Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Minggu, 31 Mei 2026

ESAI PRESTASI (EPRES) 2 BERPARTISIPASI DALAM KEGIATAN KEMASYARAKATAN

 BERPARTISIPASI DALAM KEGIATAN KEMASYARAKATAN (MEMBANTU MENANAM BIBIT TANAMAN BANTUAN DARI KELURAHAN DAN MEMBANTU KEGIATAN WARGA SAAT IDUL ADHA)

Reni Prabandari
24310410221
Kelas Psikologi Lingkungan-B
Tugas Esai Prestasi (2)
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain, sebisa mungkin Saya selalu aktif dalam kegiatan kemasyarakatan di lingkungan tempat tinggal Saya. Mungkin apa yang Saya lakukan tidak banyak, tetapi Saya berharap hal tersebut bisa bermanfaat.

Dalam beberapa kesempatan, ada beberapa hal yang Saya lakukan di lingkungan tempat tinggal Saya. Kegiatan tersebut adalah:

1. Menanam Bibit Tanaman Bantuan dari Kelurahan di Sekitar Tempat Tinggal

Pada hari Minggu, tanggal 10 Mei 2026 sekitar pukul 10.00 WIB lingkungan tempat tinggal Saya di Perum Pesona Kota Mungkid, Donorojo, Mertoyudan, Magelang telah menerima bantuan bibit tanaman dari Kelurahan Donorojo, Mertoyudan, Magelang. Bibit tanaman tersebut berupa sayuran. Saya turut aktif membantu menerima bibit tanaman tersebut dan bersama warga yang lainnya menanam bibit-bibit sayuran tersebut di lokasi-lokasi yang telah Kami siapkan. Menanam sayuran tentu saja besar sekali manfaatnya. Di antaranya adalah manfaat dari segi kesehatan, lingkungan maupun ekonomi. 




2. Membantu Kegiatan Warga Saat Hari Raya Idul Adha

Pada hari Rabu, tanggal 27 Mei 2026 sekitar pukul 09.00 WIB s/d selesai telah dilaksanakan kegiatan penyembelihan hewan Qurban di lingkungan tempat tinggal Saya di Perum Pesona Kota Mungkid, Donorojo, Mertoyudan, Magelang. Ada 1 (satu) ekor sapi dan 14 (empat belas) ekor kambing yang diqurbankan. Dalam kesempatan tersebut, Bapak-Bapak dan pemuda Karang Taruna bertugas melakukan pemotongan daging qurban sedangkan Ibu-Ibu bertugas menyiapkan makanan untuk para bapak dan pemuda yang melakukan pemotongan daging qurban. Saya pun turut aktif dalam kegiatan tersebut.



Berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan di lingkungan tempat tinggal memiliki banyak manfaat, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi masyarakat secara keseluruhan. Manfaat-manfaat tersebut di antaranya adalah:

- Mempererat hubungan sosial;

- Meningkatkan kepedulian sosial;

- Mengembangkan keterampilan;

- Menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan;

- Menambah wawasan dan pengalaman;

- Meningkatkan kesehatan mental;

- Mendukung pembangunan lingkungan;

- Membentuk karakter yang baik.




Sabtu, 30 Mei 2026

ESSAY PRESTASI 2

 

RAPAT KOMITE KOORDINASI EVENT FAREWELL INTERN KELAS DAN

JUMAT BERKAH ON THE ROAD

 

KUS WITA WARDANI

25310430002
Psikologi Lingkungan/ Kelas Karyawan (B)
Tugas: Essai Prestasi 2
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.
Bulan/ tahun terbit: Mei/ 2026

 

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA


PELAKSANAAN KEGIATAN

1.   RAPAT KOMITE KELAS

Hari/ Tanggal        : Selasa/ 26 Mei 2026
Tempat                  : Mispa Pandanaran Yogyakarta
Pukul                     : 09.00 – 12.00 wib
Tujuan kegiatan    :

Melakukan koordinasi lanjutan mengenai event/agenda farewell intern kelas, agenda ini adalah agenda terakhir selama saya menjabat sebagai ketua komite kelas yang telah saya lakukan selama 5 tahun Bersama team/ anggota komite lainnya. Dalam rapat ini terjadi pembahasan mengenai konsep acara, undangan, dekorasi, konsumsi, pengelolaan biaya, pengadaan tanda kasih wali kelas dan beberapa guru undangan serta pengadaan goodybag serta pembagian penanggung jawab masing-masih seksi. Kegiatan farewell ini kita selenggarakan terpisah dari madrasah/ sekolah, acara ini kita selenggarakan dengan tujuan anak-anak mendapatkan kesan manis dan menjadi memori kebersamaan yang dibingkai dengan indah dan bermakna.

 
           Ket: Dokumentasi Rapat Komite                           Ket: Dokumentasi penggunaan tas yang tidak berbahan plastik

2.       JUMAT BERKAH ON THE ROAD

       Hari/ Tanggal        : Jumat / 29 Mei 202

       Tempat                  : Jalan kaliurang dan sekitarnya

       Pukul                     : 11.00 – 13.00 wib

       Tujuan kegiatan    :


     Jumat berkah adalah hari yang istimewa, karena keistimewaan tersebut banyak amalan yang dapat dilakukan untuk mendapatkan pahala yang sebesar-besarnya baik amalan yang wajib dilakukan mapun amalan sunah. Jum’at berkah pada hakikatnya adalah semangat umat Islam dalam memaksimalkan ibadah dan keutamaan di hari Jumat, seperti bersedekah, shalat Jumat, dan mencari waktu terbaik untuk berdoa. Jumat berkah yang saya dan keluarga lakukan ini adalah berbagi makanan kepada orang lain dengan konsep on the road, dimana kegiatan ini dilakukan pembagiannya kepada para pengguna jalan secara umum. Kegiatan ini selain wujud syukur, juga mengajarkan kesadaran untuk berbagi dengan sesama. 


      

            Ket: Dokumentasi packing jumat berkah                         Ket: Dokumentasi nasi box jumat berkah yang siap                                                                                                                                                         diantar dan dibagi. 



Jumat, 29 Mei 2026

ESAI 6: EKSPERIMEN TENTANG SAMPAH

BELAJAR BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP SAMPAH SENDIRI

Yufika Dwi Rezeki

25310440003

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Esai 6

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Mei 2026

Pada tanggal 17 Mei 2026, saya mengikuti kegiatan eksperimen pengelolaan sampah yang diselenggarakan di kediaman Ibu Dr. Arundati Shinta, M.A. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa mata kuliah Psikologi Lingkungan serta beberapa peserta dari masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami belajar secara langsung mengenai pentingnya bertanggung jawab terhadap sampah yang kami hasilkan serta mempraktikkan berbagai cara pengolahan sampah organik yang bermanfaat bagi lingkungan.

Sebagai bagian dari kegiatan eksperimen, setiap peserta diminta membawa dua jenis makanan ringan, yaitu satu makanan yang dibungkus plastik dan satu makanan yang dibungkus daun pisang. Setelah makanan dikonsumsi, bungkus plastik dipisahkan sebagai sampah anorganik, sedangkan daun pisang dimanfaatkan kembali dalam proses pembuatan kompos. Dari kegiatan ini saya belajar bahwa pilihan kemasan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dapat memengaruhi jumlah dan jenis sampah yang dihasilkan.

Setelah sesi pengantar, kami mulai melakukan praktik pengolahan sampah organik. Selama kegiatan berlangsung, para peserta bekerja sama dan saling berbagi tugas agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan lancar. Ada yang membantu menyiapkan bahan, mencacah bahan organik, mengaduk campuran kompos, menyiapkan eco enzyme, maupun mengikuti proses pembuatan sabun. Saya berkesempatan mengikuti beberapa tahapan kegiatan pada pembuatan kompos, eco enzyme, dan sabun eco enzyme.

Pada proses pembuatan kompos, saya ikut mengiris daun pisang yang sebelumnya digunakan sebagai pembungkus makanan menjadi potongan-potongan kecil agar lebih mudah terurai. Setelah itu, saya membantu mengaduk campuran bahan kompos yang terdiri atas rajangan daun pisang, dedak, dolomit atau kapur tani, POC, rajangan daun sirih, bubuk kayu, rajangan sampah kebun, tetes tebu, dan EM4 hingga tercampur merata. Saya juga ikut membantu memindahkan campuran kompos ke dalam wadah fermentasi yang telah disiapkan. Melalui kegiatan ini saya dapat melihat secara langsung bahwa sampah organik yang sering dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi pupuk yang bermanfaat bagi tanaman dan lingkungan.

 
Merajang daun pisang sebagai bahan pembuatan kompos.
Proses pencampuran rajangan daun pisang
dengan bahan-bahan kompos.
Campuran kompos dimasukkan ke dalam gentong
untuk proses fermentasi.

Selain membuat kompos, saya juga ikut berpartisipasi dalam pembuatan eco enzyme. Bahan yang digunakan terdiri atas gula merah, kulit buah-buahan, dan air dengan perbandingan 1:3:10. Saya membantu memasukkan bahan-bahan tersebut ke dalam jerigen yang telah disiapkan untuk kemudian difermentasi. Kegiatan ini memberikan pemahaman bahwa limbah organik rumah tangga masih memiliki nilai guna apabila diolah dengan baik dan dapat dimanfaatkan kembali untuk berbagai keperluan.

Kegiatan berikutnya adalah pembuatan sabun eco enzyme. Saya ikut membantu dan mengamati proses pembuatannya yang memanfaatkan cairan eco enzyme hasil fermentasi. Dari kegiatan ini saya memahami bahwa hasil pengolahan limbah organik dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhir kegiatan, setiap peserta membawa pulang hasil pengolahan sampah berupa pupuk kompos dan sabun cair. Menariknya, kompos dan sabun cair yang diperkenalkan dalam kegiatan ini telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Saya merasa senang karena dapat melihat hasil nyata dari proses yang telah dilakukan bersama. Pengalaman tersebut memberikan pemahaman bahwa sampah tidak selalu menjadi barang yang tidak berguna, tetapi dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat apabila dikelola dengan tepat.

Melalui eksperimen ini, saya memperoleh pengalaman yang berharga mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Saya belajar bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mengurangi sampah, memilah sampah sesuai jenisnya, dan memanfaatkan kembali limbah organik yang dihasilkan. Kegiatan ini juga mengingatkan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab terhadap sampahnya sendiri. Dengan langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, kita dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Kamis, 28 Mei 2026

ESAI PRESTASI: 3

Partisipasi dalam Kegiatan Pelayanan Masyarakat

Yufika Dwi Rezeki

25310440003

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Esai Prestasi (EPres) ke-3

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Mei 2026

Kegiatan I

Pada tanggal 27 Mei 2026, saya mengikuti kegiatan pelayanan masyarakat dalam rangka pelaksanaan Iduladha di lingkungan tempat tinggal saya. Kegiatan tersebut dilakukan bersama panitia dan tetangga sekitar untuk membantu proses pembagian daging kurban. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kebersamaan masyarakat yang masih terjaga dengan baik di lingkungan tempat tinggal saya.

Peran saya dalam kegiatan tersebut adalah ikut membantu mendistribusikan daging kurban kepada tetangga sekitar agar pembagian dapat berjalan dengan tertib dan merata. Saya membantu membagikan daging kurban dari rumah ke rumah bersama warga lainnya. Walaupun peran yang saya lakukan sederhana, saya merasa kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang berharga karena saya dapat terlibat langsung dalam kegiatan sosial di lingkungan masyarakat.


Membantu mendistribusikan daging kurban kepada tetangga sekitar.

Melalui kegiatan tersebut saya belajar bahwa kerja sama dan kepedulian sosial sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Proses pembagian daging kurban tidak hanya sekadar memberikan bantuan, tetapi juga menjadi bentuk kebersamaan dan rasa peduli terhadap sesama. Saya melihat bagaimana masyarakat saling membantu agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar dan pembagian dapat dilakukan dengan baik. Selain itu, kegiatan tersebut juga membuat hubungan antarwarga menjadi lebih dekat karena semua bekerja sama untuk tujuan yang sama.

Kegiatan II

Selain kegiatan Iduladha, pada tanggal 21 Mei 2026 saya juga ikut membantu di rumah warga yang mengalami kedukaan. Dalam kegiatan tersebut, peran saya adalah membantu proses persiapan dan membantu kebutuhan yang diperlukan selama kegiatan berlangsung. Saya ikut membantu hal-hal sederhana yang dapat meringankan pekerjaan keluarga yang sedang berduka. Menurut saya, kehadiran dan bantuan kecil yang diberikan kepada orang lain tetap memiliki arti penting, terutama ketika seseorang sedang mengalami kesulitan.

Membantu membungkus konsumsi untuk tahlilan.

Kegiatan pelayanan masyarakat tersebut memberikan pengalaman yang berharga bagi saya mengenai pentingnya empati, kepedulian sosial, dan sikap saling membantu di lingkungan masyarakat. Saya belajar bahwa kehidupan bermasyarakat membutuhkan rasa peduli dan kerja sama agar hubungan sosial antarwarga dapat terjalin dengan baik. Melalui kegiatan tersebut saya juga menyadari bahwa membantu orang lain tidak selalu harus dalam bentuk besar, tetapi dapat dimulai dari tindakan sederhana di lingkungan sekitar.

Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan sosial tersebut, saya menjadi lebih memahami bahwa kontribusi sederhana sekalipun tetap memiliki manfaat bagi orang lain. Pengalaman ini juga membuat saya lebih menghargai pentingnya hadir dan membantu masyarakat dalam berbagai situasi, baik dalam kegiatan kebersamaan maupun ketika ada warga yang sedang mengalami kesulitan. Saya berharap dapat terus ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan pelayanan masyarakat.

ESSAI 6 : Eksperimen Sampah Organik Di Rumah Dosen

 Belajar  Bertanggung Jawab Terhadap Sampah Seniri dan Praktik Pengelolaan Sampah Organik


Moch Aziiz Suharyadi

24310410211

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 6

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Pengelolaan sampah merupakan isu penting yang tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral, sosial, dan lingkungan. Permasalahan seperti pencemaran udara serta kendala dalam regenerasi sumber daya manusia dalam pengelolaan sampah menunjukkan bahwa dibutuhkan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan.

Salah satu konsep yang dapat diterapkan adalah TPST 3R (Reduce, Reuse, Recycle), yaitu sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berfungsi sebagai pusat pengolahan sampah di tingkat kawasan. Kegiatan yang dilakukan meliputi pengumpulan, pemilahan, dan pemanfaatan kembali material agar volume sampah yang dikirim ke TPA dapat diminimalkan serta nilai ekonominya tetap terjaga. Optimalisasi program ini memerlukan edukasi masyarakat, inovasi teknologi, pelatihan bagi karyawan, serta kerja sama antara masyarakat, pihak swasta, dan pemerintah.

Dalam praktiknya, pembelajaran mengenai pengelolaan sampah dapat dilakukan melalui pengalaman langsung. Salah satu contoh kegiatan dilakukan oleh mahasiswa dalam mata kuliah psikologi lingkungan di kediaman dosen. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dan masyarakat sekitar untuk mempraktikkan pengolahan sampah organik menjadi produk yang bermanfaat seperti kompos, eco-enzyme, dan sabun cair.

Sebelum kegiatan dimulai, mahasiswa dibekali materi mengenai proses pembuatan dan pemanenan kompos, pembuatan eco-enzyme, hingga pengolahan sabun berbahan eco-enzyme. Mahasiswa kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok agar dapat mencoba setiap tahapan secara bergantian. Mereka juga diminta membawa makanan yang dibungkus daun pisang dan plastik sebagai bentuk pembelajaran perilaku reduce, yaitu mengurangi sampah dengan menghabiskan makanan dan bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkan.

Setelah makanan dikonsumsi, sampah dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah organik seperti daun pisang dirajang kecil untuk dijadikan bahan kompos, sedangkan sampah plastik dipisahkan. Dalam proses pembuatan kompos, bahan organik dicampur dengan dedak, dolomit, POC, daun sirih, bubuk kayu, sampah kebun, tetes tebu, dan EM4, kemudian diaduk hingga merata dan difermentasi. Kompos yang matang dipisahkan antara yang halus dan kasar untuk berbagai kebutuhan.

Selain itu, mahasiswa juga mempelajari pembuatan eco-enzyme dari campuran gula merah, kulit buah, dan air yang difermentasi selama tiga bulan. Cairan hasil fermentasi ini memiliki banyak manfaat, seperti untuk pembersih, pupuk cair, hingga pengendali hama. Tahap selanjutnya adalah pembuatan sabun cair berbahan eco-enzyme yang diolah dari berbagai bahan kimia pendukung dan difermentasi kembali hingga siap digunakan.

Kegiatan ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa sampah dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat. Pengalaman langsung ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas dapat dilakukan mulai dari lingkungan rumah tangga.

Namun demikian, tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah sering kali berasal dari perilaku manusia, seperti rasa malas dan kebiasaan menunda. Oleh karena itu, diperlukan disiplin, motivasi, serta kesadaran kolektif untuk menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle dalam kehidupan sehari-hari.

Manfaat dari pengelolaan sampah sangat luas, baik dalam konteks karier, keluarga, maupun masyarakat. Dalam dunia kerja, keterampilan ini mendukung inovasi ramah lingkungan. Dalam keluarga, menciptakan lingkungan yang sehat sekaligus menanamkan nilai tanggung jawab. Sementara di masyarakat, kegiatan ini memperkuat kerja sama dan ketahanan lingkungan.

Dengan demikian, pengelolaan sampah bukan sekadar tugas akademik, melainkan komitmen jangka panjang. Melalui edukasi, praktik nyata, dan kerja sama berbagai pihak, sampah dapat diubah menjadi peluang yang bernilai guna, sehingga tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Rabu, 27 Mei 2026

ESSAI 7 : KUNJUNGAN DI TPST RANDU ALAS

 Belajar dan Mengenal Pengelolaan Sampah di TPST Randu Alas dalam Upaya Menjaga Lingkungan

Moch Aziiz Suharyadi

24310410211

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 7

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 Pada hari Sabtu, 2 Mei 2026 pukul 09.00 hingga 11.30 WIB, saya melakukan kunjungan observasi ke TPST Randu Alas yang berlokasi di Candi Karang, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman. Kegiatan ini bertujuan untuk mempelajari secara langsung proses pengelolaan sampah di masyarakat. Dalam kunjungan tersebut, saya berkesempatan untuk bertemu dan melakukan wawancara dengan Pak Joko, salah satu pengurus TPST Randu Alas.

TPST Randu Alas merupakan tempat pengolahan sampah yang dikelola oleh sekitar 10 orang karyawan yang setiap harinya menangani sampah dari masyarakat. Di lokasi ini terdapat berbagai fasilitas pengolahan, seperti alat pemilahan, mesin pres, mesin penghancur, tempat pembakaran sampah residu, serta timbangan. Proses pengelolaan sampah dimulai dengan pemilahan berdasarkan jenisnya, seperti plastik, botol, kertas, dan sampah organik. Pemilahan ini sangat penting karena sampah yang telah dipisahkan memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan sampah yang masih tercampur.

Salah satu inovasi yang menarik di TPST Randu Alas adalah pemanfaatan air lindi. Air lindi merupakan cairan yang berasal dari tumpukan sampah organik yang kemudian diolah menjadi eco lindi, yaitu cairan penetral bau yang ramah lingkungan. Eco lindi dibuat dengan mencampurkan air lindi, molase (tetes tebu), katalis organik, dan asam sulfat. Inovasi ini terbukti mampu mengurangi bau menyengat serta membantu proses penguraian sampah organik, sehingga lingkungan sekitar tetap nyaman.

Pengendalian bau menjadi perhatian utama karena lokasi TPST berada dekat dengan aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, pembakaran sampah dibatasi hanya pada pukul 08.00 hingga 13.00 WIB agar tidak mengganggu lingkungan sekitar. Selain itu, pengelolaan sampah dilakukan secara cepat dan terstruktur agar tidak terjadi penumpukan.

Pak Joko juga menceritakan latar belakang keterlibatannya dalam pengelolaan sampah. Kesadaran tersebut muncul sejak tahun 2010 ketika lingkungan tempat tinggalnya mengalami masalah kesehatan akibat penumpukan sampah yang menjadi sarang nyamuk penyebab Demam Berdarah (DB). Kondisi tersebut semakin parah pada tahun 2013 ketika 13 warga, termasuk anak beliau, terkena DB. Peristiwa ini menjadi titik awal bagi Pak Joko untuk serius mencari solusi pengelolaan sampah.

Sejak saat itu, beliau aktif mengikuti berbagai sosialisasi dan program lingkungan, termasuk bank sampah. Pada tahun 2015, TPST Randu Alas mendapatkan dukungan dana sekitar Rp400 juta untuk pengembangan fasilitas. Awalnya, proses pengolahan masih dilakukan secara manual, namun seiring waktu fasilitas semakin berkembang dengan bantuan alat dari pemerintah.

Dalam operasionalnya, masyarakat yang menggunakan layanan TPST dikenakan iuran sekitar Rp75.000 per bulan untuk rumah tangga dan Rp25.000 untuk kos-kosan. Iuran ini digunakan untuk mendukung biaya operasional seperti transportasi, listrik, dan pengolahan sampah.

Menariknya, sampah yang telah diolah juga memiliki nilai ekonomi. Sebagian sampah dikirim ke Cilacap untuk dimanfaatkan oleh pabrik semen sebagai bahan bakar alternatif. Jumlah pengiriman bahkan mencapai 1,5 hingga 3 ton dalam satu periode, menunjukkan bahwa sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat dimanfaatkan kembali.

Secara umum, proses pengelolaan sampah di TPST Randu Alas meliputi pemilahan, pengeringan, penghancuran, penyemprotan eco lindi, pengepresan, hingga distribusi hasil olahan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat dan nilai ekonomi.

TPST Randu Alas juga menjadi tempat pembelajaran yang nyata mengenai prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R). Sampah organik diolah menjadi kompos dan pupuk cair, sedangkan sampah anorganik didaur ulang atau dimanfaatkan kembali. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung yang sangat berharga, karena peserta dapat melihat proses pengolahan secara nyata, bukan hanya secara teori.

Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari hal sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah dari rumah. Kesadaran ini penting karena pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab petugas, tetapi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.

Selain itu, kegiatan ini juga meningkatkan kepedulian saya terhadap lingkungan. Saya menjadi lebih memahami bahwa sampah yang sering dianggap tidak berguna ternyata masih memiliki manfaat jika diolah dengan baik. Pembelajaran langsung di lapangan juga terbukti lebih efektif dalam membangun kesadaran dibandingkan hanya mempelajari teori di kelas.

Namun demikian, TPST Randu Alas juga menghadapi beberapa tantangan, seperti kurangnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari sumber, keterbatasan teknologi dan fasilitas, serta dampak pencemaran udara dari pembakaran sampah residu. Selain itu, masalah regenerasi sumber daya manusia juga menjadi kendala dalam keberlanjutan pengelolaan.

Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif antara masyarakat, pemerintah, dan pihak swasta untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah. Edukasi mengenai prinsip 3R perlu ditingkatkan, serta inovasi teknologi dan pelatihan bagi pengelola harus terus dikembangkan.

Sebagai kesimpulan, TPST Randu Alas merupakan contoh nyata bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat memberikan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi. Dengan adanya kesadaran, kerja sama, dan inovasi, sampah tidak lagi menjadi masalah, tetapi dapat menjadi solusi untuk keberlanjutan lingkungan di masa depan.  

     


ESAI 7: BELAJAR DI TPST

Manajemen Pengelolaan Sampah di TPST Randu Alas

Yufika Dwi Rezeki

25310440003

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas 7 – Belajar di TPST

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Mei 2026

Pada tanggal 2 Mei 2026, saya bersama dosen mata kuliah Psikologi Lingkungan, Ibu Shinta, dan teman-teman kelas melakukan kunjungan belajar ke TPST Randu Alas. Kegiatan ini memberikan pengalaman belajar secara langsung mengenai bagaimana pengelolaan sampah dilakukan di masyarakat. Selama ini saya hanya mengetahui pengolahan sampah dari teori atau media sosial, tetapi melalui kunjungan ini saya dapat melihat secara nyata proses pengolahan sampah dari awal hingga akhir.

Ketika sampai di lokasi, kami diajak berkeliling untuk melihat berbagai bagian pengolahan sampah. Di TPST Randu Alas terdapat pengelolaan sampah organik dan anorganik. Sampah terlebih dahulu dipilah sesuai jenisnya agar lebih mudah diolah. Sampah anorganik seperti plastik dipisahkan untuk didaur ulang, sedangkan sampah organik diolah menjadi berbagai produk yang bermanfaat. Kami juga melihat adanya mesin pengolah sampah yang membantu mempercepat proses pengolahan.

Para pekerja sedang memilah sampah.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah penggunaan cairan eco lindi bakteri yang digunakan untuk mengurangi bau sampah. Saya baru mengetahui bahwa cairan tersebut dapat membantu mengatasi aroma tidak sedap di area pengolahan. Selain itu, di TPST Randu Alas juga dihasilkan berbagai produk seperti POC (Pupuk Organik Cair), MOL (Mikroorganisme Lokal), dan pupuk organik. Hal ini menunjukkan bahwa sampah sebenarnya masih memiliki nilai guna apabila dikelola dengan baik dan benar.

Setelah berkeliling, kami mendapatkan materi mengenai sejarah berdirinya TPST Randu Alas. Dijelaskan bahwa TPST ini awalnya didirikan oleh Pak Joko bersama tiga orang temannya. Pada awal berdiri, pelanggan mereka hanya sekitar 25 orang. Dalam waktu satu setengah tahun jumlah pelanggan meningkat menjadi 60 orang. Namun, pada dua tahun pertama mereka tidak terlalu memikirkan keuntungan atau pembayaran. Fokus utama mereka adalah menjaga konsistensi pelayanan dan tetap membantu masyarakat, termasuk warga yang kurang mampu atau belum bisa mengolah sampah secara mandiri.


Pemaparan materi dari pihak TPST Randu Alas.

Dari penjelasan tersebut saya belajar bahwa perubahan lingkungan tidak dapat terjadi secara instan. Dibutuhkan ketekunan, kerja sama, dan kepedulian sosial agar program pengelolaan sampah dapat berjalan dengan baik. Saya juga menyadari bahwa pengelolaan lingkungan berkaitan erat dengan perilaku manusia. Dalam psikologi lingkungan, perilaku peduli lingkungan dapat terbentuk melalui kebiasaan, edukasi, dan dukungan dari lingkungan sekitar.

Selain manfaatnya, pekerjaan di TPST juga memiliki risiko yang besar. Kami diberi tahu bahwa selama proses pengolahan sampah sering terjadi kecelakaan kerja, misalnya kaki terkena paku meskipun pekerja sudah menggunakan APD dan sepatu bot lengkap. Hal ini membuat saya lebih menghargai para pekerja pengolahan sampah yang selama ini berperan penting menjaga kebersihan lingkungan.

Kunjungan ke TPST Randu Alas memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Saya menjadi lebih memahami pentingnya memilah sampah, menjaga kebersihan lingkungan, dan menghargai proses pengolahan sampah yang tidak mudah. Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau petugas kebersihan, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat.

Dokumentasi kegiatan bersama teman-teman kelas.

Senin, 25 Mei 2026

ESSAI 2 : PLOGGING

Pengalaman Plogging di Jalan Kalurahan Sidokarto  dan

Jalan Sembuh Wetan Godean Sleman


Moch Aziiz Suharyadi

24310410211

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 2

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta


    Menjaga kebersihan lingkungan dapat dimulai dari diri sendiri, karena lingkungan yang bersih akan membuat masyarakat merasa nyaman, sehat, dan betah dalam beraktivitas. Namun pada kenyataannya, di masa sekarang masih banyak tempat umum dan pinggir jalan yang kurang terjaga kebersihannya akibat sampah plastik, bungkus makanan, botol minuman, serta daun kering yang sering terlihat berserakan di area publik. Di sisi lain, saat ini banyak orang juga mulai sadar dengan kesehatannya dan mulai rutin melakukan olahraga.

    Kondisi tersebut mendorong munculnya gerakan plogging, yaitu sebuah aktivitas sederhana yang menggabungkan dua kegiatan dalam satu waktu antara olahraga ringan seperti berjalan kaki, jogging, atau lari santai, dengan aksi nyata memungut sampah di sekitar lingkungan selama perjalanan. Dalam penerapannya, aktivitas ini tidak hanya berfokus pada pengumpulan sampah umum, tetapi juga mencakup tindakan preventif keselamatan seperti pengambilan paku yang berserakan di jalanan publik. Kegiatan yang mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 2018 ini menjadi solusi sederhana yang tidak hanya bermanfaat untuk masalah kesehatan individu, namun juga membantu mengurangi masalah pencemaran lingkungan. Manfaat plogging sendiri sangat beragam, antara lain untuk menyehatkan tubuh karena tubuh menjadi aktif bergerak, menenangkan pikiran karena dapat meningkatkan hormon kebahagiaan, membangun kepedulian sosial, serta menjaga lingkungan karena dapat mengurangi jumlah sampah di ruang publik.


    Plogging pertama saya lakukan pada tanggal 26 April 2026, dengan perjalana dimulai dari Jalan kaluraham Sidokarto ke arah timur, berlanjut di jalan Sidokarto berjalan ke arah selatan dengan jarak tempuh 4,6 km, pada pukul 06.00 sampai 07.30 WIB. Plogging yang saya kumpulkan adalah paku dan bebrapa patahan besi yang dapat membahayakan pengendara yang lalu lalang. Diperoleh kurang lebih berat sekitar 1/4 kg paku dan patahan - patahan besi.


    Plogging kedua tidak jauh dari jalan kalurahan sidokarto saya lakukan pada tanggal 03 Mei 2026, dengan perjalana dimulai dari Jalan Kalurahan Sidokarto ke arah barat, menuju di jalan Sembuh Wetan berjalan ke utara menuju jalan bibis ke timur dengan jarak tempuh 3,6 km, pada pukul 16.00 sampai 17.30 WIB. Plogging yang saya kumpulkan masih sama dengan ploging pertama adalah paku dan bebrapa patahan besi yang dapat membahayakan pengendara yang lalu lalang. Hanya saja kalini saya bersepeda dan menggunakan alat yang saya bawa ada magnet besar bekas sound sistem. dan Diperoleh  kurang lebih berat sekitar 1/2 kg terdapat paku, patahan - patahan besi. karena diderah saya baru terdapat pembanggunan di area lahan persawahan.

   Hasil yang saya kumpulakan selama kurang lebih 3/4 kg hampir satu kilo karena barang yang saya peroleh. Bercampur-campur hasil yang diperoleh terdapat paku, pines, patahan besi-besi, kawat yang sudah berkarat. Hasil tersebut saya jual ke pengempul/rosok dengan meneriam sejumlah uang Rp 8.500,00.

Permasalahan yang dihadapi sebelum kegiatan plogging ini yaitu sulitnya menentukan jadwal agar ada yang menemani saya melakukan plogging. Karena kegiatan ini sangat jarang dilakukan di daerah sidokarto dan dusun sekitarnya, jadi saya merasa sedikit kurang percaya diri jika harus melakukannya sendirian meskipun di jual dapat menghasilakan. Sedangkan permasalahan yang dihadapi selama melakukan kegiatan plogging ini adalah keterbatasan kantong yang saya bawa saat bersepeda, sehingga sering kali sobek karena tertusuk besi atau paku yang tertancap.

Harapan saya ke depan, semakin banyak orang yang peduli dengan lingkungan, serta semakin maraknya kegiatan-kegiatan positif seperti plogging ini. Melalui kegiatan ini, saya menyadari bahwa menjaga lingkungan tidak selalu dengan tindakan yang besar. Tindakan kecil seperti di jalan yang kita lewati juga dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan orang-orang di sekitar.

ESAI 11- UTS PSIKOLOGI LINGKUNGAN

MAT.KUL : Psikologi Lingkungan 

DOSEN PENGAMPU : Dr. ARUNDATI SHINTA M.A.

NAMA : AYOM PURWANINGSIH

FAKULTAS : PSIKOLOGI ( KELAS B) 

Universitas Proklamasi 45


HIERARKI PENGOLAHAN SAMPAH DAN PENERAPANNYA


Pendahuluan

    Tinggi rendahnya resiko bencana di suatu daerah dapat dilihat dari tingkat kerusakan lingkungan yang terjadi di daerah tersebut. Kerusakan lingkungan dapat terjadi bisa dikarenakan dari sampah sampah yang dibiarkan menumpuk dan tidak dapat sepenuhnya diolah oleh manusia. Oleh karena itu diperlukan adanya kesadaran masyarakat masing- masing untuk tidak menambah kerusakan lingkungan terutama karena disebabkan oleh sampah.

Isi

    Penerapan sampah dengan konsep 3R (Reuse, Reduce dan Recycle) dapat dijadikan solusi untuk anda dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitar dengan cara yang sangat mudah dan murah. Sampah yang diolah dapat dijadikan sebagai pupuk kompos atau bahkan bisa menjadi sumber listrik baru. Penerapan konsep 3R ini dapat diterapkan oleh siapa saja setiap hari. Konsep ini memiliki inti yakni Reuse (Menggunakan kembali sampah sampah yang masih bisa digunakan atau bisa berfungsi lainnya), Reduce (Mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan atau memunculkan sampah), Recycle (Mengolah kembali sampah atau daur ulang menjadi suatu produk atau barang yang dapat bermanfaat).




















Reduce

    Dengan prinsip reduce, maka kita mengurangi pemakaian dari bahan-bahan yang dapat merusak lingkungan. Caranya adalah anda bisa mengurangi belanja barang barang yang tidak terlalu perlu seperti baju baru dan juga aksesoris tambahan. Selain itu anda juga bisa mengurangi penggunaan tissue dan mengurangi kegiatan penggunaan kertas, selalu cek file dokumen anda sebelum dicetak menggunakan print preview agar tetap bisa menghemat penggunaan kertas.

Reuse

    Reuse atau memakai kembali barang yang anda dirasa sudah tidak perlu lagi, salah satunya adalah anda bisa memberikan barang barang tersebut kepada yatim piatu atau anda bisa memberikan kepada sanak famili keluarga anda seperti misalnya baju baju bayi yang baru beberapa bulan saja dapat anda berikan kepada saudara yang misal membutuhkan.

Recycle

    Konsep recycle sendiri adalah mendaur ulang sampah anda menjadi suatu barang baru yang dapat digunakan kembali dan layak fungsi, caranya adalah anda bisa mendaur ulang sampah organik di rumah anda misalnya menjadikan botol minuman menjadi wadah pot tanaman atau melakukan pendaur ulangan kertas menjadi kertas kembali. Daur ulang dengan jumlah yang besar belum menjadi suatu aktivitas yang biasa dilakukan di Indonesia. Salah satunya adalah tempat sampah yang dibedakan antara sampah organik dan sampah non organik masih banyak belum diterapkan maksimal di Indonesia.

[Sumber Sampah (Rumah/Kantor)]

           │

           ▼

1. ──► [Reduce] (Kurangi timbulan sampah dari awal)

           │

           ▼

2. ──► [Reuse] (Gunakan ulang barang yang ada)

           │

           ▼

3. ──► [Recycle] (Daur ulang & Kompos)

Kesimpulan

    Produk bekas atau daur ulang sendiri sebenarnya lebih fleksibel, bahkan kerap memiliki nilai ekonomis. Pemanfaatan sampah yang tidak terpakai hingga memiliki nilai tanpa mencemari lingkungan mampu mengurangi penyebaran sampah plastik secara drastis. Adapun produk yang didaur ulang memiliki desain yang unik dan sangat berbeda dengan jenis produk baru, bahkan beberapa pihak membuat aksesoris dari alat daur ulang yang dapat bermanfaat untuk mendongkrak ekonomi lingkungan sekitar seperti lingkungan RT atau RW.

    Metode 3R atau Reuse, Reduce, dan Recycle merupakan salah satu cara terbaik dalam mengelola dan menangani sampah plastik dengan berbagai jenisnya. Penerapan sistem ini juga sangat baik untuk mengelola sampah dari berbagai jenis plastik dari yang aman hingga beracun.  

Daftar Pustaka

Ali, N.E.H., Talmizi, N.M., Wahab, S.N.A., Rijal, N.S., Rased, A.N.N.W.A. & Saleh, A.A. (2021). Solid waste management hierarchy: An empirical investigation. Conference: Changing Lives in Briliant Ways International Invention & Innovative Competition (InIIC). August, pp. 1-7. Retrieved from: https://www.researchgate.net/publication/353827740_Solid_Waste_Management_Hierarchy_An_Empirical_Investigation


Bahrani, A. (2023). Apa itu 3R? Pengertian reduce, reuse recycle dan contohnya. Waste4change. 6 Mei. Retrieved from: https://waste4change.com/blog/konsep-prinsip-3r-reduce-reuse-recycle/


Chowdhury, A.H., Mohammad, N., Ul Haque, Md.R. & Hossain, T. (2014). Developing 3Rs (reduce, reuse and recycle) strategy for waste management in the urban areas of Bangladesh: Socioeconomic and climate adoption mitigation option. IOSR Journal of Environmental Science, Toxicology and Food Technology (IOSR-JESTFT. 8(5), Ver. I, May, pp. 09-18.




 

Esai 11 - UTS Psikologi Lingkungan - Busthanul Arifin

 

Nama : Busthanul Arifin

NIM : 25310440002

JAWABAN SOAL UTS


Pernyataan tersebut sudah tepat dalam menempatkan hierarki pengelolaan sampah secara normatif, yaitu menjadikan reduce sebagai prioritas utama, diikuti reuse, lalu recycle. Namun, dari perspektif psikologi lingkungan, yang lebih penting untuk dicermati bukan sekadar urutan ideal dalam hierarki tersebut, melainkan kesenjangan antara urutan yang dianjurkan dan perilaku nyata masyarakat, atau yang dikenal sebagai value action gap. Inti kajian psikologi lingkungan justru terletak pada pertanyaan mengapa perilaku pro-lingkungan kerap tidak sejalan dengan pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang. Dengan kata lain, mengetahui bahwa 3R itu baik tidak otomatis membuat seseorang melakukannya.

Bukti empiris mendukung kritik ini. Studi di Shah Alam, Malaysia (Ali et al., 2021) menemukan bahwa perilaku yang paling banyak dilakukan justru reuse, dengan penggunaan ulang kantong plastik mencapai 58%, botol 48,6%, dan koran 45,3%. Sebaliknya, tingkat partisipasi dalam recycle tergolong sangat rendah karena mayoritas responden lebih memilih membuang elektronik bekas dan minyak jelantah daripada membawanya ke pusat daur ulang. Temuan ini menunjukkan bahwa urutan prioritas normatif tidak otomatis tercermin dalam urutan perilaku aktual. Pola serupa juga tampak di Bangladesh (Chowdhury et al., 2014), di mana praktik daur ulang sebagian besar bergantung pada sektor informal sementara sistem formalnya masih lemah. Maka, klaim bahwa 3R efektif di berbagai konteks sosial dan geografis sebaiknya diperhalus menjadi pernyataan bahwa 3R menghadapi hambatan psikologis dan struktural yang serupa di berbagai konteks.



Bagan 1. Hierarki pengelolaan sampah 3R disandingkan dengan tingkat partisipasi nyata masyarakat (data: Ali et al., 2021).

Mengapa kesenjangan ini terjadi dapat dijelaskan melalui sejumlah teori psikologi lingkungan. Berdasarkan Theory of Planned Behavior (Ajzen), perilaku 3R dipengaruhi oleh sikap, norma subjektif, dan persepsi kemampuan mengendalikan perilaku atau perceived behavioral control. Perilaku reuse lebih dominan karena mudah, murah, dan telah menjadi kebiasaan rumah tangga sehari-hari, sehingga persepsi kendali atasnya tinggi. Sebaliknya, recycle menuntut usaha yang jauh lebih besar, seperti memilah sampah dan mengangkutnya ke pusat daur ulang, sehingga persepsi kendalinya rendah dan niat untuk melakukannya melemah. Faktor ekonomi turut berperan diantaranya studi di Malaysia mencatat banyak orang merasa mampu membeli barang baru sehingga insentif kecil dari daur ulang dianggap tidak berarti. Hal ini sejalan dengan Norm Activation Model, yang menjelaskan bahwa perilaku pro-lingkungan baru muncul ketika seseorang merasa bertanggung jawab secara personal dan menyadari konsekuensi dari tindakannya. Ketika kesadaran ini lemah, kesenjangan antara sikap dan tindakan semakin lebar.

Temuan tersebut memberikan implikasi penting bagi rancangan intervensi. Rekomendasi yang umum diberikan, yaitu kampanye edukasi, sebenarnya belum memadai. Dari sudut pandang psikologi lingkungan, perubahan perilaku tidak hanya bergantung pada niat baik individu, tetapi juga pada apakah faktor situasional memungkinkan perilaku tersebut terjadi. Edukasi yang hanya menambah pengetahuan tanpa diiringi kemudahan bertindak cenderung gagal mengubah perilaku. Karena itu, edukasi sebaiknya dikombinasikan dengan penyediaan fasilitas daur ulang yang mudah diakses, pemberian insentif yang berarti, dorongan halus atau nudges, umpan balik berkala, serta pemanfaatan norma sosial agar perilaku 3R menjadi hal yang lazim dan diharapkan dalam komunitas.

Sebagai penutup, pernyataan dalam soal akan menjadi lebih kuat apabila tidak berhenti pada urutan hierarki yang ideal, melainkan turut menjelaskan faktor individual dan struktural yang menjembatani kesenjangan antara sikap dan perilaku 3R. Dengan demikian, hierarki 3R tidak dipahami semata sebagai aturan normatif yang ideal, tetapi sebagai perilaku nyata yang dipengaruhi oleh psikologi individu sekaligus konteks lingkungan tempat individu itu berada. Pemahaman ini sejalan dengan tujuan psikologi lingkungan, yakni menjelaskan dan mendorong perilaku berkelanjutan melalui pendekatan yang memadukan dimensi kognitif, sosial, dan situasional secara menyeluruh.


 

Daftar Pustaka

Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50(2), 179–211.

Ali, N. E. H., Talmizi, N. M., Wahab, S. N. A., Rijal, N. S., Rased, A. N. N. W. A., & Saleh, A. A. (2021). Solid waste management hierarchy: An empirical investigation. International Invention & Innovative Competition (InIIC) Series 1.

Bahraini, A. (2023). Apa itu 3R? Pengertian reduce, reuse, recycle dan contohnya. Waste4Change. Diakses dari https://waste4change.com/blog/konsep-prinsip-3r-reduce-reuse-recycle/

Chowdhury, A. H., Mohammad, N., Haque, M. R. U., & Hossain, T. (2014). Developing 3Rs (reduce, reuse and recycle) strategy for waste management in the urban areas of Bangladesh: Socioeconomic and climate adoption mitigation option. IOSR Journal of Environmental Science, Toxicology and Food Technology, 8(5), 9–18.

Schwartz, S. H. (1977). Normative influences on altruism. Advances in Experimental Social Psychology, 10, 221–279.


25/5/2026

Suatu hari di sebuah mall yang berlokasi di depan Polda Provinsi.

Di suatu toilet, ketika saya menghampiri ruang janitor dilantai 1 dan bertanya kepada seorang OB,

"Pak, izin tanya, OB yang tunawicara, hari ini shiftnya di mana ya?"

"Oh, si Muslih."

"Dia biasanya ada di LG atau di Ruang Loading, Mas, Ada apa ya pak ?" 

"Oh, gpp Mas, tanya aja…"

Sampai akhirnya saya cari cari di toilet LG,  kok tidak ada ya. Sampailah saya teringat, kalau tidak ada di toilet, cari aja ke ruang loading. Jadi di LG ada pintu dengan pembatas plastik, didorong aja, itu akan mengarah ke ruang loading. 

Saya pun mencari beliau di ruang loading, cari sana sini, sana sini,  gak ketemu. Sampailah saya menghampiri seorang satpam yang bernama Pak Rizky. 

"Pak, izin tanya, Muslih di mana ya, Pak? Kok saya cari di ruang loading gak ada?"

"Ada keperluan apa ya, Pak?"

"Gpp Pak, jadi…"

"Oh, baik Pak, sebentar pak, saya carikan dulu ya."

Akhirnya beliau pun mencarikannya di ruang OB, dengan saya pun mengekor dibelakang.
Sampai pada akhirnya di
 kantor OB pun saya dihampiri seseorang yang sepertinya seniornya, yg menanyakan ada apa, dan saya pun menjawab hal yang sama seperti menjawab ke OB pertama dan ketika menjawab ke Pak Rizky. Sampai pada akhirnya, "Sebentar Pak, saya carikan…"

Tidak lama kemudian, beliau pun datang. Dengan membawa Ember dan kain pel. Dan pada akhirnya saya bilang sama rekannya yang juga sama sama datang dari lokasi yang sama, mbak izin saya ngobrol berdua sama Pak Muslih, ada hal yang mau dibicarakan…

"oh baik baik pak"

Sampai pada akhirnya, episode itu pun tiba. Di sekitar jam 10.30. 25/5/2025.

Dan saya agak deg degan juga.  

"Pak, masih inget saya gak pak ? jumat lalu, di tanggal 22 mei saya pernah ketemu bapak di ......dan bapak ……."

Habis ngomong itu, saya pun langsung menunjukkan sebuah teks, yang izin saya blur bagian bawahnya…


 


Dan ketika beliau membaca tulisan tersebut, saya pun melihat wajah haru di wajahnya. 

Beliau pasti gak nyangka bahwa paparan paparan kebaikan yang dia lakukan di tanggal 22 mei 2026 sekitar jam 15.00 itu memiliki........... tersendiri dan merupakan suatu hal yang…………..... bagi saya. 

Dan, Setelah itu, kita pun berfoto.


-End

Terima kasih, Pak Muslih. Terima kasih, Bu Shinta, Terimakasih atas segala ilmu yang telah Ibu berikan, saya memaknai betul pengalaman seru ke tpst, seluruh pengamatan detail saya se every detailnya everydetailnya dari berinteraksi antar teman, mahasiswa ke dosen, mahasiswa ke tim tpst memiliki daya tular positifnya tersendiri ke mahasiswa-mahasiswanya. 😊


 

Dokumentasi Ketika Kunjungan ke TPST