Heni Dwi Anggreani
25310440001
Kelas Psikologi Lingkungan
- B
Tugas Essai 9
Dosen Pengampu: Dr.
Arundati Shinta M.A.
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
PENGALAMAN MENJADI NASABAH di BANK SAMPAH
Berawal dari pemberian tugas mata kuliah Psikologi Lingkungan, dimana Dosen meminta kami untuk menjadi nasabah Bank Sampah, awalnya saya tidak begitu memahami tentang apa itu dan dimana lokasi Bank Sampah yang ada ditempoat tinggal saya di Kota Salatiga, kemudian hasil memungut sampah botol plastik saat Plogging dan beberapa botol-botol yang ada dirumah, saya kumpulkan dan kemudian saya berikan di Bank Sampah Induk yang ada di Kota Salatiga.
Saya mulai menjadi nasabah bank sampah pada tanggal 21 April 2026. Pada penyetoran pertama, saya mengumpulkan sampah botol plastik dengan berat sekitar 1,25 kilogram dan memperoleh nilai sebesar Rp1.375. Nilai tersebut memang sangat kecil apabila dilihat dari sisi ekonomi. Akan tetapi, pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata masih dapat dimanfaatkan kembali apabila dipisahkan / dikelompokkan dengan benar.
Kemudian, pada tanggal 11 Mei 2026 saya kembali menyetorkan sampah plastik ke bank sampah. Saat itu, sampah yang saya kumpulkan berupa botol plastik dan beberapa wadah botol bekas dengan berat sekitar 0,75 kilogram dan 0,55 kilogram. Dari hasil penimbangan tersebut saya memperoleh nilai sekitar Rp2.200 dan Rp2.860. Pengalaman mengumpulkan sampah untuk kedua kalinya membuat saya semakin memahami bahwa kegiatan bank sampah bukan sekadar tentang mendapatkan uang dari sampah. Nilai uang yang diperoleh memang tidak besar, tetapi terdapat makna yang jauh lebih penting, yaitu membangun kesadaran untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Melalui kegiatan tersebut, saya mulai memahami pentingnya memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Sampah organik dapat diuraikan atau dimanfaatkan kembali menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik seperti botol plastik dapat dikumpulkan dan didaur ulang melalui bank sampah. Kebiasaan sederhana seperti ini ternyata memiliki pengaruh terhadap pengurangan penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir, termasuk di TPA Ngronggo yang volumenya terus meningkat dari waktu ke waktu. Jika masyarakat tidak memiliki kesadaran dalam mengelola sampah, maka penumpukan sampah akan semakin besar dan dapat menimbulkan berbagai masalah lingkungan.
Permasalahan
Selain memberikan pengalaman positif, kegiatan di bank
sampah juga memperlihatkan berbagai persoalan yang masih terjadi dalam
pengelolaan sampah. Salah satu masalah yang saya lihat adalah para relawan bank
sampah yang bekerja dengan penuh kepedulian, tetapi belum mendapatkan
penghargaan atau upah yang layak. Padahal, mereka memiliki peran penting dalam
membantu masyarakat mengelola sampah dan mengurangi beban TPA. Pemerintah dalam
hal ini DLH Kota Salatiga sepertinya kurang begitu peduli terhadap
relawan-relawan yang ada di Bank Sampah hal ini terlihat dari beberapa petugas
atau relawan yang disana bercerita tentang harus membayar dengan uang sendiri
ketika tidak ada kas yang diperuntukkan untuk membayar tenaga seperti
pengepresan botol-botol plastik dan orang-orang yang disewa untuk memilah/
mengelompokkan sampah-sampah yang masih tercampur, atau kebutuhan-kebutuhan
lainnya yang berkaitan dengan pengelolaan sampah yang ada di Bank Sampah Induk
Kota Salatiga.
Kesimpulan
Menjadi nasabah bank sampah memberikan pengalaman yang
berharga dalam memahami persoalan sampah secara lebih nyata. Selama ini sampah
sering dianggap sebagai barang yang tidak berguna dan hanya perlu dibuang.
Namun, melalui kegiatan bank sampah, saya mulai memahami bahwa sampah
sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi apabila dipilah dan dikelola dengan
baik. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran bahwa pengelolaan
sampah merupakan tanggung jawab bersama untuk mengurangi penumpukan sampah di
lingkungan dan tempat pembuangan akhir (TPA). Dan dengan menjadi nasabah bank
sampah, saya belajar bahwa persoalan sampah bukan hanya tentang kebersihan
lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan kesadaran sosial, kebijakan
pemerintah, dan tanggung jawab bersama. Bank sampah memang belum mampu
menyelesaikan seluruh persoalan sampah, tetapi keberadaannya menjadi salah satu
hal yang penting untuk membangun kebiasaan peduli lingkungan di masyarakat.
”SAMPAHMU
ADALAH TANGGUNG JAWABMU”







0 komentar:
Posting Komentar