Belajar Merawat Sesama dan Bumi Lewat Rumah Singgah Perjalanan hidup saya sebagai seorang wanita karier dan pelaku usaha mengajarkan saya banyak hal tentang kerja keras. Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa pencapaian terbesar dalam hidup bukanlah tentang seberapa lama kita memegang kendali di depan, melainkan tentang apa yang bisa kita wariskan kepada generasi penerus. Dari situlah saya tergerak untuk merintis sebuah rumah singgah dan yayasan relawan sederhana. Niatnya murni: ingin menyediakan tempat yang aman bagi siapa saja yang membutuhkan sekaligus ruang belajar bagi siapa pun yang ingin berbagi kebaikan. Sejak awal mendirikan yayasan ini, saya sadar bahwa niat baik saja tidak cukup; gerakan sosial ini harus dikelola dengan benar. Bersama beberapa orang rekan ahli, instansi, dan komunitas sekitar, saya ikut merancang fondasi dan aturan dasarnya agar kegiatan ini berjalan dengan rapi. Namun, ketika tiba saatnya untuk dijalankan, saya meminta kedua putri saya untuk memegang penuh peran sebagai founder. Saya ingin mereka tidak setengah-setengah, melainkan menjalaninya secara totalitas dan profesional—mulai dari mengatur program, berkoordinasi dengan berbagai pihak, hingga memikirkan dampak nyata bagi para penerima manfaat, terutama anak-anak dari panti sosial, anak-anak kurang mampu di daerah tertentu, anak-anak korban tindak kekerasan, hingga anak-anak terlantar yang sering kali memikul beban hidup teramat berat di usia muda. Tidak hanya berfokus pada penerima manfaat, di dalam yayasan ini kami juga membangun sistem manajemen relawan (volunteer management) yang terarah. Kami ingin yayasan ini tidak sekadar menjadi tempat memberi bantuan, tetapi juga menjelma menjadi rumah dan wadah yang hidup bagi anak-anak muda di luar sana. Melalui manajemen relawan yang dikelola secara profesional oleh putri-putri saya, kami berupaya merangkul, membimbing, dan menumbuhkan jiwa sosial generasi muda, mengajak mereka keluar dari rasa apatis untuk turut merasakan indahnya berbagi dan peduli pada sesama. Keputusan saya meminta mereka turun tangan secara total bukan tanpa alasan. Kedua putri saya saat ini sedang menempuh pendidikan kedokteran. Sebagai seorang ibu, saya tahu bahwa buku-buku di kampus mengajarkan banyak hal tentang tubuh manusia. Tapi saya juga percaya, menjadi dokter yang baik butuh lebih dari sekadar nilai yang bagus; mereka butuh jiwa yang peka dan lapang. Melalui yayasan relawan ini, saya ingin mereka belajar memimpin secara nyata, menempa kualitas diri, kedisiplinan, serta ketulusan dalam mendampingi para penerima manfaat sekaligus menggerakkan para relawan muda. Dalam proses mendampingi mereka dari balik layar, kami sering berdiskusi tentang psikologi lingkungan. Kami melihat kenyataan di lapangan bahwa lingkungan yang kotor, penuh tumpukan sampah, dan tidak terawat sering kali membuat anak-anak di rumah singgah merasa semakin tertekan secara mental dan kehilangan rasa percaya diri. Karena itu, putri-putri saya bersama para relawan merancang program intervensi yang berakar dari kepedulian lingkungan.
Friday, 6 November 2026
Analisis Aksi Plogging dan Tata Kelola Sampah Berkelanjutan dalam Perspektif Psikologi Lingkungan
Persoalan lingkungan sering kali
direduksi menjadi perdebatan teknis pengelolaan limbah, padahal krisis ekologi
berakar langsung dari perilaku manusia itu sendiri. Aktivitas harian seperti
membersihkan taman dari sisa dedaunan dan ranting pohon, memilah limbah makanan
secara higienis, serta mengumpulkan dan mengelompokkan kardus serta sampah
plastik untuk jalur daur ulang, bukan sekadar pekerjaan domestik atau
pembersihan fisik semata. Dari sudut pandang psikologi lingkungan, intervensi
operasional ini merefleksikan konvergensi antara kesadaran kognitif dan
tindakan nyata (pro-environmental behavior).
Golden Point 1: Transformasi
Ruang dan Place Attachment (Keterikatan Tempat)
Secara teoretis, keterlibatan
aktif individu dalam merawat fasilitas public seperti membersihkan dan menata
taman memicu mekanisme psikologis berupa place attachment (keterikatan tempat).
Ketika seseorang secara fisik merawat sebuah ruang, terjadi pergeseran persepsi
dari ruang publik yang abstrak menjadi ruang yang memiliki makna personal. Hal
ini menumbuhkan rasa kepemilikan (sense of belonging) yang secara otomatis
melahirkan tanggung jawab internal untuk menjaga keberlangsungan ekosistem
lingkungan tersebut tanpa harus menunggu regulasi eksternal.
Golden Point 2: Penguatan Environmental Self-Efficacy Melalui Intervensi Sistemik
Aspek krusial berikutnya terletak
pada efikasi diri lingkungan (environmental self-efficacy). Tindakan terstruktur
seperti memilah sampah organik untuk kompos, mengamankan limbah makanan, hingga
mengelola kardus dan material plastik memberikan umpan balik empiris (empirical
feedback) kepada pelaku. Individu tidak hanya berwacana tentang pelestarian,
melainkan memvalidasi kapasitas diri mereka bahwa tindakan mikro yang konsisten
mampu menghasilkan dampak makro yang terukur.
Golden Point 3: Ekotret (Social Modeling) dan Normatif Kolektif
Lebih jauh lagi, kegiatan kolaboratif di ruang terbuka berfungsi ganda sebagai bentuk social modeling (teladan sosial). Dalam kerangka psikologi sosial-lingkungan, norma deskriptif dan injungtif terbentuk secara organik ketika komunitas melihat aksi nyata pengelolaan sampah dilakukan secara kolektif. Perilaku peduli lingkungan bertransformasi dari sekadar pilihan individual menjadi norma sosial yang diadopsi oleh sistem sosial yang lebih luas.
Kesimpulan
Pada akhirnya, narasi dan praktik
pengelolaan sampah berbasis daur ulang ini menegaskan bahwa keberlanjutan
lingkungan tidak lahir dari ruang kelas teoretis semata, melainkan dari
disiplin perilaku harian. Integrasi antara aksi fisik pembersihan dan kesadaran
psikologis membuktikan bahwa mengubah lingkungan luar menuntut restorasi
kesadaran internal, menjadikan pelestarian alam sebagai cerminan dari
kematangan tata kelola perilaku manusia itu sendiri.
Friday, 16 October 2026
Karakteristik Masyarakat Kerinci dalam Melestarikan Tradisi Gotong Royong pada Kegiatan Kenduri di Setiap Desa
Karakteristik Masyarakat Kerinci dalam Melestarikan Tradisi Gotong Royong pada Kegiatan Kenduri di Setiap Desa
I.
Pendahuluan
Hubungan
antarmanusia dan lingkungan sosialnya membentuk norma serta kebudayaan yang
diwariskan secara turun-temurun. Ruang tempat masyarakat berkumpul bukan
sekadar wadah fisik, melainkan menjadi sarana interaksi yang mempererat rasa
kebersamaan, rasa saling memiliki, dan kepedulian antarsesama.
Di Kabupaten
Kerinci, Provinsi Jambi, nilai-nilai sosial ini terpelihara secara nyata
melalui tradisi gotong royong dalam persiapan acara kenduri. Keterlibatan
langsung di tengah kegiatan warga seperti di Foto di Desa Belui ini memberikan
gambaran nyata tentang bagaimana kearifan lokal ini dirawat secara kolektif
oleh masyarakat dari berbagai lintas generasi.
II.
Pelaksanaan Kegiatan dan Kebersamaan di Lapangan
Dalam suasana
hajatan kenduri di rumah salah satu warga di Desa Belui, hangatnya kebersamaan
dan semangat gotong royong terasa begitu hidup. Dokumentasi foto menggambarkan momen-momen
sederhana namun berkesan yang terjadi secara nyata di lapangan:
1. Duduk Bersama Mengolah Bahan Makanan
Kegiatan
diawali dengan berkumpul dan duduk lesehan bersama ibu-ibu warga desa di
halaman. Sambil mengupas dan memotong nangka muda (tatani) dalam jumlah besar,
suasana terasa begitu dekat dan hangat tanpa ada jarak antarwarga.
2. Keceriaan dan Kerja Sama di Dapur:
Keseruan
berlanjut saat para perempuan bekerja sama memeras santan secara tradisional
menggunakan wadah bersama. Setiap orang dengan cekatan mengambil peran
masing-masing demi membantu kelancaran acara sang pemilik rumah.
3. Memasak Bersama dengan Kuali Besar
Proses memasak
dilakukan di area terbuka menggunakan tungku kayu bakar dan wajan besar.
Ibu-ibu saling bahu-membahu menyiapkannya, mulai dari menuangkan minyak goreng,
mengaduk gulai nangka, gulai daging, hingga masakan khas lainnya di tengah
kepulan asap kayu bakar. Mereka juga secara bergantian menjaga nyala api tungku
agar seluruh hidangan matang dengan sempurna.
4. Wujud Apresiasi Tuan Rumah
Di tengah
kesibukan menyiapkan masakan porsi besar untuk tamu kenduri, beberapa warga
secara khusus berbagi tugas memasak hidangan tersendiri untuk ibu-ibu yang
hadir membantu. Bentuk perhatian ini merupakan tradisi khas desa yang
menunjukkan rasa terima kasih dan pemuliaan tuan rumah terhadap tetangga yang
telah sukarela menyumbangkan tenaga dan waktunya sejak pagi.
5. Tradisi Saling Membantu dan Membawa Bawaan
Bentuk
kebersamaan warga juga terlihat dari kebiasaan datang membantu sambil membawa
bahan masakan secara sukarela dan bergantian seperti minyak goreng, kelapa,
nangka muda, atau beras. Kebiasaan saling menolong ini sudah menjadi tradisi
yang melekat di desa-desa Kerinci, seperti Desa Belui, Siulak, Koto Majidin, Sekungkung,
Tebat Ijuk, Koto Tua, Koto Payang, Kubang dan juga desa desa lainnya.
6. Makan Bersama Sebelum Pulang
Setelah seluruh
rangkaian persiapan selesai, sebelum kembali ke rumah masing-masing, seluruh
warga dan ibu-ibu yang membantu duduk bersama untuk menikmati hidangan yang
telah disiapkan khusus. Momen makan bersama ini menjadi puncak kehangatan, di
mana obrolan santai, canda tawa semakin menghidupkan suasana kekeluargaan yang
sudah diwariskan secara turun-temurun ini.
III.
Informasi Tambahan Menarik Dikerinci "Kenduri Sko" Puncak Perhelatan
Adat Agung Masyarakat Kerinci
Selain kenduri
skala desa atau hajatan warga, semangat gotong royong masyarakat Kerinci ini
mencapai puncaknya pada perhelatan adat terbesar di Kerinci, yaitu Kenduri Sko.
1. Keterlibatan Lintas Elemen Masyarakat
Berbeda dengan kenduri harian di tingkat RT atau dusun, Kenduri Sko merupakan perhelatan adat agung yang melibatkan seluruh elemen masyarakat Kerinci secara luas mulai dari pemuka adat (Depati Ninik Mamak), ulama, tokoh masyarakat, pemuda-pemudi, hingga seluruh warga dari berbagai luhah dan desa.
2. Makna dan
Ritual Sakral
Kenduri Sko
diselenggarakan sebagai wujud rasa syukur atas keberkahan hasil bumi, ajang
pembersihan serta penampakan kembali benda-benda pusaka leluhur (sko),
sekaligus prosesi pengukuhan pemuka adat setempat.
3. Gotong Royong Kolosal dan Aset Pariwisata:
Persiapan Kenduri Sko melibatkan kerja sama kolosal ribuan warga yang bahu-membahu menyiapkan pertunjukan seni tradisional, penataan ruang adat, hingga konsumsi warga. Kini, kesakralan dan kehangatan gotong royong dalam Kenduri Sko telah bertransformasi menjadi aset pariwisata budaya unggulan Kabupaten Kerinci yang dikenal luas hingga tingkat internasional.
IV. Kesimpulan
Thursday, 8 October 2026
Ringkasan Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Ringkasan Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Oleh : Indah Perwita Sari (25310410025)
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Judul Jurnal & Penulis:
Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga melalui Bank Sampah di Desa Sidakarya Denpasar Selatan oleh I Nyoman Widnyana Wartama dan Ni Putu Sawitri Nandari.
Latar Belakang & Masalah
Provinsi Bali menghasilkan ribuan ton sampah setiap harinya dengan mayoritas bersumber dari kawasan padat aktivitas seperti Denpasar, Badung, dan Gianyar. Secara spesifik, Desa Sidakarya menghadapi kendala lingkungan berupa volume sampah yang menumpuk serta timbulnya bau kurang sedap yang mencemari udara.
Metode & Pendekatan
Pelaksanaan.
- Menggunakan konsep
pemberdayaan masyarakat berbasis gotong royong dan rekayasa sosial (social
engineering) untuk menumbuhkan kesadaran kolektif.
- Menerapkan metode SOS (Sort Out, Saved) yang dirancang untuk mempermudah masyarakat mengingat dan mengaplikasikan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), yang mencakup tahapan pemilahan sampah, pengumpulan, hingga penabungan sampah organik maupun non-organik ke Bank Sampah Lestari.
Mekanisme & Nilai Tambah:
- Sampah yang disetorkan oleh
warga ditimbang, dicatat dalam buku nasabah, dan dikonversi ke dalam bentuk
nilai ekonomis berdasarkan kesepakatan harga. Warga dapat menarik tabungan
mereka setiap tanggal 5, yang sengaja disesuaikan dengan jadwal arisan PKK guna
mempermudah proses administrasi.
- Program ini memberikan dampak multidimensi: menciptakan lingkungan yang bersih dan asri, meningkatkan kepedulian sosial masyarakat, serta memberikan tambahan penghasilan ekonomi bagi warga yang sebelumnya justru harus mengeluarkan biaya untuk pengangkutan sampah.
Kesimpulan
Bank sampah merupakan strategi pengelolaan sampah rumah tangga yang efektif dari sudut pandang psikologi lingkungan karena mampu mengubah perilaku masyarakat melalui insentif ekonomi, membangun budaya kebersihan, serta menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Daftar Pustaka
- Muhajir, Anton. (2019). "Inilah Data dan Sumber Sampah Terbaru di Bali", https://www.mongabay.co.id/2019/07/02/inilah-data-dan-sumber-sampah-terbaru-di-bali/, diakses pada 15 Juni 2020 pukul 14.38 WITA.
- Nathan, A. J., & Scobell, A. (2012). Buku Panduan Bank Sampah Unilever. Foreign Affairs, p. 6. doi: 10.1017/CBO9781107415324.004.
- Oktaviani, dkk., N. (2017). 'Analisis Pengelolaan dan Dampak Sampah Terhadap Konsumsi Warga Sekitar Tempat Pembuangan Akhir', Qawanïn: Journal of Economic Syaria Law, 1(1), pp. 83-105. doi: 10.30762/q.v1i1.487.
- Pratama, R. A., & Ihsan, I. M. (2017). 'Peluang Penguatan Bank Sampah Untuk Mengurangi Timbulan Sampah Perkotaan Studi Kasus: Bank Sampah Malang', Jurnal Teknologi Lingkungan, 18(1), p. 112. doi: 10.29122/jtl.v18i1.1743.
- Sidarling. (2020). "Portal sadar dan Peduli Lingkungan", https://sidarling.denpasarkota.go.id/id/Beranda, diakses pada 19 Juni 2020 pukul 13.19 WITA. Taqim, N. (2007). Buku Panduan Mengelola Sampah Rumah Tangga Dengan Prinsip 4R.
- Theron, G. B. (2016). 'Sustainable development goals', Obstetrics and Gynaecology Forum, 26(1), p. 1. doi: 10.5005/jp/books/13071_5.
- Wikipedia. (2018). "Kota Denpasar", https://min.wikipedia.org/wiki/Kota_Denpasar, diakses pada 19 Juni 2020 pukul 13.09 WITA.
- Wikipedia. (2019). "Pemberdayaan Masyarakat", https://id.wikipedia.org/wiki/Pemberdayaan_masyarakat, diakses pada 25 Juni 2020 pukul 11.30 WITA.
- Wikipedia. (2020). "Bank Sampah", https://id.wikipedia.org/wiki/Bank_sampah#Manfaat, diakses pada 6 Agustus 2020 pukul 11.14 WITA.
Monday, 20 July 2026
ESSAI 12 UJIAN AKHIR PSIKOLOGI LINGKUNGAN KELAS KARYAWAN JULI 2026
MAT.KUL : Psikologi Lingkungan
DOSEN PENGAMPU : Dr. ARUNDATI SHINTA M.A.
NAMA : AYOM PURWANINGSIH
NIM : 24310410227
FAKULTAS : PSIKOLOGI ( KELAS B)
Universitas Proklamasi 45
AMBISI SAYA SEBAGAI MAHASISWA PSIKOLOGI 45 YOGYAKARTA DALAM KETERAMPILAN MENGOLAH SAMPAH
Pendahuluan
Timbulan sampah organik rumah tangga terus meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk, menimbulkan masalah bau dan penumpukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pengomposan adalah salah satu solusi yang efektif, namun proses ini sering kali bergantung pada bio-aktivator komersial yang membutuhkan biaya tambahan. Eksperimen yang saya dan teman-teman satu kelas laksanakan pada hari Minggu, 17 Mei 2026 di rumah dosen kami ibu Dr. Arundati Shinta M. A , ini bertujuan untuk menguji efektivitas ekstrak kulit buah-buahan sebagai bio-aktivator alami sebagai eco-enzym dan sampah dari daun pisang untuk mempercepat proses dekomposisi sampah daun kering.
Metodologi Eksperimen Membuat Kompos
Penelitian ini menggunakan metode eksperimental rancangan pembuatan kompos sebagai berikut:
Belajar bertanggung jawab terhadap sampah kita sendiri, yaitu dengan meletakkan sampah sesuai tempatnya masing-masing menurut jenisnya yaitu sampah daun pisang dan sampah bungkus plastik. Sampah plastik dapat kita setorkan ke bank sampah. Sedangkan sampah daun pisang kita olah menjadi kompos dengan merajangnya menjadi kecil-kecil dicampur rata dengan dedak + kapur tani + POC + rajangan daun sirih + bubuk kayu + rajangan sampah kebun + tetes tebu + EM4, masukkan ke dalam gentong yang sudah ada bantal komposnya.
Kompos yang sudah jadi dipisahkan antara yang halus dan kasar. Yang halus masukkan ke ember logam, sedangkan yang kasar bisa langsung diletakkan pada tanaman. Kompos halus dicampur dengan bubuk kulit telur + abu gosok yang sudah disaring + bubuk arang halus, diamkan selama 2 hari maka akan siap digunakan.
Fermentasi kedua yaitu membuat Eco-enzym dari kulit buah-buahan dengan resep satu porsi eco-enzym= 90 gram gula merah + 270 gram kulit buah-buahan + 900 gram air matang dengan perbandingan 1:3:10. Hasil fermentasi dapat dipanen setelah minimal 3 bulan. Saring eco-enzym yang sudah matang dengan saringan besar plastik. Masukkan sampah eco-enzym ke ember POC. Masukkan cairan eco-enzym ke dalam botol plastik yang isinya 75% saja. Beri rajangan lerak + sereh. Fermentasikan minimal 1 bulan.
Membuat sabun cuci piring dari eco-enzym dengan bahan-bahan yang dicampur dalam air mendidih adalah: 200 gram mess (metyl etyl sulfonat) + 150 gram garam industri + 10 gram EDTA + 90 gram aminon + 26 gram gliserin + 1 tetes pewarna + 3,5 liter air. Diamkan semalaman. Esok harinya, cairan mess yang sudah dingin dicampur dengan 450 ml cairan eco-enzym fermentasi kedua yang sudah disaring + aroma jeruk, aduk sampai rata. Siapkan botol-botol kecil untuk tempat sabun cair yang siap digunakan.
Hasil dan Pembahasan Pembuatan Kompos
Berdasarkan pengamatan selama 1(satu) bulan, ekstrak kulit buah-buahan terfermentasi menunjukkan hasil yang paling optimal. Kandungan unsur hara seperti kalium pada kulit buah terbukti efektif merangsang aktivitas mikroorganisme pengurai. Suhu tumpukan kompos menandakan proses dekomposisi berjalan aktif dan cepat. Kompos yang dihasilkan berwarna coklat kehitaman, bertekstur remah menyerupai tanah, dan berbau khas humus, yang memenuhi standar pupuk kompos.
Belajar Menjadi Nasabah Bank Sampah
Kegiatan lain yang saya laksanakan dalam pengolahan sampah secara tepat adalah pemanfaatan bank sampah. Nasabah bank sampah adalah masyarakat, kelompok, atau instansi yang memilah dan menyetorkan sampah kering/anorganik ke bank sampah. Termasuk saya yang sudah menjadi nasabah bank sampah memiliki buku tabungan, mencatatkan nilai sampah yang disetor, dan dapat menukarnya dengan uang tunai, sembako, atau saldo tabungan.
Bank sampah merupakan konsep pengumpulan sampah kering dan dipilah serta memiliki manajemen layaknya perbankan tapi yang ditabung bukan uang melainkan sampah. Nasabah memiliki buku tabungan dan dapat meminjam uang yang nantinya dikembalikan dengan sampah seharga uang yang dipinjam. Sampah yang ditabung ditimbang dan dihargai dengan sejumlah uang nantinya akan dijual di pabrik yang sudah bekerja sama. Sedangkan plastik kemasan dibeli ibu-ibu PKK setempat untuk didaur ulang menjadi barang-barang keraj\inan tangan.
Tujuan dibangunnya bank sampah sebenarnya bukan bank sampah itu sendiri. Melainkan strategi untuk membangun kepedulian masyarakat agar dapat berteman dengan sampah untuk mendapatkan manfaat ekonomi langsung dari sampah. Jadi, bank sampah tidak dapat berdiri sendiri melainkan harus dengan gerakan 3R sehingga manfaat langsung yang dirasakan tidak hanya ekonomi, namun pembangunan lingkungan yang bersih, hijau dan sehat. Hal ini menyoroti bagaimana pemilahan sampah di tingkat rumah tangga tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan dari pencemaran, tetapi juga membangun kemandirian finansial bagi nasabah melalui tabungan.
Bank sampah juga dapat dijadikan solusi untuk mencapai pemukiman yang bersih dan nyaman bagi warganya. Dengan pola ini maka warga selain menjadi disiplin dalam mengelola sampah juga mendapatkan tambahan pemasukan dari sampah-sampah yang kami kumpulkan.
Jenis sampah yang diterima di bank sampah antara lain :
Plastik: botol minum, ember, dan kantong plastik.
Kertas: koran, kardus, dan buku.
Logam: kaleng, aluminium, dan tembaga.
Kaca: botol kaca.
Limbah sisa minyak goreng.
Cara kerja nasabah bank sampah :
Memilah. Nasabah memisahkan sampah di rumah sesuai jenisnya (organik dan anorganik).
Menyetor. Sampah kering disetorkan ke pengurus bank sampah setempat, biasanya dengan berat minimal tertentu (misalnya 1 kg per jenis).
Mencatat. Sampah ditimbang dan dihargai sesuai nilai beli bank sampah.
Menabung. Hasil penjualan dicatat dalam buku tabungan nasabah.
Menjadi nasabah bank sampah menuntut saya untuk disiplin. Di rumah, saya memilah sampah menjadi dua kategori utama, yaitu organik dan anorganik. Sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomis seperti botol plastik, kardus bekas, dan kaleng, saya kumpulkan dan bersihkan. Setelah terkumpul dalam jumlah tertentu, saya membawanya ke unit Bank Sampah terdekat untuk ditimbang. Di sana, sampah tersebut dikonversikan ke dalam nilai rupiah dan dicatat ke dalam buku tabungan layaknya sistem perbankan konvensional.
Manfaat yang saya rasakan sebagai nasabah bank sampah sangat nyata. Secara lingkungan, saya turut andil dalam mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sekaligus mendukung program daur ulang. Secara ekonomi, sampah yang sebelumnya hanya menjadi beban kini berubah menjadi tabungan. Saldo yang terkumpul secara berkala dapat ditarik untuk kebutuhan mendesak, seperti membeli perlengkapan sekolah anak atau sekadar menambah uang belanja bulanan.
KESIMPULAN
Kesadaran menjadi nasabah bank sampah mengajarkan saya bahwa sampah adalah sumber daya yang tertunda. Jika dikelola dengan baik maka sampah tidak lagi menjadi musuh lingkungan, melainkan sahabat ekonomi. Saya berharap akan ada lebih banyak masyarakat yang tergerak untuk menjadi nasabah bank sampah. Langkah sederhana dari rumah ini adalah kontribusi nyata saya dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.
Pengolahan sampah organik juga membutuhkan komitmen dan konsistensi dari setiap individu. Kesadaran bahwa sampah adalah tanggung jawab bersama merupakan kunci utama. Dengan mengubah paradigma dari "membuang sampah" menjadi "mengelola sumber daya", kita tidak hanya menyelamatkan lingkungan dari pencemaran, tetapi juga menciptakan sirkulasi ekonomi yang berkelanjutan.
Selain itu, sebagai mahasiswa psikologi lingkungan saya juga mengumumkan di media sosial tentang komitmen mahasiswa untuk bersedia bertanggung jawab terhadap sampahnya. harapannya agar mahasiswa Psikologi Lingkungan UP 45 Yogyakarta bersedia bertanggung jawab terhadap sampahnya dan bisa menjadi suri tauladan (influencer) bagi masyarakat Yogyakarta sehingga TPA Piyungan Yogyakarta tidak bernasib sama seperti TPA Jatiwaringin di Tangerang Banten yang terbakar pada awal Juli 2026 ini.
ESAI PRESTASI (EPres): 6
Menumbuhkan Kepedulian Melalui Partisipasi dalam Kegiatan Masyarakat
Disusun oleh:
Yufika Dwi Rezeki
NIM 25310440003
Psikologi Lingkungan — Kelas B
Esai Prestasi (EPres) ke-6
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Juli 2026
Kehidupan bermasyarakat mengajarkan bahwa kepedulian tidak selalu ditunjukkan melalui tindakan yang besar. Berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan, membantu sesama, dan meluangkan waktu untuk hadir ketika orang lain membutuhkan merupakan bentuk kontribusi sederhana yang dapat mempererat hubungan antarwarga. Selama bulan Juni hingga Juli 2026, saya mengikuti dua kegiatan yang memberikan pengalaman berharga mengenai pentingnya kerja sama, empati, dan kepedulian sosial.
Pada 9 Juni 2026, saya mengikuti rapat Karang Taruna yang diselenggarakan di lingkungan tempat tinggal. Rapat tersebut membahas beberapa agenda yang berkaitan dengan kegiatan masyarakat dan menjadi sarana bagi warga untuk berdiskusi serta menyampaikan berbagai usulan. Dalam kegiatan tersebut, saya membantu mencatat hasil rapat agar setiap keputusan yang telah disepakati dapat terdokumentasi dengan baik. Setelah rapat selesai, saya juga membantu membereskan makanan dan perlengkapan yang digunakan selama kegiatan berlangsung. Meskipun tugas tersebut terlihat sederhana, saya menyadari bahwa kelancaran sebuah kegiatan tidak hanya bergantung pada orang yang memimpin rapat, tetapi juga pada setiap individu yang bersedia mengambil bagian sesuai kemampuannya.
Pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa kerja sama tidak hanya ditunjukkan melalui penyampaian pendapat atau pengambilan keputusan, tetapi juga melalui kesediaan membantu menyelesaikan berbagai kebutuhan hingga kegiatan benar-benar selesai. Sikap saling membantu seperti ini menjadi salah satu wujud gotong royong yang masih terus dijaga di lingkungan masyarakat.
Selanjutnya, pada 13 Juli 2026, saya menjenguk seorang tetangga yang sedang menjalani masa pemulihan setelah mengalami luka bakar. Kunjungan tersebut saya lakukan sebagai bentuk kepedulian sekaligus untuk memberikan dukungan moral kepada beliau dan keluarganya. Melalui pertemuan tersebut, saya menyadari bahwa kehadiran seseorang sering kali memiliki arti yang lebih besar daripada yang dibayangkan. Walaupun saya tidak dapat membantu proses penyembuhan secara langsung, saya berharap perhatian, doa, dan dukungan yang diberikan dapat menjadi penyemangat bagi beliau untuk segera pulih.
Kedua kegiatan tersebut memberikan pelajaran bahwa kepedulian sosial dapat diwujudkan melalui berbagai cara, baik dengan membantu kelancaran kegiatan masyarakat maupun memberikan perhatian kepada sesama yang sedang mengalami kesulitan. Pengalaman tersebut juga mengingatkan saya bahwa membangun lingkungan yang harmonis tidak selalu memerlukan tindakan besar, tetapi dapat dimulai dari kesediaan untuk meluangkan waktu, bekerja sama, dan peduli terhadap orang-orang di sekitar. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi saya untuk terus berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat.























