ESSAI 8 : MELAKUKAN UPCYCLING SAMPAH ANORGANIK
MELAKUKAN UPCYCLING SAMPAH ANORGANIK DENGAN MEMBUAT LAMPION NANAS DARI SENDOK PLASTIK
Kinanthi Kembang Asmoro
24310410224
ESSAI VIII
Dosen pengampu Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
1. Promosi di WA
2. Promosi di instagramSampah plastik menjadi salah satu masalah lingkungan yang sering kita temui setiap hari. Salah satu jenis sampah yang paling banyak ditemukan adalah sendok plastik sekali pakai. Biasanya, setelah digunakan sendok plastik langsung dibuang ke tempat sampah tanpa dipikirkan lagi. Padahal, jika kita mau lebih kreatif, sendok plastik bekas bisa diubah menjadi barang yang cantik dan memiliki nilai jual. Karena itu, saya mencoba membuat lampion berbentuk nanas dari sendok plastik bekas sebagai salah satu bentuk upcycling. Kegiatan ini mengajarkan saya bahwa sampah tidak selalu menjadi barang yang tidak berguna, tetapi bisa menjadi produk yang menarik dan bermanfaat.
Ide membuat lampion nanas muncul karena saya melihat banyak kerajinan dari barang bekas di media sosial. Saya ingin membuat sesuatu yang berbeda, mudah dibuat, tetapi tetap memiliki nilai seni. Selain itu, bentuk buah nanas terlihat unik sehingga sangat cocok dijadikan hiasan lampu. Dengan memanfaatkan sendok plastik bekas, saya juga ikut mengurangi sampah plastik yang ada di sekitar rumah.
Bahan yang saya gunakan cukup sederhana, yaitu sendok plastik bekas, botol plastik bekas ukuran 1,5 liter, lem tembak, gunting, cat semprot warna kuning, kertas EVA warna hijau untuk daun nanas, lampu LED, dan kabel lampu. Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengumpulkan sendok plastik bekas, lalu mencucinya hingga bersih dan mengeringkannya. Setelah itu, saya memotong bagian gagang sendok sehingga hanya tersisa bagian cekungnya. Selanjutnya, saya menempelkan potongan sendok tersebut pada permukaan botol plastik menggunakan lem tembak. Penyusunannya dimulai dari bagian bawah ke atas agar menyerupai kulit buah nanas. Setelah semua sendok tertempel dengan rapi, saya mengecat seluruh permukaan menggunakan cat semprot warna kuning. Setelah cat mengering, saya membuat daun nanas dari kertas EVA berwarna hijau dan menempelkannya di bagian atas botol. Terakhir, saya memasang lampu LED di dalam botol sehingga lampion dapat menyala dengan indah.
Selama proses pembuatan, saya mengalami beberapa kesulitan. Awalnya, saya kesulitan menempelkan sendok plastik agar susunannya rapi karena beberapa sendok memiliki ukuran yang berbeda. Selain itu, lem tembak harus digunakan dengan hati-hati agar tidak mengenai tangan. Saya mengatasi masalah tersebut dengan memilih sendok yang ukurannya hampir sama dan menempelkan satu per satu dengan sabar. Walaupun membutuhkan waktu cukup lama, hasil akhirnya membuat saya merasa puas karena lampion terlihat menarik dan unik.
Setelah lampion selesai dibuat, saya mencoba mempromosikannya melalui media sosial seperti WhatsApp Story dan Instagram. Saya memotret lampion dari berbagai sudut agar terlihat lebih menarik, kemudian memberikan deskripsi bahwa produk ini dibuat dari bahan daur ulang yang ramah lingkungan. Saya juga menawarkan harga sekitar Rp80.000 per buah. Walaupun belum banyak yang membeli, beberapa teman memberikan komentar positif dan mengatakan bahwa lampion tersebut cocok dijadikan hiasan kamar, ruang tamu, atau dekorasi acara. Hal ini membuat saya semakin percaya diri untuk mencoba berjualan produk hasil upcycling.
Kegiatan ini juga berhubungan dengan psikologi lingkungan. Banyak orang masih memiliki kebiasaan membuang sampah plastik begitu saja karena menganggapnya tidak berguna. Padahal, jika masyarakat memiliki kesadaran dan kreativitas, sampah dapat diubah menjadi barang yang bermanfaat. Selain itu, dari sisi psikologi konsumen, banyak orang tertarik membeli produk yang unik, memiliki desain menarik, dan ramah lingkungan. Oleh karena itu, lampion nanas dari sendok plastik memiliki peluang untuk diminati karena tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga membantu mengurangi sampah plastik.
Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Dengan memanfaatkan sendok plastik bekas menjadi lampion nanas, saya tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi. Pengalaman ini membuat saya semakin sadar bahwa kreativitas dapat mengubah barang yang dianggap tidak berguna menjadi sesuatu yang bernilai. Saya berharap kegiatan seperti ini dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk mulai memanfaatkan sampah menjadi produk yang bermanfaat, sehingga lingkungan menjadi lebih bersih sekaligus membuka peluang usaha berbasis ekonomi sirkuler.
Link :
https://www.instagram.com/p/Dawsd0UTlbke461QahUt5Kdm9-r7Aqpe5zD3PQ0/



























