MAT.KUL : Psikologi Lingkungan Masyarakat
NAMA TUGAS : ESAI 2 - Kegiatan Plogging 1
DOSEN PENGAMPU : Dr. ARUNDATI SHINTA M.A.
NAMA : AYOM PURWANINGSIH
PRODI : PSIKOLOGI ( KELAS B)
Universitas Proklamasi 45
MENYATU DENGAN ALAM MENJADI AKSI PEDULI LINGKUNGAN
Pendahuluan
Akhir pekan lalu, saya melakukan sebuah kegiatan yang mengubah pandangan saya tentang rutinitas berolahraga. Kegiatan tersebut adalah plogging, sebuah tren yang berasal dari Swedia yang menggabungkan jogging (lari santai) dengan plocka upp (memungut sampah). Bagi saya, ini bukan sekadar olahraga biasa, melainkan sebuah aksi nyata untuk menjaga kelestarian lingkungan. Plogging adalah gabungan dari kata jogging (lari santai) dan istilah bahasa Swedia plocka upp yang berarti memungut. Aktivitas ini mengajak para pelari atau pejalan kaki untuk membawa kantong sampah dan memungut sampah yang mereka temukan di sepanjang rute yang dilewati. Aktivitas multitasking ini mengubah rutinitas olahraga biasa menjadi aksi nyata kepedulian terhadap bumi.
Isi:
Pengalaman dan Dinamika Kegiatan
Pagi itu tepat pukul 06.30 WIB, berbekal sepatu lari yang nyaman, sarung tangan, dan kantong sampah besar di tangan, saya memulai rute lari keliling perumahan subsidi di kompleks kampung saya Sendangsari, Bantul, Yogyakarta. Pada awalnya, berlari sambil membawa kantong sampah terasa sedikit canggung. Namun, suasana berubah ketika saya mulai melihat realitas di lapangan.
Sepanjang rute yang saya lewati, mulai dari trotoar, hingga selokan kecil, terdapat banyak sampah plastik yang berserakan. Mulai dari botol minuman, bungkus makanan, hingga puntung rokok. Gerakan membungkuk, berjongkok, dan menjangkau sampah yang tersembunyi ternyata memberikan tantangan fisik tersendiri. Detak jantung berpacu lebih cepat, dan keringat bercucur lebih deras dibandingkan saat saya hanya berlari biasa. Pemandangan ini memunculkan sebuah pertanyaan reflektif, “Apakah kita bisa berolahraga demi kesehatan diri sendiri, namun disaat yang sama menjaga kesehatan lingkungan kita?” Jawabannya terletak pada sebuah tren yang berasal dari Swedia, yaitu plogging. Banyak orang menganggap bahwa menjaga lingkungan membutuhkan upaya besar atau kebijakan rumit dari pemerintah. Padahal, perubahan nyata justru sering kali dimulai dari kebiasaan tingkat akar rumput.
Yang membuat kegiatan ini menyenangkan adalah rasa nyaman, sehat, segar dan bangga bisa membantu petugas kebersihan untuk mengurangi sampah yang berserakan di jalanan kompleks. Di saat plogging , kita bisa melatih fisik dan juga dapat menyelamatkan lingkungan dari bahaya sampah plastik yang membutuhkan ratusan tahun untuk terurai. Saya bersemangat saat berhasil mengumpulkan banyak sampah. Setiap kali kantong sampah saya terisi, ada rasa kepuasan batin yang luar biasa, merasa senang dan gembira juga dengan kegiatan tersebut. Saya merasa tubuh saya menjadi lebih sehat dan di saat yang sama, lingkungan menjadi lebih bersih.
Di Indonesia, kesadaran ini mulai berkembang meski perlahan. Komunitas dan pegiat lingkungan telah lama menyuarakan pentingnya memilah sampah. Sayangnya, kesadaran masyarakat umum masih rendah. Sering kali sampah dibuang sembarangan hanya karena tempat sampah dirasa terlalu jauh. Melalui plogging, mentalitas "ini bukan sampah saya" diubah menjadi "ini bumi saya". Aksi ini secara tidak langsung juga memberikan edukasi visual kepada masyarakat yang melihat, membuktikan bahwa menjaga kebersihan bisa dilakukan di sela-sela aktivitas harian.
Kesimpulan
Kegiatan plogging telah membuktikan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus menunggu momen besar atau kebijakan pemerintah. Langkah kecil seperti memungut satu atau dua sampah saat berolahraga mampu memberikan dampak yang besar bagi ekosistem sekitar. Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa kesehatan fisik dan kelestarian alam bisa berjalan beriringan. Kedepannya, saya berkomitmen untuk menjadikan plogging sebagai rutinitas baru demi tubuh yang bugar dan bumi yang lebih hijau.
*** Salam Bersih Sehat Ceria ***
NAMA TUGAS : ESAI 2 - Plogging ke 2
AKSI PLOGGING BERSAMA SAHABAT AGAR SELOKAN TIDAK TERSUMBAT
Pendahuluan
Kegiatan plogging ke dua saya bersama para sahabat saya sewaktu bersekolah di SMA N 6 Purworejo kami laksanakan pada hari Minggu 24 Mei 2026 pukul 06.30 pagi saat udara masih sejuk dan belum terlalu panas. lokasi yang kami pilih adalah selokan Jl. Sarwo Edi Wibowo, Purworejo, Jawa Tengah. Persiapan kami sebelum berangkat adalah perlengkapan esensial mulai dari pakaian olahraga, celana training, sandal jepit, sepatu lari yang nyaman untuk medan tanah dan rumput, perlengkapan pungut sampah seperti sarung tangan, tas kresek sampah ukuran sedang dan besar (pisahkan antara sampah organik dan anorganik), serta hand sanitizer. Tak lupa ijin untuk dokumentasi dengan membawa smartphone untuk mengambil foto "Sebelum dan Sesudah" (sekaligus update di media sosial untuk memotivasi orang lain).
Isi
Rundown Kegiatan (Durasi 2 Jam):
06.10 - 06.30: Pemanasan ringan bersama sahabat untuk mencegah cedera otot.
06.30 - 07.30: Mulai berlari kecil (jogging) menyusuri jalan setapak di tepi selokan. Setiap melihat sampah anorganik (seperti botol plastik, bungkus makanan, atau kantong kresek), berhenti sejenak untuk memungutnya dan masukkan ke dalam kantong sampah.
07.30 - 08.00: Berganti sandal jepit lalu turun ke selokan untuk membersihkan sampah-sampah yang ada di dalam selokan dengan kantong kresek untuk tempat sampahnya. Transisikan gerakan menjadi jongkok-berdiri (menyerupai squat). Ini adalah latihan kardio yang membakar banyak kalori kaki dan bokong. Kumpulkan semua kantong sampah di satu titik kumpul (meeting point)
08.00 - 08.30: Pendinginan (cooling down), makan snack dan minum air mineral untuk rehidrasi, dan berfoto bersama hasil kerja keras.
Tetap fokus pada keselamatan. Hindari turun langsung ke selokan yang dalam atau arusnya deras. Cukup ambil sampah yang terjangkau dari pinggiran. Referensi Komunitas, untuk melihat inspirasi gerakan serupa, saya melihat kegiatan dari komunitas peduli lingkungan seperti Sungai Watch yang fokus pada pembersihan sungai dari hulu ke hilir. Kegiatan plogging seperti ini sangat efektif membakar kalori lebih banyak dibanding lari biasa karena adanya gerakan tambahan seperti membungkuk dan menjangkau. Sambil membersihkan tumpukan botol plastik, bungkus makanan, dan daun kering di saluran air, saya dan sahabat bisa mengobrol (bersosialisasi). Gerakan mengambil dan membuang sampah melatih kelenturan tubuh serta kekuatan otot inti perut. Kegiatan ini membuka mata kami terhadap realitas kebersihan lingkungan kita. Kami segera menyadari bahwa jika dibiarkan, tumpukan sampah di selokan ini tidak hanya merusak estetika, tetapi juga menjadi sarang penyakit dan memicu banjir saat musim hujan tiba. Tanpa ragu, kami turun tangan untuk membersihkannya.
Kesimpulan
Dalam beberapa jam, kantong sampah kami sudah terisi penuh oleh sampah anorganik yang merusak lingkungan. Pengalaman plogging ini mengajarkan kami bahwa menjaga kelestarian alam bukanlah hal yang rumit atau harus selalu dilakukan dalam skala besar. Tindakan kecil seperti memungut sampah di sepanjang jalur lari dan membersihkan saluran air dari penyumbatan adalah langkah konkret yang sangat berarti.Pada akhirnya, plogging lebih dari sekadar menjaga kebersihan lingkungan atau membakar kalori. Aktivitas ini adalah simbol kepedulian dan refleksi diri atas kebiasaan kita terhadap alam. Bagi saya dan para sahabat saya, aksi kecil di Minggu pagi tersebut membuktikan bahwa persahabatan yang solid dapat diarahkan untuk tujuan yang lebih besar menjadi pahlawan kecil bagi bumi kita sendiri.
Yuk, jadwalkan plogging bersama sahabat Anda minggu ini!








0 komentar:
Posting Komentar