Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Kamis, 08 April 2021

MEDITASI


Dalam tubuh manusia terdapat banyak sekali organ yang harus dijaga kesehatannya. Tujuannya agar tubuh selalu dalam kondisi optimal dalam menjalankan aktivitas apapun. Sebagian orang pernah mengalami keadaan dimana pikiran serasa stress maupun sedang cemas. Mungkin menyendiri adalah salah satu yang dapat digunakan untuk menghilangkannya.


    Menyendiri dalam artian yang positif yakni dengan melakukan meditasi. Meditasi merupakan sebuah latihan agar dapat menciptakan tubuh supaya lebih rileks serta membantu menenangkan pikiran. Manfaat meditasi diyakini sangat ampuh agar membuat seseorang yang sedang dalam keadaan stress akan mengurangi bahkan menghilangkan rasa tersebut. Meskipun yang anda lihat, meditasi hanya seolah-olah duduk diam tanpa melakukan apapun. Akan tetapi itulah yang membuat kegiatan ini sangat baik bagi orang yang memiliki pikiran sedang tidak baik. Lebih baik lagi jika anda lakukan pada malam hari, itu lebih membuat kesehatan tubuh menjadi normal dan juga dapat melatih mental serta fisik manusia.


Jika membahas mengenai fungsi meditasi pada malam hari, sebenarnya apa saja manfaat jika dilakukan pada keadaan sepi?



1. Dapat mengurangi Rasa Stres

2. Dapat Menurunkan Tekanan Darah

3. Manfaat Meditasi juga Untuk Mengontrol Kecemasan

4. Mampu Meningkatkan Kesehatan pada Emosional Seseorang

5. Dapat Meningkatkan Kesadaran Diri Seseorang

Dengan mediasi hidup menjadi lebih rileks serta tidak terlalu banyak beban.kita bisa mengurangi penat pada pikiran yang sedang terjadi sepanjang hari, tentunya baik bagi kesehatan.




Daftar pustaka : 
https://www.tribunnews.com/lifestyle/2021/01/30/3-cara-meditasi-untuk-mengatasi-susah-tidur-berikut-manfaat-meditasi

PENYUSURAN KORBAN SUNGAI DI TURI

 Ujian Tengah Semester Psikologi Sosial

Nama : Rina Widya A.

Nim   : 20310410045


PENYUSURAN KORBAN SUNGAI DI TURI


Sungai yang berada di daerah Turi ini kembali menelan korban jiwa. Diketahui, ratusan pelajar itu melakukan susur sungai dalam rangka melakukan kegiatan Pramuka. siswa yang tergabung dalam kegiatan pramuka merupakan kelas 7 dan 8. "Sebanyak 257 orang melakukan penyusuran Sungai Sempor tanpa melihat kondisi cuaca yang saat itu hujan lebat.

Sementara, beredar sebuah video yang menampilkan siswa yang tenggelam itu dengan kondisi lemas dan pucat. Sejumlah warga yang menemukan siswa tersebut langsung memboyongnya ke atas sungai dan melakukan sejumlah upaya menyelamatkan korban.

 Polisi menetapkan satu orang berinisial IYA sebagai tersangka dalam tragedi susur sungai siswa SMPN 1 Turi Sleman yang hanyut di Sungai Sempor, Dusun Dukuh, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta
Pasal yang dikenakan adalah Pasal 359 KUHP, tentang kelalaian yang menyebabkan orang lain meninggal dunia. Selain itu, polisi mengenakan Pasal 360 KUHP, karena kelalaian menyebabkan orang lain luka-luka. Ancamanya hukuman maksimal 5 tahun penjara.

PENYEBAB MUNCULNYA KEJAHATAN JALANAN ATAU YANG SERING KITA DENGAR DENGAN SEBUTA KLITIH








 Oleh : Setya Pramudi  (20310410032)

Dosen pengampu : Dr. Arundati Shinta, M. A

Tugas Psikologi Sosial

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Masa muda merupakan masa dimana kita mencari jati diri kita, masa dimana berusaha mendapatkan apa yang kita harapkan sejak dulu, mendapatkan apa yang kita mau, berteman dengan siapapun dan mencari relasi sebanyak mungkin agar dapat memudahkan kita dalam mencari pekerjaan maupun mendapatkan berbagai macam pengalaman dari teman teman, menjalani kehidupan di masa remaja memanglah menyenangkan dan tidak akan bisa mengulanginya suatu saat nanti, banyak diantara mereka yang memanfaatkan moment ini dengan melakukan berbagai macam aktifitas yang bermanfaat bahkan mungkin merugikan dengan harapan mereka memiliki pengalaman didalamnya.

Sebagai remaja tentu saja tidak lepas dengan pertemanan, akan tetapi dalam hal ini banyak yang belum bisa memilah dan memilih lingkungan bermain yang mana dianggap itu baik dan mana yang dianggap itu kurang baik, di siniliah beberapa permasalahan muncul di lingkungan, baik itu akan berdampak positif bagi masyarakat dan lingkungan,bahkan juga ada yang sampai merugikan masyarakat dan meresahkan,

Semua itu tergantung pada lingkungan yang mereka dalami, lingkungan sangat berpengaruh besar terhadap perilaku dan karakter setiap individu, baik di masa balita maupun remaja, apabila kita salah memilih lingkungan maka akan terjerumuslah kita ke hal yang negatif, akan tetapi jika kita dapat memilih sebagai manusia yang diberi akal tentu saja kita akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Klitih atau kejahatan jalanan memang akhir akhir ini sering terdengar di telinga kita baik dari media maupun dari kabar burung yang sampai ke kita, hal tersebut tidak luput dari pergaulan yang di dalaminya, karena hal tersebut bukanlah ajang untuk mendapatkan apa yang dia mau akan tetapi kebanyakan mereka melakukan hal itu dengan alasan agar mendapatkan kebanggaan dan pengakuan dari kelompoknya, pasti apabila dalam suatu kelompok seseorang merasa tidak mampu melakukanya hal tersebut menjadi tekanan tersendiri bagi dirinya.

Disiniliah  muncul tindak kejahatan jalanan atau yang sering kita dengar dengan istilah klitih, dan dari beberapa kasus yang terjadi kejadian tersebut dilakukan oleh para remaja bahkan mereka yang masih dibangku sekolah, karena dimana masa muda adalah waktu dimana kita menemukan jati diri kita.hal ini tentu saja menjadikan sebuah terror bagi masyarakat yang sering bepergian malam atau bekerja hingga larut malam, perasaan tidak tenang dan was was sering mereka alami saat keluar malam,

Maka dari itu kita sebagai orangtua ataupun tetangga sebaiknya memantau pergaulan anak anak di masa milenial seperti saat ini, dengan demikian kita dapat mengarahkan anak untuk bergaul ke dalam pergaulan yang terarah dan dapat menjadikan karakter anak. Dengan demikian kita mulai dari diri kita untuk menekan tindak kejahatan jalanan maupun kejahatan yang lain di lingkungan masyarakat.

PENTINGNYA MENGENDALIKAN EMOSI BAGI MAHASISWA KELAS KARYAWAN

 Oleh : Setya Pramudi  (20310410032)

Dosen pengampu : Dr. Arundati Shinta, M. A

Tugas Psikologi Sosial

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 

Emosi merupakan luapan perasaan senang maupun sedih yang di picu oleh faktor eksternal maupun internal diri kita, emosi juga berkaitan dengan suasana hati individu, pasti setiap orang pernah mengalami hal ini dalam keseharianya, karena pada dasarnya setiap individu memiliki tingkatann emosional yang berbeda beda, mungkin ada yang sangat mudah emosi ada juga yang bisa mmeredam emosinya dengan berbagai cara dan alasan tertentu,

Di Indonesia khususnya di provinsi D.I.Yogyakarta yang sering di sebut dengan kota pelajar tentu saja banyak sekali mahasiswa baik dari luar kota maupun dalam kota yang melaksanakan perkuliahan di Yogyakarta, karena kita ketahui bersama banyak universitas yang terdapat di Yogyakarta, banyak juga aneka ragam budaya yang ada di Yogyakarta karena hampir setengah mahasiswa adalah mahasiswa yang berasal dari luar daerah, tentu saja banyak kepribadian yang sering kita temui.

Yogyakarta juga memiliki universitas yang memiliki kelas malam atau sering kita dengar dengan sebutan kelas karyawan, ya tentu saja mereka yang berkuliah kelas karyawan tentu saja memiliki berbagai alasan mengapa mereka memilih kelas karyawan untuk dia tempuh di bangu kuliah, ada yang sudah berkeluarga dan tidak memiliki banyak waktu untuk melaksanakan perkuliahan regular, ada juga yang sudah bekerja dan hanya memiliki waktu pada sore dan malam hari

Dalam hal ini tentu saja banyak dari mereka yang melaksanakan kuliah di kelas karyawan memiliki banyak tekanan secara psikologis, apalagi bagi mereka yang sudah bekerja dan memiliki keluarga, melaksanakan pembelajaran atau mengerjakan tugas dalam kondisi capek tentu saja dapat memancing emosi dalam diri pada setiap individu, apalagi bagi mereka yang bekerja tentu saja sering merasakan suntuk dan hasrat ingin meluapkan rasa capeknya dengan refreshing.

Dengan demikian sangannlah penting bagi mahasiswa kelas karyawan dalam mengontrol dan menjaga stabilitas emosinya demi lancarnya keberlangsungan pembelajaran di bangku kuliah, banyak cara dan strategi untuk mengatur itu semua, tergantung pada diri setiap individu itu mencari kegiatan untuk mengobati suntuk dalam menjalankan perkuliahan, ada yang selalu menyempatka weekend untuk berlibur dan bersantai ada yang menjalankan hobinya dirasa cukup untuk mengobati lelah, dan ada juga yang melampiaskan dengan memeihara hewan.

Apabila emosi individu dalam menghadapi permasalahan tersebut tidak dapat mengontrolnya dapat menjadikan stress dalam hidupnya, mulailah mengenali dirimu sendiri dimana saat kalian memahami dan mengenali dirimu sendiri maka akan tahu kapan, dimana dana pa yang harus kalian lakukan untuk menghadapi permasalahan tersebut, apabila hal tersebut belum kalian temukan dalam diri kalian disitulah tambahan beban yang kalian hadapi, yaitu memikirkan apa yang harus diakukan saat suntuk dan penat setelah menjalani keseharian.

Maka dari itu sangatlah penting bagi kita untuk dapat menggontrol emosi agar dapat menenangkan diri kita masing masing dalam menghadapi kehidupan yang tentu saja setiap indibidu tidk selalu memiliki kesamaan dalam hidupnya, awali dengan mengenali diri masing masing maka satu langkah lebih baik untuk menghadapi problematika kehidupan.

 

 

PENTINGNYA EDUKASI PEMANFAATAN AIR SEJAK DINI




Air menjadi bagian yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan tidak terpisahkan dari kehidupan semua makhluk hidup yang berada di bumi seperti hewan maupun tumbuhan. Bahkan tubuh manusia sendiri terkandung 75% air. Maka dari itu, sangatlah penting bagi kita untuk memenuhi kebutuhan air yang cukup bagi tubuh setiap harinya untuk menggantikan air yang ada dalam tubuh kita

Selain sangat penting bagi tubuh manusia air juga menjadi ragam kebutuhan lain dalam kehidupan sehari-hari, misalnya untuk mengolah makanan, mencuci piring dan pakaian kotor, serta membersihkan diri. Namun seberapa pentingnya air itu dan apa saja kandungan yang ada didalamnya? Meski air tampaknya hanya bening, namun secara ilmiah ia tersusun dari beberapa senyawa dan mineral penting.

Sedangkan kita ketahui bahwa serakah telah menjadi sifat manusia mulai dari dulu, apalagi manusia merupakan makhluk konsumtif. Sampai saat ini pun sifat serakah masih juga menjamur. Sejak kecil  anak–anak sudah cenderung untuk bersifat serakah. Contohnya saja, jika punya anak kecil yang masih berumuran balita. Kalau kita punya satu dan dia juga punya satu, pasti dia akan menangis untuk mendapatkan apa yang kita punya. Agar supaya dia memiliki semua mainan dan kawannya tidak mendapatkanya sama sekali. keinginan untuk memburu kepentingan diri dan hasrat menguasai adalah memang sifat dasar dari manusia sejak kecil tanpa terkecuali.

Dalam hal ini kita sebgai manusia yang menyadari sifat dasar manusia sebagai makhluk yang serakah harusnya paham apa yang harus kita lakukan dan harus sebijaksana apa kita menghadapi kehidupan yang semakin lama semakin bertambahnya populasi manusia, dengan semakin bertambahnya populasi manusia maka akan menyempitnya lahan pertanahan sebagai tempat tumbuhnya makhluk hidup dan ekosistem didalamnya terutama pepohonan dan tumbuhan sebagai tempat cadangan air tanah, maka dari itu semakin lama akan semakin berkurangnya air bersih di lingkungan kita sebab menipisnya cadangan air di tanah,

Dengan demikian kita sebagai orang dewasa dan juga makhluk tuhan yang diberi akal sehat alangkah baiknya sejak dini kita berfikir tentang pentingnya air di dunia ini, semua itu dapat kita mulai dengan hal hal kecil seperti berhemat air, membuang sampah pada tempatnya, memelihara ekosistem di lingkungan kita, dan hal lain sebagainya, alangkah kebih baiknya apabila sejak dini kita memberikan edukasi dan paham tentang air kepada balita, kita ketahui bahwa di masa balita adalah masa paling tepat untuk bermain, akan tetapi di samping bermain sebaiknya kita menyisipkan pembelajaran agar supaya kelak saat dewasa akan selaalu teringat masa kecil dengan apa yang mereka lakukan

Menyiram tanaman bukanlah hal yang sulit, bukan juga hal yang perlu modal besar, dengan kita menanam tanaman sayuran di halaman rumah kita dapat menjadikanya bahan maakanan juga bisa sebagai penyimpan air tanah secara alami, maka dari itu dengan hal kecil yang sangat bermanfaat kita edukasikan anak kita agar menyadari bahwa air tidak hanya bisa untuk mainan saja akan tetapi dapat menjadikan manfaat bagi tumbuhan, dengan demikian anak akan senang dan yang sebelumnya menggunakan air untuk bermain dan tidak bermanfaat di sini kita edukasikan pemanfaatan air sebagai suplemen bagi tumbuhan,

Cukup dengan dua kali sehari kita ajak anak kita untuk menyayangi tumbuhan maka akan menjadi sebuah kedisiplinan dan akan tertanam sampai dia dewasa nanti, akan tetapi semua itu harus dilakukan dengan pengawasan orang dewasaa walaupun hal tersebut tidak berbahaya.

 

KEKUATAN NETIZEN NEGARA +62 

Di era modern ini, perkembangan teknologi sangatlah pesat. Teknologi baik berupa alat-alat yang menunjang khusus untuk pekerjaan manusia serti robot, personal computer, kendaraan dengan fitur terkini, maupun alat-alat yang menunjang kelancaran komunikasi manusia seperti gadget. Fitur-fitur dalam perangkat gadget itu sendiri juga seiring bertambah tahun juga semakin canggih pula, yang semakin lengkap dan tentunya semakin bisa menunjang keperluan-keperluan yang manusia itu sendiri inginkan. Mulai dari fitur alat hitung, game yang berbasis online, maupun sosial media. Tiap jenis-jenis aplikasi itu sendiri juga memiliki macam yang banyak, meski pada dasarnya memiliki kegunaan yang sama. Pada tulisan saya kali ini, pembahasan akan saya fokuskan pada media sosial dan aktivitas menonjol netizen Indonesia dalam menggunakannya.

Apa itu media sosial? Menurut P.N Howard dan M.R Parks (2012) Media sosial adalah media yang terdiri atas tiga bagian, yaitu : Insfrastruktur informasi dan alat yang digunakan untuk memproduksi dan mendistribusikan isi media, Isi media dapat berupa pesan-pesan pribadi, berita, gagasan, dan produk-produk budaya yang berbentuk digital, Kemudian yang memproduksi dan mengkonsumsi isi media dalam bentuk digital adalah individu, organisasi, dan industri. Kemudian menurut Michael Cross (2013) Media sosial adalah sebuah istilah yang menggambarkan bermacam-macam teknologi yang digunakan untuk mengikat orang-orang ke dalam suatu kolaborasi, saling bertukar informasi, dan berinteraksi melalui isi pesan yang berbasis web. Dikarenakan internet selalu mengalami perkembangan, maka berbagai macam teknologi dan fitur yang tersedia bagi pengguna pun selalu mengalami perubahan. Hal ini menjadikan media sosial lebih hypernym dibandingkan sebuah referensi khusus terhadap berbagai penggunaan atau rancangan. Dari kedua pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa media sosial adalah media daring yang digunakan untuk kebutuhan komunikasi jarak jauh, proses interaksi antara user satu dengan user lain, serta mendapatkan sebuah informasi melalui perangkat aplikasi khusus menggunakan jaringan internet. Tujuan dari adanya social media sendiri adalah sebagai sarana komunikasi untuk menghubungkan antar pengguna dengan cakupan wilayah yang sangat luas. 

Lalu, bagaimaan aktivitas di dalamnya? Penggunaan sosial media merupakan hak tiap-tiap orang atau individu, berarti hal ini tiap orang bebas menggunakan bagaimanapun sesuai dengan kehendak mereka dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Maka, seharusnya sudah semesthinya untuk menggunakannya dengan bijak dan terarah mengingat zaman sekarang ini selain terdapat aturan yang mengikat manusia di dunia nyata, aturan juga dibuat dan diterapkan untuk para pengguna jejaring sosial media pula, di Indonesia UU ITE misalnya.

Sayangnya, bisa kita lihat belum semuanya menggunakan jejaring sosial media ini dengan bijak dan terarah. Beberapa kejadian di sosial media yang sempat viral adalah aktivitas netizen Indonesia yang ramai-ramai mematikan akun Instagram official kompetisi badminton dunia yang kala itu dianggap curang untuk menghentikan langkah atlet badminton Indonesia. Tak kalah viral pula aktivitas netizen Indonesia yang menyerbu akun selebgram perempuan asal Kazakhstan, yang memberikan pesan-pesan kurang mengenakkan serta beramai-ramai untuk unfollow akun Instagram officialnya, bahkan hingga memberikan sangat banyak dislike pada unggahan karya selebgram tersebut di youtube officialnya. Serta yang baru-baru ini, penyerbuan akun “koboi fortuner” founder salah satu platform restock namun ternyata salah sasaran oleh netizen. Yang mereka banned merupakan akun restock perusahaan lain. Belum lagi aktivitas-aktivitas individu lain yang pernah memberikan komentar dengan unsur melecehkan, merendahkan, serta mengandung unsur SARA yang dapat dipidanakan.

Lebih lagi, terdapat pula sikap-sikap netizen yang mudah untuk terprovokasi oleh akun-akun yang memang memiliki motif tertentu yang menyebarkan informasi-informasi yang tidak benar atau hoax. Mudahnya para netizen terprovokasi ini tentu sangat merugikan, yang mana mereka tidak mengetahui secara persis sebenarnya mengenai apa yang mereka komentari itu dan ini membuat mereka menjadi “latah informasi”, dimana mereka dengan segera mengomentari suatu topik atau bahasan tanpa dasar dan tanpa ada referensi kuat terlebih dahulu.

Disini dapat disoroti bahwa memang penggunaan sosial media merupakan hak masing-masing, namun baiknya harus selalu diingat dan dipedomani untuk menggunakannya dengan positif dan terarah agar tidak merugikan. Saat kita membaca dan mengetahui informasi di suatu media sosial, baiknya kita juga mencari tahu terlebih dahulu dari berbagai sumber guna mengetahui lebih banyak informasi dan melihatnya dari berbagai sudut pandang. Hal ini semua dimaksudkan agar dapat membawa dampak baik serta lebih bermanfaat.

 

Daftar Pustaka:

https://pakarkomunikasi.com/pengertian-media-sosial-menurut-para-ahli#:~:text=Pengertian%20Media%20Sosial%20Menurut%20Para%20Ahli%20Komunikasi&text=McGraw%20Hill%20Dictionary%20%E2%80%93%20Media%20sosial,sebuah%20jaringan%20dan%20komunitas%20virtual.

Buletin Psikologi UGM 2017, Vol.25, No. 1, 36 – 44 Perilaku Penggunaan Media Sosial beserta Implikasinya Ditinjau dari Perspektif Psikologi Terapan

http://jurnal.unpad.ac.id/prosiding/article/view/13625/0

 

 

MEMAHAMI HUBUNGAN TERHADAP SAHABAT DAN BATASAN-BATASANNYA BERDASARKAN TEORI AJZEN dan FISHBEIN

 

Oleh :

AGUNG SAPRIANTO

(NIM 20310410040)

 Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 Dosen Pengampu : Dr. Arundhati Shinta MA.

 








 

          Memahami dan memprediksi perilaku manusia telah menjadi perhatian khusus para peneliti selama bertahun-tahun. Selain itu, asumsi bahwa pengetahuan tentang sikap akan membantu dalam tugas memprediksi perilaku manusia telah menjadi dasar bagi banyak penelitian konsumen dan sosial. Sikap dianggap memainkan peran penting dalam teori perilaku manusia sebagai penghubung penting antara apa yang dipikirkan orang dan apa yang mereka lakukan.

Secara umum diasumsikan bahwa prediksi perilaku paling baik dicapai dengan pemahaman dan pengukuran variabel kognitif. Mungkin asumsi paling mendasar yang mendasari konsep sikap adalah anggapan bahwa sikap dalam beberapa cara, membimbing, mempengaruhi, mengarahkan, membentuk, atau memprediksi perilaku actual.

Salah satu penjelasan yang ditawarkan untuk ketidakkonsistenan dalam temuan sikap-perilaku adalah bahwa secara historis peneliti belum secara universal menyetujui komponen atau elemen dari sikap membangun, dan sebagai konsekuensinya, mereka juga tidak menyetujui definisi eksplisit tentang sikap. Tanpa definisi yang jelas tentang sikap yang tersedia, tidak ada pendekatan yang jelas tentang bagaimana sikap harus diukur, yang mengarah ke berbagai ukuran 'sikap' yang dilaporkan dalam literatur awal. Dalam mengenali kesulitan awal dengan hubungan sikap-perilaku, Ajzen dan Fishbein mengajukan teori di mana konsep sikap diperiksa dalam bagian-bagian yang terpisah. Secara khusus, dasar untuk kerangka konseptual Ajzen dan Fishbein disediakan oleh perbedaan mereka antara empat komponen: keyakinan, sikap, niat, dan perilaku

·         Keyakinan

 Sikap seseorang diyakini terbentuk sebagai respons terhadap perolehan keyakinan tertentu. Keyakinan  adalah blok bangunan fundamental yang mendasari kerangka konseptual Ajzen dan Fishbein. Mereka mengandaikan bahwa orang dapat memperoleh kepercayaan atas dasar pengamatan langsung, atau informasi yang diterima dari sumber luar, atau melalui berbagai proses inferensi. East (1990) menjelaskan bahwa kebanyakan orang memegang keyakinan positif dan negatif tentang suatu objek (misalnya orang, tindakan), dan sikap dipandang sesuai dengan pengaruh total yang terkait dengan keyakinan mereka. Misalnya, keyakinan bahwa 'perdana menteri adalah pemimpin yang efektif' mengaitkan objek 'perdana menteri' dengan atribut positif 'pemimpin yang efektif'. Di sisi lain, seseorang mungkin juga percaya bahwa objek, 'perdana menteri' dengan atribut “pemimpin yang tidak efektif”, Oleh karena itu, konsep sikap dapat dilihat sebagai seperangkat keyakinan, setiap keyakinan dapat dianggap sebagai atribut yang terpisah, dan keseluruhan sikap seseorang terhadap objek merupakan fungsi dari evaluasinya terhadap atribut tersebut. Orang yang berbeda mungkin memiliki keyakinan yang sama tentang berbagai objek tetapi mungkin memberi mereka bobot evaluatif yang sangat berbeda. Dengan demikian, keyakinan yang sama dapat menghasilkan sikap yang berbeda, bergantung pada bobot evaluatif yang diberikan. Oleh karena itu, individu akan berbeda dalam sikap mereka tentang katakanlah, preferensi pemilihan politik, tergantung pada kekuatan dan campuran kepercayaan.

·         Sikap

Sikap terhadap suatu objek belum tentu terkait dengan sikap berperilaku terhadap objek itu, dan bahwa kegagalan peneliti untuk mengenali perbedaan sikap ini telah menyebabkan ketidakakuratan dalam prediksi perilaku. Misalnya, seseorang mungkin memiliki sikap yang sangat disukai terhadap suatu partai politik (objeknya), tetapi tidak cenderung memilih pada pemilihan berikutnya (perilaku terhadap objek tersebut). Karenanya, korelasi antara sikap terhadap objek dan tindakan terhadap objek tersebut mungkin tidak tinggi. Oleh karena itu, Ajzen (1988) menyarankan jika tindakan terhadap perilaku yang ingin diprediksi oleh peneliti, maka sikap untuk melakukan tindakan inilah yang perlu diukur.

·         Niat

 Selama bertahun-tahun para peneliti berasumsi bahwa hubungan antara sikap dan perilaku adalah langsung. Artinya, semakin disukai suatu sikap, semakin besar kemungkinan seseorang berperilaku sesuai dengan sikap tersebut, tanpa ada variabel lain yang mengganggu hubungan tersebut. Namun, Ajzen dan Fishbein (1980) membantah asumsi ini, dan berpendapat bahwa upaya untuk memprediksi perilaku hanya dengan mengukur sikap tidak akan berhasil. Dalam kerangka konseptual Ajzen dan Fishbein, sikap dipandang sebagai satu penentu utama niat seseorang untuk melakukan perilaku tersebut. Namun, keyakinan lain juga dianggap relevan untuk pembentukan niat berperilaku (Ajzen & Fishbein, 1970). Keyakinan normatif adalah keyakinan yang terjadi karena pengaruh orang lain terhadap apakah seseorang harus atau tidak harus melakukan perilaku yang dimaksud. Misalnya, pengaruh teman, keluarga, atau rekan kerja dapat berdampak pada niat seseorang untuk memilih partai politik. Ini menjelaskan mengapa dua orang mungkin memiliki sikap yang sama terhadap, katakanlah, Partai Hijau, tetapi mungkin berperilaku berbeda dalam hal pemungutan suara politik, tergantung pada sejauh mana orang lain memengaruhi tindakan mereka. Selain sikap dan keyakinan normatif, Ajzen (1985) mengakui bahwa pembentukan niat untuk bertindak juga dapat dipengaruhi oleh aspek-aspek yang tidak berada di bawah kendali kemauan seseorang, seperti persyaratan kemampuan tertentu, atau sumber daya yang diperlukan. Misalnya, selain keyakinan sikap atau keyakinan normatif, niat seseorang untuk memilih juga dapat dipengaruhi oleh kemampuannya untuk pergi ke tempat pemungutan suara pada Hari Pemilihan. Untuk alasan ini

·         Perilaku

Ajzen dan Fishbein melihat niat perilaku sebagai anteseden langsung dari perilaku terbuka yang sesuai; oleh karena itu, prediksi perilaku terbaik adalah niat seseorang untuk melakukan perilaku tersebut. Namun, kesederhanaan yang tampak dari pendekatan ini agak menipu. Fishbein dan Ajzen (1975) menyatakan ada dua faktor yang dapat mengganggu hubungan niat-perilaku. Yang pertama adalah waktu intervensi antara niat yang dinyatakan dan waktu sebenarnya dari tindakan tersebut. Karena seringkali tidak praktis untuk mengukur niat seseorang segera sebelum kinerja perilaku, ukuran niat yang diperoleh pada satu waktu mungkin tidak mewakili niat orang tersebut pada saat observasi perilaku (East, 1990). Ini disebabkan oleh fakta bahwa niat perilaku dipengaruhi oleh banyak faktor situasional, yang dapat mengintervensi dan mengganggu hubungan sikap-perilaku. Pada gilirannya hal ini mengarah pada situasi di mana niat perilaku tidak sesuai dengan perilaku yang sebenarnya. Sebagai contoh, Fishbein dan Ajzen (1975) menjelaskan bahwa jika seseorang menyatakan niat untuk membeli mobil dalam waktu tiga bulan, setiap perubahan dalam posisi keuangannya, harga mobil, atau ketersediaan atau harga bensin dapat mempengaruhi. maksud tersebut.

Faktor kedua yang disarankan Fishbein dan Ajzen (1975) menyebabkan masalah dalam pengukuran sikap niat-perilaku dijelaskan sebagai tingkat kompatibilitas dalam tingkat spesifisitas. Artinya, niat hanya dapat memberikan ukuran yang akurat dari perilaku yang diprediksi jika ada kompatibilitas dengan apa yang sebenarnya sedang diukur. Oleh karena itu, Fishbein dan Ajzen menyatakan penting bahwa ukuran sikap dan niat yang diperoleh berada pada tingkat spesifisitas yang sama dengan perilaku yang mereka coba prediksi, untuk mencocokkan sebab dan akibat. Artinya, semakin tepat niat perilaku yang diperoleh, semakin besar kemungkinan untuk secara akurat terkait dengan perilaku selanjutnya.

 

DAFTAR PUSTAKA:

Oppenheim, AN (1992). Desain kuesioner, wawancara dan sikap pengukuran. London: Pinter Publishers Ltd.

Fishbein, M., & Ajzen, I. (1975). Keyakinan, sikap, niat, dan perilaku: An pengantar teori dan penelitian. Membaca, Massachusetts: Perusahaan Penerbitan Addison-Wesley.

Ajzen, I. (1988). Sikap, kepribadian, dan perilaku. AS: The Dorsey Press.

 

 

 

 

PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA DI MASA PANDEMI

Pandemi Covid-19 adalah krisis kesehatan yang pertama dan menjadi fokus di seluruh dunia.Pada awal bulan Januari 2020, korona atau yang dikenal dengan Covid-19 ini mulai menjadi topik terhangat yang dibicarakan oleh dunia. Indonesia sendiri melalui Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo bersama Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto pada Senin tanggal 2 Maret 2020 mengumumkan bahwa Covid-19 sudah masuk ke Indonesia, sehingga siap atau tidak Indonesia harus menghadapi, mencegah, dan melawan penyebaran Covid-19 tersebut. Untuk itu Pemerintah telah melakukan berbagai upaya dan kebijakan, salah satunya adalah bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), yaitu melaksanakan tugas kedinasan di rumah/tempat tinggalnya masing-masing untuk mencegah dan meminimalisir penyebaran virus corona di masyarakat. Seperti halnya juga banyak Negara lainnya yang memutuskan untuk menutup sekolah, perguruan tinggi, universitas dan kantor-kantor pemerintahan serta perusahaan swasta juga memberlakukan bekerja dari rumah.

Pemerintah mengantisipasi penyebaran virus covid-19 melalui surat edaran yang dikeluarkan, terdapat 10 poin salah satunya adalah anjuran untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran secara daring atau online. Pembelajaran daring atau online memiliki kelebihan dan hambatan dalam implementasinya. Beberapa perguruan tinggi di Indonesia dengan cepat melaksanakan intruksi yang telah dikeluarkan untuk dapat diterapkan di institusi pendidikan (Yandwiputra, 2020).

Pencegahan penyebaran covid-19 dapat dilakukan dengan cara menghentikan acara atau kegiatan yang menyebabkan masa berkumpul. Pembelajaran yang dilakukan secara tatap muka perlu ditinjau ulang pelaksanaannya karena mengumpulkan banyak siswa dalam satu ruangan. Upaya pencegahan penularan dapat dilakukan dengan cara meniadakan pembelajaran secara tatap muka yang berhubungan secara fisik antara siswa dengan siswa lain maupun dengan pendidik dapat meminimalisir penyebaran virus ini (Firman dan Rahman, 2020). Pengunaan teknologi dapat menjadi alternatif dalam melaksanakan pembelajaran walaupun siswa dengan pendidik tidak berada pada tempat yang sama (Milman, 2015).

Kondisi pendidikan seperti di atas tentunya menjadi suatu tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Banyak fasilitas fisik maupun nonfisik serta psikologis yang harus disediakan guna memperbaiki kualitas pendidikan. Salah satu cara untuk memperbaiki kompleksitas kualitas pendidikan adalah dengan meningkatkan prestasi belajar siswa (Alfassi, 2004). Untuk meningkatkan prestasi belajar, melibatkan penguasaan keterampilan baru atau peningkatan keterampilan yang sudah dimiliki siswa (Duncan dkk, 2007).

Menurut Azwar (2004), secara umum terdapat dua faktor yang mempengaruhi peningkatan prestasi seseorang, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi antara lain faktor fisik dan faktor psikologis. Faktor fisik berhubungan dengan kondisi umum seperti penglihatan atau pendengaran. Faktor psikologis menyangkut faktor-faktor  non fisik seperi minat, motivasi,  bakat, intelegensi, sikap, dan kesehatan mental. Sedangkan faktor eksternal meliputi kondisi tempat belajar, perlengkapan belajar, materi belajar, kondisi lingkungan belajar, dukungan sosial, serta pengaruh budaya. Semua faktor tersebut memiliki pengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar siswa selama pandemi.

Dukungan sosial, menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan prestasi belajar siswa. Menurut House dan Kahn (1985) dukungan sosial didefinisikan sebagai tindakan yang bersifat membantu yang melibatkan emosi, pemberian informasi, bantuan instrumental, dan penilaian positif terhadap individu dalam menghadapi permasalahannya. Sumber dukungan yang diterima oleh siswa akan turut mempengaruhi perkembangannya. Dukungan sosial memberikan perasaan yang berguna pada individu sehingga ia merasa diterima. Dukungan akan bermanfaat apabila sesuai dengan situasi yang ada (Kumalasari dan Ahyani, 2012). Sedangkan menurut Sarafino & Smith (2006), dukungan sosial merupakan kehadiran orang lain yang dapat membuat individu merasa nyaman diperdulikan, dihargai serta bantuan yang tersedia jika diperlukan. Dukungan sosial mengacu pada tindakan yang sebenarnya dilakukan oleh orang lain.

Berdasarkan penjelasan mengenai dukungan sosial di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial merupakan kehadiran dari orang-orang sekitar yang memberikan keperdulian, penghargaan, dan bantuan kepada individu yang bersifat membantu agar individu tersebut dapat menghadapi permasalahannya sehingga ia merasa berguna dan merasa di terima dalam lingkungannya.

Seorang siswa akan membutuhkan orang tua, keluarga, teman, guru serta masyarakat di lingkungan tempat ia tinggal untuk mendapatkan sumber dukungan sosial. Segala sesuatu yang terjadi pasti akan berakibat pada dukungan sosial baik dari segi emosional, penghargaan, instrumental, maupun informasi. Siswa yang memperoleh dukungan sosial, secara emosional akan merasa lega karena diperhatikan, mendapat saran dan masukan yang menyenangkan pada dirinya dari orang-orang sekitarnya. Hal tersebut dapat membuat siswa lebih optikis dalam menjalani kehidupannya khususnya pada kegiatan belajarnya walaupun terdapat tuntutan baru yang harus dihadapi.

Antara sekolah, guru, orang tua, teman, dan masyarakat harus mampu memberikan dukungan sosial yang positif terhadap setiap siswa agar mereka merasa nyaman dan senang dalam proses belajar.  Peran dukungan sosial yang di terima siswa dapat membangun kepercayaan, membantu mereka dalam memecahkan permasalahan dan dapat memperbaiki pencapaian prestasi di sekolah (Lee dkk, 1999). Keberhasilan siswa dalam meraih prestasi tidak lepas dari adanya dukungan sosial yang berkontribusi dalam dirinya. Dukungan sosial yang paling berkontribusi bagi siswa berasal dari keluarga (Conger, 1991). Dukungan sosial yang banyak diterima yaitu dukungan emosional, diikuti dukungan spiritualm relasional, informasional, material, dan temporal. Dukungan emosional berupa nasehat yang diberikan oleh orang tua atau keluarga kepada anak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dukungan sosial secara langsung dari keluarga memiliki peran utama dalam peningkatan prestasi siswa yang diikuti adanya peran guru dan teman serta lingkungan sekitar selama pembelajaran di masa pandemi.


DAFTAR PUSTAKA

Alfassi, M. (2004). Effects of a learner-centred environment on the academic competence and motivation of students at risk. Learned Environments Research, 7, 1-22.

Azwar, S. (2004). Pengantar psikologi intelegensi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Conger, J.J. (1991). Adolescenceandyouth: Psychological development in changing world. NewYork: Harper and Row Publisher.

Duncan, G.J., Dowsett,C.J., Claessens,A., Magnuson,K., Huston, A.C., Klebanov, P., Japel, C. (2007). School readiness and later achievement. Development Psychology,43 (6), 1428-1446.

Firman., & Rahman, S. R. (2020). Pembelajaran online di tengah pandemi covid-19. Indonesian journal of educational science (ijes), 02(02), 81-80.

House,T., & Kahn,R.L. (1985). Measures and concept of social support. London: Academic Press Inc.

Kumalasari, F., & Ahyani, L. N. (2012). Tentang Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Remaja Di Panti Asuhan. Jurnal Psikologi Pitutur, 1(1),21-31.

Lee, V.E., Smith, J,B., Perry T,E., & Smylie, M.A. (1999). Social support, academic press and student achievement. Chicago: AViewFromTheMiddle Gradesin.

Milman, N. B. (2015). The flipped classroom strategy: What is it and how can it best be used?. Distance Learning, 9(3), 85-87.

Sarafino, E., & Smith, T. (2008). Health Psychology Biopsychology Interanctions Seventh Edition. New Jersey: John Wilay & Sons, Inc.

Yandwiputra, A. R. (2020). Kuliah Jarak Jauh karena Virus Corona, UI: Bukan Lockdown. dalam Metro Tempo.co. Retrieved from https://metro.tempo.co/read/1319537/kuliah-jarak-jauh-karenaviruscorona-ui-bukan-lockdown

 

EMBUNG PENYEDIA KEHIDUPAN 

Air adalah sumber kehidupan. Sekitar 80—90% zat penyusun makhluk hidup pun berupa air. Sumber air beragam, di antaranya dari presipitasi atau hujan, mata air, dan air bawah tanah. Sumber air yang kurang termanfaatkan dan kerap terbuang adalah air hujan. Indonesia sebagai negara tropis memiliki curah hujan tinggi, rata-rata 2.000—3.000 mm per tahun. Jumlah itu kerap terbuang karena kurang optimalnya penampungan air. Andai setiap tetes air hujan itu termanfaatkan, tentu irigasi untuk pertanian bisa lebih optimal, mengingat banyak daerah pertanian di Indonesia berupa lahan tadah hujan. Salah satu kiat yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan air hujan adalah menampungnya, agar kelebihan air pada musim hujan bisa digunakan pada musim kemarau. Embung bisa menjadi pilihan sebagai alat penampung air. Tidak hanya air hujan, sumber air potensial lain seperti air sungai, air parit, suplesi air irigasi, hingga air dari mata air pun bisa ditampung di embung.

Tak seperti sekarang, pada zaman dahulu air masih sangat melimpah dan terjaga karena semua berjalan alami begitu saja, tanpa ada campur tangan manusia dengan berbagai factor yang dapat menurunkan kualitasnya. Namun di satu sisi, di zaman sekarang ini dengan segala teknologi dan pemikirannya, manusia menggunakan air dibarengi dengan menggunakan teknologi tersebut. Baik untuk menemukan sumber mata air itu sendiri maupun untuk meningkatkan kualitas air agar tetap layak digunakan. Maka dari itu, pemberdayaan air sangatlah diperlukan.

Pelestarian air oleh manusia memiliki perbedaan di setiap daerah menyesuaikan dengan kondisi alam dan daerah masing-masing. Sebagai contoh di desa Ngeposari, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Disini terdapat sebuah embung yang bernama Embung Jlamprong. Lokasinya berada di pegunungan yang letaknya dikelilingi oleh persawahan, perkebunan, dan terdapat goa yang lingkungannya dijaga keasliannya sekaligus dijadikan sebuah tempat wisata.

Berdasarkan buku Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Embung yang diterbitkan oleh Direktorat Pengelolaan Air Irigasi, Kementerian Pertanian (2011) embung merupakan bangunan konservasi air berbentuk cekungan disungai atau aliran air berupa urugan tanah, urugan batu, beton dan/atau pasangan batu yang dapat menahan dan menampung air untuk berbagai keperluan. Menurut (Rustam, 2010) embung adalah bangunan artifisial yang berfungsi untuk menampung dan menyimpan air dengan kapasitas volume kecil tertentu, lebih kecil dari kapasitas waduk/bendungan. Embung biasanya dibangun dengan membendung sungai kecil atau dapat dibangun di luar sungai. Kolam embung akan menyimpan air dimusim hujan dan kemudian air dimanfaatkan oleh suatu desa hanya selama musim kemarau untuk memenuhi kebutuhan dengan urutan prioritas, penduduk, ternak, dan kebun atau sawah. Jumlah kebutuhan tersebut akan menentukan tinggi tubuh embung dan kapasitas tampungan embung.

Embung yang dibangun pada tahun 2015 ini tergolong embung penampung air (storage dams) dalam jenisnya. Dikarenakan, embung ini dibangun bertujuan untuk menyimpan air di musim hujan kemudian dipergunakan di musim kemarau, dimana pada masa ini kebutuhan air meningkat apalagi daerah ini adalah daerah dengan kontur tanah keras dan batuan karst yang sulit menampung air. Ada pun air, maka sumbernya berada di bawah tanah, terdapat sungai bawah tanah dimana terdapat air mengalir namun sulit dijangkau oleh warga.

Selain digunakan untuk menampung air, embung yang bervolume tampung 16.778 m3 ini juga digunakan warga sekitar maupun warga dari daerah lain untuk memancing, olahraga jogging, berwisata, ataupun kegiatan refreshing lainnya. Bahkan, pemerintah setempat juga beberapa kali mengadakan acara untuk warganya disana.

 

 

 

Daftar Pustaka

http://e-journal.uajy.ac.id/17541/3/MTS026712.pdf

https://core.ac.uk/download/pdf/236378322.pdf

http://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/6382

http://sda.pu.go.id/berita/view/pembangunan_4_embung_dan_kedaulatan_pangan_di_ta_2017_

Air bagi banyak keperluan dan kehidupan


Oleh :
Muhammad Setiawan Hendianto

NIM :
20.310.410.031

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Dosen Pengampu : Dr. Arundhati Shinta, M.A

Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Bisa dikatakan dua per tiga bumi tempat kita tinggal ini adalah air dan satu per tiganya adalah daratan. Di dalam tubuh makhluk hidup (manusia) pun terdapat 60% air dari komponen penyusunnya. Sehingga bisa saja orang bertahan lama tidak makan, tetapi orang tidak akan bisa bertahan lama tanpa minum. Oleh karena itu dapat dikatakan air sangat penting, tanpa adanya air di muka bumi ini maka sangat mustahil ada kehidupan di dalamnya. Dengan demikian kita semua harus terus berusaha untuk mengelola air agar ekosistem alam tetap terjaga kelestariannya.






 Sungai sebagai tempat air mengalir sebelum menuju lautan, di Desa Wisata Watu Ngelak, sungai yang melewati kampung ini tidak hanya mengalir begitu saja, di sungai opak ini, sungai mengalir ini menjadi wisata alami yang menyuguhkan kesan berbeda dari sungai biasa, di tempat ini sungai dan sekitarnya juga terdapat pengolahan air menjadi kolam pemancingan, wisata keliling sungai dengan perahu, tempat ini dibuka selalu dengan biaya tiket masuk dan parkir seikhlasnya, dari air sungai yang indah terdapat orang berdagang di tempat ini yang sangat menguntungkan baginya, pembudidayaan ikan, hingga sebagai wisata, siapapun bisa menikmati tempat ini dan kapanpun .


Diharapkan penggunaan air yang baik dan benar dapat memberikan contoh bagi tempat2 lain agar tetap menjaga bumi ini untuk bersama 🌏

📍Lokasi : Puton Trimulyo Jetis Bantul Yogyakarta

#hariairsedunia
#fakultaspsikologiup45
#psikologiup45
#hariairsemafpunipas
#lombafotosemafpunipas

PENGENDALIAN EMOSI ANGGOTA KEPOLISIAN SAAT TERJADI KERICUHAN PENGAMANAN SEPAK BOLA

 



Di Susun Oleh :

Ade Rei Enggi Wijaya

20310410034

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Dosen Pengampu : Dr.Arundhati Shinta, M.A



Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) merupakan salah satu lembaga Negara yang ada di Negara Republik Indonesia yang dipimpin oleh seorang Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri). Sebagai sebuah organisasi, Polri telah menerapkan sistem sentralisme dimana ada satu kesatuan yang saling terkait antara Polri tingkat pusat yaitu Mabes Polri sampai dengan Polri tingkat bawah yaitu Polisi Sektor (Polsek) sebagai ujung tombaknya. Keberhasilan suatu organisasi tergantung pada kemampuannya untuk mengelola berbagai macam sumber daya yang dimilikinya, salah satunya yang sangat penting yaitu sumber daya manusia. Sumber daya manusia senantiasa melekat pada setiap sumber daya organisasi apapun sebagai faktor penentu keberadaan dan peranannya dalam memberikan kontribusi ke arah pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.

Tujuan dari organisasi Polri, yaitu menciptakan Kepolisian Republik Indonesia yang professional, salah satunya dengan cara berorientasi pada kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Hal itu menjadi acuan dalam Polri sebagai pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat, berada dekat masyarakat dan membaur bersamanya. Pasal 13 Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia menyatakan bahwa Tugas Pokok Kepolisian Negara Indonesia adalah: Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, Menegakkan hukum, dan Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Tugas-Tugas tersebut harus dipahami, dihayati dan dilaksanakan oleh sumber daya manusia yang ada di organisasi Polri, yaitu semua personil Polri. Kenyataan di lapangan bahwa banyak personil Polri yang tidak memahami, menghayati, dan melaksanakan tugas dengan baik dan benar, sehingga menimbulkan pandangan dan penilaian negatif dari masyarakat, yang dampaknya dirasakan organisasi Polri. Jika tugas yang diemban tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya, maka kepercayaan masyarakat terhadap Polri tidak akan pernah terwujud seperti yang diharapkan oleh institusi Polri selama ini.

Setiap anggota Polri di lapangan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat untuk melakukan berbagai tugas pembinaan (perlindungan, pengayoman dan pelayanan) diharapkan harus bisa memberikan kesan dan cermin Polri yang baik bagi masyarakat. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, cara berpakaian, cara berbicara, hingga pasca pelaksanaan tugas, seorang anggota Polri harus dapat menampilkan sosok Polri yang baik, sehingga di mata masyarakat Polri memiliki citra dan kesan yang baik. Pada pelaksanaan tugasnya tersebut, anggota Polri dituntut untuk dapat memiliki kemampuan berempati, membina hubungan dengan orang lain, terutama masyarakat, sesuai dengan tugas utamanya, yaitu sebagai pelindung dan pengayom masyarakat.

Anggota Polri diharapkan dapat mengelola emosi dalam dirinya agar dapat memiliki stabilitas emosi dalam bekerja sehingga dapat mempertahankan kinerjanya dengan baik, serta dapat mengekspresikan perasaan yang ada dalam dirinya pada situasi dan kondisi yang tepat.

Polisi adalah aparat penegak hukum yang memiliki tugas dalam menjaga ketertiban masyarakat dan berperan sebagai penjaga keseimbangan antara kepentingan orang yang melaksanakan hak-haknya, misalnya hak untuk berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat dengan kepentingan orang lain yang menikmati haknya, misalnya hak untuk bekerja, hak untuk bergerak, hak untuk beristirahat, dan sebagainya. Polisi dalam undang-undang diberi kewenangan dan kekuasaan luas untuk menjaga ketertiban dan ketentraman masyarakat. Polisi berwenang mengatur masyarakat di jalanan, di tempat-tempat umum, serta mengawasi dan memaksa mereka untuk patuh pada aturan sehingga undang-undang berjalan semestinya (Kunarto& Tabah, 1995).

Setiap anggota polisi dituntut untuk memiliki sifat-sifat agresif sekaligus penyabar, yang akan menuntun pertimbangannya dalam setiap situasi yang ia hadapi. Kerusuhan dapat diredam dengan penggunaan kekuatan kepolisian dengan perkuatan kompi-kompi pengendali massa, kritik tajam pengunjuk rasa, teriakan-teriakan dianggap penghujatan, karenanya dalam menghadapi kerusuhan seringkali yang menonjol adalah justru balas dendam melalui penggunaan kekerasan yang berlebihan (Ismail, 2001).

Akhir-akhir ini banyak sekali pertandingan sepakbola yang berlangsung di wilayah hukum Polda D.I. Yogyakarta yang tepatnya di Stadion Maguwoharjo dan Stadion Mandala Krida. Pertandingan tersebut adakalanya berjalan dengan aman dan lancar, tetapi terkadang terjadi kericuhan. Misalnya pada tanggal 15 Mei 2019 pertandingan antara PSS Sleman melawan Arema FC yang berakhir dengan kericuhan.

Kericuhan sempat terjadi  sebelum laga PSS Sleman vs Arema FC dimulai namun berhasil diredam. Kericuhan justru terjadi lagi dan mengakibatkan wasit harus menghentikan pertandingan antara menit ke 29-30. Dalam kericuhan di laga PSS Sleman vs Arema FC, suporter PSS Sleman dan pendukung Arema FC terlihat adu lempar dengan menggunakan serpihan keramik serta batu. Penyebab kerusuhan pertandingan itu bukan pendukung PSS Sleman dan Arema FC tetapi hanya beberapa provokator yang merusak jalannya pertandingan tersebut.

Hal ini menyebabkan Anggota Kepolisian berjibaku untuk mengendalikan Massa yang Anarkis. Sehingga menyebabkan Anggota Kepolisian mengendalikan Emosinya untuk tetap tenang dan Fokus untuk mengendalikan Massa agar situasi lekas aman kembali.

Tindakan kekerasan pada saat menghadapi Suporter Sepak Bola yang Anarkis menunjukkan bahwa masih ada sebagian anggota kepolisian yang tidak mampu mengendalikan emosinya. Dalam aksi pengamanan Sepakbola seharusnya aparat kepolisian tidak mudah terpancing dan tetap bisa mengendalikan diri disaat supporter mulai bertindak anarkis. Massa yang anarkis tidak harus dilawan dengan kekerasan. Kesabaran hati serta adanya kemampuan mengontrol emosi saat menghadapi supporter yang anarkis akan membuahkan kebaikan, yakni kekerasan tidak terjadi dan bentrokan pun bisa dihindarkan.

 

 


Referensi :

 

Kapolri (2006). Peraturan Kapolri NO. POL : 16 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengendalian Massa.

 

Rahardi, H. Pudi.2014.Hukum Kepolisian: Kemandirian, profesionalisme, dan

Reformasi Polri, Surabaya: Laksbang Grafika.

 

Ridwan, Syafiudin.2012. Manajemen Amarah Petugas Pengendalian Massa (Dalmas) Polda Jatim.