Pengalaman
Membuat Produk Kreatif Gantungan Kunci dari Limbah Potongan Tali Macrame dan
Tutup Botol Bekas
Pingkan
Winahyuningtyas
24310410234
Kelas
Psikologi Lingkungan – B
Tugas
Essai 8
Dosen
Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas
Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Di tengah banyaknya barang bekas
yang sering dianggap sebagai sampah, saya mencoba melihatnya dari sudut pandang
yang berbeda. Menurut saya, barang yang sudah tidak terpakai masih dapat
dimanfaatkan menjadi produk yang menarik dan memiliki nilai ekonomi. Berawal
dari pemikiran tersebut, saya bersama adik membuat gantungan kunci dengan
memanfaatkan sisa potongan tali macrame dan tutup botol plastik bekas.
Ide ini muncul ketika adik saya
menyelesaikan tugas sekolah yang menggunakan tali macrame. Setelah tugas
selesai, masih banyak potongan tali yang tersisa. Di rumah juga terdapat
beberapa tutup botol plastik bekas yang hanya menumpuk. Saya kemudian berpikir
untuk menggabungkan kedua bahan tersebut menjadi sebuah kerajinan tangan yang
unik sekaligus ramah lingkungan. Agar hasilnya lebih menarik, saya membeli
beberapa aksesori tambahan, ring gantungan kunci, dan plastik kemasan sehingga
produk memiliki tampilan yang lebih rapi dan estetik.
Saya membuat kerajinan tersebut
dalam 2 waktu. Kegiatan pertama di mulai pada tanggal 1 Juli 2026 pukul 18.00
WIB dan berlangsung sekitar tiga jam. Sedangkan kegiatan ke 2 pada tanggal 7
Juli 2026 pukul 10.00 WIB dan berlangsung kurang lebih selama 4 jam.
Sebelum memulai, saya menyiapkan
seluruh alat dan bahan seperti sisa tali macrame, tutup botol bekas, baking
paper, setrika, gunting, perforator, sendok, aksesori, ring gantungan kunci,
dan kemasan plastik.
Tahap pertama adalah mengolah
tutup botol bekas. Tutup botol dipotong kecil-kecil, kemudian diletakkan di
antara baking paper dan dipanaskan menggunakan setrika hingga meleleh dan
menyatu. Setelah dingin, lembaran plastik tersebut dipotong menjadi berbagai
bentuk, seperti hati(love), bulan, bintang dan bentuk-bentuk lain sesuai
kreativitas. Selanjutnya, setiap potongan diberi lubang menggunakan perforator
untuk dipasang dengan ring gantungan kunci.
Selama proses produksi, saya
mengalami beberapa hambatan. Pada percobaan pertama, hasil lelehan plastik
kurang rata karena suhu setrika terlalu panas sehingga sebagian plastik gosong,
sedangkan bagian lainnya belum menyatu sempurna. Beberapa potongan juga retak
saat dipotong karena belum benar-benar dingin. Untuk mengatasinya, saya mencoba
beberapa kali hingga menemukan suhu yang sesuai dan menunggu plastik
benar-benar mengeras sebelum dibentuk. Proses ini mengajarkan saya bahwa
menghasilkan sebuah produk memerlukan kesabaran, ketelitian, dan kemauan untuk
terus mencoba meskipun mengalami kegagalan.
Sementara itu, adik saya membantu
membuat berbagai simpul tali macrame. Kami belajar melalui video tutorial di
YouTube, kemudian mencoba memodifikasi desain agar setiap gantungan kunci
memiliki bentuk yang berbeda. Kerja sama ini membuat proses pembuatan menjadi
lebih menyenangkan sekaligus melatih kemampuan kami dalam berkreasi. Setelah
seluruh produk selesai, saya mengemas setiap gantungan kunci menggunakan
plastik kemasan khusus agar tampil lebih menarik.
Langkah berikutnya adalah
mendokumentasikan hasil karya tersebut. Saya melakukan dokumentasi pada tanggal
14 Juli 2026 pukul 17.30 WIB hingga selesai. Foto-foto tersebut saya unggah ke
Story WhatsApp dan feed Instagram sebagai media promosi. Adik saya juga ikut
membantu memasarkan produk kepada teman-teman sekolahnya.
Meskipun belum ada produk yang
terjual, beberapa teman adik menunjukkan ketertarikan dengan bertanya mengenai
harga dan cara pemesanan. Hal tersebut membuat saya menyadari bahwa membangun
minat konsumen membutuhkan waktu. Dalam psikologi konsumen, seseorang biasanya
akan melalui beberapa tahap sebelum memutuskan membeli, yaitu mulai dari
melihat produk, merasa tertarik, mencari informasi, membandingkan dengan produk
lain, hingga akhirnya memutuskan untuk membeli.
Saya juga belajar bahwa tampilan
produk sangat memengaruhi persepsi konsumen. Kemasan yang rapi, foto yang
menarik, dan desain yang unik dapat meningkatkan kesan bahwa produk memiliki
kualitas yang baik. Sebaliknya, apabila foto kurang menarik atau kemasan
terlihat sederhana, calon pembeli cenderung ragu untuk membeli. Pengalaman ini
membuat saya memahami pentingnya membangun kepercayaan konsumen melalui
penyajian produk yang baik.
Dengan memanfaatkan sisa tali
macrame dan tutup botol bekas, saya juga belajar bahwa perilaku peduli
lingkungan dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Barang yang sebelumnya
dianggap sampah ternyata masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki
nilai guna dan nilai ekonomi. Pengalaman ini mengubah cara pandang saya terhadap
limbah serta menumbuhkan kesadaran untuk lebih bijak dalam memanfaatkan barang
bekas.
Melalui kegiatan ini, saya memperoleh banyak pelajaran, mulai dari proses produksi, mengatasi kegagalan, bekerja sama, hingga mencoba memasarkan produk secara sederhana melalui media sosial. Walaupun belum berhasil memperoleh penjualan, pengalaman ini memberikan bekal berharga tentang kreativitas, kewirausahaan, psikologi konsumen, dan kepedulian terhadap lingkungan. Saya berharap ke depannya dapat mengembangkan desain yang lebih menarik, memperluas promosi melalui media sosial, serta menghasilkan produk yang mampu menarik minat lebih banyak konsumen.
Link Promosi Feed Instagram :
https://www.instagram.com/p/Da2rQ5kiVX9/?igsh=b3RhaXptazBhdnAx
























