Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Kamis, 28 Mei 2026

ESAI PRESTASI: 3

Partisipasi dalam Kegiatan Pelayanan Masyarakat

Yufika Dwi Rezeki

25310440003

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Esai Prestasi (EPres) ke-3

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Mei 2026

Kegiatan I

Pada tanggal 27 Mei 2026, saya mengikuti kegiatan pelayanan masyarakat dalam rangka pelaksanaan Iduladha di lingkungan tempat tinggal saya. Kegiatan tersebut dilakukan bersama panitia dan tetangga sekitar untuk membantu proses pembagian daging kurban. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kebersamaan masyarakat yang masih terjaga dengan baik di lingkungan tempat tinggal saya.

Peran saya dalam kegiatan tersebut adalah ikut membantu mendistribusikan daging kurban kepada tetangga sekitar agar pembagian dapat berjalan dengan tertib dan merata. Saya membantu membagikan daging kurban dari rumah ke rumah bersama warga lainnya. Walaupun peran yang saya lakukan sederhana, saya merasa kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang berharga karena saya dapat terlibat langsung dalam kegiatan sosial di lingkungan masyarakat.


Membantu mendistribusikan daging kurban kepada tetangga sekitar.

Melalui kegiatan tersebut saya belajar bahwa kerja sama dan kepedulian sosial sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Proses pembagian daging kurban tidak hanya sekadar memberikan bantuan, tetapi juga menjadi bentuk kebersamaan dan rasa peduli terhadap sesama. Saya melihat bagaimana masyarakat saling membantu agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar dan pembagian dapat dilakukan dengan baik. Selain itu, kegiatan tersebut juga membuat hubungan antarwarga menjadi lebih dekat karena semua bekerja sama untuk tujuan yang sama.

Kegiatan II

Selain kegiatan Iduladha, pada tanggal 21 Mei 2026 saya juga ikut membantu di rumah warga yang mengalami kedukaan. Dalam kegiatan tersebut, peran saya adalah membantu proses persiapan dan membantu kebutuhan yang diperlukan selama kegiatan berlangsung. Saya ikut membantu hal-hal sederhana yang dapat meringankan pekerjaan keluarga yang sedang berduka. Menurut saya, kehadiran dan bantuan kecil yang diberikan kepada orang lain tetap memiliki arti penting, terutama ketika seseorang sedang mengalami kesulitan.

Membantu membungkus konsumsi untuk tahlilan.

Kegiatan pelayanan masyarakat tersebut memberikan pengalaman yang berharga bagi saya mengenai pentingnya empati, kepedulian sosial, dan sikap saling membantu di lingkungan masyarakat. Saya belajar bahwa kehidupan bermasyarakat membutuhkan rasa peduli dan kerja sama agar hubungan sosial antarwarga dapat terjalin dengan baik. Melalui kegiatan tersebut saya juga menyadari bahwa membantu orang lain tidak selalu harus dalam bentuk besar, tetapi dapat dimulai dari tindakan sederhana di lingkungan sekitar.

Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan sosial tersebut, saya menjadi lebih memahami bahwa kontribusi sederhana sekalipun tetap memiliki manfaat bagi orang lain. Pengalaman ini juga membuat saya lebih menghargai pentingnya hadir dan membantu masyarakat dalam berbagai situasi, baik dalam kegiatan kebersamaan maupun ketika ada warga yang sedang mengalami kesulitan. Saya berharap dapat terus ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan pelayanan masyarakat.

ESSAI 6 : Eksperimen Sampah Organik Di Rumah Dosen

 Belajar  Bertanggung Jawab Terhadap Sampah Seniri dan Praktik Pengelolaan Sampah Organik


Moch Aziiz Suharyadi

24310410211

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 6

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Pengelolaan sampah merupakan isu penting yang tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral, sosial, dan lingkungan. Permasalahan seperti pencemaran udara serta kendala dalam regenerasi sumber daya manusia dalam pengelolaan sampah menunjukkan bahwa dibutuhkan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan.

Salah satu konsep yang dapat diterapkan adalah TPST 3R (Reduce, Reuse, Recycle), yaitu sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berfungsi sebagai pusat pengolahan sampah di tingkat kawasan. Kegiatan yang dilakukan meliputi pengumpulan, pemilahan, dan pemanfaatan kembali material agar volume sampah yang dikirim ke TPA dapat diminimalkan serta nilai ekonominya tetap terjaga. Optimalisasi program ini memerlukan edukasi masyarakat, inovasi teknologi, pelatihan bagi karyawan, serta kerja sama antara masyarakat, pihak swasta, dan pemerintah.

Dalam praktiknya, pembelajaran mengenai pengelolaan sampah dapat dilakukan melalui pengalaman langsung. Salah satu contoh kegiatan dilakukan oleh mahasiswa dalam mata kuliah psikologi lingkungan di kediaman dosen. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dan masyarakat sekitar untuk mempraktikkan pengolahan sampah organik menjadi produk yang bermanfaat seperti kompos, eco-enzyme, dan sabun cair.

Sebelum kegiatan dimulai, mahasiswa dibekali materi mengenai proses pembuatan dan pemanenan kompos, pembuatan eco-enzyme, hingga pengolahan sabun berbahan eco-enzyme. Mahasiswa kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok agar dapat mencoba setiap tahapan secara bergantian. Mereka juga diminta membawa makanan yang dibungkus daun pisang dan plastik sebagai bentuk pembelajaran perilaku reduce, yaitu mengurangi sampah dengan menghabiskan makanan dan bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkan.

Setelah makanan dikonsumsi, sampah dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah organik seperti daun pisang dirajang kecil untuk dijadikan bahan kompos, sedangkan sampah plastik dipisahkan. Dalam proses pembuatan kompos, bahan organik dicampur dengan dedak, dolomit, POC, daun sirih, bubuk kayu, sampah kebun, tetes tebu, dan EM4, kemudian diaduk hingga merata dan difermentasi. Kompos yang matang dipisahkan antara yang halus dan kasar untuk berbagai kebutuhan.

Selain itu, mahasiswa juga mempelajari pembuatan eco-enzyme dari campuran gula merah, kulit buah, dan air yang difermentasi selama tiga bulan. Cairan hasil fermentasi ini memiliki banyak manfaat, seperti untuk pembersih, pupuk cair, hingga pengendali hama. Tahap selanjutnya adalah pembuatan sabun cair berbahan eco-enzyme yang diolah dari berbagai bahan kimia pendukung dan difermentasi kembali hingga siap digunakan.

Kegiatan ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa sampah dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat. Pengalaman langsung ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas dapat dilakukan mulai dari lingkungan rumah tangga.

Namun demikian, tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah sering kali berasal dari perilaku manusia, seperti rasa malas dan kebiasaan menunda. Oleh karena itu, diperlukan disiplin, motivasi, serta kesadaran kolektif untuk menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle dalam kehidupan sehari-hari.

Manfaat dari pengelolaan sampah sangat luas, baik dalam konteks karier, keluarga, maupun masyarakat. Dalam dunia kerja, keterampilan ini mendukung inovasi ramah lingkungan. Dalam keluarga, menciptakan lingkungan yang sehat sekaligus menanamkan nilai tanggung jawab. Sementara di masyarakat, kegiatan ini memperkuat kerja sama dan ketahanan lingkungan.

Dengan demikian, pengelolaan sampah bukan sekadar tugas akademik, melainkan komitmen jangka panjang. Melalui edukasi, praktik nyata, dan kerja sama berbagai pihak, sampah dapat diubah menjadi peluang yang bernilai guna, sehingga tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Rabu, 27 Mei 2026

ESSAI 7 : KUNJUNGAN DI TPST RANDU ALAS

 Belajar dan Mengenal Pengelolaan Sampah di TPST Randu Alas dalam Upaya Menjaga Lingkungan

Moch Aziiz Suharyadi

24310410211

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 7

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 Pada hari Sabtu, 2 Mei 2026 pukul 09.00 hingga 11.30 WIB, saya melakukan kunjungan observasi ke TPST Randu Alas yang berlokasi di Candi Karang, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman. Kegiatan ini bertujuan untuk mempelajari secara langsung proses pengelolaan sampah di masyarakat. Dalam kunjungan tersebut, saya berkesempatan untuk bertemu dan melakukan wawancara dengan Pak Joko, salah satu pengurus TPST Randu Alas.

TPST Randu Alas merupakan tempat pengolahan sampah yang dikelola oleh sekitar 10 orang karyawan yang setiap harinya menangani sampah dari masyarakat. Di lokasi ini terdapat berbagai fasilitas pengolahan, seperti alat pemilahan, mesin pres, mesin penghancur, tempat pembakaran sampah residu, serta timbangan. Proses pengelolaan sampah dimulai dengan pemilahan berdasarkan jenisnya, seperti plastik, botol, kertas, dan sampah organik. Pemilahan ini sangat penting karena sampah yang telah dipisahkan memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan sampah yang masih tercampur.

Salah satu inovasi yang menarik di TPST Randu Alas adalah pemanfaatan air lindi. Air lindi merupakan cairan yang berasal dari tumpukan sampah organik yang kemudian diolah menjadi eco lindi, yaitu cairan penetral bau yang ramah lingkungan. Eco lindi dibuat dengan mencampurkan air lindi, molase (tetes tebu), katalis organik, dan asam sulfat. Inovasi ini terbukti mampu mengurangi bau menyengat serta membantu proses penguraian sampah organik, sehingga lingkungan sekitar tetap nyaman.

Pengendalian bau menjadi perhatian utama karena lokasi TPST berada dekat dengan aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, pembakaran sampah dibatasi hanya pada pukul 08.00 hingga 13.00 WIB agar tidak mengganggu lingkungan sekitar. Selain itu, pengelolaan sampah dilakukan secara cepat dan terstruktur agar tidak terjadi penumpukan.

Pak Joko juga menceritakan latar belakang keterlibatannya dalam pengelolaan sampah. Kesadaran tersebut muncul sejak tahun 2010 ketika lingkungan tempat tinggalnya mengalami masalah kesehatan akibat penumpukan sampah yang menjadi sarang nyamuk penyebab Demam Berdarah (DB). Kondisi tersebut semakin parah pada tahun 2013 ketika 13 warga, termasuk anak beliau, terkena DB. Peristiwa ini menjadi titik awal bagi Pak Joko untuk serius mencari solusi pengelolaan sampah.

Sejak saat itu, beliau aktif mengikuti berbagai sosialisasi dan program lingkungan, termasuk bank sampah. Pada tahun 2015, TPST Randu Alas mendapatkan dukungan dana sekitar Rp400 juta untuk pengembangan fasilitas. Awalnya, proses pengolahan masih dilakukan secara manual, namun seiring waktu fasilitas semakin berkembang dengan bantuan alat dari pemerintah.

Dalam operasionalnya, masyarakat yang menggunakan layanan TPST dikenakan iuran sekitar Rp75.000 per bulan untuk rumah tangga dan Rp25.000 untuk kos-kosan. Iuran ini digunakan untuk mendukung biaya operasional seperti transportasi, listrik, dan pengolahan sampah.

Menariknya, sampah yang telah diolah juga memiliki nilai ekonomi. Sebagian sampah dikirim ke Cilacap untuk dimanfaatkan oleh pabrik semen sebagai bahan bakar alternatif. Jumlah pengiriman bahkan mencapai 1,5 hingga 3 ton dalam satu periode, menunjukkan bahwa sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat dimanfaatkan kembali.

Secara umum, proses pengelolaan sampah di TPST Randu Alas meliputi pemilahan, pengeringan, penghancuran, penyemprotan eco lindi, pengepresan, hingga distribusi hasil olahan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat dan nilai ekonomi.

TPST Randu Alas juga menjadi tempat pembelajaran yang nyata mengenai prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R). Sampah organik diolah menjadi kompos dan pupuk cair, sedangkan sampah anorganik didaur ulang atau dimanfaatkan kembali. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung yang sangat berharga, karena peserta dapat melihat proses pengolahan secara nyata, bukan hanya secara teori.

Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari hal sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah dari rumah. Kesadaran ini penting karena pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab petugas, tetapi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.

Selain itu, kegiatan ini juga meningkatkan kepedulian saya terhadap lingkungan. Saya menjadi lebih memahami bahwa sampah yang sering dianggap tidak berguna ternyata masih memiliki manfaat jika diolah dengan baik. Pembelajaran langsung di lapangan juga terbukti lebih efektif dalam membangun kesadaran dibandingkan hanya mempelajari teori di kelas.

Namun demikian, TPST Randu Alas juga menghadapi beberapa tantangan, seperti kurangnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari sumber, keterbatasan teknologi dan fasilitas, serta dampak pencemaran udara dari pembakaran sampah residu. Selain itu, masalah regenerasi sumber daya manusia juga menjadi kendala dalam keberlanjutan pengelolaan.

Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif antara masyarakat, pemerintah, dan pihak swasta untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah. Edukasi mengenai prinsip 3R perlu ditingkatkan, serta inovasi teknologi dan pelatihan bagi pengelola harus terus dikembangkan.

Sebagai kesimpulan, TPST Randu Alas merupakan contoh nyata bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat memberikan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi. Dengan adanya kesadaran, kerja sama, dan inovasi, sampah tidak lagi menjadi masalah, tetapi dapat menjadi solusi untuk keberlanjutan lingkungan di masa depan.  

     


ESAI 7: BELAJAR DI TPST

Manajemen Pengelolaan Sampah di TPST Randu Alas

Yufika Dwi Rezeki

25310440003

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas 7 – Belajar di TPST

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Mei 2026

Pada tanggal 2 Mei 2026, saya bersama dosen mata kuliah Psikologi Lingkungan, Ibu Shinta, dan teman-teman kelas melakukan kunjungan belajar ke TPST Randu Alas. Kegiatan ini memberikan pengalaman belajar secara langsung mengenai bagaimana pengelolaan sampah dilakukan di masyarakat. Selama ini saya hanya mengetahui pengolahan sampah dari teori atau media sosial, tetapi melalui kunjungan ini saya dapat melihat secara nyata proses pengolahan sampah dari awal hingga akhir.

Ketika sampai di lokasi, kami diajak berkeliling untuk melihat berbagai bagian pengolahan sampah. Di TPST Randu Alas terdapat pengelolaan sampah organik dan anorganik. Sampah terlebih dahulu dipilah sesuai jenisnya agar lebih mudah diolah. Sampah anorganik seperti plastik dipisahkan untuk didaur ulang, sedangkan sampah organik diolah menjadi berbagai produk yang bermanfaat. Kami juga melihat adanya mesin pengolah sampah yang membantu mempercepat proses pengolahan.

Para pekerja sedang memilah sampah.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah penggunaan cairan eco lindi bakteri yang digunakan untuk mengurangi bau sampah. Saya baru mengetahui bahwa cairan tersebut dapat membantu mengatasi aroma tidak sedap di area pengolahan. Selain itu, di TPST Randu Alas juga dihasilkan berbagai produk seperti POC (Pupuk Organik Cair), MOL (Mikroorganisme Lokal), dan pupuk organik. Hal ini menunjukkan bahwa sampah sebenarnya masih memiliki nilai guna apabila dikelola dengan baik dan benar.

Setelah berkeliling, kami mendapatkan materi mengenai sejarah berdirinya TPST Randu Alas. Dijelaskan bahwa TPST ini awalnya didirikan oleh Pak Joko bersama tiga orang temannya. Pada awal berdiri, pelanggan mereka hanya sekitar 25 orang. Dalam waktu satu setengah tahun jumlah pelanggan meningkat menjadi 60 orang. Namun, pada dua tahun pertama mereka tidak terlalu memikirkan keuntungan atau pembayaran. Fokus utama mereka adalah menjaga konsistensi pelayanan dan tetap membantu masyarakat, termasuk warga yang kurang mampu atau belum bisa mengolah sampah secara mandiri.


Pemaparan materi dari pihak TPST Randu Alas.

Dari penjelasan tersebut saya belajar bahwa perubahan lingkungan tidak dapat terjadi secara instan. Dibutuhkan ketekunan, kerja sama, dan kepedulian sosial agar program pengelolaan sampah dapat berjalan dengan baik. Saya juga menyadari bahwa pengelolaan lingkungan berkaitan erat dengan perilaku manusia. Dalam psikologi lingkungan, perilaku peduli lingkungan dapat terbentuk melalui kebiasaan, edukasi, dan dukungan dari lingkungan sekitar.

Selain manfaatnya, pekerjaan di TPST juga memiliki risiko yang besar. Kami diberi tahu bahwa selama proses pengolahan sampah sering terjadi kecelakaan kerja, misalnya kaki terkena paku meskipun pekerja sudah menggunakan APD dan sepatu bot lengkap. Hal ini membuat saya lebih menghargai para pekerja pengolahan sampah yang selama ini berperan penting menjaga kebersihan lingkungan.

Kunjungan ke TPST Randu Alas memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Saya menjadi lebih memahami pentingnya memilah sampah, menjaga kebersihan lingkungan, dan menghargai proses pengolahan sampah yang tidak mudah. Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau petugas kebersihan, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat.

Dokumentasi kegiatan bersama teman-teman kelas.

Senin, 25 Mei 2026

ESSAI 2 : PLOGGING

Pengalaman Plogging di Jalan Kalurahan Sidokarto  dan

Jalan Sembuh Wetan Godean Sleman


Moch Aziiz Suharyadi

24310410211

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 2

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta


    Menjaga kebersihan lingkungan dapat dimulai dari diri sendiri, karena lingkungan yang bersih akan membuat masyarakat merasa nyaman, sehat, dan betah dalam beraktivitas. Namun pada kenyataannya, di masa sekarang masih banyak tempat umum dan pinggir jalan yang kurang terjaga kebersihannya akibat sampah plastik, bungkus makanan, botol minuman, serta daun kering yang sering terlihat berserakan di area publik. Di sisi lain, saat ini banyak orang juga mulai sadar dengan kesehatannya dan mulai rutin melakukan olahraga.

    Kondisi tersebut mendorong munculnya gerakan plogging, yaitu sebuah aktivitas sederhana yang menggabungkan dua kegiatan dalam satu waktu antara olahraga ringan seperti berjalan kaki, jogging, atau lari santai, dengan aksi nyata memungut sampah di sekitar lingkungan selama perjalanan. Dalam penerapannya, aktivitas ini tidak hanya berfokus pada pengumpulan sampah umum, tetapi juga mencakup tindakan preventif keselamatan seperti pengambilan paku yang berserakan di jalanan publik. Kegiatan yang mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 2018 ini menjadi solusi sederhana yang tidak hanya bermanfaat untuk masalah kesehatan individu, namun juga membantu mengurangi masalah pencemaran lingkungan. Manfaat plogging sendiri sangat beragam, antara lain untuk menyehatkan tubuh karena tubuh menjadi aktif bergerak, menenangkan pikiran karena dapat meningkatkan hormon kebahagiaan, membangun kepedulian sosial, serta menjaga lingkungan karena dapat mengurangi jumlah sampah di ruang publik.


    Plogging pertama saya lakukan pada tanggal 26 April 2026, dengan perjalana dimulai dari Jalan kaluraham Sidokarto ke arah timur, berlanjut di jalan Sidokarto berjalan ke arah selatan dengan jarak tempuh 4,6 km, pada pukul 06.00 sampai 07.30 WIB. Plogging yang saya kumpulkan adalah paku dan bebrapa patahan besi yang dapat membahayakan pengendara yang lalu lalang. Diperoleh kurang lebih berat sekitar 1/4 kg paku dan patahan - patahan besi.


    Plogging kedua tidak jauh dari jalan kalurahan sidokarto saya lakukan pada tanggal 03 Mei 2026, dengan perjalana dimulai dari Jalan Kalurahan Sidokarto ke arah barat, menuju di jalan Sembuh Wetan berjalan ke utara menuju jalan bibis ke timur dengan jarak tempuh 3,6 km, pada pukul 16.00 sampai 17.30 WIB. Plogging yang saya kumpulkan masih sama dengan ploging pertama adalah paku dan bebrapa patahan besi yang dapat membahayakan pengendara yang lalu lalang. Hanya saja kalini saya bersepeda dan menggunakan alat yang saya bawa ada magnet besar bekas sound sistem. dan Diperoleh  kurang lebih berat sekitar 1/2 kg terdapat paku, patahan - patahan besi. karena diderah saya baru terdapat pembanggunan di area lahan persawahan.

   Hasil yang saya kumpulakan selama kurang lebih 3/4 kg hampir satu kilo karena barang yang saya peroleh. Bercampur-campur hasil yang diperoleh terdapat paku, pines, patahan besi-besi, kawat yang sudah berkarat. Hasil tersebut saya jual ke pengempul/rosok dengan meneriam sejumlah uang Rp 8.500,00.

Permasalahan yang dihadapi sebelum kegiatan plogging ini yaitu sulitnya menentukan jadwal agar ada yang menemani saya melakukan plogging. Karena kegiatan ini sangat jarang dilakukan di daerah sidokarto dan dusun sekitarnya, jadi saya merasa sedikit kurang percaya diri jika harus melakukannya sendirian meskipun di jual dapat menghasilakan. Sedangkan permasalahan yang dihadapi selama melakukan kegiatan plogging ini adalah keterbatasan kantong yang saya bawa saat bersepeda, sehingga sering kali sobek karena tertusuk besi atau paku yang tertancap.

Harapan saya ke depan, semakin banyak orang yang peduli dengan lingkungan, serta semakin maraknya kegiatan-kegiatan positif seperti plogging ini. Melalui kegiatan ini, saya menyadari bahwa menjaga lingkungan tidak selalu dengan tindakan yang besar. Tindakan kecil seperti di jalan yang kita lewati juga dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan orang-orang di sekitar.