Berkontribusi
Menjadi Nasabah Bank Sampah di KUPAS Panggungharjo
Pingkan
Winahyuningtyas
24310410234
Kelas
Psikologi Lingkungan – B
Tugas
Essai 9
Dosen
Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas
Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Permasalahan sampah
hingga saat ini masih menjadi tantangan yang sulit diselesaikan. Setiap
aktivitas manusia pasti menghasilkan sampah, baik dalam jumlah sedikit maupun
banyak. Namun, yang menjadi persoalan utama bukan hanya banyaknya sampah yang
dihasilkan, melainkan bagaimana sampah tersebut dikelola dengan baik dari hulu
hingga hilir. Pengelolaan sampah yang tidak komprehensif serta kurangnya
keterlibatan berbagai pihak sering kali menyebabkan masalah sampah terus
berulang.
Kalurahan Panggungharjo,
Kabupaten Bantul, menjadi salah satu contoh daerah yang berupaya mengatasi
permasalahan tersebut melalui Kelompok Usaha Pengelolaan Sampah (KUPAS). KUPAS
didirikan pada tahun 2013 sebagai salah satu unit usaha di bawah Badan Usaha
Milik Desa (BUMDes) Panggungharjo. Tujuan awal pembentukannya adalah
meningkatkan kebersihan lingkungan sekaligus menjaga kesehatan masyarakat
melalui pengelolaan sampah berbasis konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Seiring
perkembangannya, pada awal tahun 2025 pengelolaan KUPAS beralih menjadi bagian
dari PT APA Plastik Indonesia (APLASINDO).
KUPAS memiliki prinsip
bahwa pengelolaan sampah tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri.
Dibutuhkan kerja sama antara masyarakat, pengelola, dan pemerintah agar
tercipta sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Selain memberikan
manfaat lingkungan, keberadaan KUPAS juga mampu memberikan nilai ekonomi bagi
masyarakat dan menjadi sumber pemasukan bagi desa.
Salah satu hal yang
menarik dari KUPAS adalah fokusnya pada pemberdayaan masyarakat. Dalam proses
perekrutan tenaga kerja, aspek sosial lebih diutamakan dibandingkan latar
belakang pendidikan. KUPAS tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi,
tetapi juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berkembang dan
berkontribusi dalam menjaga lingkungan.
Saya sendiri menjadi
nasabah Bank Sampah TPS3R KUPAS yang beralamat di Sawit, Panggungharjo, Sewon,
Bantul. TPS3R KUPAS jam operasionalnya dari Senin hingga Sabtu pukul
08.00–16.00 WIB. Melalui pengalaman menjadi nasabah bank sampah, saya belajar
bahwa sampah bukanlah akhir dari suatu barang, melainkan sampah masih memiliki
nilai yang dapat dimanfaatkan kembali.
Penyetoran pertama saya
lakukan pada hari Selasa tanggal 15 April 2026 pukul 10.00 WIB bersama keponakan saya menggunakan granmax pickup. Dalam penyetoran tersebut saya di sambut
hangat dan oleh salah satu pengurus KUPAS yaitu Mas Isgi. Beliau membantu saya
dalam proses menimbang ,menghitung jumlah limbah sampah, membuatkan nota/invoice, serta dalam melakukan pembayaran.
Dari setoran tersebut, saya menerima uang sebesar Rp34.800. Sampah yang saya setorkan cukup banyak 5 hingga 6 kantong plastik besar yang terdiri atas kertas duplek seperti dus makanan, kotak sepatu, map bekas, dus keramik dan lain-lain; badong atau karung plastik bekas pakan dan beras; arsip berupa buku, kertas HVS/ bekas tugas dan fotokopian yang sudah tidak terpakai; serta plastik PP bening bersih(plastik jenis polypropylene seperti botol air mineral, gelas plastik yang telah dipisahkan dari tutup dan labelnya sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi). Selain itu, terdapat pula badong kotor (limbah plastik besar yang belum sempat dipilah karena sudah lama tersimpan di gudang sehingga bercampur debu dan kotoran). Sampah-sampah tersebut saya peroleh dari kegiatan plogging yang masih rutin saya lakukan, serta hasil membersihkan gudang rumah dan limbah pembangunan kost milik orangtua saya.
Penyetoran kedua saya lakukan
pada hari Selasa tanggal 5 Mei 2026 pukul 14.30 WIB bersama ibu saya
menggunakan motor. Dari setoran ini saya memperoleh Rp13.440. Sampah yang
disetorkan 2 hingga 3 kantong plastik besar yang berupa gelas/botol minum yang
sudah tidak layak pakai, wadah oli bekas, beberapa botol plastik, ember plastik
berwarna yang pecah,galon isi ulang yang sudah rusak, serta berbagai jenis sampah
plastik lainnya.
Selanjutnya, pada hari
Selasa tanggal 26 Mei 2026 jam 08.30 saya kembali melakukan penyetoran sampah sendiri menggunakan motor karena hanya 1 kantong plastik besar yang jumlahnya tidak
sebanyak sebelumnya, saya memperoleh Rp3.725. Sampah yang saya setorkan berupa
botol sirup bekas, kardus bekas barang elektronik, aluminium seperti peralatan
memasak yang sudah rusak, dan beberapa kaleng minuman dan sampah plastik
lainnya.
Melalui pengalaman
menjadi nasabah Bank Sampah KUPAS, saya mendapatkan banyak manfaat. Pertama,
saya menjadi lebih peduli terhadap lingkungan karena terbiasa memilah sampah
sejak dari rumah. Saya turut mengajak keluarga saya dalam melakukan pemilahan
dan penyetoran sampah. Kedua, saya belajar bahwa sampah yang sering dianggap
tidak berguna yang biasanya hanya menumpuk di gudang ternyata masih memiliki
nilai ekonomi dan dapat menghasilkan uang. Ketiga, kegiatan ini membantu
mengurangi jumlah sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Keempat, saya menjadi lebih bertanggung jawab dalam membeli dan mengonsumsi
barang. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan pengalaman edukatif bahwa
menjaga lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana dari lingkup keluarga yang
dilakukan secara konsisten sehingga bisa menjadi contoh untuk oranglain atau
masyarakat yang lebih luas.
Pengalaman menjadi
nasabah Bank Sampah KUPAS memberikan pemahaman bahwa pengelolaan sampah bukan
hanya tanggung jawab pemerintah atau pengelola sampah, tetapi merupakan
tanggung jawab bersama. Dengan memilah dan menyetorkan sampah secara rutin,
tidak hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga ikut
menciptakan manfaat ekonomi dan sosial yang berkelanjutan. Dari sinilah saya
belajar bahwa sampah bukan sekadar limbah, melainkan sumber daya yang masih
memiliki nilai apabila dikelola dengan bijak.






.jpeg)






0 komentar:
Posting Komentar