Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Kamis, 25 Juni 2026

ESSAY 8: MELAKUKAN UPCYCLING SAMPAH ANORGANIK DAN MERINTIS SEBAGAI PENGUSAHA EKONOMI SIRKULER

Nama : Wulan Rahmawati

NIM : 24310410236

Kelas     : B/ Karyawan

Bulan/Tahun Terbit: Juni 2026

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Tugas  : Essay 8 melakukan upcycling sampah anorganik dan merintis sebagai pengusaha ekonomi sirkuler


Langkah Awal Merintis Usaha Ekonomi Sirkuler

Melalui Upcycling Sampah Anorganik

Link IG Promosi Produk Upcycling: https://www.instagram.com/p/DaAyazozqGe/?igsh=MWFmYXg5ajZ3bWk2bA==

Permasalahan akibat sampah anorganik kian marak terjadi di lingkungan sekitar kita karena dianggap sebagai barang yang tidak berguna, sulit terurai dan hanya akan menumpuk di tempat sampah. Berdasar beberapa hal tersebut saya ingin membuat upcycling dari produk sampah anorganik yang biasa ada di rumah kita. Upcycling merupakan proses mengubah sampah atau barang bekas menjadi produk baru yang lebih bernilai dengan mengandalkan kreativitas dan ketekunan kita. Upcycling selain menjadi sarana mengurangi penumpukan sampah yang ada di rumah kita juga dapat digunakan sebagai peluang membuka bisnis dalam ekonomi sirkuler. Ekonomi sirkuler yaitu sistem ekonomi yang memaksimalkan penggunaan kembali sumber daya untuk mengurangi limbah dan memiliki nilai jual.

Agar dapat merintis sebagai pengusaha muda yang bergerak di bidang ekonomi sirkuler saya akan memanfaatkan barang-barang yang ada di dalam rumah. Untuk produk yang akan saya jadikan sebagai produk upcycling yaitu sebuah celengan atau tabungan unik yang bisa kita gunakan sehari-hari. Prosesnya mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja dengan alat dan bahan sederhana. Bahan utama yang digunakan yaitu dari produk sampah anorganik yaitu botol air minum kemasan ukuran besar, kardus bekas dan kertas bekas.

Berikut merupakan proses kreatif yang saya lakukan untuk membuat celengan upcycling:

  1. Menyiapkan Alat dan Bahan: Alat yang saya gunakan yaitu gunting, lem, krayon warna, dan spidol warna. Untuk bahan upcycling saya menggunakan kertas bekas, kardus bekas, dan botol air mineral ukuran besar.

Alat dan bahan yang digunakan

  1. Sentuhan Seni pada Kertas: Sebelum dirakit saya menggambar dan mewarnai kertas bekas ukuran A4 menggunakan krayon dan spidol. Pada proses ini penting untuk memberikan nilai seni dan estetika agar celengan terlihat menarik.

Sentuhan seni dengan memanfaatkan kertas bekas

  1. Menyiapkan pola: Membuat pola pada botol mineral lalu melubangi bagian atasnya. Sisakan hanya bagian badan botol sebagai wadah utama celengan.

Menyiapkan pola

  1. Membuat Alas dan Tutup: Kardus bekas digunting menjadi dua bagian berbentuk bulat. Dua bulatan kardus ini nantinya berfungsi sebagai alas dan tutup celengan agar strukturnya kokoh. Setelah itu menghiasnya dengan dilapisi potongan kertas berbentuk bulat yang sudah dihias sebelumnya.

Membuat alas dan tutup lalu menghiasnya

  1. Perakitan Akhir: Selanjutnya merekatkan badan botol dengan kertas A4 yang sudah diberi gambar dan warna menggunakan lem. Bagian alas dan tutup dari kardus juga direkatkan dengan kuat di ujung botol. Pastikan semua bagian menempel dengan rapi dan tidak lupa membuat lubang untuk memasukkan uang ke dalam celengan.

Saya memulai membuat produk upcycling ini pada tanggal 22 Juni 2026 dan pada prosesnya saya menghadapi beberapa hambatan. Hambatan yang pertama yaitu bahan bekas yang digunakan bentuknya tidak rapi sehingga perlu waktu untuk memotong dan menyesuaikan ukurannya. Hambatan kedua yang saya alami saat menempelkan kertas pada botol dan kardus perlu lem berulang kali agar menempel dengan kuat serta saat proses menggambar dan mewarnai butuh proses ketelitian agar produk terlihat rapi dan estetik. Cara saya mengatasinya yaitu dengan lebih sabar dan berhati-hati baik dalam mengukur ataupun menghiasnya. 

Setelah produk upcycling berupa celengan sudah jadi dan terlihat estetik langkah selanjutnya yang saya lakukan yaitu mempromosikannya. Saya melakukan pemasaran menggunakan media sosial saya yaitu instagram. Saya membuat postingan dengan menampilkan foto dan harga celengan upcycling dan menjelaskan dengan menarik produk tersebut. Saya juga menyertakan pesan edukatif makna dan manfaat upcycling dan ekonomi sirkuler agar menjadi sarana edukasi untuk masyarakat. Untuk produk yang saya pasarkan saat ini belum terjual tetapi saya sudah membagikan link promosinya kepada teman dan keluarga. Respon mereka cukup baik karena melihat tampilan yang menarik dan ide yang kreatif. Harapannya merintis usaha berbasis upcycling memiliki manfaat selain mengurangi sampah yang menumpuk juga bisa membuka peluang usaha ekonomi sirkuler yang memberi dampak positif bagi lingkungan kita.

ESSAY 9: NASABAH BANK SAMPAH

 ESSAY 9: NASABAH BANK SAMPAH

Nama : Wulan Rahmawati

NIM : 24310410236

Kelas   : B/ Karyawan

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Tugas  : Essay 9 Nasabah Bank Sampah

Bulan/Tahun Terbit: Juni 2026

Belajar Bertanggung jawab akan Sampah dengan Menjadi Nasabah Bank Sampah di Bumiku Lestari Sleman

Sampah plastik dan kardus yang seringkali dianggap masalah kini bisa diatasi dengan menjadi nasabah bank sampah sekaligus bisa menjadi sumber ekonomi. Saya mulai belajar mengelola sampah dengan menjadi nasabah bank sampah di daerah jalan Damai Sleman bernama “Bumiku Lestari”. Pelayanan yang dilakukan petugas bank sampah Bumiku Lestari sangatlah interaktif dan ramah. Disana petugas menjelaskan proses dalam menjadi nasabah bank sampah dari mulai pendaftaran hingga laporan hasil tabungan. 

Photo saya saat menurunkan galon dibantu oleh petugas bank sampah

Untuk buku tabungan di bank sampah Bumiku Lestari sistemnya dengan menggunakan digital sehingga kita tidak langsung mendapat buku secara fisik. Semua data tabungan akan tercatat di sistem komputer dan kita akan dikirimkan bukti tabungannya melalui whatsApp. Hal ini bisa menjadi solusi dalam bijak menggunakan kertas dan mengandalkan digital untuk mengurangi sampah.

Bukti buku tabungan pertama dikirim melalui whatsApp
tertulis setoran galon le minerale Rp 3.200

Pengalaman pertama saya menabung di bank sampah pada tanggal 23 juni 2026 sekitar pukul 16.00 dengan membawa delapan galon plastik kosong. Galon plastik termasuk jenis sampah plastik yang punya nilai jual karena bisa didaur ulang menjadi produk baru. Petugas bank sampah menimbang galon saya dan tercatat berat totalnya 8 kilogram untuk 8 galon yang saya bawa. Kemudian dihitung untuk tarif pembelian galon plastik per kilogram sekitar Rp 400, sehingga saya menerima uang sebesar Rp 3.200. Uang yang saya terima langsung tercatat sebagai saldo di buku tabungan bank sampah. Tabungan sampah pertama ini membuat saya sadar bahwa benda yang sebelumnya saya anggap biasa saja ternyata memiliki nilai guna dan memiliki nilai ekonomi.

Proses menimbang kardus dibantu oleh petugas bank sampah

Selanjutnya saya kembali menabung di bank sampah Bumiku Lestari dengan membawa kardus bekas atau duplex pada tanggal 24 juni 2026 jam 15.30 ketika cuaca hujan di daerah Sleman. Pada menabung yang kedua saya membawa kardus dengan berat setelah ditimbang masing-masing 0,1 kg untuk kertas duplex dan tertulis pet kotor di buku tabungan. Untuk uang yang didapat dengan menabung kardus yaitu Rp 190 karena memang belum terlalu banyak kardus yang bisa dibawa. Sehingga jika dijumlahkan total uang yang didapat dalam dua kali menabung yaitu Rp 3.390. Untuk selanjutnya saya akan lebih giat lagi dalam mengumpulkan kardus tidak terpakai yang ada di gudang rumah agar bisa kita tabung di bank sampah.

Bukti menabung kedua di bank sampah berupa duplex dan pet kotor B2C

Setoran hari ini senilai Rp 190 dan total saldo tabungan senilai Rp 3.390

Pada proses menabung di bank sampah saya tidak hanya belajar menimbang ataupun menerima uang saja. Saya belajar dari mulai pemilahan sampah sebelum dibawa, saya diajarkan cara mencuci dan membersihkan galon dan melipat kardus agar rapi ketika dibawa. Petugas dengan ramah memberikan edukasi jenis sampah anorganik apa saja yang bisa dijual di bank sampah dan bernilai jual tinggi. Selanjutnya saya juga diajarkan untuk memilah sampah organik dan anorganik yang ada di rumah sehingga membantu saya dalam mengelola sampah di rumah. 

Secara keseluruhan pengalaman saya menjadi bank sampah bisa membuat saya belajar peduli dan bertanggung jawab dalam mengelola sampah setiap harinya. Sampah yang kita anggap biasa saja ternyata dengan menjadi nasabah bank sampah mempunyai nilai secara ekonomis. Harapannya semua masyarakat bisa mendapat sosialisasi dan bijak dalam mengelola sampah. Perubahan kecil yang bisa kita lakukan akan berdampak besar bagi lingkungan kita.

Rabu, 24 Juni 2026

ESSAI 5 PERTEMUAN KE -2 DI RUMAH DOSEN PENGELOLAAN SAMPAH ANORGANIK


Moch Aziiz Suharyadi

24310410211

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi 

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Berkah di Balik Sampah: Eksperimen Upcycling Kreatif Bersama Ibu Dosen


Minggu pagi itu rasanya beda dari biasanya. Saya dan teman-teman kelas Psikologi Lingkungan kembali berkumpul di rumah Bu Shinta. Kegiatan ini sebenarnya sudah yang kedua kalinya, tapi entah kenapa, kali ini terasa lebih “kena” secara pribadi.

Beberapa hari sebelum itu, jujur saja saya lagi cukup terganggu dengan satu hal yang kelihatannya sepele: sampah. Bukan cuma satu dua, tapi tumpukan sampah anorganik yang seperti tidak ada habisnya botol plastik, kaleng bekas, kain perca. Rasanya ke mana pun saya melihat, selalu ada. Mau dibuang, tapi tahu itu bukan solusi. Mau diolah, tapi bingung harus mulai dari mana. Rasanya sumpek, sampai kadang bikin kepala terasa penuh sendiri.

Akhirnya, kegiatan di rumah Bu Shinta ini seperti jadi jawaban yang saya butuhkan.

Pagi itu, dari jam 9 sampai sekitar setengah 12 siang, halaman belakang rumah beliau berubah jadi tempat belajar yang benar-benar hidup. Suasananya adem, banyak tanaman, dan yang menarik, bukan cuma kami mahasiswa yang ikut, tapi juga ada ibu-ibu yang sudah lebih dulu terbiasa mengelola sampah. Di situ saya ngerasa, ini bukan sekadar kegiatan kuliah, tapi ruang belajar yang nyata.

Kami dibagi jadi dua kelompok. Kelompok saya kebagian menghias piring kaca bekas dan paper bag. Awalnya saya kira bakal ribet, tapi ternyata justru seru. Kami pakai kain batik atau kain bekas lain, ditempel di bagian belakang piring pakai lem, dijemur, lalu dilapisi lagi biar lebih rapi dan kuat. Prosesnya memang butuh sabar, tapi waktu lihat hasilnya piring bekas yang tadinya biasa saja jadi terlihat cantik rasanya puas banget.

Lalu kami juga menghias paper bag dengan cat air. Nah, di bagian ini saya merasa seperti “lepas”. Bebas gambar apa saja, bebas warna apa saja. Tidak ada benar atau salah. Cuma menuangkan apa yang ada di kepala. Ternyata, dari hal sederhana seperti itu saja bisa terasa menyenangkan.

Di sisi lain, teman-teman yang di kelompok kedua membuat gantungan kunci dari tali masker dan benang bekas. Ada yang dianyam rapi, ada yang dibuat menjuntai seperti hiasan. Kelihatannya sederhana, tapi ternyata butuh ketelitian juga. Yang menarik, semua bahan yang dipakai itu awalnya adalah “sampah”.

Tidak berhenti di situ, kami juga sempat mencoba membuat lilin aromaterapi dari sisa lilin lama, lalu dicetak di kaleng bekas. Ada juga yang mengolah plastik tebal jadi wadah cantik, bahkan merangkai parcel dari bahan-bahan bekas. Di situ saya mulai sadar, ternyata kemungkinan dari “sampah” itu jauh lebih banyak dari yang saya bayangkan.

Dari semua proses itu, ada satu hal yang paling terasa: perubahan cara pandang. Yang tadinya saya lihat sebagai sesuatu yang mengganggu, sekarang mulai saya lihat sebagai sesuatu yang bisa diolah. Yang tadinya bikin stres, sekarang justru terasa menantang dan bahkan menyenangkan.

Kalau dipikir-pikir, ini bukan cuma soal daur ulang atau upcycling. Ini soal bagaimana kita memaknai lingkungan di sekitar kita. Dari sudut pandang Psikologi Lingkungan, pengalaman langsung seperti ini ternyata jauh lebih kuat daripada sekadar teori. Kita jadi benar-benar “merasakan”, bukan cuma “mengetahui”.

Yang paling saya ingat adalah perasaan di akhir kegiatan. Ada rasa lega, tenang, dan sedikit bangga. Bukan karena hasilnya sempurna, tapi karena saya akhirnya menemukan cara untuk tidak lagi merasa buntu menghadapi sampah.

Pengalaman ini seperti menyadarkan saya bahwa menjaga lingkungan itu tidak harus dimulai dari hal besar. Cukup dari hal kecil, dari rumah, dari apa yang ada di sekitar kita. Dan yang paling penting, dimulai dari cara kita melihat sesuatu.

Sekarang, setiap kali melihat sampah anorganik, perasaan saya sudah tidak sama lagi. Memang masih banyak, memang masih jadi masalah. Tapi setidaknya, saya tidak lagi merasa tidak berdaya. Karena saya tahu, selalu ada cara untuk mengubahnya asal kita mau mencoba.

Senin, 22 Juni 2026

Essai 9 nasabah bank sampah

Menjadi Nasabah Bank Sampah Mandiri di Rumah: Langkah Nyata Memilah dan Menabung






Tujuan

Esai ini disusun agar kita bisa secara nyata mengelola sampah anorganik rumah tangga secara mandiri. Melalui sistem bank sampah sederhana di lingkungan rumah, kita dapat memahami bahwa sampah yang dipilah dengan baik memiliki nilai ekonomis. Langkah ini juga bertujuan membentuk perilaku yang bertanggung jawab dan lebih menghormati lingkungan hidup.

Ketentuan Pelaksanaan

  • Topik: Menjadi nasabah bank sampah mandiri di rumah.
  • Waktu Kegiatan: April 2026 – Juli 2026 (Menabung minimal 2 kali).
  • Identitas Bank Sampah: Bank Sampah Mandiri "Berkah Rumah", dikelola secara swadaya di area garasi rumah dengan menyalurkan hasil sisa konsumsi ke pemulung langganan setempat.

Laporan Kegiatan Menabung dan Pengelolaan Sampah

Dalam kurun waktu April hingga Juli 2026, saya berinisiatif memisahkan sampah anorganik yang dihasilkan dari aktivitas harian keluarga. Sampah tidak lagi dibuang begitu saja ke tempat pembuangan akhir, melainkan dikelompokkan ke dalam wadah khusus berdasarkan jenisnya. Selama periode ini, saya melakukan dua kali transaksi penyaluran (menabung) dengan rincian sebagai berikut:

1. Tabungan Pertama (Mei 2026)

Pada transaksi pertama, fokus pengumpulan adalah botol plastik bekas air mineral dan kardus sisa paket belanja daring.

  • Jenis & Berat Sampah: Botol air mineral (PET) seberat 3,5 kilogram dan kardus kering seberat 6 kilogram.
  • Uang yang Diperoleh: Botol plastik dihargai Rp3.000 per kilogram dan kardus Rp2.000 per kilogram. Total uang yang diperoleh dari pemulung pada tabungan pertama ini adalah Rp22.500.

2. Tabungan Kedua (Juli 2026)

Pengumpulan kedua dilakukan menjelang akhir periode tugas dengan volume sampah yang sedikit meningkat karena adanya aktivitas renovasi kecil di rumah.

  • Jenis & Berat Sampah: Kardus gelombang tebal seberat 8 kilogram dan campuran botol plastik bersih seberat 4 kilogram.
  • Uang yang Diperoleh: Dengan fluktuasi harga pasar lokal, kardus terjual Rp2.500 per kilogram dan botol plastik Rp3.000 per kilogram. Total pendapatan pada tabungan kedua adalah Rp32.000.

Jika diakumulasikan, total dana yang berhasil dikumpulkan dari dua kali kegiatan menabung ini adalah sebesar Rp54.500.

Melalui program bank sampah mandiri ini, saya menyadari bahwa pengelolaan limbah anorganik di tingkat rumah tangga sangat krusial. Botol mineral dan kardus yang awalnya dianggap sebagai barang habis pakai tanpa nilai, ternyata bisa dikonversi menjadi uang tunai yang bermanfaat.

Lebih dari sekadar keuntungan finansial, kegiatan ini melatih kedisiplinan dalam memilah sampah sejak dari sumbernya. Hubungan kerja sama yang terjalin dengan pemulung lokal juga membantu mempercepat rantai daur ulang di lingkungan sekitar. Menghormati sampah berarti memberikan kesempatan kedua bagi material anorganik agar tidak mencemari bumi.


Lisa Sugiarty_24310410230_essai 9_psikologi lingkungan_kelas karyawan_dosen ibu Arundati Sinta_Psikologi Up45

Minggu, 21 Juni 2026

 


Tugas                    : Esai 9 – MENJADI NASABAH BANK SAMPAH ‘BUMIKU  LESTARI’ DAYU

Nama MK            : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Kelas                    : Karyawan (online)

Titik Muti’ah       (243010440004)                                       

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


 


Pengalaman yang sangat berharga menjadi anggota bank sampah di area jalan Damai Yogyakarta. Selain itu saya juga membawa sampah anorganik saya ke ‘Sodaqoh Sampah di Masjid Ahmad Dahlan di daerah Rejodani, jalan Palagan. Pengalaman menjadi nasabah bank sampah mengubah pandangan saya terhadap limbah, di mana sampah kering bernilai ekonomis. Saya secara rutin memilah sampah dari rumah dan menyetorkannya ke pengurus untuk dicatat menjadi saldo tabungan, yang hasilnya bisa dicairkan dalam bentuk uang tunai, ditukar dengan sembako.

Proses utama dan manfaat yang dirasakan sehari-hari diantaranya Pembersihan & Pemilahan; Sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, koran, dan kaleng harus dipilah dan dibersihkan dari sisa kotoran sebelum disetor agar memiliki nilai jual tinggi. Penimbangan & Pencatatan: Sampah yang dibawa akan ditimbang dan dicatat dalam buku tabungan atau aplikasi digital sesuai dengan jenis dan beratnya. Pencairan; Saldo yang terkumpul bisa ditarik sesuai jadwal yang disepakati (misalnya menjelang hari raya) atau langsung digunakan untuk membayar tagihan rutin. Langkah ini adalah salah satu cara paling nyata dalam mendukung lingkungan sekaligus mendapatkan penghasilan tambahan dari rumah.

Sosialisasi ke masyarakat bahwa sampah itu bisa dikelola atau dipilah dari sumbernya tapi merubah mindset masyarakat memerlukan proses dan waktu. Dalam sosialisasi bagaimana cara menanganan sampah bagaimana kita memperlakukan sampah bagaimana juga kita pasca pengolahan sampah itu kenapa harus dipilah dan gimana caranya, makanya masih banyak kendala Sebenarnya kalau sampah sudah dipilah dari sumbernya itu lebih meringankan dan lebih untuk menghindari masalah. Sampah yang dikumpulkan oleh nasabah bank sampah nantinya akan dijual, dan hasilnya bisa ditabung atau langsung diterima dalam bentuk uang tunai. Adanya bank sampah ini, perekonomian masyarakat akan agak terbantu. Sampah yang biasanya dianggap sebagai masalah, sekarang menjadi sumber penghasilan tambahan,