Komitmen
Pribadi terhadap Pengelolaan Sampah Mata Kuliah: Psikologi Lingkungan
Busthanul Arifin
Fakultas Psikologi Universitas
Proklamasi 45 Yogyakarta
Ada yang
berubah dalam cara saya melihat dunia sampah setelah menjalani perkuliahan
Psikologi Lingkungan. Perubahan itu tidak terjadi sekaligus, dari tugas demi
tugas, dari diskusi demi diskusi, menumbuhkan semangat untuk
memaknai betul hal-hal yang tidak mudah ini.
Sampah
adalah salah satunya.
Psikologi
Lingkungan mengajarkan sesuatu yang bermakna, yaitu bahwa lingkungan fisik dan
perilaku manusia saling membentuk satu sama lain. Lingkungan yang kotor tidak
sekadar tidak sedap dipandang. Namun secara perlahan lahan
menurunkan
standar perilaku orang yang ada di dalamnya. Ketika seseorang melihat sampah
berserakan, otak secara tidak sadar membaca sinyal bahwa tempat itu memang
boleh diperlakukan demikian. Satu sampah mengundang sampah berikutnya. Satu
orang yang acuh mengajak orang lain untuk acuh juga.
Pemahaman
itu yang kemudian menggeser cara saya memaknai persoalan ini.
Saya mulai
membangun komitmen, bukan karena tuntutan tugas, tetapi karena saya akhirnya
mengerti bahwa diam pun adalah sebuah pilihan, dan di tiap tiap pilihan sekecil
apapun, itu ada konsekuensinya.
Dan ini mengubah
cara pandang saya terhadap sampah itu sendiri. Sampah organik bukan sekadar
sisa makanan yang menjijikkan, ia adalah bahan baku kompos yang bisa
menghidupkan tanah. Sampah anorganik bukan sekadar tumpukan plastik, ia bisa
menjadi bahan daur ulang yang bernilai jika diperlakukan dengan benar.
Pergeseran cara pandang dari membuang menjadi mengelola ini tampaknya kecil,
tetapi implikasinya sangat besar terhadap keputusan-keputusan kecil yang saya
ambil setiap hari.
Selai itu
saya mencoba untuk menjadi contoh yang
konsisten di lingkungan terdekat saya. Dimulai dari rumah saya sendiri, anak-anak saya sendiri. Saya percaya
bahwa perubahan perilaku seseorang yang dilakukan secara konsisten dan terlihat
oleh orang di sekitarnya memiliki kekuatan menular. Ketika seseorang melihat
orang lain memungut sampah tanpa diminta, tanpa paksaan, dan tanpa dramatisasi,
itu meninggalkan kesan yang lebih kuat daripada kampanye apapun.
Saya
menyadari bahwa hal ini tidak akan selalu mudah dijalankan. Psikologi
Lingkungan juga mengajarkan bahwa perilaku yang diulang cukup lama akan menjadi
kebiasaan, dan kebiasaan yang cukup banyak diadopsi akan menjadi norma sosial. Dan itu semua bisa dimulai dari lingkungan terdekat kita sendiri, yaitu Rumah.






0 komentar:
Posting Komentar