Kamis, 21 Mei 2026

 

Tugas                    : Esai 6 – Eksperimen organik di rumah dosen 

Nama MK            : Psikologi Lingkungan 

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A. 

Kelas                    : Karyawan (online)

Titik Muti’ah       (243010440004)  

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta 

KUNJUNGAN: 

Hari/Tanggal :  Minggu 17 Mei 2026

Waktu :            09.00 -11.30 

Tempat :          Rumah DR. Arundati Shinta, M.A. 


                                                                                                   
Pagi itu, halaman rumah Arundati Shinta yang terletak di daerah sekitar belakang kampus UII yang sangat asri, rapi tertata dan bersih. Beliau dikenal dosen gigih menyuarakan isu lingkungan, pengelolaan sampah, dll.  Beliau menyulap halaman belakang menjadi laboratorium alam yang asri dengan banyak tanaman. Hari ini, rumahnya menjadi titik temu dua generasi yang memiliki keresahan serupa terhadap bumi: sekelompok ibu-ibu tangguh dari Bank Sampah dan belasan mahasiswa bimbingan beliau yang penuh energi. Mereka berkumpul bukan untuk berteori, melainkan melakukan aksi nyata menyulap sampah domestik menjadi produk bernilai guna. 
Mahasiswa diminta membawa makanan 2 macam kue bekalnya (1 kue dibungkus daun pisang + 1 kue dibungkus plastik). Makanan harus habis – perilaku reduce. Setiap mahasiswa wajib menghabiskan makanannya, belajar bertanggungjawab. 
Eksperimen dimulai dengan membagi peserta ke dalam beberapa pos kerja. Di sudut kanan, para mahasiswa memotong kecil daun bungkus makanan yang kami bawa. Mahasiswa berekperimen pada limbah organic. Mereka mempraktikkan metode komposting yang cepat dan tidak berbau. Rajangan daun pisang dicampur dengan: dedak + dolomit / kapur tani + POC + rajangan daun sirih + bubuk kayu + rajangan sampah kebun + tetes tebu + EM4. Campur sampai rata, selanjutnya kompos bisa dipanen.  
Sebagian memasukkan sisa/kulit buah segar—seperti jeruk, nanas, dll yang juga sudah diiris kecil-kecil dengan air dan molase ke dalam wadah plastik besar untuk difermentasi menjadi eco-enzyme tahap pertama. Eco enzyme  tahap dua dicampur dengan sereh dan lerak yang sudah dipotong kecil, sedangkan eco-enzyme tahap ke tiga (3 bulan difermentasi) dicaring dimasukkan ke larutan saben cuci piring  dan bisa dikemas sebagai produk yang bisa digunakan. 
Selain itu mahasiswa juga diminta membuat saben eco enzym bahannya cukup beraneka ragam, ada 7 bahan yang masingmasing dicampurkan dan diaduk terus menerus. Campuran tadi didiamkan semalam, setelah dingin dicampur dengan eco enzym fermentasi kedua, diaduk sampai rata baru dikemas dalam botol sebagai poduk sabun cair. 
Aktivitas yang berlangsung hingga siang hari ini bukan sekadar eksperimen daur ulang. Rumah sang dosen telah menjadi ruang dialektika yang hidup, di mana pengalaman praktis ibu-ibu bank sampah berpadu sempurna dengan idealisme akademis mahasiswa. Dari halaman rumah ini, mereka membuktikan bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas bukan hal yang mustahil, dimulai dari pemilahan di dapur sendiri demi bumi yang lebih bersih.

   






0 komentar:

Posting Komentar