Pengelolaan Sampah pada TPST Randu Alas
Nama : Busthanul Arifin
NIM : 25310440002
Kelas : B
Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Ketika TPA Piyungan resmi ditutup pada tahun 2021, Kabupaten Sleman dihadapkan pada situasi yang tidak mudah. Volume sampah yang selama ini dialirkan ke sana tiba-tiba kehilangan muaranya. Di tengah kondisi itulah TPST Randu Alas hadir bukan sebagai solusi instan, melainkan sebagai eksperimen sosial yang mencoba membuktikan bahwa sampah bisa dikelola secara lebih bermartabat. Sebelumnya, warga sudah terbiasa dengan pola lama, yaitu buang dan lupakan. Sampah diangkut, ditumpuk, dan selesai. Tidak ada pertanyaan tentang apa yang terjadi sesudahnya. Kebiasaan itu meninggalkan warisan berupa penumpukan dan bau yang menjadi bagian dari keseharian. TPST berbasis prinsip 3R hadir untuk memutus kebiasaan lama itu, dengan menawarkan cara pandang bahwa sampah bukanlah akhir dari sesuatu, melainkan awal dari sesuatu yang lain.
Cara kerja TPST Randu Alas cukup menyeluruh. Alur pengelolaan dimulai sejak sampah ditempatkan di wadah, dikumpulkan, diangkut, diterima, dipilah, lalu diolah sesuai jenisnya. Sampah organik tidak langsung dibuang begitu saja, melainkan dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau dikubur dalam lubang yang dirancang khusus agar proses penguraiannya tidak mencemari tanah di sekitarnya. Sampah anorganik masuk ke tahap berikutnya lewat proses pencacahan atau penghancuran mekanis. Sisanya, yang memang tidak memiliki jalan lain, dibakar dalam tobong. Sistem ini cukup terstruktur, tetapi justru di sanalah letak ketegangan yang sesungguhnya muncul. Kesadaran warga untuk memilah sampah sejak dari dapur dan kamar masing-masing masih sangat rendah. Edukasi belum menjangkau cukup jauh, dan dukungan dari pemerintah pun belum sepadan dengan besarnya tantangan yang dihadapi oleh pengelola di lapangan. TPST yang dirancang dengan baik sekalipun akan tersendat jika sampah yang datang kepadanya masih bercampur aduk tanpa pilahan.
Kunjungan langsung ke TPST Randu Alas terasa seperti membuka halaman yang selama ini jarang dibaca. Pengelolaan sampah ternyata bukan urusan sederhana yang bisa diselesaikan dengan satu mesin atau satu kebijakan. Di baliknya ada kebutuhan akan teknologi yang memadai, tenaga manusia yang berdedikasi, dan yang paling sulit diadakan secara cepat adalah komitmen kolektif dari masyarakat itu sendiri. Dari sudut pandang Psikologi Lingkungan, pengalaman ini menjadi sangat bermakna karena menunjukkan dengan jelas bahwa infrastruktur fisik tidak pernah bisa berdiri sendiri. Mesin pencacah paling canggih pun tidak akan bekerja optimal jika warga yang menggunakannya belum memiliki kebiasaan memilah. Perubahan perilaku adalah fondasi yang harus dibangun lebih dulu, atau setidaknya dibangun bersamaan dengan sistem fisiknya. Dalam hal itu, TPST Randu Alas tidak hanya menjadi tempat belajar tentang teknis pengolahan sampah, tetapi juga menjadi cermin yang memperlihatkan betapa eratnya hubungan antara perilaku manusia, kebijakan yang ada, dan masa depan lingkungan yang ingin kita jaga bersama.







0 komentar:
Posting Komentar