Kamis, 28 Mei 2026

ESSAI 6 : Eksperimen Sampah Organik Di Rumah Dosen

 Belajar  Bertanggung Jawab Terhadap Sampah Seniri dan Praktik Pengelolaan Sampah Organik


Moch Aziiz Suharyadi

24310410211

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 6

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Pengelolaan sampah merupakan isu penting yang tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral, sosial, dan lingkungan. Permasalahan seperti pencemaran udara serta kendala dalam regenerasi sumber daya manusia dalam pengelolaan sampah menunjukkan bahwa dibutuhkan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan.

Salah satu konsep yang dapat diterapkan adalah TPST 3R (Reduce, Reuse, Recycle), yaitu sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berfungsi sebagai pusat pengolahan sampah di tingkat kawasan. Kegiatan yang dilakukan meliputi pengumpulan, pemilahan, dan pemanfaatan kembali material agar volume sampah yang dikirim ke TPA dapat diminimalkan serta nilai ekonominya tetap terjaga. Optimalisasi program ini memerlukan edukasi masyarakat, inovasi teknologi, pelatihan bagi karyawan, serta kerja sama antara masyarakat, pihak swasta, dan pemerintah.

Dalam praktiknya, pembelajaran mengenai pengelolaan sampah dapat dilakukan melalui pengalaman langsung. Salah satu contoh kegiatan dilakukan oleh mahasiswa dalam mata kuliah psikologi lingkungan di kediaman dosen. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dan masyarakat sekitar untuk mempraktikkan pengolahan sampah organik menjadi produk yang bermanfaat seperti kompos, eco-enzyme, dan sabun cair.

Sebelum kegiatan dimulai, mahasiswa dibekali materi mengenai proses pembuatan dan pemanenan kompos, pembuatan eco-enzyme, hingga pengolahan sabun berbahan eco-enzyme. Mahasiswa kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok agar dapat mencoba setiap tahapan secara bergantian. Mereka juga diminta membawa makanan yang dibungkus daun pisang dan plastik sebagai bentuk pembelajaran perilaku reduce, yaitu mengurangi sampah dengan menghabiskan makanan dan bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkan.

Setelah makanan dikonsumsi, sampah dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah organik seperti daun pisang dirajang kecil untuk dijadikan bahan kompos, sedangkan sampah plastik dipisahkan. Dalam proses pembuatan kompos, bahan organik dicampur dengan dedak, dolomit, POC, daun sirih, bubuk kayu, sampah kebun, tetes tebu, dan EM4, kemudian diaduk hingga merata dan difermentasi. Kompos yang matang dipisahkan antara yang halus dan kasar untuk berbagai kebutuhan.

Selain itu, mahasiswa juga mempelajari pembuatan eco-enzyme dari campuran gula merah, kulit buah, dan air yang difermentasi selama tiga bulan. Cairan hasil fermentasi ini memiliki banyak manfaat, seperti untuk pembersih, pupuk cair, hingga pengendali hama. Tahap selanjutnya adalah pembuatan sabun cair berbahan eco-enzyme yang diolah dari berbagai bahan kimia pendukung dan difermentasi kembali hingga siap digunakan.

Kegiatan ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa sampah dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat. Pengalaman langsung ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas dapat dilakukan mulai dari lingkungan rumah tangga.

Namun demikian, tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah sering kali berasal dari perilaku manusia, seperti rasa malas dan kebiasaan menunda. Oleh karena itu, diperlukan disiplin, motivasi, serta kesadaran kolektif untuk menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle dalam kehidupan sehari-hari.

Manfaat dari pengelolaan sampah sangat luas, baik dalam konteks karier, keluarga, maupun masyarakat. Dalam dunia kerja, keterampilan ini mendukung inovasi ramah lingkungan. Dalam keluarga, menciptakan lingkungan yang sehat sekaligus menanamkan nilai tanggung jawab. Sementara di masyarakat, kegiatan ini memperkuat kerja sama dan ketahanan lingkungan.

Dengan demikian, pengelolaan sampah bukan sekadar tugas akademik, melainkan komitmen jangka panjang. Melalui edukasi, praktik nyata, dan kerja sama berbagai pihak, sampah dapat diubah menjadi peluang yang bernilai guna, sehingga tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

0 komentar:

Posting Komentar