Busthanul Arifin- 25310440002
Kelas Psikologi Lingkungan – B
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Ringkasan
Jurnal
Judul:
Eco-Teens Initiative: Pemberdayaan Remaja Melalui Pelatihan Pengelolaan Limbah
Organik untuk Meningkatkan Kesadaran Lingkungan Berkelanjutan
Penulis:
Muzdalifah Mahmud (Universitas Negeri Gorontalo)
Jurnal:
PEDAMAS, Volume 3 Nomor 6, November 2025
Topik
Pemberdayaan
remaja usia sekolah menengah pertama melalui pelatihan pengelolaan limbah
organik berbasis komposting sebagai upaya membangun kesadaran lingkungan yang
berkelanjutan.
Permasalahan
Degradasi
lingkungan akibat pengelolaan sampah yang tidak tepat masih menjadi masalah
serius, terutama tingginya proporsi limbah organik yang berkontribusi pada
pencemaran dan emisi gas metana. Di tingkat nasional, sampah organik dari sisa
makanan menyumbang sekitar 41,27 persen dari total produksi sampah Indonesia.
Di sisi lain, kesadaran remaja terhadap pentingnya menjaga lingkungan belum
merata, dan banyak siswa yang belum memiliki pengetahuan maupun keterampilan
memadai dalam mengelola limbah organik.
Tujuan
Penelitian
Tujuan
kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran
lingkungan siswa SMPN 1 Tapa melalui pelatihan dan praktik langsung pengelolaan
limbah organik berbasis komposting, sekaligus mendorong terbentuknya sikap
ramah lingkungan yang berkelanjutan di kalangan remaja.
Metode
Program
dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris
Universitas Negeri Gorontalo, dengan melibatkan mahasiswa peserta program MBKM
Batch 7 yang ditempatkan di SMPN 1 Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.
Pendekatan yang digunakan adalah participatory approach, di mana siswa
ditempatkan sebagai peserta aktif dalam seluruh tahapan kegiatan, bukan sekadar
penerima informasi.
Tahapan
pelaksanaannya meliputi pertama, koordinasi dengan pihak sekolah untuk
menentukan subjek kegiatan. Kedua, pengumpulan data awal melalui observasi dan
kuesioner untuk memetakan pengetahuan dan kebiasaan siswa terkait limbah
organik. Ketiga, pelatihan dan lokakarya yang mencakup materi pengenalan limbah
organik, manfaat kompos, dan teknik pembuatan kompos sederhana. Keempat,
pendampingan praktik lapangan di mana siswa langsung mengumpulkan bahan organik
dan mengolahnya menjadi kompos menggunakan metode aerobik dalam lubang tanah.
Kelima, evaluasi pasca pelatihan melalui survei pengetahuan dan observasi
perubahan perilaku siswa.
Hasil
Program ini
berhasil melibatkan siswa secara aktif dalam seluruh tahapan pengelolaan limbah
organik. Mahasiswa MBKM berperan penting sebagai fasilitator yang menginisiasi
pembuatan kompos, memimpin observasi, dan mendampingi siswa secara langsung.
Proses pengomposan dilakukan menggunakan bahan daun kering, rumput, dan sisa
makanan dari kantin, berlangsung selama beberapa minggu dengan pengawasan
rutin. Kompos yang dihasilkan kemudian digunakan untuk menyuburkan tanaman di
lingkungan sekolah sehingga memberikan manfaat ekologis yang langsung terasa.
Diskusi
Hasil
evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman siswa mengenai jenis limbah organik,
manfaat kompos, dan prosedur pembuatannya. Selain itu, terjadi perubahan
perilaku yang nyata berupa keterlibatan aktif siswa dalam memilah dan
mengumpulkan bahan kompos. Hal ini sejalan dengan literatur yang menyatakan
bahwa pendidikan lingkungan yang terorganisir dan berbasis praktik langsung
efektif dalam mengubah pola pikir dan perilaku remaja. Keterlibatan mahasiswa
MBKM juga terbukti memperkuat kualitas program sekaligus memberi pengalaman
service learning yang bermakna bagi mahasiswa itu sendiri. Program ini
memperlihatkan bahwa kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan sekolah dapat
menghasilkan kegiatan pengabdian yang aplikatif dan berdampak nyata.
Kesimpulan
Program
Eco-Teens Initiative berhasil meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan
kepedulian siswa SMPN 1 Tapa terhadap pengelolaan limbah organik melalui
pendekatan partisipatif. Program ini tidak hanya memberikan solusi praktis
terhadap masalah penumpukan sampah organik di sekolah, tetapi juga menciptakan
dampak berkelanjutan melalui terbentuknya kebiasaan baru dalam pengelolaan
sampah yang dapat dilanjutkan secara mandiri oleh pihak sekolah setelah program
berakhir.






0 komentar:
Posting Komentar