Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Senin, 06 Juli 2026

Essai 9 - Bank Sampah

 Bank Sampah 


Rahardian Wicaksono

24310410218

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 9

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Juli 2026

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta 



Program bank sampah hadir sebagai salah satu strategi intervensi psikologi lingkungan untuk membentuk perilaku bertanggung jawab dalam pengelolaan sampah di tengah masyarakat. Melalui mekanisme merubah sampah menjadi tabungan bernilai ekonomi, masyarakat diajak untuk melakukan pemilahan sampah dari secara bijak. Perubahan perilaku ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran lingkungan yang mendalam, di mana individu tidak lagi memandang sampah anorganik sebagai limbah tak berguna, melainkan sebagai sumber daya materi yang memiliki nilai tukar ekonomi.

Namun, pembentukan perilaku pro-lingkungan ini sering kali membentur hambatan situasional seperti yang saya alami secara langsung di lingkungan tempat tinggal saya. Berdasarkan observasi dan upaya pemetaan yang saya lakukan, informasi mengenai identitas lengkap dan keberadaan bank sampah resmi sangat minim. Ketika saya mencoba mendatangi beberapa lokasi bank sampah di Ngaglik Sleman tidak jauh dari daerah tempat tinggal saya, tidak ditemukan adanya kegiatan operasional maupun petugas yang berjaga. Satu-satunya bank sampah yang teridentifikasi memiliki jam operasional yang sangat terbatas di daerah Sinduharjo “Bank Sampah Kangen”, yaitu hanya buka satu hari dalam seminggu pada hari Senin mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB. Keterbatasan waktu operasional ini menjadi hambatan bagi saya karena sangat tidak fleksibel dengan jadwal dan jam kerja yang saya miliki sehari-hari.

Kendala aksesibilitas tersebut menuntut pemecahan masalah yang adaptif agar komitmen dalam mengelola sampah anorganik tetap terjaga. Sebagai alternatif rasional untuk tetap mewujudkan perilaku bertanggung jawab terhadap sampah anorganik, saya memutuskan untuk menyalurkan sampah anorganik yang telah dipilah kepada tukang rongsok keliling yang bersedia membelinya. Meskipun jalur distribusinya berbeda dari bank sampah konvensional, inti dari pemanfaatan kembali limbah dan sirkulasi ekonomi sirkular tetap terpenuhi secara nyata melalui tindakan alternatif ini.

Aktivitas penyaluran sampah ini saya lakukan sebanyak dua kali selama periode Juni hingga Juli 2026. Transaksi pertama dilakukan pada tanggal 28 Juni 2026, di mana material sampah anorganik yang berhasil dikumpulkan berupa botol plastik bekas dengan berat kurang lebih 300 gram. Dari penjualan tersebut, saya memperoleh uang tunai sebesar Rp5.000. Selanjutnya, transaksi kedua dilaksanakan pada tanggal 4 Juli 2026. Pada kesempatan ini, sampah yang terkumpul lebih bervariasi mencakup kombinasi botol plastik dan kaleng cat bekas dengan berat total mencapai sekitar 1,5 kilogram. Melalui transaksi kedua tersebut, saya mendapatkan uang sebesar Rp10.000.


Pengalaman ini memberikan pengalaman yang menarik mengenai dinamika pengelolaan sampah di tingkat individu. Hambatan operasional pada bank sampah lokal membuktikan bahwa ketersediaan infrastruktur dan kemudahan akses memegang peranan krusial dalam mempertahankan konsistensi perilaku pro-lingkungan. Ketika sistem formal tidak mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat pekerja, pemanfaatan sektor informal seperti tukang rongsok menjadi opsi yang efektif untuk memastikan sampah anorganik tetap terkelola dengan baik dan tidak berakhir di tempat pembuangan akhir. Penguatan integrasi antara bank sampah formal dan kemudahan akses bagi masyarakat sangat diperlukan guna menciptakan ekosistem pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.


ESSAY 10 : PARTISIPASI LOMBA


YOSY TEGAR SEPTIAN

NIM: 24310410242

PSIKOLOGI LINGKUNGAN (B)

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

 

1.      LOMBA FOTOGRAFI

  

LINK Poster  lomba : https://www.instagram.com/p/DZGUCnXErHw/?igsh=aG95YTkzMnUzNDN0

Lomba ini di awali dengan wabinar, saya mendaftar melalui online dan mengikuti webinar pada tanggal 25 juni 2025. Selain suka dengan ber eksplorasi saya juga senang dengan mengabadikan moment. Jadi banyak foto yang ada di galeri saya. Dari webinar ini saya belajar mengembangkan diri saya untuk menjadi keperibadian yang lebih menghargai moment, juga membuat sebuah lintasan waktu untuk masa yang akan datang nanti. Saya mendaftar dengan kategori umum. Pendaftaran tidak di pungut biaya alias gratis. Sesuai ketentuan Foto harus berasal dari karya sendiri tidak plagiatisme. Tema : Belajar tanpa batas, judul : mengaji demi kebaikan foto ini 100% hasil dari karya saya. 


2.      LOMBA MENARI JATILAN





Sejak kecil saya memiliki hobi menari jathilan dan pada bulan Mei ini saya diminta oleh atasan saya untuk mengikuti lomba menari kreasi modern dalam kegiatan AGILITY RACE SATWA. Lomba ini di selenggarakan oleh kepolisian. Dalam lomba ini ketentuan untuk penari yaitu menari tarian kreasi modern dengan menggunakan properti serta hewan anjing sebagai patrer dalam menari. Regu tari saya berjumlah 6 orang dan disertakan 2 anjing betina. Kami melakukan latihan kurang lebih 1 bulan hingga pada akhirnya dapat melaksanakan kegiatan lomba dengan menampilkan yang terbaik dan mendapat juara 1.

 

KESIMPULAN

    Mengikuti kegiatan di lingkungan merupakan bagian penting dalam penerapan psikologi lingkungan karena dapat membangun hubungan yang positif antara individu dengan lingkungan fisik maupun sosialnya. Partisipasi tersebut juga meningkatkan interaksi sosial, memperkuat kerja sama antarwarga, serta menciptakan lingkungan yang lebih sehat, nyaman, dan berkelanjutan.

    Dari sudut pandang saya dalam kegiatan lingkungan bersosial tidak hanya memberikan manfaat bagi kondisi lingkungan, tetapi juga berdampak positif terhadap kesejahteraan psikologis individu, seperti meningkatnya kepuasan hidup, rasa kebersamaan, dan kesehatan mental. Oleh karena itu, mengikuti kegiatan di lingkungan bukan hanya menjadi bentuk kepedulian terhadap alam dan masyarakat, tetapi juga merupakan upaya menciptakan kualitas hidup yang lebih baik bagi diri sendiri maupun generasi mendatang.

 

 

 

Minggu, 05 Juli 2026

ESAI 9: NASABAH BANK SAMPAH

Menjadi Nasabah Bank Sampah

Yufika Dwi Rezeki

25310440003

Kelas Psikologi Lingkungan

Tugas 9 – Nasabah Bank Sampah

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Juli 2026

Kelas B

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Sebelumnya saya belum pernah menjadi nasabah bank sampah. Melalui tugas mata kuliah ini, saya akhirnya berkesempatan mengunjungi Bank Sampah Gemah Ripah yang beralamat di Jl. Urip Sumoharjo, Badegan RT 12, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55711. Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa sampah anorganik yang sering dianggap tidak berguna ternyata masih memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik.

Sebelum berangkat, saya mengumpulkan dan memilah sampah anorganik yang ada di rumah. Sampah yang saya bawa terdiri atas botol plastik, plastik kemasan, serta kertas dan kardus. Setelah sampai di Bank Sampah Gemah Ripah, petugas menerima sampah yang saya bawa, kemudian menimbangnya sesuai dengan jenis masing-masing. Dari proses tersebut saya mengetahui bahwa setiap jenis sampah memiliki harga yang berbeda sehingga pemilahan sejak dari rumah menjadi hal yang penting.

                      

Pada kunjungan pertama, hasil penjualan sampah saya sebesar Rp1.342,50. Karena jumlah tersebut belum mencapai ketentuan minimal Rp5.000, saya belum mendapatkan buku tabungan. Sebagai gantinya, petugas memberikan bukti setoran yang nantinya akan digabungkan dengan setoran berikutnya. Saat berada di lokasi, saya juga melihat sebuah pemberitahuan bahwa sampah yang dititipkan tanpa mencantumkan identitas pemilik akan dimasukkan sebagai donasi. Menurut saya, aturan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan administrasi di Bank Sampah Gemah Ripah dilakukan dengan tertib agar setiap hasil penjualan sampah dapat tercatat kepada nasabah yang tepat.

Beberapa waktu kemudian, saya kembali datang untuk menabung sampah yang telah saya kumpulkan dan pilah di rumah. Jenis sampah yang saya bawa masih sama, yaitu botol plastik, plastik kemasan, serta kertas dan kardus. Setelah kembali ditimbang, hasil penjualan sampah tersebut ditambahkan ke saldo sebelumnya hingga total tabungan saya melebihi Rp5.000. Pada kunjungan kedua inilah saya akhirnya memperoleh Buku Tabungan Sampah dan resmi menjadi nasabah Bank Sampah Gemah Ripah. Rasanya cukup menyenangkan melihat bahwa sampah yang sebelumnya hanya menumpuk di rumah kini memiliki nilai dan tercatat sebagai tabungan.

Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah dan membawanya ke bank sampah. Meskipun uang yang diperoleh tidak terlalu besar, manfaat yang saya rasakan jauh lebih berarti karena saya belajar untuk lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang saya hasilkan. Saya berharap kebiasaan ini dapat terus saya lakukan dan menjadi salah satu cara sederhana untuk ikut menjaga kebersihan lingkungan.

Essai 8 - Upcycling Anorganik dan Berperan sebagai Pelaku Ekonomi Sirkuler

 Upcycling Anorganik dan Berperan sebagai Pelaku Ekonomi Sirkuler 


Rahardian Wicaksono

24310410218

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 8

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Juli 2026

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta 


    Penumpukan sampah anorganik, khususnya botol plastik, merupakan salah satu isu lingkungan terbesar yang memerlukan intervensi nyata dari sudut pandang psikologi lingkungan. Dalam mengubah perilaku konsumtif menjadi sirkuler, pengolahan limbah menjadi produk bernilai guna tinggi (upcycling) dapat menstimulasi kesadaran pro-lingkungan masyarakat. Mengimplementasikan konsep ini, saya melakukan usaha mikro berbasis ekonomi sirkuler dengan memanfaatkan limbah botol plastik bekas dari sampah konsumsi pribadi untuk dikreasikan menjadi produk gantungan kunci selama periode Juni - Juli 2026.

    Proses pembuatan produk ini mengedepankan kreativitas dan efisiensi material. Langkah pertama dimulai dengan mengumpulkan dan membersihkan botol plastik tersebut. Selanjutnya, bagian bawah botol plastik dipotong membentuk pola bunga yang menarik, kemudian dipanaskan secara aman agar permukaannya lebih halus dan kokoh. Potongan-potongan tersebut dipadukan dengan gantungan besi guna menghasilkan aksesori fungsional. Produk ini dipasarkan secara digital melalui media sosial dengan penawaran harga yang sangat terjangkau dan menarik bagi konsumen, yaitu Rp 3.000 untuk paket berisi 2 item gantungan kunci.

    Pemasaran produk dimulai secara resmi pada tanggal 29 Juni 2026. Hingga tanggal 4 Juli 2026, respon awal pasar menunjukkan hasil yang cukup positif dengan berhasil menjual sebanyak 4 item produk. Dari perspektif psikologi konsumen, penetapan harga paket ekonomis ini berhasil memicu minat beli awal karena memberikan persepsi nilai keuntungan yang tinggi bagi pembeli. Namun, dalam proses pemasaran ini menghadapi hambatan situasional yaitu keterbatasan waktu dan tenaga yang saya miliki karena kesibukan pekerjaan utama. Keterbatasan waktu ini membatasi optimalisasi promosi, interaksi aktif dengan calon pelanggan di media sosial, serta konsistensi pembuatan konten kreatif digital. Jika dilihat dari psikologi lingkungan, upaya kecil berbasis ekonomi sirkuler ini membuktikan bahwa sampah anorganik memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan jika didukung oleh konsistensi yang optimal. 

Link Media Sosial: 

https://www.instagram.com/for.betterlifemerch?igsh=aHM5aWw1ZXVnYWRr



ESAI 9: MENJADI NASABAH BANK SAMPAH

 MENJADI NASABAH BANK SAMPAH

Reni Prabandari
24310410221
Kelas Psikologi Lingkungan-B
Tugas Esai 9 (Menjadi Nasabah Bank Sampah)
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta



Bank sampah adalah suatu sistem pengelolaan sampah yang menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), di mana masyarakat dapat menyetorkan sampah yang telah dipilah (seperti plastik, kertas, logam maupun kaca) untuk ditimbang dan dinilai dengan sejumlah uang atau tabungan.

Secara sederhana, bank sampah bekerja seperti bank pada umumnya, tetapi yang disetor bukan uang melainkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi. Sampah tersebut kemudian dijual atau diolah kembali sehingga memberikan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

Pada kesempatan pembelajaran di Mata Kuliah Psikologi Lingkungan ini, Saya belajar untuk menjadi nasabah di bank sampah. Saya manjadi nasabah di Bank Sampah Menur yang beralamat di Rt.02 Rw.08 Kelurahan Cacaban, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang. Bank Sampah tersebut dikelola oleh Pengurus PKK setempat bernama Ibu Lis. Menurut Ibu Lis, Bank Sampah Menur sudah berdiri sekitar hampir 4 (empat) tahun terakhir dengan nasabah warga sekitar dan biasanya uang dari bank sampah tersebut diambil para nasabah jelang Hari Raya Idul Fitri.



Saya menyetorkan sampah berupa botol bekas air mineral pada hari Sabtu, 04 Juli 2026 dan setelah ditimbang terdapat 0,91 kilogram dan terkumpul uang tabungan di bank sampah sebesar Rp.1.530,-. Selanjutnya pada hari Minggu, 05 Juli 2026 saya menyetorkan sampah berupa kardus bekas dan setelah ditimbang terdapat 1,1 kilogram dan terkumpul uang tabungan sebesar Rp.1.400,- dan uang tabungan Saya di bank sampah saat ini sebesar Rp.2.930,-.





Dari kegiatan belajar menjadi nasabah bank sampah tersebut, bisa Kita tarik kesimpulan bahwa tujuan dari bank sampah antara lain adalah:

  • Mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA;
  • Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah;
  • Mendorong kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah;
  • Membentuk perilaku bertanggung jawab dan lebih menghormati sampah;
  • Memberikan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat;
  • Mendukung pelestarian lingkungan melalui kegiatan daur ulang.
Dengan demikian, bank sampah tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan sampah yang dapat didaur ulang, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan pemberdayaan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.