Senin, 25 Mei 2026

UJIAN TENGAH SEMESTER PSIKOLOGI LINGKUNGAN

 

ESAI 11:  UJIAN TENGAH SEMESTER 25 MEI 2026  
Nama MK            : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Kelas                    : Karyawan (online)

Titik Muti’ah       (243010440004)                                       

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

  

Permasalahan pengelolaan sampah saat ini menjadi isu lingkungan yang sangat serius. Krisis sampah terjadi karena volume sampah harian Kota Yogyakarta (Ruang Kota, 2025) jauh melebihi kapasitas pengolahan yang tersedia. Sampah rumah tangga, pasar, dan kawasan wisata terus meningkat, akibatnya, banyak depo sampah di Kota Jogja mengalami penumpukan (RBTV Jogja. (2025). Fenomena perilaku masyarakat yang masih dominan menggunakan pola konsumsi tinggi, penggunaan plastik sekali pakai, dan ketergantungan pada sistem “angkut-buang”.  Penelitian menemukan bahwa lemahnya kebiasaan pro-lingkungan (Rasyif, 2024) dipengaruhi oleh rendahnya internalisasi norma lingkungan, kurangnya motivasi personal, lemahnya pengaruh sosial positif, minimnya fasilitas pendukung, serta rendahnya kebiasaan pemilahan sampah sejak rumah tangga.

Selain itu, studi tentang perilaku pemilahan sampah menunjukkan bahwa masyarakat sering mengetahui pentingnya menjaga lingkungan, tetapi perilaku aktual masih rendah akibat lemahnya habit formation dan kurangnya reinforcement sosial (Concari, dkk., 2023). Kondisi ini memperlihatkan bahwa perilaku masyarakat dalam mengelola sampah masih belum sepenuhnya berkelanjutan dan bertanggung jawab (Aqmarina, 2023). Dalam psikologi lingkungan, kondisi tersebut mencerminkan rendahnya environmental responsibility behavior dan lemahnya kebiasaan pro-lingkungan.

Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan 3R (Helmi, dkk., 2018; Ashbar, dkk., 2025; Leslie. dkk., 2021; Rahmah, dkk., 2024; Wilson, dkk., 2025) paling efektif jika dimulai dari Reduce, kemudian Reuse, dan terakhir Recycle. Hal ini karena pengurangan sampah dari sumber lebih berdampak dibanding hanya mendaur ulang sampah yang sudah terlanjur diproduksi.

Reduce merupakan prioritas tertinggi dalam hierarki 3R berfokus pada pencegahan munculnya sampah sejak awal. Perilaku konsumtif mahasiswa, wisatawan, penggunaan plastik sekali pakai, serta budaya “take-away” makanan meningkatkan volume sampah harian. Banyak masyarakat masih bergantung pada sistem “angkut-buang” tanpa mengurangi produksi sampah rumah tangga. Solusi Perilaku Reduce diantaranya a) Membentuk kebiasaan konsumsi sadar lingkungan bisa dengan membawa tumbler, menggunakan tas belanja kain, mengurangi pembelian produk sekali pakai, memilih produk isi ulang (refill), dan membeli seperlunya. b) Penguatan norma sosial hijau, dalam psikologi lingkungan, perilaku reduce lebih efektif jika menjadi norma kelompok sosial. Kampus, komunitas mahasiswa, dan RT dapat membangun gerakan bebas plastik, kantin minim sampah, sistem reward eco-behavior. c) Intervensi berbasis perilaku dari penelitian Behavioral interventions for waste reduction (Wilson, et.al, 2025) menunjukkan bahwa pengingat visual, feedback perilaku, komitmen publik, dan pengaruh sosial mampu meningkatkan perilaku pengurangan sampah secara signifikan.

Reuse bertujuan memperpanjang penggunaan barang agar tidak cepat menjadi sampah. Masyarakat sering membuang barang yang sebenarnya masih dapat digunakan, seperti: botol plastik, kardus, pakaian, wadah makanan. Budaya praktis dan konsumtif membuat perilaku reuse rendah. Solusi perilaku reuse diantaranya dengan a) Membentuk budaya penggunaan ulang seperti penggunaan wadah makan permanen, penggunaan ulang botol minum, thrift dan barter barang mahasiswa, dan pemanfaatan ulang kardus dan toples. b) Pengembangan komunitas berbasis reuse seperti bank barang bekas, pasar preloved, pojok reuse, workshop ecobrick dan kerajinan. c) Membentuk identitas lingkungan, penelitian Leslie. dkk. (2021) menunjukkan bahwa reuse meningkat ketika individu merasa dirinya bagian dari komunitas peduli lingkungan. Faktor identitas sosial dan norma kelompok sangat menentukan perilaku pro-lingkungan.

Recycle dilakukan ketika sampah sudah tidak dapat dikurangi maupun digunakan kembali. Di Jogja, pemilahan sampah rumah tangga masih rendah. Sampah organik, plastik, dan residu sering tercampur sehingga menyulitkan proses daur ulang. Solusi perilaku recycle dilakukan dengan a) Pemilahan sampah dari rumah, masyarakat perlu dibiasakan memilah antara organik, anorganik, residu, limbah B3 rumah tangga. b) Penguatan bank sampah (Farrasy, 2025) dan TPS3R efektif meningkatkan perilaku daur ulang karena memberi insentif ekonomi, reinforcement sosial, dan rasa tanggung jawab kolektif. c) Pendidikan lingkungan berbasis praktik dengan pelatihan langsung lebih efektif dibanding hanya sosialisasi. Pembiasaan sehari-hari membantu membentuk habit formation. Penelitian systematic review dari Rahmah, dkk. (2024) menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah perkotaan sangat dipengaruhi partisipasi masyarakat dalam sistem 3R berbasis perilaku.

Permasalahan sampah di Yogyakarta tidak dapat diselesaikan hanya dengan teknologi pengolahan sampah. Akar masalah utamanya adalah perilaku masyarakat. Oleh karena itu: Reduce menjadi solusi paling penting karena mencegah munculnya sampah, Reuse memperpanjang usia barang, sedangkan Recycle menjadi pilihan terakhir ketika sampah sudah terbentuk. Penelitian Wilson, dkk. menunjukkan bahwa perubahan perilaku berbasis norma sosial, kebiasaan, kontrol perilaku, dan partisipasi komunitas lebih efektif dibanding pendekatan teknis semata. 

Referensi

Ashbar, A. N., Widiyanto, A. F., & Bangun, S. B. S. (2025). Implementasi sistem pengelolaan sampah berbasis 3R di TPS Nitikan, Kota Yogyakarta. Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat. https://doi.org/10.69883/jlkm.v4i.3


Aqmarina, N. (2023). Faktor yang menentukan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di Kecamatan Sarolangun (Tesis Magister, Universitas Gadjah Mada).


Concari, A., Kok, G., Martens, P., & Brink, N. (2023). Investigating the role of goals and motivation on waste separation behavior through the lens of the theory of reasoned goal pursuit. Environmental Management, 72(5), 1019–1031. https://doi.org/10.1007/s00267-023-01820-1


Farrasy, A. N. D. (2025). Kajian pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui program bank sampah dan relevansinya dengan penerapan ekonomi sirkular di Kota Yogyakarta (Tesis Magister, Universitas Gadjah Mada).


Helmi, H., Nengsih, Y. K., & Suganda, V. A. (2018). Peningkatan kepedulian lingkungan melalui pembinaan penerapan sistem 3R (Reduce, Reuse, Recycle). JPPM (Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat), 5(1), 63–74. https://doi.org/10.21831/jppm.v5i1.16861


Leslie, C. M., Strand, A. I., Ross, E. A., Ramos, G. T., Bridge, E. S., Chilson, P. B., & Anderson, C. E. (2021). Shifting the balance among the “Three Rs of Sustainability”: What motivates reducing and reusing? Sustainability, 13(18), 10093. https://doi.org/10.3390/su131810093


Rahmah, S. P., Koestoer, R. H. L., & Yusuf, R. (2024). Penerapan reduce, reuse, recycle (3R) dan manajemen pengelolaan sampah perkotaan: A systematic literature review. Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan, 5(2), 189–197. https://doi.org/10.25077/jk3l.5.2.189-197.2024


Rasyif, Z (2024) Analysis of Pro-Environmental Behavior using the 5R method (Rethink, Reject, Reduce, Reuse, Recycle) towards Waste Management. (2024). JPK : Jurnal Proteksi Kesehatan, 12(2), 214-223. https://doi.org/10.36929/jpk.v12i2.786


RBTV Jogja. (2025). Depo sampah di Kota Yogyakarta membeludak.


Ruang Kota. (2025). Darurat sampah di Kota Yogyakarta belum sepenuhnya teratasi.


WALHI Yogyakarta. (2025). WALHI ajukan surat keberatan atas kegagalan Gubernur DIY dalam pengelolaan sampah di TPST Piyungan.


Wilson, B. M., Delmas, M. A., & Rajagopal, D. (2025). Behavioral interventions for waste reduction: A systematic review of experimental studies. Frontiers in Psychology, 16. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1561467


0 komentar:

Posting Komentar