Selasa, 02 Juni 2026

Essai 9 - Nasabah Bank Sampah

 

Berkontribusi Menjadi Nasabah Bank Sampah di KUPAS Panggungharjo

 

Pingkan Winahyuningtyas

24310410234

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 9

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 

Permasalahan sampah hingga saat ini masih menjadi tantangan yang sulit diselesaikan. Setiap aktivitas manusia pasti menghasilkan sampah, baik dalam jumlah sedikit maupun banyak. Namun, yang menjadi persoalan utama bukan hanya banyaknya sampah yang dihasilkan, melainkan bagaimana sampah tersebut dikelola dengan baik dari hulu hingga hilir. Pengelolaan sampah yang tidak komprehensif serta kurangnya keterlibatan berbagai pihak sering kali menyebabkan masalah sampah terus berulang.

Kalurahan Panggungharjo, Kabupaten Bantul, menjadi salah satu contoh daerah yang berupaya mengatasi permasalahan tersebut melalui Kelompok Usaha Pengelolaan Sampah (KUPAS). KUPAS didirikan pada tahun 2013 sebagai salah satu unit usaha di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Panggungharjo. Tujuan awal pembentukannya adalah meningkatkan kebersihan lingkungan sekaligus menjaga kesehatan masyarakat melalui pengelolaan sampah berbasis konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Seiring perkembangannya, pada awal tahun 2025 pengelolaan KUPAS beralih menjadi bagian dari PT APA Plastik Indonesia (APLASINDO).

KUPAS memiliki prinsip bahwa pengelolaan sampah tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan kerja sama antara masyarakat, pengelola, dan pemerintah agar tercipta sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Selain memberikan manfaat lingkungan, keberadaan KUPAS juga mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat dan menjadi sumber pemasukan bagi desa.

Salah satu hal yang menarik dari KUPAS adalah fokusnya pada pemberdayaan masyarakat. Dalam proses perekrutan tenaga kerja, aspek sosial lebih diutamakan dibandingkan latar belakang pendidikan. KUPAS tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berkembang dan berkontribusi dalam menjaga lingkungan.

Saya sendiri menjadi nasabah Bank Sampah TPS3R KUPAS yang beralamat di Sawit, Panggungharjo, Sewon, Bantul. TPS3R KUPAS jam operasionalnya dari Senin hingga Sabtu pukul 08.00–16.00 WIB. Melalui pengalaman menjadi nasabah bank sampah, saya belajar bahwa sampah bukanlah akhir dari suatu barang, melainkan sampah masih memiliki nilai yang dapat dimanfaatkan kembali.


     

Penyetoran pertama saya lakukan pada hari Selasa tanggal 15 April 2026 pukul 10.00 WIB bersama keponakan saya menggunakan granmax pickup. Dalam penyetoran tersebut saya di sambut hangat dan oleh salah satu pengurus KUPAS yaitu Mas Isgi. Beliau membantu saya dalam proses menimbang ,menghitung jumlah limbah sampah, membuatkan nota/invoice, serta dalam melakukan pembayaran.

Dari setoran tersebut, saya menerima uang sebesar Rp34.800. Sampah yang saya setorkan cukup banyak 5 hingga 6 kantong plastik besar yang terdiri atas kertas duplek seperti dus makanan, kotak sepatu, map bekas, dus keramik dan lain-lain; badong atau karung plastik bekas pakan dan beras; arsip berupa buku, kertas HVS/ bekas tugas dan fotokopian yang sudah tidak terpakai; serta plastik PP bening bersih(plastik jenis polypropylene seperti botol air mineral, gelas plastik yang telah dipisahkan dari tutup dan labelnya sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi). Selain itu, terdapat pula badong kotor (limbah plastik besar yang belum sempat dipilah karena sudah lama tersimpan di gudang sehingga bercampur debu dan kotoran). Sampah-sampah tersebut saya peroleh dari kegiatan plogging yang masih rutin saya lakukan, serta hasil membersihkan gudang rumah dan limbah pembangunan kost milik orangtua saya.


Penyetoran kedua saya lakukan pada hari Selasa tanggal 5 Mei 2026 pukul 14.30 WIB bersama ibu saya menggunakan motor. Dari setoran ini saya memperoleh Rp13.440. Sampah yang disetorkan 2 hingga 3 kantong plastik besar yang berupa gelas/botol minum yang sudah tidak layak pakai, wadah oli bekas, beberapa botol plastik, ember plastik berwarna yang pecah,galon isi ulang yang sudah rusak, serta berbagai jenis sampah plastik lainnya.


Selanjutnya, pada hari Selasa tanggal 26 Mei 2026 jam 08.30 saya kembali melakukan penyetoran sampah sendiri menggunakan motor karena hanya 1 kantong plastik besar yang jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya, saya memperoleh Rp3.725. Sampah yang saya setorkan berupa botol sirup bekas, kardus bekas barang elektronik, aluminium seperti peralatan memasak yang sudah rusak, dan beberapa kaleng minuman dan sampah plastik lainnya.

Melalui pengalaman menjadi nasabah Bank Sampah KUPAS, saya mendapatkan banyak manfaat. Pertama, saya menjadi lebih peduli terhadap lingkungan karena terbiasa memilah sampah sejak dari rumah. Saya turut mengajak keluarga saya dalam melakukan pemilahan dan penyetoran sampah. Kedua, saya belajar bahwa sampah yang sering dianggap tidak berguna yang biasanya hanya menumpuk di gudang ternyata masih memiliki nilai ekonomi dan dapat menghasilkan uang. Ketiga, kegiatan ini membantu mengurangi jumlah sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Keempat, saya menjadi lebih bertanggung jawab dalam membeli dan mengonsumsi barang. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan pengalaman edukatif bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana dari lingkup keluarga yang dilakukan secara konsisten sehingga bisa menjadi contoh untuk oranglain atau masyarakat yang lebih luas.

Pengalaman menjadi nasabah Bank Sampah KUPAS memberikan pemahaman bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pengelola sampah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Dengan memilah dan menyetorkan sampah secara rutin, tidak hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga ikut menciptakan manfaat ekonomi dan sosial yang berkelanjutan. Dari sinilah saya belajar bahwa sampah bukan sekadar limbah, melainkan sumber daya yang masih memiliki nilai apabila dikelola dengan bijak.

0 komentar:

Posting Komentar