Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Rabu, 15 Juli 2026

ESSAI VIII-MELAKUKAN UPCYCLING SAMPAH ANORGANIK

 ESSAI 8 : MELAKUKAN UPCYCLING SAMPAH ANORGANIK 

MELAKUKAN UPCYCLING SAMPAH ANORGANIK DENGAN MEMBUAT LAMPION NANAS DARI SENDOK PLASTIK 

Kinanthi Kembang Asmoro

24310410224

ESSAI VIII

Dosen pengampu Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 1. Promosi di WA

2. Promosi di instagram


 

 Sampah plastik menjadi salah satu masalah lingkungan yang sering kita temui setiap hari. Salah satu jenis sampah yang paling banyak ditemukan adalah sendok plastik sekali pakai. Biasanya, setelah digunakan sendok plastik langsung dibuang ke tempat sampah tanpa dipikirkan lagi. Padahal, jika kita mau lebih kreatif, sendok plastik bekas bisa diubah menjadi barang yang cantik dan memiliki nilai jual. Karena itu, saya mencoba membuat lampion berbentuk nanas dari sendok plastik bekas sebagai salah satu bentuk upcycling. Kegiatan ini mengajarkan saya bahwa sampah tidak selalu menjadi barang yang tidak berguna, tetapi bisa menjadi produk yang menarik dan bermanfaat.

Ide membuat lampion nanas muncul karena saya melihat banyak kerajinan dari barang bekas di media sosial. Saya ingin membuat sesuatu yang berbeda, mudah dibuat, tetapi tetap memiliki nilai seni. Selain itu, bentuk buah nanas terlihat unik sehingga sangat cocok dijadikan hiasan lampu. Dengan memanfaatkan sendok plastik bekas, saya juga ikut mengurangi sampah plastik yang ada di sekitar rumah.

Bahan yang saya gunakan cukup sederhana, yaitu sendok plastik bekas, botol plastik bekas ukuran 1,5 liter, lem tembak, gunting, cat semprot warna kuning, kertas EVA warna hijau untuk daun nanas, lampu LED, dan kabel lampu. Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengumpulkan sendok plastik bekas, lalu mencucinya hingga bersih dan mengeringkannya. Setelah itu, saya memotong bagian gagang sendok sehingga hanya tersisa bagian cekungnya. Selanjutnya, saya menempelkan potongan sendok tersebut pada permukaan botol plastik menggunakan lem tembak. Penyusunannya dimulai dari bagian bawah ke atas agar menyerupai kulit buah nanas. Setelah semua sendok tertempel dengan rapi, saya mengecat seluruh permukaan menggunakan cat semprot warna kuning. Setelah cat mengering, saya membuat daun nanas dari kertas EVA berwarna hijau dan menempelkannya di bagian atas botol. Terakhir, saya memasang lampu LED di dalam botol sehingga lampion dapat menyala dengan indah.

Selama proses pembuatan, saya mengalami beberapa kesulitan. Awalnya, saya kesulitan menempelkan sendok plastik agar susunannya rapi karena beberapa sendok memiliki ukuran yang berbeda. Selain itu, lem tembak harus digunakan dengan hati-hati agar tidak mengenai tangan. Saya mengatasi masalah tersebut dengan memilih sendok yang ukurannya hampir sama dan menempelkan satu per satu dengan sabar. Walaupun membutuhkan waktu cukup lama, hasil akhirnya membuat saya merasa puas karena lampion terlihat menarik dan unik.

Setelah lampion selesai dibuat, saya mencoba mempromosikannya melalui media sosial seperti WhatsApp Story dan Instagram. Saya memotret lampion dari berbagai sudut agar terlihat lebih menarik, kemudian memberikan deskripsi bahwa produk ini dibuat dari bahan daur ulang yang ramah lingkungan. Saya juga menawarkan harga sekitar Rp80.000 per buah. Walaupun belum banyak yang membeli, beberapa teman memberikan komentar positif dan mengatakan bahwa lampion tersebut cocok dijadikan hiasan kamar, ruang tamu, atau dekorasi acara. Hal ini membuat saya semakin percaya diri untuk mencoba berjualan produk hasil upcycling.

Kegiatan ini juga berhubungan dengan psikologi lingkungan. Banyak orang masih memiliki kebiasaan membuang sampah plastik begitu saja karena menganggapnya tidak berguna. Padahal, jika masyarakat memiliki kesadaran dan kreativitas, sampah dapat diubah menjadi barang yang bermanfaat. Selain itu, dari sisi psikologi konsumen, banyak orang tertarik membeli produk yang unik, memiliki desain menarik, dan ramah lingkungan. Oleh karena itu, lampion nanas dari sendok plastik memiliki peluang untuk diminati karena tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga membantu mengurangi sampah plastik.

Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Dengan memanfaatkan sendok plastik bekas menjadi lampion nanas, saya tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi. Pengalaman ini membuat saya semakin sadar bahwa kreativitas dapat mengubah barang yang dianggap tidak berguna menjadi sesuatu yang bernilai. Saya berharap kegiatan seperti ini dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk mulai memanfaatkan sampah menjadi produk yang bermanfaat, sehingga lingkungan menjadi lebih bersih sekaligus membuka peluang usaha berbasis ekonomi sirkuler.

Link : 

https://www.instagram.com/p/Dawsd0UTlbke461QahUt5Kdm9-r7Aqpe5zD3PQ0/

ESSAI X- PARTISIPASI LOMBA


MELAKUKAN LOMBA KARNAVAL LINTAS BUDAYA ANTAR DESA DAN LOMBA DALAM RANGKA REVOLUSI MENTAL PERSONEL DITSAMAPTA POLDA DIY

Kinanthi Kembang Asmoro

24310410224

ESSAI X

Dosen pengampu Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta





Mengikuti berbagai kegiatan di masyarakat maupun di lingkungan kerja merupakan pengalaman yang sangat berharga. Selain menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan diri, kegiatan seperti ini juga mengajarkan pentingnya kerja sama, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab. Pada tahun 2026, saya berkesempatan mengikuti dua kegiatan yang berbeda tetapi sama-sama memberikan banyak pelajaran, yaitu Karnaval Lintas Budaya Antar Desa di Tegalrejo, Magelang pada tanggal 26 April 2026 dan Lomba dalam rangka Revolusi Mental Personel Ditsamapta Polda DIY pada tanggal 14 Juli 2026.

Kegiatan pertama yang saya ikuti adalah Karnaval Lintas Budaya Antar Desa yang diselenggarakan di Kecamatan Tegalrejo, Magelang. Dalam kegiatan ini, setiap desa menampilkan berbagai macam kostum dan pertunjukan yang menggambarkan budaya Indonesia. Karnaval ini bukan hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ajang untuk memperkenalkan keberagaman budaya yang dimiliki setiap daerah. Saya merasa bangga karena dapat ikut berpartisipasi dalam acara yang penuh semangat kebersamaan ini.

Sebelum hari pelaksanaan, seluruh peserta melakukan berbagai persiapan. Kami berdiskusi mengenai konsep penampilan, menentukan tema kostum, serta berlatih agar penampilan terlihat kompak. Proses persiapan ini membutuhkan kerja sama yang baik karena setiap orang memiliki tugas masing-masing. Ada yang bertanggung jawab menyiapkan kostum, mengatur barisan, menghias atribut, hingga memastikan semua peserta siap sebelum acara dimulai. Dari proses ini saya belajar bahwa hasil yang baik tidak bisa dicapai sendirian, tetapi membutuhkan kerja sama seluruh anggota tim.

Saat hari pelaksanaan tiba, suasana sangat meriah. Masyarakat memenuhi sepanjang jalan untuk menyaksikan penampilan setiap desa. Berbagai kostum dengan warna-warna yang menarik membuat karnaval menjadi lebih hidup. Meskipun cuaca cukup panas dan perjalanan yang ditempuh cukup jauh, semua peserta tetap bersemangat hingga akhir acara. Pengalaman ini membuat saya semakin menghargai keberagaman budaya Indonesia dan menyadari bahwa budaya merupakan identitas bangsa yang harus terus dilestarikan.

Kegiatan kedua yang saya ikuti adalah Lomba dalam rangka Revolusi Mental Personel Ditsamapta Polda DIY pada tanggal 14 Juli 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun karakter personel yang profesional, disiplin, berintegritas, serta memiliki semangat melayani masyarakat dengan baik. Revolusi Mental bukan hanya sekadar slogan, tetapi merupakan upaya untuk membentuk pola pikir dan perilaku yang lebih positif dalam menjalankan tugas sebagai anggota kepolisian.

Persiapan lomba dilakukan dengan serius. Seluruh peserta berlatih secara rutin agar mampu menampilkan kemampuan terbaik. Selain melatih keterampilan teknis, kami juga belajar menjaga kekompakan, komunikasi, dan saling mendukung satu sama lain. Dalam sebuah tim, setiap anggota memiliki peran penting sehingga tidak boleh ada yang bekerja sendiri. Semua harus saling percaya agar tujuan bersama dapat tercapai.

Saat lomba berlangsung, saya merasakan suasana yang penuh semangat sekaligus menegangkan. Setiap peserta ingin memberikan penampilan terbaik. Meskipun terdapat rasa gugup, saya berusaha tetap fokus dan percaya diri. Saya menyadari bahwa kemenangan memang menjadi tujuan, tetapi proses latihan, kerja sama, dan pengalaman yang diperoleh jauh lebih berharga daripada sekadar mendapatkan juara.

Melalui kegiatan Revolusi Mental ini, saya semakin memahami pentingnya memiliki sikap disiplin, jujur, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama dalam setiap tugas. Nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan oleh setiap personel kepolisian agar dapat memberikan pelayanan yang profesional kepada masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga mempererat hubungan antaranggota sehingga tercipta lingkungan kerja yang lebih kompak dan saling mendukung.

Dari kedua kegiatan tersebut, saya mendapatkan banyak pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karnaval Lintas Budaya mengajarkan saya untuk mencintai budaya Indonesia, menghargai perbedaan, dan menjaga persatuan. Sementara itu, Lomba Revolusi Mental mengajarkan pentingnya membangun karakter yang baik, meningkatkan kedisiplinan, serta bekerja sama demi mencapai tujuan bersama. Walaupun kedua kegiatan memiliki tema yang berbeda, keduanya sama-sama menanamkan nilai kebersamaan, tanggung jawab, dan semangat untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Saya berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun karena memberikan manfaat yang besar bagi peserta maupun masyarakat. Selain menjadi wadah untuk menampilkan kreativitas dan kemampuan, kegiatan tersebut juga mampu mempererat hubungan antaranggota masyarakat dan personel kepolisian. Dengan semangat persatuan, kerja sama, dan revolusi mental yang terus ditanamkan, diharapkan akan lahir generasi yang memiliki karakter kuat, cinta budaya, serta siap memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara.

ESSAY 9 – NASABAH BANK SAMPAH

YOSY TEGAR SEPTIAN

NIM: 24310410242

PSIKOLOGI LINGKUNGAN (B)

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA



Menjadi Nasabah Bank Sampah adalah salah satu bentuk perilaku peduli lingkungan dengan cara mengumpulkan dan menyetorkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomis ke bank sampah. Sampah seperti botol plastik, kertas, kardus, kaleng, dan kaca dipilah terlebih dahulu sesuai jenisnya, kemudian ditimbang dan dicatat sebagai tabungan atas nama nasabah. Nilai hasil penjualan sampah tersebut dapat dicairkan dalam bentuk uang atau dimanfaatkan sesuai ketentuan bank sampah.

Dengan adanya tugas dari psikologi lingkungan ini saya menjadi ingin mencoba menabung di bank sampah. Sempat terkendala oleh tempat yang ada di kulon progo tempat saya tinggal, saya mencari informasi di berbagai sumber tetapi tidak saya temui. Selanjutnya saya mencari di daerah bantul dan kami menemukannya di Babadan, Bantul, Kec. Bantul, Kab. Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.  

Maps lokasi : https://maps.app.goo.gl/JvMYeVquQRjwC2FS9?g_st=ac

Saya datang dengan 2 rekan saya yang sama kuliah dengan saya dan jurusan yang sama. Sehingga kami datangnya dengan bersamaan, membawa sampah masing masing dari rumah.

Berawal dari kami memilah sampah yang saya bagi di beberapa wadah plastik bekas. Kemudian kami menuju ke bank sampah bersamaan dan menyerahkan ke tempat tersebut, kami datang dan barang bawaan kami di cek selanjutnya di timbang. Barang bawaan saya di timbang dengan jumlah timbangan 3 Kg. Kemudian masing masing kami di tanyakan nama dan di buatkan ID kard untuk mendata setiap sampah yang masuk agar diberikan uang.

Rasanya semangat untuk menabung sampah lagi karena saya mendapatkan uang. Menjadi nasabah bank sampah juga menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan, meningkatkan kepedulian masyarakat, serta mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, saya menyadari bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik. Selain memperoleh imbalan berupa uang, saya juga memperoleh pengalaman yang meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Kegiatan ini sesuai dengan tujuan psikologi lingkungan, yaitu membentuk perilaku yang lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan melalui tindakan nyata.

Oleh karena itu, menjadi nasabah bank sampah merupakan salah satu langkah sederhana namun berdampak positif dalam mengurangi timbunan sampah, mendukung penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), serta membangun kebiasaan hidup yang lebih bersih, peduli, dan berkelanjutan. Pengalaman ini memotivasi saya untuk terus menabung sampah secara rutin dan mengajak orang lain agar ikut berpartisipasi dalam menjaga kelestarian lingkungan.




Selasa, 14 Juli 2026

Essai 9 : Bank Sampah

Bank Sampah  



Sucianingsih M Rivai 

24310410209 

Kelas Psikologi Lingkungan - B 

Tugas Essai 9 

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A. 

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta 


Kunjungan ke bank sampah memberikan pengalaman baru bagi saya mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang benar. Sebelum berkunjung, saya menganggap bahwa sampah hanyalah barang bekas yang tidak memiliki nilai. Namun, setelah melihat secara langsung kegiatan di bank sampah, saya menyadari bahwa sampah yang dipilah sesuai jenisnya masih dapat dimanfaatkan kembali dan bahkan memiliki nilai ekonomi. Bank sampah menjadi salah satu upaya untuk mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih perduli terhadap kebersihan lingkungan. 

Pada kesempatan tersebut, saya membawa botol plastic PET Kotor sebanyak sekitar 10 buah untuk dijual. Sebelum ditimbang, petugas terlebih dahulu memeriksa jenis sampah yang saya bahwa agar sesuai dengan kategori yang diterima. Botol PET Kotor tersebut dihargai sebesar Rp  1.500 per buah, sehingga saya memperoleh sekitar Rp 15.000 dari hasil penjualan. Meskipun jumlah uang yang saya terima tidak terlalu besar, saya merasa senang karena sampah yang sebelumnya hanya menumpuk kini dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan yang akan didaur ulang. Pengalaman ini menunjukkan bahwa sampah yang dipilah dengan baik masih memiliki nilai jual dan dapat memberikan manfaat ekonomi. 

Selain memperoleh hasil dari penjualan sampah, saya juga mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenai pentingnya kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah. Saya belajar bahwa proses daur ulang akan lebih mudah dilakukan apabila sampah organik dan anorganik dipisahkan sejak awal. Dengan demikian, jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dapat berkurang dan lingkungan menjadi lebih bersih. Saya juga melihat bahwa bank sampah berperan sebagai tempat edukasi bagi masyarakat untuk menerapkan pola hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan.

Kunjungan ini memberikan manfaat yang sangat berharga bagi saya. Saya menjadi lebih memahami bahwa menjaga kebersihan lingkungan tidak selalu membutuhkan tindakan yang besar, tetapi dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mengumpulkan dan memilah sampah yang masih dapat didaur ulang. Selain memberikan manfaat bagi lingkungan, kegiatan ini juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Pengalaman tersebut membuat saya semakin termotivasi untuk menerapkan kebiasaan memilah sampah di rumah serta mengajak keluarga dan teman-teman untuk memanfaatkan bank sampah sebagai salah satu solusi dalam mengurangi permasalahan sampah. Saya berharap semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya keberadaan bank sampah sehingga budaya mengelola sampah dengan baik dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi lingkungan maupun kehidupan sehari-hari.

Lampiran 




Essai 7 : Belajar Pengelolaan Sampah Terpadu di TPST Induk Iloheluma yang Terintegrasi dengan Bank Sampah

 Pengelolaan Sampah di TPST Induk Iloheluma sebagai Upaya Menjaga Lingkungan 




Sucianingsih M Rivai 

24310410209 

Kelas Psikologi Lingkungan - B 

Tugas Essai 7 

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A. 

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta 


Pada hari Senin, 13 Juli 2026, saya melakukan kunjungan observasi ke TPST Induk Iloheluma yang beralamatkan di Pulubala, Kec. Kota Tengah, Kabupaten Gorontalo, untuk belajar dan melihat secara langsung proses pengelolaan sampah. Dalam kegiatan ini, saya disambut oleh Ketua TPST Induk Iloheluma, Bapak Surya, yang memberikan penjelasan berbagai fasilitas dan peralatan yang digunakan dalam proses pengolahan sampah. Beliau menjelaskan bahwa setiap alat memiliki fungsi yang berbeda-beda, mulai dari proses pemilahan hingga pengolahan sampah agar dapat dimanfaatkan kembali dan mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan terakhir. Tempat pengolahan sampah ini tidak memiliki jumlah karyawan yang spesifik karena bersifat kolaboratif dan dijalankan oleh seorang Direktur, didampingi oleh dosen serta mahasiswa dari jurusan Arsitektur Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang tergabung dalam kelompok Arsitektur Peduli Sampah. 

Bapak Surya menjelaskan bahwa TPST Induk Iloheluma memiliki beberapa alat yang dgunakan untuk mendukung proses pengolahan sampah. Di antaranya adalah mesin pres yang berfungsi untuk memadatkan sampah agar lebih mudah disimpan dan diangkut, mesin giling yang digunakan untuk memperkecil ukuran sampah sehingga lebih mudah diproses, serta kendaraan viar yang dimanfaatkan sebagai sarana operasional dalam pengangkutan sampah. Selain itu, terdapat pula mesin kompos pencacah ranting yang digunakan untuk mencacah ranting, daun, dan sampah organik lainnya sebelum diolah menjadi kompos. Dengan adanya berbagai peralatan tersebut, proses pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien. 

Selain menjelaskan mengenai peralatan, beliau juga menerangkan sistem pengumpulan sampah yang diterapkan di TPST Induk Iloheluma. Sampah yang akan diolah diperoleh melalui dua cara, yaitu dijemput oleh petugas menggunakan kendaraan operasional ke lokasi-lokasi tertentu dan diantar langsung oleh masyarakat ke TPST. Sistem ini memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk menyalurkan sampah agar dapat dikelola dengan baik. Setelah sampah diterima di TPST, sampah akan dipilah sesuai jenisnya sebelum diproses menggunakan alat yang sesuai sehingga dapat dimanfaatkan kembali atau diolah menjadi produk yang lebih bernilai. 

Dalam kesempatan tersebut, Bapak Surya juga menceritakan sedikit mengenai perjalanan beliau di TPST Induk Iloheluma. Beliau menjelaskan bahwa dirinya mulai bekerja di TPST sekitar 5 tahun yang lalu. Selama menjalankan tugasnya, beliau telah berperan aktif dalam mengelola berbagai kegiatan operasional yang berkaitan dengan pengelolaan sampah di TPST. Selain itu, beliau juga menyampaikan bahwa dirinya merupakan pengurus ketiga yang memimpin TPST Induk Iloheluma. Selama masa kepemimpinannya, beliau terus berupaya mengembangkan sistem pengelolaan sampah agar berjalan lebih efektif serta mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Pengalaman yang dimiliki selama 5 tahun tersebut membuat beliau memahami berbagai tantangan sekaligus potensi yang dimiliki TPST dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih baik. 

Melalui penjelasan yang diberikan, saya memperolah pemahaman bahwa pengelolaan sampah tidak hanya membutuhkan fasilitas dan peralatan yang memadai, tetapi juga memerlukan sistem kerja yang terorganisasi serta partisipasi aktif dari masyarakat. Kunjungan ini memberikan pengalaman dan wawasan baru mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang baik sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. 


Lampiran