Senin, 08 Juni 2026

Esai 5-Eksperimen anorganik di rumah dosen

 Nama : Banun Havifah Cahyo Khosiyono

NIM : 24310440002

Kelas : B

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.


Mengubah Keresahan Menjadi Berkah: Seni Upcycling Sampah Anorganik di Rumah Dosen



Jujur saja, akhir-akhir ini kepala saya rasanya mau pecah setiap kali melihat tumpukan sampah anorganik di sudut ruangan. Masalahnya klasik, tapi sangat menjebak: botol plastik bekas, kaleng tebal, hingga sisa kain perca seolah-olah selalu mengikuti ke mana pun saya pergi. Saya berada di titik yang sangat membingungkan; tahu bahwa membuangnya sembarangan itu merusak bumi, tetapi saya benar-benar buntu dan tidak tahu cara memperlakukannya secara ramah lingkungan agar barang-barang mati ini tidak sekadar berakhir di TPA. Keresahan mendalam inilah yang akhirnya membawa saya melangkah ke rumah dosen pengampu saya untuk melakukan sebuah eksperimen nyata yang membuka mata.


Tujuan utama saya datang ke rumah dosen hari itu bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban kuliah menjelang ujian akhir, melainkan agar saya benar-benar terampil melakukan upcycling dengan sampah anorganik yang selama ini menghantui saya. Di bawah bimbingan beliau yang penuh kesabaran, atmosfer rumah dosen yang tenang seketika berubah menjadi laboratorium kreativitas yang seru. Kami sepakat untuk menyulap barang-barang tak terpakai tersebut menjadi produk yang fungsional dan memiliki nilai estetika tinggi. Fokus eksperimen kami hari itu terbagi ke dalam beberapa produk kreatif, mulai dari pembuatan gantungan kunci unik dari tutup botol, hingga melelehkan sisa lilin lama untuk dicetak kembali menjadi lilin aromaterapi baru menggunakan wadah kaleng bekas yang estetik.


Tidak berhenti di situ, tantangan kreativitas saya semakin diuji saat kami mulai mengolah limbah plastik tebal menjadi piring cantik penampung aksesori, serta merangkai parcel beserta bungkusnya yang seluruhnya memanfaatkan anyaman plastik kemasan bekas dan kain perca. Proses menyablon, memotong, dan mengelem ini benar-benar memicu adrenalin inovasi saya. Saya belajar bahwa upcycling membutuhkan ketekunan psikologis dan pemecahan masalah yang matang di setiap tahapannya.


Melihat hasil akhir dari gantungan kunci, lilin aromaterapi, piring cantik, hingga parcel yang tampak sangat elegan, ada rasa lega dan kepuasan batin yang luar biasa di dalam diri saya. Eksperimen di rumah dosen ini berhasil menyembuhkan kebingungan saya dan membuktikan bahwa sampah anorganik tidak harus menjadi musuh yang menakutkan jika kita mau mengasah keterampilan inovasi. Menulis esai ini  menjadi pengingat berharga bagi saya bahwa langkah ramah lingkungan selalu bisa dimulai dari mengubah cara pandang kita terhadap barang yang dianggap sudah habis nilainya.


0 komentar:

Posting Komentar