Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Minggu, 02 Mei 2021

SOLIDARITAS MASYARAKAT JAKARTA DI TENGAH HIRUK PIKUK KOTA METROPOLITAN

Rahayu (20310410061)

Dosen Pembimbing : Dr. Arundati Shinta, M. A

Psikologi Sosial 1

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta



Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial karena di dalam kehidupannya tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh manusia lain. Pada diri manusia juga terdapat dorongan untuk saling berhubungan (berinteraksi) dengan orang lain dan hidup berkelompok (Elly M Setiadi & Ridwan Effendi, 2009:79). Oleh sebab itu di dalam hubungan antara manusia dengan manusia yang berbeda terkadang seorang individu mencari keserasian dalam berbagai hal, seperti kesamaan ideologi, adat kebiasaan, bahasa maupun sikap dan perasaan (Kamanto Sunarto, 2000:149).

Solidaritas secara bahasa diartikan kebersamaan, kekompakan, kesetiakawanan, empati, simpati, tenggang hati, dan tenggang rasa (Depdiknas, 2009: 551). Solidaritas sosial merupakan tema utama yang dibicarakan oleh Durkheim sebagai sumber moral untuk membentuk tatanan sosial di tengah masyarakat. Durkheim menyatakan bahwa asal usul otoritas moralitas harus ditelusuri sampai pada sesuatu yang agak samar-samar yang ia sebut "masyarakat".

Jakarta memang unik karena tidak bisa sekedar mewakili etnis penduduk aslinya, yaitu Betawi, tetapi juga menjadi rumah bagi berbagai manusia, suku, budaya, dan etnis lain yang datang, hidup, dan berkembang di dalamnya. Meskipun Di tengah kemacetan dan hiruk pikuknya, ibukota menyimpan sebuah budaya yang menarik untuk siapapun yang menyukai sejarah.

Betawi adalah sebuah etnik dengan jumlah penduduk yang mendominasi Jakarta. Orang Betawi telah ada jauh sebelum Jan Pieterzoon Coen membakar Jayakarta pada tahun 1619 dan mendirikan di atas reruntuhan tersebut sebuah kota bernama Batavia. Artinya, jauh sebelum menjadi ibu kota negara, sekelompok besar orang telah mendiami kota Jakarta. Bahkan, menurut sejarahwan Sagiman MD, penduduk Betawi telah mendiami Jakarta sekitar sejak zaman batu baru atau Neoliticum, yaitu 1500 SM. Dari masa ke masa, masyarakat Betawi terus berkembang dengan ciri budaya yang makin lama semakin mantap sehingga mudah dibedakan dengan kelompok etnis lain.

Berdasarkan ciri kebudayaan, etnik Betawi dibagi mejadi dua, yaitu Betawi Tengah (Betawi Kota) dan Betawi Pinggiran, yang pada masa pemerintahan Hindia Belanda disebut Betawi Ora. Betawi Tengah/Kota menetap di bagian kota Jakarta yang dahulu dinamakan keresidenan Batavia (Jakarta Pusat - urban), mendapat pengaruh kuat kebudayaan Melayu (Islam). Betawi Tengah menganut gaya hidup tempo lama, misalnya perayaan upacara perkawinan, khitanan, tradisi lebaran, dan memegang teguh agama serta adat istiadat (mengaji). Orang Betawi yang tinggal di Jakarta Pusat mengalami tingkat arus urbanisasi dan modernisasi dalam skala paling tinggi, juga mengalami tingkat kawin campuran paling tinggi. Dalam bidang kesenian, mereka menikmati keroncong Tugu, musik Gambus, Qasidah, orkes Rebana, dan menggemari cerita bernafaskan Islam seperti cerita Seribu Satu Malam. Mereka memiliki dialek yang disebut dialek Betawi Kota, bervokal akhiran e pada beberapa kata yang dalam bahasa Indonesia berupa a atau ah, misalnya: kenapa menjadi kenape.


Referensi

Hasbullah, REWANG: Kearifan Lokal dalam Membangun Solidaritas dan Integrasi Sosial Masyarakat  di Desa Bukit Batu Kabupaten Bengkalis, Jurnal Sosial Budaya Vol. 9 No. 2 Juli-Desember 2012. https://media.neliti.com/media/publications/164769-ID-rewang-kearifan-lokal-dalam-membangun-so.pdf diakses pada tanggal 02 Mei 2021 pukul 12:16  

Mita Purbasari, INDAHNYA BETAWI, HUMANIORA Vol.1  No.1 April 2010: 1-10.  https://media.neliti.com/media/publications/166886-ID-indahnya-betawi.pdf diakses pada tanggal 02 Mei 2021 pukul 12:12 


Tulisan ini adalah narasi untuk lomba memotret bertemakan “Street Photography” yang diselenggarakan oleh Kelas Pagi Jakarta bersama @andrydilindra dan @photowalkramean berkolaborasi dengan @xiaomi.indonesia. Periode lomba berlangsung pada tanggal 1 April – 1 Mei 2021







Sabtu, 01 Mei 2021

Kedekatan Sosial Nenek dengan Cucu

Kedekatan Sosial Nenek dengan Cucu

(Semester Genap 2020/2021)

 

Rifa Rufianti (20310410053)

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Dosen Pengampu : Dr., Dra. Arundati Shinta, M.A

 


Kelahiran seorang anak dalam keluarga, menyebabkan adanya kakek-nenek, dan terbentuklah hubungan di dalam keluarga dan lintas generasi. Menjadi kakek-nenek merupakan suatu harapan yang dinantikan, terdapat fase 'ritus peralihan' pada usia dewasa, dimana jika individu berumur panjang, maka ia bisa menjadi kakek-nenek selama kurang lebih sepertiga dari masa hidupnya (Rosenbaum, 2016). Meskipun cukup banyak penelitian yang meng-eksplorasi pengalaman kakek-nenek dalam membesarkan cucu (Downie, Hay, Horner, Wichmann, & Hislop, 2010; Dunne & Kettler, 2007), tetapi ada pula cucu yang selama hidupnya tidak pernah memperoleh sentuhan kehangatan kasih sayang dari kakek dan neneknya.

Kakek-nenek menjadi sumber pendukung pengasuhan cucu yang semakin penting, meskipun merawat cucu mungkin memiliki konsekuensi kesehatan yang negatif bagi kakek-nenek (Di Gessa, Glaser, & Tinker, 2016). Hal ini disebabkan karena energi dan rasa ingin tahu seorang anak sangat besar. Pada umumnya cucu akan lebih manja dengan kakek dan neneknya. Begitupula kakek dan neneknya, mereka akan lebih sayang kepada cucunya daripada anaknya.

Keberadaan kakek-nenek dapat bervariasi baik di dalam maupun di luar keluarga, sebagai fungsi dari keadaan sosial, historis, keluarga, dan individu yang unik. Kualitas hubungan dengan cucu-cucu menjadi paling berpengaruh dan berhubungan secara positif dengan kepentingan peran kakek-nenek yang dirasakan (Mahne, & Klingebiel, 2012). Dalam menikmati peran sebagai kakek-nenek, orang dewasa madya melihat tahap kehidupan di kemudian hari ini sebagai kesempatan untuk mencapai kehidupan pribadi dan impian pensiun yang mungkin mereka tunda karena komitmen keluarga dan pekerjaan. Hasil suatu riset diantaranya menyebutkan bahwa menjadi sehat di usia tua, dan menikmati hari-hari dengan tetap bermanfaat adalah impian setiap lansia, daripada mengalami demensia dan mem-bebani orang-orang di sekitarnya (Gitlin, Winter, Dennis, Hodgson, & Hauck, 2010).

 

Daftar Pustaka

 

Di Gessa, G., Glaser, K., & Tinker, A. (2016). The impact of caring for grandchildren on the health of grandparents in Europe: A lifecourse approach. Social Science & Medicine, 152, 166-175. https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2016.01.041

 

Downie, J. M., Hay, D. A., Horner, B. J., Wichmann, H., & Hislop, A. L. (2010). Children living with their grandparents: Resilience and wellbeing. International Journal of Social Welfare, 19(1), 8−22. DOI: 10.1111/j.1468-2397.2009.00654.x

 

Gitlin, L. N., Winter, L., Dennis, M. P., Hodgson, N., & Hauck, W. W. (2010) A biobehavioral home-based intervention and the well-being of patients with dementia and their caregivers: The COPE randomized trial. JAMA, 304(9), 983–991.

 

Mahne, K., & Klingebiel, A. M. (2012). The importance of the grandparent role—A class specific phenomenon? Evidence from Germany. Advances in Life Course Research, 17(3), 145-155. https://doi.org/10.1016/j.alcr.2012.06.001

 

Rosenbaum, P. (2016). Developmental disability: Shouldn't grandparents have a place at the table? Developmental Medicine and Child Neurology, 58(6), 528. http://dx.doi.org/10.1111/dmcn.13125

 

 

Tulisan ini adalah narasi untuk lomba memotret bertemakan "Street Photography" yang diselenggarakan oleh Kelas Pagi Jakarta bersama @andrydilindra dan @photowalkramean berkolaborasi dengan @xiaomi.indonesia. Periode lomba berlangsung pada tanggal 1 April - 1 Mei 2021.