Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Selasa, 12 Mei 2026

Essai 3,Kegiatan Before & After

 MAT.KUL : Psikologi Lingkungan Masyarakat

NAMA TUGAS : ESAI 3 - Kegiatan Before & After

DOSEN PENGAMPU : Dr. ARUNDATI SHINTA M.A.

NAMA : AYOM PURWANINGSIH

PRODI : PSIKOLOGI ( KELAS B) 

 Universitas Proklamasi 45


Transformasi Lingkungan Kerja melalui Aksi Bersih Cafetaria 


Pendahuluan

  Lingkungan kerja bukan hanya sekedar tempat menukar waktu dengan penghasilan, melainkan rumah kedua dimana sebagian besar waktu produktif manusia dihabiskan. Sayangnya, kesibukan seringkali membuat kebersihan lingkungan sekitar terabaikan. Penumpukan sampah baik di sudut ruangan kantor, toilet, kantin maupun kafetaria. Baik di bawah meja, maupun di halaman kantor, menjadi pemandangan biasa yang lambat laun menurunkan semangat kerja. Melalui kegiatan intensif yang saya lakukan dengan melakukan transformasi menyeluruh pada area kerja, hal ini saya lakukan untuk menciptakan atmosfer yang lebih kondusif.



Isi Pembahasan

Sebelum ( before ) : 



   Keadaan kotor di area cafetaria kantor saya karena banyak sampah dan asbak yang penuh latu dan puntung rokok berserakan di atas meja cafetaria. Sebelum kegiatan pembersihan dilaksanakan, kondisi lingkungan cafetaria terasa menyesakkan. Pemandangan ini berdampak langsung pada psikologis karyawan. Suasana terasa suram dan kaku, memicu rasa malas, serta mengurangi fokus kerja. Bau tak sedap sesekali muncul menjadi gangguan konsentrasi yang nyata. Lebih jauh, kebersihan yang terabaikan ini berpotensi menjadi sarang kuman dan penyakit. 


Sesudah ( after ) :


   Setelah beberapa meja saya bersihkan, maka tercipta lingkungan Cafetaria yang bersih, rapi, nyaman dan sehat. Dampak positifnya langsung terasa pada produktivitas, lebih nyaman, bersemangat, dan tidak mudah stres. Lingkungan yang bersih menciptakan suasana kerja yang positif dan profesional, yang secara tidak langsung meningkatkan kepuasan dalam bekerja. 


Kesimpulan

  Kegiatan membersihkan sampah di lingkungan kerja bukan sekadar memindahkan kotoran dari satu tempat ke tempat lain, melainkan sebuah bentuk investasi kesehatan dan produktivitas. Aksi "before-after" ini membuktikan bahwa lingkungan yang tertata rapi, bersih, dan higienis mampu mengubah semangat kerja menjadi lebih maksimal. Dan kegiatan selalu menjaga kebersihan ini dapat juga kita lakukan di lingkungan kerja termasuk Cafetaria karyawan. Kebersihan adalah tanggung jawab bersama, dan wajah baru ruang kerja yang bersih adalah cerminan dari budaya kerja yang disiplin dan berkualitas. 





Senin, 11 Mei 2026

ESAI PRESTASI (EPRES) BERPARTISIPASI DALAM KEGIATAN KEMASYARAKATAN

 BERPARTISIPASI DALAM KEGIATAN KEMASYARAKATAN (MENJADI NARASUMBER PENERANGAN HUKUM DI LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL DAN MEMBANTU KEGIATAN  WARGA DI LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL)


Reni Prabandari
24310410221
Kelas Psikologi Lingkungan-B
Tugas Esai Prestasi
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta



Pelayanan masyarakat merupakan salah satu bentuk kepedulian sosial yang dilakukan untuk membantu lingkungan sekitar serta meningkatkan kesejahteraan bersama. Kegiatan ini dapat berupa kerja bakti, pembagian bantuan sosial, edukasi kesehatan, penanaman pohon, hingga kegiatan membersihkan lingkungan. Dalam kehidupan bermasyarakat, pelayanan masyarakat memiliki peran penting karena mampu menumbuhkan rasa empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial antar individu.

Kegiatan pelayanan masyarakat juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan sosial. Ketika masyarakat bekerja sama dalam suatu kegiatan, muncul rasa kebersamaan dan saling membantu tanpa memandang perbedaan latar belakang.

Sebagai makhluk sosial yang bermasyarakat, Saya juga sering berpartisipasi dalam kegiatan pelayanan masyarakat. Kegiatan - kegiatan tersebut di antaranya adalah:

1. Menjadi Narasumber dalam Kegiatan Pertemuan Kader PKK di Lingkungan Tempat Tinggal

Pada hari Minggu, tanggal 12 April 2026 pukul 16.00 WIB s/d pukul 17.30 WIB telah dilaksanakan pertemuan rutin PKK Perum Pesona Kota Mungkid RW 15 Desa Donorojo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang. Saya juga menjadi salah satu kader PKK di lingkungan tersebut. Karena background pekerjaan Saya, Saya kerap memberikan penerangan hukum saat kegiatan pertemuan rutin tersebut. Dalam kesempatan tersebut Saya memberikan penerangan hukum tentang Undang- Undang Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) yang disambut antusias oleh Ibu-Ibu yang hadir terbukti dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan. Harapan Saya semoga sedikit ilmu yang Saya berikan bisa bermanfaat bagi Ibu-Ibu Kader PKK di lingkungan tempat tinggal Saya.

   



2. Membantu Kegiatan Warga di Lingkungan Tempat Tinggal

Pada hari Minggu, tanggal 26 April 2026 sekitar pukul 08.00 WIB s/d 10.00 WIB telah dilaksanakan kegiatan kerja bakti warga Perum Pesona Kota Mungkid RW 15 Desa Donorojo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Bapak-Bapak, sedangkan Ibu-Ibu diberikan tugas memasak untuk dihidangkan kepada Bapak-Bapak tersebut, Saya pun turut membantu dalam kegiatan tersebut.



Kegiatan pelayanan masyarakat tidak hanya memberikan manfaat secara fisik, tetapi juga memperkuat hubungan sosial di lingkungan sekitar.

Selain itu, pelayanan masyarakat memberikan pengalaman berharga bagi individu yang terlibat. Melalui kegiatan ini, seseorang belajar untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan memahami kondisi orang lain. Sikap peduli terhadap sesama akan semakin berkembang sehingga terbentuk karakter yang lebih bertanggung jawab dan peka terhadap permasalahan sosial. 

Namun, keberhasilan pelayanan masyarakat membutuhkan partisipasi aktif dari semua pihak. Kesadaran masyarakat untuk ikut terlibat menjadi faktor penting agar kegiatan dapat berjalan dengan baik dan memberikan dampak positif yang berkelanjutan. 

Kesimpulannya, kegiatan pelayanan masyarakat merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Kegiatan ini tidak hanya membantu menyelesaikan permasalahan sosial, tetapi juga menumbuhkan nilai-nilai kebersamaan, empati, dan tanggung jawab sosial. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang terlibat dalam pelayanan sosial, maka kehidupan bermasyarakat akan menjadi lebih harmonis, sehat, dan sejahtera.












Essai 7 : Belajar di TPST Randu Alas

 

Pengelolaan Sampah di TPST Randu Alas sebagai Upaya Menjaga Lingkungan

Pingkan Winahyuningtyas

24310410234

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 7

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Pada hari Selasa, 5 Mei 2026 pukul 12.00 sampai 13.30 WIB, saya melakukan kunjungan observasi ke TPST Randu Alas yang beralamatkan di Candi Karang, Sardonoharjo, Ngaglik , Sleman, untuk belajar dan melihat secara langsung proses pengelolaan sampah. Dalam kegiatan ini, saya bertemu dan melakukan wawancara dengan Pak Joko, salah satu pengurus di TPST tersebut. Tempat pengolahan sampah ini memiliki sekitar 10 orang karyawan yang setiap hari bertugas mengelola sampah dari masyarakat.

Di lokasi tersebut terdapat beberapa alat pengolahan sampah, yaitu satu alat pemilahan, satu alat pres, satu alat penghancur, satu tempat pembakaran untuk sampah residu yang sudah tidak dapat didaur ulang serta alat lainnya seperti timbangan. Sampah yang masuk tidak langsung diproses, tetapi terlebih dahulu dipilah berdasarkan jenisnya seperti plastik, botol, kertas, dan sampah organik. Proses pemilahan sangat penting karena sampah yang sudah dipilah memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan sampah campuran.

Dalam proses pengolahan sampah, salah satu inovasi yang digunakan adalah pemanfaatan air lindi. Air lindi merupakan cairan yang berasal dari tumpukan sampah organik. Cairan ini diolah menjadi eco lindi, yaitu cairan penetral bau sampah yang ramah lingkungan. Eco lindi dibuat oleh Rania Naura, salah satu mahasiswi Biologi UGM, dengan mencampurkan air lindi, molase atau tetes tebu, katalis organik, dan asam sulfat. Hasil campuran tersebut mampu mengurangi bau menyengat pada sampah sekaligus membantu proses penguraian limbah organik.

Pemanfaatan eco lindi menjadi inovasi yang sangat bermanfaat karena dapat menjaga lingkungan sekitar tetap nyaman dan tidak menimbulkan bau yang mengganggu masyarakat. Pak Joko menjelaskan bahwa pengendalian bau sangat penting karena lokasi pengolahan sampah berada dekat dengan area kegiatan masyarakat yang cukup ramai. Selain itu, proses pembakaran sampah juga dibatasi hanya dari pukul 08.00 hingga 13.00 WIB agar tidak mengganggu lingkungan sekitar.

Menurut Pak Joko, pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar. pengelolaan dilakukan dengan cukup tertata, mulai dari pengendalian bau, pembatasan pembakaran, hingga proses pengolahan yang cepat agar sampah tidak menumpuk terlalu lama.

Pak Joko juga menceritakan awal mula dirinya serius mengelola sampah. Kesadaran tersebut muncul karena pada tahun 2010 lingkungan tempat tinggalnya mengalami masalah kesehatan akibat banyaknya sampah yang menumpuk. Sampah menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk sehingga menyebabkan kasus Demam Berdarah (DB). Kondisi semakin parah pada tahun 2013 ketika terdapat 13 warga yang terkena DB, termasuk anak Pak Joko sendiri. Kejadian tersebut menjadi titik awal bagi beliau untuk mencari solusi pengelolaan sampah yang lebih baik.

Setelah itu, Pak Joko mulai mengikuti berbagai sosialisasi lingkungan dan program bank sampah melalui relasi dengan pihak Kementerian Lingkungan Hidup. Pada tahun 2015, beliau mendapatkan dukungan dana sekitar Rp400 juta untuk mengembangkan fasilitas pengelolaan sampah. Pada awalnya seluruh proses masih dilakukan secara manual tanpa bantuan mesin modern sehingga membutuhkan banyak tenaga dan waktu. Namun, seiring berjalannya waktu fasilitas mulai berkembang dan mendapatkan bantuan alat dari pemerintah.

Dalam pengelolaan sehari-hari, masyarakat yang menggunakan layanan pengambilan sampah di TPST Randu Alas dikenakan iuran operasional sekitar Rp75.000 per bulan untuk rumah tangga dan Rp25.000 untuk kos-kosan. Iuran tersebut digunakan untuk kebutuhan operasional seperti transportasi, listrik, alat pengolahan, dan biaya pengelolaan sampah lainnya.

Di area belakang lokasi, sebelumnya pernah digunakan sebagai tempat budidaya maggot. Namun, kegiatan tersebut dihentikan sementara karena pada masa darurat sampah tahun 2023 area tersebut dipenuhi tumpukan sampah sehingga dialihfungsikan untuk mendukung proses pengelolaan lainnya.

Pak Joko juga menjelaskan bahwa sampah yang sudah di olah ada yang di distribusikan dalam jumlah besar ke wilayah Cilacap untuk dimanfaatkan oleh pabrik semen sebagai bahan campuran atau bahan bakar alternatif. Pada pengiriman sebelumnya jumlah sampah yang berhasil dikirim mencapai 1,5 ton, bahkan pada bulan berikutnya meningkat hingga 3 ton. Hal ini menunjukkan bahwa sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai ternyata dapat dimanfaatkan kembali dan memiliki nilai ekonomi.

Dari hasil observasi ini dapat disimpulkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan proses yang terstruktur mulai dari pemilahan, pengeringan, penghancuran, penyemprotan eco lindi, pengepresan, hingga pengiriman hasil olahan. Sampah yang awalnya dianggap tidak berguna ternyata dapat memiliki nilai ekonomi dan dimanfaatkan kembali dalam bidang industri maupun pertanian.

Kegiatan di TPST Randu Alas menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan hidup. Dengan adanya inovasi seperti eco lindi, dukungan pemerintah, serta partisipasi masyarakat, pengelolaan sampah dapat menjadi solusi untuk mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Lampiran

          

           





 

Tugas                    : Esai 7 – MANAGEMEN PENGELOLAAN SAMPAH DI   TINGKAT TPST 

Nama MK            : Psikologi Lingkungan 

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A. 

Kelas                    : Karyawan (online)

Titik Muti’ah       (243010440004)  

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta 

KUNJUNGAN: 

Hari/Tanggal :  Sabtu, 2 Mei 2026

Waktu :            09.00 -11.30 

Tempat :          TPS Randu Alas, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa        Yogyakarta.


       Tugas                    : Esai 7 – MANAGEMEN PENGELOLAAN SAMPAH DI   TINGKAT TPST 

Nama MK            : Psikologi Lingkungan 

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A. 

Kelas                    : Karyawan (online)

Titik Muti’ah       (243010440004)  

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta 


KUNJUNGAN: 

Hari/Tanggal :  Sabtu, 2 Mei 2026

Waktu :            09.00 -11.30 

Tempat :          TPS Randu Alas, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa        Yogyakarta.

 
   

TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) Randu Alas melakukan pengelolaan sampah secara terpadu melalui pemilahan, pengomposan dan daur ulang (3R) dan pemrosesan sampah, yang bertujuan mengubah sampah menjadi sumber daya. Di TPST ini sudah memiliki teknologi pemilahan, mesin pencacah, kompos, atau insinerator sederhana (manual). 

Kondisi TPS cukup padat oleh tumpukan sampah terutama pada jam-jam tertentu. Aroma sampah cukup kuat, khususnya dari sampah organik yang membusuk. Namun demikian, petugas tetap berupaya menjaga kebersihan area dengan melakukan pemindahan dan pengangkutan secara rutin. Tersedia beberapa fasilitas pendukung seperti: Area penampungan sampah, VIAR/kendaraan pengangkut, tempat pemilahan sampah, peralatan kerja. Meskipun demikian, masih diperlukan peningkatan fasilitas seperti alat pelindung diri yang memadai, dan penataan area agar lebih tertib.

TPST Randu Alas menyelesaikan masalah sampah masyarakat tiap hari minimal tiga viar pengambilan sampah dari pelanggan. melakukan pemilahan atau pengolahan. Jadi setelah masuk dipilahkan antara organik dan an-organik. Yang organik dibikin kompos, diantaranya  seperti sisa makanan, sisa sayuran, ranting-ranting, daun, seperti itu yang ditumpuk di sebelah barat kantor. Terus diberi fermentasi juga ecoenzym untuk mempercepat dan untuk menghilangkan bau yang nanti berimbas kepada lingkungan sekitar. SOPnya selama 40 hari  organik sudah bisa dipanen. 

Kendalanya pembuangan dengan adanya tobong pembakar ini udah terselesaikan, jadi sampah selesai di TPST. Cuman masalahnya masih asapnya itu masih bermasalah dan beberapa kali dikomplain oleh warga karena asapnya. Terus masyarakat diajak musyawarah beberapa pedukuhan, diajak ke TPST untuk berembuk tentang permasalahan pembakaran yang ada di TPS. Karena kalau tidak bisa dibakar otomatis numpuk, numpuk juga nanti jadi masalah bau. Kalau dibakar itu asapnya seperti itu. Nah, makanya ada kesepakatan antara warga dengan TPS untuk pembakaran dikasih jadwal cuma setengah hari. Jadi jam satu siang udah selesai. 

Pengelola TPS3R Randu Alas, Joko Tri Waluyo, menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah bergantung pada kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah. “Kami terus mengedukasi warga tentang pentingnya memilah sampah. Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk kompos, sementara sampah anorganik seperti plastik dan kertas bisa didaur ulang atau dijual Kembali, padahal yang anorganik dikembalikan ke pabrik, yang an organic bisa sampai  tujuh belas item. 

Sosialisasi ke masyarakat bahwa sampah itu bisa dikelola atau dipilah dari sumbernya tapi merubah mindset masyarakat.  Dalam sosialisasi bagaimana cara menanganan sampah bagaimana kita memperlakukan sampah bagaimana juga kita pasca pengolahan sampah itu kenapa harus dipilah dan gimana caranya, makanya masih banyak kendala dan dari pelanggan-pelanggan kita itu paling baru dua puluh sampai dua puluh lima yang bisa untuk pemilahan secara rutin, itu kendala kita. Sebenarnya kalau sampah sudah dipilah dari sumbernya itu lebih meringankan dan lebih untuk menghindari masalah pembusukan dan juga masalah bau yang timbul di lingkungan sampah itu



      


    



ESSAI I - MERINGKAS JURNAL SAMPAH

 

ESSAI 1 – MERINGKAS JURNAL TERKAIT SAMPAH

 



Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Tugas : Esai 1 – Meringkas Jurnal

Dosen Pengampu : Arundati Shinta

Nama : Mico Alan Sebastian

NIM : 22310410013

Kelas : Psi Sj

 

Topik

Perilaku Pro-Lingkungan dalam Pengelolaan Sampah

 

Sumber Jurnal

Asteria, D., & Heruman, H. (2020). Faktor determinan perilaku pro lingkungan mengelola sampah ditinjau dari perspektif Health Belief Model. IDEA: Jurnal Psikologi, 4(1). https://ejournal.undar.or.id/index.php/idea/article/view/226

 

Permasalahan

Permasalahan dalam penelitian ini adalah masyarakat masih memiliki kesadaran rendah dalam melakukan pengelolaan sampah. Perilaku membuang sampah secara sembarangan dan belum kepedulian terhadap lingkingan masih melekat di tengah masyarakat. Dengan kurangnya kepedulian dan kesadaran terhadap pengelolaan sampah akan menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan, banjir, maupun gangguan kesehatan.

 

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pro-lingkungan di tengah masyarakat dalam melakukan pengelolaan sampah berdasarkan perspektif Health Belief Model.

 

Isi Jurnal

Bahwa perilaku masyarakat terhadap sampah dipengaruhi oleh faktor psikologis dan lingkungan sosial. Penelitian ini menjelaskan bahwa seseorang akan melakukan perilaku sehat atau positif apabila merasa ada ancaman dan menyadari pentingnya tindakan tersebut, penelitian ini menggunakan konsep Health Belief Model. Dalam pengelolaan sampah, masyarakat akan lebih peduli apabila mereka merasa bahwa sampah dapat membahayakan kesehatan dan lingkungan sekitar.

Selain faktor internal perilaku masyarakat juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yakni dorongan lingkungan sekitar, ajakan, dan contoh perilaku dari orang lain. Banyaknya masyarakat yang merasa bahwa pengelolaan sampah merupakan hal yang sulit dan merepotkan sehingga hal tersebut mempengaruhi kepedulian masyarakat terhadap lingkungan rendah.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian dilakukan terhadap 177 responden untuk mengetahui hubungan antara faktor psikologis dengan perilaku pengelolaan sampah. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis berdasarkan teori Health Belief Model.

 

Hasil Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku pengelolaan sampah, yaitu perceived susceptibility, cues to action, dan perceived barrier. Perceived susceptibility berarti seseorang merasa bahwa sampah dapat memberikan dampak buruk bagi dirinya. Cues to action adalah dorongan dari lingkungan untuk menjaga kebersihan. Sedangkan perceived barrier adalah hambatan yang dirasakan seseorang dalam mengelola sampah.

Semakin tinggi kesadaran seseorang terhadap dampak sampah dan semakin banyak dukungan dari lingkungan, maka perilaku peduli lingkungan juga semakin tinggi. Sebaliknya, jika seseorang merasa banyak hambatan, maka kepeduliannya terhadap lingkungan akan menurun.

 

Diskusi / Pembahasan

Menurut saya jurnal ini sangat menarik karena sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini yang masih membuang sampah secara sembarangan tanpa memikirkan dampak terhadap lingkungan maupun kesehatan, kurangnya kesadaran juga akan menurunkan minat mat masyarakat untuk melakukan pengelolaan sampah karena merasa sangat merepotkan dibandingnkan harus membuang sampah secara instan.

Rendahnya kesadaran dan kepedulian masyarakat perlu dibentuk secara perlahan melalui edukasi, pembiasaan, maupun memberikan contoh nyata kepada masyarakat sehingga masyarakat ikut terdorong untuk saling memberikan contoh positif serta perlunya dukungan pemerintah setempat untuk memberikan fasilitas pengelolaan sampah sehingga perilaku pro-lingkungan akan semakin berkembang di tengaah masyarakat.

 

Kesimpulan

Perilaku pengelolaan sampah dipengaruhi oleh tiga faktor yakni faktor psikologis, faktor kesadaran individu, dan faktor dukungan oleh lingkungan sekitar. Seseorang yang memiliki kesadaran tinggi terhadap dampak sampah, maka semakin tinggi juga perilaku pediuli lingkunganya.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka diperluukan edukasi dan pembiasaan agar masyarakat memiliki perilaku pro-lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.