Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Selasa, 05 Mei 2026

ESSAY 7, BELAJAR DI TPST RANDU ALAS

ESSAY 7

YOSY TEGAR SEPTIAN

NIM: 24310410242

PSIKOLOGI LINGKUNGAN (B)

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA


        Manajemen pengelolaan sampah di tingkat Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) adalah salah satu strategi penting untuk mengatasi permasalahan sampah di lingkungan, khususnya di wilayah perkotaan. TPST berperan sebagai pusat pengelolaan sampah yang mengumpulkan, memilah, mengolah, dan mengurangi jumlah sampah sebelum akhirnya dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dengan sistem yang terintegrasi, TPST dapat membantu mengurangi dampak negatif sampah terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Sehingga sangat keberadaannya sangat menguntungkan untuk masyarakat sekitar. 

        Pengelolaan sampah di TPST dimulai dari tahap pemilahan. Sampah dipisahkan berdasarkan jenisnya, seperti organik, anorganik, dan bahan berbahaya. Pemilahan ini sangat penting karena menentukan metode pengolahan selanjutnya. Sampah organik biasanya diolah menjadi kompos melalui proses pengomposan, yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami. Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam dapat didaur ulang atau dijual kembali sebagai bahan baku industri.

        Selain itu, TPST juga menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam pengelolaannya. Reduce berarti mengurangi jumlah sampah sejak dari sumbernya, reuse berarti menggunakan kembali barang yang masih layak pakai, dan recycle berarti mendaur ulang sampah menjadi produk baru yang bernilai ekonomis. Penerapan prinsip ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

TPST RANDUALAS

        TPST Randu Alas merupakan salah satu contoh Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang telah kami kunjungi bersama tempat ini berperan penting dalam pengelolaan sampah di tingkat lokal khususnya wilayah yogyakarta dan sleman. Tempatnya berada di Candi Karang, Sardonoharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581. Kami melaksanakan kegiatan ini pada tanggal 2 Mei 2026 pukul 09.00 - 10.00. Keberadaan TPST ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pengolahan sampah melalui sistem yang lebih terorganisir dan berkelanjutan. 

        Di TPST Randu Alas, sampah di pilah berdasarkan jenisnya organik dan anorganik. Selanjutnya dijadikan produk seperti bahan bakar pabrik semen, sampah organik di jadikan pakan ternak Babi dan sisanya jadi kompos. Lalu untuk sisa sampah yang tidak terpakai di musnahkan dengan cara di bakar. Yang di bakar ini biasanya 30% dari sampah keseluruhan. 

        Namun, TPST Randu Alas juga menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan sarana dan prasarana, kapasitas pengolahan yang terbatas, serta masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam memilah sampah. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan fasilitas, inovasi teknologi, dan program sosialisasi yang berkelanjutan.

        Manajemen yang efektif di TPST Randu Alas juga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah Sleman , masyarakat sekitar, dan sektor swasta. Edukasi dan sosialisasi menjadi kunci dalam membangun perilaku pro-lingkungan yang berkelanjutan.

        Secara keseluruhan, TPST merupakan solusi yang efektif dalam mengurangi permasalahan sampah jika dikelola dengan baik. Dengan sistem manajemen yang tepat dan partisipasi aktif dari semua pihak, pengelolaan sampah di tingkat TPST dapat menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.


Lampiran 








ESSAY 3, MELAKUKAN BEFORE - AFTER

 ESSAY 3 

YOSY TEGAR SEPTIAN

NIM: 24310410242

PSIKOLOGI LINGKUNGAN (B)

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA


        Kebersihan adalah upaya menjaga diri dan lingkungan dari kotoran, sampah, dan hal-hal yang dapat mengganggu kesehatan. Dalam perspektif psikologi, kebersihan berkaitan erat dengan cara seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku terhadap lingkungannya. Kebersihan bukan hanya soal fisik, tetapi juga berkaitan dengan kondisi mental, emosi, dan perilaku individu. Lingkungan yang bersih mendukung kesehatan mental yang lebih baik, sementara kebiasaan menjaga kebersihan mencerminkan kualitas kepribadian seseorang. 

        Pada kesempatan kali ini saya melakukan kegiatan positif dalam menjaga dan memelihara lingkungan. Beberapa titik tempat di wilayah saya yang saya pilih belum terlihat bersih secara nyata, saya ingin melakukan bersih-bersih tempat tersebut agar terlihat nyata kebersihannya. 

Tempat 1


Lokasi ini di pekarangan dekat rumah saya. Tempat ini dekat sekali dengan pemukiman warga, jadi jika saya membersihkan ini akan bermanfaat dengan lingkungan sekitar.  Pelaksanaanya pada hari Sabtu tanggal 2 Mei 2026, pukul 15.30- 16.30 WIB . Saya memilih tempat  ini karena tempat yang ramai terlihat oleh masyarakat, sehingga hati saya bergerak untuk membersihkannya. Situasi (before) terlihat lokasi serserakan dan terdapat genangan air yang menjadi sarang jentik jentik, perlu untuk di tata agar terlihat rapi dan nyaman. Situasi ( after) terlihat rapi dan juga bersih. Pemandangan jadi enak dilihat masyarakat lebih nyaman dengan suasana yang bersih seperti ini.


Tempat 2


Lokasi ini berada di jalan masuk gang kontrakan saya. Pelaksanaanya pada hari Minggu tanggal 3 Mei 2026, pukul 15.00- 16.00 WIB . Saya memilih tempat ini karena saya sering melihat tempat ini kotor dan sebagai tumpukan sampah rumah tangga sementara sebelum akhirnya di ambil oleh petugas sampah. Jalan ini juga ramai dilewati masyarakat, sehingga hati saya bergerak untuk membersihkannya. Situasi (before) terlihat lokasi kotor banyak dedaunan yang tidak di sapu, dan ada tumpukan sampah sementara di depan rumah sesorang, perlu untuk dibersihkan agar terlihat rapi dan nyaman. Situasi (after) terlihat bersih jalan terasa lebih lebar. Masyarakat lebih nyaman ketika melewati jalan yang bersih seperti. Saat pelaksanaannya saya mengajak warga sekitar untuk ikut membersihkan sehingga pekerjaan lebih ringan dan cepat. 


KESIMPULAN

        Kegiatan ini mencerminkan sikap, kebiasaan, dan kepribadian seseorang, seperti disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Oleh karena itu, menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya kewajiban fisik, tetapi juga merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan mental dan membentuk perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari. 


ESSAY 4, KOMITMEN TERHADAP SAMPAH

 

ESSAY 4

YOSY TEGAR SEPTIAN

NIM: 24310410242

PSIKOLOGI LINGKUNGAN (B)

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA



        Komitmen berperan sebagai penggerak internal dan sosial yang membuat seseorang bertindak secara konsisten, menghindari konflik batin, serta membentuk identitas diri. Komitmen sangat penting untuk memastikan perilaku pro-lingkungan tidak hanya menjadi niat, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan.

        Dalam kesempatan kali ini saya membuat vidio kegiatan kebersihan sehari hari saya dan juga berkomitmen untuk selalu menjaga kebersihan terutama di lingkungan saya tinggal. Saya meyakini bahwa komitmen saya mendorong saya agar selalu konsisten dalam menjalani kegiatan hingga kedepannya nanti.

        Kebersihan bukan sekadar kondisi lingkungan yang bebas dari kotoran, tetapi juga cerminan dari sikap, kesadaran, dan kepribadian seseorang. Lingkungan yang bersih mampu memberikan rasa nyaman, aman, serta mendukung kesehatan fisik dan mental. Sebaliknya, lingkungan yang kotor dapat menimbulkan berbagai permasalahan, baik bagi individu maupun masyarakat secara luas. Lebih dari itu, kebersihan juga berkaitan erat dengan nilai tanggung jawab dan kedisiplinan. Seseorang yang terbiasa hidup bersih cenderung memiliki pola pikir yang teratur dan perilaku yang lebih terkontrol. Oleh karena itu, menjaga kebersihan bukan hanya kewajiban, tetapi juga bagian dari pembentukan karakter.


Komitmen Berperilaku Pro-Lingkungan Hidup

Saya berkomitmen untuk senantiasa menjaga dan melestarikan lingkungan hidup dalam setiap aspek kehidupan saya. Komitmen ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, serta saya nyatakan secara terbuka agar dapat disaksikan dan diingat oleh banyak orang.

Saya akan berusaha secara konsisten untuk:

1. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan beralih ke produk yang ramah lingkungan.

2. Membuang sampah pada tempatnya serta memilah sampah organik dan anorganik

3. Menghemat penggunaan air dan energi dalam aktivitas sehari-hari

4. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar, baik di rumah, kampus, maupun tempat umum

5. Mengajak orang lain untuk ikut peduli dan berperilaku ramah lingkungan

        Saya menyadari bahwa komitmen yang saya buat akan mendorong terbentuknya perilaku yang konsisten pada diri saya. Oleh karena itu, saya siap mempertanggungjawabkan komitmen ini dan terus memperbaiki diri apabila masih terdapat kekurangan.

        Dengan komitmen ini, saya berharap dapat berkontribusi nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan demi kehidupan yang lebih baik, baik untuk saat ini maupun untuk generasi yang akan datang.

Link youtube : https://youtube.com/shorts/4i3PpJThGIg?si=tn31Cc-iWr0w5-BC

 

Esai 4 – Membuat Komitmen Tentang Sampah 

(https://www.youtube.com/watch?v=JP6M1MJEgXQ


Nama MK            : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Kelas                    : Karyawan (online)

Titik Muti’ah        (243010440004)                                  

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Topik

Komitmen Terhadap Pengolahan Sampah di Yogyakarta: Antara Krisis dan Kesadaran Kolektif

Permasalahan

Yogyakarta sedang menghadapi situasi yang bisa disebut sebagai krisis sampah. Data menunjukkan; produksi sampah harian mencapai sekitar 245-300 ton perhari, dimana saat musim liburan volume akan meningkat akibat wisatawan.

Masih ada puluhan ton sampah yang belum terkelola setiap hari, akibatnya sampah menumpuk hingga ribuan ton di depo sebelum dipindahkan. Sampah ada dimana-mana jujga di sungai setiap hari 2-3 ton sampah diangkat dari sungai, jenisnya termasuk popok , Styrofoam hingga Kasur.

Penutupan TPST Piyungan pada 2026 memperparah tekanan system pengolahan sampah.

Masalah sampah di Yogyakarta bukan sekedar teknis, tapi sudah menjadi krisis sistemik dan perilaku.  

Makna Komitmen

Komitmen terhadap sampah mencakup 1) komitmen Personal diantaranya dengan mengurangi penggunaan plastik dan memilah sampah rumahan, sebagai bentuk tanggung jawab individu sebagai produsen sampah. 2) Komitmen sosial karena sampah adalah masalah kolektif sehingga solusinya juga kolektif.  Diantaranya melakukan kerja bakti, terlibat atau menjadi nasabah bank sampah dan mestimulasi/mengingatkan orang lain. 3) Komitmen lingkungan berkelanjutan untuk mengurangi limbah dengan membiasakan perilaku 5R REDUCE (mengurangi), REUSE (gunakan kembali), RECYCLE (daur ulang), REPLACE (mengganti) dan REPLANT (menanam kembali).

Tujuan

Jika komitmen ini dilakukan secara konsisten akan sangat  membantu meminimalkan sampah, menghemat sumber daya dan melindungi lingkungan.

Perubahan Perilaku

Dalam perspektif Psikologi Lingkungan, perilaku pro-lingkungan sangat dipengaruhi Kesadaran Diri (mindset bahwa sampah berdampak buruk), Norma Sosial (yang mendukung perilaku bersih, sehat dan nyaman), Nantinya merubah Kebiasaan/Habit (disiplin berperilaku perduli sampah secara terus-menerus atau konsisten.

Refleksi

Kegiatan yang kita lakukan menjadi bentuk nyata komitmen, diantaranya dengan mengubah sikap dari ‘penonton’ menjadi ‘pelaku’, membuktikan perubahan perilaku bisa dimulai dari diri kita dan dapat memberikan tauladan kepada masyarakat. Kesimpulannya, kondisi di Yogyakarta yang istimewa ini mengajarkan bahwa masalah sampah menjadi tanggungjawab kita masing-masing, bukan hanya soal fasilitas dan teknologi saja tetapi soal komitmen Bersama antara individu, masyarakat dan pemerintah.  

 

ESSAI V- EKSPERIMEN ANORGANIK

 Pemanfaatan Sendok Plastik Bekas Menjadi Lampion Hias Ramah Lingkungan

Kinanthi Kembang Asmoro

24310410224

Kelas Psikologi Lingkungan B

Tugas Essai V

Dosen pengampu Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta




Sampah anorganik merupakan salah satu masalah lingkungan yang sampai sekarang masih sulit untuk diatasi. Berbeda dengan sampah organik yang mudah terurai, sampah anorganik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk hancur secara alami. Salah satu jenis sampah anorganik yang paling sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari adalah plastik. Plastik banyak digunakan karena praktis, ringan, dan mudah didapatkan. Namun, penggunaan plastik sekali pakai yang terlalu sering dapat menyebabkan penumpukan sampah dan mencemari lingkungan. Salah satu contohnya adalah sendok plastik bekas yang biasanya digunakan dalam kegiatan rapat, acara kantor, seminar, maupun kegiatan makan bersama. Setelah digunakan, sendok plastik tersebut sering langsung dibuang begitu saja. Padahal, jika dimanfaatkan dengan kreativitas, barang bekas tersebut masih bisa diolah menjadi kerajinan yang menarik dan berguna. Oleh karena itu, saya mencoba memanfaatkan sendok plastik bekas menjadi lampion hias sebagai bentuk upcycling sampah anorganik.

Ide membuat lampion dari sendok plastik ini muncul ketika saya melihat banyak sendok plastik sisa kegiatan yang masih dalam kondisi baik. Saya merasa sayang jika sendok-sendok tersebut hanya menjadi sampah dan akhirnya mencemari lingkungan. Dari situ saya mulai berpikir untuk mengubah barang bekas tersebut menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Selain membantu mengurangi sampah plastik, kegiatan ini juga dapat menjadi sarana untuk melatih kreativitas dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Proses pembuatan lampion ini sebenarnya cukup sederhana, tetapi membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengumpulkan sendok plastik bekas lalu mencucinya hingga bersih agar tetap higienis dan nyaman digunakan kembali. Setelah dicuci dan dikeringkan, bagian gagang sendok dipotong menggunakan gunting sehingga hanya tersisa bagian kepala sendoknya saja. Setelah itu, saya menyiapkan botol plastik bekas sebagai dasar atau badan lampion. Kepala sendok kemudian ditempelkan satu per satu pada permukaan botol menggunakan lem panas hingga seluruh bagian botol tertutup dengan rapi. Susunan sendok tersebut membentuk pola menyerupai sisik atau buah nanas sehingga terlihat unik dan menarik. Pada bagian atas botol, saya menambahkan hiasan daun dari plastik hijau agar lampion terlihat lebih cantik dan kreatif. Setelah semua selesai, bagian dalam botol dapat dipasang lampu kecil sehingga lampion bisa menyala dan digunakan sebagai hiasan ruangan.

Dalam proses pembuatannya, saya merasa cukup tertantang karena harus menempelkan sendok satu per satu dengan hati-hati agar hasilnya rapi. Jika kurang teliti, susunan sendok bisa terlihat tidak rata dan hasil akhirnya menjadi kurang bagus. Walaupun membutuhkan waktu yang cukup lama, saya merasa senang dan bangga karena berhasil membuat kerajinan dari barang bekas. Saya juga merasa puas ketika melihat hasil akhirnya yang ternyata terlihat cantik dan unik. Lampion tersebut bisa

digunakan sebagai dekorasi kamar, hiasan ruang tamu, ataupun pajangan sederhana yang menarik perhatian.

Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa menjaga lingkungan tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang besar. Hal-hal kecil seperti memanfaatkan barang bekas ternyata juga dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan. Dengan mendaur ulang sendok plastik bekas, kita dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang sulit terurai. Selain itu, kegiatan ini juga mengajarkan saya untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan barang yang sudah tidak terpakai menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna dan nilai seni.

Menurut saya, kegiatan upcycling seperti ini sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama oleh anak muda. Banyak orang masih menganggap sampah sebagai barang yang tidak berguna, padahal jika diolah dengan baik, sampah bisa berubah menjadi karya yang menarik dan bermanfaat. Selain membantu menjaga lingkungan, kegiatan membuat kerajinan dari barang bekas juga dapat menjadi hobi yang menyenangkan dan bahkan memiliki nilai ekonomi.

Kesimpulannya, pemanfaatan sendok plastik bekas menjadi lampion hias merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Dari kegiatan ini saya belajar bahwa barang bekas tidak selalu menjadi sampah yang harus dibuang, tetapi bisa diubah menjadi kerajinan yang indah dan berguna. Saya berharap semakin banyak orang yang sadar pentingnya mendaur ulang dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai agar lingkungan tetap bersih, sehat, dan nyaman untuk generasi mendatang.