Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Selasa, 28 April 2026

ESSAI 4 KOMITMEN PRIBADI TERHADAP SAMPAH

 

Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 3

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

KOMITMEN PRIBADI TERHADAP SAMPAH DAN PENGELOLAAN SAMPAH 

Link Video : https://vt.tiktok.com/ZS9SorQWN/

Sebelum mempelajari psikologi lingkungan, saya memandang sampah sebagai sesuatu yang biasa karena buka sesuatu yang saya pikirkan dan tidak pernah benar-benar saya lihat. Bagi saya, sampah hanyalah kotoran atau sesuatu yang tidak memiliki nilai, dan cukup untuk dijauhkan, sehingga kepedulian saya terhadap sampah sangat kurang. Namun, setelah mendapatkan pemahaman dalam mata kuliah Psikologi Lingkungan ditambah lagi dosen sendiri sangat giat mendorong kami untuk lebih peduli pada lingkungan terutama dalam pengelolaan sampah, dan dengan tugas-tugas yang diberikan terkait dengan sampah ( Pogging, before dan after ), pandangan saya mulai berubah terhadap lingkungan sekitar termasuk kepedulian terhadap sampah yang berceceran/berserakan.

Saya tidak lagi bersikap tidak peduli atau tutup mata ketika melihat sampah yang berserakan atau tercecer disekitar saya, ada dorongan yang kuat untuk mengumpulkan sampah-sampah tersebut dan membuangnya ditempat sampah atau mengumpulkannnya jika memang tidak ada fasilitas tempat sampah disekitar sampah yang berserakan tersebut bahkan saya mulai membawa kantong plastik untuk berjaga-jaga jikalau menemukan sampah yang berceceran termasuk di tempat umum seperti taman, lapangan, alun-alun dan atau jalan yang saya telusuri.

Kesadarsan ini mendorong terbentuknya perilaku pro-lingkungan, yaitu perilaku yang bertujuan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan. Saya mulai menyadari bahwa sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga memengaruhi perilaku manusia. Lingkungan yang kotor dapat menurunkan kenyamanan, memengaruhi suasana hati, bahkan membentuk kebiasaan buruk seperti membuang sampah sembarangan. Sebaliknya, lingkungan yang bersih mendorong perilaku yang lebih tertib dan peduli. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara manusia dan lingkungan bersifat timbal balik.

Selain itu, saya juga memahami bahwa sampah bukan semata-mata sesuatu yang menjijikkan. Memang, secara alami manusia memiliki tanggapan jijik terhadap sesuatu yang kotor, tetapi dengan pengelolaan yang tepat, sampah dapat memiliki nilai. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi barang yang bernilai ekonomi maupun sesuatu yang unik atau hiasan. Pemahaman ini mengubah cara pandang saya dari yang tadinya  berpikir cukup dengan “membuang” menjadi “mengelola”.

Berdasarkan pemahaman tersebut, saya membangun komitmen pribadi atau terhadap diri saya dalam pengelolaan sampah.

Pertama, Hal yang saya lakukan atau saya berkomitmen untuk tidak membuang sampah sembarangan dan selalu membuang sampah pada tempatnya.

Kedua, saya akan berusaha lebih aktif, tidak hanya menjaga kebersihan diri sendiri, tetapi juga lingkungan sekitar, baik di rumah maupun di tempat kerja. Hal ini termasuk mengumpulkan sampah yang berserakan di sekitar saya sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.

Ketiga, saya berkomitmen untuk mendukung kegiatan pengelolaan sampah yang lebih luas, seperti berpartisipasi dalam program bank sampah atau kegiatan “sedekah sampah”. Bagi saya, ini bukan sekadar mengerjakan tugas kuliah lagi, tetapi bentuk tindakan nyata.

Namun, saya juga menyadari bahwa perubahan perilaku tidak hanya bergantung pada satu orang saja, tetapi juga pada dukungan lingkungan sosial dan tentunya fasilitas yang memadai. Oleh karena itu, komitmen ini tidak hanya saya wujujdkan secara bertahap dan konsisten yang bukan saja untuk diri sendiri, tetapi juga sebagai upaya untuk memengaruhi atau memberikan contoh yang nyata kepada orang lain agar memiliki kesadaran yang sama.

Dengan demikian,  komitmen ini saya wujudkan secara bertahap dan konsisten, dimulai dari lingkungan terdekat yang dapat saya kendalikan. saya meyakini jika perubahan kecil yang dilakukan  secara terus-menerus, dapat memberikan dampak positif terhdap lingkungan sekitar. Dimana peran individu sebagai role model terbukti dapat mendorong orang lain untuk meniru perilaku peduli lingkungan, seperti membuang sampah  pada tempatnya dan mendaur ulang sampah dengan memilah terlebih dahulu sampah mana yang dapat dikelola atau yang masih bisa dimanfaatkan dan bernilai.

Daftar Pustaka

Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah

Dhabitha, B. Z. A. (2023). Faktor Determinan Perilaku Pro Lingkungan Mengelola Sampah. IDEA: Jurnal Psikologi.  Vol. 7 No. 1 (2023)

Rifayanti, R., dkk. (2018). Peran Role Model dalam Membentuk Perilaku Pro-Lingkungan. Psikostudia. Jurnal Psikologi Vol 7, No 2, Desember 2018

Essai 2 - Plogging

 KEGIATAN PLOGGING

    Rahardian Wicaksono

24310410218

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 2

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

April 2026

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta


    Sebelum memulai kegiatan plogging, saya telah merencankan proses akhir sampah-sampah yang saya kumpulkan. Saya memilih lebih dulu sampah-sampah yang masih bisa diolah dan sampah yang sudah tidak dapat diolah secara mandiri. Sampah seperti botol atau gelas plastik saya olah menjadi pot bunga kecil, sementara sampah yang sudah tidak dapat diolah secara mandiri oleh saya akan saya sisihkan dan menitipkanya ke pengepul atau pemulung sampah untuk ia jual. Adanya keterbatasan keterampilan dan waktu saya untuk secara langsung mengolah seluruh sampah yang saya kumpulkan dan menyalurkan secara mandiri ke TPS, tidak mengurangi semangat saya untuk membersihkan lingkungan sekitar saya dengan membersihkan sampah-sampah di ruang publik seperti jalan raya maupun pemukiman warga sekitar tempat saya biasa berolahraga (jogging).

    Saya melakukan plogging pertama pasa Selasa 21 April 2026 selama kurang lebih satu jam mulai pukul 16.00 - 17.00 dengan menempuhu jarak sekitar 3 km. Saya melakukan plogging pertama ini di daerah Kayen, Wedomartani, Sleman. Di lokasi pertama ini jenis sampah yang mendominasi adalah plastik kemasan dan botol plastik.

 
   
     Lalu, kegiatan plogging kedua saya lakukan pada Jumat 24 April 2026 selama kurang lebih satu jam mulai sekitar pukul 16.30 - 18.00 dengan jarak sekitar 3 km. Saya melakukan plogging kedua ini di daerah Paingan, Sleman. Saya menemukan jenis sampah yang sama dengan lokasi pertama, yaitu kantong plastik dan kemasan makanan ringan (plastik kemasan). Jika ditotal, berat sampah yang berhasil saya kumpulkan dari dua kali kegiatan plogging di dua tempat berbeda mencapai sekitar 40 - 60 gram sampah plastik.

    Jika dikaitkan dengan prinsip operant conditioning, tugas ini dapat membentuk perilaku bahwa berinteraksi dengan sampah bukanlah hal yang menjijikkan, melainkan menjadi sesuatu yang menyenangkan dan memuaskan. Sehingga hal tersebut dapat membentuk adanya perilaku baru. Setiap sampah yang saya kumpulkan memberikan kepuasan (positive reinforcement), karena melihat lingkungan menjadi bersih dan rasa lelah fisik tergantikan dengan perasaan senang atau puas telah berkontribusi pada pelestarian kebersihan lingkungan.

    Melalui kegiatan Plogging ini, saya menyadari bahwa perubahan perilaku terhadap lingkungan dapat dilakukan melalui penggabungan antara aktivitas olahraga dan kebersihan yang membuat kegiatan memungut sampah tidak lagi dipersepsikan sebagai tugas yang kotor atau tidak menyenangkan. Kegiatan ini juga membuktikan bahwa ilmu psikologi dapat diterapkan secara nyata dalam menangani isu-isu lingkungan, dimulai dari langkah kaki kita sendiri.


Essai 1 : Meringkas Jurnal Sampah

 

Sedekah Sampah sebagai Bentuk Pengelolaan Sampah

Berbasis Masyarakat


Pingkan Winahyuningtyas

24310410234

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 1

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 

Topik

Sedekah Sampah sebagai Bentuk Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat dan Aksi Pro-Lingkungan di Kampung Tegal Krapyak Yogyakarta.

Sumber Jurnal

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN).

World Bank. What a Waste 2.0: A Global Snapshot of Solid Waste Management.

UN Environment Programme. Global Waste Management Outlook.

Permasalahan

Sampah merupakan masalah lingkungan yang dihadapi banyak daerah di Indonesia, termasuk Yogyakarta. Bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya konsumsi masyarakat menyebabkan volume sampah terus meningkat. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat menimbulkan pencemaran, saluran air tersumbat, dan gangguan kesehatan. Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari rumah menjadi hambatan utama. Karena itu, dibutuhkan solusi yang melibatkan partisipasi warga secara langsung. Salah satu upaya tersebut adalah program sedekah sampah di Kampung Tegal Krapyak Panggungharjo Sewon Bantul.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pelaksanaan program sedekah sampah di Kampung Tegal Krapyak, mengetahui manfaatnya bagi lingkungan, ekonomi, dan sosial masyarakat, serta melihat peran gotong royong dalam memperkuat kebersamaan warga. Penelitian ini juga menegaskan bahwa permasalahan sampah lebih banyak dipengaruhi oleh perilaku masyarakat, seperti kebiasaan membuang, memilah, dan mengelola sampah, daripada sekadar penggunaan teknologi. Oleh karena itu, perubahan perilaku melalui partisipasi aktif warga menjadi kunci utama keberhasilan pengelolaan sampah. Selain itu, penelitian ini diharapkan menjadi contoh bagi wilayah lain dalam mengembangkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Hasil Penelitian

Hasil kajian menunjukkan bahwa program sedekah sampah memberikan dampak positif terhadap kebersihan lingkungan, penambahan kas desa, dan hubungan sosial antarwarga. Kegiatan rutin setiap minggu serta gotong royong dua minggu sekali berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan bersama.

Isi

Program sedekah sampah di Kampung Tegal Krapyak merupakan gerakan masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga agar lebih bermanfaat. Program ini telah berjalan sekitar empat bulan dan diresmikan pada hari sabtu tanggal 18 April 2026. Peresmian dihadiri oleh warga, lurah, dan perangkat desa, disertai Surat Keputusan (SK) sebagai dasar pelaksanaan kegiatan.

Setiap hari Minggu, warga mengumpulkan sampah rumah tangga yang sudah dipilah, seperti plastik, kertas, dan botol. Sampah kemudian ditimbang dan dijual ke pengepul. Hasil penjualannya dimasukkan ke kas desa untuk kegiatan sosial, pembangunan fasilitas umum, dan kebutuhan masyarakat lainnya.

Selain itu, warga juga mengadakan gotong royong setiap dua minggu sekali. Kegiatan ini meliputi membersihkan selokan, mencabuti rumput liar, merapikan lingkungan, dan memperbaiki fasilitas umum. Kegiatan tersebut menunjukkan masih kuatnya nilai kebersamaan dan budaya guyup rukun di masyarakat.

Metode

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara sederhana dengan warga dan pengurus kegiatan, serta dokumentasi pelaksanaan program. Data kemudian dianalisis melalui tahap pengumpulan, penyajian, dan penarikan kesimpulan.

Hasil

Program sedekah sampah memberikan hasil yang baik bagi masyarakat. Pertama, warga semakin sadar pentingnya membuang dan memilah sampah dengan benar. Kedua, lingkungan kampung menjadi lebih bersih dan rapi karena sampah rumah tangga tidak dibuang sembarangan. Ketiga, hasil penjualan sampah menambah kas desa yang dapat digunakan untuk kepentingan bersama.

Selain itu, kegiatan gotong royong membuat hubungan antarwarga semakin erat. Warga dapat bekerja sama, saling berkomunikasi, dan menjaga lingkungan bersama-sama. Program ini juga menumbuhkan kebiasaan hidup bersih dan peduli lingkungan, baik bagi orang dewasa maupun anak-anak.

Diskusi

Program sedekah sampah membuktikan bahwa masalah lingkungan dapat diatasi melalui partisipasi masyarakat. Ketika warga ikut terlibat, pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama.

Konsep “sedekah” memberikan nilai sosial yang positif. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna justru dapat memberikan manfaat ekonomi bagi desa. Dengan demikian, program ini menggabungkan manfaat lingkungan, ekonomi, dan sosial sekaligus.

Kegiatan gotong royong juga menjadi bagian penting karena memperkuat solidaritas antarwarga. Lingkungan yang bersih akan lebih mudah tercapai jika masyarakat memiliki rasa peduli dan mau bekerja sama. Program seperti ini layak diterapkan di wilayah lain dengan dukungan pemerintah dan edukasi yang berkelanjutan.

Kesimpulan

Program sedekah sampah di Kampung Tegal Krapyak Yogyakarta merupakan bentuk pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang efektif dan berkelanjutan. Program ini mampu meningkatkan kebersihan lingkungan, menambah kas desa, serta mempererat kebersamaan warga melalui gotong royong. Keberhasilan program ini menunjukkan bahwa partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan harmonis. Oleh karena itu, program sedekah sampah layak dikembangkan di daerah lain di Indonesia.





Senin, 27 April 2026

ESSAI KE - 3 : BEFORE-AFTER

Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 3

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


PENGARUH KONDISI LINGKUNGAN TERHADAP PERILAKU MEMBUANG SAMPAH (Before-After :  di Area Pertokoan  dan Lapangan )

(Jenis sampah yang dikumpulkan plastik dan botol plastik seberat ± 1kg yang disumbangkan ke Bank Sampah)

Sebelum melakukan kegiatan pembersihan sampah, saya memandang kondisi lingkungan yang kotor sebagai sesuatu yang biasa dan tidak terlalu menjadi perhatian. Persepsi saya saat itu menganggap bahwa sampah hanyalah bagian dari aktivitas sehari-hari yang wajar ditemui, terutama di tempat umum. Pengalaman ini berubah ketika saya melakukan observasi dan melakukan pembersihan pada dua lokasi berbeda.

Lokasi 1 ” Pasar shoping/ pertokoan yang dekat dengan Pasar


Pada hari Jum’at tanggal 24 April 2026, sekitar pukul 16.00 sore – 17.30 WIB saya  mengamati daerah pertokoan yang berada di dekat Pasar Shoping Salatiga, saya melihat dan menemukan beberapa sampah plastik dan botol minuman yang berserakan  di depan toko/ kios tersebut, ada juga beberapa yang sudah dibungkus plastik namun masih diletakkan di depan toko, dan saya tidak menemukan adanya kranjang atau tong sampah disekitaran pertokoan tersebut, sehingga saya berpikir mengapa jalanan banyak sekali sampah berserakan dan terlihat kotor/ kumuh hal tersebut salah satunya karena ketidaktersediaan tempat sampah yang memadai untuk tempat membuang sampah dan pada akhirnya saya beranggapan jika mungkin saja tempat tersebut “dipersepsikan” sebagai tempat yang tidak memiliki aturan jelas terkait pembuangan sampah. Beberapa orang yang lewat di area tersebut , termasuk juga para -pedagang yang berada disekitaran  area tersebut, merasa bahwa membuang sampah sembarangan adalah hal yang dapat diterima/ wajar.

Kemudian sekitar 1 jam’an, setelah saya melakukan pembersihan (after), terdapat perubahan yang nampak terhadap area /lingkungan sekitar, dimana menjadi lebih rapi dan bersih. Perubahan ini membuat saya menyadari bahwa keadaan lingkungan secara nyata dapat memengaruhi persepsi seseorang. Lingkungan yang bersih cenderung mendorong kita untuk mempertahankan kebersihan tersebut.

Lokasi kedua : Lapangan di dekat SDN 02 Kumpulrejo dan Kelurahan Kumpulrejo Kota Salatiga                                  


Pada  hari Minggu tanggal 26 April 2026, sekitar pukul 16.30 WIB sampai dengan 17.30 WIB saya melakukan pengamatan / observasi terhadap lokasi kedua yaitu lapangan Kumpulrejo yang berada di depan SDN 03 Kumpulrejo dan Kelurahan Kumpulrejo Kota Salatiga, saya menemukan banyak sampah kecil yang tersisa berupa plastik, tali rafia, botol minuman dan sobekan kertas kecil yang bertuliskan undian, kertas-kertas tersebut berasal dari kegiatan yang dilakukan dilapangan tersebut pada hari Sabtu pagi. Saya melihat ada beberapa tempat sampah yang berada di depan kelas SDN 03 Kumpulrejo dan yang ada didepan Kelurahan Kumpulrejo atau kedua tempat sampah tersebut tidak jauh dari lapangan. Namun pada kenyataannya, sampah tetap berserakan hingga keesokan harinya, dimana saya sengaja menunggu sampai hari minggu karena beranggapan jika mungkin dari panitia acara atau petugas kebersihan ada yang membersihkan lapangan tersebut, namun sampai hari minggu, keadaan tetap sama. Beradasarkan pengamatan yang saya lakukan dari hari jumat dan sabtu, di hari Jum’at ada beberapa sampah yang berserakan namun di Jum’at sore tenda mulai dipasang dan kondisi lapangan tampak bersih, namun sayangnya selesai acara berakhir yaitu Sabtu siang, ada sampah yang mulai tercecer atau ada beberapa sampah yang berserakan.

Kemudian saya memulai membersihkan lapangan tersebut (after), kondisi sekitar tampak jauh lebih rapi dan bersih dibandingkan sebelumnya. Sampah-sampah kecil seperti plastik, kertas undian, dan  botol plastik yang sebelumnya tersebar sudah tidak terlihat lagi. Lapangan tampak terlihat seperti sebelum digunakan untuk kegiatan, sehingga memberikan kesan lingkungan sekitar lapangan terawat.

Permasalahan

Permasalahan yang ada pada kedua lokasi adalah terbentuknya kebiasaan membuang sampah sembarangan yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Dilokasi pertama, kurangnya fasilitas tempat sampah membuat orang cenderung membuang sampah di sembarang tempat. Sementara di lokasi kedua, meskipun sudah tersedia tempat sampah, sampah tetap berserakan dan hal tersebut salah satunya disebabkan karena kurangnya kepedulian atau kesadaran seseorang untuk menjaga lingkungan tetap bersih serta kurangnya rasa tanggung jawab bersama dan adanya anggapan bahwa orang lain akan membersihkannya. Selain itu, kondisi lingkungan yang sudah kotor membuat perilaku tersebut  semakin dianggap hal yang wajar  dan terus berulang.

Kesimpulan

Berdasarkan  hasil pengamatan  before-after di dua lokasi, dapat saya simpulkan jika keadaan lingkungan berperan penting dalam membentuk perilaku dan persepsi seseorang terhadap kebersihan. Dimana lingkungan yang kotor, cenderung menciptakan anggapan bahwa membuang sampah sembarangan adalah hal yang wajar, sedangkan lingkungan yang bersih mendorong kita untuk  tetap menjaga kebersihan tersebut. Permasalahan lingkungan yang kotor terkait membuang sampah sembarangan bukan saja disebabkan oleh faktor keadaan lingkungan tersebut namun juga oleh norma sosial dan rasa tanggungjawab, dimana pada lokasi pertama keterbatasan fasilitas memicu  perilaku membuang sampah  sembarangan sedangkan pada lokasi kedua, meskipun ada fasilitas tersedia, sampah tetap berserakan dan hal ini karena kurangnya tanggungjawab secara bersama dan adanya kecenderungan untuk mengandalkan pihak lain dalam menjaga kebersihan. Dengan demikian, perubahan kondisi lingkungan melalui pembersihan dapat memberikan dampak positif, namun hanya bersifat sementara jika tidak didukung oleh fasilitas yang memadai, norma sosial yang kuat dan kesadaran bersama dalam menjaga lingkungan.


ESSAI 1: Meringkas Jurnal Sampah

Perilaku Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Perkotaan

(Community Behavior in Household Waste Management in Urban Areas)

Yufika Dwi Rezeki

25310440003

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta


Topik:

Pengelolaan sampah rumah tangga, perilaku masyarakat, kesadaran lingkungan, 3R.

Sumber:

Salsabilla, H., Hutahayan, H. R., Sulhas, S., & Saputra, B. (2025). Perilaku Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Perkotaan. Jurnal Edu Research, Vol 6(4), 829–839.

Permasalahan:

Jurnal ini membahas perilaku masyarakat perkotaan dalam mengelola sampah rumah tangga yang masih belum efektif. Banyak masyarakat masih terbiasa membakar sampah, membuang sampah sembarangan, dan belum memilah sampah dari rumah. Selain itu, keterbatasan fasilitas seperti TPS dan layanan pengangkutan sampah membuat pengelolaan sampah belum berjalan dengan baik. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan hanya soal volume sampah, tetapi juga berkaitan dengan kebiasaan masyarakat sehari-hari.

Tujuan Penelitian:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga di Kecamatan Kuranji, Kota Padang, serta faktor-faktor yang memengaruhinya.

Isi:

Jurnal ini menjelaskan bahwa persoalan sampah rumah tangga di perkotaan tidak hanya berkaitan dengan jumlah sampah, tetapi juga dengan kebiasaan masyarakat sehari-hari. Di Kecamatan Kuranji, sebagian masyarakat masih mengelola sampah dengan cara dibakar atau dibuang ke tempat terbuka karena dianggap lebih praktis dan cepat. Padahal, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa masyarakat masih jarang memilah sampah organik dan anorganik dari rumah. Kebiasaan mencampur sampah membuat proses pengelolaan menjadi lebih sulit. Selain itu, keterbatasan fasilitas seperti TPS, sarana pengelolaan, dan pengangkutan sampah membuat masyarakat cenderung memilih cara yang paling mudah dalam membuang sampah.

Metode:

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, lalu dianalisis secara deskriptif untuk melihat gambaran perilaku masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.

Hasil:

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku masyarakat dalam mengelola sampah masih didominasi cara tradisional, terutama membakar sampah. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah juga masih rendah. Namun, sebagian kecil masyarakat mulai menunjukkan perubahan dengan membuang sampah ke TPS, memilah sampah sederhana, dan mengolah sampah organik menjadi kompos.

Diskusi:

Dari sudut pandang psikologi lingkungan, perilaku masyarakat terhadap sampah terbentuk dari kebiasaan yang terus diulang dan dianggap wajar di lingkungan sekitar. Kebiasaan membakar sampah akhirnya menjadi perilaku yang dianggap normal. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh kebiasaan sosial, lingkungan fisik, dan fasilitas yang tersedia.

Kesimpulan:

Jurnal ini menunjukkan bahwa masalah sampah rumah tangga di perkotaan masih dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat, rendahnya kesadaran lingkungan, dan keterbatasan fasilitas. Karena itu, pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan perubahan kebiasaan masyarakat agar tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.