Belajar Bertanggung Jawab Terhadap Sampah Seniri dan Praktik Pengelolaan Sampah Organik
Moch Aziiz Suharyadi
24310410211
Kelas Psikologi Lingkungan – B
Tugas Essai 6
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Pengelolaan sampah merupakan isu
penting yang tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut
tanggung jawab moral, sosial, dan lingkungan. Permasalahan seperti pencemaran
udara serta kendala dalam regenerasi sumber daya manusia dalam pengelolaan
sampah menunjukkan bahwa dibutuhkan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan.
Salah satu konsep yang dapat
diterapkan adalah TPST 3R (Reduce, Reuse, Recycle), yaitu sistem pengelolaan
sampah berbasis masyarakat yang berfungsi sebagai pusat pengolahan sampah di
tingkat kawasan. Kegiatan yang dilakukan meliputi pengumpulan, pemilahan, dan
pemanfaatan kembali material agar volume sampah yang dikirim ke TPA dapat
diminimalkan serta nilai ekonominya tetap terjaga. Optimalisasi program ini
memerlukan edukasi masyarakat, inovasi teknologi, pelatihan bagi karyawan,
serta kerja sama antara masyarakat, pihak swasta, dan pemerintah.
Dalam praktiknya, pembelajaran
mengenai pengelolaan sampah dapat dilakukan melalui pengalaman langsung. Salah
satu contoh kegiatan dilakukan oleh mahasiswa dalam mata kuliah psikologi
lingkungan di kediaman dosen. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dan masyarakat
sekitar untuk mempraktikkan pengolahan sampah organik menjadi produk yang
bermanfaat seperti kompos, eco-enzyme, dan sabun cair.
Sebelum kegiatan dimulai,
mahasiswa dibekali materi mengenai proses pembuatan dan pemanenan kompos,
pembuatan eco-enzyme, hingga pengolahan sabun berbahan eco-enzyme. Mahasiswa
kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok agar dapat mencoba setiap tahapan secara
bergantian. Mereka juga diminta membawa makanan yang dibungkus daun pisang dan
plastik sebagai bentuk pembelajaran perilaku reduce, yaitu mengurangi sampah
dengan menghabiskan makanan dan bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkan.
Setelah makanan dikonsumsi,
sampah dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah organik seperti daun pisang
dirajang kecil untuk dijadikan bahan kompos, sedangkan sampah plastik
dipisahkan. Dalam proses pembuatan kompos, bahan organik dicampur dengan dedak,
dolomit, POC, daun sirih, bubuk kayu, sampah kebun, tetes tebu, dan EM4,
kemudian diaduk hingga merata dan difermentasi. Kompos yang matang dipisahkan
antara yang halus dan kasar untuk berbagai kebutuhan.
Selain itu, mahasiswa juga
mempelajari pembuatan eco-enzyme dari campuran gula merah, kulit buah, dan air
yang difermentasi selama tiga bulan. Cairan hasil fermentasi ini memiliki
banyak manfaat, seperti untuk pembersih, pupuk cair, hingga pengendali hama.
Tahap selanjutnya adalah pembuatan sabun cair berbahan eco-enzyme yang diolah
dari berbagai bahan kimia pendukung dan difermentasi kembali hingga siap
digunakan.
Kegiatan ini tidak hanya
memberikan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa sampah
dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat. Pengalaman langsung ini
menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas dapat dilakukan mulai
dari lingkungan rumah tangga.
Namun demikian, tantangan
terbesar dalam pengelolaan sampah sering kali berasal dari perilaku manusia,
seperti rasa malas dan kebiasaan menunda. Oleh karena itu, diperlukan disiplin,
motivasi, serta kesadaran kolektif untuk menerapkan prinsip reduce, reuse, dan
recycle dalam kehidupan sehari-hari.
Manfaat dari pengelolaan sampah
sangat luas, baik dalam konteks karier, keluarga, maupun masyarakat. Dalam
dunia kerja, keterampilan ini mendukung inovasi ramah lingkungan. Dalam
keluarga, menciptakan lingkungan yang sehat sekaligus menanamkan nilai tanggung
jawab. Sementara di masyarakat, kegiatan ini memperkuat kerja sama dan
ketahanan lingkungan.
Dengan demikian, pengelolaan sampah bukan sekadar tugas akademik, melainkan komitmen jangka panjang. Melalui edukasi, praktik nyata, dan kerja sama berbagai pihak, sampah dapat diubah menjadi peluang yang bernilai guna, sehingga tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)






0 komentar:
Posting Komentar