Esai 4 – Membuat Komitmen Tentang Sampah
(https://www.youtube.com/watch?v=JP6M1MJEgXQ
)
Nama MK : Psikologi
Lingkungan
Dosen Pengampu: Dr.
Arundati Shinta, M.A.
Kelas : Karyawan (online)
Titik Muti’ah (243010440004)
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
|
Topik |
Komitmen Terhadap
Pengolahan Sampah di Yogyakarta: Antara Krisis dan Kesadaran Kolektif |
|
Permasalahan |
Yogyakarta sedang menghadapi situasi yang bisa disebut sebagai krisis
sampah. Data menunjukkan; produksi sampah harian mencapai sekitar 245-300 ton
perhari, dimana saat musim liburan volume akan meningkat akibat wisatawan. Masih ada puluhan ton sampah yang belum terkelola setiap hari,
akibatnya sampah menumpuk hingga ribuan ton di depo sebelum dipindahkan. Sampah
ada dimana-mana jujga di sungai setiap hari 2-3 ton sampah diangkat dari sungai,
jenisnya termasuk popok , Styrofoam hingga Kasur. Penutupan TPST Piyungan pada 2026 memperparah
tekanan system pengolahan sampah. Masalah sampah di Yogyakarta bukan sekedar teknis,
tapi sudah menjadi krisis sistemik dan perilaku. |
|
Makna
Komitmen |
Komitmen terhadap sampah mencakup 1) komitmen
Personal diantaranya dengan mengurangi penggunaan plastik dan memilah sampah
rumahan, sebagai bentuk tanggung jawab individu sebagai produsen sampah. 2)
Komitmen sosial karena sampah adalah masalah kolektif sehingga solusinya juga
kolektif. Diantaranya melakukan kerja
bakti, terlibat atau menjadi nasabah bank sampah dan mestimulasi/mengingatkan
orang lain. 3) Komitmen lingkungan berkelanjutan untuk mengurangi limbah
dengan membiasakan perilaku 5R REDUCE (mengurangi), REUSE (gunakan
kembali), RECYCLE (daur ulang), REPLACE (mengganti) dan REPLANT
(menanam kembali). |
|
Tujuan |
Jika komitmen ini dilakukan secara konsisten akan
sangat membantu meminimalkan sampah,
menghemat sumber daya dan melindungi lingkungan. |
|
Perubahan
Perilaku |
Dalam
perspektif Psikologi Lingkungan, perilaku pro-lingkungan sangat dipengaruhi
Kesadaran Diri (mindset bahwa sampah berdampak buruk), Norma Sosial (yang
mendukung perilaku bersih, sehat dan nyaman), Nantinya merubah Kebiasaan/Habit
(disiplin berperilaku perduli sampah secara terus-menerus atau konsisten. |
|
Refleksi |
Kegiatan yang kita lakukan menjadi bentuk nyata
komitmen, diantaranya dengan mengubah sikap dari ‘penonton’ menjadi ‘pelaku’,
membuktikan perubahan perilaku bisa dimulai dari diri kita dan dapat memberikan
tauladan kepada masyarakat. Kesimpulannya, kondisi di Yogyakarta yang
istimewa ini mengajarkan bahwa masalah sampah menjadi tanggungjawab kita
masing-masing, bukan hanya soal fasilitas dan teknologi saja tetapi soal
komitmen Bersama antara individu, masyarakat dan pemerintah. |






0 komentar:
Posting Komentar