MAT.KUL : Psikologi Lingkungan
DOSEN PENGAMPU : Dr. ARUNDATI SHINTA M.A.
NAMA : AYOM PURWANINGSIH
FAKULTAS : PSIKOLOGI ( KELAS B)
Universitas Proklamasi 45
KUNJUNGAN EDUKATIF MEMBUKA WAWASAN SIKLUS PENGELOLAAN SAMPAH KE TPAS GUNUNG TUMPENG - PURWOREJO
Pendahuluan
Sampah merupakan salah satu tantangan lingkungan paling mendesak di era modern. Masalah ini seringkali luput dari perhatian masyarakat karena proses pembuangan yang dianggap selesai setelah sampah diangkut dari depan rumah. Untuk melihat secara langsung bagaimana siklus penanganan sampah bekerja, saya melakukan kunjungan observasi ke Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS). Kunjungan ini bertujuan untuk memahami alur operasional pengelolaan sampah serta mengkaji sejauh mana peran masyarakat dalam meminimalkan limbah.
Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) utama yang saya kunjungi pada tanggal 4 Juni 2026 lalu, yaitu TPAS Kabupaten Purworejo yang bernama TPAS Gunung Tumpeng, atau lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan TPA Jetis. Berlokasi di Desa Jetis, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Pengelolanya berada di bawah pengawasan Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Kabupaten Purworejo.
Kebetulan sekali saat saya melakukan kunjungan ke TPAS Gunung Tumpeng tersebut bersamaan dengan kunjungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Kabupaten Purworejo, yang menerima kunjungan tim dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) melalui Direktorat Pengaduan dan Pengawasan Lingkungan Hidup dalam rangka kegiatan pengawasan penaatan pengelolaan sampah pada TPAS Jetis Kabupaten Purworejo. Kegiatan pengawasan ini dilaksanakan selama dua hari, mulai tanggal 3 hingga 4 Juni 2026, sebagai bagian dari upaya pemerintah pusat dalam memastikan pengelolaan sampah di daerah telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan serta prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kepatuhan pengelola TPAS dalam menjalankan pengelolaan sampah, termasuk aspek pengendalian pencemaran lingkungan, pengelolaan lindi, pengelolaan gas metana, serta penerapan sistem pengelolaan sampah yang sesuai dengan standar yang berlaku. Kunjungan pengawasan ini juga menjadi sarana koordinasi dan pembinaan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan sampah serta memperkuat komitmen bersama untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Isi
Dalam kunjungan tersebut, saya mengamati langsung proses pemilahan sampah organik dan anorganik. Yang menarik adalah pemanfaatan mesin pencacah dan bio-digester. Edukasi ini menyadarkan saya bahwa masalah sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan membuangnya, melainkan membutuhkan kesadaran hulu-hilir, mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga.
Selama kunjungan, saya mengamati secara langsung tahapan pengelolaan sampah yang dimulai dari pemilahan awal. Di fasilitas ini, sampah yang datang dari pemukiman warga tidak langsung dibuang, melainkan dipisahkan antara sampah organik dan anorganik. Sampah organik akan diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi dikelola melalui konsep Reduce, Reuse, Recycle (3R)
Sampah yang masuk ke TPAS Jetis sekitar 65 ton per hari, sumbernya dari masyarakat, jalan, dan pasar. Harapan kami sebagai masyarakat Purworejo bisa mengurangi sampah karena TPA Jetis sudah overload melebihi dari seharusnya. Kunjungan tersebut membuka wawasan saya mengenai siklus pengelolaan sampah di lingkungan perkotaan, serta membuktikan bahwa tempat ini adalah garda terdepan dalam mereduksi volume sampah.
Kesimpulan
Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa partisipasi aktif masyarakat sangat krusial. Pemahaman yang diperoleh dari kunjungan ini memotivasi saya untuk lebih bijak memproduksi dan memilah sampah dari rumah. Pengelolaan sampah yang baik bukan sekadar tugas petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab moral setiap individu demi kelestarian lingkungan.
Kunjungan ini memberikan refleksi mendalam bahwa mengelola sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau petugas kebersihan semata. Pengelolaan sampah yang berkelanjutan membutuhkan sinergi antara kesadaran individu dan pengelolaan fasilitas yang optimal. Mulai hari ini, perubahan terkecil seperti memilah sampah organik dan anorganik di lingkungan rumah sendiri menjadi langkah konkret yang sangat berarti bagi lingkungan.






0 komentar:
Posting Komentar