Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Selasa, 14 Juli 2026

Essai 9 : Bank Sampah

Bank Sampah  



Sucianingsih M Rivai 

24310410209 

Kelas Psikologi Lingkungan - B 

Tugas Essai 9 

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A. 

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta 


Kunjungan ke bank sampah memberikan pengalaman baru bagi saya mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang benar. Sebelum berkunjung, saya menganggap bahwa sampah hanyalah barang bekas yang tidak memiliki nilai. Namun, setelah melihat secara langsung kegiatan di bank sampah, saya menyadari bahwa sampah yang dipilah sesuai jenisnya masih dapat dimanfaatkan kembali dan bahkan memiliki nilai ekonomi. Bank sampah menjadi salah satu upaya untuk mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih perduli terhadap kebersihan lingkungan. 

Pada kesempatan tersebut, saya membawa botol plastic PET Kotor sebanyak sekitar 10 buah untuk dijual. Sebelum ditimbang, petugas terlebih dahulu memeriksa jenis sampah yang saya bahwa agar sesuai dengan kategori yang diterima. Botol PET Kotor tersebut dihargai sebesar Rp  1.500 per buah, sehingga saya memperoleh sekitar Rp 15.000 dari hasil penjualan. Meskipun jumlah uang yang saya terima tidak terlalu besar, saya merasa senang karena sampah yang sebelumnya hanya menumpuk kini dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan yang akan didaur ulang. Pengalaman ini menunjukkan bahwa sampah yang dipilah dengan baik masih memiliki nilai jual dan dapat memberikan manfaat ekonomi. 

Selain memperoleh hasil dari penjualan sampah, saya juga mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenai pentingnya kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah. Saya belajar bahwa proses daur ulang akan lebih mudah dilakukan apabila sampah organik dan anorganik dipisahkan sejak awal. Dengan demikian, jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dapat berkurang dan lingkungan menjadi lebih bersih. Saya juga melihat bahwa bank sampah berperan sebagai tempat edukasi bagi masyarakat untuk menerapkan pola hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan.

Kunjungan ini memberikan manfaat yang sangat berharga bagi saya. Saya menjadi lebih memahami bahwa menjaga kebersihan lingkungan tidak selalu membutuhkan tindakan yang besar, tetapi dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mengumpulkan dan memilah sampah yang masih dapat didaur ulang. Selain memberikan manfaat bagi lingkungan, kegiatan ini juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Pengalaman tersebut membuat saya semakin termotivasi untuk menerapkan kebiasaan memilah sampah di rumah serta mengajak keluarga dan teman-teman untuk memanfaatkan bank sampah sebagai salah satu solusi dalam mengurangi permasalahan sampah. Saya berharap semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya keberadaan bank sampah sehingga budaya mengelola sampah dengan baik dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi lingkungan maupun kehidupan sehari-hari.

Lampiran 




Essai 7 : Belajar Pengelolaan Sampah Terpadu di TPST Induk Iloheluma yang Terintegrasi dengan Bank Sampah

 Pengelolaan Sampah di TPST Induk Iloheluma sebagai Upaya Menjaga Lingkungan 




Sucianingsih M Rivai 

24310410209 

Kelas Psikologi Lingkungan - B 

Tugas Essai 7 

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A. 

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta 


Pada hari Senin, 13 Juli 2026, saya melakukan kunjungan observasi ke TPST Induk Iloheluma yang beralamatkan di Pulubala, Kec. Kota Tengah, Kabupaten Gorontalo, untuk belajar dan melihat secara langsung proses pengelolaan sampah. Dalam kegiatan ini, saya disambut oleh Ketua TPST Induk Iloheluma, Bapak Surya, yang memberikan penjelasan berbagai fasilitas dan peralatan yang digunakan dalam proses pengolahan sampah. Beliau menjelaskan bahwa setiap alat memiliki fungsi yang berbeda-beda, mulai dari proses pemilahan hingga pengolahan sampah agar dapat dimanfaatkan kembali dan mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan terakhir. Tempat pengolahan sampah ini tidak memiliki jumlah karyawan yang spesifik karena bersifat kolaboratif dan dijalankan oleh seorang Direktur, didampingi oleh dosen serta mahasiswa dari jurusan Arsitektur Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang tergabung dalam kelompok Arsitektur Peduli Sampah. 

Bapak Surya menjelaskan bahwa TPST Induk Iloheluma memiliki beberapa alat yang dgunakan untuk mendukung proses pengolahan sampah. Di antaranya adalah mesin pres yang berfungsi untuk memadatkan sampah agar lebih mudah disimpan dan diangkut, mesin giling yang digunakan untuk memperkecil ukuran sampah sehingga lebih mudah diproses, serta kendaraan viar yang dimanfaatkan sebagai sarana operasional dalam pengangkutan sampah. Selain itu, terdapat pula mesin kompos pencacah ranting yang digunakan untuk mencacah ranting, daun, dan sampah organik lainnya sebelum diolah menjadi kompos. Dengan adanya berbagai peralatan tersebut, proses pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien. 

Selain menjelaskan mengenai peralatan, beliau juga menerangkan sistem pengumpulan sampah yang diterapkan di TPST Induk Iloheluma. Sampah yang akan diolah diperoleh melalui dua cara, yaitu dijemput oleh petugas menggunakan kendaraan operasional ke lokasi-lokasi tertentu dan diantar langsung oleh masyarakat ke TPST. Sistem ini memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk menyalurkan sampah agar dapat dikelola dengan baik. Setelah sampah diterima di TPST, sampah akan dipilah sesuai jenisnya sebelum diproses menggunakan alat yang sesuai sehingga dapat dimanfaatkan kembali atau diolah menjadi produk yang lebih bernilai. 

Dalam kesempatan tersebut, Bapak Surya juga menceritakan sedikit mengenai perjalanan beliau di TPST Induk Iloheluma. Beliau menjelaskan bahwa dirinya mulai bekerja di TPST sekitar 5 tahun yang lalu. Selama menjalankan tugasnya, beliau telah berperan aktif dalam mengelola berbagai kegiatan operasional yang berkaitan dengan pengelolaan sampah di TPST. Selain itu, beliau juga menyampaikan bahwa dirinya merupakan pengurus ketiga yang memimpin TPST Induk Iloheluma. Selama masa kepemimpinannya, beliau terus berupaya mengembangkan sistem pengelolaan sampah agar berjalan lebih efektif serta mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Pengalaman yang dimiliki selama 5 tahun tersebut membuat beliau memahami berbagai tantangan sekaligus potensi yang dimiliki TPST dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih baik. 

Melalui penjelasan yang diberikan, saya memperolah pemahaman bahwa pengelolaan sampah tidak hanya membutuhkan fasilitas dan peralatan yang memadai, tetapi juga memerlukan sistem kerja yang terorganisasi serta partisipasi aktif dari masyarakat. Kunjungan ini memberikan pengalaman dan wawasan baru mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang baik sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. 


Lampiran 






Senin, 13 Juli 2026

ESSAI V- EKSPERIMEN ANORGANIK DI RUMAH DOSEN

 ESSAI 5 : EKPERIMEN ANORGANIK DI RUMAH DOSEN 

Kinanthi Kembang Asmoro

24310410224

ESSAI V

Dosen pengampu Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta



Sampah menjadi salah satu masalah yang sering kita temui di kehidupan sehari-hari. Banyak orang masih membuang sampah sembarangan atau menganggap sampah tidak memiliki manfaat lagi. Padahal, jika diolah dengan baik, terutama sampah anorganik seperti plastik, kaca, atau bahan bekas lainnya, sampah tersebut bisa diubah menjadi barang yang berguna dan bahkan memiliki nilai jual. Melalui eksperimen anorganik yang dilakukan di rumah dosen, saya mendapatkan pengalaman baru tentang bagaimana cara memanfaatkan sampah menjadi kerajinan yang menarik. Pada kegiatan ini, kami belajar secara langsung membuat berbagai macam kerajinan dari bahan bekas. Suasana belajar terasa berbeda karena tidak dilakukan di dalam kelas, melainkan di rumah dosen. Hal ini membuat kami lebih santai, tetapi tetap fokus mengikuti setiap langkah yang dijelaskan. Kami juga bekerja sama dalam kelompok sehingga setiap anggota bisa saling membantu selama proses pembuatan kerajinan.

Kerajinan pertama yang kami buat adalah gantungan kunci. Kami memanfaatkan bahan-bahan bekas yang masih layak digunakan, lalu menghiasnya agar terlihat menarik. Awalnya saya mengira membuat gantungan kunci itu mudah, tetapi ternyata membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Kami harus memotong bahan dengan rapi, menyusun hiasan, dan memastikan hasil akhirnya terlihat bagus. Setelah selesai, saya merasa bangga karena gantungan kunci yang dibuat dari barang bekas ternyata terlihat unik dan menarik. Selain membuat gantungan kunci, kami juga membuat lilin hias. Lilin dibuat dengan memanfaatkan sisa-sisa lilin yang sudah tidak terpakai. Lilin tersebut dilelehkan, kemudian diberi warna dan aroma agar tampil lebih menarik. Setelah dituangkan ke dalam cetakan dan didiamkan hingga mengeras, hasilnya menjadi lilin baru yang cantik. Dari kegiatan ini saya belajar bahwa barang yang sudah dianggap tidak berguna ternyata masih bisa dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.

Kegiatan berikutnya adalah membuat piring cantik. Kami menghias piring menggunakan berbagai bahan bekas sehingga tampilannya menjadi lebih menarik. Setiap kelompok bebas berkreasi dengan warna dan hiasan yang digunakan. Proses ini benar-benar melatih kreativitas karena kami harus memikirkan desain yang bagus agar hasilnya terlihat rapi dan indah. Saya merasa senang melihat piring yang awalnya sederhana berubah menjadi hiasan yang cantik. Setelah semua kerajinan selesai dibuat, kami menyusun hasil karya tersebut menjadi sebuah parcel. Parcel dihias dengan rapi sehingga terlihat menarik dan layak dijadikan hadiah atau dijual. Dari kegiatan ini saya belajar bahwa cara mengemas produk juga sangat penting. Meskipun isi parcel bagus, jika dikemas dengan asal-asalan, nilainya akan berkurang. Sebaliknya, kemasan yang menarik bisa membuat orang lebih tertarik untuk membeli.

Selama mengikuti eksperimen ini, saya belajar banyak hal, bukan hanya tentang cara membuat kerajinan, tetapi juga tentang pentingnya bekerja sama. Setiap anggota kelompok memiliki tugas masing-masing sehingga pekerjaan menjadi lebih ringan dan cepat selesai. Kami juga saling bertukar ide ketika menentukan desain atau mengatasi kesulitan saat membuat kerajinan. Kerja sama yang baik membuat hasil yang kami peroleh menjadi lebih maksimal. Menurut saya, kegiatan eksperimen anorganik ini sangat bermanfaat. Saya jadi lebih sadar bahwa sampah bukan hanya sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga bisa menjadi barang yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi jika diolah dengan kreatif. Selain itu, kegiatan ini juga mengajarkan saya untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan mengurangi jumlah sampah yang ada di sekitar kita. Dari pengalaman ini, saya mendapatkan pelajaran bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti memanfaatkan barang bekas menjadi kerajinan yang berguna. Saya berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan karena selain menambah ilmu dan keterampilan, kegiatan ini juga melatih kreativitas, kerja sama, dan jiwa berwirausaha. Pengalaman belajar langsung di rumah dosen menjadi pengalaman yang menyenangkan dan tidak akan mudah saya lupakan.

ESSAI 8 - UPCYCLING ESTETIK

MAT.KUL : Psikologi Lingkungan 

DOSEN PENGAMPU : Dr. ARUNDATI SHINTA M.A.

NAMA         : AYOM PURWANINGSIH

NIM : 24310410227

FAKULTAS         : PSIKOLOGI ( KELAS B) 

Universitas Proklamasi 45



MENGUBAH SAMPAH MENJADI UPCYCLING POT BUNGA ESTETIK PENUH BERKAH




Pendahuluan


Upcycling hadir sebagai solusi kreatif yang mengubah barang bekas menjadi produk baru dengan nilai guna dan estetika yang lebih tinggi. Berbeda dengan recycling (daur ulang) yang meleburkan material menjadi bahan mentah, upcycling mempertahankan bentuk asli barang sambil memberikan fungsi baru. Praktik ini kini menjadi garda terdepan dalam melawan budaya konsumerisme. Karena tingkat konsumsi masyarakat modern telah menghasilkan timbunan sampah yang mengancam kelestarian lingkungan. Selama ini, solusi yang paling umum digunakan adalah recycling (daur ulang), yang seringkali memerlukan proses industri berskala besar untuk mengurai material. Alternatif yang lebih kreatif dan ramah lingkungan, yaitu upcycling. Berbeda dengan daur ulang, upcycling adalah proses mengubah barang bekas atau limbah menjadi produk baru yang memiliki nilai estetika dan nilai ekonomi lebih tinggi dari barang aslinya.



Isi


Penerapan upcycling membawa dampak positif yang signifikan bagi lingkungan dan ekonomi. Dari sisi lingkungan, metode ini memperpanjang siklus hidup suatu produk sehingga mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dari sisi ekonomi, upcycling mendorong lahirnya prinsip ekonomi sirkular. Material yang dianggap tidak berharga dapat disulap menjadi barang bernilai jual tinggi, seperti tas dari sisa kain perca, furnitur dari palet kayu bekas, atau karya seni dari limbah plastik.


Pendekatan ini memiliki beberapa dampak positif. Pertama, upcycling menekan jumlah limbah yang mencemari lingkungan. Kedua, ini mendorong ekonomi kreatif di tingkat lokal. Pengrajin atau individu dapat menciptakan produk bernilai seni dengan modal material yang sangat minim. Upcycling menumbuhkan kesadaran kita tentang konsumsi yang bertanggung jawab. Kita diajarkan untuk lebih menghargai barang sebelum membuangnya.


Praktik ini memberikan dampak positif yang signifikan. Dari aspek lingkungan, upcycling membantu mengurangi volume sampah secara drastis sekaligus menekan jejak karbon karena meminimalkan energi yang dibutuhkan untuk memproduksi barang baru dari nol. Dari aspek ekonomi, ini membuka peluang bisnis kreatif yang bernilai ekonomi tinggi. Selain itu, upcycling juga melatih kreativitas individu untuk melihat potensi dari barang-barang yang awalnya dianggap tidak berguna.



Kesimpulan


Upcycling bukan sekadar tren sesaat dalam mengolah sampah, melainkan langkah penting menuju ekonomi sirkular. Dengan mengubah paradigma kita dari "buang" menjadi "manfaatkan kembali secara kreatif", upcycling membuktikan bahwa barang tak terpakai pun dapat memiliki kehidupan kedua yang jauh lebih berharga. Upcycling bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah kebutuhan moral dan gaya hidup masa depan. Praktik ini mengajarkan kita untuk lebih menghargai sumber daya dan melihat potensi dari barang-barang di sekitar kita. Dengan mengubah pola pikir dari konsumen pasif menjadi kreator yang peduli lingkungan, kita tidak hanya berkontribusi dalam mengurangi sampah, tetapi juga membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.



Sabtu, 11 Juli 2026

ESSAY 8 : MELAKUKAN UPCYCLING SAMPAH ANORGANIK & MERINTIS SEBAGAI PENGUSAHA EKONOMI SIRKULER

 

YOSY TEGAR SEPTIAN

NIM: 24310410242

PSIKOLOGI LINGKUNGAN (B)

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

 Upcycling sampah anorganik merupakan proses mengolah limbah seperti botol plastik, kaleng, kaca, kain bekas, ban, atau kemasan menjadi produk baru yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi lebih tinggi tanpa melalui proses penghancuran bahan secara menyeluruh.

Untuk merintis usaha ekonomi sirkuler, langkah-langkah yang dapat dilakukan meliputi mengidentifikasi jenis sampah anorganik yang mudah diperoleh, menentukan produk yang akan dibuat sesuai kebutuhan pasar, mengembangkan desain yang kreatif dan berkualitas, menghitung biaya produksi serta harga jual, memasarkan produk melalui media sosial, marketplace, bazar, atau pameran UMKM, dan terus melakukan inovasi agar produk memiliki daya saing.

Tidak hanya memperoleh peluang usaha dan tambahan pendapatan, tetapi juga berkontribusi dalam mengurangi timbunan sampah, meningkatkan kesadaran lingkungan, serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat

 

PEMBUATAN PRODUK


 




Nama produk : Lampion

Bahan utama : galon bekas merk LE MINERAL

 

Alat dan Bahan

  • 1 galon plastik bekas Le Minerale yang sudah dicuci bersih
  • Cutter atau pisau
  • Gunting
  • Penggaris
  • Spidol
  • Cat semprot atau cat akrilik (opsional)
  • Lem tembak
  • Tali atau kawat untuk gantungan
  • Lampu LED kecil atau lampu hias (hindari menggunakan lilin)

Langkah-langkah

1. Bersihkan galon

2. Buat pola dengan spidol dan penggaris, gambar garis-garis vertikal pada badan galon. 

3. Potong badan galon menggunakan cutteer

4. Bentuk lampion agar dapat melengkung.

5. Rapikan

6. Hias lampion sesuai warna yang diinginkan.

7. Masukkan lampu LED ke dalam galon.

8. Pasang gantungan sesuai dengan yang ingin di pasang.

 

Hasil Akhir

Lampion siap digantung di teras rumah, taman, ruang kelas, atau digunakan sebagai dekorasi pada acara tertentu.

 

PENJUALAN

Saya menjualkan produk lampion ini melalui sosial media yaitu instagram, dengan mengaplud postingan sekaligus story instagram agar dapat dilihat dan dibeli oleh banyak orang.

Link postingan penjualan : https://www.instagram.com/p/DaqM7oLk8TQImUYjjCq3zoaePtXRIboRBnY0sU0/?igsh=dm9vMndyOWdiYXA3

Foto postingan