Senin, 11 Mei 2026

ESSAI VII - BELAJAR PENGELOLAAN SAMPAH DI TPST RANDU ALAS

 

Belajar Pengelolaan Sampah di TPS 3R Randu Alas, Sleman

 Nama                   : Mico Alan Sebastian

NIM                      : 22310410013

Kelas                   : SJ

Mata Kuliah         : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.


    Pada hari ini, Sabtu, 2 Mei 2026, telah dilaksanakan kunjungan lapangan ke TPS 3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) Randu Alas yang berlokasi di Dusun Candikarang, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman. Kunjungan ini bertujuan untuk membedah bagaimana sebuah komunitas lokal membangun sistem untuk mengelola sampah secara mandiri di tengah krisis lingkungan di wilayah Sleman. Sejarah tempat ini bermula dari langkah yang sangat organik; pada awal dibuka, warga yang ingin mendaftarkan diri agar sampahnya dikelola hanya dikenakan iuran awal sebesar Rp15.000 per orang. Biaya awal yang terjangkau ini menjadi stimulus penting untuk membangun komitmen warga di masa rintisan, yang saat itu hanya dikelola secara mandiri oleh empat orang pionir.

    Seiring berjalannya waktu, TPS 3R Randu Alas telah berkembang menjadi unit profesional yang melayani tiga kategori konsumen utama, yaitu Rumah Tangga, Rumah Tangga Usaha, dan Ruang Usaha. Keberlanjutan fasilitas ini bertumpu pada manajemen sumber daya manusia yang inklusif dan sejahtera. TPS ini memberdayakan SDM lokal, termasuk melibatkan kaum perempuan secara aktif dalam proses pemilahan sampah. Ketelitian mereka menjadi kunci dalam memisahkan sampah berdasarkan nilainya: sampah daur ulang disetorkan ke distributor, sedangkan sampah organik diolah secara produktif menjadi pupuk kompos, Eco-Enzyme, hingga penanganan Air Lindi (cairan hasil ekstraksi sampah organik). Produk kompos yang dihasilkan secara rutin disetorkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk keperluan perawatan taman-taman kota.

    Dari aspek Psikologi Industri dan Organisasi, profesionalisme manajemen terlihat dari pemberian gaji standar UMR dan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi seluruh karyawan, yang dibiayai mandiri dari hasil pengelolaan sampah. Hal ini menciptakan rasa aman kerja sehingga program regenerasi karyawan berjalan alami; setiap ada tenaga kerja yang keluar, akan selalu ada warga sekitar yang siap menggantikan. Namun, di sisi operasional, para pekerja harus berhadapan dengan risiko kerja yang riskan. Sebagai mitigasi, budaya keselamatan kerja diterapkan secara disiplin melalui penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) wajib berupa sepatu bot, sarung tangan, dan topi.

    Salah satu tantangan terbesar yang ditemukan dalam kunjungan ini adalah dilema persaingan pasar. Pengelola menghadapi hambatan besar dalam mendorong masyarakat agar mau memilah sampah dari rumah. Adanya persaingan dengan TPA swasta menciptakan pola pikir "terima beres" di benak warga. Jika prosedur di TPS 3R dirasa terlalu rumit dengan keharusan memilah, warga akan lebih cenderung berpindah ke layanan swasta yang tidak memberikan syarat pemilahan. Hal ini menjadi kendala serius dalam upaya mendorong perilaku pro-lingkungan, karena masyarakat seringkali lebih memilih kepraktisan daripada tanggung jawab ekologis.

    Selain kendala pasar, proses pengolahan juga menghadapi tantangan konflik lingkungan dengan warga sekitar terkait polusi asap dari pembakaran sampah yang masih menggunakan teknologi konvensional. Menanggapi komplain tersebut, pengelola melakukan adaptasi dengan membatasi jam pembakaran hanya hingga pukul 13.00 WIB. Meski sempat dilakukan forum mediasi dengan perwakilan 10 orang dari tiap dukuh, masyarakat belum mampu memberikan solusi alternatif jika fasilitas ini ditutup. Dilema ini semakin diperparah oleh faktor alam; saat musim hujan, sampah residu seperti popok sekali pakai (pampers) yang basah menjadi susah untuk dibakar, yang pada akhirnya memicu penumpukan limbah.

    Kunjungan ini menyimpulkan bahwa TPS 3R Randu Alas adalah contoh nyata resiliensi komunitas yang terus bernegosiasi dengan tantangan sosial, teknis, dan ekonomi. Keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya membutuhkan teknologi modern, tetapi juga dukungan kebijakan untuk mengubah persepsi masyarakat agar tidak sekadar mencari kepraktisan.

    Tempat ini memberikan pelajaran berharga bahwa mengubah perilaku manusia adalah tantangan yang jauh lebih besar daripada sekadar mengolah tumpukan sampah itu sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar