Sabtu, 01 Mei 2021

Kedekatan Sosial Nenek dengan Cucu

Kedekatan Sosial Nenek dengan Cucu

(Semester Genap 2020/2021)

 

Rifa Rufianti (20310410053)

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Dosen Pengampu : Dr., Dra. Arundati Shinta, M.A

 


Kelahiran seorang anak dalam keluarga, menyebabkan adanya kakek-nenek, dan terbentuklah hubungan di dalam keluarga dan lintas generasi. Menjadi kakek-nenek merupakan suatu harapan yang dinantikan, terdapat fase 'ritus peralihan' pada usia dewasa, dimana jika individu berumur panjang, maka ia bisa menjadi kakek-nenek selama kurang lebih sepertiga dari masa hidupnya (Rosenbaum, 2016). Meskipun cukup banyak penelitian yang meng-eksplorasi pengalaman kakek-nenek dalam membesarkan cucu (Downie, Hay, Horner, Wichmann, & Hislop, 2010; Dunne & Kettler, 2007), tetapi ada pula cucu yang selama hidupnya tidak pernah memperoleh sentuhan kehangatan kasih sayang dari kakek dan neneknya.

Kakek-nenek menjadi sumber pendukung pengasuhan cucu yang semakin penting, meskipun merawat cucu mungkin memiliki konsekuensi kesehatan yang negatif bagi kakek-nenek (Di Gessa, Glaser, & Tinker, 2016). Hal ini disebabkan karena energi dan rasa ingin tahu seorang anak sangat besar. Pada umumnya cucu akan lebih manja dengan kakek dan neneknya. Begitupula kakek dan neneknya, mereka akan lebih sayang kepada cucunya daripada anaknya.

Keberadaan kakek-nenek dapat bervariasi baik di dalam maupun di luar keluarga, sebagai fungsi dari keadaan sosial, historis, keluarga, dan individu yang unik. Kualitas hubungan dengan cucu-cucu menjadi paling berpengaruh dan berhubungan secara positif dengan kepentingan peran kakek-nenek yang dirasakan (Mahne, & Klingebiel, 2012). Dalam menikmati peran sebagai kakek-nenek, orang dewasa madya melihat tahap kehidupan di kemudian hari ini sebagai kesempatan untuk mencapai kehidupan pribadi dan impian pensiun yang mungkin mereka tunda karena komitmen keluarga dan pekerjaan. Hasil suatu riset diantaranya menyebutkan bahwa menjadi sehat di usia tua, dan menikmati hari-hari dengan tetap bermanfaat adalah impian setiap lansia, daripada mengalami demensia dan mem-bebani orang-orang di sekitarnya (Gitlin, Winter, Dennis, Hodgson, & Hauck, 2010).

 

Daftar Pustaka

 

Di Gessa, G., Glaser, K., & Tinker, A. (2016). The impact of caring for grandchildren on the health of grandparents in Europe: A lifecourse approach. Social Science & Medicine, 152, 166-175. https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2016.01.041

 

Downie, J. M., Hay, D. A., Horner, B. J., Wichmann, H., & Hislop, A. L. (2010). Children living with their grandparents: Resilience and wellbeing. International Journal of Social Welfare, 19(1), 8−22. DOI: 10.1111/j.1468-2397.2009.00654.x

 

Gitlin, L. N., Winter, L., Dennis, M. P., Hodgson, N., & Hauck, W. W. (2010) A biobehavioral home-based intervention and the well-being of patients with dementia and their caregivers: The COPE randomized trial. JAMA, 304(9), 983–991.

 

Mahne, K., & Klingebiel, A. M. (2012). The importance of the grandparent role—A class specific phenomenon? Evidence from Germany. Advances in Life Course Research, 17(3), 145-155. https://doi.org/10.1016/j.alcr.2012.06.001

 

Rosenbaum, P. (2016). Developmental disability: Shouldn't grandparents have a place at the table? Developmental Medicine and Child Neurology, 58(6), 528. http://dx.doi.org/10.1111/dmcn.13125

 

 

Tulisan ini adalah narasi untuk lomba memotret bertemakan "Street Photography" yang diselenggarakan oleh Kelas Pagi Jakarta bersama @andrydilindra dan @photowalkramean berkolaborasi dengan @xiaomi.indonesia. Periode lomba berlangsung pada tanggal 1 April - 1 Mei 2021.







0 komentar:

Posting Komentar