Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Rabu, 24 Juni 2026

ESSAI 5 PERTEMUAN KE -2 DI RUMAH DOSEN PENGELOLAAN SAMPAH ANORGANIK


Moch Aziiz Suharyadi

24310410211

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi 

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Berkah di Balik Sampah: Eksperimen Upcycling Kreatif Bersama Ibu Dosen


Minggu pagi itu rasanya beda dari biasanya. Saya dan teman-teman kelas Psikologi Lingkungan kembali berkumpul di rumah Bu Shinta. Kegiatan ini sebenarnya sudah yang kedua kalinya, tapi entah kenapa, kali ini terasa lebih “kena” secara pribadi.

Beberapa hari sebelum itu, jujur saja saya lagi cukup terganggu dengan satu hal yang kelihatannya sepele: sampah. Bukan cuma satu dua, tapi tumpukan sampah anorganik yang seperti tidak ada habisnya botol plastik, kaleng bekas, kain perca. Rasanya ke mana pun saya melihat, selalu ada. Mau dibuang, tapi tahu itu bukan solusi. Mau diolah, tapi bingung harus mulai dari mana. Rasanya sumpek, sampai kadang bikin kepala terasa penuh sendiri.

Akhirnya, kegiatan di rumah Bu Shinta ini seperti jadi jawaban yang saya butuhkan.

Pagi itu, dari jam 9 sampai sekitar setengah 12 siang, halaman belakang rumah beliau berubah jadi tempat belajar yang benar-benar hidup. Suasananya adem, banyak tanaman, dan yang menarik, bukan cuma kami mahasiswa yang ikut, tapi juga ada ibu-ibu yang sudah lebih dulu terbiasa mengelola sampah. Di situ saya ngerasa, ini bukan sekadar kegiatan kuliah, tapi ruang belajar yang nyata.

Kami dibagi jadi dua kelompok. Kelompok saya kebagian menghias piring kaca bekas dan paper bag. Awalnya saya kira bakal ribet, tapi ternyata justru seru. Kami pakai kain batik atau kain bekas lain, ditempel di bagian belakang piring pakai lem, dijemur, lalu dilapisi lagi biar lebih rapi dan kuat. Prosesnya memang butuh sabar, tapi waktu lihat hasilnya piring bekas yang tadinya biasa saja jadi terlihat cantik rasanya puas banget.

Lalu kami juga menghias paper bag dengan cat air. Nah, di bagian ini saya merasa seperti “lepas”. Bebas gambar apa saja, bebas warna apa saja. Tidak ada benar atau salah. Cuma menuangkan apa yang ada di kepala. Ternyata, dari hal sederhana seperti itu saja bisa terasa menyenangkan.

Di sisi lain, teman-teman yang di kelompok kedua membuat gantungan kunci dari tali masker dan benang bekas. Ada yang dianyam rapi, ada yang dibuat menjuntai seperti hiasan. Kelihatannya sederhana, tapi ternyata butuh ketelitian juga. Yang menarik, semua bahan yang dipakai itu awalnya adalah “sampah”.

Tidak berhenti di situ, kami juga sempat mencoba membuat lilin aromaterapi dari sisa lilin lama, lalu dicetak di kaleng bekas. Ada juga yang mengolah plastik tebal jadi wadah cantik, bahkan merangkai parcel dari bahan-bahan bekas. Di situ saya mulai sadar, ternyata kemungkinan dari “sampah” itu jauh lebih banyak dari yang saya bayangkan.

Dari semua proses itu, ada satu hal yang paling terasa: perubahan cara pandang. Yang tadinya saya lihat sebagai sesuatu yang mengganggu, sekarang mulai saya lihat sebagai sesuatu yang bisa diolah. Yang tadinya bikin stres, sekarang justru terasa menantang dan bahkan menyenangkan.

Kalau dipikir-pikir, ini bukan cuma soal daur ulang atau upcycling. Ini soal bagaimana kita memaknai lingkungan di sekitar kita. Dari sudut pandang Psikologi Lingkungan, pengalaman langsung seperti ini ternyata jauh lebih kuat daripada sekadar teori. Kita jadi benar-benar “merasakan”, bukan cuma “mengetahui”.

Yang paling saya ingat adalah perasaan di akhir kegiatan. Ada rasa lega, tenang, dan sedikit bangga. Bukan karena hasilnya sempurna, tapi karena saya akhirnya menemukan cara untuk tidak lagi merasa buntu menghadapi sampah.

Pengalaman ini seperti menyadarkan saya bahwa menjaga lingkungan itu tidak harus dimulai dari hal besar. Cukup dari hal kecil, dari rumah, dari apa yang ada di sekitar kita. Dan yang paling penting, dimulai dari cara kita melihat sesuatu.

Sekarang, setiap kali melihat sampah anorganik, perasaan saya sudah tidak sama lagi. Memang masih banyak, memang masih jadi masalah. Tapi setidaknya, saya tidak lagi merasa tidak berdaya. Karena saya tahu, selalu ada cara untuk mengubahnya asal kita mau mencoba.

Senin, 22 Juni 2026

Essai 9 nasabah bank sampah

Menjadi Nasabah Bank Sampah Mandiri di Rumah: Langkah Nyata Memilah dan Menabung






Tujuan

Esai ini disusun agar kita bisa secara nyata mengelola sampah anorganik rumah tangga secara mandiri. Melalui sistem bank sampah sederhana di lingkungan rumah, kita dapat memahami bahwa sampah yang dipilah dengan baik memiliki nilai ekonomis. Langkah ini juga bertujuan membentuk perilaku yang bertanggung jawab dan lebih menghormati lingkungan hidup.

Ketentuan Pelaksanaan

  • Topik: Menjadi nasabah bank sampah mandiri di rumah.
  • Waktu Kegiatan: April 2026 – Juli 2026 (Menabung minimal 2 kali).
  • Identitas Bank Sampah: Bank Sampah Mandiri "Berkah Rumah", dikelola secara swadaya di area garasi rumah dengan menyalurkan hasil sisa konsumsi ke pemulung langganan setempat.

Laporan Kegiatan Menabung dan Pengelolaan Sampah

Dalam kurun waktu April hingga Juli 2026, saya berinisiatif memisahkan sampah anorganik yang dihasilkan dari aktivitas harian keluarga. Sampah tidak lagi dibuang begitu saja ke tempat pembuangan akhir, melainkan dikelompokkan ke dalam wadah khusus berdasarkan jenisnya. Selama periode ini, saya melakukan dua kali transaksi penyaluran (menabung) dengan rincian sebagai berikut:

1. Tabungan Pertama (Mei 2026)

Pada transaksi pertama, fokus pengumpulan adalah botol plastik bekas air mineral dan kardus sisa paket belanja daring.

  • Jenis & Berat Sampah: Botol air mineral (PET) seberat 3,5 kilogram dan kardus kering seberat 6 kilogram.
  • Uang yang Diperoleh: Botol plastik dihargai Rp3.000 per kilogram dan kardus Rp2.000 per kilogram. Total uang yang diperoleh dari pemulung pada tabungan pertama ini adalah Rp22.500.

2. Tabungan Kedua (Juli 2026)

Pengumpulan kedua dilakukan menjelang akhir periode tugas dengan volume sampah yang sedikit meningkat karena adanya aktivitas renovasi kecil di rumah.

  • Jenis & Berat Sampah: Kardus gelombang tebal seberat 8 kilogram dan campuran botol plastik bersih seberat 4 kilogram.
  • Uang yang Diperoleh: Dengan fluktuasi harga pasar lokal, kardus terjual Rp2.500 per kilogram dan botol plastik Rp3.000 per kilogram. Total pendapatan pada tabungan kedua adalah Rp32.000.

Jika diakumulasikan, total dana yang berhasil dikumpulkan dari dua kali kegiatan menabung ini adalah sebesar Rp54.500.

Melalui program bank sampah mandiri ini, saya menyadari bahwa pengelolaan limbah anorganik di tingkat rumah tangga sangat krusial. Botol mineral dan kardus yang awalnya dianggap sebagai barang habis pakai tanpa nilai, ternyata bisa dikonversi menjadi uang tunai yang bermanfaat.

Lebih dari sekadar keuntungan finansial, kegiatan ini melatih kedisiplinan dalam memilah sampah sejak dari sumbernya. Hubungan kerja sama yang terjalin dengan pemulung lokal juga membantu mempercepat rantai daur ulang di lingkungan sekitar. Menghormati sampah berarti memberikan kesempatan kedua bagi material anorganik agar tidak mencemari bumi.


Lisa Sugiarty_24310410230_essai 9_psikologi lingkungan_kelas karyawan_dosen ibu Arundati Sinta_Psikologi Up45

Minggu, 21 Juni 2026

 


Tugas                    : Esai 9 – MENJADI NASABAH BANK SAMPAH ‘BUMIKU  LESTARI’ DAYU

Nama MK            : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Kelas                    : Karyawan (online)

Titik Muti’ah       (243010440004)                                       

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


 


Pengalaman yang sangat berharga menjadi anggota bank sampah di area jalan Damai Yogyakarta. Selain itu saya juga membawa sampah anorganik saya ke ‘Sodaqoh Sampah di Masjid Ahmad Dahlan di daerah Rejodani, jalan Palagan. Pengalaman menjadi nasabah bank sampah mengubah pandangan saya terhadap limbah, di mana sampah kering bernilai ekonomis. Saya secara rutin memilah sampah dari rumah dan menyetorkannya ke pengurus untuk dicatat menjadi saldo tabungan, yang hasilnya bisa dicairkan dalam bentuk uang tunai, ditukar dengan sembako.

Proses utama dan manfaat yang dirasakan sehari-hari diantaranya Pembersihan & Pemilahan; Sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, koran, dan kaleng harus dipilah dan dibersihkan dari sisa kotoran sebelum disetor agar memiliki nilai jual tinggi. Penimbangan & Pencatatan: Sampah yang dibawa akan ditimbang dan dicatat dalam buku tabungan atau aplikasi digital sesuai dengan jenis dan beratnya. Pencairan; Saldo yang terkumpul bisa ditarik sesuai jadwal yang disepakati (misalnya menjelang hari raya) atau langsung digunakan untuk membayar tagihan rutin. Langkah ini adalah salah satu cara paling nyata dalam mendukung lingkungan sekaligus mendapatkan penghasilan tambahan dari rumah.

Sosialisasi ke masyarakat bahwa sampah itu bisa dikelola atau dipilah dari sumbernya tapi merubah mindset masyarakat memerlukan proses dan waktu. Dalam sosialisasi bagaimana cara menanganan sampah bagaimana kita memperlakukan sampah bagaimana juga kita pasca pengolahan sampah itu kenapa harus dipilah dan gimana caranya, makanya masih banyak kendala Sebenarnya kalau sampah sudah dipilah dari sumbernya itu lebih meringankan dan lebih untuk menghindari masalah. Sampah yang dikumpulkan oleh nasabah bank sampah nantinya akan dijual, dan hasilnya bisa ditabung atau langsung diterima dalam bentuk uang tunai. Adanya bank sampah ini, perekonomian masyarakat akan agak terbantu. Sampah yang biasanya dianggap sebagai masalah, sekarang menjadi sumber penghasilan tambahan,


 


Sabtu, 20 Juni 2026

 

Tugas                    : Esai 5 – Eksperimen Anorganik di rumah dosen

Nama MK            : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Kelas                    : Karyawan (online)

Titik Muti’ah       (243010440004)                                       

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 

KUNJUNGAN:

Hari/Tanggal :  Minggu 31 Mei 2026

Waktu :            09.00 -11.30

Tempat :          Rumah DR. Arundati Shinta, M.A.



Pagi itu, kami mahasiswa kelas psikologi lingkungan berkumpul di rumah dosen ibu Shinta dari jam 9 pagi hingga 11.30 am. Beliau menyediakan halaman belakang menjadi laboratorium alam yang asri dengan banyak tanaman. Hari ini, rumahnya menjadi titik temu dua generasi mahasiswa dan ibu-ibu tangguh penggiat recycling sampah anorganik yang memiliki keresahan atas sampah atau limbah unorganik. Kita berkumpul bukan untuk berteori, melainkan melakukan aksi nyata menyulap sampah domestik menjadi produk bernilai guna dan bisa dijual memperoleh tambahan penghasilan.

Kegiatan yang menyenangkan ini tujuannya membuat beberapa produk dari limbah sampah unorganik. Kami merasa senang, terhibur dan menikmati dalam melakukannya dengan bimbingan dan arahan bu Shinta yang dengan sabar mencontohkan pada mahasiswanya. Beliau sangat trampil dan cepat dalam mencontohkan dan mengerjakan dikarenakan beliau telah melakukan berulang kali sendirian.

Beberapa disign kami kerjakan diantaranya 1) pembuatan piring cantik & unik dengan memanfaatkan kain perca batik atau motif apa saja. Piring ini dibuat dengan mebubuhkan lem di piring bagian belakang untuk menempelkan kain perca tadi tanpa berongga, kemudian dipanaskan agar kering dan menempel sempurna. Hasilnya ada dalam gambar diatas. 2) membuat gandungan kunci ada 2 design yang semuanya dibuat dari potongan-potongan benang sisa warna-warni. Benang dipotong sekitar 1meteran ada 2 wana menurut selera, diayam dengan rapi dan kuat hingga membentuk lingkaran sampai selesai dan dirapikan, diberi cantungan kunci dan terakhir dipanaskan diatas api agar lebih halus teksturnya. Model yang satu lagi, benang dipotong sekitar 15-20 cm, kemudian diayam melebar dibiarkan menjuntai ke kanan dan kiri, pemilihan warna menurut selera. Kemudian benang yang tersisa tadi dibuka/diurai, disisir agar halus hingga seperti gambar diatas, diberi gantungan kunci dan dipotong/dirapikan sisi kanan dan kirinya, bisa dibentuk sesuai selera.

Aktivitas yang berlangsung hingga siang hari ini bukan sekadar eksperimen daur ulang. Rumah sang dosen telah menjadi ruang dialektika yang hidup, di mana pengalaman praktis ibu-ibu penggiat dan perduli kingkungan berpadu sempurna dengan idealisme akademis mahasiswa. Dari halaman rumah ini, mereka mmbuktikan bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas bukan hal yang mustahil, dimulai dari pemilahan, memanage sampah anorganik demi bumi yang lebih bersih. 







ESSAY PRESTASI (EPRES)

ESSAY PRESTASI (EPRES)

Nama : Wulan Rahmawati

NIM : 24310410236

Kelas   : B

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Tugas  : Essay Prestasi

Bulan/Tahun Terbit: Juni 2026


Tiga Prestasi dalam Kegiatan Pelayanan Masyarakat 

Terlibat dalam beberapa kegiatan pelayanan masyarakat yang ada di lingkungan tempat tinggal merupakan suatu kebanggaan bagi saya. Kegiatan ini juga merupakan bentuk nyata kepedulian, tanggung jawab dan kebersamaan kita dalam menjaga lingkungan sekitar yang berdampak menjaga hubungan sosial yang baik antara tetangga. Saya belajar bahwa prestasi tidak selalu berupa penghargaan besar tetapi juga kontribusi untuk membantu orang lain dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Kegiatan I

Kegiatan pelayanan masyarakat saya yang pertama yaitu mengikuti kegiatan bersih-bersih taman bersama di KWT Sehati PKK RT 19 Baturetno pada tanggal 7 Juni 2026, pukul 06.00–07.30. Kegiatan ini dilakukan rutin setiap hari Minggu bersama ibu-ibu PKK untuk membersihkan lingkungan dan menjaga kebersihan taman wilayah RT 19. Dalam kegiatan ini peran saya adalah ikut aktif sebagai anggota PKK di wilayah Baturetno dengan membantu membersihkan area taman, menyiram tanaman, mengangkat sampah dan merapikan lingkungan agar terlihat nyaman dan sehat. Saya merasa kegiatan ini sangat penting karena taman yang bersih dapat menciptakan suasana yang indah dan mendukung kesehatan warga. Kegiatan ini juga mengajarkan saya untuk peduli terhadap lingkungan sekitar dan bekerja sama dengan warga lain. 

Kegiatan II

Kegiatan kedua yaitu keterlibatan saya dalam acara Dawis 1 pada tanggal 5 Juni 2026 selama 2 jam dari pukul 16.00–18.00. Dalam kegiatan rutin bulanan ini beberapa hal penting yang dibahas seperti lomba lingkungan sehat, agenda pembersihan taman sehat, serta pembentukan pengurus KWT yang baru. Sebagai anggota Dawis saya ikut hadir dan berpartisipasi aktif dalam diskusi. Peran saya dalam kegiatan ini adalah menjadi bagian dari masyarakat yang mendengarkan informasi, memberikan dukungan, dan ikut menjaga kelancaran acara. Selain itu pada kegiatan Dawis juga menjadi sarana penyampaian informasi mengenai posyandu lansia dan anak setiap bulan, sehingga saya merasa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mendukung kebutuhan warga. Dari kegiatan ini saya belajar pentingnya komunikasi, tanggung jawab, dan keterlibatan aktif dalam kegiatan lingkungan.

Kegiatan III

Selanjutnya pada kegiatan saya yang ketiga yaitu mengikuti kegiatan bersih-bersih makam pada 16 Juni 2026 atau bertepatan dengan 1 muharram sekitar pukul 16.00. Kegiatan ini dilakukan bersama beberapa warga kampung dalam agenda rutin bulanan untuk membersihkan lingkungan makam dan kampung. Peran saya dalam kegiatan ini adalah membantu mencabut rumput yang tumbuh di atas makam, membersihkan area makam, serta memastikan tempat tersebut tetap rapi dan terawat. Walaupun terlihat sederhana tetapi menurut saya kegiatan ini memiliki makna yang besar karena menjaga kebersihan makam merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus menjaga lingkungan agar tetap bersih dan nyaman. Saya merasa kegiatan ini melatih rasa tanggung jawab, kebersamaan, dan kepedulian sosial di sekitar kita.