Inovasi Pengelolaan Sampah Anorganik Melalui
Daur Ulang dan Kreativitas
Bernilai Ekonomi
Farrel Eza Sandiva
24310410241
Kelas Psikologi
Lingkungan B
Tugas Essai 1
Dosen Pengampu : Dr.
Arundati Shinta M.A
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
alamat : https://ejournal.sisfokomtek.org/index.php/jpkm/article/view/6430/4009
a.
Pendahuluan
Kota Palangka Raya menghadapi masalah sampah yang cukup serius, dengan
produksi lebih dari 160 ton sampah setiap hari. Kecamatan Pahandut dan Sebangau
menyumbang sekitar 61 ton sampah per hari, terutama berupa sisa makanan dan
plastik. Sampah plastik menjadi masalah utama karena sulit terurai dan dapat
mencemari lingkungan. Meskipun pemerintah sudah menyediakan fasilitas
pengelolaan sampah dan tenaga kerja, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan
sampah masih rendah. Oleh karena itu, dilakukan kegiatan pengabdian masyarakat bertema
pengelolaan sampah anorganik melalui daur ulang dan kreativitas bernilai
ekonomi.
Kegiatan ini melibatkan mahasiswa, dosen, dan masyarakat melalui
sosialisasi, pelatihan, serta pendampingan untuk mengolah sampah plastik
menjadi produk kerajinan, seperti bunga hias. Program ini bertujuan
meningkatkan kesadaran masyarakat tentang prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle)
sekaligus membuka peluang ekonomi dari hasil daur ulang. Hasilnya, masyarakat
menjadi lebih memahami pentingnya pengelolaan sampah dan mampu menghasilkan
produk yang bermanfaat serta bernilai jual. Program ini diharapkan dapat
menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengatasi masalah sampah sekaligus
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
b. Masalah
Di Kota Palangka Raya,
pengelolaan sampah anorganik masih berfokus pada pengumpulan dan pembuangan,
sehingga diperlukan solusi yang lebih menyeluruh. Sampah anorganik sebenarnya
memiliki potensi ekonomi jika didaur ulang menjadi produk bernilai jual,
seperti kerajinan tangan atau peralatan rumah tangga. Namun, kurangnya edukasi
dan pelatihan membuat masyarakat masih menganggap sampah sebagai limbah yang
tidak berguna.
Program “Inovasi Pengelolaan Sampah Anorganik melalui
Daur Ulang dan Kreativitas Bernilai Ekonomi” hadir untuk meningkatkan kesadaran
masyarakat sekaligus memberikan pelatihan keterampilan pengolahan sampah
berdasarkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Melalui kegiatan ini,
masyarakat diharapkan mampu mengubah sampah menjadi peluang usaha yang dapat
meningkatkan pendapatan dan menjaga lingkungan. Program ini juga bertujuan
mengubah pandangan masyarakat bahwa sampah bukan hanya masalah, tetapi sumber
daya yang bernilai dan dapat dimanfaatkan secara kreatif serta berkelanjutan.
c. Metode
Kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan
pendekatan partisipatif dengan melibatkan masyarakat secara aktif dalam
perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program pengelolaan sampah anorganik
di UPTD PST Kecamatan Pahandut dan Sebangau, Kota Palangka Raya. Kegiatan
diawali dengan survei lapangan untuk mengetahui kondisi lingkungan, jenis
sampah yang dominan, dan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah.
Selanjutnya dilakukan sosialisasi mengenai pentingnya pengelolaan sampah dengan
prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) serta potensi ekonomi dari daur ulang
sampah.
Masyarakat kemudian mengikuti pelatihan praktik
langsung mengolah sampah plastik dan botol bekas menjadi kerajinan seperti
bunga hias. Setelah pelatihan, dilakukan pendampingan secara berkala untuk
membantu peserta menerapkan keterampilan secara mandiri. Evaluasi dilakukan
melalui wawancara, diskusi kelompok, dan kuesioner. Hasil kegiatan
didokumentasikan dalam bentuk laporan, foto, dan video tutorial, serta
disebarluaskan melalui media sosial dan platform akademik. Program ini
diharapkan dapat mengurangi masalah sampah, meningkatkan kreativitas, membuka
peluang ekonomi, dan menjadi contoh pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat
yang dapat diterapkan di daerah lain.
d. Hasil dan Pembahasan
Kegiatan pengabdian
masyarakat di Kecamatan Pahandut dan Sebangau, Kota Palangka Raya, bertujuan
untuk mengatasi masalah sampah anorganik melalui daur ulang dan kreativitas
bernilai ekonomi. Program ini melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama dengan
dukungan dari UPTD PST. Kegiatan dimulai dengan survei dan diskusi untuk
mengetahui kondisi pengelolaan sampah di masyarakat. Hasilnya menunjukkan bahwa
sampah plastik dan botol bekas paling banyak dihasilkan namun belum
dimanfaatkan dengan baik. Oleh karena itu, dibuat pelatihan berbasis prinsip 3R
(Reduce, Reuse, Recycle).
Pelaksanaan kegiatan
dilakukan melalui sosialisasi dan pelatihan langsung. Masyarakat diajarkan cara
memilah sampah dan mengubah limbah plastik menjadi kerajinan seperti bunga hias
dan pernak-pernik yang memiliki nilai jual. Selain keterampilan teknis, peserta
juga diberi edukasi tentang pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Program
ini didukung oleh strategi seperti dukungan pemerintah, partisipasi masyarakat,
peningkatan fasilitas pengelolaan sampah, edukasi berkelanjutan, dan inovasi
daur ulang.
Hasil kegiatan menunjukkan
bahwa masyarakat menjadi lebih sadar pentingnya mengelola sampah. Sekitar 70%
peserta mengaku mendapatkan pemahaman baru tentang pemilahan dan pengolahan
sampah. Selain membantu menjaga lingkungan, program ini juga membuka peluang
usaha dan meningkatkan ekonomi masyarakat. Program ini dinilai berhasil karena
menggabungkan edukasi, pelatihan, pendampingan, dan kerja sama antara
masyarakat, akademisi, dan pemerintah.
e. Kesimpulan
Program pengabdian
masyarakat tentang pengelolaan sampah anorganik di Kecamatan Pahandut dan
Sebangau, Kota Palangka Raya, berhasil meningkatkan kesadaran dan keterampilan
masyarakat dalam mendaur ulang sampah menjadi produk bernilai ekonomi. Melalui
pelatihan partisipatif, masyarakat mampu membuat kerajinan dari plastik dan
botol bekas, seperti bunga hias dan pernak-pernik, yang dapat dijual.
Sebagian besar peserta
tertarik melanjutkan kegiatan daur ulang secara mandiri, sehingga terjadi
perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Keberhasilan program
juga didukung oleh kerja sama dengan UPTD PST setempat serta penerapan prinsip
3R (Reduce, Reuse, Recycle). Secara keseluruhan, program ini tidak hanya
membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan
dapat dijadikan contoh untuk diterapkan di daerah lain.






0 komentar:
Posting Komentar