Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Rabu, 01 Juli 2026

Essai 7 - Belajar Pengolahan Sampah di TPST

 Belajar Pengolahan Sampah Di TPS 3R Brama Muda 


Rahardian Wicaksono

24310410218

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 7

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Juli 2026

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta 


    Masalah pengelolaan sampah bukan sekadar menyediakan tempat pembuangan, melainkan sebuah wujud nyata dari perilaku, konsistensi, dan kebijakan yang saling berkolaborasi. Pada Rabu 1 Juli 2026, pukul 09.00 hingga 10.00 WIB saya berkesempatan melakukan kunjungan ke TPS 3R Brama Muda yang beralamat di Dayakan, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Kunjungan ini menambah pengetahuan saya mengenai bagaimana sebuah inisiatif lokal berbasis kepemudaan mampu berkembang menjadi pilar pengelolaan sampah formal, sekaligus mengetahui tantangan nyata yang masih membayangi sistem pengelolaan sampah.

Sejarah dan Transformasi Brama Muda


    Perjalanan TPS 3R Brama Muda merupakan potret menarik dari efektivitas gerakan dari bawah yang lahir pada tahun 2010, tempat ini awalnya bukanlah sebuah bank sampah konvensional. Gerakan ini diinisiasi oleh kepedulian para pemuda setempat yang bergerak secara mandiri. Mereka mengambil inisiatif mengumpulkan sampah rumah tangga dari rumah ke rumah dengan sistem iuran bulanan yang kala itu disepakati sebesar Rp20.000.

    Transformasi terjadi pada tahun 2017. Motivasi untuk mengembangkan skala pengelolaan, para pemuda ini mengikuti kompetisi yang diselenggarakan oleh Dinas Pemerintah Daerah Yogyakarta untuk program pembangunan TPS 3R Terpadu. Dari tujuh kandidat yang berkompetisi, hanya dua yang terpilih untuk mendapatkan fasilitas penuh, dan kelompok pemuda Brama Muda berhasil membuktikan kapasitas mereka. Komponen penilaian yang digunakan oleh pihak Dinas adalah kesiapan warga, sistem pengelolaan, dan SDM. Sejak tahun 2017 hingga hari ini, TPS 3R Brama Muda resmi beroperasi di bawah binaan dinas terkait, serta menerima dukungan struktural berupa bangunan fisik, alat pemilah, mesin operasional, dan program pengembangan kapasitas lainnya.

Alur Operasional dan Kemitraan Internasional

    Secara teknis, proses pengolahan sampah di TPS 3R Brama Muda saat ini sudah mengadopsi mekanisasi terpadu. Alur kerja dimulai dari pengumpulan sampah rumah tangga yang kemudian dimasukkan ke dalam mesin pemilah untuk memisahkan berbagai jenis material sampah. Salah satu aspek menarik dari tata kelola di Brama Muda adalah jejaring kemitraannya. Untuk pengelolaan residu anorganik, mereka bermitra dengan Got Bag, sebuah program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan asal Jerman. Sampah anorganik yang terkumpul disalurkan ke Got Bag untuk didaur ulang secara profesional. Sinergi ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah lokal memiliki potensi besar untuk terhubung dengan rantai pasok sirkular global jika dikelola dengan manajemen yang kredibel.



Tantangan/Kendala 

    Meski secara infrastruktur dan kemitraan telah berkembang pesat, TPS 3R Brama Muda masih menghadapi tantangan yaitu perilaku dan kesadaran masyarakat. Mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah terbukti jauh lebih rumit daripada mengoperasikan mesin pemilah. Di awal program berjalan, tingkat partisipasi masyarakat sangat memprihatinkan. Hanya sekitar 20% warga yang bersedia membayar iuran pengumpulan sampah. Mayoritas masyarakat 80% sisanya lebih memilih jalan pintas yang merusak lingkungan seperti membuang sampah ke sungai atau membakarnya di pekarangan rumah. Hingga saat ini, edukasi mengenai pentingnya pemilahan sampah antara organik dan anorganik dari hulu (skala rumah tangga) masih menjadi tantangan utama.

    Kunjungan ini juga memberikan saya informasi bahwa terdapat kendala dalam regulasi dan teknis pengelolaan sampah daerah saat ini yaitu terkait sampah kain. TPS 3R Brama Muda dan pemerintah daerah kerap menghadapi kendala besar terkait masuknya sampah tekstil, mulai dari pakaian bekas layak buang hingga kasur yang sengaja dicampur oleh warga ke dalam kantong sampah rumah tangga mereka. Sampah jenis ini sangat sulit diurai dan belum memiliki jalur daur ulang yang seefektif sampah plastik atau kertas. Akibatnya, demi menghindari penumpukan yang dapat melumpuhkan area operasional, pihak TPS 3R Brama Muda terpaksa mengambil langkah yaitu melakukan pembakaran sampah kain. Langkah ini di satu sisi menyelesaikan masalah penumpukan ruang, namun disisi lain berpotensi memicu polusi udara baru.

Kesimpulan dan Refleksi

    Kunjungan ke TPS 3R Brama Muda memberikan pelajaran berharga bahwa intervensi teknologi dan bantuan fasilitas dari pemerintah tidak akan pernah cukup jika tidak diimbangi dengan intervensi perilaku. Brama Muda telah menyediakan sistem dan dedikasi, namun keberlanjutannya secara hulu-hilir menuntut tanggung jawab kolektif dari setiap individu di dalam rumah tangga mereka masing-masing. Masalah sampah kain yang berujung pada pembakaran juga menjadi sinyal kuat bagi pemerintah daerah bahwa regulasi tata kelola sampah spesifik seperti limbah tekstil harus segera dirumuskan.


ESAI 8: MELAKUKAN UPCYLING SAMPAH ANORGANIK & MERINTIS SEBAGAI PENGUSAHA EKONOMI SIRKULER

 MELAKUKAN UPCYCLING SAMPAH ANORGANIK & MERINTIS SEBAGAI PENGUSAHA EKONOMI SIRKULER (MEMBUAT PIRING HIAS DENGAN KAIN PERCA DAN MENJUALNYA DI MEDIA SOSIAL)

Reni Prabandari
24310410221
Kelas Psikologi Lingkungan-B
Tugas Esai 8  (Membuat Piring Hias dari Kain Perca dan Menjualnya di Media Sosial)
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A,
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta




Kain perca merupakan sisa potongan kain dari proses menjahit yang sering kali tidak dimanfaatkan dan berakhir menjadi limbah. Padahal, kain perca masih dapat diolah menjadi berbagai kerajinan yang menarik dan bernilai guna. Salah satunya adalah membuat piring cantik sebagai hiasan. Dalam proses upcycling ini, kain perca diolah menjadi piring cantik yang memiliki nilai estetika serta membantu mengurangi limbah tekstil.

Saya membuat piring hias berbahan kain perca pada akhir bulan Juni 2026. Proses pembuatan piring hias dari kain perca (upcycling) tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Menyiapkan alat dan bahan, seperti piring bekas, kain perca bermotif, lem putih atau lem tembak, gunting dan kuas;
  2. Membersihkan permukaan piring agar bebas dari debu dan minyak sehingga lem dapat merekat dengan baik;
  3. Memotong kain perca menjadi beberapa bagian dengan bentuk tidak beraturan sesuai kebutuhan desain;
  4. Mengoleskan lem secara merata pada permukaan piring kemudian menempelkan potongan-potongan kain perca satu per satu hingga seluruh permukaan tertutup. Susunan warna dan motif dibuat bervariasi agar menghasilkan tampilan yang menarik;
  5. Merapikan bagian tepi dengan melipat atau memotong sisa kain sehingga hasil akhir terlihat lebih rapi;
  6. Setelah seluruh kain terpasang, piring didiamkan hingga lem benar-benar kering.

Akhirnya kita pun mendapatkan sebuah piring hias yang memiliki nilai estetika tinggi sekaligus menjadi contoh pemanfaatan limbah tekstil melalui proses upcycling, yaitu mengubah barang bekas menjadi produk baru yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.

Pembuatan piring hias dari kain perca tersebut merupakan salah satu contoh penerapan ekonomi sirkuler. Ekonomi sirkuler adalah sistem yang mengutamakan penggunaan kembali, perbaikan dan pengolahan barang agar tidak langsung menjadi limbah. Dalam konsep ini, barang bekas tidak dipandang sebagai sampah, tetapi sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai.

Kain perca yang sebelumnya hanya menjadi limbah diubah menjadi produk kerajinan yang unik, menarik dan bernilai jual. Selain mengurangi jumlah limbah, kegiatan ini juga membuka peluang berusaha kreatif.

Dalam kesempatan ini, Saya mencoba memasarkan produk piring hias dari kain perca tersebut di instagram. Saya memposting hasil pembuatan piring cantik tersebut mulai tanggal 01 Juli 2026 di akun instagram saya. Dalam postingan tersebut, Saya mengajak masyarakat untuk peduli pada lingkungan karena keunggulan produk piring hias tersebut adalah ramah lingkungan (upcycling). Selain itu, produk piring hias tersebut bernilai seni tinggi, unik dan memiliki motif yang berbeda-beda sehingga tidak ada piring yang bermotif sama. Piring hias tersebut cocok untuk dekorasi rumah, pajangan di ruang tamu dan bisa juga diberikan sebagai hadiah untuk teman atau keluarga.

Dalam merintis usaha pembuatan piring hias dari kain perca tersebut (upcycling), terdapat beberapa hambatan yang muncul dalam proses produksi dan pemasaran.

Hambatan dalam proses produksi antara lain adalah: ketersediaan bahan baku tidak konsisten, proses pembuatan membutuhkan ketelitian dan waktu, kualitas produk bisa berbeda-bedaa tergantung ukuran dan motif kain perca, dan juga masalah daya tahan produk. Sedangkan hambatan saat pemasaran antara lain adalah: kurangnya kesadaran masyarakat terhadap nilai produk upcycling sehingga masih menganggap barang dari limbah kurang bernilai, promosi di media sosial membutuhkan konsistensi, kesulitan membangun kepercayaan konsumen dan biaya dalam pengemasan dan pengiriman. 

Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut adalah: Kita sebagai pelaku usaha ekonomi sirkuler dapat menjalin kerja sama dengan penjahit atau konveksi sebagai pemasok kain perca, semakin meningkatkan keterampilan dalam proses produksi, menggunakan bahan perekat berkualitas, membuat konten promosi yang kreatif di media sosial dan menawarkan harga yang sesuai dengan kualitas produk. 

Kegiatan pembuatan piring hias berbahan kain perca tersebut bukan hanya bertujuan memperoleh keuntungan, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Melalui penerapan ekonomi sirkuler, limbah dapat diubah menjadi produk yang bernilai, membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan kreativitas masyarakat dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Dengan demikian, usaha ini mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus manfaat secara sosial dan  lingkungan.

Link promosi di instagram: https://www.instagram.com/p/DaPesUzlOT1/?igsh=eXQwNnFsOWl6NHc=