Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Sabtu, 30 Mei 2026

ESSAY PRESTASI 2

 

RAPAT KOMITE KOORDINASI EVENT FAREWELL INTERN KELAS DAN

JUMAT BERKAH ON THE ROAD

 

KUS WITA WARDANI

25310430002
Psikologi Lingkungan/ Kelas Karyawan (B)
Tugas: Essai Prestasi 2
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.
Bulan/ tahun terbit: Mei/ 2026

 

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA


PELAKSANAAN KEGIATAN

1.   RAPAT KOMITE KELAS

Hari/ Tanggal        : Selasa/ 26 Mei 2026
Tempat                  : Mispa Pandanaran Yogyakarta
Pukul                     : 09.00 – 12.00 wib
Tujuan kegiatan    :

Melakukan koordinasi lanjutan mengenai event/agenda farewell intern kelas, agenda ini adalah agenda terakhir selama saya menjabat sebagai ketua komite kelas yang telah saya lakukan selama 5 tahun Bersama team/ anggota komite lainnya. Dalam rapat ini terjadi pembahasan mengenai konsep acara, undangan, dekorasi, konsumsi, pengelolaan biaya, pengadaan tanda kasih wali kelas dan beberapa guru undangan serta pengadaan goodybag serta pembagian penanggung jawab masing-masih seksi. Kegiatan farewell ini kita selenggarakan terpisah dari madrasah/ sekolah, acara ini kita selenggarakan dengan tujuan anak-anak mendapatkan kesan manis dan menjadi memori kebersamaan yang dibingkai dengan indah dan bermakna.

 
           Ket: Dokumentasi Rapat Komite                           Ket: Dokumentasi penggunaan tas yang tidak berbahan plastik

2.       JUMAT BERKAH ON THE ROAD

       Hari/ Tanggal        : Jumat / 29 Mei 202

       Tempat                  : Jalan kaliurang dan sekitarnya

       Pukul                     : 11.00 – 13.00 wib

       Tujuan kegiatan    :


     Jumat berkah adalah hari yang istimewa, karena keistimewaan tersebut banyak amalan yang dapat dilakukan untuk mendapatkan pahala yang sebesar-besarnya baik amalan yang wajib dilakukan mapun amalan sunah. Jum’at berkah pada hakikatnya adalah semangat umat Islam dalam memaksimalkan ibadah dan keutamaan di hari Jumat, seperti bersedekah, shalat Jumat, dan mencari waktu terbaik untuk berdoa. Jumat berkah yang saya dan keluarga lakukan ini adalah berbagi makanan kepada orang lain dengan konsep on the road, dimana kegiatan ini dilakukan pembagiannya kepada para pengguna jalan secara umum. Kegiatan ini selain wujud syukur, juga mengajarkan kesadaran untuk berbagi dengan sesama. 


      

            Ket: Dokumentasi packing jumat berkah                         Ket: Dokumentasi nasi box jumat berkah yang siap                                                                                                                                                         diantar dan dibagi. 



Jumat, 29 Mei 2026

ESAI 6: EKSPERIMEN TENTANG SAMPAH

BELAJAR BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP SAMPAH SENDIRI

Yufika Dwi Rezeki

25310440003

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Esai 6

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Mei 2026

Pada tanggal 17 Mei 2026, saya mengikuti kegiatan eksperimen pengelolaan sampah yang diselenggarakan di kediaman Ibu Dr. Arundati Shinta, M.A. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa mata kuliah Psikologi Lingkungan serta beberapa peserta dari masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami belajar secara langsung mengenai pentingnya bertanggung jawab terhadap sampah yang kami hasilkan serta mempraktikkan berbagai cara pengolahan sampah organik yang bermanfaat bagi lingkungan.

Sebagai bagian dari kegiatan eksperimen, setiap peserta diminta membawa dua jenis makanan ringan, yaitu satu makanan yang dibungkus plastik dan satu makanan yang dibungkus daun pisang. Setelah makanan dikonsumsi, bungkus plastik dipisahkan sebagai sampah anorganik, sedangkan daun pisang dimanfaatkan kembali dalam proses pembuatan kompos. Dari kegiatan ini saya belajar bahwa pilihan kemasan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dapat memengaruhi jumlah dan jenis sampah yang dihasilkan.

Setelah sesi pengantar, kami mulai melakukan praktik pengolahan sampah organik. Selama kegiatan berlangsung, para peserta bekerja sama dan saling berbagi tugas agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan lancar. Ada yang membantu menyiapkan bahan, mencacah bahan organik, mengaduk campuran kompos, menyiapkan eco enzyme, maupun mengikuti proses pembuatan sabun. Saya berkesempatan mengikuti beberapa tahapan kegiatan pada pembuatan kompos, eco enzyme, dan sabun eco enzyme.

Pada proses pembuatan kompos, saya ikut mengiris daun pisang yang sebelumnya digunakan sebagai pembungkus makanan menjadi potongan-potongan kecil agar lebih mudah terurai. Setelah itu, saya membantu mengaduk campuran bahan kompos yang terdiri atas rajangan daun pisang, dedak, dolomit atau kapur tani, POC, rajangan daun sirih, bubuk kayu, rajangan sampah kebun, tetes tebu, dan EM4 hingga tercampur merata. Saya juga ikut membantu memindahkan campuran kompos ke dalam wadah fermentasi yang telah disiapkan. Melalui kegiatan ini saya dapat melihat secara langsung bahwa sampah organik yang sering dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi pupuk yang bermanfaat bagi tanaman dan lingkungan.

 
Merajang daun pisang sebagai bahan pembuatan kompos.
Proses pencampuran rajangan daun pisang
dengan bahan-bahan kompos.
Campuran kompos dimasukkan ke dalam gentong
untuk proses fermentasi.

Selain membuat kompos, saya juga ikut berpartisipasi dalam pembuatan eco enzyme. Bahan yang digunakan terdiri atas gula merah, kulit buah-buahan, dan air dengan perbandingan 1:3:10. Saya membantu memasukkan bahan-bahan tersebut ke dalam jerigen yang telah disiapkan untuk kemudian difermentasi. Kegiatan ini memberikan pemahaman bahwa limbah organik rumah tangga masih memiliki nilai guna apabila diolah dengan baik dan dapat dimanfaatkan kembali untuk berbagai keperluan.

Kegiatan berikutnya adalah pembuatan sabun eco enzyme. Saya ikut membantu dan mengamati proses pembuatannya yang memanfaatkan cairan eco enzyme hasil fermentasi. Dari kegiatan ini saya memahami bahwa hasil pengolahan limbah organik dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhir kegiatan, setiap peserta membawa pulang hasil pengolahan sampah berupa pupuk kompos dan sabun cair. Menariknya, kompos dan sabun cair yang diperkenalkan dalam kegiatan ini telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Saya merasa senang karena dapat melihat hasil nyata dari proses yang telah dilakukan bersama. Pengalaman tersebut memberikan pemahaman bahwa sampah tidak selalu menjadi barang yang tidak berguna, tetapi dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat apabila dikelola dengan tepat.

Melalui eksperimen ini, saya memperoleh pengalaman yang berharga mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Saya belajar bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mengurangi sampah, memilah sampah sesuai jenisnya, dan memanfaatkan kembali limbah organik yang dihasilkan. Kegiatan ini juga mengingatkan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab terhadap sampahnya sendiri. Dengan langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, kita dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Kamis, 28 Mei 2026

ESAI PRESTASI: 3

Partisipasi dalam Kegiatan Pelayanan Masyarakat

Yufika Dwi Rezeki

25310440003

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Esai Prestasi (EPres) ke-3

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Mei 2026

Kegiatan I

Pada tanggal 27 Mei 2026, saya mengikuti kegiatan pelayanan masyarakat dalam rangka pelaksanaan Iduladha di lingkungan tempat tinggal saya. Kegiatan tersebut dilakukan bersama panitia dan tetangga sekitar untuk membantu proses pembagian daging kurban. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kebersamaan masyarakat yang masih terjaga dengan baik di lingkungan tempat tinggal saya.

Peran saya dalam kegiatan tersebut adalah ikut membantu mendistribusikan daging kurban kepada tetangga sekitar agar pembagian dapat berjalan dengan tertib dan merata. Saya membantu membagikan daging kurban dari rumah ke rumah bersama warga lainnya. Walaupun peran yang saya lakukan sederhana, saya merasa kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang berharga karena saya dapat terlibat langsung dalam kegiatan sosial di lingkungan masyarakat.


Membantu mendistribusikan daging kurban kepada tetangga sekitar.

Melalui kegiatan tersebut saya belajar bahwa kerja sama dan kepedulian sosial sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Proses pembagian daging kurban tidak hanya sekadar memberikan bantuan, tetapi juga menjadi bentuk kebersamaan dan rasa peduli terhadap sesama. Saya melihat bagaimana masyarakat saling membantu agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar dan pembagian dapat dilakukan dengan baik. Selain itu, kegiatan tersebut juga membuat hubungan antarwarga menjadi lebih dekat karena semua bekerja sama untuk tujuan yang sama.

Kegiatan II

Selain kegiatan Iduladha, pada tanggal 21 Mei 2026 saya juga ikut membantu di rumah warga yang mengalami kedukaan. Dalam kegiatan tersebut, peran saya adalah membantu proses persiapan dan membantu kebutuhan yang diperlukan selama kegiatan berlangsung. Saya ikut membantu hal-hal sederhana yang dapat meringankan pekerjaan keluarga yang sedang berduka. Menurut saya, kehadiran dan bantuan kecil yang diberikan kepada orang lain tetap memiliki arti penting, terutama ketika seseorang sedang mengalami kesulitan.

Membantu membungkus konsumsi untuk tahlilan.

Kegiatan pelayanan masyarakat tersebut memberikan pengalaman yang berharga bagi saya mengenai pentingnya empati, kepedulian sosial, dan sikap saling membantu di lingkungan masyarakat. Saya belajar bahwa kehidupan bermasyarakat membutuhkan rasa peduli dan kerja sama agar hubungan sosial antarwarga dapat terjalin dengan baik. Melalui kegiatan tersebut saya juga menyadari bahwa membantu orang lain tidak selalu harus dalam bentuk besar, tetapi dapat dimulai dari tindakan sederhana di lingkungan sekitar.

Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan sosial tersebut, saya menjadi lebih memahami bahwa kontribusi sederhana sekalipun tetap memiliki manfaat bagi orang lain. Pengalaman ini juga membuat saya lebih menghargai pentingnya hadir dan membantu masyarakat dalam berbagai situasi, baik dalam kegiatan kebersamaan maupun ketika ada warga yang sedang mengalami kesulitan. Saya berharap dapat terus ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan pelayanan masyarakat.

ESSAI 6 : Eksperimen Sampah Organik Di Rumah Dosen

 Belajar  Bertanggung Jawab Terhadap Sampah Seniri dan Praktik Pengelolaan Sampah Organik


Moch Aziiz Suharyadi

24310410211

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 6

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Pengelolaan sampah merupakan isu penting yang tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral, sosial, dan lingkungan. Permasalahan seperti pencemaran udara serta kendala dalam regenerasi sumber daya manusia dalam pengelolaan sampah menunjukkan bahwa dibutuhkan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan.

Salah satu konsep yang dapat diterapkan adalah TPST 3R (Reduce, Reuse, Recycle), yaitu sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berfungsi sebagai pusat pengolahan sampah di tingkat kawasan. Kegiatan yang dilakukan meliputi pengumpulan, pemilahan, dan pemanfaatan kembali material agar volume sampah yang dikirim ke TPA dapat diminimalkan serta nilai ekonominya tetap terjaga. Optimalisasi program ini memerlukan edukasi masyarakat, inovasi teknologi, pelatihan bagi karyawan, serta kerja sama antara masyarakat, pihak swasta, dan pemerintah.

Dalam praktiknya, pembelajaran mengenai pengelolaan sampah dapat dilakukan melalui pengalaman langsung. Salah satu contoh kegiatan dilakukan oleh mahasiswa dalam mata kuliah psikologi lingkungan di kediaman dosen. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dan masyarakat sekitar untuk mempraktikkan pengolahan sampah organik menjadi produk yang bermanfaat seperti kompos, eco-enzyme, dan sabun cair.

Sebelum kegiatan dimulai, mahasiswa dibekali materi mengenai proses pembuatan dan pemanenan kompos, pembuatan eco-enzyme, hingga pengolahan sabun berbahan eco-enzyme. Mahasiswa kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok agar dapat mencoba setiap tahapan secara bergantian. Mereka juga diminta membawa makanan yang dibungkus daun pisang dan plastik sebagai bentuk pembelajaran perilaku reduce, yaitu mengurangi sampah dengan menghabiskan makanan dan bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkan.

Setelah makanan dikonsumsi, sampah dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah organik seperti daun pisang dirajang kecil untuk dijadikan bahan kompos, sedangkan sampah plastik dipisahkan. Dalam proses pembuatan kompos, bahan organik dicampur dengan dedak, dolomit, POC, daun sirih, bubuk kayu, sampah kebun, tetes tebu, dan EM4, kemudian diaduk hingga merata dan difermentasi. Kompos yang matang dipisahkan antara yang halus dan kasar untuk berbagai kebutuhan.

Selain itu, mahasiswa juga mempelajari pembuatan eco-enzyme dari campuran gula merah, kulit buah, dan air yang difermentasi selama tiga bulan. Cairan hasil fermentasi ini memiliki banyak manfaat, seperti untuk pembersih, pupuk cair, hingga pengendali hama. Tahap selanjutnya adalah pembuatan sabun cair berbahan eco-enzyme yang diolah dari berbagai bahan kimia pendukung dan difermentasi kembali hingga siap digunakan.

Kegiatan ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa sampah dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat. Pengalaman langsung ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas dapat dilakukan mulai dari lingkungan rumah tangga.

Namun demikian, tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah sering kali berasal dari perilaku manusia, seperti rasa malas dan kebiasaan menunda. Oleh karena itu, diperlukan disiplin, motivasi, serta kesadaran kolektif untuk menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle dalam kehidupan sehari-hari.

Manfaat dari pengelolaan sampah sangat luas, baik dalam konteks karier, keluarga, maupun masyarakat. Dalam dunia kerja, keterampilan ini mendukung inovasi ramah lingkungan. Dalam keluarga, menciptakan lingkungan yang sehat sekaligus menanamkan nilai tanggung jawab. Sementara di masyarakat, kegiatan ini memperkuat kerja sama dan ketahanan lingkungan.

Dengan demikian, pengelolaan sampah bukan sekadar tugas akademik, melainkan komitmen jangka panjang. Melalui edukasi, praktik nyata, dan kerja sama berbagai pihak, sampah dapat diubah menjadi peluang yang bernilai guna, sehingga tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Rabu, 27 Mei 2026

ESSAI 7 : KUNJUNGAN DI TPST RANDU ALAS

 Belajar dan Mengenal Pengelolaan Sampah di TPST Randu Alas dalam Upaya Menjaga Lingkungan

Moch Aziiz Suharyadi

24310410211

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 7

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 Pada hari Sabtu, 2 Mei 2026 pukul 09.00 hingga 11.30 WIB, saya melakukan kunjungan observasi ke TPST Randu Alas yang berlokasi di Candi Karang, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman. Kegiatan ini bertujuan untuk mempelajari secara langsung proses pengelolaan sampah di masyarakat. Dalam kunjungan tersebut, saya berkesempatan untuk bertemu dan melakukan wawancara dengan Pak Joko, salah satu pengurus TPST Randu Alas.

TPST Randu Alas merupakan tempat pengolahan sampah yang dikelola oleh sekitar 10 orang karyawan yang setiap harinya menangani sampah dari masyarakat. Di lokasi ini terdapat berbagai fasilitas pengolahan, seperti alat pemilahan, mesin pres, mesin penghancur, tempat pembakaran sampah residu, serta timbangan. Proses pengelolaan sampah dimulai dengan pemilahan berdasarkan jenisnya, seperti plastik, botol, kertas, dan sampah organik. Pemilahan ini sangat penting karena sampah yang telah dipisahkan memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan sampah yang masih tercampur.

Salah satu inovasi yang menarik di TPST Randu Alas adalah pemanfaatan air lindi. Air lindi merupakan cairan yang berasal dari tumpukan sampah organik yang kemudian diolah menjadi eco lindi, yaitu cairan penetral bau yang ramah lingkungan. Eco lindi dibuat dengan mencampurkan air lindi, molase (tetes tebu), katalis organik, dan asam sulfat. Inovasi ini terbukti mampu mengurangi bau menyengat serta membantu proses penguraian sampah organik, sehingga lingkungan sekitar tetap nyaman.

Pengendalian bau menjadi perhatian utama karena lokasi TPST berada dekat dengan aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, pembakaran sampah dibatasi hanya pada pukul 08.00 hingga 13.00 WIB agar tidak mengganggu lingkungan sekitar. Selain itu, pengelolaan sampah dilakukan secara cepat dan terstruktur agar tidak terjadi penumpukan.

Pak Joko juga menceritakan latar belakang keterlibatannya dalam pengelolaan sampah. Kesadaran tersebut muncul sejak tahun 2010 ketika lingkungan tempat tinggalnya mengalami masalah kesehatan akibat penumpukan sampah yang menjadi sarang nyamuk penyebab Demam Berdarah (DB). Kondisi tersebut semakin parah pada tahun 2013 ketika 13 warga, termasuk anak beliau, terkena DB. Peristiwa ini menjadi titik awal bagi Pak Joko untuk serius mencari solusi pengelolaan sampah.

Sejak saat itu, beliau aktif mengikuti berbagai sosialisasi dan program lingkungan, termasuk bank sampah. Pada tahun 2015, TPST Randu Alas mendapatkan dukungan dana sekitar Rp400 juta untuk pengembangan fasilitas. Awalnya, proses pengolahan masih dilakukan secara manual, namun seiring waktu fasilitas semakin berkembang dengan bantuan alat dari pemerintah.

Dalam operasionalnya, masyarakat yang menggunakan layanan TPST dikenakan iuran sekitar Rp75.000 per bulan untuk rumah tangga dan Rp25.000 untuk kos-kosan. Iuran ini digunakan untuk mendukung biaya operasional seperti transportasi, listrik, dan pengolahan sampah.

Menariknya, sampah yang telah diolah juga memiliki nilai ekonomi. Sebagian sampah dikirim ke Cilacap untuk dimanfaatkan oleh pabrik semen sebagai bahan bakar alternatif. Jumlah pengiriman bahkan mencapai 1,5 hingga 3 ton dalam satu periode, menunjukkan bahwa sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat dimanfaatkan kembali.

Secara umum, proses pengelolaan sampah di TPST Randu Alas meliputi pemilahan, pengeringan, penghancuran, penyemprotan eco lindi, pengepresan, hingga distribusi hasil olahan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat dan nilai ekonomi.

TPST Randu Alas juga menjadi tempat pembelajaran yang nyata mengenai prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R). Sampah organik diolah menjadi kompos dan pupuk cair, sedangkan sampah anorganik didaur ulang atau dimanfaatkan kembali. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung yang sangat berharga, karena peserta dapat melihat proses pengolahan secara nyata, bukan hanya secara teori.

Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari hal sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah dari rumah. Kesadaran ini penting karena pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab petugas, tetapi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.

Selain itu, kegiatan ini juga meningkatkan kepedulian saya terhadap lingkungan. Saya menjadi lebih memahami bahwa sampah yang sering dianggap tidak berguna ternyata masih memiliki manfaat jika diolah dengan baik. Pembelajaran langsung di lapangan juga terbukti lebih efektif dalam membangun kesadaran dibandingkan hanya mempelajari teori di kelas.

Namun demikian, TPST Randu Alas juga menghadapi beberapa tantangan, seperti kurangnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari sumber, keterbatasan teknologi dan fasilitas, serta dampak pencemaran udara dari pembakaran sampah residu. Selain itu, masalah regenerasi sumber daya manusia juga menjadi kendala dalam keberlanjutan pengelolaan.

Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif antara masyarakat, pemerintah, dan pihak swasta untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah. Edukasi mengenai prinsip 3R perlu ditingkatkan, serta inovasi teknologi dan pelatihan bagi pengelola harus terus dikembangkan.

Sebagai kesimpulan, TPST Randu Alas merupakan contoh nyata bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat memberikan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi. Dengan adanya kesadaran, kerja sama, dan inovasi, sampah tidak lagi menjadi masalah, tetapi dapat menjadi solusi untuk keberlanjutan lingkungan di masa depan.