Tugas : Esai 10 – Partisipasi Lomba RUN
Nama MK : Psikologi Lingkungan
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
Kelas : Karyawan (online)
Titik Muti’ah (243010440004)
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Klinik Psikologi
Klinik Psikologi
Klinik Psikologi
Klinik Psikologi
Klinik Psikologi
Tugas : Esai 10 – Partisipasi Lomba RUN
Nama MK : Psikologi Lingkungan
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
Kelas : Karyawan (online)
Titik Muti’ah (243010440004)
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Eksperimen Upcycling Organik
Rahardian Wicaksono
24310410218
Kelas Psikologi Lingkungan - B
Tugas Essai 6
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
Juni 2026
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Produksi sampah organik, khususnya limbah rumah tangga seperti kulit buah, seringkali berakhir begitu saja di tempat pembuangan akhir tanpa pengelolaan yang optimal. Padahal, melalui upcycling, limbah organik ini dapat diubah menjadi produk baru yang memiliki nilai guna lebih tinggi dan ramah lingkungan. Salah satu inovasi yang potensial untuk dikembangkan adalah pemanfaatan kulit jeruk sebagai bahan baku pembuatan sabun cuci alami. Kulit jeruk yang memiliki sifat antibakteri dan mampu melarutkan minyak, sehingga sangat berpotensi menjadi pembersih alami. Eksperimen ini dilakukan untuk menguji efektivitas kulit jeruk dengan kombinasi bahan kimia pendukung dalam menghasilkan sabun cuci.
Eksperimen ini memanfaatkan bahan utama berupa 179 gram kulit jeruk segar. Sebagai bahan kimia pendukung, digunakan 7 gram sodium sulfate dan 1/2 sendok teh cairan SLES. Langkah pertama yang dilakukan adalah menghaluskan 179 gram kulit jeruk bersama 250 ml air bersih menggunakan blender. Setelah halus, campuran tersebut disaring untuk memisahkan cairan ekstrak dari ampas serat kulit jeruk. Cairan hasil saringan inilah yang kemudian dicampurkan secara bertahap dengan sodium sulfate dan SLES, lalu diaduk hingga seluruh bahan terlarut dengan baik.
Berdasarkan eksperimen yang telah saya lakukan, hasilnya menunjukkan perbedaan jika dibandingkan dengan sabun cuci pada umumnya. Sabun cuci dari olahan kulit jeruk ini sama sekali tidak menghasilkan busa saat digunakan untuk mencuci. Selain itu, masih ditemukan sisa-sisa butiran serat kulit jeruk yang tidak tersaring dengan baik dalam proses penyaringan. Namun, hasil eksperimen ini memiliki keunggulan yaitu warna kuning khas jeruk terlihat sangat pekat dan keluar secara alami, juga memiliki wangi dari aroma jeruk yang sangat kuat dan menyegarkan.
Tidak ada busa dan adanya sisa serat menunjukkan adanya aspek teknis yang belum sempurna. SLES sebanyak satu sendok teh rupanya belum cukup untuk menurunkan tegangan permukaan air dan menghasilkan busa yang melimpah dalam volume cairan tersebut. Sementara itu, kehadiran butiran serat menunjukkan bahwa metode penyaringan manual yang digunakan masih memerlukan alat yang lebih rapat, seperti kain saring, agar menghasilkan cairan yang benar-benar jernih.
Eksperimen upcycling organik menggunakan kulit jeruk ini memberikan pengalaman yang baru. Produk ini masih memerlukan banyak perbaikan, terutama dalam melakukan penakaran bahan kimia pendukung agar formulasi sabun dapat bekerja lebih efektif dan ideal. Proses ini menjadi motivasi bagi diri saya sendiri untuk memiliki kesadaran lingkungan yang penting. Eksperimen ini mengajarkan saya bahwa pengelolaan sampah organik tidak terbatas pada pembuatan kompos saja, tapi juga bisa dikembangkan secara inovatif dan aplikatif menjadi produk pembersih alami rumah tangga yang bernilai guna tinggi.
Saya menyadari bahwa perilaku pro-lingkungan tidak akan pernah terwujud jika kita terus menuruti dorongan untuk menunda-nunda sesuatu. Secara jangka panjang, keterampilan mengolah limbah menjadi sabun cair ini memiliki urgensi yang tinggi di kehidupan. Dalam lingkup keluarga, kita dapat meminimalkan paparan bahan kimia sintetis yang merusak tanah. Dalam kehidupan bermasyarakat, keterampilan ini dapat dibagikan kepada komunitas lokal sebagai peluang pemberdayaan ekonomi kreatif. Eksperimen sederhana ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah yang bertanggung jawab harus dimulai dengan mengelola kedisiplinan diri sendiri dan melawan kemalasan yang ada di dalam pikiran kita.
JENGUKAN ORANG SAKIT DANPARTISIPASI AKTIF DALAM KEGIATAN BKR (BINA KELUARGA REMAJA) XI PENEN
25310430002
Psikologi Lingkungan/ Kelas Karyawan
(B)
Tugas: Essai Prestasi 4
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta
M.A.
Bulan/ tahun terbit: Juni/ 2026
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS
PROKLAMASI 45
PELAKSANAAN KEGIATAN
1. JENGUKAN
ORANG SAKIT
Hari/ Tanggal : Sabtu/ 30 Mei 2026
Tempat : Jalan Besi Jangkang, Jalan Kaliurang Yogyakarta
Pukul : 08.00 – 10.00 wib
Tujuan kegiatan :
Menengok orang
sakit adalah salah satu kegiatan sosial yaitu perwujudan bentuk kepedulian kita
terhadap lingkungan sekitar, selain itu kegiatan ini adalah menumbuhkan sikap
empati terhadap sesama dan menumbuhkan tali silaturahmi. Dalam kegiatan ini
saya tidak melakukan sendirian, tetap saya mengajak teman-teman lainnya yang
memiliki relasi terhadap orang yang akan dijenguk. Bagi pasien/ orang yang
sakit tersebut, kehadiran fisik yang kita lakukan sangat mempengaruhi kondisi psikologis
dan proses penyembuhan dari pasien. Pasien akan merasa diperhatikan, tidak
merasa sendiri karena memiliki orang-orang yang menyayanginya sehingga pasien akan
merasa tersugesti merasa bahagia dan terstimulus untuk secepatnya pulih dan
dapat beraktifitas kembali seperti biasanya. Sebelum menjenguk, seyogyanya kita
sudah memperhatikan adab dan waktu dalam melakukan jengkukan terhadap orang sakit,
agar apa yang kita lakukan itu menjadi keberkahan bersama bukan menimbulkan
efek kebalikannya sehingga menjadi hal yang membuat tidak nyaman dan merugikan
pasien dan keluarganya.
2. PARTISIPASI
AKTIF DALAM KEGIATAN BKR XI PENEN
Hari/ Tanggal : Selasa/10 Juni 2026
Tempat : Salah satu kediaman anggota BKR di Penen,
Harjobinangun, Yogyakarta
Pukul : 15.30 – 17.30 wib
Tujuan kegiatan :
Bina
Keluarga Remaja atau yang dikenal dengan BKR adalah
salah satu kelompok kegiatan di bawah naungan BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional). Dalam kelompok kegiatan ini saya sudah begabung selama
lebih dari 5 tahun dimana saya merasakan banyak sekali manfaat yang saya
peroleh selama menjadi anggota BKR.
Banyak
sekali kegiatan yang dilakukan dalam kelompok ini, antara lain penyuluhan dan
edukasi mengenai alat kontrasepsi (KB) dari Petugas Lapangan Keluarga Berencana
(PLKB) Pakem, penyuluhan kesehatan, penyuluhan
mengenai konsep 3R yang dapat dilakukan di lingkungan rumah, informasi seputar
POSYANDU, perlombaan untuk menyemarakkan hari kemerdekaan Republik Indonesia atau 17 Agustus-an (biasanya diadakan lomba volley antar RT, lomba memasak antar RT, lomba paduan
suara antar RT, dan berbagai lomba lainnya), dan setiap satu tahun sekali
biasanya kelompok BKR XI Penen ini mengadakan piknik bersama, kegiatan piknik
ini bertujuan untuk mempererat hubungan antar warga dengan konsep yang menghibur.
Selain itu melalui kegiatan ini banyak sekali informasi yang bisa didapat
sehubungan dengan keluarga seperti hal mengenai kegiatan bakti sosial IUD dan
Implan gratis. Selama menjadi anggota BKR XI Penen ini, saya ikut
berpartisipasi aktif dalam beberapa lomba seperti Volley putri, paduan suara
dan beberapa perlombaan lainnya.
Pada kegiatan kali ini, terjadi kunjungan dari TPK (Tim pendamping Keluarga) Kapanewon Penen, kegitan kunjungan tersebut biasanya dilakukan secara continue/ berkala terdapat kunjungan dari untuk memantau dan melakukan pendampingan secara langsung kepada kelompok BKR XI Penen. Selain kegiatan kunjungan dari TPK Kapanewon Penen, terdapat juga agenda lainnya yaitu tutorial make up yang dipandu dari salah satu anggota BKR. Kegiatan kali ini berjalan sangat lancar dan penuh dengan kehangatan.
Ket: Dokumentasi Team Padus RT 06 Penen Ket: Dokumentasi Team Volley Putri RT 06 Penen
Ket: Dokumentasi bersama sebelum pertandingan dengan team volley Putri Rt 03 Penen
Komitmen
Pribadi terhadap Pengelolaan Sampah Mata Kuliah: Psikologi Lingkungan
Busthanul Arifin
Fakultas Psikologi Universitas
Proklamasi 45 Yogyakarta
Ada yang
berubah dalam cara saya melihat dunia sampah setelah menjalani perkuliahan
Psikologi Lingkungan. Perubahan itu tidak terjadi sekaligus, dari tugas demi
tugas, dari diskusi demi diskusi, menumbuhkan semangat untuk
memaknai betul hal-hal yang tidak mudah ini.
Sampah
adalah salah satunya.
Psikologi
Lingkungan mengajarkan sesuatu yang bermakna, yaitu bahwa lingkungan fisik dan
perilaku manusia saling membentuk satu sama lain. Lingkungan yang kotor tidak
sekadar tidak sedap dipandang. Namun secara perlahan lahan
menurunkan
standar perilaku orang yang ada di dalamnya. Ketika seseorang melihat sampah
berserakan, otak secara tidak sadar membaca sinyal bahwa tempat itu memang
boleh diperlakukan demikian. Satu sampah mengundang sampah berikutnya. Satu
orang yang acuh mengajak orang lain untuk acuh juga.
Pemahaman
itu yang kemudian menggeser cara saya memaknai persoalan ini.
Saya mulai
membangun komitmen, bukan karena tuntutan tugas, tetapi karena saya akhirnya
mengerti bahwa diam pun adalah sebuah pilihan, dan di tiap tiap pilihan sekecil
apapun, itu ada konsekuensinya.
Dan ini mengubah
cara pandang saya terhadap sampah itu sendiri. Sampah organik bukan sekadar
sisa makanan yang menjijikkan, ia adalah bahan baku kompos yang bisa
menghidupkan tanah. Sampah anorganik bukan sekadar tumpukan plastik, ia bisa
menjadi bahan daur ulang yang bernilai jika diperlakukan dengan benar.
Pergeseran cara pandang dari membuang menjadi mengelola ini tampaknya kecil,
tetapi implikasinya sangat besar terhadap keputusan-keputusan kecil yang saya
ambil setiap hari.
Selai itu
saya mencoba untuk menjadi contoh yang
konsisten di lingkungan terdekat saya. Dimulai dari rumah saya sendiri, anak-anak saya sendiri. Saya percaya
bahwa perubahan perilaku seseorang yang dilakukan secara konsisten dan terlihat
oleh orang di sekitarnya memiliki kekuatan menular. Ketika seseorang melihat
orang lain memungut sampah tanpa diminta, tanpa paksaan, dan tanpa dramatisasi,
itu meninggalkan kesan yang lebih kuat daripada kampanye apapun.
Saya
menyadari bahwa hal ini tidak akan selalu mudah dijalankan. Psikologi
Lingkungan juga mengajarkan bahwa perilaku yang diulang cukup lama akan menjadi
kebiasaan, dan kebiasaan yang cukup banyak diadopsi akan menjadi norma sosial. Dan itu semua bisa dimulai dari lingkungan terdekat kita sendiri, yaitu Rumah.
Pengelolaan Sampah pada TPST Randu Alas
Nama : Busthanul Arifin
NIM : 25310440002
Kelas : B
Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Ketika TPA Piyungan resmi ditutup pada tahun 2021, Kabupaten Sleman dihadapkan pada situasi yang tidak mudah. Volume sampah yang selama ini dialirkan ke sana tiba-tiba kehilangan muaranya. Di tengah kondisi itulah TPST Randu Alas hadir bukan sebagai solusi instan, melainkan sebagai eksperimen sosial yang mencoba membuktikan bahwa sampah bisa dikelola secara lebih bermartabat. Sebelumnya, warga sudah terbiasa dengan pola lama, yaitu buang dan lupakan. Sampah diangkut, ditumpuk, dan selesai. Tidak ada pertanyaan tentang apa yang terjadi sesudahnya. Kebiasaan itu meninggalkan warisan berupa penumpukan dan bau yang menjadi bagian dari keseharian. TPST berbasis prinsip 3R hadir untuk memutus kebiasaan lama itu, dengan menawarkan cara pandang bahwa sampah bukanlah akhir dari sesuatu, melainkan awal dari sesuatu yang lain.
Cara kerja TPST Randu Alas cukup menyeluruh. Alur pengelolaan dimulai sejak sampah ditempatkan di wadah, dikumpulkan, diangkut, diterima, dipilah, lalu diolah sesuai jenisnya. Sampah organik tidak langsung dibuang begitu saja, melainkan dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau dikubur dalam lubang yang dirancang khusus agar proses penguraiannya tidak mencemari tanah di sekitarnya. Sampah anorganik masuk ke tahap berikutnya lewat proses pencacahan atau penghancuran mekanis. Sisanya, yang memang tidak memiliki jalan lain, dibakar dalam tobong. Sistem ini cukup terstruktur, tetapi justru di sanalah letak ketegangan yang sesungguhnya muncul. Kesadaran warga untuk memilah sampah sejak dari dapur dan kamar masing-masing masih sangat rendah. Edukasi belum menjangkau cukup jauh, dan dukungan dari pemerintah pun belum sepadan dengan besarnya tantangan yang dihadapi oleh pengelola di lapangan. TPST yang dirancang dengan baik sekalipun akan tersendat jika sampah yang datang kepadanya masih bercampur aduk tanpa pilahan.
Kunjungan langsung ke TPST Randu Alas terasa seperti membuka halaman yang selama ini jarang dibaca. Pengelolaan sampah ternyata bukan urusan sederhana yang bisa diselesaikan dengan satu mesin atau satu kebijakan. Di baliknya ada kebutuhan akan teknologi yang memadai, tenaga manusia yang berdedikasi, dan yang paling sulit diadakan secara cepat adalah komitmen kolektif dari masyarakat itu sendiri. Dari sudut pandang Psikologi Lingkungan, pengalaman ini menjadi sangat bermakna karena menunjukkan dengan jelas bahwa infrastruktur fisik tidak pernah bisa berdiri sendiri. Mesin pencacah paling canggih pun tidak akan bekerja optimal jika warga yang menggunakannya belum memiliki kebiasaan memilah. Perubahan perilaku adalah fondasi yang harus dibangun lebih dulu, atau setidaknya dibangun bersamaan dengan sistem fisiknya. Dalam hal itu, TPST Randu Alas tidak hanya menjadi tempat belajar tentang teknis pengolahan sampah, tetapi juga menjadi cermin yang memperlihatkan betapa eratnya hubungan antara perilaku manusia, kebijakan yang ada, dan masa depan lingkungan yang ingin kita jaga bersama.
Busthanul Arifin- 25310440002
Kelas Psikologi Lingkungan – B
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Ringkasan
Jurnal
Judul:
Eco-Teens Initiative: Pemberdayaan Remaja Melalui Pelatihan Pengelolaan Limbah
Organik untuk Meningkatkan Kesadaran Lingkungan Berkelanjutan
Penulis:
Muzdalifah Mahmud (Universitas Negeri Gorontalo)
Jurnal:
PEDAMAS, Volume 3 Nomor 6, November 2025
Topik
Pemberdayaan
remaja usia sekolah menengah pertama melalui pelatihan pengelolaan limbah
organik berbasis komposting sebagai upaya membangun kesadaran lingkungan yang
berkelanjutan.
Permasalahan
Degradasi
lingkungan akibat pengelolaan sampah yang tidak tepat masih menjadi masalah
serius, terutama tingginya proporsi limbah organik yang berkontribusi pada
pencemaran dan emisi gas metana. Di tingkat nasional, sampah organik dari sisa
makanan menyumbang sekitar 41,27 persen dari total produksi sampah Indonesia.
Di sisi lain, kesadaran remaja terhadap pentingnya menjaga lingkungan belum
merata, dan banyak siswa yang belum memiliki pengetahuan maupun keterampilan
memadai dalam mengelola limbah organik.
Tujuan
Penelitian
Tujuan
kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran
lingkungan siswa SMPN 1 Tapa melalui pelatihan dan praktik langsung pengelolaan
limbah organik berbasis komposting, sekaligus mendorong terbentuknya sikap
ramah lingkungan yang berkelanjutan di kalangan remaja.
Metode
Program
dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris
Universitas Negeri Gorontalo, dengan melibatkan mahasiswa peserta program MBKM
Batch 7 yang ditempatkan di SMPN 1 Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.
Pendekatan yang digunakan adalah participatory approach, di mana siswa
ditempatkan sebagai peserta aktif dalam seluruh tahapan kegiatan, bukan sekadar
penerima informasi.
Tahapan
pelaksanaannya meliputi pertama, koordinasi dengan pihak sekolah untuk
menentukan subjek kegiatan. Kedua, pengumpulan data awal melalui observasi dan
kuesioner untuk memetakan pengetahuan dan kebiasaan siswa terkait limbah
organik. Ketiga, pelatihan dan lokakarya yang mencakup materi pengenalan limbah
organik, manfaat kompos, dan teknik pembuatan kompos sederhana. Keempat,
pendampingan praktik lapangan di mana siswa langsung mengumpulkan bahan organik
dan mengolahnya menjadi kompos menggunakan metode aerobik dalam lubang tanah.
Kelima, evaluasi pasca pelatihan melalui survei pengetahuan dan observasi
perubahan perilaku siswa.
Hasil
Program ini
berhasil melibatkan siswa secara aktif dalam seluruh tahapan pengelolaan limbah
organik. Mahasiswa MBKM berperan penting sebagai fasilitator yang menginisiasi
pembuatan kompos, memimpin observasi, dan mendampingi siswa secara langsung.
Proses pengomposan dilakukan menggunakan bahan daun kering, rumput, dan sisa
makanan dari kantin, berlangsung selama beberapa minggu dengan pengawasan
rutin. Kompos yang dihasilkan kemudian digunakan untuk menyuburkan tanaman di
lingkungan sekolah sehingga memberikan manfaat ekologis yang langsung terasa.
Diskusi
Hasil
evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman siswa mengenai jenis limbah organik,
manfaat kompos, dan prosedur pembuatannya. Selain itu, terjadi perubahan
perilaku yang nyata berupa keterlibatan aktif siswa dalam memilah dan
mengumpulkan bahan kompos. Hal ini sejalan dengan literatur yang menyatakan
bahwa pendidikan lingkungan yang terorganisir dan berbasis praktik langsung
efektif dalam mengubah pola pikir dan perilaku remaja. Keterlibatan mahasiswa
MBKM juga terbukti memperkuat kualitas program sekaligus memberi pengalaman
service learning yang bermakna bagi mahasiswa itu sendiri. Program ini
memperlihatkan bahwa kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan sekolah dapat
menghasilkan kegiatan pengabdian yang aplikatif dan berdampak nyata.
Kesimpulan
Program
Eco-Teens Initiative berhasil meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan
kepedulian siswa SMPN 1 Tapa terhadap pengelolaan limbah organik melalui
pendekatan partisipatif. Program ini tidak hanya memberikan solusi praktis
terhadap masalah penumpukan sampah organik di sekolah, tetapi juga menciptakan
dampak berkelanjutan melalui terbentuknya kebiasaan baru dalam pengelolaan
sampah yang dapat dilanjutkan secara mandiri oleh pihak sekolah setelah program
berakhir.
PENGOLAHAN SAMPAH ANORGANIK RUMAH TANGGA MENJADI GANTUNGAN KUNCI, LILIN HIAS, DAN PARCEL RAMAH LINGKUNGAN SEBAGAI UPAYA MENDUKUNG EKONOMI SIRKULAR
Abstrak
Sampah anorganik merupakan salah satu jenis limbah rumah tangga yang sulit terurai secara alami sehingga berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Peningkatan jumlah konsumsi masyarakat menyebabkan volume sampah anorganik, seperti botol plastik, tutup botol, kaleng bekas, plastik kemasan, kardus, dan kaca, terus meningkat setiap tahunnya. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah mendaur ulang sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Artikel ini bertujuan menjelaskan proses pengolahan sampah anorganik rumah tangga menjadi gantungan kunci, lilin hias, serta parcel beserta bungkusnya. Selain menjelaskan tahapan pembuatannya, artikel ini juga menguraikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang diperoleh melalui kegiatan daur ulang. Hasil pengolahan menunjukkan bahwa sampah anorganik dapat dimanfaatkan menjadi produk kreatif yang bernilai jual sehingga mampu mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga.
Kata kunci: sampah anorganik, daur ulang, ekonomi sirkular, rumah tangga, kerajinan.
Pendahuluan
Permasalahan sampah menjadi tantangan utama dalam pengelolaan lingkungan di Indonesia. Sebagian besar sampah rumah tangga terdiri atas sampah organik dan anorganik. Berbeda dengan sampah organik yang mudah terurai, sampah anorganik membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terdegradasi secara alami. Oleh karena itu, pengelolaan sampah anorganik memerlukan pendekatan yang lebih inovatif melalui prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R).
Pemanfaatan sampah anorganik menjadi produk kerajinan merupakan salah satu bentuk implementasi ekonomi sirkular. Pendekatan ini bertujuan memperpanjang umur pakai suatu barang sehingga mengurangi jumlah limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Selain memberikan manfaat ekologis, kegiatan ini juga dapat meningkatkan kreativitas masyarakat serta membuka peluang usaha berbasis lingkungan.
Pembahasan
1. Pengolahan Sampah Anorganik Menjadi Gantungan Kunci
Gantungan kunci merupakan salah satu produk kerajinan sederhana yang dapat dibuat dari berbagai jenis sampah anorganik seperti tutup botol plastik, resin bekas, akrilik sisa, plastik kemasan, hingga potongan CD bekas.
Tahapan pembuatannya dimulai dengan mengumpulkan bahan-bahan bekas yang masih layak digunakan. Selanjutnya bahan dibersihkan menggunakan air sabun agar bebas dari kotoran dan minyak. Setelah kering, bahan dipotong sesuai bentuk yang diinginkan menggunakan gunting atau cutter.
Tahap berikutnya adalah menghias permukaan menggunakan cat akrilik, stiker bekas, kain flanel, atau potongan plastik warna-warni. Setelah desain selesai, dibuat lubang kecil menggunakan bor mini atau solder panas untuk memasang ring gantungan kunci. Selanjutnya dipasang rantai dan cincin besi sehingga produk siap digunakan.
Produk ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi karena biaya produksinya rendah, namun memiliki nilai estetika yang menarik. Selain itu, kegiatan ini mampu mengurangi jumlah sampah plastik yang sulit terurai.
2. Pengolahan Sampah Anorganik Menjadi Lilin Hias
Salah satu inovasi menarik adalah memanfaatkan wadah bekas sebagai tempat lilin hias. Gelas kaca bekas, kaleng susu, cangkir retak, dan botol kaca merupakan contoh limbah anorganik yang dapat dimanfaatkan kembali.
Langkah pertama adalah membersihkan wadah hingga benar-benar steril. Selanjutnya lilin bekas dipotong kecil-kecil kemudian dilelehkan menggunakan metode double boiler agar tidak terbakar langsung. Setelah meleleh, ditambahkan pewarna lilin dan aroma terapi sesuai kebutuhan.
Sumbu dipasang pada bagian tengah wadah menggunakan perekat tahan panas. Cairan lilin kemudian dituangkan secara perlahan hingga memenuhi wadah. Setelah mengeras selama beberapa jam, permukaan lilin dapat dihias menggunakan pita bekas, tali goni, renda, atau label dari kertas daur ulang.
Produk lilin hias memiliki fungsi sebagai dekorasi rumah, aromaterapi, maupun suvenir. Pemanfaatan wadah bekas juga mengurangi kebutuhan membeli tempat lilin baru sehingga lebih ramah lingkungan.
3. Pengolahan Sampah Anorganik Menjadi Parcel dan Bungkus Ramah Lingkungan
Parcel merupakan salah satu produk yang banyak digunakan pada hari raya, pernikahan, maupun acara resmi. Sayangnya, sebagian besar kemasan parcel hanya digunakan sekali sebelum dibuang.
Melalui konsep daur ulang, kardus bekas, plastik mika, botol plastik, kaleng, dan pita bekas dapat dimanfaatkan menjadi parcel yang menarik.
Proses pembuatannya diawali dengan memilih kardus bekas yang masih kuat. Kardus dipotong sesuai ukuran kemudian dibentuk menjadi kotak atau keranjang menggunakan lem tembak. Selanjutnya permukaan dilapisi menggunakan kertas koran, majalah bekas, atau plastik kemasan yang disusun menyerupai anyaman.
Untuk mempercantik tampilan, ditambahkan hiasan berupa bunga dari plastik bekas, pita bekas, tali rafia warna-warni, maupun tutup botol yang dibentuk menjadi ornamen dekoratif.
Bungkus parcel juga dapat dibuat dari plastik kemasan kopi, detergen, maupun makanan ringan yang telah dibersihkan. Kemasan tersebut dijahit atau dianyam sehingga menghasilkan motif unik yang memiliki daya tarik tersendiri.
Produk parcel hasil daur ulang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi karena bersifat unik, dapat digunakan kembali, dan mendukung gaya hidup ramah lingkungan.
Manfaat Pengolahan Sampah Anorganik
Pengolahan sampah anorganik memberikan manfaat yang sangat luas.
Dari aspek lingkungan, kegiatan ini mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir sehingga pencemaran tanah dan air dapat ditekan. Selain itu, penggunaan kembali barang bekas mengurangi kebutuhan bahan baku baru sehingga membantu menghemat sumber daya alam.
Dari aspek ekonomi, hasil kerajinan memiliki nilai jual yang dapat meningkatkan pendapatan keluarga. Banyak pelaku UMKM berhasil mengembangkan usaha berbasis daur ulang karena modal yang dibutuhkan relatif kecil.
Dari aspek sosial, kegiatan ini mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan kreativitas, serta memperkuat kerja sama melalui pelatihan dan kegiatan kelompok.
Dari aspek pendidikan, pengolahan sampah menjadi media pembelajaran mengenai pentingnya pelestarian lingkungan dan penerapan prinsip ekonomi sirkular sejak usia dini.
Kesimpulan
Pengolahan sampah anorganik rumah tangga menjadi gantungan kunci, lilin hias, serta parcel beserta bungkusnya merupakan salah satu solusi efektif dalam mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah rumah tangga. Melalui proses pemilahan, pembersihan, pembentukan, dan dekorasi, berbagai jenis sampah dapat diubah menjadi produk kreatif yang memiliki fungsi dan daya jual tinggi. Penerapan kegiatan daur ulang ini juga mendukung konsep ekonomi sirkular karena memperpanjang masa pakai suatu barang dan mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi kepada masyarakat agar pengelolaan sampah anorganik dapat menjadi budaya yang berkelanjutan serta memberikan manfaat bagi lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Daftar Pustaka
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2021). Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis 3R. Jakarta: KLHK.
Suryani, A. S. (2014). Peran Bank Sampah dalam Efektivitas Pengelolaan Sampah. Jurnal Aspirasi, 5(1), 71–84.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
World Bank. (2018). What a Waste 2.0: A Global Snapshot of Solid Waste Management to 2050. Washington, DC: World Bank.
Lisa Sugiarty_ 24310410230_essai 5_pengolahan sampah anorganik_kelas karyawan_Ibu Arundati Sinta_ psikologi lingkungan_psikologi_Up45