Senin, 08 Juni 2026

Essai 6 - Eksperimen tentang Sampah

 

Belajar Mengolah Sampah Organik Menjadi Eco Enzyme di Rumah

Pingkan Winahyuningtyas

24310410234

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 6

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 

Pengelolaan sampah tidak hanya dapat dilakukan dengan memilah dan mendaur ulang sampah anorganik, tetapi juga dengan memanfaatkan sampah organik menjadi produk yang berguna. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membuat eco enzyme. Eco enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah yang dicampur dengan gula dan air. Cairan ini memiliki banyak manfaat, mulai dari pembersih alami, pupuk organik cair, penghilang bau, hingga membantu menjaga kebersihan lingkungan.

Pada hari Minggu, 31 Mei 2026 yang lalu, saya tidak dapat mengikuti kegiatan pembuatan eco enzyme yang dilaksanakan di rumah Ibu Dr.Arundati Shinta M.A. selaku dosen mata kuliah psikologi lingkungan, okeh karena itu saya memutuskan untuk melakukan eksperimen pembuatan eco enzyme sendiri di rumah bersama ibu dan seorang teman. Kegiatan ini menjadi pengalaman baru yang sangat berkesan karena saya dapat belajar secara langsung bagaimana mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Tujuan pembuatan eco enzyme adalah mengurangi jumlah sampah organik yang berakhir di tempat pembuangan sampah serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Selain itu, kegiatan ini juga mengajarkan bahwa limbah rumah tangga masih dapat dimanfaatkan kembali sehingga mendukung gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Pengetahuan mengenai pengelolaan sampah seperti ini penting diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dunia kerja.

Saya mengajak seorang teman untuk mengikuti kegiatan ini karena ia sangat tertarik dengan proses pembuatan eco enzyme. Bahkan, sejak awal ia sudah berencana untuk memanfaatkan hasil panen eco enzyme ketika proses fermentasi selesai. Antusiasmenya membuat kegiatan ini menjadi lebih menyenangkan karena kami dapat belajar bersama mengenai pengelolaan sampah organik.

Kegiatan pembuatan eco enzyme kami lakukan pada hari minggu, 24 Mei 2026, pukul 18.00 WIB setelah saya pulang bekerja. Sebelum memulai, kami menyiapkan seluruh alat dan bahan yang diperlukan, diantaranya galon ukuran 15L, pisau, telenan, botol 1.500ml, selang , kompor, panci, wadah besar, 9 liter air, 900 gram gula merah, dan 2,7 kilogram kulit buah segar. Pembuatan eco enzyme menggunakan perbandingan bahan 1 : 3 : 10, yaitu 1 bagian gula, 3 bagian sampah organik, dan 10 bagian air.

Kulit buah yang digunakan harus dalam kondisi segar dan tidak boleh busuk agar proses fermentasi berjalan dengan baik. Pada kegiatan ini kami menggunakan berbagai jenis kulit buah, seperti kulit jeruk, jambu, nanas, dan apel.

Langkah pertama yang dilakukan adalah menimbang gula merah, kemudian merajangnya menjadi potongan kecil agar lebih mudah larut. Setelah itu, gula direbus bersama 4,5 liter air hingga larut sempurna. Larutan gula yang telah dingin kemudian dimasukkan ke dalam galon yang sudah dibersihkan sebelumnya.

Selanjutnya, kulit buah dirajang menjadi potongan kecil agar proses fermentasi berlangsung lebih optimal. Setelah ditimbang sesuai kebutuhan, kulit buah dimasukkan ke dalam galon yang berisi larutan gula. Kemudian kami menambahkan sisa 4,5 liter air ke dalam galon hingga seluruh bahan tercampur dengan baik.

Untuk mengantisipasi gas yang dihasilkan selama proses fermentasi, kami menyiapkan sebuah botol plastik berukuran 1.500 ml yang telah dipasang selang kecil. Botol tersebut diisi air mentah, lalu ujung selang dimasukkan ke dalam air. Alat sederhana ini berfungsi sebagai saluran pembuangan gas sehingga tekanan di dalam galon tidak berlebihan dan wadah fermentasi tidak berisiko meledak.

Setelah semua proses selesai, galon ditutup rapat dan disimpan di tempat yang teduh. Proses fermentasi eco enzyme membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Agar tidak lupa, saya menuliskan informasi mengenai tanggal pembuatan dan jadwal panen pada sebuah label yang kemudian ditempel pada galon. Berdasarkan perhitungan tersebut, eco enzyme yang kami buat dapat dipanen pada tanggal 24 Agustus 2026.

Melalui kegiatan ini, saya memperoleh banyak pelajaran berharga. Saya menjadi lebih memahami bahwa sampah organik yang sering dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi produk yang memiliki banyak manfaat. Selain membantu mengurangi jumlah sampah rumah tangga, pembuatan eco enzyme juga mengajarkan pentingnya kesabaran, ketelitian, dan kepedulian terhadap lingkungan. Pengalaman pertama membuat eco enzyme ini memberikan kesadaran bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan dari rumah sendiri dengan mengajak keluarga dan orang- orang terdekat.

Dengan memanfaatkan sampah organik menjadi eco enzyme, kita tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga menghasilkan produk yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata penerapan gaya hidup ramah lingkungan yang dapat dilakukan oleh siapa saja.

0 komentar:

Posting Komentar