HERITAGE PHOTOGRAPHY COMPETITION 2026
DAN JALARUN FEST 6K (BUDAYAKAN
LARIMU) 2026
25310430002
Psikologi Lingkungan/ Kelas Karyawan
(B)
Tugas: Essai Partisipasi Lomba
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta
M.A.
Bulan/ tahun terbit: Juli/ 2026
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS
PROKLAMASI 45
PELAKSANAAN
KEGIATAN
1. HERITAGE PHOTOGRAPHY COMPETITION
2026
Hari/ Tanggal : Sabtu/ 27 Juni 2026
Tempat : KgD Kedhaton, KgD Wahanarata, dan KgD Tamansari Kraton
Yogya
Pukul : 07.30 – 16.30 wib
Tujuan kegiatan :
Heritage Photography Competition 2026 adalah sebuah event foto yang diselenggarakan oleh Kawedanan Radya Kartiyasa
Keraton Yogyakarta bekerja sama dengan mahasiswa salah satu kampus swasta
di Yogyakarta, kompetensi ini mengusung tema “LANGGENG RUPA” tema ini
meyoroti bagaimana manusia menjadi bagian yang menghidupkan ruang, tradisi, dan
budaya di tengah perubahan jaman dengan biaya pendaftaran sebesar Rp.85.000,- Warisan
budaya tidak hanya hidup dalam bangunan dan ruang bersejarah, tetapi juga
melalui manusia yang terus beraktivitas, berinteraksi, dan menjaga nilai-nilai
budaya di dalamnya. Juri dalam lomba Heritage Photography Competition
2026 kali ini adalah RM. Purwoguritno (Pengajeng Guritno Laksana
Kawedanan Tandha Yekti Keraton Yogyakarta), Bima Adithya (Fotografer
Profesional sejak 2009), dan Rio Pharaoh (Fotografer Profesional).
Secara
umum lomba ini mengajak seluruh peserta lomba untuk mengeksplorasi kawasan
wisata budaya Keraton Yogyakarta melalui pendekatan human interest photography
(salah satu genre dalam seni foto yang menampilkan manusia sebagai subjek
utama dan visual storytelling (mengabadikan
momen otentik yang memiliki narasi visual kuat, sehingga karya tersebut mampu
berkomunikasi dan menyampaikan pesan mendalam kepada penikmatnya). Dalam
kompetensi ini, peserta akan mendokumentasikan kehidupan, emosi, serta
interaksi manusia yang menghidupkan ruang-ruang warisan budaya. Di dalam event
ini, peserta dapat mengikuti pengalaman fotografi ekslusif “1 day, 3
places Photography Experience” dengan mengunjungi tiga unit wisata
Kraton Yogyakarta (Kedhaton, Wahanarata, dan Taman Sari).
Bagi
saya pribadi ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti kompetensi fotografi,
saya tertarik memilih event lomba ini karena karena selain untuk mengeksplor
hal baru yang belom pernah saya lakukan di bidang seni foto, selain itu saya
tertarik dengan konsep event/ kompetensinya, dimana memasukkan unsur kebudayaan
dalam acara ini (terjadi stimulus penguatan motivasi internal). Selain
itu, dalam event Heritage Photography Competition 2026 ini saya juga dapat
berkenalan dengan orang-orang baru dari berbagai daerah, terjadi transfer
knowledge mengenai ilmu fotografi.
Acara
dimulai dengan registrasi peserta, selanjutnya Opening dan Breefing yang
dibuka oleh perwakilan dari Kraton Yogyakarta dan breefing dari
perwakilan team panitia mengenai peraturan lomba beserta yang boleh dan tidak
boleh dilakukan selama mengikuti event tersebut. Dalam lomba kali ini,
peraturan lomba tidak hanya menekankan masalah teknis pengambilan foto tetapi
juga meliputi etika dalam bersikap dan cara berpakaian yang harus sopan (karena
lomba ini masih dalam naungan Kraton Yogyakarta). Yang menarik disini bagi
saya, dalam aturan lomba ini juga concern terhadap lingkungan seperti
tidak boleh membuang sampah sembarangan atau melakukan tindakan yang merusak
kawasan heritage dan dilarang merokok dan rokok elektronik selama kegiatan
berlangsung. Setelah opening dan breefing, selanjutnya adalah aktivitas hunting
session di tiga tempat wisata (sesi pertama berlokasi di Kedhaton, sesi
ke-2 berlokasi di Wahanarata, dan sesi ke-3 berlokasi di Taman Sari).
Dalam
event ini, Kraton Yogyakarta sangat hangat dalam menyambut kami (para peserta) dan
dikolaborasikan dengan team panitia lomba yang bekerja dengan sangat professional
menjadikan event ini adalah event yang sangat luar biasa di mata saya, selain
itu interaksi antar peserta lomba juga sangat humanis dan kekeluargaan sehingga
kesan kompetensinya menjadi sangat sehat, saya merasa sangat bahagia enjoy
selama event berlangsung. Banyak manfaat yang saya dapatkan dari event Heritage
Photography Competition 2026 ini selain pengalaman, transfer ilmu fotografi,
relasi baru, selain itu juga melalui event ini saya semakin menghormati dan
mencintai budaya dengan pendekatan yang berbeda. Sampai blog ini dipublish, untuk
e-sertifikat belom didapatkan dari panitia lomba tersebut.
2. JALARUN
FEST 6K (BUDAYAKAN LARIMU) 2026
Hari/ Tanggal : Minggu/ 28 Juni 2026
Tempat : Kampus UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta),
Pukul : 04.30 – 10.00 wib
Tujuan kegiatan :
Acara
ini diselenggarakan dengan memadukan semangat olahraga dengan kekayaan budaya
dalam satu pengalaman yang seru, sehat dan penuh warna. Biaya pendaftaran dalam
event lari ini adalah sebesar Rp. 70.000, - dengan mengusung konsep budaya,
Jalarun Fest 2026 bukan hanya sekedar sebagai ajang lari, tetapi juga sebagai
ruang untuk mengekspresikan kreativitas, kebersamaan, dan kecintaan terhadap
budaya lokal, ditambah lagi dalam event lomba lari ini saya melakukan bersama
teman kelas psikologi lingkungan lainnya sehingga hal ini merupakan penguatan
motivasi internal bagi saya.
Kegiatan
Fun Run (FR) sendiri akhir-akhir ini sangat diminati di kalangan masyarakat dan
menjadi gaya hidup sehat, kegiatan ini merupakan kegiatan lari yang dilakukan
secara santai dan menyenangkan, baik yang bersifat kompetensi maupun tidak (Scheerder et al., 2015).
Selain kesehatan secara fisik dan mental, kegiatan ini juga berperan penting
dalam menciptakan budaya olahraga yang positif dari berbagai kelmpok masyarakat.
Fun Run sendiri masuk kedalam kategori aktivitas fisik atau psychical
activity (PA), dimana aktivitas tersebut dapat mengurangi resiko penyakit
kardiovaskular, kelebihan berat badan, obesitas, diabetes tipe 2, stress dan
depresi.
Saya
menikmati rute dengan atmosfer festival yang energik, tidak hanya itu Jalarun
Fest juga menghadirkan kompetisi best costume bagi pelari yang tampil
unik, kreatif, dan mengangkat unsur budaya dengan gaya masing-masing. Dengan
perpaduan olahraga, hiburan dan budaya, bagi saya Jalarun Fest menjadi
pengalaman festival lari yang berbeda, menyenangkan, dan berkesan. Di dalam
event ini juga terdapat beberapa stand makanan, minuman, parfum dan beberapa
usaha UMKM lainnya, event ini ditutup dengan performance atau penampilan
dari beberapa band indies yang cukup meriah.
Bagi
para peserta yang tidak mencapai podium utama akan diberikan Finisher
Medal, terjadi opini dalam masyarakat mengenai “Kenapa semua finisher
dapat medali padahal tidak juara?”. Menurut pendapat saya, hal tersebut tidak
perlu menjadi hal yang perlu diperdebatan, karena berpartisipasi dalam sebuah
lomba adalah simbol bahwa kita sudah berhasil melawan rasa malas, takut gagal,
keberanian untuk start dan bertahan sampai melewati finish itu layak
diapresiasi.
Aprilo,
I., Arfanda, P. E., & Mappaompo, M. A. (2024). Fun Run: Gaya Hidup Sehat
Dengan Peningkatan Daya Tahan Kardiovaskular (Literature Review). 85–89.
Arfanda,
P. E., Aprilo, I., Mappaompo, M. A., Muhammad, H. N., & Jr, P. B. D.
(2024). Self-rated health of physical function, physical role, and bodily pain
are related to general health in the fun- community. 11(3), 365–368.
World Health Organization. (2018). Global Action Plan on Physical Activity 2018-2030: More Active People For A Healthier World. World Health Organization.
https://kebudayaan.jogjakota.go.id/page/index/kawasan-kraton












0 komentar:
Posting Komentar