Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Kamis, 18 Juni 2026

ESSAY 6: EKSPERIMEN ORGANIK DI RUMAH DOSEN

ESSAY 6: EKSPERIMEN ORGANIK DI RUMAH DOSEN 

Nama  : Wulan Rahmawati

NIM    : 24310410236

Kelas   : B

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Tugas  : Essay 6 Eksperimen organik di rumah dosen

 

Pengalaman Berharga Mengelola Sampah Organik di Rumah Dosen

Kegiatan yang saya lakukan kali ini yaitu mengelola sampah organik menjadi sesuatu yang berharga di rumah Ibu Dr. Arundati Shinta, M.A. selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi lingkungan. Kegiatan ini berlangsung pada hari minggu, tanggal 17 Mei 2026 dari pukul 09.00 hingga 11.00 WIB di rumah ibu Shinta daerah Nglanjaran, Sleman. Kuliah yang biasanya hanya teori saja tetapi disini tidak sekedar teori tetapi kita bisa langsung praktik mengelola sampah organik menjadi beberapa macam produk yang bermanfaat.

Pada kegiatan pertama kita diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap sampah kita sendiri. Kami diminta untuk membawa bekal makanan dan mengkonsumsi bekal tersebut yang terdiri dari satu kue dibungkus pisang dan satu lagi yang dibungkus plastik. Setelah makanan habis, selanjutnya yaitu bungkus makanan yaitu daun pisang dan plastik dipisahkan dan dipilah untuk dimasukkan ke bank sampah. Kegiatan ini mengajarkan saya bahwa tindakan kecil seperti memilah sampah dapat membantu mengurangi pencemaran lingkungan.

Kegiatan selanjutnya yaitu membuat kompos dan memanen kompos yang sudah kita buat. Pada proses membuat kompos kita menggunakan sampah organik yang sudah kita bawa sebelumnya yaitu daun pisang dan sampah kebun. Bahan-bahan itu dirajang kecil-kecil lalu dicampur dengan dedak, dolomit, POC, tetes tebu, dan EM4. Campuran itu kemudian dimasukkan ke dalam gentong untuk proses pengomposan. Dari proses membuat kompos saya memahami bahwa sampah organik masih bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna yaitu pupuk kompos untuk tanaman.

Setelah membuat kompos, kegiatan kita berlanjut dengan memanen kompos dimana kompos yang sudah matang kita pindahkan lalu disaring dan dipisahkan antara kompos halus dan kompos kasar. Kompos halus dicampur dengan bubuk kulit telur, abu gosok, dan arang halus, kemudian didiamkan selama dua hari sebelum digunakan. Panen kompos ini mengajarkan saya bahwa pengolahan sampah tidak berhenti pada pembuatan saja tetapi bagaimana kita juga bisa memanfaatkan hasilnya dengan sebaik mungkin.

Proses selanjutnya saya juga belajar membuat eco-enzyme yang dibuat dari gula merah, kulit buah-buahan, dan air dengan perbandingan tertentu. Bahan-bahan itu kita fermentasi selama minimal tiga bulan. Meskipun prosesnya cukup lama tetapi hasilnya sangat bermanfaat karena dapat kita gunakan untuk keperluan yang ramah lingkungan. Setelah membuat eco-enzyme selanjutnya kita bisa panen dan melakukan fermentasi kembali dengan lerak dan sereh untuk menghasilkan cairan yang lebih bermanfaat.

Kegiatan terakhir yang dilakukan yaitu membuat sabun eco-enzyme dari campuran bahan seperti mess, garam industri, EDTA, aminon, gliserin, air, dan eco-enzyme hasil fermentasi kedua. Pada proses mengajarkan saya bahwa bahan-bahan alami dapat diolah menjadi produk rumah tangga yang berguna. Saya merasa kegiatan yang dilakukan di rumah ibu Shinta sangat bermanfaat karena memberikan pelajaran penting dari mulai belajar bertanggung jawab atas sampah sendiri, kemudian mengolah sampah organik hingga bisa menghasilkan produk yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Selanjutnya kegiatan ini mendorong saya untuk lebih bijak dalam menyikapi dan mengelola sampah dan belajar menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.


ESSAY 5: EKSPERIMEN ANORGANIK DI RUMAH DOSEN

ESSAY 5: EKSPERIMEN ANORGANIK DI RUMAH DOSEN 

Nama  : Wulan Rahmawati

NIM : 24310410236

Kelas   : B

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Tugas  : Essay 5 Eksperimen anorganik di rumah dosen


Pengalaman Berharga Mengelola Sampah Anorganik Menjadi Produk Cantik

Kegiatan eksperimen kedua yang saya lakukan di rumah dosen yaitu mengelola sampah anorganik menjadi produk yang berguna. Kegiatan berlangsung pada tanggal 31 mei 2026 di rumah ibu Shinta di Sleman dari pukul pukul 09.00 sampai 11.00 WIB. Disini kita akan belajar bahwa sampah anorganik tidak untuk dibuang tetapi bisa kita manfaatkan menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai seni.

Kegiatan pertama kita diajarkan untuk melatih kreativitas dan diajarkan untuk mengasah seni dengan melukis goodie bag serta tempat aksesoris. Bahan yang kita gunakan dalam melukis ini yaitu dari kertas sampah dupleks. Perlahan kita imajinasikan berbagai hal yang ada dalam benak dan kita tuang dalam lukisan. Kita diajarkan untuk melatih ketelitian, kesabaran dan ide kreatif untuk membuat hasil karya yang cantik. Dari kegiatan ini saya belajar bahwa barang bekas bisa diubah menjadi sesuatu yang indah dan memiliki nilai jual.


Kegiatan kedua yang saya lakukan yaitu membuat gantungan kunci dari bahan yang berasal dari sampah kain dan sebagian lagi menggunakan bahan baru. Gantungan kunci yang dibuat terlihat unik dan berbeda dari gantungan kunci biasanya. Pada proses ini saya belajar bahwa sampah kain dapat diolah menjadi sesuatu yang menarik. Gantungan kunci yang sudah dibuat saya gunakan pada tas kerja dan terlihat sangat cantik. Setelah membuat gantungan kunci pertama terdapat limbah sisa, sehingga kita manfaatkan kembali limbah sisa untuk membuat gantungan kunci yang kedua. Disini saya belajar bahwa sekecil apapun limbah yang dihasilkan masih bisa kita gunakan asal mau berpikir kreatif untuk memanfaatkan bahan yang bisa kita daur ulang.


Selanjutnya pada kegiatan terakhir kita membuat piring cantik dari bahan limbah tekstil. Pada proses ini saya membantu untuk memberikan lem pada bagian piring dan kain bekas kemudian dijemur dibawah sinar matahari. Prosesnya diulang beberapa kali hingga pada akhirnya piring dan kain bekas tersebut menjadi karya yang indah dan unik. Saya belajar bahwa kita bisa menjaga lingkungan dimulai dari hal kecil seperti memanfaatkan kembali barang bekas dan hal ini bisa mengurangi sampah di sekitar kita. Semua eksperimen anorganik dirumah ibu Shinta memberikan saya pengalaman berharga bahwa kreativitas dapat membantu mengurangi limbah sampah dan menghasilkan barang yang berguna dan memiliki nilai.

ESSAY 7: BELAJAR KELOLA SAMPAH DI TPS3R

ESSAY 7: BELAJAR KELOLA SAMPAH DI TPS3R NITIKAN 2

Nama  : Wulan Rahmawati

NIM    : 24310410236

Kelas   : B

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Tugas  : Essay 7 Belajar di TPS3R 

Belajar sistem pengelolaan sampah di TPS3R Nitikan 2

Kegiatan belajar mengenal pengelolaan sampah saya lakukan pada tanggal 18 Mei 2026 di TPS3R Nitikan 2 kota Yogyakarta. Saya didampingi oleh narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang menjadi mandor sekaligus yang memberikan pengarahan terkait pengelolaan sampah di TPS ini. Kegiatan berlangsung kurang lebih satu jam dari pukul 16.30 hingga 17.30. Selanjutnya sesi saya bagi menjadi dua yaitu pertama terdapat wawancara singkat dengan mandor pengelola dari DLH kemudian saya lanjutkan dengan observasi secara langsung di TPS3R, dimana pada waktu saya berkunjung kegiatan pengelolaan sampah sedang berlangsung di lokasi, jadi saya bisa mengamati dengan baik setiap prosesnya.

Berdasar hasil wawancara didapatkan beberapa informasi dimana TPS3R Nitikan 2 didirikan pemerintah kota Yogyakarta sebagai tempat pengelolaan sampah yang ada di Yogyakarta dan lembaga yang mengelola adalah langsung dari DLH. Pengelolaan sampah yang ada di TPS3R Nitikan ini dimulai dari pengumpulan, pemilahan dan terakhir ada pengolahan sampahnya itu sendiri. Pada proses ini masyarakat sekitar juga memiliki peran andil dalam memilah sampah sebelum masuk ke TPS meskipun belum semua masyarakat sadar untuk memilah sampah.

Pada proses pengumpulan sampah narasumber memberikan informasi bahwa pertama yang dilakukan yaitu mengambil sampah dari masyarakat dari rumah ke rumah lalu dibawa ke TPS dengan menggunakan gerobak sampah. Selanjutnya setelah sampai di TPS3R Nitikan 2 dilakukan penimbangan berat sampah kemudian sampah dimasukkan ke mesin conveyor untuk dipilah dan masuk ke mesin gibrig untuk menjadi sampah organik dan anorganik. Setelah terpisah, sampah organik akan diolah menjadi pupuk, sedangkan untuk sampah anorganik masuk ke mesin RDF dan dibawa ke Cilacap untuk dijadikan bahan bakar sebuah pabrik.

Banyak pembelajaran yang didapat setelah melakukan observasi secara langsung tentang proses pengelolaan sampah yang ada di TPS3R Nitikan 2 dari mulai proses pengumpulan, pemilahan sampai pengolahan sampah. Semua proses berjalan secara terstruktur dan efektif karena dibantu sarana dan prasarana yang memadai. Keberhasilan peranan dalam pengelolaan sampah di TPS3R Nitikan 2 tidak lepas juga dari dukungan warga sekitar yang ikut membantu dalam proses awal yaitu memilah sampah organik dan anorganik sebelum dibawa ke TPS3R meskipun belum semua warga melakukannya. Kita semua tahu bahwa pengelolaan sampah adalah tanggung jawab kita bersama sehingga peran masyarakat juga diperlukan agar lebih peduli terhadap lingkungan.

Selasa, 16 Juni 2026

ESAI 10: PARTISIPASI LOMBA

 PARTISIPASI LOMBA SEBAGAI LANGKAH PENGUATAN MOTIVASI INTERNAL (MENGIKUTI LOMBA LARI DAN LOMBA MENULIS PUISI)

Reni Prabandari
24310410221
Kelas Psikologi Lingkungan-B
Tugas Esai 10 (Partisipasi Lomba)
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Partisipasi dalam suatu lomba sering kali dipandang hanya sebagai ajang untuk meraih juara atau penghargaan. Namun, di balik itu semua keterlibatan dalam berbagai kompetisi sebenarnya memiliki peran yang jauh lebih dalam, yaitu sebagai sarana untuk menguatkan motivasi internal seseorang. Motivasi internal atau motivasi intrinsik adalah dorongan yang berasal dari dalam diri individu untuk melakukan sesuatu karena merasa tertarik, puas atau ingin berkembang, bukan karena tekanan atau iming-iming hadiah semata.

Ketika seseorang mengikuti lomba, Ia akan dihadapkan pada proses persiapan yang menuntut kedisiplinan, konsistensi dan kerja keras. Proses ini secara tidak langsung mendorong individu untuk mengenali kemampuan dirinya sendiri, termasuk kelebihan dan kekurangan yang dimiliki.

Saya pun juga ingin lebih mengenali kemampuan diri Saya dengan mengikuti berbagai jenis lomba. Dari kecil kebetulan saya hobby lari dan menulis. Oleh karena itu, Saya memutuskan mengikuti event lari dan juga lomba menulis.

1. Mengikuti Event Lari Tidar Borobudur 10 K

Saya sudah sering mengikuti beberapa event lari sebelumnya dan kali ini Saya mengikuti event lari di daerah tempat tinggal Saya di Magelang. Event lari itu bertajuk Tidar Borobudur 10 K yang diselenggarakan pada hari Minggu, 24 Mei 2026 mulai start pukul 05.30 WIB dengan lokasi start dan finish di alun-alun Kota Magelang dengan rute lari mengelilingi Kota Magelang. Alhamdulillah, Saya bisa finish sehat dengan waktu 1 jam 10 menit.

Dengan mengikuti event lari, mengajarkan Saya untuk bisa lebih mengenali kemampuan diri Saya. Bisa lebih melatih ketahanan fisik dan juga mental. Bisa juga untuk mengurasi stres dan menambah relasi atau pengalaman. Yang paling penting adalah membiasakan diri hidup sehat.

  

 


2. Mengikuti Lomba Menulis Puisi Secara Online

Dulu waktu masih sekolah, Saya beberapa kali ikut lomba menulis cerpen dan juga puisi karena dengan menulis Saya bisa menuangkan ide-ide di dalam kepala dalam bentuk tulisan. Mengikuti lomba menulis puisi bukan hanya tentang mencari kemenangan, tetapi juga menjadi sarana penting untuk mengembangkan diri. Kegiatan ini memberikan banyak manfaat, baik dalam hal kemampuan bahasa, emosi maupun kepribadian.

Menulis puisi bisa lebih mengasah kemampuan berbahasa, meningkatkan kreativitas, melatih ekspresi emosi dan meningkatkan kepercayaan diri.

Saya memutuskan mengikuti lomba menulis puisi secara online yang diselenggarakan oleh ruangcintakarya. Lomba ini bertajuk lomba cipta puisi dan cerpen tingkat nasional 2026 dengan tema lomba tentang rindu yang tak pernah usai.





Partisipasi dalam lomba bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang perjalanan membangun diri. Melalui proses latihan, pengalaman dan refleksi, individu dapat memperkuat motivasi internal yang menjadi dasar penting dalam mencapai kesuksesan jangka panjang. Oleh karena itu, mengikuti lomba seharusnya dipandang sebagai sarana pembelajaran dan pengembangan diri, bukan semata-mata ajang untuk memperoleh kemenangan.


Daftar Pustaka:

Santrock, J.W. (2018). Educational Psychology. New York: McGraw-Hill Education.

Sardiman A. M. (2016). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.





ESAI 6: EKSPERIMEN TENTANG SAMPAH

 EKSPERIMEN TENTANG SAMPAH (MEMBUAT KOMPOS DAN ECO ENZYM)

Reni Prabandari
24310410221
Kelas Psikologi Lingkungan-B
Tugas Esai 6 (Eksperimen tentang Sampah)
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Sampah organik dari rumah tangga seperti sisa sayuran, buah-buahan dan daun kering sering kali dibuang begitu saja. Padahal sampah tersebut dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat seperti kompos dan eco enzym. Melalui eksperimen tentang sampah organik yang Saya lakukan, akan dapat mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menghasilkan produk yang berguna.

Saat dilaksanakannya eksperimen tentang sampah di rumah Dosen, Saya tidak bisa hadir dan Saya melakukan eksperimen sendiri di rumah dibantu oleh keluarga. Eksperimen tersebut adalah:

1. Membuat Kompos

Kompos adalah hasil penguraian bahan-bahan organik melalui proses alami yang melibatkan mikroorganisme. Pembuatan kompos merupakan salah satu cara sederhana dan ramah lingkungan untuk mengurangi jumlah sampah rumah tangga. Selain itu, kompos juga memiliki manfaat besar bagi kesuburan tanah karena mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman.

Proses pembuatan kompos dapat dilakukan dengan mudah menggunakan bahan-bahan yang tersedia di rumah. Dalam kesempatan ini Saya mencoba membuat kompos dari daun pisang dirajang kecil-kecil. Rajangan daun pisang kemudian diletakkan di ember. Rajangan daun pisang dicampur dengan dedak, kapur tani, POC, rajangan daun sirih, bubuk kayu, rajangan sampah kebun, tetes tebu dan EM4. Kemudian dicampur sampai rata. Kita siapkan wadah (gentong) bersih dan campuran tersebut dimasukkan ke dalam ember.




2. Membuat Eco Enzym

Salah satu cara mengurangi sampah organik adalah dengan mengolahnya menjadi eco enzym. Eco enzym adalah cairan alami yang dihasikan dari proses fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran, gula merah dan air matang dalam jangka waktu tertentu, biasanya sekitar tiga bulan. Cairan ini mengandung berbagai senyawa hasil fermentasi yang bermanfaat bagi lingkungan.

Eco enzym dapat digunakan sebagai pembersih alami, pupuk cair untuk tanaman, penghilang bau serta membantu mengurangi jumlah sampah organik rumah tangga.

Langkah-langkah membuat eco enzym adalah: siapkan 90 gram gula merah+270 gram kulit buah (jeruk)+900 gram air matang (450 gram air+450 gram air) dengan perbandingan 1:3:10. Gula merah ditimbang, dirajang, direbus dengan 450 gram air. Masukkan ke jerigen yang sudah bersih. Rajang kulit buah, timbang dan masukkan ke jerigen dengan torong khusus. Masukkan sisa air 450 gram ke jerigen. Siapkan 1 botol plastik yang sudah ada selang kecil. Isi botol tersebut dengan air mentah. 1 jerigen kecil diisi dengan 2 porsi, sedangkan jerigen besar 4 porsi. Fermentasi minimal 3 bulan.



Pengolahan sampah melalui pembuatan kompos dan eco enzym merupakan cara yang efektif untuk mengurangi jumlah sampah organik yang dibuang ke lingkungan. Melalui proses ini, limbah organik seperti sisa sayuran dan kulit buah dapat diubah menjadi produk yang bermanfaat, yaitu kompos sebagai pupuk alami dan eco enzym sebagai cairan serbaguna yang ramah lingkungan. Selain membantu menjaga kebersihan lingkungan, kegiatan ini juga meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik. Dengan demikian, pemanfaatkan sampah organik menjadi kompos dan eco enzym dapat mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih, sehat dan berkelanjutan.