Minggu, 28 Juni 2026

ESSAI 6 - MENGOLAH SAMPAH ORGANIK DI RUMAH DOSEN

 MAT.KUL         : Psikologi Lingkungan 

DOSEN PENGAMPU : Dr. ARUNDATI SHINTA M.A.

NAMA         : AYOM PURWANINGSIH

FAKULTAS         : PSIKOLOGI ( KELAS B) 

Universitas Proklamasi 45



PEMANFAATAN LIMBAH ORGANIK MENJADI BIO-AKTIVATOR ALTERNATIF SABUN ECO-ENZYM DAN KOMPOS ORGANIK YANG SANGAT BERGUNA


Pendahuluan

Timbulan sampah organik rumah tangga terus meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk, menimbulkan masalah bau dan penumpukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pengomposan adalah salah satu solusi yang efektif, namun proses ini sering kali bergantung pada bio-aktivator komersial yang membutuhkan biaya tambahan. Eksperimen yang saya dan teman-teman satu kelas laksanakan pada hari Minggu, 17 Mei 2026 di rumah dosen kami ibu Dr. Arundati Shinta M. A , ini bertujuan untuk menguji efektivitas ekstrak kulit buah-buahan sebagai bio-aktivator alami sebagai eco-enzym dan sampah dari daun pisang untuk mempercepat proses dekomposisi sampah daun kering.


Metodologi Eksperimen

Penelitian ini menggunakan metode eksperimental rancangan pembuatan kompos sebagai berikut: 

  • Belajar bertanggung jawab terhadap sampah kita sendiri, yaitu dengan meletakkan sampah sesuai tempatnya masing-masing menurut  jenisnya yaitu sampah daun pisang dan sampah bungkus plastik. Sampah plastik dapat kita setorkan ke bank sampah. Sedangkan sampah daun pisang kita olah menjadi kompos dengan merajangnya menjadi kecil-kecil dicampur rata dengan dedak + kapur tani + POC + rajangan daun sirih + bubuk kayu + rajangan sampah kebun + tetes tebu + EM4, masukkan ke dalam gentong yang sudah ada bantal komposnya.

  • Kompos yang sudah jadi dipisahkan antara yang halus dan kasar. Yang halus masukkan ke ember logam, sedangkan yang kasar bisa langsung diletakkan pada tanaman. Kompos halus dicampur dengan bubuk kulit telur + abu gosok yang sudah disaring + bubuk arang halus, diamkan selama 2 hari maka akan siap digunakan.

  • Fermentasi kedua yaitu membuat Eco-enzym dari kulit buah-buahan dengan resep satu porsi eco-enzym= 90 gram gula merah + 270 gram kulit buah-buahan + 900 gram air matang dengan perbandingan 1:3:10. Hasil fermentasi dapat dipanen setelah minimal 3 bulan. Saring eco-enzym yang sudah matang dengan saringan besar plastik. Masukkan sampah eco-enzym ke ember POC. Masukkan cairan eco-enzym ke dalam botol plastik yang isinya 75% saja. Beri rajangan lerak + sereh. Fermentasikan minimal 1bulan.

  • Membuat sabun cuci piring dari eco-enzym dengan bahan-bahan yang dicampur dalam air mendidih adalah: 200 gram mess (metyl etyl sulfonat) + 150 gram garam industri + 10 gram EDTA + 90 gram aminon + 26 gram gliserin + 1 tetes pewarna + 3,5 liter air. Diamkan semalaman. Esok harinya, cairan mess yang sudah dingin dicampur dengan 450 ml cairan eco-enzym fermentasi kedua yang sudah disaring + aroma jeruk, aduk sampai rata. Siapkan botol-botol kecil untuk tempat sabun cair yang siap digunakan.



Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan pengamatan selama 1(satu) bulan, ekstrak kulit buah-buahan terfermentasi menunjukkan hasil yang paling optimal. Kandungan unsur hara seperti kalium pada kulit buah terbukti efektif merangsang aktivitas mikroorganisme pengurai. Suhu tumpukan kompos menandakan proses dekomposisi berjalan aktif dan cepat. Kompos yang dihasilkan berwarna coklat kehitaman, bertekstur remah menyerupai tanah, dan berbau khas humus, yang memenuhi standar pupuk kompos.


Kesimpulan

Limbah kulit buah-buahan yang selama ini dibuang ternyata dapat dimanfaatkan secara maksimal. Bio-aktivator ekstrak kulit buah yang difermentasi terbukti sangat efektif dan sebanding dengan bio-aktivator komersial dalam mempercepat proses pengomposan sampah daun kering. Pemanfaatan ini mendukung konsep zero waste dan ekonomi sirkular di tingkat rumah tangga. 

Pengolahan sampah organik membutuhkan komitmen dan konsistensi dari setiap individu. Kesadaran bahwa sampah adalah tanggung jawab bersama merupakan kunci utama. Dengan mengubah paradigma dari "membuang sampah" menjadi "mengelola sumber daya", kita tidak hanya menyelamatkan lingkungan dari pencemaran, tetapi juga menciptakan sirkulasi ekonomi yang berkelanjutan.




0 komentar:

Posting Komentar