Pengelolaan Sampah di
TPST Randu Alas sebagai Upaya Menjaga Lingkungan
Pingkan
Winahyuningtyas
24310410234
Kelas
Psikologi Lingkungan – B
Tugas
Essai 7
Dosen
Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas
Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Pada
hari Selasa, 5 Mei 2026 pukul 12.00 sampai 13.30 WIB, saya melakukan kunjungan
observasi ke TPST Randu Alas yang beralamatkan di Candi Karang, Sardonoharjo,
Ngaglik , Sleman, untuk belajar dan melihat secara langsung proses pengelolaan sampah.
Dalam kegiatan ini, saya bertemu dan melakukan wawancara dengan Pak Joko,
salah satu pengurus di TPST tersebut. Tempat pengolahan sampah ini memiliki
sekitar 10 orang karyawan yang setiap hari bertugas mengelola sampah dari
masyarakat.
Di
lokasi tersebut terdapat beberapa alat pengolahan sampah, yaitu satu alat
pemilahan, satu alat pres, satu alat penghancur, satu tempat
pembakaran untuk sampah residu yang sudah tidak dapat didaur ulang serta alat lainnya seperti timbangan. Sampah yang
masuk tidak langsung diproses, tetapi terlebih dahulu dipilah berdasarkan
jenisnya seperti plastik, botol, kertas, dan sampah organik. Proses pemilahan
sangat penting karena sampah yang sudah dipilah memiliki nilai jual lebih
tinggi dibandingkan sampah campuran.
Dalam
proses pengolahan sampah, salah satu inovasi yang digunakan adalah pemanfaatan
air lindi. Air lindi merupakan cairan yang berasal dari tumpukan sampah
organik. Cairan ini diolah menjadi eco lindi, yaitu cairan penetral bau sampah
yang ramah lingkungan. Eco lindi dibuat oleh Rania Naura, salah satu mahasiswi
Biologi UGM, dengan mencampurkan air lindi, molase atau tetes tebu, katalis
organik, dan asam sulfat. Hasil campuran tersebut mampu mengurangi bau
menyengat pada sampah sekaligus membantu proses penguraian limbah organik.
Pemanfaatan
eco lindi menjadi inovasi yang sangat bermanfaat karena dapat menjaga
lingkungan sekitar tetap nyaman dan tidak menimbulkan bau yang mengganggu
masyarakat. Pak Joko menjelaskan bahwa pengendalian bau sangat penting karena
lokasi pengolahan sampah berada dekat dengan area kegiatan masyarakat yang
cukup ramai. Selain itu, proses pembakaran sampah juga dibatasi hanya dari
pukul 08.00 hingga 13.00 WIB agar tidak mengganggu lingkungan sekitar.
Menurut
Pak Joko, pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan,
tetapi juga menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar. pengelolaan
dilakukan dengan cukup tertata, mulai dari pengendalian bau, pembatasan
pembakaran, hingga proses pengolahan yang cepat agar sampah tidak menumpuk
terlalu lama.
Pak
Joko juga menceritakan awal mula dirinya serius mengelola sampah. Kesadaran
tersebut muncul karena pada tahun 2010 lingkungan tempat tinggalnya mengalami
masalah kesehatan akibat banyaknya sampah yang menumpuk. Sampah menjadi tempat
berkembang biaknya nyamuk sehingga menyebabkan kasus Demam Berdarah (DB).
Kondisi semakin parah pada tahun 2013 ketika terdapat 13 warga yang terkena DB,
termasuk anak Pak Joko sendiri. Kejadian tersebut menjadi titik awal bagi
beliau untuk mencari solusi pengelolaan sampah yang lebih baik.
Setelah
itu, Pak Joko mulai mengikuti berbagai sosialisasi lingkungan dan program bank
sampah melalui relasi dengan pihak Kementerian Lingkungan Hidup. Pada tahun
2015, beliau mendapatkan dukungan dana sekitar Rp400 juta untuk mengembangkan
fasilitas pengelolaan sampah. Pada awalnya seluruh proses masih dilakukan
secara manual tanpa bantuan mesin modern sehingga membutuhkan banyak tenaga dan
waktu. Namun, seiring berjalannya waktu fasilitas mulai berkembang dan
mendapatkan bantuan alat dari pemerintah.
Dalam
pengelolaan sehari-hari, masyarakat yang menggunakan layanan pengambilan sampah
di TPST Randu Alas dikenakan iuran operasional sekitar Rp75.000 per bulan untuk
rumah tangga dan Rp25.000 untuk kos-kosan. Iuran tersebut digunakan untuk
kebutuhan operasional seperti transportasi, listrik, alat pengolahan, dan biaya
pengelolaan sampah lainnya.
Di
area belakang lokasi, sebelumnya pernah digunakan sebagai tempat budidaya
maggot. Namun, kegiatan tersebut dihentikan sementara karena pada masa darurat
sampah tahun 2023 area tersebut dipenuhi tumpukan sampah sehingga
dialihfungsikan untuk mendukung proses pengelolaan lainnya.
Pak
Joko juga menjelaskan bahwa sampah yang sudah di olah ada yang di distribusikan
dalam jumlah besar ke wilayah Cilacap untuk dimanfaatkan oleh pabrik semen
sebagai bahan campuran atau bahan bakar alternatif. Pada pengiriman sebelumnya
jumlah sampah yang berhasil dikirim mencapai 1,5 ton, bahkan pada bulan
berikutnya meningkat hingga 3 ton. Hal ini menunjukkan bahwa sampah yang
sebelumnya dianggap tidak bernilai ternyata dapat dimanfaatkan kembali dan
memiliki nilai ekonomi.
Dari
hasil observasi ini dapat disimpulkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan
proses yang terstruktur mulai dari pemilahan, pengeringan, penghancuran, penyemprotan eco
lindi, pengepresan, hingga pengiriman hasil olahan. Sampah yang awalnya
dianggap tidak berguna ternyata dapat memiliki nilai ekonomi dan dimanfaatkan
kembali dalam bidang industri maupun pertanian.
Kegiatan
di TPST Randu Alas menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya berkaitan
dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat dan
keberlanjutan lingkungan hidup. Dengan adanya inovasi seperti eco lindi,
dukungan pemerintah, serta partisipasi masyarakat, pengelolaan sampah dapat
menjadi solusi untuk mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus memberikan
manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Lampiran
.jpeg)
