Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Selasa, 30 Juni 2026

Essai 6 - Eksperimen Upcycling Organik

 Eksperimen Upcycling Organik

Rahardian Wicaksono

24310410218

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 6

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Juni 2026

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta 


Produksi sampah organik, khususnya limbah rumah tangga seperti kulit buah, seringkali berakhir begitu saja di tempat pembuangan akhir tanpa pengelolaan yang optimal. Padahal, melalui upcycling, limbah organik ini dapat diubah menjadi produk baru yang memiliki nilai guna lebih tinggi dan ramah lingkungan. Salah satu inovasi yang potensial untuk dikembangkan adalah pemanfaatan kulit jeruk sebagai bahan baku pembuatan sabun cuci alami. Kulit jeruk yang memiliki sifat antibakteri dan mampu melarutkan minyak, sehingga sangat berpotensi menjadi pembersih alami. Eksperimen ini dilakukan untuk menguji efektivitas kulit jeruk dengan kombinasi bahan kimia pendukung dalam menghasilkan sabun cuci. 

Eksperimen ini memanfaatkan bahan utama berupa 179 gram kulit jeruk segar. Sebagai bahan kimia pendukung, digunakan 7 gram sodium sulfate dan 1/2 sendok teh cairan SLES. Langkah pertama yang dilakukan adalah menghaluskan 179 gram kulit jeruk bersama 250 ml air bersih menggunakan blender. Setelah halus, campuran tersebut disaring untuk memisahkan cairan ekstrak dari ampas serat kulit jeruk. Cairan hasil saringan inilah yang kemudian dicampurkan secara bertahap dengan sodium sulfate dan SLES, lalu diaduk hingga seluruh bahan terlarut dengan baik.



Berdasarkan eksperimen yang telah saya lakukan, hasilnya menunjukkan perbedaan jika dibandingkan dengan sabun cuci pada umumnya. Sabun cuci dari olahan kulit jeruk ini sama sekali tidak menghasilkan busa saat digunakan untuk mencuci. Selain itu, masih ditemukan sisa-sisa butiran serat kulit jeruk yang tidak tersaring dengan baik dalam proses penyaringan. Namun, hasil eksperimen ini memiliki keunggulan yaitu warna kuning khas jeruk terlihat sangat pekat dan keluar secara alami, juga memiliki wangi dari aroma jeruk yang sangat kuat dan menyegarkan.

Tidak ada busa dan adanya sisa serat menunjukkan adanya aspek teknis yang belum sempurna. SLES sebanyak satu sendok teh rupanya belum cukup untuk menurunkan tegangan permukaan air dan menghasilkan busa yang melimpah dalam volume cairan tersebut. Sementara itu, kehadiran butiran serat menunjukkan bahwa metode penyaringan manual yang digunakan masih memerlukan alat yang lebih rapat, seperti kain saring, agar menghasilkan cairan yang benar-benar jernih.

Eksperimen upcycling organik menggunakan kulit jeruk ini memberikan pengalaman yang baru. Produk ini masih memerlukan banyak perbaikan, terutama dalam melakukan penakaran bahan kimia pendukung agar formulasi sabun dapat bekerja lebih efektif dan ideal. Proses ini menjadi motivasi bagi diri saya sendiri untuk memiliki kesadaran lingkungan yang penting. Eksperimen ini mengajarkan saya bahwa pengelolaan sampah organik tidak terbatas pada pembuatan kompos saja, tapi juga bisa dikembangkan secara inovatif dan aplikatif menjadi produk pembersih alami rumah tangga yang bernilai guna tinggi.

Saya menyadari bahwa perilaku pro-lingkungan tidak akan pernah terwujud jika kita terus menuruti dorongan untuk menunda-nunda sesuatu. Secara jangka panjang, keterampilan mengolah limbah menjadi sabun cair ini memiliki urgensi yang tinggi di kehidupan. Dalam lingkup keluarga, kita dapat meminimalkan paparan bahan kimia sintetis yang merusak tanah. Dalam kehidupan bermasyarakat, keterampilan ini dapat dibagikan kepada komunitas lokal sebagai peluang pemberdayaan ekonomi kreatif. Eksperimen sederhana ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah yang bertanggung jawab harus dimulai dengan mengelola kedisiplinan diri sendiri dan melawan kemalasan yang ada di dalam pikiran kita.

Senin, 29 Juni 2026

ESSAY PRESTASI 4 (PARTISIPASI AKTIF DALAM BKR XI PENEN DAN JENGUKAN SAKIT)

 

JENGUKAN ORANG SAKIT DANPARTISIPASI AKTIF DALAM KEGIATAN BKR (BINA KELUARGA REMAJA) XI PENEN



 KUS WITA WARDANI

25310430002

Psikologi Lingkungan/ Kelas Karyawan (B)

Tugas: Essai Prestasi 4

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Bulan/ tahun terbit: Juni/ 2026

 

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45


PELAKSANAAN KEGIATAN

1.  JENGUKAN ORANG SAKIT

Hari/ Tanggal         : Sabtu/ 30 Mei 2026

Tempat                  : Jalan Besi Jangkang, Jalan Kaliurang Yogyakarta

Pukul                     : 08.00 – 10.00 wib

Tujuan kegiatan      :

Menengok orang sakit adalah salah satu kegiatan sosial yaitu perwujudan bentuk kepedulian kita terhadap lingkungan sekitar, selain itu kegiatan ini adalah menumbuhkan sikap empati terhadap sesama dan menumbuhkan tali silaturahmi. Dalam kegiatan ini saya tidak melakukan sendirian, tetap saya mengajak teman-teman lainnya yang memiliki relasi terhadap orang yang akan dijenguk. Bagi pasien/ orang yang sakit tersebut, kehadiran fisik yang kita lakukan sangat mempengaruhi kondisi psikologis dan proses penyembuhan dari pasien. Pasien akan merasa diperhatikan, tidak merasa sendiri karena memiliki orang-orang yang menyayanginya sehingga pasien akan merasa tersugesti merasa bahagia dan terstimulus untuk secepatnya pulih dan dapat beraktifitas kembali seperti biasanya. Sebelum menjenguk, seyogyanya kita sudah memperhatikan adab dan waktu dalam melakukan jengkukan terhadap orang sakit, agar apa yang kita lakukan itu menjadi keberkahan bersama bukan menimbulkan efek kebalikannya sehingga menjadi hal yang membuat tidak nyaman dan merugikan pasien dan keluarganya.

         

                      Ket: Dokumentasi (1) jengukan                                                              Ket: Dokumentasi (2) jengukan                         


2.  PARTISIPASI AKTIF DALAM KEGIATAN BKR XI PENEN

Hari/ Tanggal         : Selasa/10 Juni 2026

Tempat                   : Salah satu kediaman anggota BKR di Penen, Harjobinangun, Yogyakarta

Pukul                     : 15.30 – 17.30 wib

Tujuan kegiatan      :

Bina Keluarga Remaja atau yang dikenal dengan BKR adalah salah satu kelompok kegiatan di bawah naungan BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional). Dalam kelompok kegiatan ini saya sudah begabung selama lebih dari 5 tahun dimana saya merasakan banyak sekali manfaat yang saya peroleh selama menjadi anggota BKR.

Banyak sekali kegiatan yang dilakukan dalam kelompok ini, antara lain penyuluhan dan edukasi mengenai alat kontrasepsi (KB) dari Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Pakem, penyuluhan  kesehatan, penyuluhan mengenai konsep 3R yang dapat dilakukan di lingkungan rumah, informasi seputar POSYANDU, perlombaan untuk menyemarakkan hari kemerdekaan Republik Indonesia atau 17 Agustus-an (biasanya diadakan lomba volley antar RT, lomba memasak antar RT, lomba paduan suara antar RT, dan berbagai lomba lainnya), dan setiap satu tahun sekali biasanya kelompok BKR XI Penen ini mengadakan piknik bersama, kegiatan piknik ini bertujuan untuk mempererat hubungan antar warga dengan konsep yang menghibur. Selain itu melalui kegiatan ini banyak sekali informasi yang bisa didapat sehubungan dengan keluarga seperti hal mengenai kegiatan bakti sosial IUD dan Implan gratis. Selama menjadi anggota BKR XI Penen ini, saya ikut berpartisipasi aktif dalam beberapa lomba seperti Volley putri, paduan suara dan beberapa perlombaan lainnya.

Pada kegiatan kali ini, terjadi kunjungan dari TPK (Tim pendamping Keluarga) Kapanewon Penen, kegitan kunjungan tersebut biasanya dilakukan secara continue/ berkala terdapat kunjungan dari untuk memantau dan melakukan pendampingan secara langsung kepada kelompok BKR XI Penen. Selain kegiatan kunjungan dari TPK Kapanewon Penen, terdapat juga agenda lainnya yaitu tutorial make up yang dipandu dari salah satu anggota BKR. Kegiatan kali ini berjalan sangat lancar dan penuh dengan kehangatan. 



    

Ket: Dokumentasi Team Padus RT 06 Penen                               Ket: Dokumentasi Team Volley Putri RT 06 Penen



Ket: Dokumentasi bersama sebelum pertandingan dengan team volley Putri Rt 03 Penen



Ket: Dokumentasi pertemuan rutin anggota BKR tanggal 10 Juni 2026 dengan team TPK Kapanewon Penen




ESAI 4 - KOMITMEN PRIBADI

 

Komitmen Pribadi terhadap Pengelolaan Sampah Mata Kuliah: Psikologi Lingkungan

Busthanul Arifin

 25310440002

 Kelas Psikologi Lingkungan - B

 Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

 

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Ada yang berubah dalam cara saya melihat dunia sampah setelah menjalani perkuliahan Psikologi Lingkungan. Perubahan itu tidak terjadi sekaligus, dari tugas demi tugas, dari diskusi demi diskusi, menumbuhkan semangat untuk memaknai betul hal-hal yang tidak mudah ini.

Sampah adalah salah satunya.

Psikologi Lingkungan mengajarkan sesuatu yang bermakna, yaitu bahwa lingkungan fisik dan perilaku manusia saling membentuk satu sama lain. Lingkungan yang kotor tidak sekadar tidak sedap dipandang. Namun secara perlahan lahan menurunkan standar perilaku orang yang ada di dalamnya. Ketika seseorang melihat sampah berserakan, otak secara tidak sadar membaca sinyal bahwa tempat itu memang boleh diperlakukan demikian. Satu sampah mengundang sampah berikutnya. Satu orang yang acuh mengajak orang lain untuk acuh juga.

Pemahaman itu yang kemudian menggeser cara saya memaknai persoalan ini.

Saya mulai membangun komitmen, bukan karena tuntutan tugas, tetapi karena saya akhirnya mengerti bahwa diam pun adalah sebuah pilihan, dan di tiap tiap pilihan sekecil apapun, itu ada konsekuensinya.

Dan ini mengubah cara pandang saya terhadap sampah itu sendiri. Sampah organik bukan sekadar sisa makanan yang menjijikkan, ia adalah bahan baku kompos yang bisa menghidupkan tanah. Sampah anorganik bukan sekadar tumpukan plastik, ia bisa menjadi bahan daur ulang yang bernilai jika diperlakukan dengan benar. Pergeseran cara pandang dari membuang menjadi mengelola ini tampaknya kecil, tetapi implikasinya sangat besar terhadap keputusan-keputusan kecil yang saya ambil setiap hari.

Selai itu saya mencoba untuk menjadi  contoh yang konsisten di lingkungan terdekat saya. Dimulai dari rumah saya sendiri, anak-anak saya sendiri. Saya percaya bahwa perubahan perilaku seseorang yang dilakukan secara konsisten dan terlihat oleh orang di sekitarnya memiliki kekuatan menular. Ketika seseorang melihat orang lain memungut sampah tanpa diminta, tanpa paksaan, dan tanpa dramatisasi, itu meninggalkan kesan yang lebih kuat daripada kampanye apapun.

Saya menyadari bahwa hal ini tidak akan selalu mudah dijalankan. Psikologi Lingkungan juga mengajarkan bahwa perilaku yang diulang cukup lama akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan yang cukup banyak diadopsi akan menjadi norma sosial. Dan itu semua bisa dimulai dari lingkungan terdekat kita sendiri, yaitu Rumah.

 

ESAI 7 BELAJAR KELOLA SAMPAH TPST RANDU ALAS

 Pengelolaan Sampah pada TPST Randu Alas

Nama : Busthanul Arifin

NIM : 25310440002

Kelas : B

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.



Ketika TPA Piyungan resmi ditutup pada tahun 2021, Kabupaten Sleman dihadapkan pada situasi yang tidak mudah. Volume sampah yang selama ini dialirkan ke sana tiba-tiba kehilangan muaranya. Di tengah kondisi itulah TPST Randu Alas hadir bukan sebagai solusi instan, melainkan sebagai eksperimen sosial yang mencoba membuktikan bahwa sampah bisa dikelola secara lebih bermartabat. Sebelumnya, warga sudah terbiasa dengan pola lama, yaitu buang dan lupakan. Sampah diangkut, ditumpuk, dan selesai. Tidak ada pertanyaan tentang apa yang terjadi sesudahnya. Kebiasaan itu meninggalkan warisan berupa penumpukan dan bau yang menjadi bagian dari keseharian. TPST berbasis prinsip 3R hadir untuk memutus kebiasaan lama itu, dengan menawarkan cara pandang bahwa sampah bukanlah akhir dari sesuatu, melainkan awal dari sesuatu yang lain.

Cara kerja TPST Randu Alas cukup menyeluruh. Alur pengelolaan dimulai sejak sampah ditempatkan di wadah, dikumpulkan, diangkut, diterima, dipilah, lalu diolah sesuai jenisnya. Sampah organik tidak langsung dibuang begitu saja, melainkan dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau dikubur dalam lubang yang dirancang khusus agar proses penguraiannya tidak mencemari tanah di sekitarnya. Sampah anorganik masuk ke tahap berikutnya lewat proses pencacahan atau penghancuran mekanis. Sisanya, yang memang tidak memiliki jalan lain, dibakar dalam tobong. Sistem ini cukup terstruktur, tetapi justru di sanalah letak ketegangan yang sesungguhnya muncul. Kesadaran warga untuk memilah sampah sejak dari dapur dan kamar masing-masing masih sangat rendah. Edukasi belum menjangkau cukup jauh, dan dukungan dari pemerintah pun belum sepadan dengan besarnya tantangan yang dihadapi oleh pengelola di lapangan. TPST yang dirancang dengan baik sekalipun akan tersendat jika sampah yang datang kepadanya masih bercampur aduk tanpa pilahan.

Kunjungan langsung ke TPST Randu Alas terasa seperti membuka halaman yang selama ini jarang dibaca. Pengelolaan sampah ternyata bukan urusan sederhana yang bisa diselesaikan dengan satu mesin atau satu kebijakan. Di baliknya ada kebutuhan akan teknologi yang memadai, tenaga manusia yang berdedikasi, dan yang paling sulit diadakan secara cepat adalah komitmen kolektif dari masyarakat itu sendiri. Dari sudut pandang Psikologi Lingkungan, pengalaman ini menjadi sangat bermakna karena menunjukkan dengan jelas bahwa infrastruktur fisik tidak pernah bisa berdiri sendiri. Mesin pencacah paling canggih pun tidak akan bekerja optimal jika warga yang menggunakannya belum memiliki kebiasaan memilah. Perubahan perilaku adalah fondasi yang harus dibangun lebih dulu, atau setidaknya dibangun bersamaan dengan sistem fisiknya. Dalam hal itu, TPST Randu Alas tidak hanya menjadi tempat belajar tentang teknis pengolahan sampah, tetapi juga menjadi cermin yang memperlihatkan betapa eratnya hubungan antara perilaku manusia, kebijakan yang ada, dan masa depan lingkungan yang ingin kita jaga bersama.

ESAI 1 - MERINGKAS JURNAL - 2531040002

 

Busthanul Arifin- 25310440002

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Ringkasan Jurnal

Judul: Eco-Teens Initiative: Pemberdayaan Remaja Melalui Pelatihan Pengelolaan Limbah Organik untuk Meningkatkan Kesadaran Lingkungan Berkelanjutan

Penulis: Muzdalifah Mahmud (Universitas Negeri Gorontalo)

Jurnal: PEDAMAS, Volume 3 Nomor 6, November 2025

Topik

Pemberdayaan remaja usia sekolah menengah pertama melalui pelatihan pengelolaan limbah organik berbasis komposting sebagai upaya membangun kesadaran lingkungan yang berkelanjutan.

Permasalahan

Degradasi lingkungan akibat pengelolaan sampah yang tidak tepat masih menjadi masalah serius, terutama tingginya proporsi limbah organik yang berkontribusi pada pencemaran dan emisi gas metana. Di tingkat nasional, sampah organik dari sisa makanan menyumbang sekitar 41,27 persen dari total produksi sampah Indonesia. Di sisi lain, kesadaran remaja terhadap pentingnya menjaga lingkungan belum merata, dan banyak siswa yang belum memiliki pengetahuan maupun keterampilan memadai dalam mengelola limbah organik.

Tujuan Penelitian

Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran lingkungan siswa SMPN 1 Tapa melalui pelatihan dan praktik langsung pengelolaan limbah organik berbasis komposting, sekaligus mendorong terbentuknya sikap ramah lingkungan yang berkelanjutan di kalangan remaja.

Metode

Program dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Gorontalo, dengan melibatkan mahasiswa peserta program MBKM Batch 7 yang ditempatkan di SMPN 1 Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Pendekatan yang digunakan adalah participatory approach, di mana siswa ditempatkan sebagai peserta aktif dalam seluruh tahapan kegiatan, bukan sekadar penerima informasi.

Tahapan pelaksanaannya meliputi pertama, koordinasi dengan pihak sekolah untuk menentukan subjek kegiatan. Kedua, pengumpulan data awal melalui observasi dan kuesioner untuk memetakan pengetahuan dan kebiasaan siswa terkait limbah organik. Ketiga, pelatihan dan lokakarya yang mencakup materi pengenalan limbah organik, manfaat kompos, dan teknik pembuatan kompos sederhana. Keempat, pendampingan praktik lapangan di mana siswa langsung mengumpulkan bahan organik dan mengolahnya menjadi kompos menggunakan metode aerobik dalam lubang tanah. Kelima, evaluasi pasca pelatihan melalui survei pengetahuan dan observasi perubahan perilaku siswa.

Hasil

Program ini berhasil melibatkan siswa secara aktif dalam seluruh tahapan pengelolaan limbah organik. Mahasiswa MBKM berperan penting sebagai fasilitator yang menginisiasi pembuatan kompos, memimpin observasi, dan mendampingi siswa secara langsung. Proses pengomposan dilakukan menggunakan bahan daun kering, rumput, dan sisa makanan dari kantin, berlangsung selama beberapa minggu dengan pengawasan rutin. Kompos yang dihasilkan kemudian digunakan untuk menyuburkan tanaman di lingkungan sekolah sehingga memberikan manfaat ekologis yang langsung terasa.

Diskusi

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman siswa mengenai jenis limbah organik, manfaat kompos, dan prosedur pembuatannya. Selain itu, terjadi perubahan perilaku yang nyata berupa keterlibatan aktif siswa dalam memilah dan mengumpulkan bahan kompos. Hal ini sejalan dengan literatur yang menyatakan bahwa pendidikan lingkungan yang terorganisir dan berbasis praktik langsung efektif dalam mengubah pola pikir dan perilaku remaja. Keterlibatan mahasiswa MBKM juga terbukti memperkuat kualitas program sekaligus memberi pengalaman service learning yang bermakna bagi mahasiswa itu sendiri. Program ini memperlihatkan bahwa kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan sekolah dapat menghasilkan kegiatan pengabdian yang aplikatif dan berdampak nyata.

Kesimpulan

Program Eco-Teens Initiative berhasil meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian siswa SMPN 1 Tapa terhadap pengelolaan limbah organik melalui pendekatan partisipatif. Program ini tidak hanya memberikan solusi praktis terhadap masalah penumpukan sampah organik di sekolah, tetapi juga menciptakan dampak berkelanjutan melalui terbentuknya kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah yang dapat dilanjutkan secara mandiri oleh pihak sekolah setelah program berakhir.