Belajar Mengolah Sampah Organik Menjadi Eco Enzyme di Rumah
Pingkan
Winahyuningtyas
24310410234
Kelas
Psikologi Lingkungan – B
Tugas
Essai 6
Dosen
Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas
Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Pengelolaan
sampah tidak hanya dapat dilakukan dengan memilah dan mendaur ulang sampah
anorganik, tetapi juga dengan memanfaatkan sampah organik menjadi produk yang
berguna. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membuat eco enzyme. Eco
enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah yang
dicampur dengan gula dan air. Cairan ini memiliki banyak manfaat, mulai dari
pembersih alami, pupuk organik cair, penghilang bau, hingga membantu menjaga
kebersihan lingkungan.
Pada
hari Minggu, 31 Mei 2026 yang lalu, saya tidak dapat mengikuti kegiatan
pembuatan eco enzyme yang dilaksanakan di rumah Ibu Dr.Arundati Shinta M.A.
selaku dosen mata kuliah psikologi lingkungan, okeh karena itu saya memutuskan
untuk melakukan eksperimen pembuatan eco enzyme sendiri di rumah bersama ibu
dan seorang teman. Kegiatan ini menjadi pengalaman baru yang sangat berkesan
karena saya dapat belajar secara langsung bagaimana mengolah sampah organik
menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Tujuan
pembuatan eco enzyme adalah mengurangi jumlah sampah organik yang berakhir di
tempat pembuangan sampah serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang
pentingnya pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Selain itu, kegiatan ini
juga mengajarkan bahwa limbah rumah tangga masih dapat dimanfaatkan kembali
sehingga mendukung gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Pengetahuan mengenai
pengelolaan sampah seperti ini penting diterapkan dalam berbagai aspek
kehidupan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dunia kerja.
Saya
mengajak seorang teman untuk mengikuti kegiatan ini karena ia sangat tertarik
dengan proses pembuatan eco enzyme. Bahkan, sejak awal ia sudah berencana untuk
memanfaatkan hasil panen eco enzyme ketika proses fermentasi selesai.
Antusiasmenya membuat kegiatan ini menjadi lebih menyenangkan karena kami dapat
belajar bersama mengenai pengelolaan sampah organik.
Kegiatan
pembuatan eco enzyme kami lakukan pada hari minggu, 24 Mei 2026, pukul 18.00
WIB setelah saya pulang bekerja. Sebelum memulai, kami menyiapkan seluruh alat dan bahan
yang diperlukan, diantaranya galon ukuran 15L, pisau, telenan, botol 1.500ml, selang , kompor, panci, wadah besar, 9 liter air, 900 gram gula merah, dan 2,7 kilogram kulit
buah segar. Pembuatan eco enzyme menggunakan perbandingan bahan 1 : 3 : 10,
yaitu 1 bagian gula, 3 bagian sampah organik, dan 10 bagian air.
Kulit
buah yang digunakan harus dalam kondisi segar dan tidak boleh busuk agar proses
fermentasi berjalan dengan baik. Pada kegiatan ini kami menggunakan berbagai
jenis kulit buah, seperti kulit jeruk, jambu, nanas, dan apel.
Langkah
pertama yang dilakukan adalah menimbang gula merah, kemudian merajangnya
menjadi potongan kecil agar lebih mudah larut. Setelah itu, gula direbus
bersama 4,5 liter air hingga larut sempurna. Larutan gula yang telah dingin
kemudian dimasukkan ke dalam galon yang sudah dibersihkan sebelumnya.
Selanjutnya,
kulit buah dirajang menjadi potongan kecil agar proses fermentasi berlangsung
lebih optimal. Setelah ditimbang sesuai kebutuhan, kulit buah dimasukkan ke
dalam galon yang berisi larutan gula. Kemudian kami menambahkan sisa 4,5 liter
air ke dalam galon hingga seluruh bahan tercampur dengan baik.
Untuk
mengantisipasi gas yang dihasilkan selama proses fermentasi, kami menyiapkan
sebuah botol plastik berukuran 1.500 ml yang telah dipasang selang kecil. Botol
tersebut diisi air mentah, lalu ujung selang dimasukkan ke dalam air. Alat
sederhana ini berfungsi sebagai saluran pembuangan gas sehingga tekanan di
dalam galon tidak berlebihan dan wadah fermentasi tidak berisiko meledak.
Setelah
semua proses selesai, galon ditutup rapat dan disimpan di tempat yang teduh.
Proses fermentasi eco enzyme membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Agar tidak
lupa, saya menuliskan informasi mengenai tanggal pembuatan dan jadwal panen
pada sebuah label yang kemudian ditempel pada galon. Berdasarkan perhitungan
tersebut, eco enzyme yang kami buat dapat dipanen pada tanggal 24 Agustus 2026.
Melalui
kegiatan ini, saya memperoleh banyak pelajaran berharga. Saya menjadi lebih
memahami bahwa sampah organik yang sering dianggap tidak berguna ternyata dapat
diolah menjadi produk yang memiliki banyak manfaat. Selain membantu mengurangi
jumlah sampah rumah tangga, pembuatan eco enzyme juga mengajarkan pentingnya
kesabaran, ketelitian, dan kepedulian terhadap lingkungan. Pengalaman pertama
membuat eco enzyme ini memberikan kesadaran bahwa menjaga lingkungan dapat
dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan dari rumah sendiri dengan
mengajak keluarga dan orang- orang terdekat.
Dengan
memanfaatkan sampah organik menjadi eco enzyme, kita tidak hanya mengurangi
pencemaran lingkungan, tetapi juga menghasilkan produk yang bermanfaat bagi
kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk
nyata penerapan gaya hidup ramah lingkungan yang dapat dilakukan oleh siapa
saja.








0 komentar:
Posting Komentar