Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Minggu, 19 Juli 2026

Essai 8 - Melakukan upcycling sampah anorganik & merintis sbg pengusaha ekonomi sirkuler

 

Pengalaman Membuat Produk Kreatif Gantungan Kunci dari Limbah Potongan Tali Macrame dan Tutup Botol Bekas

Pingkan Winahyuningtyas

24310410234

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 8

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 


Di tengah banyaknya barang bekas yang sering dianggap sebagai sampah, saya mencoba melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Menurut saya, barang yang sudah tidak terpakai masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang menarik dan memiliki nilai ekonomi. Berawal dari pemikiran tersebut, saya bersama adik membuat gantungan kunci dengan memanfaatkan sisa potongan tali macrame dan tutup botol plastik bekas.

Ide ini muncul ketika adik saya menyelesaikan tugas sekolah yang menggunakan tali macrame. Setelah tugas selesai, masih banyak potongan tali yang tersisa. Di rumah juga terdapat beberapa tutup botol plastik bekas yang hanya menumpuk. Saya kemudian berpikir untuk menggabungkan kedua bahan tersebut menjadi sebuah kerajinan tangan yang unik sekaligus ramah lingkungan. Agar hasilnya lebih menarik, saya membeli beberapa aksesori tambahan, ring gantungan kunci, dan plastik kemasan sehingga produk memiliki tampilan yang lebih rapi dan estetik.

Saya membuat kerajinan tersebut dalam 2 waktu. Kegiatan pertama di mulai pada tanggal 1 Juli 2026 pukul 18.00 WIB dan berlangsung sekitar tiga jam. Sedangkan kegiatan ke 2 pada tanggal 7 Juli 2026 pukul 10.00 WIB dan berlangsung kurang lebih selama 4 jam.

Sebelum memulai, saya menyiapkan seluruh alat dan bahan seperti sisa tali macrame, tutup botol bekas, baking paper, setrika, gunting, perforator, sendok, aksesori, ring gantungan kunci, dan kemasan plastik.

Tahap pertama adalah mengolah tutup botol bekas. Tutup botol dipotong kecil-kecil, kemudian diletakkan di antara baking paper dan dipanaskan menggunakan setrika hingga meleleh dan menyatu. Setelah dingin, lembaran plastik tersebut dipotong menjadi berbagai bentuk, seperti hati(love), bulan, bintang dan bentuk-bentuk lain sesuai kreativitas. Selanjutnya, setiap potongan diberi lubang menggunakan perforator untuk dipasang dengan ring gantungan kunci.

Selama proses produksi, saya mengalami beberapa hambatan. Pada percobaan pertama, hasil lelehan plastik kurang rata karena suhu setrika terlalu panas sehingga sebagian plastik gosong, sedangkan bagian lainnya belum menyatu sempurna. Beberapa potongan juga retak saat dipotong karena belum benar-benar dingin. Untuk mengatasinya, saya mencoba beberapa kali hingga menemukan suhu yang sesuai dan menunggu plastik benar-benar mengeras sebelum dibentuk. Proses ini mengajarkan saya bahwa menghasilkan sebuah produk memerlukan kesabaran, ketelitian, dan kemauan untuk terus mencoba meskipun mengalami kegagalan.

Sementara itu, adik saya membantu membuat berbagai simpul tali macrame. Kami belajar melalui video tutorial di YouTube, kemudian mencoba memodifikasi desain agar setiap gantungan kunci memiliki bentuk yang berbeda. Kerja sama ini membuat proses pembuatan menjadi lebih menyenangkan sekaligus melatih kemampuan kami dalam berkreasi. Setelah seluruh produk selesai, saya mengemas setiap gantungan kunci menggunakan plastik kemasan khusus agar tampil lebih menarik.

Langkah berikutnya adalah mendokumentasikan hasil karya tersebut. Saya melakukan dokumentasi pada tanggal 14 Juli 2026 pukul 17.30 WIB hingga selesai. Foto-foto tersebut saya unggah ke Story WhatsApp dan feed Instagram sebagai media promosi. Adik saya juga ikut membantu memasarkan produk kepada teman-teman sekolahnya.

Meskipun belum ada produk yang terjual, beberapa teman adik menunjukkan ketertarikan dengan bertanya mengenai harga dan cara pemesanan. Hal tersebut membuat saya menyadari bahwa membangun minat konsumen membutuhkan waktu. Dalam psikologi konsumen, seseorang biasanya akan melalui beberapa tahap sebelum memutuskan membeli, yaitu mulai dari melihat produk, merasa tertarik, mencari informasi, membandingkan dengan produk lain, hingga akhirnya memutuskan untuk membeli.

Saya juga belajar bahwa tampilan produk sangat memengaruhi persepsi konsumen. Kemasan yang rapi, foto yang menarik, dan desain yang unik dapat meningkatkan kesan bahwa produk memiliki kualitas yang baik. Sebaliknya, apabila foto kurang menarik atau kemasan terlihat sederhana, calon pembeli cenderung ragu untuk membeli. Pengalaman ini membuat saya memahami pentingnya membangun kepercayaan konsumen melalui penyajian produk yang baik.

Dengan memanfaatkan sisa tali macrame dan tutup botol bekas, saya juga belajar bahwa perilaku peduli lingkungan dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Barang yang sebelumnya dianggap sampah ternyata masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Pengalaman ini mengubah cara pandang saya terhadap limbah serta menumbuhkan kesadaran untuk lebih bijak dalam memanfaatkan barang bekas.

Melalui kegiatan ini, saya memperoleh banyak pelajaran, mulai dari proses produksi, mengatasi kegagalan, bekerja sama, hingga mencoba memasarkan produk secara sederhana melalui media sosial. Walaupun belum berhasil memperoleh penjualan, pengalaman ini memberikan bekal berharga tentang kreativitas, kewirausahaan, psikologi konsumen, dan kepedulian terhadap lingkungan. Saya berharap ke depannya dapat mengembangkan desain yang lebih menarik, memperluas promosi melalui media sosial, serta menghasilkan produk yang mampu menarik minat lebih banyak konsumen.


Link Promosi Feed Instagram :

https://www.instagram.com/p/Da2rQ5kiVX9/?igsh=b3RhaXptazBhdnAx

Essai prestasi

Partisipasi Masyarakat dalam Mendukung Kebijakan Pemerintah Pengelolaan Sampah Berbayar melalui Aksi Berbagi Sarapan kepada Petugas Kebersihan Pasar Baru Jambi




Pengelolaan sampah merupakan salah satu tantangan utama yang dihadapi pemerintah daerah di berbagai kota di Indonesia, termasuk Kota Jambi. Pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan aktivitas ekonomi, serta perubahan pola konsumsi masyarakat menyebabkan volume sampah rumah tangga terus meningkat setiap harinya. Apabila tidak dikelola dengan baik, sampah dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan, hingga menurunkan kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah daerah menerapkan berbagai kebijakan untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah, salah satunya melalui sistem iuran atau pembayaran jasa pengangkutan sampah yang dibebankan kepada setiap rumah tangga.

Kebijakan pengelolaan sampah berbayar bukan semata-mata bertujuan untuk menarik biaya dari masyarakat, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga kebersihan lingkungan. Dana yang diperoleh digunakan untuk mendukung operasional pengangkutan sampah, pemeliharaan armada, penyediaan fasilitas kebersihan, serta pemberian upah kepada petugas yang setiap hari bekerja mengumpulkan dan mengangkut sampah. Dengan adanya partisipasi masyarakat dalam membayar iuran tersebut, pelayanan kebersihan diharapkan dapat berlangsung secara berkelanjutan dan lebih optimal.

Partisipasi masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui pembayaran iuran kebersihan, tetapi juga melalui kepedulian sosial terhadap para petugas kebersihan. Mereka merupakan garda terdepan yang bekerja sejak dini hari hingga siang hari untuk memastikan lingkungan tetap bersih. Pekerjaan mereka sering kali dilakukan dalam kondisi cuaca panas maupun hujan, dengan risiko terpapar bau, debu, dan berbagai jenis limbah. Sayangnya, kontribusi besar mereka sering kali kurang mendapatkan perhatian dan penghargaan dari masyarakat.

Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap kebijakan pemerintah sekaligus penghargaan kepada petugas kebersihan, dilakukan kegiatan berbagi sarapan pagi kepada petugas kebersihan di kawasan Pasar Baru Jambi. Kegiatan sederhana ini memiliki makna yang sangat besar karena menunjukkan rasa terima kasih atas dedikasi mereka dalam menjaga kebersihan lingkungan. Sarapan pagi diberikan sebelum atau saat mereka memulai aktivitas sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan energi untuk bekerja sepanjang hari.

Kegiatan berbagi sarapan juga menjadi media edukasi kepada masyarakat bahwa keberhasilan program pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi memerlukan keterlibatan seluruh warga. Ketika masyarakat ikut membayar iuran kebersihan, memilah sampah dari rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta memberikan apresiasi kepada petugas kebersihan, maka akan tercipta sinergi yang kuat dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat.

Di Pasar Baru Jambi, aktivitas perdagangan berlangsung hampir sepanjang hari sehingga menghasilkan sampah dalam jumlah besar, baik berupa sampah organik maupun anorganik. Kondisi tersebut menuntut petugas kebersihan untuk bekerja lebih keras agar area pasar tetap nyaman bagi pedagang dan pengunjung. Melalui kegiatan berbagi sarapan, masyarakat dapat melihat secara langsung bahwa petugas kebersihan adalah bagian penting dari sistem pelayanan publik yang layak mendapatkan perhatian, penghargaan, dan dukungan moral.

Selain meningkatkan kepedulian sosial, kegiatan ini juga memperkuat nilai-nilai gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Gotong royong tidak hanya diwujudkan dalam kerja bakti membersihkan lingkungan, tetapi juga melalui tindakan saling membantu dan menghargai sesama. Ketika masyarakat bersama-sama berpartisipasi dalam kegiatan sosial seperti berbagi makanan kepada petugas kebersihan, hubungan antara warga, pemerintah, dan petugas lapangan menjadi semakin harmonis.

Partisipasi masyarakat dalam kebijakan pengelolaan sampah juga dapat memberikan dampak positif terhadap keberlanjutan lingkungan. Kesadaran membayar iuran kebersihan akan mendorong masyarakat untuk lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan. Di sisi lain, penghargaan kepada petugas kebersihan dapat meningkatkan motivasi kerja mereka sehingga pelayanan kebersihan menjadi lebih baik. Kombinasi antara dukungan finansial melalui iuran dan dukungan moral melalui kegiatan sosial akan menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif.

Ke depan, kegiatan berbagi sarapan kepada petugas kebersihan dapat dikembangkan menjadi program rutin yang melibatkan berbagai unsur masyarakat, seperti mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, pelaku usaha, komunitas lingkungan, maupun instansi pemerintah. Selain memberikan makanan, kegiatan tersebut dapat disertai dengan edukasi mengenai pentingnya pengurangan sampah, pemilahan sampah dari sumbernya, serta penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Dengan demikian, manfaat kegiatan tidak hanya dirasakan oleh petugas kebersihan, tetapi juga mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Pada akhirnya, keberhasilan kebijakan pemerintah dalam pengelolaan sampah sangat ditentukan oleh tingkat partisipasi masyarakat. Membayar iuran kebersihan merupakan bentuk tanggung jawab sebagai warga negara, sedangkan memberikan apresiasi kepada petugas kebersihan merupakan wujud kepedulian sosial dan penghormatan terhadap profesi yang memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Melalui aksi berbagi sarapan pagi kepada petugas kebersihan Pasar Baru Jambi, masyarakat menunjukkan bahwa menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau petugas kebersihan semata, melainkan tanggung jawab bersama yang harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Dengan semangat kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial, Kota Jambi dapat menjadi kota yang lebih bersih, sehat, nyaman, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.

daftar pustaka dengan gaya APA edisi ke-7:

  • Damanhuri, E., & Padmi, T. (2018). Pengelolaan sampah terpadu. ITB Press.
  • Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2023). Pedoman pengelolaan sampah rumah tangga. Jakarta: KLHK.
  • Pemerintah Republik Indonesia. (2008). Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
  • Pemerintah Republik Indonesia. (2012). Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga 
Lisa Sugiarty_24310410230_psikologi Lingkungan_essai prestasi_ibu Arundati Sinta_psikologi Up45

Sabtu, 18 Juli 2026

Essai 2 : Plogging

Kegiatan Plogging Dan Pemanfaatan Sampah Melalui Bank Sampah

Sucianingsih M Rivai 

24310410209

Kelas Psikologi Lingkungan - B 

Tugas Essai 2 

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A. 

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta 

Saya melakukan kegiatan plogging selama dua kali, masing-masing selama satu jam, di dua tempat yang berbeda. Kegiatan plogging merupakan aktivitas memungut sampah sambil berjalan kaki atau berolahraga ringan. Saya memilih melakukan kegiatan ini karena masih banyak sampah plastik, terutama botol minuman, yang dibuang sembarangan di sekitar jalan dan halaman rumah warga. 

Lokasi pertama berada di lingkungan dekat rumah warga, ada di antara rumput dan semak-semak. Di tempat tersebut saya menemukan beberapa botol plastik bekas minuman yang terselip di antara rumput dan semak-semak. Sampah seperti ini sering kali tidak terlihat dari kejauhan sehingga dibiarkan menumpuk dan dapat merusak pemandangan lingkungan. Selama satu jam di lokasi pertama, saya berhasil mengumpulkan beberapa botol plastik yang masih dapat didaur ulang. 


Setelah itu, saya melanjutkan plogging di lokasi kedua, yaitu di gang pemukiman. Di sepanjang selokan dan pinggir jalan masih terdapat botol plastik yang dibuang sembarangan. Saya memungut satu per satu botol tersebut dan memasukannya ke dalam wadah yang saya bawa. Kegiatan ini membuat saya menyadari bahwa kebiasaan membuang sampah sembarangan masih sering terjadi, padahal tempat sampah sebenarnya tersedia di beberapa titik. 


Dari dua lokasi tersebut, saya memperoleh total 10 botol minuman plastik. Botol-botol tersebut kemudian saya jual ke bank sampah. Dari hasil penjualan, saya mendapatkan uang sebesar Rp 15.000, walaupun jumlahnya tidak terlalu besar, saya merasa senang karena sampah yang semula mencemari lingkungan dapat memiliki nilai ekonomi setelah dipilah dan didaur ulang. 

Kegiatan plogging ini memberikan manfaat yang cukup besar bagi saya. Selain membantu membersihkan lingkungan, saya juga belajar tentang pentingnya memilah sampah dan memanfaatkan kembali barang yang masih bisa didaur ulang. Dalam psikologi lingkungan, perilaku seperti ini termasuk pro-lingkungan, yaitu tindakan yang dilakukan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Pengalaman ini membuat saya lebih peduli terhadap kebersihan sekitar dan ingin mengajak orang lain untuk tidak membuang sampah sembarangan serta memanfaatkan bank sampah sebagai salah satu solusi pengelolaan sampah di lingkungan masyarakat. 








Jumat, 17 Juli 2026

Essai 8 sampah anorganik di olah menjadi manfaat ekonomi

PENGOLAHAN SAMPAH ANORGANIK RUMAH TANGGA MENJADI GANTUNGAN KUNCI, LILIN HIAS, DAN PARCEL RAMAH LINGKUNGAN SEBAGAI UPAYA MENDUKUNG EKONOMI SIRKULAR


Abstrak

Sampah anorganik merupakan salah satu jenis limbah rumah tangga yang sulit terurai secara alami sehingga berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Peningkatan jumlah konsumsi masyarakat menyebabkan volume sampah anorganik, seperti botol plastik, tutup botol, kaleng bekas, plastik kemasan, kardus, dan kaca, terus meningkat setiap tahunnya. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah mendaur ulang sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Artikel ini bertujuan menjelaskan proses pengolahan sampah anorganik rumah tangga menjadi gantungan kunci, lilin hias, serta parcel beserta bungkusnya. Selain menjelaskan tahapan pembuatannya, artikel ini juga menguraikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang diperoleh melalui kegiatan daur ulang. Hasil pengolahan menunjukkan bahwa sampah anorganik dapat dimanfaatkan menjadi produk kreatif yang bernilai jual sehingga mampu mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga.

Kata kunci: sampah anorganik, daur ulang, ekonomi sirkular, rumah tangga, kerajinan.


Pendahuluan

Permasalahan sampah menjadi tantangan utama dalam pengelolaan lingkungan di Indonesia. Sebagian besar sampah rumah tangga terdiri atas sampah organik dan anorganik. Berbeda dengan sampah organik yang mudah terurai, sampah anorganik membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terdegradasi secara alami. Oleh karena itu, pengelolaan sampah anorganik memerlukan pendekatan yang lebih inovatif melalui prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R).

Pemanfaatan sampah anorganik menjadi produk kerajinan merupakan salah satu bentuk implementasi ekonomi sirkular. Pendekatan ini bertujuan memperpanjang umur pakai suatu barang sehingga mengurangi jumlah limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Selain memberikan manfaat ekologis, kegiatan ini juga dapat meningkatkan kreativitas masyarakat serta membuka peluang usaha berbasis lingkungan.


Pembahasan

1. Pengolahan Sampah Anorganik Menjadi Gantungan Kunci




Gantungan kunci merupakan salah satu produk kerajinan sederhana yang dapat dibuat dari berbagai jenis sampah anorganik seperti tutup botol plastik, resin bekas, akrilik sisa, plastik kemasan, hingga potongan CD bekas.

Tahapan pembuatannya dimulai dengan mengumpulkan bahan-bahan bekas yang masih layak digunakan. Selanjutnya bahan dibersihkan menggunakan air sabun agar bebas dari kotoran dan minyak. Setelah kering, bahan dipotong sesuai bentuk yang diinginkan menggunakan gunting atau cutter.

Tahap berikutnya adalah menghias permukaan menggunakan cat akrilik, stiker bekas, kain flanel, atau potongan plastik warna-warni. Setelah desain selesai, dibuat lubang kecil menggunakan bor mini atau solder panas untuk memasang ring gantungan kunci. Selanjutnya dipasang rantai dan cincin besi sehingga produk siap digunakan.

Produk ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi karena biaya produksinya rendah, namun memiliki nilai estetika yang menarik. Selain itu, kegiatan ini mampu mengurangi jumlah sampah plastik yang sulit terurai.


2. Pengolahan Sampah Anorganik Menjadi Lilin Hias




Salah satu inovasi menarik adalah memanfaatkan wadah bekas sebagai tempat lilin hias. Gelas kaca bekas, kaleng susu, cangkir retak, dan botol kaca merupakan contoh limbah anorganik yang dapat dimanfaatkan kembali.

Langkah pertama adalah membersihkan wadah hingga benar-benar steril. Selanjutnya lilin bekas dipotong kecil-kecil kemudian dilelehkan menggunakan metode double boiler agar tidak terbakar langsung. Setelah meleleh, ditambahkan pewarna lilin dan aroma terapi sesuai kebutuhan.

Sumbu dipasang pada bagian tengah wadah menggunakan perekat tahan panas. Cairan lilin kemudian dituangkan secara perlahan hingga memenuhi wadah. Setelah mengeras selama beberapa jam, permukaan lilin dapat dihias menggunakan pita bekas, tali goni, renda, atau label dari kertas daur ulang.

Produk lilin hias memiliki fungsi sebagai dekorasi rumah, aromaterapi, maupun suvenir. Pemanfaatan wadah bekas juga mengurangi kebutuhan membeli tempat lilin baru sehingga lebih ramah lingkungan.

3. Pengolahan Sampah Anorganik Menjadi Parcel dan Bungkus Ramah Lingkungan




Parcel merupakan salah satu produk yang banyak digunakan pada hari raya, pernikahan, maupun acara resmi. Sayangnya, sebagian besar kemasan parcel hanya digunakan sekali sebelum dibuang.


Melalui konsep daur ulang, kardus bekas, plastik mika, botol plastik, kaleng, dan pita bekas dapat dimanfaatkan menjadi parcel yang menarik.


Proses pembuatannya diawali dengan memilih kardus bekas yang masih kuat. Kardus dipotong sesuai ukuran kemudian dibentuk menjadi kotak atau keranjang menggunakan lem tembak. Selanjutnya permukaan dilapisi menggunakan kertas koran, majalah bekas, atau plastik kemasan yang disusun menyerupai anyaman.


Untuk mempercantik tampilan, ditambahkan hiasan berupa bunga dari plastik bekas, pita bekas, tali rafia warna-warni, maupun tutup botol yang dibentuk menjadi ornamen dekoratif.


Bungkus parcel juga dapat dibuat dari plastik kemasan kopi, detergen, maupun makanan ringan yang telah dibersihkan. Kemasan tersebut dijahit atau dianyam sehingga menghasilkan motif unik yang memiliki daya tarik tersendiri.


Produk parcel hasil daur ulang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi karena bersifat unik, dapat digunakan kembali, dan mendukung gaya hidup ramah lingkungan.


Manfaat Pengolahan Sampah Anorganik


Pengolahan sampah anorganik memberikan manfaat yang sangat luas.


Dari aspek lingkungan, kegiatan ini mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir sehingga pencemaran tanah dan air dapat ditekan. Selain itu, penggunaan kembali barang bekas mengurangi kebutuhan bahan baku baru sehingga membantu menghemat sumber daya alam.


Dari aspek ekonomi, hasil kerajinan memiliki nilai jual yang dapat meningkatkan pendapatan keluarga. Banyak pelaku UMKM berhasil mengembangkan usaha berbasis daur ulang karena modal yang dibutuhkan relatif kecil.


Dari aspek sosial, kegiatan ini mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan kreativitas, serta memperkuat kerja sama melalui pelatihan dan kegiatan kelompok.


Dari aspek pendidikan, pengolahan sampah menjadi media pembelajaran mengenai pentingnya pelestarian lingkungan dan penerapan prinsip ekonomi sirkular sejak usia dini.


Kesimpulan


Pengolahan sampah anorganik rumah tangga menjadi gantungan kunci, lilin hias, serta parcel beserta bungkusnya merupakan salah satu solusi efektif dalam mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah rumah tangga. Melalui proses pemilahan, pembersihan, pembentukan, dan dekorasi, berbagai jenis sampah dapat diubah menjadi produk kreatif yang memiliki fungsi dan daya jual tinggi. Penerapan kegiatan daur ulang ini juga mendukung konsep ekonomi sirkular karena memperpanjang masa pakai suatu barang dan mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi kepada masyarakat agar pengelolaan sampah anorganik dapat menjadi budaya yang berkelanjutan serta memberikan manfaat bagi lingkungan, sosial, dan ekonomi.


Daftar Pustaka


Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2021). Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis 3R. Jakarta: KLHK.


Suryani, A. S. (2014). Peran Bank Sampah dalam Efektivitas Pengelolaan Sampah. Jurnal Aspirasi, 5(1), 71–84.


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.


World Bank. (2018). What a Waste 2.0: A Global Snapshot of Solid Waste Management to 2050. Washington, DC: World Bank.


Lisa Sugiarty_24310410230_tugas essai 8_psikologi lingkungan_Ibu Arudanti Sinta_Psikologi Up45

Essai 5 : Eksperimen Anorganik di Rumah

 Kegiatan Daur Ulang Piring Kaca Menjadi Hiasan Dinding 

Sucianingsih M Rivai 

24310410209

Kelas Psikologi Lingkungan - B 

Tugas Essai 5 

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A. 


Pada tanggal 17 Juli 2026, saya membuat sebuah kerajinan tangan dengan memanfaatkan barang bekas yang ada di rumah. Kerajinan yang saya buat berupa hiasan dinding dari piring kaca yang sudah rusak dan kain batik bekas. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan nilai guna baru pada barang yang sudah tidak terpakai sehingga tidak langsung menjadi sampah. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk penerapan konsep reuse dalam menjaga kelestarian lingkungan. Melalui kegiatan sederhana ini, saya menyadari bahwa barang bekas masih dapat dimanfaatkan kembali apabila diolah dengan kreativitas dan ketelitian. 


Sebelum memulai proses pembuatan, saya menyiapkan beberapa alat dan bahan, yaitu Piring kaca yang sudah pecah di bagian pinggirnya, kain batik bermotif biru, lem tembak, dan stik lem. Langkah pertama yang saya lakukan adalah membentangkan kain batik di atas meja, kemudian meletakkan piring di atas kain sebagai pola. Setelah itu, saya menggunting kain mengikuti bentuk piring dengan memberikan sedikit sisa pada bagian tepinya agar lebih mudah direkatkan. Selanjutnya, kain ditempelkan menggunakan lem tembak pada bagian belakang piring secara perlahan hingga seluruh permukaannya tertutup dengan rapi. Setelah semua bagian menempel dengan baik, saya merapikan sisa kain di bagian tepi sehingga hasil akhirnya terlihat lebih bersih dan menarik. 


Selama proses pembuatan, saya harus berhati-hati karena piring yang saya digunakan terbuat dari kaca dan memiliki bagian yang sudah rusak, Oleh karena itu, saya memastikan tidak menyentuh bagian yang tajam agar terhindar dari cedera. Selain itu, penggunaan lem tembak juga memerlukan ketelitian karena lem yang masih panas dapat menyebabkan tangan terkena panas apabila tidak digunakan dengan hati-hati. Meskipun prosesnya cukup sederhana, saya merasa kegiatan ini melatih kesadaran, kelitian, serta kemampuan saya dalam membuat kerajinan tangan. 

Hasil akhir dari kegiatan ini cukup memuaskan. Piring kaca yang awalnya terlihat rusak dan tidak layak pakai berubah menjadi hiasan dinding yang memiliki tampilan lebih menarik karena dipadukan dengan motif batik. Saya juga merasa bangga karena dapat menghasilkan karya yang bermanfaat tanpa harus membeli bahan baruu. Hal ini menunjukkan bahwa barang bekas tidak selalu menjadi limbah, tetapi masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai estetika bahkan nilai ekonomi apabila dikembangkan dengan desain yang lebih kreatif. 


Dari kegiatan yang saya lakukan, saya memperoleh pengalaman yang sangat berharga. Saya belajar bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti memanfaatkan kembali barang bekas menjadi sesuatu yang berguna. Kegiatan ini juga mengajarkan bahwa kreativitas memiliki peran penting dalam mengurangi limbah rumah tangga dan mendukung gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Saya berharap kebiasaan seperti ini dapat terus saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat memberikan manfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan sekitar.