Selasa, 21 April 2026

ESSAI KE 2 : PLOGGING DI DUA LOKASI BERBEDA

Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 2

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 

Plogging : Tanggung Jawab Lingkungan: Perbandingan Dua Lokasi


Kegiatan plogging (olahraga sambil memungut sampah) yang saya lakukan memberikan pengalaman baru bagi saya yaitu berolahraga sambil memungut sampah di sepanjang jalan yang sayta lewati. Kegiatan ini  saya lakukan di dua lokasi berbeda, yaitu sepanjang Jalan Lingkar Selatan (JLS) di Kota Salatiga dan Jalan utama di lingkungan tempat tinggal saya yaitu di Kelurahan Kumpulrejo Kota Salatiga. Dari kedua lokasi tersebut, terlihat perbedaan yang cukup mencolok dalam jumlah sampah dan beberapa faktor yang mempengaruhinya.


Lokasi 1: Jalan Baru / Jalan Lingkar Selatan Kota Salatiga


Pada lokasi pertama, saya melakukan plogging sambil berolahraga yaitu pada hari Kamis tanggal 16 April 2026,  mulai pukul 05.00 hingga sekitar 06.30 pagi.  Saat itu suasana masih cukup sepi. Selama kurang lebih satu jam, saya berjalan menyusuri sepanjang jalan  di Jalan Baru / Jalan Lingkar Selatan yaitu mulai dari Rumah saya di daerah Tetep Wates - lampu merah perempatan Randuacir - Pabrik SCI sampai di Pertigaan Cebongan Kota Salatiga,  disepanjang jalan tersebut, saya berjalan sambil memunguti sampah. Menariknya, aktivitas Plogging ini terasa berbeda dibandingkan olahraga biasa. kegiatan olahraga yang biasanya saya lakukan, terasa melelahkan, namun saat plogging justru terasa lebih menyenangkan dan tidak terlalu terasa lelah. Hal ini mungkin karena adanya tujuan tambahan, yaitu sambil membersihkan jalanan yang saya lewati, sehingga kegiatan fisik  yang saya lakukan, terasa lebih bermakna. Saat berada di lokasi pertama, saya menemukan banyak sampah seperti botol plastik, gelas plastik, dan sampah lainnya. Saya memilih untuk memungut sampah plastik yang paling banyak terlihat (nantinya akan saya salurkan atau mengumpulkannya di Bank Sampah yang ada di Kota Salatiga). Kondisi  dilokasi pertama tersebut menunjukkan kebersihan di area tersebut belum bersih secara optimal., dan penyebabnya kemungkinan  bukan saja karena tingkat kepedulian masyarakat yang kurang terhadap lingkungan sekitarnya, namun karena jalan ini merupakan jalur cepat yang dilalui banyak kendaraan, sehingga besar kemungkinan sampah berasal dari pengguna jalan yang melintas, bukan hanya warga setempat.

Lokasi 2: Jalan Utama Dekat Rumah ( Jalan Desa ) Kelurahan Kumpulrejo Kota Salatiga

Berbeda dengan lokasi pertama, di lokasi kedua, saya melakukan plogging pada hari sabtu, tanggal 18 April 2026 di jam yang hampir sama dengan lokasi pertrama yaitu di pagi hari sekitar Pukul 05.00 sampai dengan pukul 06.30, saya berjalan di sepanjang jalan utama di lingkungan tempat tinggal saya, yaitu mulai dari Rumah- Kelurahan Kumpulrejo- Prospero- Kenteng. Jumlah sampah yang saya temukan dalam perjalanan tersebut, lebih sedikit dibandingkan dengan yang di Jalan Lingkar Salatiga. Meskipun jalan ini juga dilalui kendaraan, kebersihannya lebih terjaga. Hal ini mungkin dipengaruhi, banyaknya rumah-rumah atau padatnya pemukiman penduduk sehingga  saya merasa jika setiap orang  memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Seperti ada norma sosial yang tidak tertulis  bahwa setiap warga bertanggung jawab atas kebersihan di sekitar rumahnya, setidaknya di  bagian / area depan rumah.

Namun demikian, saya masih menemukan beberapa sampah seperti kertas, botol plastik dan gelas plastik serta bungkus makanan ringan di pinggir jalan atau area rerumputan. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku ataupun kesadaran membuang sampah pada tempatnya, belum sepenuhnya hilang di masyarakat kita, padahal disetiap rumah sudah memiliki tong sampah sendiri, sehingga kemungkinan berasal dari pengguna jalan atau kurangnya kesadaran pada sebagian orang yang membuang sampah dijalanan tersebut.

Permasalahan

Dalam perspektif psikologi sosial, kondisi ini dapat dikaitkan dengan fenomena disfungsi tanggung jawab, di mana seseorang merasa bahwa menjaga kebersihan bukan sepenuhnya tanggung jawab pribadi, melainkan tanggung jawab bersama atau bahkan tanggung jawab pihak tertentu seperti petugas kebersihan dan dalam hal ini adalah Pemerintahan Kota Salatiga. Selain itu, Keadaan lingkungan seperti kurangnya tempat sampah, atau minimnya pengawasan juga dapat memperkuat perilaku membuang sampah sembarangan, Dimana disepanjang jalan yang saya lewati tidak ada tulisan himbauan untuk membuang sampah pada tempatnya ataupun larangan membuang sampah sembarangan.

Kesimpulan

Dengan melihat kedua lokasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa perilaku terhadap kebersihan lingkungan tidak hanya dipengaruhi oleh kepedulian seseorang/ masyarakat sekitar, tetapi juga oleh faktor keadaan lingkungan, seperti kondisi jalan, kepadatan penduduk, serta norma sosial yang berlaku di masyarakat. Oleh karena itu, upaya meningkatkan kebersihan lingkungan atau kesadaran masyarakat terhadap lingkungan, bukan saja melalui edukasi tentang kesadaran lingkungan, tetapi juga penguatan norma sosial, penyediaan fasilitas yang memadai, serta penegakan aturan yang tegas (larangan, sanksi, himbauan) yang mendukung kebiasaan dalam menjaga kebersihan lingkungan.


0 komentar:

Posting Komentar