Moch Aziiz Suharyadi
24310410211
Kelas Psikologi
Lingkungan - B
Dosen Pengampu:
Dr. Arundati Shinta M.A.
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Berkah di Balik Sampah: Eksperimen Upcycling Kreatif Bersama
Ibu Dosen
Minggu pagi itu rasanya beda dari biasanya. Saya dan
teman-teman kelas Psikologi Lingkungan kembali berkumpul di rumah Bu Shinta.
Kegiatan ini sebenarnya sudah yang kedua kalinya, tapi entah kenapa, kali ini
terasa lebih “kena” secara pribadi.
Beberapa hari sebelum itu, jujur saja saya lagi cukup
terganggu dengan satu hal yang kelihatannya sepele: sampah. Bukan cuma satu
dua, tapi tumpukan sampah anorganik yang seperti tidak ada habisnya botol
plastik, kaleng bekas, kain perca. Rasanya ke mana pun saya melihat, selalu
ada. Mau dibuang, tapi tahu itu bukan solusi. Mau diolah, tapi bingung harus
mulai dari mana. Rasanya sumpek, sampai kadang bikin kepala terasa penuh
sendiri.
Akhirnya, kegiatan di rumah Bu Shinta ini seperti jadi
jawaban yang saya butuhkan.
Pagi itu, dari jam 9 sampai sekitar setengah 12 siang,
halaman belakang rumah beliau berubah jadi tempat belajar yang benar-benar
hidup. Suasananya adem, banyak tanaman, dan yang menarik, bukan cuma kami
mahasiswa yang ikut, tapi juga ada ibu-ibu yang sudah lebih dulu terbiasa
mengelola sampah. Di situ saya ngerasa, ini bukan sekadar kegiatan kuliah, tapi
ruang belajar yang nyata.
Kami dibagi jadi dua kelompok. Kelompok saya kebagian
menghias piring kaca bekas dan paper bag. Awalnya saya kira bakal ribet, tapi
ternyata justru seru. Kami pakai kain batik atau kain bekas lain, ditempel di
bagian belakang piring pakai lem, dijemur, lalu dilapisi lagi biar lebih rapi
dan kuat. Prosesnya memang butuh sabar, tapi waktu lihat hasilnya piring bekas
yang tadinya biasa saja jadi terlihat cantik rasanya puas banget.
Lalu kami juga menghias paper bag dengan cat air. Nah, di
bagian ini saya merasa seperti “lepas”. Bebas gambar apa saja, bebas warna apa
saja. Tidak ada benar atau salah. Cuma menuangkan apa yang ada di kepala.
Ternyata, dari hal sederhana seperti itu saja bisa terasa menyenangkan.
Di sisi lain, teman-teman yang di kelompok kedua membuat
gantungan kunci dari tali masker dan benang bekas. Ada yang dianyam rapi, ada
yang dibuat menjuntai seperti hiasan. Kelihatannya sederhana, tapi ternyata
butuh ketelitian juga. Yang menarik, semua bahan yang dipakai itu awalnya
adalah “sampah”.
Tidak berhenti di situ, kami juga sempat mencoba membuat
lilin aromaterapi dari sisa lilin lama, lalu dicetak di kaleng bekas. Ada juga
yang mengolah plastik tebal jadi wadah cantik, bahkan merangkai parcel dari
bahan-bahan bekas. Di situ saya mulai sadar, ternyata kemungkinan dari “sampah”
itu jauh lebih banyak dari yang saya bayangkan.
Dari semua proses itu, ada satu hal yang paling terasa:
perubahan cara pandang. Yang tadinya saya lihat sebagai sesuatu yang
mengganggu, sekarang mulai saya lihat sebagai sesuatu yang bisa diolah. Yang
tadinya bikin stres, sekarang justru terasa menantang dan bahkan menyenangkan.
Kalau dipikir-pikir, ini bukan cuma soal daur ulang atau
upcycling. Ini soal bagaimana kita memaknai lingkungan di sekitar kita. Dari
sudut pandang Psikologi Lingkungan, pengalaman langsung seperti ini ternyata
jauh lebih kuat daripada sekadar teori. Kita jadi benar-benar “merasakan”,
bukan cuma “mengetahui”.
Yang paling saya ingat adalah perasaan di akhir kegiatan.
Ada rasa lega, tenang, dan sedikit bangga. Bukan karena hasilnya sempurna, tapi
karena saya akhirnya menemukan cara untuk tidak lagi merasa buntu menghadapi
sampah.
Pengalaman ini seperti menyadarkan saya bahwa menjaga
lingkungan itu tidak harus dimulai dari hal besar. Cukup dari hal kecil, dari
rumah, dari apa yang ada di sekitar kita. Dan yang paling penting, dimulai dari
cara kita melihat sesuatu.
Sekarang, setiap kali melihat sampah anorganik, perasaan saya sudah tidak sama lagi. Memang masih banyak, memang masih jadi masalah. Tapi setidaknya, saya tidak lagi merasa tidak berdaya. Karena saya tahu, selalu ada cara untuk mengubahnya asal kita mau mencoba.

.jpeg)
.jpeg)






0 komentar:
Posting Komentar