Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Minggu, 19 April 2026

Essai 1- Meringkas Jurnal Pengelolaan Sampah

 

RESUME JURNAL dengan JUDUL:

FAKTOR PENGHAMBAT NIAT DAN PERILAKU DALAM KEGIATAN BANK SAMPAH

Studi Kasus di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta

KUS WITA WARDANI
25310430002
Psikologi Lingkungan/ Kelas: Karyawan (B)
Tugas Essai 1 – Meringkas Jurnal Sampah
Dosen Pengampu   : Dr. Arundati Shinta M.A.

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA

Topik:

Bank Sampah, perilaku, Structural Equation Modelling.

Sumber:

Reni Dwi Astuti, Ganjar Brian Prakoso, Wandhasari Sekar Jatiningrum. Volume 10 No 1 Februari 2023, Jumlah halaman: 13 halaman. JISI: Jurnal Intergritas Sistem Industri.

Doi: file:///E:/Users/Administrator/Downloads/12901-Article%20Text-43212-1-10-20230306.pdf

Permasalahan:

Masih rendahnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah dan minimnya partisipasi aktif di Bank Sampah. Program Bank Sampah yang merupakan program/upaya pemerintah untuk mengurangi volume sampah yang dibuang di Tempat Pembuangan Akhir dinilai kurang optimal dalam menyelesaikan masalah sampah, khususnya di Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta yang merupakan salah satu daerah yang memiliki volume sampah yang cukup tinggi.

Tujuan Penelitian:

Mengetahui pengaruh faktor sikap, ketidaktahuan, situasional nasabah, dan situasional Bank Sampah dalam menghambat niat dan perilaku masyarakat untuk ikut dalam kegiatan Bank Sampah.

Isi:

§ Program Bank Sampah adalah salah satu upaya pemerintah dalam hal penanganan dan pengurangan sampah yang berbasis masyarakat. Pengelolaan sampah berbasis masyarakat adalah pelibatan masyarakat secara aktif dalam hal pengelolaan sampah, dari mulai perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, hingga evaluasi (Undang-Undang Republik Indonesia No 18 Tahun 2008, 2008). Dalam pelaksanaannya, kebijakan pengelolaan sampah melalui Bank Sampah ini masih belom mampu menyelesaikan masalah sampah, hal ini terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan (dalam artian masih rendahnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah).Berdasarkan Data Bank Sampah dan Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) yang dikeluarkan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman tahun 2020, total timbulan sampah di Kecamatan Depok mencapai 78,84 ton/hari dan Kecamatan Ngaglik mencapai 62,67 ton/hari. Kedua wilayah tersebut merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi diantara 17 kecamatan yang ada, yang diikuti dengan total timbulan sampah tertinggi juga.

Metode:

§ Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Sructural Equation Modelling (SEM) dengan bantuan software AMOS 22.00 Penelitian ini menggunakan variabel niat, sikap, ketidaktahuan, situasional nasabah, situasional Bank Sampah, dan perilaku dengan metode angket/ kuesioner sebanyak 268 yang disebarkan terhadap masyarakat yang ada di Kecamatan Depok dan Ngaglik.

§ Teknik Sampling, adapun teknik sampling yang digunakan yaitu non probability sampling dengan teknik purposive sampling dan Teknik wawancara.

Hasil: 

§ Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh besarnya koefisien regresi sikap terhadap niat, sebesar -0,526 dengan tingkat signifikansi 0,000. Hal ini menunjukan bahwa arah hubungan sikap terhadap niat adalah negatif. Niat masyarakat tidak mempengaruhi perilaku masyarakat dalam keikutsertaan kegiatan Bank Sampah di Kecamatan Depok dan Ngaglik. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan Theory of Planned Behavior, dimana dinyatakan bahwa perilaku seseorang terbentuk dari niat yang muncul di benaknya.

§ Selain itu pengaruh variabel lain seperti ketidaktahuan, variabel situasional nasabah, variabel situasional Bank Sampah tidak terbukti secara simultan menghambat niat warga untuk berpartisipasi di Bank Sampah dengan koefisien determinasi sebesar 0,679.

 Diskusi:

§ Situasional nasabah seperti kurangnya pemahaman pengetahuan, kemalasan dalam memilah sampah, tidak adanya waktu dalam memilah sampah, kurangnya fasilitas penunjang untuk bisa aktif di Bank Sampah perlu ditekan. Oleh karena itu pemerintah, khususnya DLH perlu melakukan penambahan fasilitas serta menunjukkan sejumlah bukti yang menggambarkan manfaat dan dampak positif yang bisa didapatkan melalui Program Bank Sampah.

§ Peran pemerintah sebagai fasilitator belom dapat memberikan pengaruh yang signifikan dalam mendorong masyarakat Depok dan Ngaglik untuk partisipasi aktif dalam Bank Sampah, oleh karena itu, diperlukan penambahan fasilitas penunjang kegiatan Bank Sampah.

§ Penambahan waktu operasional Bank Sampah diharapkan dapat lebih menstimulus/mendorong masyarakat agar lebih aktif  berpartispasi dalam Program Bank Sampah. 



Sabtu, 18 April 2026

ESSAI 1: MERINGKAS JURNAL SAMPAH

 Gerakan Bebas Sampah 2020: Ambisi Baru VS Kebiasaan Lama

Dwi Ayu Fitrianingtyas

24310410225

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 1

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

                                            

                                 

Topik

Pengelolaan Sampah, Perilaku Masyarakat, Gerakan Bebas Sampah 2020, Penelitian Kualitatif


Sumber

Salsabilla, Hutahaya, H. R., Sulhas, S., & Saputra, B (2025). Communitty Behavior in Household Waste Management in Urban Areas. Jurnal Edu Research: Indonesian Institute For Corporate Learning and Studies (IICLS). 6(4), Desember 2025, 829-839.


Permasalahan

Gerakan Bebas Sampah 2020 merupakan inovasi yang dicanangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Sebuah ambisi besar untuk mengurangi sampah dari hulu, namun apakah dapat benar-benar berjalan di masyarakat? Diketahui bahwa di Kecamatan Kuranji, Kota Padang, terdapat 10 unit bank sampah yang beroperasi. Pada tahun 2021, volume sampah anorganik yang dikelola mencapai 36 ton. Namun demikian, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah tersebut tidak sampai 1% dari total penduduknya.


Tujuan penelitian

Mengetahui bagaimana penduduk Kecamatan Kuranji, Kota Padang, mengelola sampah rumah tangga dan faktor apa saja yang mempengaruhinya.


Isi

Menurut laporan dari KLHK, rata-rata penduduk Indonesia menghasilkan 0,8 kg sampah tiap harinya, setara dengan 200 juta kg sampah setiap hari dari total populasi.

Terdapat 1 Tempat Penampungan Sementara (TPS) di setiap kelurahan di Kecamatan Kuranji, Kota Padang, dengan sampah masih tercampur antara sampah organik dan anorganik. Masih ditemukan tumpukan sampah di tepi jalan, sampah yang mencemari sungai dan saluran drainase, serta praktik pembakaran sampah.


Metode

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, yang dilakukan di Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Lokasi utama berada di Kelurahan Penfui, karena merupakan daerah penghasil sampah terbesar di Kota Padang.

Data primer didapatkan dari wawancara langsung kepada masyarakat, serta observasi dan dokumentasi langsung di lapangan. Sedangkan data sekunder didapatkan dari jurnal penelitian yang relevan.


Hasil

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diketahui bahwa mayoritas masyarakat Kecamatan Kuranji masih belum melakukan praktik pengelolaan sampah secara bertanggung jawab. Mayoritas masyarakat masih melakukan praktik pembakaran sampah. Menurut mereka, abu hasil pembakaran khususnya dari sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Beberapa masyarakat masih meletakkan sampah di tepi sungai, lahan kosong, maupun di sekitar perumahan. Namun demikian, sebagian kecil masyarakat sudah mulai membuang sampah ke TPS. Sebagian masyarakat yang lebih kecil lagi, mulai memilah sampah sebelum dibuang.


Diskusi

Perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah ini telah terjadi turun-temurun. Sehingga perilaku tersebut dapat dihubungkan dengan teori pembelajaran sosial. Individu meniru perilaku yang mereka lihat di sekitar mereka. Anak-anak meniru perilaku pengelolaan sampah dari orang tua dan tetangganya, sehingga praktik ini terus berlanjut dan sulit diubah. Selain itu, tingkat kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah juga masih rendah. Hal ini semakin memperkuat perilaku pengelolaan sampah yang tidak bertanggung jawab.

Gerakan Indonesia Bebas Sampah 2020 dan penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang digagas oleh pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) masih belum optimal, khususnya di Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Kerja sama antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan warga setempat sangat diperlukan demi terciptanya ambisi Indonesia Bebas Sampah. Fasilitas pengelolaan sampah dan edukasi juga diharapkan dapat disediakan oleh pemerintah dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat.

Kamis, 16 April 2026

 tes

Selasa, 14 April 2026

ESSAI 1 MERINGKAS JURNAL

 




 


Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 1

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 

Judul Jurnal: “Memberdayakan Rumah Tangga untuk Pengolahan Sampah Berkelanjutan: Studi Kesadaran Masyarakat di Kota Semarang”

oleh Agung Kurniawan Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, dan Ashlikhatul Fuaddah Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto (Volume 7, Issue 2, October 2024

 DOI: http://dx.doi.org/10.30742/jus.v1i2.3494 )

 

Penelitian ini membahas tentang bagaimana pengelolaan sampah di Kota Semarang yang dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi. Semakin banyak jumlah penduduk dan semakin tinggi tingkat konsumsi masyarakat, maka semakin banyak juga sampah yang dihasilkan, baik dari makanan maupun barang-barang lainnya. Namun, peningkatan jumlah sampah ini belum diimbangi dengan sistem pengelolaan yang baik.

Permasalahan utama yang ditemukan adalah rendahnya kesadaran masyarakat, terutama dalam lingkup rumah tangga. Banyak sampah yang belum dipilah dengan baik antara sampah organik dan anorganik, sehingga pengolahannya menjadi tidak maksimal. Hal ini juga berkaitan dengan kebiasaan dan pola konsumsi masyarakat sehari-hari.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan survei yang didukung dengan data kualitatif dan kuantitatif. Data diperoleh melalui data primer seperti kuesioner, survei, dan wawancara langsung dengan masyarakat, serta data sekunder dari berbagai sumber pendukung lainnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan peningkatan jumlah sampah memiliki hubungan yang saling mempengaruhi. Artinya, semakin tinggi aktivitas ekonomi masyarakat, maka semakin besar juga potensi timbunan sampah. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kesadaran masyarakat, khususnya di tingkat rumah tangga, dalam mengelola sampah dengan baik.

Kesimpulannya, Pemerintah Kota Semarang menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah, terutama akibat pertumbuhan ekonomi yang pesat dan jumlah penduduk yang tinggi. Kondisi ini secara langsung meningkatkan volume sampah, khususnya sampah rumah tangga yang berasal dari aktivitas konsumsi sehari-hari. Meskipun pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan, seperti program bank sampah dan penggunaan kantong plastik berbayar, upaya tersebut belum sepenuhnya efektif. Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah, terutama dalam hal pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari rumah. Oleh karena itu, untuk menjaga kelestarian lingkungan, diperlukan peningkatan kesadaran masyarakat melalui edukasi dan pembiasaan dalam memilah sampah, baik organik maupun anorganik. Selain itu, partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk rumah tangga, menjadi kunci utama dalam keberhasilan program pengelolaan sampah berkelanjutan.

 

Dengan demikian, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga sangat ditentukan oleh kepedulian dan keterlibatan masyarakat secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Senin, 13 April 2026

 


MERINGKAS JURNAL

Tugas                    : Esai 1 – Meringkas jurnal ttg pengelolaan sampah

Nama MK            : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Kelas                    : Karyawan (online)

Titik Muti’ah (243010440004)                                  

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 

Topik

Eco-Teens Initiative: Pemberdayaan Remaja Melalui Pelatihan Pengelolaan Limbah Organik Untuk Meningkatkan Kesedaran Lingkungan Berkelanjutan

Sumber

Muzdalifah M. (2025), Jurnal PEDAMAS (Pengabdian Kepada Masyarakat) Volume 3, No. 6, November 2025. Hal 2330-2339

https://pekatpkm.my.id/index.php/JP/article/view/932

Perma- salahan

·   Isu degradasi kualitas lingkungan sebagai akibat akitifitas manusia yang tidak berwawasan lingkungan. Menurunnya kualitas air, udara, dan tanah yang tidak ramah lingkungan, menimbulkan tingginya proporsi limbah organic berkontribusi pada pencemaran dan emisi metana.

·   Remaja memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran lingkungan berkelanjutan sehingga perlu dibekali dengan edukasi dan keterampilan yang relevan.

Tujuan penelitian

Untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kesadaran lingkungan siswa melalui pelatihan dan praktik pengelolaan limbah organik berbasis komposting.

 Isi

·   Sampah organik sisa  makanan menyumbang 41,27 % dari total produksi sampah. Tanpa penanganan akan mengakibatkan pencemaran lingkungan dan memberikan dampak buruk bagi kehidupan manusia.  

·    Di 2024, dilaporan beberapa kota di negara-negara Global South, sampah organic mencapai 70 % dari total sampah perkotaan. Ditinjau dari proses kimiawi hal ini menjadi kontributor utama emisi metana karena proses pembusukannya sangat cepat. Jika di rata-ratakan per kapita setiap penduduk memproduksi 168 kg sampah per tahun.

·      Pengeloalaan limbah organik dikenal salah satu pendekatan yang efektif, sederhana, dan berkelanjutan dengan proses kompos/  komposting. Berkontribusi positif pelestarian lingkungan, mengubah limbah organik menjadi kompos kaya nutrisi, mengatasi krisis limbah global.

Metode

o   Kegiatan pengabdian kepada masyarakat menggunakan pendekatan partisipatif (participatory approach). Subjek penelitian siswa SMPN

o   Program mengadaptasi Engaging Youth in Environmental Change, mengkombinasikan penyampaian materi, diskusi, dan praktik langsung agar partisipasi siswa meningkat secara optimal.

·       Metode wawancara tidak berstruktur dan dokumentasi, dengan tahapan 1) Identifikasi subjek dan Koordinasi dengan Pihak Sekolah 2) Pengumpulan Data Awal 3) Pelatihan, Workshop,  Pendampingan Praktik (pelatihan dan lokakarya pembuatan kompos).

·       Evaluasi Pasca Pelatihan dilakukan survei pengetahuan serta observasi perilaku siswa dalam mengelola limbah organik pasca pelatihan. Analisis deskriptif menggambarkan perubahan pengetahuan, keterampilan, dan tingkat keterlibatan siswa selama program berlangsung.

Hasil

·       Pelibatan Aktif Siswa Pengelolaan Limbah Organik, tingginya partisipasi siswa menunjukkan bahwa pendekatan ini efektif dalam meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepedulian  terhadap isu lingkungan.

·       Peran Mahasiswa Fasilitator dan Penggerak Program, memberikan pengalaman langsung bagi remaja dalam menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis proyek service learning.   

·       Implementasi Praktik Pengomposan di Lingkungan Sekolah,  metode aerobik lubang tanah, dengan bahan utama berupa daun kering, rumput, serta sisa makanan dari kantin. Keberhasilan proses ini dapat diterapkan secara efektif dalam konteks sekolah dan sumber daya terbatas.   

·       Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Siswa, mengenai jenis-jenis limbah organik, manfaat kompos, serta teknik pengolahannya, lebih selektif dalam memilah sampah dan terlibat aktif dalam pengumpulan bahan kompos

·      Dampak Lingkungan dan Keberlanjutan Program, yang dihasilkan digunakan untuk menyuburkan tanaman di halaman sekolah, memberikan manfaat ekologis bagi lingkungan sekolah dan menumbuhkan budaya peduli lingkungan di kalangan siswa dan guru.

Dikusi

Kegiatan ini memberikan solusi sederhana bagi permasalahan penumpukan limbah organik di sekolah, juga menciptakan dampak berkelanjutan melalui terbentuknya kebiasaan baru pengelolaan sampah.