Mengembangkan Potensi Diri melalui Partisipasi dalam Lomba Esai dan Puisi Bertema Lingkungan
Pada Juni 2026, saya mengikuti Creation Fest 2026 tingkat nasional dengan berpartisipasi dalam dua kategori lomba, yaitu esai dan puisi bertema lingkungan. Saya mengikuti kompetisi tersebut setelah panitia memberikan perpanjangan masa pendaftaran. Kesempatan ini saya manfaatkan untuk menyusun dan menyempurnakan kedua karya sebaik mungkin. Bagi saya, mengikuti dua kategori lomba sekaligus bukan hanya tentang memperoleh prestasi, tetapi juga menjadi sarana belajar, mengembangkan kreativitas, serta meningkatkan kepedulian terhadap isu lingkungan.
Pada kategori esai, saya mengangkat judul “EcoConnect+: Inovasi Digital Generasi Z untuk Mendorong Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Era Society 5.0.” Gagasan tersebut berangkat dari keresahan saya terhadap permasalahan sampah yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah. Saya melihat bahwa banyak masyarakat sebenarnya memiliki keinginan untuk mengelola sampah, tetapi informasi mengenai bank sampah, lokasi daur ulang, edukasi lingkungan, dan pemasaran produk hasil daur ulang masih belum terintegrasi dengan baik. Oleh karena itu, saya menawarkan konsep platform digital yang dapat menghubungkan masyarakat dengan berbagai layanan pengelolaan sampah sekaligus memberikan edukasi dan sistem insentif agar masyarakat lebih termotivasi menjaga lingkungan.
Selain mengikuti kategori esai, saya juga mengikuti kategori puisi dengan karya berjudul “Di Antara Akar dan Algoritma.” Melalui puisi tersebut, saya ingin menyampaikan bahwa kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat manusia semakin jauh dari alam. Sebaliknya, teknologi perlu dimanfaatkan sebagai sarana untuk menjaga keberlanjutan lingkungan. Saya menggambarkan bumi yang seolah berbicara melalui sungai yang tercemar, hutan yang kehilangan kehidupan, dan langit yang dipenuhi asap sebagai pengingat bahwa alam juga membutuhkan kepedulian manusia.
Proses penyusunan kedua karya tersebut memberikan pengalaman yang berbeda. Dalam menulis esai, saya harus mencari referensi, memahami berbagai persoalan lingkungan, kemudian menyusun solusi yang logis dan realistis. Sementara itu, ketika menulis puisi, saya berusaha mengubah fakta mengenai kondisi lingkungan menjadi rangkaian kata yang mampu menyentuh emosi pembaca. Saya juga beberapa kali melakukan revisi agar pesan yang ingin disampaikan menjadi lebih kuat dan mudah dipahami.
Pengalaman mengikuti kedua lomba ini semakin memperkuat motivasi internal saya. Saya menyadari bahwa keinginan untuk menjaga lingkungan tidak harus muncul karena hadiah atau penghargaan, tetapi dapat tumbuh dari kesadaran pribadi bahwa lingkungan yang sehat akan memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Dalam psikologi lingkungan, motivasi internal merupakan dorongan dari dalam diri yang membuat seseorang melakukan suatu tindakan karena merasa tindakan tersebut bermakna. Melalui proses mencari informasi, menyusun gagasan, dan menghasilkan karya, saya merasa memiliki kepedulian yang lebih besar terhadap isu lingkungan.
Bagi saya, mengikuti lomba bukan hanya tentang hasil akhir, melainkan tentang proses belajar. Melalui esai saya belajar berpikir kritis dalam menawarkan solusi, sedangkan melalui puisi saya belajar menyampaikan pesan lingkungan dengan pendekatan yang lebih reflektif. Pengalaman tersebut membuktikan bahwa sebuah karya tulis dapat menjadi media untuk membangun kesadaran, menumbuhkan motivasi internal, dan mengajak masyarakat bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan.
(Sertifikat lomba menyusul 13 Juli 2026)








0 komentar:
Posting Komentar