Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Kamis, 30 April 2026

Essay 2 - PLOGGING

 Berliana Adinda Putri Wiyanto

24310410216

Psikologi Lingkungan (B)

Tugas essay 2

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


PLOGGING

Saya melakukan sebuah aktivitas sederhana namun memiliki makna yang dalam yaitu plogging, kegiatan memungut sampah sambil berolahraga. Secara umum, plogging adalah aktivitas yang menggabungkan olahraga jogging dengan kegiatan memungut sampah di sepanjang jalur yang dilalui. Istilah "plogging" berasal dari gabungan kata dalam bahasa Swedia "plocka upp" yang artinya "mengumpulkan" dan kata "jogging". Kegiatan ini pertama kali terkenal di Swedia, lalu menyebar ke berbagai negara sebagai gerakan lingkungan yang sederhana tetapi memiliki dampak besar. Plogging bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak perlu alat khusus, cukup bawa tas untuk mengumpulkan sampah dan memiliki semangat untuk menjaga lingkungan.

Plogging bukan hanya sebuah tren, tapi juga cara nyata untuk menunjukkan tanggung jawab seseorang terhadap lingkungan sekitar. Di tengah semakin meningkatnya masalah sampah, khususnya sampah plastik, plogging dapat menjadi solusi sederhana yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Dengan berjalan kaki atau berlari perlahan sambil mengumpulkan sampah, seseorang tidak hanya merawat kesehatan tubuhnya, tetapi juga membantu mengurangi polusi lingkungan secara langsung.

Kegiatan plogging yang pertama saya lakukan di dekat tempat tinggal saya pada hari Minggu tanggal 19 April 2026. Saya tinggal di Manisrenggo, Klaten. Selagi melakukan jogging, saya juga membawa kantong plastik dan memungut sampah yang berserakan di sepanjang jalan yang saya lewati. Sampah plastik maupun kertas yang saya kumpulkan selanjutnya akan saya bawa pulang dan dijual ke bank sampah atau tukang rongsokan.

Kegiatan plogging yang kedua saya lakukan di tempat yang dihiasi banyak tanaman hijau menunjukkan bahwa tempat itu sebenarnya bisa menjadi area yang tenang dan menyenangkan pada hari Minggu tanggal 26 April 2026. Tempat ini merupakan kawasan wisata Kaliurang, tepatnya di sekitar  Tlogoputri. Namun, adanya sampah yang menyebar membuat keindahan terganggu dan bisa memberi dampak negatif pada ekosistem. Sampah yang tidak dibuang dengan benar bisa mengotori tanah dan air, serta berbahaya bagi makhluk hidup di sekitarnya. Oleh karena itu, tindakan kecil seperti plogging akan memiliki dampak yang besar jika kita dapat memotivasi orang lain agar memiliki kesadaran diri untuk ikut serta.

Selain dapat membantu menjaga kebersihan lingkungan, plogging juga memiliki nilai edukatif. Kegiatan ini dapat membuat masyarakat lebih tahu betapa pentingnya membuang sampah ke tempat yang sudah disediakan. Ketika seseorang melihat orang lain sedang melakukan plogging, secara tidak langsung hal itu bisa membuatnya merasa malu atau justru terinspirasi untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut. Dengan demikian, plogging tidak hanya memberi dampak pada lingkungan secara fisik, tetapi juga membantu membentuk sikap sosial yang lebih perhatian terhadap kebersihan.

Dari segi kesehatan, plogging juga memberikan manfaat tambahan. Gerakan membungkuk untuk mengambil sampah melibatkan beberapa otot di dalam tubuh, sehingga aktivitas ini lebih beragam dibandingkan hanya berjalan atau berlari biasa. Hal ini membuat plogging menjadi olahraga yang efektif dan memiliki manfaat ganda.

Kesadaran akan kebersihan lingkungan sebaiknya dijadikan teladan bagi masyarakat umum. Tidak harus menunggu program besar atau kebijakan pemerintah, perubahan bisa dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan secara terus-menerus. Jika semua orang peduli dengan lingkungan, maka menciptakan tempat yang bersih dan sehat tidak akan terasa sulit.

Sebab itu, plogging adalah kegiatan yang menggabungkan rasa peduli terhadap lingkungan, kesehatan, dan tanggung jawab sosial. Gambar itu mengingatkan kita bahwa merawat bumi bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti mengumpulkan sampah yang kita temukan di sekitar.

Rabu, 29 April 2026

Essai 3 : Before After

 

Perubahan Lingkungan Sebelum dan Sesudah Pembersihan Sampah

di PASTY dan Lapangan Patmasuri

 

Pingkan Winahyuningtyas

24310410234

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 3

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 

Kegiatan before after kebersihan lingkungan adalah kegiatan membersihkan suatu tempat dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah pembersihan dilakukan. Tujuannya untuk menunjukkan perubahan nyata dari tempat yang awalnya kotor, penuh sampah, dan kurang rapi menjadi lebih bersih dan nyaman. Kegiatan seperti ini biasanya dilakukan di tempat publik, seperti pasar, lapangan, sungai, pantai, gunung, terminal dan sebagainya.

Tempat publik yang ramai dikunjungi biasanya menghasilkan banyak sampah setiap hari. Jika tidak dibersihkan, sampah dapat menimbulkan bau, mengganggu kenyamanan, dan merusak keindahan lingkungan. Karena itu, saya melakukan kegiatan membersihkan sampah di dua lokasi, yaitu Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY) dan Lapangan Patmasuri. Dari kegiatan ini, saya melihat langsung perubahan kondisi lingkungan sebelum dan sesudah dibersihkan.

Lokasi 1: Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY)

                               a. Zona Tanaman Hias                 b.Pintu Masuk Zona Satwa

    

Kegiatan pertama dilakukan di Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY) pada hari Selasa, 21 April 2026 pukul 15.30 sampai 17.00 WIB, yang berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam. PASTY berlokasi di Jalan Bantul Km 1, Gedongkiwo, Mantrijeron, Yogyakarta. Kawasan ini terbagi menjadi dua zona, yaitu zona satwa yang berada di sebelah timur jalan raya dan zona tanaman hias yang berada di sebelah barat jalan raya.

Ketika memasuki pasar ini, suasana yang penuh warna dan kehidupan langsung terasa. Di zona satwa terdapat berbagai hewan peliharaan seperti burung, kucing, anjing, kelinci, hamster, ikan hias, reptil, dan lainnya. Sementara di zona tanaman hias tersedia berbagai jenis tanaman, pot, pupuk, dan perlengkapan berkebun.

Sebagai kawasan publik yang setiap hari dipadati oleh pedagang dan pengunjung, aktivitas jual beli di PASTY menghasilkan berbagai jenis limbah, baik organik maupun anorganik. Namun, tidak semua sampah tersebut dikelola dengan baik, sehingga menimbulkan penumpukan yang membuat lingkungan pasar tampak kurang bersih dan fasilitasnya kurang terawat. Hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi pedagang yang tidak stabil, sehingga pengelolaan sampah secara mandiri menjadi kurang optimal.

Sebelum dibersihkan kondisi lingkungan di beberapa area terlihat kurang terawat. Sampah berserakan di sekitar jalan pasar, pintu masuk, kios dan area kandang. Dalam kegiatan pembersihan yang saya ikuti, terlihat jelas bahwa sampah yang berserakan cukup beragam.

Di zona satwa, terdapat sisa makanan hewan, alas kandang bekas, kotoran hewan terutama reptil,kelinci,burung serta plastik pembungkus dan botol minuman. Sementara itu, di zona tanaman hias, sampah didominasi oleh daun kering, ranting hasil pemangkasan, akar rusak, batang busuk, polybag, pot plastik, kemasan pupuk dan pestisida, serta sisa media tanaman bekas yang sudah tidak terpakai.

Saya melakukan pembersihan dengan mengumpulkan sampah dan memilahnya berdasarkan jenis. Sampah organik seperti daun kering dan sisa makanan dipisahkan nantinya untuk dijadikan kompos, sedangkan sampah anorganik seperti plastik dan botol dikumpulkan agar dapat didaur ulang atau dijual ke bank sampah.

Setelah dibersihkan, kondisi lingkungan di PASTY terlihat jauh lebih rapi dan bersih. Jalan menjadi lebih enak dilalui pengunjung, area kios terlihat lebih tertata. Tentunya membuat pengunjung menjadi lebih nyaman.

 

Lokasi 2 : Lapangan Patmasuri

                            a. Area food court (pinggir)                b. Area dalam lapangan

      

Kegiatan kedua dilakukan di Lapangan Patmasuri yang beralamat di Jalan KH. Ali Maksum No. 9, Krapyak Kulon, Panggungharjo, Sewon, Yogyakarta. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 26 April 2026 pukul 07.00 sampai 09.00 WIB yang berlangsung selama kurang lebih dua jam.

Lapangan Patmasuri adalah Bekas RS Veteran Patmasuri. Dahulu, lokasi ini merupakan area RSU Veteran Patmasuri, yang menjadi bagian dari sejarah perjuangan kemerdekaan RI, khususnya dalam pelayanan kesehatan bagi para veteran. Saat ini, lapangan ini dikembangkan oleh Kalurahan Panggungharjo sebagai fasilitas umum yang mendukung pilar Desa Mandiri Budaya. Lokasi ini strategis karena berada di selatan Panggung Krapyak (Kandang Menjangan), yang merupakan titik awal sumbu filosofi Yogyakarta. Lapangan ini kini menjadi aset desa yang digunakan untuk menunjang aktivitas sosial, budaya, dan ekonomi warga setempat.

Lapangan Patmasuri merupakan tempat umum yang sering digunakan masyarakat untuk olahraga, kegiatan pramuka, sepak bola, taekwondo, dan olahraga lainnya. Terdapat beberapa wahana seperti odong - odong dan rumah balon. Di sekitar lapangan juga banyak pedagang yang berjualan, terutama pada sore hari. Pengunjung yang datang pun dari berbagai usia dari kanak-kanak hingga dewasa.

Sebelum dibersihkan, kondisi lapangan cukup memprihatinkan karena banyak sampah plastik bekas makanan dan minuman yang berserakan. Selain itu, daun-daun kering dibiarkan menumpuk di beberapa sudut. Padahal kawasan ini terutama area food court memiliki banyak pepohonan rindang dan suasana yang sejuk.

Saya berinisiatif meminjam sapu dari warga setempat untuk membersihkan area food court yang masih tutup. Saya menyapu area lapangan dan mengumpulkan sampah. Karena kurangnya persiapan, saat melakukan pembersihan saya tidak membawa tempat sampah, seorang warga memberikan kantong bekas untuk menampung sampah tersebut dan ikut membantu membersihkan lingkungan.

Setelah dibersihkan, area lapangan terlihat lebih bersih, rapi, dan nyaman digunakan masyarakat. Tempat yang sebelumnya dipenuhi sampah menjadi lebih sedap dipandang dan tentunya nyaman digunakan untuk beraktivitas.

Dampak dan Manfaat Kegiatan

Aksi nyata yang dilakukan mampu mendorong masyarakat untuk lebih peduli dan meningkatkan kesadaran masyarakat. Kegiatan before after yang menunjukkan perubahan nyata dari kondisi kotor menjadi bersih dapat menjadi contoh langsung bagi warga sekitar. Aksi nyata yang dilakukan mampu mendorong masyarakat untuk lebih peduli dan tidak membuang sampah sembarangan. Warga yang melihat kegiatan tersebut dapat menyadari bahwa kebersihan lingkungan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas petugas kebersihan saja.

Kegiatan ini juga mempererat hubungan sosial antara masyarakat. Saat proses pembersihan berlangsung, ada warga yang ikut membantu menyediakan kantong sampah dan turut membersihkan area sekitar. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan sederhana dapat menumbuhkan semangat gotong royong dan kerja sama antarwarga.

Selain itu, kegiatan ini juga menunjukkan pentingnya fasilitas pendukung seperti tempat sampah yang cukup, terpisah sesuai jenis sampah, serta edukasi rutin kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah.

Kesimpulan

Kegiatan before after pembersihan sampah di PASTY dan Lapangan Patmasuri menunjukkan bahwa tindakan sederhana dapat membawa perubahan besar bagi lingkungan. Tempat yang awalnya kotor, banyak sampah, dan kurang nyaman dapat berubah menjadi bersih, rapi, sehat, dan nyaman digunakan setelah dilakukan pembersihan.

Selain memberikan manfaat kebersihan, kegiatan ini juga menjadi contoh nyata bagi warga setempat agar lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Dengan melihat hasil perubahan sebelum dan sesudah dibersihkan, masyarakat diharapkan sadar pentingnya menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan terutama di tempat publik.

Essai 2 : Plogging

 

Pengalaman Plogging di Lapangan Minggiran dan

Halte Dongkelan (DKN) Yogyakarta

 

Pingkan Winahyuningtyas

24310410234

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 2

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta


Menjaga kebersihan lingkungan dapat dimulai dari diri sendiri. Lingkungan yang bersih akan membuat masyarakat merasa nyaman, sehat, dan betah dalam beraktivitas. Namun, pada kenyataannya masih banyak tempat umum yang kurang terjaga kebersihannya. Sampah plastik, bungkus makanan, botol minuman, serta daun kering sering terlihat berserakan di area publik. Kondisi tersebut mendorong saya untuk melakukan kegiatan plogging, yaitu aktivitas olahraga ringan seperti berjalan kaki atau jogging sambil memungut sampah di sekitar lingkungan.

Plogging merupakan kegiatan sederhana, tetapi memiliki manfaat yang besar. Selain menyehatkan tubuh, plogging juga membantu menjaga kebersihan lingkungan serta menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan sekitar. Saya melakukan kegiatan plogging di dua lokasi berbeda, yaitu Lapangan Minggiran dan Halte Dongkelan (DKN).

Lokasi 1 : Pengalaman Plogging di Lapangan Minggiran

Saya melakukan plogging pertama di Lapangan Minggiran yang beralamatkan di Jl. Minggiran Barat No.66 ,Suryodiningratan, Mantrijeron, Yogyakarta. Kegiatan ini saya lakukan pada hari Minggu, 12 April 2026 pukul 15.30 sampai 17.00 WIB , yang berlangsung kurang lebih satu setengah jam. Lapangan Minggiran merupakan ruang terbuka yang cukup ramai digunakan masyarakat. Setiap pagi dan sore hari, banyak warga datang untuk berolahraga seperti jogging, bermain basket, sepak bola, maupun sekedar bersantai. Selain itu, banyak juga pedagang yang berjualan makanan dan minuman di sekitar lapangan.

Karena banyaknya aktivitas, lapangan ini sering dipenuhi sampah. Saat saya datang, terlihat bungkus makanan ringan, gelas plastik, botol minuman, tisu bekas, dan sisa makanan di beberapa sudut lapangan. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya penggunaan fasilitas umum belum sepenuhnya di imbangi dengan kesadaran menjaga kebersihan.

Saya membawa kantong plastik dan mulai berjalan mengelilingi lapangan sambil memungut sampah yang terlihat. Kegiatan ini terasa menyenangkan karena saya bisa berolahraga sambil melakukan hal yang bermanfaat. Setelah beberapa putaran, kantong sampah yang saya bawa mulai terisi penuh. Saya merasa puas melihat area lapangan menjadi lebih bersih dan rapi.

Lokasi 2 : Pengalaman Plogging di Halte Dongkelan (DKN)

Kegiatan plogging kedua di Halte Dongkelan (DKN) yang berada di Jalan Bantul No. 302, Panggungharjo, Sewon, Bantul. Kegiatan ini saya lakukan pada hari Sabtu, 17 April 2026 pukul 07.00 sampai 08.00 WIB, yang berlangsung kurang lebih satu jam. Dahulu tempat ini merupakan bagian penting jalur kereta api di selatan Yogyakarta yang menghubungkan Kota Yogyakarta dengan Bantul. Namun, saat ini jalur tersebut sudah tidak beroperasi lagi. Bangunan asli halte telah terbakar dan kini hanya tersisa replika bangunannya.

Saat ini kawasan Halte Dongkelan lebih sering dimanfaatkan sebagai tempat kuliner atau food court. Meski begitu, beberapa sisa rel dan rambu kereta api masih ada sebagai tanda sejarah masa lalu. Saya memilih lokasi ini karena dekat dari rumah dan cukup sering dikunjungi masyarakat.

Ketika sampai di lokasi, saya melihat area sekitar halte masih cukup terawat, tetapi kebersihannya belum maksimal. Banyak sampah kemasan makanan dan minuman dari pengunjung, ditambah dedaunan kering yang menumpuk di beberapa bagian. Tempat sampah tersedia, tetapi hanya ada di beberapa titik sehingga kurang memadai.

Saya kemudian mulai memungut sampah di sekitar area halte dan trotoar sekitarnya. Dalam waktu singkat, cukup banyak sampah yang berhasil saya kumpulkan. Menurut saya, masalah sampah di lokasi ini bukan hanya karena kurangnya kepedulian masyarakat, tetapi juga karena halte berada di jalur ramai kendaraan sehingga sampah mudah terbawa angin atau dibuang sembarangan oleh pengguna jalan.

Dampak dan Manfaat Kegiatan Plogging

Kegiatan plogging di dua lokasi tersebut memberikan dampak yang terasa secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, lingkungan menjadi lebih bersih, rapi, dan nyaman digunakan. Lapangan Minggiran menjadi lebih enak dipakai berolahraga, sedangkan area Halte Dongkelan terlihat lebih tertata dan nyaman bagi pengunjung. Lingkungan yang bersih tentu lebih sehat bagi masyarakat.

Secara tidak langsung, kegiatan plogging dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Plogging dapat menjadi contoh positif bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari tindakan sederhana. Jika dilakukan secara rutin, kegiatan ini dapat memperkuat rasa gotong royong, meningkatkan kepedulian sosial, serta membangun kebiasaan hidup bersih di masyarakat.

Bagi diri saya sendiri, plogging juga bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental. Tubuh menjadi lebih aktif bergerak karena berjalan kaki, membungkuk, dan membawa kantong sampah. Aktivitas ini membantu menjaga kebugaran. Selain itu, saya merasa senang dan puas setelah ikut menjaga lingkungan.

Pembahasan

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa masalah sampah sangat berkaitan dengan perilaku manusia. Jika masyarakat memiliki kesadaran tinggi, maka lingkungan akan tetap bersih meskipun ramai digunakan. Sebaliknya, jika kesadaran rendah, sampah akan terus menumpuk walaupun petugas kebersihan sudah bekerja.

Fasilitas pendukung juga sangat penting, seperti tempat sampah yang cukup, papan imbauan kebersihan, dan pengelolaan sampah yang rutin. Kerja sama antara warga, pedagang, pengunjung, dan pihak terkait sangat dibutuhkan agar kebersihan dapat terjaga secara berkelanjutan.

Selain itu, edukasi tentang pemilahan sampah juga perlu terus dilakukan. Sampah plastik, kertas, dan organik sebaiknya dipisahkan sejak awal agar lebih mudah didaur ulang dan tidak semuanya berakhir di tempat pembuangan akhir.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, pengalaman melakukan plogging di Lapangan Minggiran dan Halte Dongkelan (DKN) memberikan pelajaran yang berharga bagi saya. Kegiatan ini bukan hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga menumbuhkan rasa peduli, tanggung jawab, dan disiplin.

Plogging adalah kegiatan sederhana yang bisa dilakukan siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Dengan langkah kecil seperti memungut sampah saat berjalan kaki atau jogging, kita sudah ikut menjaga bumi tetap bersih. Saya berharap kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara rutin dan melibatkan lebih banyak masyarakat, sehingga ruang publik di Yogyakarta dapat menjadi tempat yang bersih, sehat, dan nyaman untuk semua orang.

Selasa, 28 April 2026

ESSAI 4 KOMITMEN PRIBADI TERHADAP SAMPAH

 

Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 3

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

KOMITMEN PRIBADI TERHADAP SAMPAH DAN PENGELOLAAN SAMPAH 

Link Video : https://vt.tiktok.com/ZS9SorQWN/

Sebelum mempelajari psikologi lingkungan, saya memandang sampah sebagai sesuatu yang biasa karena buka sesuatu yang saya pikirkan dan tidak pernah benar-benar saya lihat. Bagi saya, sampah hanyalah kotoran atau sesuatu yang tidak memiliki nilai, dan cukup untuk dijauhkan, sehingga kepedulian saya terhadap sampah sangat kurang. Namun, setelah mendapatkan pemahaman dalam mata kuliah Psikologi Lingkungan ditambah lagi dosen sendiri sangat giat mendorong kami untuk lebih peduli pada lingkungan terutama dalam pengelolaan sampah, dan dengan tugas-tugas yang diberikan terkait dengan sampah ( Pogging, before dan after ), pandangan saya mulai berubah terhadap lingkungan sekitar termasuk kepedulian terhadap sampah yang berceceran/berserakan.

Saya tidak lagi bersikap tidak peduli atau tutup mata ketika melihat sampah yang berserakan atau tercecer disekitar saya, ada dorongan yang kuat untuk mengumpulkan sampah-sampah tersebut dan membuangnya ditempat sampah atau mengumpulkannnya jika memang tidak ada fasilitas tempat sampah disekitar sampah yang berserakan tersebut bahkan saya mulai membawa kantong plastik untuk berjaga-jaga jikalau menemukan sampah yang berceceran termasuk di tempat umum seperti taman, lapangan, alun-alun dan atau jalan yang saya telusuri.

Kesadarsan ini mendorong terbentuknya perilaku pro-lingkungan, yaitu perilaku yang bertujuan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan. Saya mulai menyadari bahwa sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga memengaruhi perilaku manusia. Lingkungan yang kotor dapat menurunkan kenyamanan, memengaruhi suasana hati, bahkan membentuk kebiasaan buruk seperti membuang sampah sembarangan. Sebaliknya, lingkungan yang bersih mendorong perilaku yang lebih tertib dan peduli. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara manusia dan lingkungan bersifat timbal balik.

Selain itu, saya juga memahami bahwa sampah bukan semata-mata sesuatu yang menjijikkan. Memang, secara alami manusia memiliki tanggapan jijik terhadap sesuatu yang kotor, tetapi dengan pengelolaan yang tepat, sampah dapat memiliki nilai. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi barang yang bernilai ekonomi maupun sesuatu yang unik atau hiasan. Pemahaman ini mengubah cara pandang saya dari yang tadinya  berpikir cukup dengan “membuang” menjadi “mengelola”.

Berdasarkan pemahaman tersebut, saya membangun komitmen pribadi atau terhadap diri saya dalam pengelolaan sampah.

Pertama, Hal yang saya lakukan atau saya berkomitmen untuk tidak membuang sampah sembarangan dan selalu membuang sampah pada tempatnya.

Kedua, saya akan berusaha lebih aktif, tidak hanya menjaga kebersihan diri sendiri, tetapi juga lingkungan sekitar, baik di rumah maupun di tempat kerja. Hal ini termasuk mengumpulkan sampah yang berserakan di sekitar saya sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.

Ketiga, saya berkomitmen untuk mendukung kegiatan pengelolaan sampah yang lebih luas, seperti berpartisipasi dalam program bank sampah atau kegiatan “sedekah sampah”. Bagi saya, ini bukan sekadar mengerjakan tugas kuliah lagi, tetapi bentuk tindakan nyata.

Namun, saya juga menyadari bahwa perubahan perilaku tidak hanya bergantung pada satu orang saja, tetapi juga pada dukungan lingkungan sosial dan tentunya fasilitas yang memadai. Oleh karena itu, komitmen ini tidak hanya saya wujujdkan secara bertahap dan konsisten yang bukan saja untuk diri sendiri, tetapi juga sebagai upaya untuk memengaruhi atau memberikan contoh yang nyata kepada orang lain agar memiliki kesadaran yang sama.

Dengan demikian,  komitmen ini saya wujudkan secara bertahap dan konsisten, dimulai dari lingkungan terdekat yang dapat saya kendalikan. saya meyakini jika perubahan kecil yang dilakukan  secara terus-menerus, dapat memberikan dampak positif terhdap lingkungan sekitar. Dimana peran individu sebagai role model terbukti dapat mendorong orang lain untuk meniru perilaku peduli lingkungan, seperti membuang sampah  pada tempatnya dan mendaur ulang sampah dengan memilah terlebih dahulu sampah mana yang dapat dikelola atau yang masih bisa dimanfaatkan dan bernilai.

Daftar Pustaka

Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah

Dhabitha, B. Z. A. (2023). Faktor Determinan Perilaku Pro Lingkungan Mengelola Sampah. IDEA: Jurnal Psikologi.  Vol. 7 No. 1 (2023)

Rifayanti, R., dkk. (2018). Peran Role Model dalam Membentuk Perilaku Pro-Lingkungan. Psikostudia. Jurnal Psikologi Vol 7, No 2, Desember 2018

Essai 2 - Plogging

 KEGIATAN PLOGGING

    Rahardian Wicaksono

24310410218

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 2

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

April 2026

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta


    Sebelum memulai kegiatan plogging, saya telah merencankan proses akhir sampah-sampah yang saya kumpulkan. Saya memilih lebih dulu sampah-sampah yang masih bisa diolah dan sampah yang sudah tidak dapat diolah secara mandiri. Sampah seperti botol atau gelas plastik saya olah menjadi pot bunga kecil, sementara sampah yang sudah tidak dapat diolah secara mandiri oleh saya akan saya sisihkan dan menitipkanya ke pengepul atau pemulung sampah untuk ia jual. Adanya keterbatasan keterampilan dan waktu saya untuk secara langsung mengolah seluruh sampah yang saya kumpulkan dan menyalurkan secara mandiri ke TPS, tidak mengurangi semangat saya untuk membersihkan lingkungan sekitar saya dengan membersihkan sampah-sampah di ruang publik seperti jalan raya maupun pemukiman warga sekitar tempat saya biasa berolahraga (jogging).

    Saya melakukan plogging pertama pasa Selasa 21 April 2026 selama kurang lebih satu jam mulai pukul 16.00 - 17.00 dengan menempuhu jarak sekitar 3 km. Saya melakukan plogging pertama ini di daerah Kayen, Wedomartani, Sleman. Di lokasi pertama ini jenis sampah yang mendominasi adalah plastik kemasan dan botol plastik.

 
   
     Lalu, kegiatan plogging kedua saya lakukan pada Jumat 24 April 2026 selama kurang lebih satu jam mulai sekitar pukul 16.30 - 18.00 dengan jarak sekitar 3 km. Saya melakukan plogging kedua ini di daerah Paingan, Sleman. Saya menemukan jenis sampah yang sama dengan lokasi pertama, yaitu kantong plastik dan kemasan makanan ringan (plastik kemasan). Jika ditotal, berat sampah yang berhasil saya kumpulkan dari dua kali kegiatan plogging di dua tempat berbeda mencapai sekitar 40 - 60 gram sampah plastik.

    Jika dikaitkan dengan prinsip operant conditioning, tugas ini dapat membentuk perilaku bahwa berinteraksi dengan sampah bukanlah hal yang menjijikkan, melainkan menjadi sesuatu yang menyenangkan dan memuaskan. Sehingga hal tersebut dapat membentuk adanya perilaku baru. Setiap sampah yang saya kumpulkan memberikan kepuasan (positive reinforcement), karena melihat lingkungan menjadi bersih dan rasa lelah fisik tergantikan dengan perasaan senang atau puas telah berkontribusi pada pelestarian kebersihan lingkungan.

    Melalui kegiatan Plogging ini, saya menyadari bahwa perubahan perilaku terhadap lingkungan dapat dilakukan melalui penggabungan antara aktivitas olahraga dan kebersihan yang membuat kegiatan memungut sampah tidak lagi dipersepsikan sebagai tugas yang kotor atau tidak menyenangkan. Kegiatan ini juga membuktikan bahwa ilmu psikologi dapat diterapkan secara nyata dalam menangani isu-isu lingkungan, dimulai dari langkah kaki kita sendiri.


Essai 1 : Meringkas Jurnal Sampah

 

Membangun Kesadaran Sedekah Sampah sebagai Model Pemberdayaan Masyarakat Desa Karangsari Bantur Kabupaten Malang


Pingkan Winahyuningtyas

24310410234

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 1

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 

Topik

Membangun kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah melalui program sedekah sampah sebagai model pemberdayaan lingkungan dan ekonomi masyarakat desa.

Sumber Jurnal

Jurnal pengabdian masyarakat berjudul “Membangun Kesadaran Sedekah Sampah sebagai Model Pemberdayaan Masyarakat Desa Karangsari Bantur Kabupaten Malang” oleh Muhammad Husni, diterbitkan dalam Jurnal Aksi Afirmasi IAI Al-Qolam Malang tahun 2020.

Permasalahan

Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah meningkatnya volume sampah setiap tahun yang tidak diimbangi dengan ketersediaan tempat pembuangan akhir yang memadai. Di Desa Karangsari, kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah masih tergolong rendah. Hal ini terlihat dari kebiasaan membuang sampah sembarangan serta minimnya partisipasi dalam pengolahan sampah secara mandiri. Selain itu, keterbatasan fasilitas, anggaran, dan tenaga pengelola turut menghambat pengelolaan sampah secara optimal. Dampak dari kondisi ini tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan berbagai penyakit serta menyebabkan banjir akibat saluran air yang tersumbat.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah melalui konsep sedekah sampah sebagai model pemberdayaan. Selain itu, penelitian ini menegaskan bahwa permasalahan sampah lebih banyak dipengaruhi oleh perilaku masyarakat, seperti kebiasaan membuang, memilah, dan mengelola sampah, dibandingkan dengan faktor teknologi semata. Penelitian ini juga bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, mengurangi jumlah sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, serta mendorong kemandirian warga dalam mengelola sampah.

Isi

Jurnal ini menjelaskan bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat merupakan solusi penting dalam mengatasi permasalahan lingkungan. Konsep sedekah sampah menjadi inovasi utama, yaitu kegiatan mengumpulkan sampah yang telah dipilah untuk disumbangkan kepada pengelola. Sampah tersebut kemudian dijual atau diolah, dan hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan bersama, seperti bantuan sembako atau kegiatan sosial.

Program ini berjalan melalui beberapa tahapan. Pertama, masyarakat memilah sampah berdasarkan jenisnya, seperti organik dan anorganik. Kedua, sampah yang masih bernilai ekonomi dikumpulkan di tempat tertentu yang dikelola oleh komunitas atau pengurus desa. Ketiga, sampah tersebut dijual kepada pengepul atau diolah menjadi produk baru seperti kerajinan tangan dan kompos. Keempat, hasil penjualan dikelola secara transparan untuk kepentingan masyarakat.

Selain itu, jurnal ini juga menjelaskan penerapan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle). Reduce berarti mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah, reuse berarti menggunakan kembali barang yang masih layak pakai, dan recycle berarti mendaur ulang sampah menjadi produk baru yang bernilai guna.

Program sedekah sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga pada aspek sosial dan ekonomi. Masyarakat dilatih untuk lebih peduli terhadap lingkungan, bekerja sama dalam kegiatan gotong royong, serta mengembangkan kreativitas dalam mengolah sampah. Program ini juga membuka peluang usaha baru melalui produk daur ulang yang dapat dijual. Dengan demikian, sedekah sampah menjadi sarana edukasi sekaligus pemberdayaan masyarakat secara menyeluruh.

Metode

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dokumentasi, serta catatan kegiatan. Selain itu, dilakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk menggali kebutuhan dan tingkat kesadaran masyarakat terkait pengelolaan sampah. Metode ini bertujuan untuk memahami kondisi nyata di lapangan serta menganalisis partisipasi masyarakat dalam program sedekah sampah.

Hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa program sedekah sampah mampu meningkatkan kesadaran masyarakat secara bertahap. Partisipasi warga mulai meningkat dalam kegiatan pemilahan dan pengolahan sampah. Program ini juga menghasilkan berbagai produk kreatif serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Selain itu, lingkungan desa menjadi lebih bersih dan sehat, meskipun masih terdapat kendala dalam meningkatkan partisipasi secara menyeluruh.

Diskusi/Pembahasan

Program sedekah sampah terbukti efektif sebagai model pemberdayaan masyarakat karena mampu mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Namun, tantangan utama terletak pada perubahan perilaku masyarakat yang memerlukan waktu dan proses berkelanjutan. Selain itu, keterbatasan fasilitas dan dukungan juga menjadi hambatan dalam pelaksanaan program. Oleh karena itu, diperlukan edukasi, pelatihan, serta dukungan dari pemerintah dan lembaga terkait agar program dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.

Kesimpulan

Program sedekah sampah merupakan solusi inovatif dalam mengatasi permasalahan sampah sekaligus memberdayakan masyarakat. Program ini mampu meningkatkan kesadaran, kemandirian, dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Selain berdampak positif terhadap lingkungan, program ini juga berpotensi meningkatkan perekonomian masyarakat. Namun, keberhasilan program sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan, partisipasi aktif masyarakat, serta dukungan dari berbagai pihak.





Senin, 27 April 2026

ESSAI KE - 3 : BEFORE-AFTER

Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 3

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


PENGARUH KONDISI LINGKUNGAN TERHADAP PERILAKU MEMBUANG SAMPAH (Before-After :  di Area Pertokoan  dan Lapangan )

(Jenis sampah yang dikumpulkan plastik dan botol plastik seberat ± 1kg yang disumbangkan ke Bank Sampah)

Sebelum melakukan kegiatan pembersihan sampah, saya memandang kondisi lingkungan yang kotor sebagai sesuatu yang biasa dan tidak terlalu menjadi perhatian. Persepsi saya saat itu menganggap bahwa sampah hanyalah bagian dari aktivitas sehari-hari yang wajar ditemui, terutama di tempat umum. Pengalaman ini berubah ketika saya melakukan observasi dan melakukan pembersihan pada dua lokasi berbeda.

Lokasi 1 ” Pasar shoping/ pertokoan yang dekat dengan Pasar


Pada hari Jum’at tanggal 24 April 2026, sekitar pukul 16.00 sore – 17.30 WIB saya  mengamati daerah pertokoan yang berada di dekat Pasar Shoping Salatiga, saya melihat dan menemukan beberapa sampah plastik dan botol minuman yang berserakan  di depan toko/ kios tersebut, ada juga beberapa yang sudah dibungkus plastik namun masih diletakkan di depan toko, dan saya tidak menemukan adanya kranjang atau tong sampah disekitaran pertokoan tersebut, sehingga saya berpikir mengapa jalanan banyak sekali sampah berserakan dan terlihat kotor/ kumuh hal tersebut salah satunya karena ketidaktersediaan tempat sampah yang memadai untuk tempat membuang sampah dan pada akhirnya saya beranggapan jika mungkin saja tempat tersebut “dipersepsikan” sebagai tempat yang tidak memiliki aturan jelas terkait pembuangan sampah. Beberapa orang yang lewat di area tersebut , termasuk juga para -pedagang yang berada disekitaran  area tersebut, merasa bahwa membuang sampah sembarangan adalah hal yang dapat diterima/ wajar.

Kemudian sekitar 1 jam’an, setelah saya melakukan pembersihan (after), terdapat perubahan yang nampak terhadap area /lingkungan sekitar, dimana menjadi lebih rapi dan bersih. Perubahan ini membuat saya menyadari bahwa keadaan lingkungan secara nyata dapat memengaruhi persepsi seseorang. Lingkungan yang bersih cenderung mendorong kita untuk mempertahankan kebersihan tersebut.

Lokasi kedua : Lapangan di dekat SDN 02 Kumpulrejo dan Kelurahan Kumpulrejo Kota Salatiga                                  


Pada  hari Minggu tanggal 26 April 2026, sekitar pukul 16.30 WIB sampai dengan 17.30 WIB saya melakukan pengamatan / observasi terhadap lokasi kedua yaitu lapangan Kumpulrejo yang berada di depan SDN 03 Kumpulrejo dan Kelurahan Kumpulrejo Kota Salatiga, saya menemukan banyak sampah kecil yang tersisa berupa plastik, tali rafia, botol minuman dan sobekan kertas kecil yang bertuliskan undian, kertas-kertas tersebut berasal dari kegiatan yang dilakukan dilapangan tersebut pada hari Sabtu pagi. Saya melihat ada beberapa tempat sampah yang berada di depan kelas SDN 03 Kumpulrejo dan yang ada didepan Kelurahan Kumpulrejo atau kedua tempat sampah tersebut tidak jauh dari lapangan. Namun pada kenyataannya, sampah tetap berserakan hingga keesokan harinya, dimana saya sengaja menunggu sampai hari minggu karena beranggapan jika mungkin dari panitia acara atau petugas kebersihan ada yang membersihkan lapangan tersebut, namun sampai hari minggu, keadaan tetap sama. Beradasarkan pengamatan yang saya lakukan dari hari jumat dan sabtu, di hari Jum’at ada beberapa sampah yang berserakan namun di Jum’at sore tenda mulai dipasang dan kondisi lapangan tampak bersih, namun sayangnya selesai acara berakhir yaitu Sabtu siang, ada sampah yang mulai tercecer atau ada beberapa sampah yang berserakan.

Kemudian saya memulai membersihkan lapangan tersebut (after), kondisi sekitar tampak jauh lebih rapi dan bersih dibandingkan sebelumnya. Sampah-sampah kecil seperti plastik, kertas undian, dan  botol plastik yang sebelumnya tersebar sudah tidak terlihat lagi. Lapangan tampak terlihat seperti sebelum digunakan untuk kegiatan, sehingga memberikan kesan lingkungan sekitar lapangan terawat.

Permasalahan

Permasalahan yang ada pada kedua lokasi adalah terbentuknya kebiasaan membuang sampah sembarangan yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Dilokasi pertama, kurangnya fasilitas tempat sampah membuat orang cenderung membuang sampah di sembarang tempat. Sementara di lokasi kedua, meskipun sudah tersedia tempat sampah, sampah tetap berserakan dan hal tersebut salah satunya disebabkan karena kurangnya kepedulian atau kesadaran seseorang untuk menjaga lingkungan tetap bersih serta kurangnya rasa tanggung jawab bersama dan adanya anggapan bahwa orang lain akan membersihkannya. Selain itu, kondisi lingkungan yang sudah kotor membuat perilaku tersebut  semakin dianggap hal yang wajar  dan terus berulang.

Kesimpulan

Berdasarkan  hasil pengamatan  before-after di dua lokasi, dapat saya simpulkan jika keadaan lingkungan berperan penting dalam membentuk perilaku dan persepsi seseorang terhadap kebersihan. Dimana lingkungan yang kotor, cenderung menciptakan anggapan bahwa membuang sampah sembarangan adalah hal yang wajar, sedangkan lingkungan yang bersih mendorong kita untuk  tetap menjaga kebersihan tersebut. Permasalahan lingkungan yang kotor terkait membuang sampah sembarangan bukan saja disebabkan oleh faktor keadaan lingkungan tersebut namun juga oleh norma sosial dan rasa tanggungjawab, dimana pada lokasi pertama keterbatasan fasilitas memicu  perilaku membuang sampah  sembarangan sedangkan pada lokasi kedua, meskipun ada fasilitas tersedia, sampah tetap berserakan dan hal ini karena kurangnya tanggungjawab secara bersama dan adanya kecenderungan untuk mengandalkan pihak lain dalam menjaga kebersihan. Dengan demikian, perubahan kondisi lingkungan melalui pembersihan dapat memberikan dampak positif, namun hanya bersifat sementara jika tidak didukung oleh fasilitas yang memadai, norma sosial yang kuat dan kesadaran bersama dalam menjaga lingkungan.


ESSAI 1: Meringkas Jurnal Sampah

Perilaku Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Perkotaan

(Community Behavior in Household Waste Management in Urban Areas)

Yufika Dwi Rezeki

25310440003

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta


Topik:

Pengelolaan sampah rumah tangga, perilaku masyarakat, kesadaran lingkungan, 3R.

Sumber:

Salsabilla, H., Hutahayan, H. R., Sulhas, S., & Saputra, B. (2025). Perilaku Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Perkotaan. Jurnal Edu Research, Vol 6(4), 829–839.

Permasalahan:

Jurnal ini membahas perilaku masyarakat perkotaan dalam mengelola sampah rumah tangga yang masih belum efektif. Banyak masyarakat masih terbiasa membakar sampah, membuang sampah sembarangan, dan belum memilah sampah dari rumah. Selain itu, keterbatasan fasilitas seperti TPS dan layanan pengangkutan sampah membuat pengelolaan sampah belum berjalan dengan baik. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan hanya soal volume sampah, tetapi juga berkaitan dengan kebiasaan masyarakat sehari-hari.

Tujuan Penelitian:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga di Kecamatan Kuranji, Kota Padang, serta faktor-faktor yang memengaruhinya.

Isi:

Jurnal ini menjelaskan bahwa persoalan sampah rumah tangga di perkotaan tidak hanya berkaitan dengan jumlah sampah, tetapi juga dengan kebiasaan masyarakat sehari-hari. Di Kecamatan Kuranji, sebagian masyarakat masih mengelola sampah dengan cara dibakar atau dibuang ke tempat terbuka karena dianggap lebih praktis dan cepat. Padahal, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa masyarakat masih jarang memilah sampah organik dan anorganik dari rumah. Kebiasaan mencampur sampah membuat proses pengelolaan menjadi lebih sulit. Selain itu, keterbatasan fasilitas seperti TPS, sarana pengelolaan, dan pengangkutan sampah membuat masyarakat cenderung memilih cara yang paling mudah dalam membuang sampah.

Metode:

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, lalu dianalisis secara deskriptif untuk melihat gambaran perilaku masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.

Hasil:

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku masyarakat dalam mengelola sampah masih didominasi cara tradisional, terutama membakar sampah. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah juga masih rendah. Namun, sebagian kecil masyarakat mulai menunjukkan perubahan dengan membuang sampah ke TPS, memilah sampah sederhana, dan mengolah sampah organik menjadi kompos.

Diskusi:

Dari sudut pandang psikologi lingkungan, perilaku masyarakat terhadap sampah terbentuk dari kebiasaan yang terus diulang dan dianggap wajar di lingkungan sekitar. Kebiasaan membakar sampah akhirnya menjadi perilaku yang dianggap normal. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh kebiasaan sosial, lingkungan fisik, dan fasilitas yang tersedia.

Kesimpulan:

Jurnal ini menunjukkan bahwa masalah sampah rumah tangga di perkotaan masih dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat, rendahnya kesadaran lingkungan, dan keterbatasan fasilitas. Karena itu, pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan perubahan kebiasaan masyarakat agar tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.


Minggu, 26 April 2026

ESSAI 2 - PLOGGING

 

KUS WITA WARDANI
25310430002
Psikologi Lingkungan
Kelas Karyawan (B)
Tugas Essai 2 – Plogging
Dosen Pengampu        : Dr. Arundati Shinta M.A.

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 
YOGYAKARTA



PENDAHULUAN

Plogging

Mungkin dari kita banyak yang belom mengenal istilah "plogging". Kata plogging berasal dari gabungan 2 bahasa, yaitu Bahasa Swedia “plocka upp,” yang berarti “pick-up” atau mengambil, dengan kata “jogging,” yang berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu berlari kecil/berlari santai. Jadi plogging dapat diartikan berlari santai sambil memungut sampah. 
Pada kesempatan kali ini, secara sekilas saya akan membagikan aktifitas plogging yang saya lakukan. Aktifitas ini saya lakukan selain untuk memenuhi tugas Psikologi Lingkungan, saya juga ingin mencoba hal baru selain hanya olahraga/jogging semata. Aktifitas plogging ini adalah pengalaman baru buat saya, sebelum saya melakukan plogging saya terlebih dahulu mencari referensi apa saja yang perlu saya siapkan dan menentukan rute yang akan saya lalui dalam kegiatan plogging ini. Selain itu juga, kita perlu mempersiapkan perlengkapan plogging yang dibutuhkan dalam menunjang kegiatan pemungutan sampah seperti sarung tangan, plastik sampah yang akan digunakan untuk media tempat saat kita mengumpulkan sampah-sampah tersebut, dan juga pembersih tangan/ hand sanitizer (jika diperlukan).


PELAKSANAAN PLOGGING

Plogging 1

Kegiatan plogging pertama ini saya lakukan sendirian. Saya melakukan plogging di hari Jumat, 24 April 2026, sore hari sekitar pukul 15.00 WIB – 16.30 WIB yang berlokasi di area sekitar rumah, rute yang saya lalui adalah Jalan Palem Raya - Jalan Tugu Penen – Jalan Pandanaran, Desa Pelem, Harjobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. 

Plogging pertama ini saya lakukan dengan cukup antusias, ini pertama kalinya saya melakukan jogging dengan kegiatan memungut sampah di waktu yang bersamaan. Disepanjang rute yang saya lalui, saya cukup banyak menemukan botol plastik kemasan, cup minuman plastik, bungkus kemasan snack, botol kopi kemasan, tas plastik bekas pakai, baterai bekas, baju bekas,putung rokok, tisu bekas. 

 Foto plogging 1:   Before - After

 Plogging 2

Kegiatan plogging yang kedua saya lakukan dengan konsep yang berbeda, kali ini saya mengajak anggota keluarga kecil untuk ikut aktif dalam kegiatan ini, motif saya adalah memberikan informasi/ mengedukasi, mengajak sekaligus  family time dengan style/ cara yang berbeda dalam satu waktu. Untuk kegiatan plogging yang kedua ini, kami lakukan pada pagi hari, Sabtu, 26 April 2026 sekitar pukul 06.00 WIB -08.00WIB. Untuk areanya, masih dalam area sekitar rumah tetapi kali ini saya mengambil rute agak jauh. Rute kali ini adalah Jalan Pandanaran – Jalan Dusun Mrisen -Jalan rejodani Desa Pelem, Harjobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta.

Plogging kedua ini dirasa memberikan tambahan stimulus tersendiri, terasa sangat berbeda karena dilakukan bersama orang-orang tersayang. Bersama-sama saling belajar merubah persepsi tentang sampah yang dikonotasikan dan dinilai buruk diubah menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Di sepanjang rute kedua ini, sampah yang saya temui kurang lebihnya masih sama seperti saat plogging pertama, bahkan kami menemui juga di beberapa tempat ditemukan sampah basah yang diletakkan tidak pada tempatnya, sehingga menimbulkan bau tidak sedap.

Foto plogging ke 2: Before-After


PEMBAHASAN

Hasil yang saya kumpulkan dari aktivitas plogging satu dan kedua yang sudah saya lakukan tidaklah banyak, karena langkah awal yang saya lakukan ini dimulai dengan langkah kecil dengan area yang tidak luas. Menurut pendapat saya pribadi, proses belajar tidak harus dilakukan dengan langkah dengan skala besar, tetapi langkah kecil dan nyata serta konsistensi jauh lebih efektif daripada hanya sekedar opini dan perencanaan tanpa tindakan nyata. Hasil plogging tersebut saya pilah berdasarkan jenis sampah (organik, anorganik, sampah B3) lalu saya bawa ke pengepul rongsok, ditimbang dan dihargai sebesar Rp.5200,-, memang tidak banyak dari segi hasil penjualan (motif ekonomi), tetapi disini saya (khususnya) dan anggota keluarga kecil mendapat manfaat yang lebih dari sekedar nominal/materi, dimana kita dapat merubah persepsi buruk mengenai sampah menjadi persepsi baik, bahwa berinteraksi dengan sampah itu menyenangkan dan sampah itu bermanfaat, selain itu kita dapat belajar lebih memperhatikan lingkungan sekitar (khususnya masalah sampah) sambil berolahraga.

Dari kegiatan plogging yang saya lakukan ini dengan melihat banyaknya sampah fisik yang berserakan di sepanjang jalan, dapat kita simpulkan bahwasanya minimnya edukasi dan kesadaran masyarakat untuk membuang sampah di tempatnya, serta kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kepedulian lingkungan dan ekosistem sekitar. 


KESIMPULAN dan SARAN

Permasalah mengenai sampah adalah permasalahan global yang tidak kunjung usai, plogging adalah salah satu dari sekian cara yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi nyata untuk lingkungan sekitar. Dengan plogging kita dapat berperan secara nyata untuk ikut berpartisipasi menangani masalah sampah di sekitar kita dengan mengurangi jumlah sampah yang dibuang secara sembarangan. Dari kacamata ilmu psikologi, khususnya psikologi lingkungan, plogging tidak hanya memberikan manfaat secara fisik/ jasmani tetapi juga pada kesehatan mental dan juga meningkatkan kesadaran sosial kita untuk lebih mencintai lingkungan. Plogging selain dapat dilakukan secara sendiri, juga dapat dilakukan bersama keluarga, teman, kerabat, komunitas.  Plogging yang dilakukan secara berkelompok memberikan tambahan manfaat seperti melatih kerjasama dan meningkatkan rasa solidaritas.

Sebagai masyarakat, dan juga sekaligus sebagai mahasiswa jurusan psikologi lingkungan, hendaknya kita lebih perduli terhadap kebersihan lingkungan, khususnya dengan aktivitas plogging dapat merubah persepsi atau cara pandang kita mengenai sampah ke arah yang positif dan dapat ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan secara berkesinambungan/continue, dimulai dari diri sendiri dan berusaha untuk mengajak teman, keluarga, komunitas atau orang lain untuk bisa ikut aktif dalam aktivitas tersebut. 

Langkah nyata kecil kita diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi lingkungan ... Selamat Berproses ...