Menjadi Nasabah Bank Sampah di Dusun Sribitan
Banun Havifah Cahyo Khosiyono (24310440002)– Mahasiswa Psikologi UP45, Mata Kuliah Psikologi Lingkungan, Dosen: Dr. Arundati Shinta, M.A. Kelas B.
Menjadi nasabah bank sampah di Dusun Sribitan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, bagi saya bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan sebuah komitmen nyata untuk menghormati sampah dan mengelolanya secara bertanggung jawab. Sejak April 2026, saya mulai menabung sampah anorganik di Bank Sampah “Sribitan Mandiri” yang beralamat di RT 05, Dusun Sribitan, Bangunjiwo. Identitas bank sampah ini jelas: memiliki pengurus resmi, buku tabungan nasabah, serta sistem pencatatan yang transparan. Dengan menjadi nasabah, saya belajar bahwa sampah bukan sekadar limbah, melainkan sumber daya yang bisa bernilai ekonomi.
Pada penabungan pertama, tanggal 15 April 2026, saya membawa sampah plastik berupa botol minuman dan gelas sekali pakai dengan total berat 3 kilogram. Sampah tersebut ditimbang oleh petugas, dicatat dalam buku tabungan, dan saya memperoleh Rp6.000. Meski jumlahnya tidak besar, pengalaman ini membuka mata saya bahwa sampah bisa benar-benar menjadi uang. Penabungan kedua saya lakukan pada 20 Juni 2026, dengan membawa kardus bekas dan kertas anorganik seberat 5 kilogram. Dari transaksi ini saya memperoleh Rp10.000. Buku tabungan saya kini berisi dua catatan transaksi yang menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan sampah anorganik dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan.
Namun, perjalanan menjadi nasabah bank sampah tidak selalu mulus. Permasalahan yang saya hadapi adalah adanya stigma dari sebagian masyarakat yang masih menganggap kegiatan menabung sampah sebagai pekerjaan “rendahan” atau identik dengan pemulung. Pandangan ini membuat beberapa orang enggan terlibat, padahal sesungguhnya bank sampah adalah sistem modern berbasis ekonomi sirkular. Dengan menabung sampah, kita tidak hanya memperoleh uang, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan pencemaran dan pembentukan perilaku bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Melalui pengalaman ini, saya menyadari bahwa menghormati sampah berarti menghargai proses hidup kita sendiri. Sampah adalah cermin konsumsi, dan dengan mengelolanya, kita belajar disiplin serta menumbuhkan rasa tanggung jawab. Menjadi nasabah bank sampah adalah langkah kecil namun bermakna untuk membangun budaya pro-lingkungan. Saya berharap pengalaman ini dapat menginspirasi masyarakat lain, terutama generasi muda, agar tidak malu menabung sampah. Justru dengan keterlibatan aktif, kita bisa membuktikan bahwa sampah adalah sumber daya yang bernilai, bukan beban.






0 komentar:
Posting Komentar