Selasa, 07 Juli 2026

ESSAY 9: NASABAH BANK SAMPAH

 

MENJADI NASABAH BANK SAMPAH SEMBADA


KUS WITA WARDANI

25310430002

Psikologi Lingkungan/ Kelas Karyawan (B)

Tugas: Essay 9 – Nasabah Bank Sampah

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Bulan/ tahun terbit: Juli/ 2026

 

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45


HARI/TANGGAL PELAKSANAAN KEGIATAN      : Sabtu dan Selasa/ 04 Juli 2026  dan 07 Juli 2026

TEMPAT PELAKSANAAN                                         : Bank Sampah SEMBADA

LOKASI                                                                        : Donokerto, Kec. Turi, Kab Sleman, DIY

 

TUJUAN KEGIATAN:

Kegiatan ini bertujuan agar kita bisa secara nyata mengelola sampah anorganik melalui bank sampah, sehingga kita bisa mengetahui bahwa sampah bisa dijual menjadi uang. Selain itu kegiatan ini dapat dilakukan sebagai stimulus pembentukan perilaku bertanggung jawab dan menghormati sampah.

 

PENDAHULUAN

Banyak dari masyarakat umum belom mengetahui apa yang dimaksud dengan bank sampah. Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai konsep bank sampah dan manfaaatnya, terlebih dahulu kita mempelajari sejarah singkat mengenai bank sampah. Bank sampah didirikan oleh Bambang Suwerda pada tahun 2008 di Desa Badegan Kabupaten Bantul, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan nama Bank Sampah Gemah Ripah.

Menurut Bambang Suwerda, bank sampah merupakan sistem pengelolaan sampah dari bagian hulu (rumah tangga) dengan pemilahan sampah. Konsep pengelolaan sampah seperti bank memberikan daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam bank sampah. Selain manfaat di bidang ekonomi (sampah dapat ditukarkan ke dalam bentung uang berupa tabungan), bank sampah juga sebagai salah satu aktivitas atau tindakan penyelamatan lingkungan dimana dari bank sampah ini masyarakat belajar untuk memilah sampah rumah tangga mereka, sampah organik dijadikan kompos dan sampah anorganik yang tidak dapat didaur ulang di rumah tangga dan memiliki nilai jual disetorkan ke bank sampah.

 

PELAKSANAAN KEGIATAN

Kegiatan ini saya laksanakan pada hari selasa, 7 Juli 2026 di salah satu bank sampah yang ada di Sleman Yogyakarta, yaitu Bank Sampah Sembada. Bank Sampah Sembada sendiri berdiri sejak tahun 2018 dan berlokasi di Jetis, Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bank Sampah Sembada ini berada di bawah naungan dari pendiri Bank Sampah Indonesia, bapak Bambang Suweda dan operasional lapangan dikelola langsung oleh bapak Agus Robanadi. Bank Sampah Sembada adalah salah satu bank sampah yang dalam aktivitas operasionalnya selain menggunakan pencatatan konvensional juga menggunakan sistem digitalisasi, saldo awal minimal untuk dapat buku tabungan adalah sebesar Rp. 5.000, - jikalau tidak sampai pada saldo minimal pada awal setoran, maka hanya dicatatkan pada slip setoran dan selanjutkan akan dicatat di buku besar. Pengambilan atau penarikan uang dapat dilakukan setiap saat (tidak ada ketentuan khusus), tetapi hendaknya nasabah yang ingin melakukan penarikan diharapkan mengkonfirmasi pihak Bank Sampah Sembada H-2 sebelum pengembilan, tetapi secara umum nasabah di Bank Sampah Sembada ini melakukan penarikan setiap satu tahun sekali menjelang Idul Fitri.  

Ini merupakan kedatangan saya yang kedua kali, sebelumnya saya datang di hari sabtu, 4 Juli 2026 tetapi tidak langsung menyetorkan atau menabung, pada kedatangan pertama saya di Bank Sampah Sembada saya bertemu dengan Pak Agus Robanadi selaku pengelola dari Bank Sampah Sembada. Pada kesempatan itu, Pak Agus Robanadi memberikan informasi secara detail mengenai sejarah berdirinya Bank Sampah Indonesia, Bank Sampah Sembada (kendala dan tantangannya), tata cara menabung di bank sampah, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan bank sampah. Jadi dalam tugas kali ini fokus saya tidak hanya menjadi nasabah bank sampah, tetapi saya juga sangat tertarik untuk mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan bank sampah agar apa yang saya lakukan bisa saya dapatkan esensinya secara menyeluruh.

Pada kesempatan ini, sampah anorganik yang akan saya setorkan sudah saya pilah terlebih dahulu berdasarkan jenisnya dan saya juga memastikan semua sampah organik yang akan saya setorkan itu dalam keadaan yang bersih. Sampah yang saya setorkan kali ini mulai dari sampah anorganik yang berbahan plastik, kardus, kertas duplex, dan aqua galon. Pada kesempatan kali ini saya diterima langsung oleh Pak Agus Robanadi, selanjutnya saya diminta untuk mengisi Formulir Pendaftaran Nasabah Baru Bank Sampah Sembada, setelah itu langkah selanjutnya sampah ditimbang berdasarkan jenisnya. Setelah semua sampah selesai ditimbang maka akan dihitung dan dicatat. Semua sampah yang saya setorkan kali ini dihargai sebesar Rp. 8.250, - (yang terdiri dari 5 galon air mineral, 2 kg kertas duplex, 2 kg kardus, dan beberapa botol minyak goreng dan beberapa sampah plastik kemasan kopi sachet, kemasan makanan kucing, kemasan pengharum dan kemasan detergent cair). Dikarenakan saldo awal saya lebih dari saldo minimum, maka pencatatannya dilakukan ke dalam buku tabungan, dan selanjutnya buku tabungan tersebut disimpan oleh pihak bank sampah tersebut.

 

           
Foto: Dok kedatangan pertama                     Foto: Dok sampah anorganik yang akan ditabung                           Foto: Dok sampah anorganik yang ditimbang

  
Foto: Dok bersama Bapak Agus Robanadi saat menjelaskan dan melakukan pencatatan dalan buku tabungan bank sampah Sembada

KESIMPULAN

Bagi saya pribadi, kegiatan kali ini merupakan pengetahuan baru yang cukup menarik, Dimana selain sebagai salah satu tugas mata kuliah psikologi lingkungan, dalam kegiatan ini saya secara nyata melakukan kegiatan memilah dan membersihkan sampah, mengantarkan sampah anorganik yang sudah saya pilah tersebut ke bank sampah, dan secara langsung belajar proses cara menabung dan proses menabung di bank sampah. Kegiatan ini secara umum memiliki esensi untuk memiliki sikap tanggung jawab dan menghormati sampah yang kita produksi. Diharapkan melalui kegiatan ini, saya dapat semakin mencintai lingkungan serta dapat terus konsisten dalam melakukan kegiatan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan diharapkan apa yang saya lakukan tersebut bisa menjadi contoh kepada orang lain, dimulai dari keluarga kecil saya sendiri. Karena saya percaya setiap langkah kecil yang kita lakukan sangat membantu untuk lingkungan hidup.

 

… TERUSLAH BERPROSES …


0 komentar:

Posting Komentar