Senin, 29 Juni 2026

ESAI 1 - MERINGKAS JURNAL - 2531040002

 

Busthanul Arifin- 25310440002

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Ringkasan Jurnal

Judul: Eco-Teens Initiative: Pemberdayaan Remaja Melalui Pelatihan Pengelolaan Limbah Organik untuk Meningkatkan Kesadaran Lingkungan Berkelanjutan

Penulis: Muzdalifah Mahmud (Universitas Negeri Gorontalo)

Jurnal: PEDAMAS, Volume 3 Nomor 6, November 2025

Topik

Pemberdayaan remaja usia sekolah menengah pertama melalui pelatihan pengelolaan limbah organik berbasis komposting sebagai upaya membangun kesadaran lingkungan yang berkelanjutan.

Permasalahan

Degradasi lingkungan akibat pengelolaan sampah yang tidak tepat masih menjadi masalah serius, terutama tingginya proporsi limbah organik yang berkontribusi pada pencemaran dan emisi gas metana. Di tingkat nasional, sampah organik dari sisa makanan menyumbang sekitar 41,27 persen dari total produksi sampah Indonesia. Di sisi lain, kesadaran remaja terhadap pentingnya menjaga lingkungan belum merata, dan banyak siswa yang belum memiliki pengetahuan maupun keterampilan memadai dalam mengelola limbah organik.

Tujuan Penelitian

Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran lingkungan siswa SMPN 1 Tapa melalui pelatihan dan praktik langsung pengelolaan limbah organik berbasis komposting, sekaligus mendorong terbentuknya sikap ramah lingkungan yang berkelanjutan di kalangan remaja.

Metode

Program dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Gorontalo, dengan melibatkan mahasiswa peserta program MBKM Batch 7 yang ditempatkan di SMPN 1 Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Pendekatan yang digunakan adalah participatory approach, di mana siswa ditempatkan sebagai peserta aktif dalam seluruh tahapan kegiatan, bukan sekadar penerima informasi.

Tahapan pelaksanaannya meliputi pertama, koordinasi dengan pihak sekolah untuk menentukan subjek kegiatan. Kedua, pengumpulan data awal melalui observasi dan kuesioner untuk memetakan pengetahuan dan kebiasaan siswa terkait limbah organik. Ketiga, pelatihan dan lokakarya yang mencakup materi pengenalan limbah organik, manfaat kompos, dan teknik pembuatan kompos sederhana. Keempat, pendampingan praktik lapangan di mana siswa langsung mengumpulkan bahan organik dan mengolahnya menjadi kompos menggunakan metode aerobik dalam lubang tanah. Kelima, evaluasi pasca pelatihan melalui survei pengetahuan dan observasi perubahan perilaku siswa.

Hasil

Program ini berhasil melibatkan siswa secara aktif dalam seluruh tahapan pengelolaan limbah organik. Mahasiswa MBKM berperan penting sebagai fasilitator yang menginisiasi pembuatan kompos, memimpin observasi, dan mendampingi siswa secara langsung. Proses pengomposan dilakukan menggunakan bahan daun kering, rumput, dan sisa makanan dari kantin, berlangsung selama beberapa minggu dengan pengawasan rutin. Kompos yang dihasilkan kemudian digunakan untuk menyuburkan tanaman di lingkungan sekolah sehingga memberikan manfaat ekologis yang langsung terasa.

Diskusi

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman siswa mengenai jenis limbah organik, manfaat kompos, dan prosedur pembuatannya. Selain itu, terjadi perubahan perilaku yang nyata berupa keterlibatan aktif siswa dalam memilah dan mengumpulkan bahan kompos. Hal ini sejalan dengan literatur yang menyatakan bahwa pendidikan lingkungan yang terorganisir dan berbasis praktik langsung efektif dalam mengubah pola pikir dan perilaku remaja. Keterlibatan mahasiswa MBKM juga terbukti memperkuat kualitas program sekaligus memberi pengalaman service learning yang bermakna bagi mahasiswa itu sendiri. Program ini memperlihatkan bahwa kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan sekolah dapat menghasilkan kegiatan pengabdian yang aplikatif dan berdampak nyata.

Kesimpulan

Program Eco-Teens Initiative berhasil meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian siswa SMPN 1 Tapa terhadap pengelolaan limbah organik melalui pendekatan partisipatif. Program ini tidak hanya memberikan solusi praktis terhadap masalah penumpukan sampah organik di sekolah, tetapi juga menciptakan dampak berkelanjutan melalui terbentuknya kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah yang dapat dilanjutkan secara mandiri oleh pihak sekolah setelah program berakhir.

 

0 komentar:

Posting Komentar