Selasa, 28 April 2026

ESSAI 4 KOMITMEN PRIBADI TERHADAP SAMPAH

 

Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 3

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

KOMITMEN PRIBADI TERHADAP SAMPAH DAN PENGELOLAAN SAMPAH 

Link Video : https://vt.tiktok.com/ZS9SorQWN/

Sebelum mempelajari psikologi lingkungan, saya memandang sampah sebagai sesuatu yang biasa karena buka sesuatu yang saya pikirkan dan tidak pernah benar-benar saya lihat. Bagi saya, sampah hanyalah kotoran atau sesuatu yang tidak memiliki nilai, dan cukup untuk dijauhkan, sehingga kepedulian saya terhadap sampah sangat kurang. Namun, setelah mendapatkan pemahaman dalam mata kuliah Psikologi Lingkungan ditambah lagi dosen sendiri sangat giat mendorong kami untuk lebih peduli pada lingkungan terutama dalam pengelolaan sampah, dan dengan tugas-tugas yang diberikan terkait dengan sampah ( Pogging, before dan after ), pandangan saya mulai berubah terhadap lingkungan sekitar termasuk kepedulian terhadap sampah yang berceceran/berserakan.

Saya tidak lagi bersikap tidak peduli atau tutup mata ketika melihat sampah yang berserakan atau tercecer disekitar saya, ada dorongan yang kuat untuk mengumpulkan sampah-sampah tersebut dan membuangnya ditempat sampah atau mengumpulkannnya jika memang tidak ada fasilitas tempat sampah disekitar sampah yang berserakan tersebut bahkan saya mulai membawa kantong plastik untuk berjaga-jaga jikalau menemukan sampah yang berceceran termasuk di tempat umum seperti taman, lapangan, alun-alun dan atau jalan yang saya telusuri.

Kesadarsan ini mendorong terbentuknya perilaku pro-lingkungan, yaitu perilaku yang bertujuan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan. Saya mulai menyadari bahwa sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga memengaruhi perilaku manusia. Lingkungan yang kotor dapat menurunkan kenyamanan, memengaruhi suasana hati, bahkan membentuk kebiasaan buruk seperti membuang sampah sembarangan. Sebaliknya, lingkungan yang bersih mendorong perilaku yang lebih tertib dan peduli. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara manusia dan lingkungan bersifat timbal balik.

Selain itu, saya juga memahami bahwa sampah bukan semata-mata sesuatu yang menjijikkan. Memang, secara alami manusia memiliki tanggapan jijik terhadap sesuatu yang kotor, tetapi dengan pengelolaan yang tepat, sampah dapat memiliki nilai. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi barang yang bernilai ekonomi maupun sesuatu yang unik atau hiasan. Pemahaman ini mengubah cara pandang saya dari yang tadinya  berpikir cukup dengan “membuang” menjadi “mengelola”.

Berdasarkan pemahaman tersebut, saya membangun komitmen pribadi atau terhadap diri saya dalam pengelolaan sampah.

Pertama, Hal yang saya lakukan atau saya berkomitmen untuk tidak membuang sampah sembarangan dan selalu membuang sampah pada tempatnya.

Kedua, saya akan berusaha lebih aktif, tidak hanya menjaga kebersihan diri sendiri, tetapi juga lingkungan sekitar, baik di rumah maupun di tempat kerja. Hal ini termasuk mengumpulkan sampah yang berserakan di sekitar saya sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.

Ketiga, saya berkomitmen untuk mendukung kegiatan pengelolaan sampah yang lebih luas, seperti berpartisipasi dalam program bank sampah atau kegiatan “sedekah sampah”. Bagi saya, ini bukan sekadar mengerjakan tugas kuliah lagi, tetapi bentuk tindakan nyata.

Namun, saya juga menyadari bahwa perubahan perilaku tidak hanya bergantung pada satu orang saja, tetapi juga pada dukungan lingkungan sosial dan tentunya fasilitas yang memadai. Oleh karena itu, komitmen ini tidak hanya saya wujujdkan secara bertahap dan konsisten yang bukan saja untuk diri sendiri, tetapi juga sebagai upaya untuk memengaruhi atau memberikan contoh yang nyata kepada orang lain agar memiliki kesadaran yang sama.

Dengan demikian,  komitmen ini saya wujudkan secara bertahap dan konsisten, dimulai dari lingkungan terdekat yang dapat saya kendalikan. saya meyakini jika perubahan kecil yang dilakukan  secara terus-menerus, dapat memberikan dampak positif terhdap lingkungan sekitar. Dimana peran individu sebagai role model terbukti dapat mendorong orang lain untuk meniru perilaku peduli lingkungan, seperti membuang sampah  pada tempatnya dan mendaur ulang sampah dengan memilah terlebih dahulu sampah mana yang dapat dikelola atau yang masih bisa dimanfaatkan dan bernilai.

Daftar Pustaka

Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah

Dhabitha, B. Z. A. (2023). Faktor Determinan Perilaku Pro Lingkungan Mengelola Sampah. IDEA: Jurnal Psikologi.  Vol. 7 No. 1 (2023)

Rifayanti, R., dkk. (2018). Peran Role Model dalam Membentuk Perilaku Pro-Lingkungan. Psikostudia. Jurnal Psikologi Vol 7, No 2, Desember 2018

0 komentar:

Posting Komentar