Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Senin, 29 Juni 2026

ESSAI 9 - MENJADI NASABAH BANK SAMPAH

MAT.KUL : Psikologi Lingkungan 

DOSEN PENGAMPU : Dr. ARUNDATI SHINTA M.A.

NAMA         : AYOM PURWANINGSIH

FAKULTAS         : PSIKOLOGI ( KELAS B) 

Universitas Proklamasi 45


HILANG RESAH BUANG SAMPAH KARENA SUDAH MENJADI NASABAH BANK SAMPAH


Nasabah bank sampah adalah masyarakat, kelompok, atau instansi yang memilah dan menyetorkan sampah kering/anorganik ke bank sampah. Termasuk saya yang sudah menjadi nasabah bank sampah memiliki buku tabungan, mencatatkan nilai sampah yang disetor, dan dapat menukarnya dengan uang tunai, sembako, atau saldo tabungan.

Bank sampah merupakan konsep pengumpulan sampah kering dan dipilah serta memiliki manajemen layaknya perbankan tapi yang ditabung bukan uang melainkan sampah. Nasabah memiliki buku tabungan dan dapat meminjam uang yang nantinya dikembalikan dengan sampah seharga uang yang dipinjam. Sampah yang ditabung ditimbang dan dihargai dengan sejumlah uang nantinya akan dijual di pabrik yang sudah bekerja sama. Sedangkan plastik kemasan dibeli ibu-ibu PKK setempat untuk didaur ulang menjadi barang-barang kerajinan tangan.

TUJUAN DAN MANFAAT BANK SAMPAH.

Tujuan dibangunnya bank sampah “BERSINAR” di desa Kalikepuh RW.2, Kelurahan Sindurjan, Purworejo, Jawa Tengah sebenarnya bukan bank sampah itu sendiri. Melainkan strategi untuk membangun kepedulian masyarakat agar dapat berteman dengan sampah untuk mendapatkan manfaat ekonomi langsung dari sampah. Jadi, bank sampah tidak dapat berdiri sendiri melainkan harus dengan gerakan 3R sehingga manfaat langsung yang dirasakan tidak hanya ekonomi, namun pembangunan lingkungan yang bersih, hijau dan sehat. Hal ini menyoroti bagaimana pemilahan sampah di tingkat rumah tangga tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan dari pencemaran, tetapi juga membangun kemandirian finansial bagi nasabah melalui tabungan.

Bank sampah juga dapat dijadikan solusi untuk mencapai pemukiman yang bersih dan nyaman bagi warganya. Dengan pola ini maka warga selain menjadi disiplin dalam mengelola sampah juga mendapatkan tambahan pemasukan dari sampah-sampah yang kami kumpulkan. 

Jenis sampah yang diterima di bank sampah antara lain : 

  • Plastik: botol minum, ember, dan kantong plastik.

  • Kertas: koran, kardus, dan buku.

  • Logam: kaleng, aluminium, dan tembaga.

  • Kaca: botol kaca.

  • Limbah sisa minyak goreng. 

Cara kerja nasabah bank sampah : 

  1. Memilah. Nasabah memisahkan sampah di rumah sesuai jenisnya (organik dan anorganik).

  2. Menyetor. Sampah kering disetorkan ke pengurus bank sampah setempat, biasanya dengan berat minimal tertentu (misalnya 1 kg per jenis).

  3. Mencatat. Sampah ditimbang dan dihargai sesuai nilai beli bank sampah.

  4. Menabung. Hasil penjualan dicatat dalam buku tabungan nasabah. 



Menjadi nasabah bank sampah menuntut saya untuk disiplin. Di rumah, saya memilah sampah menjadi dua kategori utama, yaitu organik dan anorganik. Sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomis seperti botol plastik, kardus bekas, dan kaleng, saya kumpulkan dan bersihkan. Setelah terkumpul dalam jumlah tertentu, saya membawanya ke unit Bank Sampah terdekat untuk ditimbang. Di sana, sampah tersebut dikonversikan ke dalam nilai rupiah dan dicatat ke dalam buku tabungan layaknya sistem perbankan konvensional.

 


Manfaat yang saya rasakan sebagai nasabah bank sampah sangat nyata. Secara lingkungan, saya turut andil dalam mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sekaligus mendukung program daur ulang. Secara ekonomi, sampah yang sebelumnya hanya menjadi beban kini berubah menjadi tabungan. Saldo yang terkumpul secara berkala dapat ditarik untuk kebutuhan mendesak, seperti membeli perlengkapan sekolah anak atau sekadar menambah uang belanja bulanan.


KESIMPULAN

Kesadaran menjadi nasabah bank sampah mengajarkan saya bahwa sampah adalah sumber daya yang tertunda. Jika dikelola dengan baik maka sampah tidak lagi menjadi musuh lingkungan, melainkan sahabat ekonomi. Saya berharap akan ada lebih banyak masyarakat yang tergerak untuk menjadi nasabah bank sampah. Langkah sederhana dari rumah ini adalah kontribusi nyata saya dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.


ESSAI 7 - KUNJUNGAN KE TPAS

 MAT.KUL : Psikologi Lingkungan 

DOSEN PENGAMPU : Dr. ARUNDATI SHINTA M.A.

NAMA         : AYOM PURWANINGSIH

FAKULTAS         : PSIKOLOGI ( KELAS B) 

Universitas Proklamasi 45




KUNJUNGAN EDUKATIF MEMBUKA WAWASAN SIKLUS PENGELOLAAN SAMPAH KE TPAS GUNUNG TUMPENG - PURWOREJO


Pendahuluan

Sampah merupakan salah satu tantangan lingkungan paling mendesak di era modern. Masalah ini seringkali luput dari perhatian masyarakat karena proses pembuangan yang dianggap selesai setelah sampah diangkut dari depan rumah. Untuk melihat secara langsung bagaimana siklus penanganan sampah bekerja, saya melakukan kunjungan observasi ke Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS). Kunjungan ini bertujuan untuk memahami alur operasional pengelolaan sampah serta mengkaji sejauh mana peran masyarakat dalam meminimalkan limbah.


Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) utama yang saya kunjungi pada tanggal 4 Juni 2026 lalu, yaitu TPAS Kabupaten Purworejo yang bernama TPAS Gunung Tumpeng, atau lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan TPA Jetis. Berlokasi di Desa Jetis, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Pengelolanya berada di bawah pengawasan Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Kabupaten Purworejo.


Kebetulan sekali saat saya melakukan kunjungan ke TPAS Gunung Tumpeng tersebut bersamaan dengan kunjungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Kabupaten Purworejo, yang menerima kunjungan tim dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) melalui Direktorat Pengaduan dan Pengawasan Lingkungan Hidup dalam rangka kegiatan pengawasan penaatan pengelolaan sampah pada TPAS Jetis Kabupaten Purworejo. Kegiatan pengawasan ini dilaksanakan selama dua hari, mulai tanggal 3 hingga 4 Juni 2026, sebagai bagian dari upaya pemerintah pusat dalam memastikan pengelolaan sampah di daerah telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan serta prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

 

Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kepatuhan pengelola TPAS dalam menjalankan pengelolaan sampah, termasuk aspek pengendalian pencemaran lingkungan, pengelolaan lindi, pengelolaan gas metana, serta penerapan sistem pengelolaan sampah yang sesuai dengan standar yang berlaku. Kunjungan pengawasan ini juga menjadi sarana koordinasi dan pembinaan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan sampah serta memperkuat komitmen bersama untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

 

Isi

Dalam kunjungan tersebut, saya mengamati langsung proses pemilahan sampah organik dan anorganik. Yang menarik adalah pemanfaatan mesin pencacah dan bio-digester. Edukasi ini menyadarkan saya bahwa masalah sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan membuangnya, melainkan membutuhkan kesadaran hulu-hilir, mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga.


Selama kunjungan, saya mengamati secara langsung tahapan pengelolaan sampah yang dimulai dari pemilahan awal. Di fasilitas ini, sampah yang datang dari pemukiman warga tidak langsung dibuang, melainkan dipisahkan antara sampah organik dan anorganik. Sampah organik akan diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi dikelola melalui konsep Reduce, Reuse, Recycle (3R) 


Sampah yang masuk ke TPAS Jetis sekitar 65 ton per hari, sumbernya dari masyarakat, jalan, dan pasar. Harapan kami sebagai masyarakat Purworejo bisa mengurangi sampah karena TPA Jetis sudah overload melebihi dari seharusnya. Kunjungan tersebut membuka wawasan saya mengenai siklus pengelolaan sampah di lingkungan perkotaan, serta membuktikan bahwa tempat ini adalah garda terdepan dalam mereduksi volume sampah. 





Kesimpulan


Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa partisipasi aktif masyarakat sangat krusial. Pemahaman yang diperoleh dari kunjungan ini memotivasi saya untuk lebih bijak memproduksi dan memilah sampah dari rumah. Pengelolaan sampah yang baik bukan sekadar tugas petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab moral setiap individu demi kelestarian lingkungan.


Kunjungan ini memberikan refleksi mendalam bahwa mengelola sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau petugas kebersihan semata. Pengelolaan sampah yang berkelanjutan membutuhkan sinergi antara kesadaran individu dan pengelolaan fasilitas yang optimal. Mulai hari ini, perubahan terkecil seperti memilah sampah organik dan anorganik di lingkungan rumah sendiri menjadi langkah konkret yang sangat berarti bagi lingkungan.


ESAI PRESTASI (EPres): 4

Peran Saya dalam Kegiatan Pelayanan Masyarakat melalui Pendampingan Belajar Anak dan Kegiatan Karang Taruna

Pada 12 April 2026, saya mengikuti kegiatan pelayanan masyarakat dengan mendampingi beberapa anak SD dan SMP mengerjakan pekerjaan rumah (PR) serta belajar bersama di lingkungan tempat tinggal saya. Beberapa anak mengalami kesulitan memahami materi yang diberikan di sekolah sehingga membutuhkan pendampingan ketika belajar. Peran saya dalam kegiatan ini adalah membantu mereka mengerjakan PR, menjelaskan materi yang belum dipahami, serta memberikan motivasi agar mereka lebih percaya diri dalam belajar. Saya berusaha menjelaskan materi dengan bahasa yang sederhana dan menyesuaikannya dengan kemampuan masing-masing anak. Selama kegiatan berlangsung, saya melihat mereka mulai lebih berani bertanya dan aktif berdiskusi ketika menemukan soal yang sulit. Hal tersebut membuat saya merasa senang karena dapat membantu mereka memahami pelajaran dengan lebih baik.

Selanjutnya, pada 9 Mei 2026, saya mengikuti kegiatan Karang Taruna di lingkungan tempat tinggal saya. Kegiatan tersebut diadakan untuk membahas beberapa program yang akan dilaksanakan bersama. Peran saya dalam kegiatan ini adalah membantu mencatat hasil rapat agar setiap keputusan dapat terdokumentasi dengan baik. Setelah rapat selesai, saya juga membantu mencuci gelas dan membereskan perlengkapan yang telah digunakan. Walaupun tugas yang saya lakukan terlihat sederhana, saya menyadari bahwa setiap bentuk bantuan memiliki peran penting agar kegiatan dapat berjalan dengan tertib dan nyaman bagi seluruh peserta.

Melalui kedua kegiatan tersebut, saya memperoleh pengalaman yang berbeda namun sama-sama berharga. Saat mendampingi anak-anak belajar, saya belajar untuk lebih sabar dalam menjelaskan materi dan menyesuaikan cara penyampaian dengan kemampuan setiap anak. Sementara itu, melalui kegiatan Karang Taruna, saya belajar pentingnya kerja sama, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial. Saya menyadari bahwa pelayanan kepada masyarakat tidak selalu diwujudkan melalui kegiatan yang besar, tetapi juga dapat dimulai dari tindakan sederhana yang memberikan manfaat bagi orang lain.

Bagi saya, kedua kegiatan tersebut menjadi pengalaman yang sangat bermakna. Saya merasa senang karena dapat membantu orang lain sekaligus memperoleh pembelajaran baru dari setiap kegiatan yang saya ikuti. Pengalaman ini juga mengajarkan saya bahwa kepedulian sosial perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Saya berharap dapat terus berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pelayanan masyarakat sehingga dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar serta terus mengembangkan rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama.

ESAI 5: Eksperimen Anorganik di Rumah Dosen

Pengalaman Eksperimen Upcycling Sampah Anorganik sebagai Upaya Meningkatkan Kepedulian Lingkungan

Pada Minggu, 28 Juni 2026, saya mengikuti kegiatan eksperimen pengolahan sampah anorganik di rumah dosen mata kuliah Psikologi Lingkungan, Ibu Dr. Arundati Shinta. Kegiatan berlangsung mulai pukul 10.00 hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Selama kurang lebih enam jam, saya belajar secara langsung bagaimana mengolah sampah anorganik menjadi berbagai produk yang bermanfaat. Pengalaman ini menjadi kesempatan berharga bagi saya untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru mengenai konsep upcycling.

Permasalahan yang melatarbelakangi kegiatan ini adalah masih banyaknya sampah anorganik yang berakhir di tempat pembuangan karena dianggap tidak memiliki nilai guna. Padahal, berbagai bahan bekas seperti tali masker kain, tali bekas, kalender bekas, dan bahan lainnya masih dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang bernilai. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah sampah menyebabkan limbah anorganik terus menumpuk dan berpotensi mencemari lingkungan.

Selama kegiatan berlangsung, saya menjadi satu-satunya mahasiswa yang mengikuti eksperimen pada hari tersebut. Hal ini memberikan kesempatan bagi saya untuk mencoba seluruh jenis kerajinan yang tersedia. Saya sengaja memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar dapat memperoleh lebih banyak pengalaman dan pengetahuan tentang upcycling sampah anorganik. Oleh karena itu, selama kegiatan saya berhasil menyelesaikan empat hasil eksperimen, yaitu dua gantungan kunci, sebuah piring hias, serta menghias bungkus parcel.

(tas parcel, piring cantik, dan gantungan kunci)

Gantungan kunci pertama dibuat menggunakan tali masker kain yang sudah tidak terpakai, kemudian dipadukan dengan lilitan tali sehingga memiliki tampilan yang lebih menarik. Gantungan kunci kedua dibuat dari potongan-potongan tali bekas yang dirangkai kembali menjadi kerajinan baru. Selain itu, saya juga menghias sebuah piring menjadi piring dekoratif. Pada eksperimen berikutnya, saya belajar menghias bungkus parcel yang dibuat dari kalender bekas. Saya melukis motif bunga matahari pada permukaannya, kemudian mempelajari cara membuat tali parcel sebagai pelengkap sehingga hasilnya tampak lebih menarik dan siap digunakan. Dari kegiatan tersebut saya menyadari bahwa barang yang sering dianggap sebagai sampah ternyata masih dapat diolah menjadi karya yang memiliki nilai estetika, bahkan berpotensi memiliki nilai ekonomi apabila dipadukan dengan kreativitas.

Melalui eksperimen ini, saya sadar bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari tindakan yang besar. Mengolah kembali sampah anorganik menjadi produk yang bermanfaat merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap lingkungan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Dari sudut pandang Psikologi Lingkungan, pengalaman belajar secara langsung seperti ini mampu meningkatkan kesadaran, membentuk perilaku yang lebih ramah lingkungan, serta menumbuhkan motivasi dari dalam diri untuk lebih bijak dalam memanfaatkan barang bekas.

Bagi saya, kegiatan ini bukan hanya sekadar memenuhi tugas mata kuliah, tetapi juga menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan dan berkesan. Saya merasa sangat senang karena dapat memperoleh banyak pengetahuan dan keterampilan baru dalam mengolah sampah anorganik menjadi produk yang bermanfaat. Pengalaman ini membuka cara pandang saya bahwa barang bekas tidak selalu menjadi limbah, tetapi masih dapat dimanfaatkan kembali dengan kreativitas. Saya berharap keterampilan yang telah saya pelajari dapat terus saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menginspirasi orang lain untuk mulai memanfaatkan kembali barang-barang bekas sehingga jumlah sampah yang mencemari lingkungan dapat berkurang.

(foto selengkapnya menyusul).

ESAI 10: PARTISIPASI LOMBA

Mengembangkan Potensi Diri melalui Partisipasi dalam Lomba Esai dan Puisi Bertema Lingkungan

Pada Juni 2026, saya mengikuti Creation Fest 2026 tingkat nasional dengan berpartisipasi dalam dua kategori lomba, yaitu esai dan puisi bertema lingkungan. Saya mengikuti kompetisi tersebut setelah panitia memberikan perpanjangan masa pendaftaran. Kesempatan ini saya manfaatkan untuk menyusun dan menyempurnakan kedua karya sebaik mungkin. Bagi saya, mengikuti dua kategori lomba sekaligus bukan hanya tentang memperoleh prestasi, tetapi juga menjadi sarana belajar, mengembangkan kreativitas, serta meningkatkan kepedulian terhadap isu lingkungan.

Pada kategori esai, saya mengangkat judul “EcoConnect+: Inovasi Digital Generasi Z untuk Mendorong Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Era Society 5.0.” Gagasan tersebut berangkat dari keresahan saya terhadap permasalahan sampah yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah. Saya melihat bahwa banyak masyarakat sebenarnya memiliki keinginan untuk mengelola sampah, tetapi informasi mengenai bank sampah, lokasi daur ulang, edukasi lingkungan, dan pemasaran produk hasil daur ulang masih belum terintegrasi dengan baik. Oleh karena itu, saya menawarkan konsep platform digital yang dapat menghubungkan masyarakat dengan berbagai layanan pengelolaan sampah sekaligus memberikan edukasi dan sistem insentif agar masyarakat lebih termotivasi menjaga lingkungan.

Selain mengikuti kategori esai, saya juga mengikuti kategori puisi dengan karya berjudul “Di Antara Akar dan Algoritma.” Melalui puisi tersebut, saya ingin menyampaikan bahwa kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat manusia semakin jauh dari alam. Sebaliknya, teknologi perlu dimanfaatkan sebagai sarana untuk menjaga keberlanjutan lingkungan. Saya menggambarkan bumi yang seolah berbicara melalui sungai yang tercemar, hutan yang kehilangan kehidupan, dan langit yang dipenuhi asap sebagai pengingat bahwa alam juga membutuhkan kepedulian manusia.

Proses penyusunan kedua karya tersebut memberikan pengalaman yang berbeda. Dalam menulis esai, saya harus mencari referensi, memahami berbagai persoalan lingkungan, kemudian menyusun solusi yang logis dan realistis. Sementara itu, ketika menulis puisi, saya berusaha mengubah fakta mengenai kondisi lingkungan menjadi rangkaian kata yang mampu menyentuh emosi pembaca. Saya juga beberapa kali melakukan revisi agar pesan yang ingin disampaikan menjadi lebih kuat dan mudah dipahami.

Pengalaman mengikuti kedua lomba ini semakin memperkuat motivasi internal saya. Saya menyadari bahwa keinginan untuk menjaga lingkungan tidak harus muncul karena hadiah atau penghargaan, tetapi dapat tumbuh dari kesadaran pribadi bahwa lingkungan yang sehat akan memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Dalam psikologi lingkungan, motivasi internal merupakan dorongan dari dalam diri yang membuat seseorang melakukan suatu tindakan karena merasa tindakan tersebut bermakna. Melalui proses mencari informasi, menyusun gagasan, dan menghasilkan karya, saya merasa memiliki kepedulian yang lebih besar terhadap isu lingkungan.

Bagi saya, mengikuti lomba bukan hanya tentang hasil akhir, melainkan tentang proses belajar. Melalui esai saya belajar berpikir kritis dalam menawarkan solusi, sedangkan melalui puisi saya belajar menyampaikan pesan lingkungan dengan pendekatan yang lebih reflektif. Pengalaman tersebut membuktikan bahwa sebuah karya tulis dapat menjadi media untuk membangun kesadaran, menumbuhkan motivasi internal, dan mengajak masyarakat bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan.

(Sertifikat lomba menyusul 13 Juli 2026)