Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Senin, 11 Mei 2026

ESSAI VII - BELAJAR DI TPST



KUS WITA WARDANI

25310430002
Psikologi Lingkungan/ Kelas Karyawan (B)
Tugas: Essai 7 – BELAJAR DI TPST
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.
Bulan/ tahun terbit: Mei/ 2026
 
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45
YOGYAKARTA


HARI/TANGGAL PELAKSANAAN KEGIATAN     : Sabtu/ 02 Mei 2026
TEMPAT PELAKSANAAN                                        : TPST 3 RANDU ALAS
LOKASI                                                                       : Candi Karang RW 09, Sardonoharjo, Ngaglik,
                                                                                      Sleman, Yogyakarta 55581

TUJUAN KEGIATAN:

Kegiatan ini bertujuan agar bisa secara nyata belajar mengenai aktivitas pengolahan sampah secara langsung di masyarakat.


 PENDAHULUAN 

Sampah selalu menjadi topik bahasan yang tidak pernah habis, dan sampai sekarang permasalahan sampah belom dapat diselesaikan secara optimal. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi volume sampah, seperti pembuatan regulasi mengenai sampah (UU No 18 Tahun 2008), Bank Sampah, dan masih banyak lainnya, tetapi itu juga belom dirasa maximal untuk menyelesaikan permasalahan sampah. Oleh karena itu, masalah sampah diperlukan kerjasama dan hubungan yang bersinergi antara pemerintah dan masyarakat.

Upaya pengurangan sampah dari sumber merupakan langkah yang penting untuk pengelolaan sampah, dan dapat mengurangi volume sampah di tempat pembuangan akhir setiap harinya. Pengurangan sampah dari sumbernya dapat dilakukan dengan pengurangan sumber sampah, perluasan cakupan daur ulang, serta peningkatan pemanfaatan kembali barang bekas, atau yang disebut sebagai prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle."

 

PEMBAHASAN

 

§  TPST 3 Randu Alas yang bertempat di Candikarang, Sleman, Yogyakarta adalah salah satu dari sekian banyak TPST yang tersebar di Daerah Istimewa Yogyakarta yang menerapkan konsep 3R dengan pendekatan berbasis masyarakat.

§  Pengelolaan TPST 3 Randu Alas melakukan kegiatan operasionalnya secara mandiri, mulai dari manajemen, pengangkutan hingga pengolahan sampah. Proses pengelolaan sampah di TPST 3 Randu Alas dimulai dengan pemisahan sampah sesuai dengan jenisnya (sampah organik, sampah anorganik, sampah residu dan bahan berbahaya, beracun/ B3). Selain memberikan dampak posistif terhadap lingkungam, TPST 3R Randu Alas juga memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitarnya.

§  Proses pengolahan sampah di TPST 3 Randu Alas adalah sebagai berikut:

sampah organik seperti sisa makanan akan diubah menjadi kompos (eco enzym) dan Pupuk Organik Cair (POC) yang terbuat dari bahan baku buah-buahan busuk, bahan anorganik dikirim/ ke pabrik semen (sebagai alternatif bahan bakar atau sebagai bahan tambahan pembuatan semen), sampah residu yang sudah tidak dapat dipakai (kurang lebih dari 30% dari total keseluruhan sampah) akan dimusnahkan dengan cara dibakar. Sementara sampah B3 sendiri ditempatkan dalam wadah tersendiri.

§  Permasalahan yang dihadapi di TPST 3 Randu Alas cukup kompleks, dari mulai manajemen yang berkaitan dengan pelanggan (masyarakat) yang dinilai masih kurang efektif seperti minimnya tindakan pemilahan sampah sesuai dengan jenisnya dari rumah sehingga terjadi penumpukan sampah di TPST. Permasalahan lainnya adalah masalah produksi, manajemen pemilihanan sampah dari rumah yang dirasa belom efektif dari masyarakat membuat proses pengolahan sampah menjadi cukup menyulitkan untuk masuk ke proses selanjutnya, selain itu kebutuhan sarana dan prasarana, serta teknologi/ mesin yang belum maximal untuk membantu pengolahan sampah di TPST. Permasalahan selanjutnya adalah pembakaran sampah residu yang dilakukan di TPST 3 Randu Alas, pembakaran sampah tersebut memang cukup efektif untuk mengurangi sampah residu di TPST tersebut, tetapi memberikan efek samping seperti pencemaran udara bagi lingkungan sekitar. Masalah pencemaran udara yang dihasilkan dari TPST 3 Randu Alas ini masih dalam proses kajian dalam penyelesainnya. Selain masalah manajemen pelanggan (masyarakat) dan masalah produksi, dan pencemaran/ polusi udara, masalah lainnya adalah masalah regenerasi SDM/ karyawan yang masih sangat terkendala dalam menentukan pola rekrutmen yang tepat.

 

 KESIMPULAN DAN SARAN

Konsep utama dari TPST 3R secara garis besar adalah program yang berbasis masyarakat. TPS 3R berfungsi sebagai pusat pengolahan sampah tingkat kawasan yang mencakup kegiatan pengumpulan, pemilahan, serta pemanfaatan kembali material. Fokus utamanya adalah mengurangi volume dan mengolah sampah agar nilai ekonominya terjaga, sehingga sampah residu yang dikirim ke TPA menjadi sangat minim.  Khususnya pada TPST 3 Randu Alas, langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengoptimalisasi pelaksanaan pengolahan sampah tersebut antara lain meningkatkan efektifitas menejemen perilaku masyarakat diperlukan program edukasi ke masyarakat sekitar mengenai konsep 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle), selain itu dibutuhkan inovasi teknologi dan pelatihan-pelatihan tambahan kepada para karyawan yang diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi dan mengurangi permasalahan-permasalahan yang dihadapi di TPST 3 Randu Alas tersebut.  Oleh karena itu pengoptimalisasian pelaksanaan pengelolaan sampah diperlukan kerjasama dari berbagai pihak, selain dari masyarakat sekitar, dibutuhkan kerjasama dari  berbagai pihak lainnya baik pihak swasta maupun pemerintah daerah.



              Keterangan foto: pengamatan/proses pembelajaran langsung ke TPST 3 Randu Alas                             
              

Keterangan foto: pemaparan TPST 3 Randu Alas






Minggu, 10 Mei 2026

ESSAI VII-BELAJAR DI TPST

 Mengenal pengolahan Sampah di TPST Randu Alas

Kinanthi Kembang Asmoro

24310410224

Kelas Psikologi Lingkungan B

Tugas Essai VII

Dosen pengampu Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta



Sampah merupakan masalah yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Masih banyak orang yang membuang sampah sembarangan tanpa memikirkan dampaknya bagi lingkungan. Akibatnya, lingkungan menjadi kotor, muncul bau tidak sedap, dan bahkan bisa menyebabkan banjir. Karena itu, saya merasa senang saat mendapat kesempatan untuk belajar langsung tentang pengelolaan sampah di TPST Randu Alas. Dari kegiatan tersebut, saya mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan baru tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Saat pertama kali datang ke TPST Randu Alas, saya melihat banyak sampah yang sudah dipisahkan berdasarkan jenisnya. Sampah organik seperti daun kering, sisa makanan, dan kulit buah dipisahkan dari sampah anorganik seperti plastik dan botol. Setelah saya mengelilingi dan melihat pekerja di TPST Randu Alas saya jadi tahu kalau pemilahan sampah sangat penting supaya proses pengolahan menjadi lebih mudah. Saya juga baru sadar bahwa sampah yang biasanya dianggap tidak berguna ternyata masih bisa dimanfaatkan kembali.

Di TPST Randu Alas, saya belajar bagaimana sampah organik diolah menjadi kompos. Prosesnya dimulai dari mengumpulkan sampah organik lalu memotongnya menjadi bagian kecil agar lebih cepat terurai. Setelah itu, sampah dicampur dan didiamkan selama beberapa minggu sampai berubah menjadi pupuk kompos. Menurut saya, proses ini sangat menarik karena sampah yang awalnya hanya dibuang ternyata bisa berubah menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk tanaman.

Selain belajar tentang kompos, saya juga belajar bahwa menjaga lingkungan sebenarnya bisa dimulai dari hal kecil. Contohnya seperti membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah organik serta anorganik di rumah. Kebiasaan sederhana seperti itu ternyata bisa membantu mengurangi jumlah sampah yang menumpuk di lingkungan. Dari kegiatan ini, saya jadi lebih sadar bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan, tetapi tanggung jawab semua orang.

Kunjungan ke TPST Randu Alas juga membuat saya lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Sebelumnya, saya sering menganggap sampah rumah tangga sebagai hal biasa yang langsung dibuang begitu saja. Namun setelah belajar di sana, saya memahami bahwa sampah masih memiliki manfaat jika diolah dengan benar. Sampah organik bisa dijadikan kompos, sedangkan sampah plastik dapat didaur ulang menjadi barang yang berguna.

Menurut saya, kegiatan belajar langsung seperti ini sangat penting untuk anak muda karena bisa menambah kesadaran tentang lingkungan. Belajar langsung di lapangan membuat saya lebih paham dibanding hanya membaca teori di kelas. Saya juga merasa termotivasi untuk mulai menerapkan kebiasaan baik dalam mengelola sampah di rumah.

Melalui kegiatan belajar di TPST Randu Alas, saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Saya belajar bahwa pengelolaan sampah membutuhkan kerja sama dan kesadaran dari masyarakat. Jika semua orang mulai peduli terhadap sampah dan menjaga kebersihan lingkungan, maka lingkungan akan menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman untuk semua orang. Saya berharap ilmu yang saya dapatkan dari kegiatan ini bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi kebiasaan baik di masa depan.

Essai 1 Meringkas Jurnal

 

Sampah di Indonesia : Tantangan dan Solusi Menuju Perubahan Positif

Bintar Tri Atmaji

25310430003

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 1

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

 

Topik :

Pengelolaan sampah di lingkungan menjadi permasalahan yang semakin mendesak seiring dengan pertumbuhan populasi dan urbanisasi yang cepat di Indonesia. Untuk mengatasi tantangan tentang sampah diperlukan strategi komprehensif yang melibatkan semua unsur antara masyarakat dan stakeholder yang terkait untuk mencapai pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan pelestarian lingkungan bagi generasi mendatang.

Sumber Jurnal :

Innovative : Journal Of Social Science Research

Volume 4 Nomor 4 Tahun 2024 Page 12235-12247

Website : https://j-innovative.org/ondex.php/innovative

Leny Julia Lingga1, Melta Yuana2, Nisa Aulia Sari3, Hanifa Nur Syahida4, Cristin Sitorus5 Shahron6

Universitas Islam Riau

 

Permasalahan :

Jurnal ini membahas tentang jenis sampah dan sumber sampah, dampak lingkungan dan kesehatan yang ditimbulkan oleh sampah, tantangan dalam pengelolaan sampah, upaya dan solusi pengelolaan sampah.

 

Tujuan penelitian :

Penelitian ini bertujuan untuk dapat memberikan kontribusi dalam mendalami tantangan kritis yang dihadapi dalam pengelolaan sampah di Indonesia serta menyediakan wawasan bagi pengembangan solusi yang lebih efektif dan berkelanjutan.

 

Isi :

Dalam jurnal ini menjelaskan bahwa kurangnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah juga merupakan tantangan signifikan. Banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya memilah sampah dan membuang sampah pada tempatnya. Kebiasaan membuang sampah sembarangan masih sangat umum, baik di perkotaan maupun pedesaan. Rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam program-program pengelolaan sampah seperti bank sampah dan program daur ulang menunjukkan bahwa edukasi dan sosialisasi mengenai pengelolaan sampah masih belum optimal.

Selain itu penelitian ini menemukan tantangan lain yang tidak kalah penting adalah kebijakan dan regulasi yang belum optimal. Meskipun pemerintah telah mengeluarkan berbagai regulasi terkait pengelolaan sampah, implementasi di lapangan sering kali terkendala oleh berbagai faktor. Salah satu faktor utama adalah kurangnya koordinasi antar instansi pemerintah yang bertanggung jawab atas pengelolaan sampah.

 

Metode :

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur yang mendalam, dengan fokus pada perspektif pengelolaan sampah berkelanjutan di Indonesia. Studi literatur ini dilakukan dengan melakukan pencarian dan pengumpulan data dari berbagai sumber yang meliputi buku, jurnal ilmiah, laporan pemerintah, artikel, dan situs web yang membahas tantangan dan solusi dalam pengelolaan sampah di negara ini.

 

Hasil :

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah akan berdampak langsung pada kualitas lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat. Dengan memprioritaskan pengurangan, pemilahan, dan pengelolaan sampah yang efisien, kita dapat mengurangi pencemaran lingkungan, mencegah kerusakan ekosistem, serta meningkatkan kualitas udara dan air. Rekomendasi yang dapat diberikan termasuk peningkatan investasi dalam infrastruktur pengelolaan sampah, pengembangan program edukasi yang lebih luas tentang pengelolaan sampah yang baik, serta penguatan koordinasi antarstakeholder untuk implementasi kebijakan yang lebih efektif.

 

Diskusi :

Perlu ke depan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, LSM untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang sampah terhadap lingkungan dan kesehatan. Mungkin dengan sosialisasi tingkat RT, RW atau dengan mengadakan kerja bakti.  Ajarkan kepada masyarakat tentang jenis sampah, konsep 3 R, Bank Sampah, pembuatan sampah menjadi kompos.

 

Kesimpulan :

Partisipasi aktif masyarakat, didukung oleh edukasi yang efektif dan insentif seperti program bank sampah, juga menjadi faktor penting dalam mengubah perilaku terkait sampah. Kolaborasi yang erat antara pemerintah, sektor swasta, masyarakat, dan akademisi dibutuhkan untuk menyusun kebijakan dan regulasi yang efektif serta menerapkan teknologi yang ramah lingkungan.


ESAI 7: BELAJAR DI TPST

 BELAJAR DI TPST JURANGOMBO SELATAN KOTA MAGELANG

Reni Prabandari
24310410221
Kelas Psikologi Lingkungan-B
Tugas Esai 7
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta



Pada hari Minggu tanggal 10 Mei 2026, Saya melakukan kunjungan ke TPST Jurangombo Selatan. Kunjungan ini bertujuan untuk menambah wawasan mengenai pengelolaan sampah serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Melalui kegiatan ini, Saya memperoleh banyak pengalaman dan pengetahuan baru tentang bagaimana sampah diolah agar tidak mencemari lingkungan.

Sesampainya di lokasi TPST, Saya disambut oleh petugas yang menjelaskan proses pengelolaan sampah dari awal hingga akhir. Sampah yang masuk terlebih dahulu dipilah berdasarkan jenisnya, yaitu sampah organik dan anorganik. Sampah organik seperti sisa makanan dan daun kering diolah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi tanaman. Sedangkan sampah anorganik seperti plastik, botol, dan kardus dipisahkan untuk didaur ulang atau dijual kembali. Dari proses tersebut, saya menyadari bahwa sampah sebenarnya masih memiliki nilai guna apabila dikelola dengan baik.

Selama kunjungan, Saya juga melihat kondisi lingkungan di sekitar TPST yang cukup tertata dan bersih. Petugas bekerja dengan penuh tanggung jawab dalam mengelola sampah setiap harinya. Mereka menjelaskan bahwa keberadaan TPST sangat membantu mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir. Selain itu, masyarakat juga diajak untuk membiasakan memilah sampah dari rumah agar proses pengolahan menjadi lebih mudah dan efektif.

Kunjungan ke TPST Jurangombo Selatan memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Saya menjadi lebih memahami dampak buruk sampah apabila dibuang sembarangan, seperti pencemaran lingkungan, banjir, dan gangguan kesehatan. Saya juga semakin sadar bahwa menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya tugas petugas kebersihan, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat.

Melalui kegiatan ini, saya termotivasi untuk menerapkan kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari, seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan memilah sampah organik maupun anorganik. Saya berharap keberadaan TPST Jurangombo Selatan dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi contoh pengelolaan sampah yang baik demi terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman.








Psikologi Lingkungan – Essai 3: Melakukan Kegiatan Before After

 Menantang Terik Matahari Awal Kemarau: 
Ketika Pantai Indah Bertemu Jejak Hidup Manusia

      Dwi Ayu Fitrianingtyas
NIM: 24310410225
Kelas Psikologi Lingkungan – B
Tugas Essai 3 (Melakukan Kegiatan Before-After)
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

 

Pantai merupakan destinasi wisata alam yang perlu kita jaga kebersihannya. Namun masih banyak pantai yang nampak kumuh akibat sampah yang dibawa oleh wisatawan maupun sampah yang terbawa oleh ombak. Untuk itu, saya melakukan kegiatan pembersihan pantai, meskipun pada kenyataannya untuk menjaga kebersihannya diperlukan kesadaran dari semua pihak.

Saya memilih melakukan pembersihan di pantai karena pantai merupakan salah satu destinasi wisata favorit saya. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengurangi sampah di area pantai sekaligus secara tidak langsung mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap sampah yang mereka hasilkan.

Kegiatan ini saya lakukan dengan memungut dan memilah sampah organik dan anorganik menggunakan kantong plastik besar. Kegiatan pertama dilakukan di pantai Klathak, Tulungagung, pada tanggal 26 April 2026 pukul 09.30 – 10.30. Kegiatan kedua dilakukan di pantai Brumbun, Tulungagung, pada tanggal 10 Mei 2026. Namun karena jalan ke pantai cukup sulit, kegiatan pembersihan baru mulai dilakukan pada pukul 12.00 – 13.00.

Di pantai Klathak, mayoritas sampah berupa ranting pohon yang kemungkinan terbawa ombak hingga ke pantai. Namun ada beberapa sampah yang cukup meresahkan, salah satunya adalah tutup blood lancet yang seharusnya hanya ditemukan di fasilitas kesehatan. Sampah tersebut seharusnya dikelola sesuai prosedur limbah medis. Selain itu, karena pantai ini rutin dikunjungi wisatawan lokal, sampah yang ditemukan cukup banyak, dengan perkiraan sampah organik sekitar 5 kg dan sampah anorganik sekitar 3 kg. Sampah yang terkumpul tersebut dibuang di TPS Pasar Bandung.

 

Di pantai Brumbun, karena ternyata jalan yang dilalui masih cukup ekstrem, pantai ini jarang sekali dikunjungi wisatawan. Pada saat pelaksanaan kegiatan, tidak ada wisatawan lain selain saya, namun banyak rumah warga di sekitarnya. Mayoritas sampah yang terkumpul di pantai ini adalah sampah ranting dan daun kering dengan perkiraan berat sekitar 4 kg. Sedangkan sampah anorganik yang terkumpul hanya sedikit dan didominasi oleh bungkus makanan ringan dengan berat sekitar 1 kg. Sampah yang terkumpul selanjutnya dibuang di TPS Desa Beji.

Selama kegiatan berlangsung, terdapat beberapa kendala, salah satunya adalah cuaca yang cukup terik. Hal ini juga diperparah oleh pelaksanaan kegiatan pada siang hari, sehingga terik matahari jauh lebih menyengat. Bahkan pada pelaksanaan di Pantai Klathak, karena persiapan yang kurang memadai, seperti lupa tidak membawa air minum, akhirnya di setengah jam terakhir saya sempat merasa hampir pingsan dan merasakan pusing berputar saking panasnya. Beruntung ada tempat berteduh di sekitaran pantai. Saya beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pembersihan. Tidak berhenti disitu, karena lokasi pantai yang dibersihkan cukup jauh dari lokasi parkir motor, saya harus berjalan cukup jauh untuk mengangkat sampah tersebut.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga lingkungan dengan tindakan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya. Harapan saya, tindakan kecil yang saya lakukan bisa menginspirasi orang lain untuk menjaga lingkungan, khususnya pantai yang saya bersihkan, sehingga keindahannya tetap terjaga.