Karakteristik Masyarakat Kerinci dalam Melestarikan Tradisi Gotong Royong pada Kegiatan Kenduri di Setiap Desa
I.
Pendahuluan
Hubungan
antarmanusia dan lingkungan sosialnya membentuk norma serta kebudayaan yang
diwariskan secara turun-temurun. Ruang tempat masyarakat berkumpul bukan
sekadar wadah fisik, melainkan menjadi sarana interaksi yang mempererat rasa
kebersamaan, rasa saling memiliki, dan kepedulian antarsesama.
Di Kabupaten
Kerinci, Provinsi Jambi, nilai-nilai sosial ini terpelihara secara nyata
melalui tradisi gotong royong dalam persiapan acara kenduri. Keterlibatan
langsung di tengah kegiatan warga seperti di Foto di Desa Belui ini memberikan
gambaran nyata tentang bagaimana kearifan lokal ini dirawat secara kolektif
oleh masyarakat dari berbagai lintas generasi.
II.
Pelaksanaan Kegiatan dan Kebersamaan di Lapangan
Dalam suasana
hajatan kenduri di rumah salah satu warga di Desa Belui, hangatnya kebersamaan
dan semangat gotong royong terasa begitu hidup. Dokumentasi foto menggambarkan momen-momen
sederhana namun berkesan yang terjadi secara nyata di lapangan:
1. Duduk Bersama Mengolah Bahan Makanan
Kegiatan
diawali dengan berkumpul dan duduk lesehan bersama ibu-ibu warga desa di
halaman. Sambil mengupas dan memotong nangka muda (tatani) dalam jumlah besar,
suasana terasa begitu dekat dan hangat tanpa ada jarak antarwarga.
2. Keceriaan dan Kerja Sama di Dapur:
Keseruan
berlanjut saat para perempuan bekerja sama memeras santan secara tradisional
menggunakan wadah bersama. Setiap orang dengan cekatan mengambil peran
masing-masing demi membantu kelancaran acara sang pemilik rumah.
3. Memasak Bersama dengan Kuali Besar
Proses memasak
dilakukan di area terbuka menggunakan tungku kayu bakar dan wajan besar.
Ibu-ibu saling bahu-membahu menyiapkannya, mulai dari menuangkan minyak goreng,
mengaduk gulai nangka, gulai daging, hingga masakan khas lainnya di tengah
kepulan asap kayu bakar. Mereka juga secara bergantian menjaga nyala api tungku
agar seluruh hidangan matang dengan sempurna.
4. Wujud Apresiasi Tuan Rumah
Di tengah
kesibukan menyiapkan masakan porsi besar untuk tamu kenduri, beberapa warga
secara khusus berbagi tugas memasak hidangan tersendiri untuk ibu-ibu yang
hadir membantu. Bentuk perhatian ini merupakan tradisi khas desa yang
menunjukkan rasa terima kasih dan pemuliaan tuan rumah terhadap tetangga yang
telah sukarela menyumbangkan tenaga dan waktunya sejak pagi.
5. Tradisi Saling Membantu dan Membawa Bawaan
Bentuk
kebersamaan warga juga terlihat dari kebiasaan datang membantu sambil membawa
bahan masakan secara sukarela dan bergantian seperti minyak goreng, kelapa,
nangka muda, atau beras. Kebiasaan saling menolong ini sudah menjadi tradisi
yang melekat di desa-desa Kerinci, seperti Desa Belui, Siulak, Koto Majidin, Sekungkung,
Tebat Ijuk, Koto Tua, Koto Payang, Kubang dan juga desa desa lainnya.
6. Makan Bersama Sebelum Pulang
Setelah seluruh
rangkaian persiapan selesai, sebelum kembali ke rumah masing-masing, seluruh
warga dan ibu-ibu yang membantu duduk bersama untuk menikmati hidangan yang
telah disiapkan khusus. Momen makan bersama ini menjadi puncak kehangatan, di
mana obrolan santai, canda tawa semakin menghidupkan suasana kekeluargaan yang
sudah diwariskan secara turun-temurun ini.
III.
Informasi Tambahan Menarik Dikerinci "Kenduri Sko" Puncak Perhelatan
Adat Agung Masyarakat Kerinci
Selain kenduri
skala desa atau hajatan warga, semangat gotong royong masyarakat Kerinci ini
mencapai puncaknya pada perhelatan adat terbesar di Kerinci, yaitu Kenduri Sko.
1. Keterlibatan Lintas Elemen Masyarakat
Berbeda dengan kenduri harian di tingkat RT atau dusun, Kenduri Sko merupakan perhelatan adat agung yang melibatkan seluruh elemen masyarakat Kerinci secara luas mulai dari pemuka adat (Depati Ninik Mamak), ulama, tokoh masyarakat, pemuda-pemudi, hingga seluruh warga dari berbagai luhah dan desa.
2. Makna dan
Ritual Sakral
Kenduri Sko
diselenggarakan sebagai wujud rasa syukur atas keberkahan hasil bumi, ajang
pembersihan serta penampakan kembali benda-benda pusaka leluhur (sko),
sekaligus prosesi pengukuhan pemuka adat setempat.
3. Gotong Royong Kolosal dan Aset Pariwisata:
Persiapan Kenduri Sko melibatkan kerja sama kolosal ribuan warga yang bahu-membahu menyiapkan pertunjukan seni tradisional, penataan ruang adat, hingga konsumsi warga. Kini, kesakralan dan kehangatan gotong royong dalam Kenduri Sko telah bertransformasi menjadi aset pariwisata budaya unggulan Kabupaten Kerinci yang dikenal luas hingga tingkat internasional.
IV. Kesimpulan




















