Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Senin, 25 Mei 2026

ESSAI 2 : PLOGGING

Pengalaman Plogging di Jalan Kalurahan Sidokarto  dan

Jalan Sembuh Wetan Godean Sleman


Moch Aziiz Suharyadi

24310410211

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 2

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta


    Menjaga kebersihan lingkungan dapat dimulai dari diri sendiri, karena lingkungan yang bersih akan membuat masyarakat merasa nyaman, sehat, dan betah dalam beraktivitas. Namun pada kenyataannya, di masa sekarang masih banyak tempat umum dan pinggir jalan yang kurang terjaga kebersihannya akibat sampah plastik, bungkus makanan, botol minuman, serta daun kering yang sering terlihat berserakan di area publik. Di sisi lain, saat ini banyak orang juga mulai sadar dengan kesehatannya dan mulai rutin melakukan olahraga.

    Kondisi tersebut mendorong munculnya gerakan plogging, yaitu sebuah aktivitas sederhana yang menggabungkan dua kegiatan dalam satu waktu antara olahraga ringan seperti berjalan kaki, jogging, atau lari santai, dengan aksi nyata memungut sampah di sekitar lingkungan selama perjalanan. Dalam penerapannya, aktivitas ini tidak hanya berfokus pada pengumpulan sampah umum, tetapi juga mencakup tindakan preventif keselamatan seperti pengambilan paku yang berserakan di jalanan publik. Kegiatan yang mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 2018 ini menjadi solusi sederhana yang tidak hanya bermanfaat untuk masalah kesehatan individu, namun juga membantu mengurangi masalah pencemaran lingkungan. Manfaat plogging sendiri sangat beragam, antara lain untuk menyehatkan tubuh karena tubuh menjadi aktif bergerak, menenangkan pikiran karena dapat meningkatkan hormon kebahagiaan, membangun kepedulian sosial, serta menjaga lingkungan karena dapat mengurangi jumlah sampah di ruang publik.


    Plogging pertama saya lakukan pada tanggal 26 April 2026, dengan perjalana dimulai dari Jalan kaluraham Sidokarto ke arah timur, berlanjut di jalan Sidokarto berjalan ke arah selatan dengan jarak tempuh 4,6 km, pada pukul 06.00 sampai 07.30 WIB. Plogging yang saya kumpulkan adalah paku dan bebrapa patahan besi yang dapat membahayakan pengendara yang lalu lalang. Diperoleh kurang lebih berat sekitar 1/4 kg paku dan patahan - patahan besi.


    Plogging kedua tidak jauh dari jalan kalurahan sidokarto saya lakukan pada tanggal 03 Mei 2026, dengan perjalana dimulai dari Jalan Kalurahan Sidokarto ke arah barat, menuju di jalan Sembuh Wetan berjalan ke utara menuju jalan bibis ke timur dengan jarak tempuh 3,6 km, pada pukul 16.00 sampai 17.30 WIB. Plogging yang saya kumpulkan masih sama dengan ploging pertama adalah paku dan bebrapa patahan besi yang dapat membahayakan pengendara yang lalu lalang. Hanya saja kalini saya bersepeda dan menggunakan alat yang saya bawa ada magnet besar bekas sound sistem. dan Diperoleh  kurang lebih berat sekitar 1/2 kg terdapat paku, patahan - patahan besi. karena diderah saya baru terdapat pembanggunan di area lahan persawahan.

   Hasil yang saya kumpulakan selama kurang lebih 3/4 kg hampir satu kilo karena barang yang saya peroleh. Bercampur-campur hasil yang diperoleh terdapat paku, pines, patahan besi-besi, kawat yang sudah berkarat. Hasil tersebut saya jual ke pengempul/rosok dengan meneriam sejumlah uang Rp 8.500,00.

Permasalahan yang dihadapi sebelum kegiatan plogging ini yaitu sulitnya menentukan jadwal agar ada yang menemani saya melakukan plogging. Karena kegiatan ini sangat jarang dilakukan di daerah sidokarto dan dusun sekitarnya, jadi saya merasa sedikit kurang percaya diri jika harus melakukannya sendirian meskipun di jual dapat menghasilakan. Sedangkan permasalahan yang dihadapi selama melakukan kegiatan plogging ini adalah keterbatasan kantong yang saya bawa saat bersepeda, sehingga sering kali sobek karena tertusuk besi atau paku yang tertancap.

Harapan saya ke depan, semakin banyak orang yang peduli dengan lingkungan, serta semakin maraknya kegiatan-kegiatan positif seperti plogging ini. Melalui kegiatan ini, saya menyadari bahwa menjaga lingkungan tidak selalu dengan tindakan yang besar. Tindakan kecil seperti di jalan yang kita lewati juga dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan orang-orang di sekitar.

ESAI 11- UTS PSIKOLOGI LINGKUNGAN

MAT.KUL : Psikologi Lingkungan 

DOSEN PENGAMPU : Dr. ARUNDATI SHINTA M.A.

NAMA : AYOM PURWANINGSIH

FAKULTAS : PSIKOLOGI ( KELAS B) 

Universitas Proklamasi 45


HIERARKI PENGOLAHAN SAMPAH DAN PENERAPANNYA


Pendahuluan

    Tinggi rendahnya resiko bencana di suatu daerah dapat dilihat dari tingkat kerusakan lingkungan yang terjadi di daerah tersebut. Kerusakan lingkungan dapat terjadi bisa dikarenakan dari sampah sampah yang dibiarkan menumpuk dan tidak dapat sepenuhnya diolah oleh manusia. Oleh karena itu diperlukan adanya kesadaran masyarakat masing- masing untuk tidak menambah kerusakan lingkungan terutama karena disebabkan oleh sampah.

Isi

    Penerapan sampah dengan konsep 3R (Reuse, Reduce dan Recycle) dapat dijadikan solusi untuk anda dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitar dengan cara yang sangat mudah dan murah. Sampah yang diolah dapat dijadikan sebagai pupuk kompos atau bahkan bisa menjadi sumber listrik baru. Penerapan konsep 3R ini dapat diterapkan oleh siapa saja setiap hari. Konsep ini memiliki inti yakni Reuse (Menggunakan kembali sampah sampah yang masih bisa digunakan atau bisa berfungsi lainnya), Reduce (Mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan atau memunculkan sampah), Recycle (Mengolah kembali sampah atau daur ulang menjadi suatu produk atau barang yang dapat bermanfaat).




















Reduce

    Dengan prinsip reduce, maka kita mengurangi pemakaian dari bahan-bahan yang dapat merusak lingkungan. Caranya adalah anda bisa mengurangi belanja barang barang yang tidak terlalu perlu seperti baju baru dan juga aksesoris tambahan. Selain itu anda juga bisa mengurangi penggunaan tissue dan mengurangi kegiatan penggunaan kertas, selalu cek file dokumen anda sebelum dicetak menggunakan print preview agar tetap bisa menghemat penggunaan kertas.

Reuse

    Reuse atau memakai kembali barang yang anda dirasa sudah tidak perlu lagi, salah satunya adalah anda bisa memberikan barang barang tersebut kepada yatim piatu atau anda bisa memberikan kepada sanak famili keluarga anda seperti misalnya baju baju bayi yang baru beberapa bulan saja dapat anda berikan kepada saudara yang misal membutuhkan.

Recycle

    Konsep recycle sendiri adalah mendaur ulang sampah anda menjadi suatu barang baru yang dapat digunakan kembali dan layak fungsi, caranya adalah anda bisa mendaur ulang sampah organik di rumah anda misalnya menjadikan botol minuman menjadi wadah pot tanaman atau melakukan pendaur ulangan kertas menjadi kertas kembali. Daur ulang dengan jumlah yang besar belum menjadi suatu aktivitas yang biasa dilakukan di Indonesia. Salah satunya adalah tempat sampah yang dibedakan antara sampah organik dan sampah non organik masih banyak belum diterapkan maksimal di Indonesia.

[Sumber Sampah (Rumah/Kantor)]

           │

           ▼

1. ──► [Reduce] (Kurangi timbulan sampah dari awal)

           │

           ▼

2. ──► [Reuse] (Gunakan ulang barang yang ada)

           │

           ▼

3. ──► [Recycle] (Daur ulang & Kompos)

Kesimpulan

    Produk bekas atau daur ulang sendiri sebenarnya lebih fleksibel, bahkan kerap memiliki nilai ekonomis. Pemanfaatan sampah yang tidak terpakai hingga memiliki nilai tanpa mencemari lingkungan mampu mengurangi penyebaran sampah plastik secara drastis. Adapun produk yang didaur ulang memiliki desain yang unik dan sangat berbeda dengan jenis produk baru, bahkan beberapa pihak membuat aksesoris dari alat daur ulang yang dapat bermanfaat untuk mendongkrak ekonomi lingkungan sekitar seperti lingkungan RT atau RW.

    Metode 3R atau Reuse, Reduce, dan Recycle merupakan salah satu cara terbaik dalam mengelola dan menangani sampah plastik dengan berbagai jenisnya. Penerapan sistem ini juga sangat baik untuk mengelola sampah dari berbagai jenis plastik dari yang aman hingga beracun.  

Daftar Pustaka

Ali, N.E.H., Talmizi, N.M., Wahab, S.N.A., Rijal, N.S., Rased, A.N.N.W.A. & Saleh, A.A. (2021). Solid waste management hierarchy: An empirical investigation. Conference: Changing Lives in Briliant Ways International Invention & Innovative Competition (InIIC). August, pp. 1-7. Retrieved from: https://www.researchgate.net/publication/353827740_Solid_Waste_Management_Hierarchy_An_Empirical_Investigation


Bahrani, A. (2023). Apa itu 3R? Pengertian reduce, reuse recycle dan contohnya. Waste4change. 6 Mei. Retrieved from: https://waste4change.com/blog/konsep-prinsip-3r-reduce-reuse-recycle/


Chowdhury, A.H., Mohammad, N., Ul Haque, Md.R. & Hossain, T. (2014). Developing 3Rs (reduce, reuse and recycle) strategy for waste management in the urban areas of Bangladesh: Socioeconomic and climate adoption mitigation option. IOSR Journal of Environmental Science, Toxicology and Food Technology (IOSR-JESTFT. 8(5), Ver. I, May, pp. 09-18.




 

Esai 11 - UTS Psikologi Lingkungan

 

Nama : B Arifin

NIM : 25310440002

JAWABAN SOAL UTS


Pernyataan tersebut sudah tepat dalam menempatkan hierarki pengelolaan sampah secara normatif, yaitu menjadikan reduce sebagai prioritas utama, diikuti reuse, lalu recycle. Namun, dari perspektif psikologi lingkungan, yang lebih penting untuk dicermati bukan sekadar urutan ideal dalam hierarki tersebut, melainkan kesenjangan antara urutan yang dianjurkan dan perilaku nyata masyarakat, atau yang dikenal sebagai value action gap. Inti kajian psikologi lingkungan justru terletak pada pertanyaan mengapa perilaku pro-lingkungan kerap tidak sejalan dengan pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang. Dengan kata lain, mengetahui bahwa 3R itu baik tidak otomatis membuat seseorang melakukannya.

Bukti empiris mendukung kritik ini. Studi di Shah Alam, Malaysia (Ali et al., 2021) menemukan bahwa perilaku yang paling banyak dilakukan justru reuse, dengan penggunaan ulang kantong plastik mencapai 58%, botol 48,6%, dan koran 45,3%. Sebaliknya, tingkat partisipasi dalam recycle tergolong sangat rendah karena mayoritas responden lebih memilih membuang elektronik bekas dan minyak jelantah daripada membawanya ke pusat daur ulang. Temuan ini menunjukkan bahwa urutan prioritas normatif tidak otomatis tercermin dalam urutan perilaku aktual. Pola serupa juga tampak di Bangladesh (Chowdhury et al., 2014), di mana praktik daur ulang sebagian besar bergantung pada sektor informal sementara sistem formalnya masih lemah. Maka, klaim bahwa 3R efektif di berbagai konteks sosial dan geografis sebaiknya diperhalus menjadi pernyataan bahwa 3R menghadapi hambatan psikologis dan struktural yang serupa di berbagai konteks.



Bagan 1. Hierarki pengelolaan sampah 3R disandingkan dengan tingkat partisipasi nyata masyarakat (data: Ali et al., 2021).

Mengapa kesenjangan ini terjadi dapat dijelaskan melalui sejumlah teori psikologi lingkungan. Berdasarkan Theory of Planned Behavior (Ajzen), perilaku 3R dipengaruhi oleh sikap, norma subjektif, dan persepsi kemampuan mengendalikan perilaku atau perceived behavioral control. Perilaku reuse lebih dominan karena mudah, murah, dan telah menjadi kebiasaan rumah tangga sehari-hari, sehingga persepsi kendali atasnya tinggi. Sebaliknya, recycle menuntut usaha yang jauh lebih besar, seperti memilah sampah dan mengangkutnya ke pusat daur ulang, sehingga persepsi kendalinya rendah dan niat untuk melakukannya melemah. Faktor ekonomi turut berperan diantaranya studi di Malaysia mencatat banyak orang merasa mampu membeli barang baru sehingga insentif kecil dari daur ulang dianggap tidak berarti. Hal ini sejalan dengan Norm Activation Model, yang menjelaskan bahwa perilaku pro-lingkungan baru muncul ketika seseorang merasa bertanggung jawab secara personal dan menyadari konsekuensi dari tindakannya. Ketika kesadaran ini lemah, kesenjangan antara sikap dan tindakan semakin lebar.

Temuan tersebut memberikan implikasi penting bagi rancangan intervensi. Rekomendasi yang umum diberikan, yaitu kampanye edukasi, sebenarnya belum memadai. Dari sudut pandang psikologi lingkungan, perubahan perilaku tidak hanya bergantung pada niat baik individu, tetapi juga pada apakah faktor situasional memungkinkan perilaku tersebut terjadi. Edukasi yang hanya menambah pengetahuan tanpa diiringi kemudahan bertindak cenderung gagal mengubah perilaku. Karena itu, edukasi sebaiknya dikombinasikan dengan penyediaan fasilitas daur ulang yang mudah diakses, pemberian insentif yang berarti, dorongan halus atau nudges, umpan balik berkala, serta pemanfaatan norma sosial agar perilaku 3R menjadi hal yang lazim dan diharapkan dalam komunitas.

Sebagai penutup, pernyataan dalam soal akan menjadi lebih kuat apabila tidak berhenti pada urutan hierarki yang ideal, melainkan turut menjelaskan faktor individual dan struktural yang menjembatani kesenjangan antara sikap dan perilaku 3R. Dengan demikian, hierarki 3R tidak dipahami semata sebagai aturan normatif yang ideal, tetapi sebagai perilaku nyata yang dipengaruhi oleh psikologi individu sekaligus konteks lingkungan tempat individu itu berada. Pemahaman ini sejalan dengan tujuan psikologi lingkungan, yakni menjelaskan dan mendorong perilaku berkelanjutan melalui pendekatan yang memadukan dimensi kognitif, sosial, dan situasional secara menyeluruh.


 

Daftar Pustaka

Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50(2), 179–211.

Ali, N. E. H., Talmizi, N. M., Wahab, S. N. A., Rijal, N. S., Rased, A. N. N. W. A., & Saleh, A. A. (2021). Solid waste management hierarchy: An empirical investigation. International Invention & Innovative Competition (InIIC) Series 1.

Bahraini, A. (2023). Apa itu 3R? Pengertian reduce, reuse, recycle dan contohnya. Waste4Change. Diakses dari https://waste4change.com/blog/konsep-prinsip-3r-reduce-reuse-recycle/

Chowdhury, A. H., Mohammad, N., Haque, M. R. U., & Hossain, T. (2014). Developing 3Rs (reduce, reuse and recycle) strategy for waste management in the urban areas of Bangladesh: Socioeconomic and climate adoption mitigation option. IOSR Journal of Environmental Science, Toxicology and Food Technology, 8(5), 9–18.

Schwartz, S. H. (1977). Normative influences on altruism. Advances in Experimental Social Psychology, 10, 221–279.


25/5/2026

Suatu hari di sebuah mall yang berlokasi di depan Polda Provinsi.

Di suatu toilet, ketika saya menghampiri ruang janitor dilantai 1 dan bertanya kepada seorang OB,

"Pak, izin tanya, OB yang tunawicara, hari ini shiftnya di mana ya?"

"Oh, si Muslih."

"Dia biasanya ada di LG atau di Ruang Loading, Mas, Ada apa ya pak ?" 

"Oh, gpp Mas, tanya aja…"

Sampai akhirnya saya cari cari di toilet LG,  kok tidak ada ya. Sampailah saya teringat, kalau tidak ada di toilet, cari aja ke ruang loading. Jadi di LG ada pintu dengan pembatas plastik, didorong aja, itu akan mengarah ke ruang loading. 

Saya pun mencari beliau di ruang loading, cari sana sini, sana sini,  gak ketemu. Sampailah saya menghampiri seorang satpam yang bernama Pak Rizky. 

"Pak, izin tanya, Muslih di mana ya, Pak? Kok saya cari di ruang loading gak ada?"

"Ada keperluan apa ya, Pak?"

"Gpp Pak, jadi…"

"Oh, baik Pak, sebentar pak, saya carikan dulu ya."

Akhirnya beliau pun mencarikannya di ruang OB, dengan saya pun mengekor dibelakang.
Sampai pada akhirnya di
 kantor OB pun saya dihampiri seseorang yang sepertinya seniornya, yg menanyakan ada apa, dan saya pun menjawab hal yang sama seperti menjawab ke OB pertama dan ketika menjawab ke Pak Rizky. Sampai pada akhirnya, "Sebentar Pak, saya carikan…"

Tidak lama kemudian, beliau pun datang. Dengan membawa Ember dan kain pel. Dan pada akhirnya saya bilang sama rekannya yang juga sama sama datang dari lokasi yang sama, mbak izin saya ngobrol berdua sama Pak Muslih, ada hal yang mau dibicarakan…

"oh baik baik pak"

Sampai pada akhirnya, episode itu pun tiba. Di sekitar jam 10.30. 25/5/2025.

Dan saya agak deg degan juga.  

"Pak, masih inget saya gak pak ? jumat lalu, di tanggal 22 mei saya pernah ketemu bapak di ......dan bapak ……."

Habis ngomong itu, saya pun langsung menunjukkan sebuah teks, yang izin saya blur bagian bawahnya…


 


Dan ketika beliau membaca tulisan tersebut, saya pun melihat wajah haru di wajahnya. 

Beliau pasti gak nyangka bahwa paparan paparan kebaikan yang dia lakukan di tanggal 22 mei 2026 sekitar jam 15.00 itu memiliki........... tersendiri dan merupakan suatu hal yang…………..... bagi saya. 

Dan, Setelah itu, kita pun berfoto.


-End

Terima kasih, Pak Muslih. Terima kasih, Bu Shinta, Terimakasih atas segala ilmu yang telah Ibu berikan, saya memaknai betul pengalaman seru ke tpst, seluruh pengamatan detail saya se every detailnya everydetailnya dari berinteraksi antar teman, mahasiswa ke dosen, mahasiswa ke tim tpst memiliki daya tular positifnya tersendiri ke mahasiswa-mahasiswanya. 😊


 

Dokumentasi Ketika Kunjungan ke TPST





 



ESAI 11: UTS PSIKOLOGI LINGKUNGAN

Penerapan Perilaku 3R dalam Kehidupan Sehari-hari untuk Mengurangi Timbulan Sampah

Yufika Dwi Rezeki

25310440003

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Permasalahan sampah masih menjadi salah satu masalah lingkungan yang sering ditemui di berbagai daerah. Penggunaan plastik sekali pakai yang terus meningkat menyebabkan jumlah sampah semakin banyak setiap harinya. Selain itu, masih banyak masyarakat yang belum terbiasa memilah sampah dan menjaga kebersihan lingkungan. Menurut saya, masalah sampah tidak hanya disebabkan oleh kurangnya fasilitas pengelolaan sampah, tetapi juga dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi timbulan sampah adalah menerapkan perilaku 3R, yaitu reduce, reuse, dan recycle. Konsep ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan barang penyebab sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak pakai, serta mendaur ulang sampah agar lebih bermanfaat. Menurut Chowdhury (2014), penerapan konsep 3R dapat membantu mengurangi timbulan sampah melalui perubahan perilaku masyarakat. Perilaku 3R cukup efektif diterapkan dalam berbagai kondisi sosial dan geografis karena dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di lingkungan sekitar.

Bagan Hierarki 3R

REDUCE

(Mengurangi penggunaan barang penyebab sampah)

REUSE

(Menggunakan kembali barang yang masih layak pakai)

RECYCLE

(Mendaur ulang sampah menjadi barang baru yang bermanfaat)

Penerapan Reduce

Reduce berarti mengurangi penggunaan barang yang dapat menghasilkan sampah. Dalam kehidupan sehari-hari, saya mulai membawa tas belanja sendiri saat pergi ke minimarket agar mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai. Tas belanja ini bisa dilipat kecil sehingga mudah dibawa kemana-mana dan tidak memakan tempat. 


Membawa tas belanja sendiri
Selain itu, saya juga mulai mengurangi pembelian minuman kemasan dan lebih sering membawa tumbler (botol minum) sendiri ketika bepergian. Ini sudah saya terapkan sejak saya masih sekolah hingga sekarang. Menurut saya, kebiasaan sederhana seperti ini memang terlihat kecil, tetapi jika dilakukan secara konsisten dapat membantu mengurangi jumlah sampah plastik di lingkungan.
Membawa tumbler saat berpergian

Penerapan Reuse

Reuse berarti menggunakan kembali barang yang masih bisa dipakai agar tidak langsung menjadi sampah. Saya pernah memanfaatkan bungkus deterjen bekas menjadi apron sederhana yang masih dapat digunakan kembali. Saya membantu mengumpulkan sampah plastik dan ibu menjahitnya menjadi apron atau celemek.

Hasil apron yang kami buat dari sampah plastik
Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa barang yang biasanya dianggap sampah ternyata masih bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna. Menurut saya, kegiatan seperti ini juga dapat membantu mengurangi sampah plastik rumah tangga dan melatih kreativitas.

Penerapan Recycle

Recycle merupakan proses mendaur ulang sampah menjadi barang baru yang lebih bermanfaat. Saya pernah mengikuti kegiatan pembuatan eco enzyme dari limbah organik seperti kulit buah di rumah ibu Shinta. Dari kegiatan tersebut, saya belajar bahwa sampah organik yang biasanya dibuang ternyata masih dapat dimanfaatkan kembali.

Selain itu, saya juga pernah mengunjungi TPST Randu Alas di Sleman, Yogyakarta. Di tempat tersebut saya melihat proses pemilahan sampah organik dan anorganik sebelum diolah kembali. Menurut saya, pengelolaan sampah seperti ini dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang menumpuk di lingkungan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

 

Berkunjung ke TPST Randu Alas

Menurut saya, penerapan perilaku 3R juga perlu didukung oleh edukasi lingkungan sejak dini agar masyarakat lebih terbiasa menjaga kebersihan dan memilah sampah. Selain itu, lingkungan sosial juga memiliki pengaruh besar terhadap perilaku seseorang dalam mengelola sampah. Jika masyarakat saling mengingatkan dan memberi contoh yang baik, maka kesadaran menjaga lingkungan dapat meningkat secara perlahan.

Kesimpulan

Perilaku 3R merupakan salah satu cara yang efektif untuk membantu mengurangi timbulan sampah di lingkungan masyarakat. Reduce dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan barang sekali pakai, reuse dilakukan dengan memanfaatkan kembali barang yang masih layak pakai, sedangkan recycle dilakukan dengan mendaur ulang sampah agar lebih bermanfaat.

Permasalahan sampah tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah saja, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan sederhana seperti membawa tas belanja sendiri, menggunakan botol minum pribadi, serta memanfaatkan kembali barang bekas dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan.

Jika perilaku 3R diterapkan secara konsisten dan dimulai dari hal-hal kecil, lingkungan dapat menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi masyarakat.

Daftar Pustaka

Ali, N.E.H., Talmizi, N.M., Wahab, S.N.A., Rijal, N.S., Rased, A.N.N.W.A., & Saleh, A.A. (2021). Solid waste management hierarchy: An empirical investigation. Conference: Changing Lives in Brilliant Ways International Invention & Innovative Competition (InIIC).

Bahraini, A. (2023). Apa itu 3R? Pengertian reduce, reuse, recycle dan contohnya. Waste4Change.

Chowdhury, A.H., Mohammad, N., Ul Haque, Md.R., & Hossain, T. (2014). Developing 3Rs (reduce, reuse and recycle) strategy for waste management in the urban areas of Bangladesh. IOSR Journal of Environmental Science, Toxicology and Food Technology, 8(5), 09–18.


Esai 6 - Eksperimen organik di rumah dosen

 Nama : Banun Havifah Cahyo Khosiyono

NIM : 24310440002

Kelas : B

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.


Praktik Pengelolaan Sampah Organik


Pengelolaan sampah bukan hanya sekadar persoalan teknis, melainkan juga tanggung jawab moral dan psikologis yang memengaruhi kehidupan sehari-hari, karier, keluarga, serta masyarakat. Dalam kerangka psikologi lingkungan, aktivitas mengolah sampah mencerminkan nilai dan sikap kita terhadap keberlanjutan. Ilustrasi mahasiswa yang bekerja sama mengolah sampah di rumah dosen menunjukkan pentingnya pembelajaran berbasis pengalaman nyata. Dengan terjun langsung dalam praktik pengolahan sampah, mahasiswa tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan perilaku pro-lingkungan yang dapat diterapkan di luar kelas.

Salah satu praktik yang efektif adalah pembuatan kompos, yaitu mengubah sampah organik menjadi pupuk alami yang kaya nutrisi. Proses ini membantu mengurangi timbunan sampah di TPA sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan. Selain itu, produksi eco-enzym dari kulit buah dapat menghasilkan cairan serbaguna untuk membersihkan, berkebun, bahkan mengendalikan hama. Inovasi lain adalah membuat sabun cair dari minyak goreng bekas, yang tidak hanya mencegah pencemaran lingkungan tetapi juga memberi manfaat praktis bagi rumah tangga. Semua praktik ini menunjukkan bahwa sampah bukan sekadar limbah, melainkan sumber daya yang bisa diolah menjadi produk bermanfaat.

Namun, pengelolaan sampah tidak berhenti pada keterampilan teknis. Esensinya adalah memproduksi sampah secara bertanggung jawab, yakni mengurangi konsumsi berlebihan, menggunakan kembali barang, dan memastikan setiap limbah diproses dengan bijak. Tantangan terbesar sering kali muncul dari rasa malas dan menunda pekerjaan. Untuk mengatasinya, diperlukan disiplin, motivasi kolektif, serta visi yang jelas tentang bagaimana pengelolaan sampah berkontribusi pada kesehatan keluarga, keberlanjutan karier, dan ketahanan masyarakat. Dengan memandang pengolahan sampah sebagai aktivitas bermakna, kita dapat mengubah kebiasaan malas menjadi tindakan nyata yang berkelanjutan.

Manfaat dari praktik ini sangat luas. Dalam konteks karier, keterampilan mengolah sampah sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan inovasi ramah lingkungan dan tanggung jawab sosial perusahaan. Dalam keluarga, praktik ini menciptakan lingkungan yang lebih sehat sekaligus menanamkan nilai tanggung jawab pada anak-anak. Di tingkat masyarakat, kegiatan kolektif dalam mengolah sampah memperkuat ikatan sosial dan membangun ketahanan lingkungan. Dengan demikian, integrasi kompos, eco-enzym, sabun cair, serta perilaku bertanggung jawab terhadap sampah menjadi pendekatan holistik untuk keberlanjutan.

Pengelolaan sampah bukan sekadar tugas akademik, melainkan komitmen seumur hidup. Dengan mengatasi rasa malas dan berpartisipasi aktif, setiap individu dapat mengubah sampah menjadi peluang untuk pertumbuhan dan inovasi. Pada akhirnya, keberlanjutan bukan hanya praktik, melainkan kebiasaan personal, keluarga, dan masyarakat yang memastikan generasi mendatang mewarisi dunia yang lebih bersih dan bertanggung jawab.

Esai 11-UTS Psikologi Lingkungan


Nama : Banun Havifah Cahyo Khosiyono

NIM         : 24310440002

Kelas : B

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.


3R dan Psikologi Lingkungan: Integrasi Perilaku Pro-Lingkungan di Indonesia


Pengelolaan sampah merupakan refleksi dari perilaku manusia terhadap lingkungan. Dalam psikologi lingkungan, perilaku ini dipengaruhi oleh faktor kognitif, sosial, dan budaya (Helmi, 2019). Hierarki 3R (reduce, reuse, recycle) menjadi kerangka perilaku yang menuntun masyarakat menuju keberlanjutan. Prinsip ini menempatkan reduce sebagai prioritas utama karena mencegah timbulan sampah sejak awal (Chowdhury et al., 2014).

 

Reduce: Pencegahan dari Sumber

Reduce menuntut kesadaran ekologis dan kontrol diri terhadap konsumsi. Menurut teori behavioristik, perilaku dapat dibentuk melalui penguatan positif seperti penghargaan bagi warga yang membawa wadah sendiri (Skinner, 1953; Helmi, 2019). Di TPST Randu Alas, warga diajak mengurangi plastik sekali pakai melalui edukasi dan sistem poin bank sampah. Pendekatan ini sejalan dengan teori kognitif sosial Bandura (1986) yang menekankan peran modeling dalam pembentukan perilaku pro-lingkungan.

Reuse: Kreativitas dan Identitas Ekologis

Reuse mencerminkan kreativitas dan nilai keberlanjutan. Bahrani (2023) menegaskan bahwa reuse menumbuhkan budaya ekologis yang memperkuat identitas sosial. Di TPST Randu Alas, reuse diwujudkan melalui pelatihan kerajinan dari barang bekas yang tidak hanya mengurangi sampah tetapi juga meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal. Menurut teori medan Lewin (1951), perilaku reuse muncul dari interaksi antara individu dan lingkungan yang mendukung inovasi.

Recycle: Adaptasi Teknologis

Recycle menjadi tahap terakhir dalam hierarki karena membutuhkan energi dan biaya tambahan (Ali et al., 2021). Namun, di TPST Randu Alas, proses daur ulang dilakukan dengan teknologi sederhana seperti mesin pencacah organik. Pendekatan ini memperlihatkan adaptasi ekologis masyarakat terhadap keterbatasan sumber daya, sejalan dengan konsep ecological psychology Gibson (1979) yang menekankan affordances, kemampuan lingkungan menyediakan peluang tindakan. 

Implikasi Psikologi Lingkungan


Hierarki 3R tidak hanya teknis, tetapi juga psikologis. Menurut Djuwita dan Ariyanto (2020), perilaku pro-lingkungan dipengaruhi oleh persepsi kontrol dan norma sosial. Ketika masyarakat melihat hasil nyata, lingkungan bersih dan bernilai ekonomi, mereka terdorong untuk mempertahankan perilaku tersebut. Di TPST Randu Alas, keberhasilan 3R menjadi bukti bahwa intervensi berbasis komunitas efektif dalam membentuk perilaku ekologis yang berkelanjutan.

Solusi dan Rekomendasi


Untuk memperkuat penerapan 3R, diperlukan integrasi antara pendidikan lingkungan, kebijakan pemerintah, dan partisipasi masyarakat. Pendidikan menanamkan nilai reduce sejak dini, kebijakan mendorong industri ramah lingkungan, dan komunitas memperkuat praktik reuse dan recycle. Dengan demikian, hierarki 3R menjadi gerakan sosial yang membentuk budaya keberlanjutan di Indonesia.

Daftar Pustaka 

Ali, N. E. H., et al. (2021). Solid waste management hierarchy: An empirical investigation. InIIC Conference, 1–7.
Bahrani, A. (2023). Apa itu 3R? Pengertian reduce, reuse, recycle dan contohnya. Waste4Change.26 Mei. https://waste4change.com/blog/konsep-prinsip-3r-reduce-reuse-recycle/ 
 Bandura, A. (1986). Social foundations of thought and action: A social cognitive theory. Prentice-Hall.
Chowdhury, A. H., et al. (2014). Developing 3Rs strategy for waste management in urban areas of Bangladesh. IOSR-JESTFT, 8(5), 9–18.
Djuwita, R., & Ariyanto, A. (2020). Pengantar Psikologi Lingkungan. Universitas Terbuka.
Gibson, J. J. (1979). The ecological approach to visual perception. Houghton Mifflin.
Helmi, A. F. (2019). Beberapa teori psikologi lingkungan. Universitas Gadjah Mada.
 Lewin, K. (1951). Field theory in social science. Harper & Row.
 Skinner, B. F. (1953). Science and human behavior. Macmillan.




UJIAN TENGAH SEMESTER PSIKOLOGI LINGKUNGAN

 

ESAI 11:  UJIAN TENGAH SEMESTER 25 MEI 2026  
Nama MK            : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Kelas                    : Karyawan (online)

Titik Muti’ah       (243010440004)                                       

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

  

Permasalahan pengelolaan sampah saat ini menjadi isu lingkungan yang sangat serius. Krisis sampah terjadi karena volume sampah harian Kota Yogyakarta (Ruang Kota, 2025) jauh melebihi kapasitas pengolahan yang tersedia. Sampah rumah tangga, pasar, dan kawasan wisata terus meningkat, akibatnya, banyak depo sampah di Kota Jogja mengalami penumpukan (RBTV Jogja. (2025). Fenomena perilaku masyarakat yang masih dominan menggunakan pola konsumsi tinggi, penggunaan plastik sekali pakai, dan ketergantungan pada sistem “angkut-buang”.  Penelitian menemukan bahwa lemahnya kebiasaan pro-lingkungan (Rasyif, 2024) dipengaruhi oleh rendahnya internalisasi norma lingkungan, kurangnya motivasi personal, lemahnya pengaruh sosial positif, minimnya fasilitas pendukung, serta rendahnya kebiasaan pemilahan sampah sejak rumah tangga.

Selain itu, studi tentang perilaku pemilahan sampah menunjukkan bahwa masyarakat sering mengetahui pentingnya menjaga lingkungan, tetapi perilaku aktual masih rendah akibat lemahnya habit formation dan kurangnya reinforcement sosial (Concari, dkk., 2023). Kondisi ini memperlihatkan bahwa perilaku masyarakat dalam mengelola sampah masih belum sepenuhnya berkelanjutan dan bertanggung jawab (Aqmarina, 2023). Dalam psikologi lingkungan, kondisi tersebut mencerminkan rendahnya environmental responsibility behavior dan lemahnya kebiasaan pro-lingkungan.

Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan 3R (Helmi, dkk., 2018; Ashbar, dkk., 2025; Leslie. dkk., 2021; Rahmah, dkk., 2024; Wilson, dkk., 2025) paling efektif jika dimulai dari Reduce, kemudian Reuse, dan terakhir Recycle. Hal ini karena pengurangan sampah dari sumber lebih berdampak dibanding hanya mendaur ulang sampah yang sudah terlanjur diproduksi.

Reduce merupakan prioritas tertinggi dalam hierarki 3R berfokus pada pencegahan munculnya sampah sejak awal. Perilaku konsumtif mahasiswa, wisatawan, penggunaan plastik sekali pakai, serta budaya “take-away” makanan meningkatkan volume sampah harian. Banyak masyarakat masih bergantung pada sistem “angkut-buang” tanpa mengurangi produksi sampah rumah tangga. Solusi Perilaku Reduce diantaranya a) Membentuk kebiasaan konsumsi sadar lingkungan bisa dengan membawa tumbler, menggunakan tas belanja kain, mengurangi pembelian produk sekali pakai, memilih produk isi ulang (refill), dan membeli seperlunya. b) Penguatan norma sosial hijau, dalam psikologi lingkungan, perilaku reduce lebih efektif jika menjadi norma kelompok sosial. Kampus, komunitas mahasiswa, dan RT dapat membangun gerakan bebas plastik, kantin minim sampah, sistem reward eco-behavior. c) Intervensi berbasis perilaku dari penelitian Behavioral interventions for waste reduction (Wilson, et.al, 2025) menunjukkan bahwa pengingat visual, feedback perilaku, komitmen publik, dan pengaruh sosial mampu meningkatkan perilaku pengurangan sampah secara signifikan.

Reuse bertujuan memperpanjang penggunaan barang agar tidak cepat menjadi sampah. Masyarakat sering membuang barang yang sebenarnya masih dapat digunakan, seperti: botol plastik, kardus, pakaian, wadah makanan. Budaya praktis dan konsumtif membuat perilaku reuse rendah. Solusi perilaku reuse diantaranya dengan a) Membentuk budaya penggunaan ulang seperti penggunaan wadah makan permanen, penggunaan ulang botol minum, thrift dan barter barang mahasiswa, dan pemanfaatan ulang kardus dan toples. b) Pengembangan komunitas berbasis reuse seperti bank barang bekas, pasar preloved, pojok reuse, workshop ecobrick dan kerajinan. c) Membentuk identitas lingkungan, penelitian Leslie. dkk. (2021) menunjukkan bahwa reuse meningkat ketika individu merasa dirinya bagian dari komunitas peduli lingkungan. Faktor identitas sosial dan norma kelompok sangat menentukan perilaku pro-lingkungan.

Recycle dilakukan ketika sampah sudah tidak dapat dikurangi maupun digunakan kembali. Di Jogja, pemilahan sampah rumah tangga masih rendah. Sampah organik, plastik, dan residu sering tercampur sehingga menyulitkan proses daur ulang. Solusi perilaku recycle dilakukan dengan a) Pemilahan sampah dari rumah, masyarakat perlu dibiasakan memilah antara organik, anorganik, residu, limbah B3 rumah tangga. b) Penguatan bank sampah (Farrasy, 2025) dan TPS3R efektif meningkatkan perilaku daur ulang karena memberi insentif ekonomi, reinforcement sosial, dan rasa tanggung jawab kolektif. c) Pendidikan lingkungan berbasis praktik dengan pelatihan langsung lebih efektif dibanding hanya sosialisasi. Pembiasaan sehari-hari membantu membentuk habit formation. Penelitian systematic review dari Rahmah, dkk. (2024) menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah perkotaan sangat dipengaruhi partisipasi masyarakat dalam sistem 3R berbasis perilaku.

Permasalahan sampah di Yogyakarta tidak dapat diselesaikan hanya dengan teknologi pengolahan sampah. Akar masalah utamanya adalah perilaku masyarakat. Oleh karena itu: Reduce menjadi solusi paling penting karena mencegah munculnya sampah, Reuse memperpanjang usia barang, sedangkan Recycle menjadi pilihan terakhir ketika sampah sudah terbentuk. Penelitian Wilson, dkk. menunjukkan bahwa perubahan perilaku berbasis norma sosial, kebiasaan, kontrol perilaku, dan partisipasi komunitas lebih efektif dibanding pendekatan teknis semata. 

Referensi

Ashbar, A. N., Widiyanto, A. F., & Bangun, S. B. S. (2025). Implementasi sistem pengelolaan sampah berbasis 3R di TPS Nitikan, Kota Yogyakarta. Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat. https://doi.org/10.69883/jlkm.v4i.3


Aqmarina, N. (2023). Faktor yang menentukan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di Kecamatan Sarolangun (Tesis Magister, Universitas Gadjah Mada).


Concari, A., Kok, G., Martens, P., & Brink, N. (2023). Investigating the role of goals and motivation on waste separation behavior through the lens of the theory of reasoned goal pursuit. Environmental Management, 72(5), 1019–1031. https://doi.org/10.1007/s00267-023-01820-1


Farrasy, A. N. D. (2025). Kajian pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui program bank sampah dan relevansinya dengan penerapan ekonomi sirkular di Kota Yogyakarta (Tesis Magister, Universitas Gadjah Mada).


Helmi, H., Nengsih, Y. K., & Suganda, V. A. (2018). Peningkatan kepedulian lingkungan melalui pembinaan penerapan sistem 3R (Reduce, Reuse, Recycle). JPPM (Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat), 5(1), 63–74. https://doi.org/10.21831/jppm.v5i1.16861


Leslie, C. M., Strand, A. I., Ross, E. A., Ramos, G. T., Bridge, E. S., Chilson, P. B., & Anderson, C. E. (2021). Shifting the balance among the “Three Rs of Sustainability”: What motivates reducing and reusing? Sustainability, 13(18), 10093. https://doi.org/10.3390/su131810093


Rahmah, S. P., Koestoer, R. H. L., & Yusuf, R. (2024). Penerapan reduce, reuse, recycle (3R) dan manajemen pengelolaan sampah perkotaan: A systematic literature review. Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan, 5(2), 189–197. https://doi.org/10.25077/jk3l.5.2.189-197.2024


Rasyif, Z (2024) Analysis of Pro-Environmental Behavior using the 5R method (Rethink, Reject, Reduce, Reuse, Recycle) towards Waste Management. (2024). JPK : Jurnal Proteksi Kesehatan, 12(2), 214-223. https://doi.org/10.36929/jpk.v12i2.786


RBTV Jogja. (2025). Depo sampah di Kota Yogyakarta membeludak.


Ruang Kota. (2025). Darurat sampah di Kota Yogyakarta belum sepenuhnya teratasi.


WALHI Yogyakarta. (2025). WALHI ajukan surat keberatan atas kegagalan Gubernur DIY dalam pengelolaan sampah di TPST Piyungan.


Wilson, B. M., Delmas, M. A., & Rajagopal, D. (2025). Behavioral interventions for waste reduction: A systematic review of experimental studies. Frontiers in Psychology, 16. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1561467