Selasa, 05 Mei 2026

 

Esai 4 – Membuat Komitmen Tentang Sampah 

(https://www.youtube.com/watch?v=JP6M1MJEgXQ


Nama MK            : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Kelas                    : Karyawan (online)

Titik Muti’ah        (243010440004)                                  

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Topik

Komitmen Terhadap Pengolahan Sampah di Yogyakarta: Antara Krisis dan Kesadaran Kolektif

Permasalahan

Yogyakarta sedang menghadapi situasi yang bisa disebut sebagai krisis sampah. Data menunjukkan; produksi sampah harian mencapai sekitar 245-300 ton perhari, dimana saat musim liburan volume akan meningkat akibat wisatawan.

Masih ada puluhan ton sampah yang belum terkelola setiap hari, akibatnya sampah menumpuk hingga ribuan ton di depo sebelum dipindahkan. Sampah ada dimana-mana jujga di sungai setiap hari 2-3 ton sampah diangkat dari sungai, jenisnya termasuk popok , Styrofoam hingga Kasur.

Penutupan TPST Piyungan pada 2026 memperparah tekanan system pengolahan sampah.

Masalah sampah di Yogyakarta bukan sekedar teknis, tapi sudah menjadi krisis sistemik dan perilaku.  

Makna Komitmen

Komitmen terhadap sampah mencakup 1) komitmen Personal diantaranya dengan mengurangi penggunaan plastik dan memilah sampah rumahan, sebagai bentuk tanggung jawab individu sebagai produsen sampah. 2) Komitmen sosial karena sampah adalah masalah kolektif sehingga solusinya juga kolektif.  Diantaranya melakukan kerja bakti, terlibat atau menjadi nasabah bank sampah dan mestimulasi/mengingatkan orang lain. 3) Komitmen lingkungan berkelanjutan untuk mengurangi limbah dengan membiasakan perilaku 5R REDUCE (mengurangi), REUSE (gunakan kembali), RECYCLE (daur ulang), REPLACE (mengganti) dan REPLANT (menanam kembali).

Tujuan

Jika komitmen ini dilakukan secara konsisten akan sangat  membantu meminimalkan sampah, menghemat sumber daya dan melindungi lingkungan.

Perubahan Perilaku

Dalam perspektif Psikologi Lingkungan, perilaku pro-lingkungan sangat dipengaruhi Kesadaran Diri (mindset bahwa sampah berdampak buruk), Norma Sosial (yang mendukung perilaku bersih, sehat dan nyaman), Nantinya merubah Kebiasaan/Habit (disiplin berperilaku perduli sampah secara terus-menerus atau konsisten.

Refleksi

Kegiatan yang kita lakukan menjadi bentuk nyata komitmen, diantaranya dengan mengubah sikap dari ‘penonton’ menjadi ‘pelaku’, membuktikan perubahan perilaku bisa dimulai dari diri kita dan dapat memberikan tauladan kepada masyarakat. Kesimpulannya, kondisi di Yogyakarta yang istimewa ini mengajarkan bahwa masalah sampah menjadi tanggungjawab kita masing-masing, bukan hanya soal fasilitas dan teknologi saja tetapi soal komitmen Bersama antara individu, masyarakat dan pemerintah.  

 

0 komentar:

Posting Komentar