu layak diapresiasi.


  
Foto: Dok pribadi setelah event lari Jalarun Fun Run 2026    


  Daftar Pustaka

Aprilo, I., Arfanda, P. E., & Mappaompo, M. A. (2024). Fun Run: Gaya Hidup Sehat Dengan   Peningkatan Daya Tahan Kardiovaskular (Literature Review). 85–89.

Arfanda, P. E., Aprilo, I., Mappaompo, M. A., Muhammad, H. N., & Jr, P. B. D. (2024). Self-rated health   of physical function, physical role, and bodily pain are related to general health in the fun- community. 11(3), 365–368.

World Health Organization. (2018). Global Action Plan on Physical Activity 2018-2030: More Active         People For A Healthier World. World Health Organization.

https://kebudayaan.jogjakota.go.id/page/index/kawasan-kraton

Kamis, 09 Juli 2026

 

Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Esai  8

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 

ESAI KE-8 Esai 8 – Melakukan upcycling sampah anorganik & merintis sbg pengusaha ekonomi sirkuler : Mengubah Tutup Botol menjadi Bunga yang indah.

Melakukan upcycling sampah anorganik merupakan pengalaman yang sangat berkesan dan memberikan pelajaran yang berharga  bagi saya, terutama dalam meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Dalam kegiatan ini, saya memanfaatkan tutup botol plastik bekas menjadi hiasan bunga. Setiap tutup botol disusun dan dirangkai dengan teliti hingga menjadi satu tangkai bunga yang menarik. Dari proses tersebut, saya menyadari bahwa mengolah sampah tidak sesulit yang saya bayangkan. Dibutuhkan ketelatenan, kesabaran, dan kreativitas agar barang yang semula dianggap tidak berguna dapat berubah menjadi karya yang memiliki nilai.

Pengalaman ini mengubah cara pandang saya terhadap sampah plastik. Sebelumnya, botol dan tutup botol bekas minuman sering kali langsung dibuang setelah digunakan. Padahal, benda-benda tersebut masih dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang berguna. Dari situ saya belajar bagaimana memanfaatkan kembali sampah anorganik dan pengalaman ini menunjukkan bahwa perilaku peduli lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, yaitu mengurangi sampah dengan memanfaatkan kembali barang bekas. Ketika seseorang memiliki kesadaran bahwa tindakannya dapat memberikan manfaat bagi lingkungan, maka perilaku ramah lingkungan akan lebih mudah terbentuk dan dilakukan secara konsisten.

Setelah bunga selesai dibuat, saya mencoba memasarkan hasil karya tersebut melalui Facebook dengan harga Rp10.000 per tangkai. Alhamdulillah, beberapa bunga berhasil terjual sehingga saya memperoleh pendapatan sebesar Rp30.000 dari hasil upcycling tersebut. Pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa menjaga lingkungan juga dapat memberikan manfaat ekonomi. Namun, bagi saya, nilai yang paling berharga bukanlah keuntungan yang diperoleh, melainkan kesadaran bahwa sampah memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali sehingga jumlah limbah yang dibuang ke lingkungan dapat berkurang. Hal ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular yang mendorong pemanfaatan kembali sumber daya agar tidak langsung menjadi limbah.

Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa perubahan perilaku terhadap lingkungan dapat dimulai dari diri sendiri. Langkah sederhana seperti memanfaatkan tutup botol bekas menjadi kerajinan dapat menjadi bentuk kontribusi nyata dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus menginspirasi orang lain untuk lebih bijak dalam mengelola sampah. Pengalaman ini membuat saya semakin percaya bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu diwujudkan melalui tindakan besar, tetapi dapat dimulai dari kreativitas dan kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus.

ESAI KE-10 PARTISIPASI LOMBA

 

Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Esai  10

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 

 

ESAI KE-10 PARTISIPASI LOMBA : PENGALAMAN YANG MENUMBUHKAN SEMANGAT

LOMBA 1 : membuat video dalam rangkahari  Kebangkitan Nasional,  dengan link video:

https://www.instagram.com/reel/DY897K1xBAR/?igsh=MWIwOTAxZXRwYnFoYw==

Mengikuti berbagai kegiatan sebagai salah satu tugas mata kuliah Psikologi Lingkungan, merupakan pengalaman yang sangat berharga karena memberikan kesempatan untuk belajar, berkembang, dan mengenali potensi diri. Tekait dengan tugas esai ke-10 pada mata kuliah Psikologi Lingkungan, saya mengikuti dua lomba yang berbeda, yaitu lomba video dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional dan lomba menulis puisi bertema ”Rindu yang Tak Pernah Usai”. Dari kedua kegiatan tersebut, saya memperoleh sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi saya. Walaupun belum menjadi pemenang, pengalaman yang saya peroleh jauh lebih bermakna daripada sekadar hasil akhir.

Pada lomba video Hari Kebangkitan Nasional, saya belajar untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air, nasionalisme, serta menghargai perjuangan para pahlawan. Proses membuat video membuat saya lebih memahami bahwa lingkungan sosial memiliki peran penting dalam membentuk karakter, kepedulian, dan rasa memiliki terhadap bangsa. Sebagai bagian dari masyarakat, setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjaga persatuan dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.

Sementara itu, melalui lomba puisi Rindu yang Tak Pernah Usai, saya diajak untuk mengingat kembali berbagai kenangan dan pengalaman hidup yang pernah saya alami. Menulis puisi menjadi sarana untuk mengekspresikan emosi, mengenali perasaan, serta mengolah pengalaman menjadi sebuah karya yang bermakna. Dari proses tersebut saya menyadari bahwa lingkungan tidak hanya berupa tempat fisik, tetapi juga mencakup pengalaman, hubungan dengan orang lain, dan berbagai peristiwa yang membentuk kondisi psikologis seseorang.

Kedua lomba tersebut memberikan pelajaran bahwa setiap kompetisi harus dijalani dengan jujur, sportif, dan penuh tanggung jawab. Dalam sebuah perlombaan tentu ada peserta yang menang dan ada yang belum berhasil. Ketika saya tidak terpilih sebagai pemenang, saya sempat merasa kecewa. Namun, saya tidak ingin menjadikan kegagalan tersebut sebagai alasan untuk berhenti mencoba. Sebaliknya, pengalaman itu justru menumbuhkan motivasi untuk terus belajar, memperbaiki kemampuan, dan berani mengikuti lomba-lomba berikutnya.

Dari kedua kegiatan tersebut saya memahami jika lingkungan yang positif mampu mendorong munculnya motivasi, ketahanan diri (resilience), serta semangat untuk berkembang. Adanya penyelenggaraan lomba menjadi salah satu bentuk lingkungan yang memberikan kesempatan bagi individu untuk berkompetisi secara sehat, menyalurkan kreativitas, dan meningkatkan rasa percaya diri. Interaksi dengan peserta lain juga mengajarkan pentingnya menghargai usaha orang lain serta menerima hasil kompetisi dengan lapang dada.

Melalui pengalaman mengikuti kedua lomba tersebut, saya memperoleh pelajaran bahwa keberhasilan tidak hanya dinilai dari kemenangan, tetapi juga dari keberanian untuk mencoba, proses belajar yang dijalani, dan semangat untuk terus berkembang. Pengalaman ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus berkarya, berpartisipasi dalam berbagai kegiatan positif, serta membangun sikap optimis dalam menghadapi tantangan di masa depan.