Hero Lingkungan: Membersihkan Pedesaan Dari Sampah
Nama : Banun Havifah Cahyo Khosiyono
NIM : 24310440002
Kelas : B
Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Tugas : Esai 3 (Lakukan before-and-after)
Menjadi “hero” dalam bidang lingkungan bukan sekadar slogan, melainkan aksi nyata yang dapat memberi teladan di masyarakat. Saya melaksanakan kegiatan membersihkan tempat publik sebanyak dua kali di lokasi berbeda, masing-masing berdurasi satu jam.
- Tanggal & Waktu: 18 April 2026, pukul 08.00–09.00 WIB
- Lokasi: RT 01, Sribitan, Bangunjiwo
- Permasalahan: Sampah plastik dan kertas mercon pasca perayaan.
- Hasil: Terkumpul ± 12 kg sampah plastik campuran.
- Solusi: Sampah dipilah, plastik disalurkan ke bank sampah.
- Tanggal & Waktu: 25 April 2026, pukul 16.00–17.00 WIB
- Lokasi: RT 02 Sribitan, Bangunjiwo
- Permasalahan: sampah anorganik (botol, kaleng, plastik makanan).
- Hasil: Terkumpul ± 15 kg sampah anorganik.
- Solusi: Botol dan kaleng dijual ke pengepul, plastik dikirim ke bank sampah.
Kedua kegiatan ini saya dokumentasikan dengan foto before-after (2 foto sebelum, 2 foto sesudah) sebagai bukti perubahan nyata. Perbedaan dengan plogging adalah fokus pada lokasi tetap dengan intensitas pembersihan mendalam, bukan sekadar mengumpulkan sampah sambil berolahraga.
Refleksi Psikologi Lingkungan
Permasalahan utama yang saya temukan adalah persepsi masyarakat terhadap sampah. Banyak orang menganggap sampah sebagai hal sepele, padahal dampaknya serius terhadap kesehatan dan estetika lingkungan. Dengan turun langsung, saya belajar bahwa coping behavior kolektif (kerja bersama) lebih efektif daripada sekadar mengeluh. Selain itu, kegiatan ini membuka peluang karier di bidang Corporate Social Responsibility (CSR). Perusahaan membutuhkan figur yang mampu menjadi model perubahan lingkungan. Dengan pengalaman nyata membersihkan ruang publik, saya dapat menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan, sekaligus memperkaya portofolio karier.
Kesimpulan
Kreativitas manusia memang bisa merusak lingkungan bila hanya berorientasi pada manfaat jangka pendek. Namun, dengan mengarahkan kreativitas pada aksi pro-lingkungan seperti kompos, ecoenzim, bank sampah, dan pembersihan publik, kita bisa menjadi agen perubahan. Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa menjadi “hero lingkungan” bukan hanya tugas akademik, tetapi juga investasi sosial dan karier jangka panjang.






0 komentar:
Posting Komentar