Senin, 11 Mei 2026

Essai 7 : Belajar di TPST Randu Alas

 

Pengelolaan Sampah di TPST Randu Alas sebagai Upaya Menjaga Lingkungan

Pingkan Winahyuningtyas

24310410234

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 7

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Pada hari Selasa, 5 Mei 2026 pukul 12.00 sampai 13.30 WIB, saya melakukan kunjungan observasi ke TPST Randu Alas yang beralamatkan di Candi Karang, Sardonoharjo, Ngaglik , Sleman, untuk belajar dan melihat secara langsung proses pengelolaan sampah. Dalam kegiatan ini, saya bertemu dan melakukan wawancara dengan Pak Joko, salah satu pengurus di TPST tersebut. Tempat pengolahan sampah ini memiliki sekitar 10 orang karyawan yang setiap hari bertugas mengelola sampah dari masyarakat.

Di lokasi tersebut terdapat beberapa alat pengolahan sampah, yaitu satu alat pemilahan, satu alat pres, satu alat penghancur, satu tempat pembakaran untuk sampah residu yang sudah tidak dapat didaur ulang serta alat lainnya seperti timbangan. Sampah yang masuk tidak langsung diproses, tetapi terlebih dahulu dipilah berdasarkan jenisnya seperti plastik, botol, kertas, dan sampah organik. Proses pemilahan sangat penting karena sampah yang sudah dipilah memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan sampah campuran.

Dalam proses pengolahan sampah, salah satu inovasi yang digunakan adalah pemanfaatan air lindi. Air lindi merupakan cairan yang berasal dari tumpukan sampah organik. Cairan ini diolah menjadi eco lindi, yaitu cairan penetral bau sampah yang ramah lingkungan. Eco lindi dibuat oleh Rania Naura, salah satu mahasiswi Biologi UGM, dengan mencampurkan air lindi, molase atau tetes tebu, katalis organik, dan asam sulfat. Hasil campuran tersebut mampu mengurangi bau menyengat pada sampah sekaligus membantu proses penguraian limbah organik.

Pemanfaatan eco lindi menjadi inovasi yang sangat bermanfaat karena dapat menjaga lingkungan sekitar tetap nyaman dan tidak menimbulkan bau yang mengganggu masyarakat. Pak Joko menjelaskan bahwa pengendalian bau sangat penting karena lokasi pengolahan sampah berada dekat dengan area kegiatan masyarakat yang cukup ramai. Selain itu, proses pembakaran sampah juga dibatasi hanya dari pukul 08.00 hingga 13.00 WIB agar tidak mengganggu lingkungan sekitar.

Menurut Pak Joko, pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar. pengelolaan dilakukan dengan cukup tertata, mulai dari pengendalian bau, pembatasan pembakaran, hingga proses pengolahan yang cepat agar sampah tidak menumpuk terlalu lama.

Pak Joko juga menceritakan awal mula dirinya serius mengelola sampah. Kesadaran tersebut muncul karena pada tahun 2010 lingkungan tempat tinggalnya mengalami masalah kesehatan akibat banyaknya sampah yang menumpuk. Sampah menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk sehingga menyebabkan kasus Demam Berdarah (DB). Kondisi semakin parah pada tahun 2013 ketika terdapat 13 warga yang terkena DB, termasuk anak Pak Joko sendiri. Kejadian tersebut menjadi titik awal bagi beliau untuk mencari solusi pengelolaan sampah yang lebih baik.

Setelah itu, Pak Joko mulai mengikuti berbagai sosialisasi lingkungan dan program bank sampah melalui relasi dengan pihak Kementerian Lingkungan Hidup. Pada tahun 2015, beliau mendapatkan dukungan dana sekitar Rp400 juta untuk mengembangkan fasilitas pengelolaan sampah. Pada awalnya seluruh proses masih dilakukan secara manual tanpa bantuan mesin modern sehingga membutuhkan banyak tenaga dan waktu. Namun, seiring berjalannya waktu fasilitas mulai berkembang dan mendapatkan bantuan alat dari pemerintah.

Dalam pengelolaan sehari-hari, masyarakat yang menggunakan layanan pengambilan sampah di TPST Randu Alas dikenakan iuran operasional sekitar Rp75.000 per bulan untuk rumah tangga dan Rp25.000 untuk kos-kosan. Iuran tersebut digunakan untuk kebutuhan operasional seperti transportasi, listrik, alat pengolahan, dan biaya pengelolaan sampah lainnya.

Di area belakang lokasi, sebelumnya pernah digunakan sebagai tempat budidaya maggot. Namun, kegiatan tersebut dihentikan sementara karena pada masa darurat sampah tahun 2023 area tersebut dipenuhi tumpukan sampah sehingga dialihfungsikan untuk mendukung proses pengelolaan lainnya.

Pak Joko juga menjelaskan bahwa sampah yang sudah di olah ada yang di distribusikan dalam jumlah besar ke wilayah Cilacap untuk dimanfaatkan oleh pabrik semen sebagai bahan campuran atau bahan bakar alternatif. Pada pengiriman sebelumnya jumlah sampah yang berhasil dikirim mencapai 1,5 ton, bahkan pada bulan berikutnya meningkat hingga 3 ton. Hal ini menunjukkan bahwa sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai ternyata dapat dimanfaatkan kembali dan memiliki nilai ekonomi.

Dari hasil observasi ini dapat disimpulkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan proses yang terstruktur mulai dari pemilahan, pengeringan, penghancuran, penyemprotan eco lindi, pengepresan, hingga pengiriman hasil olahan. Sampah yang awalnya dianggap tidak berguna ternyata dapat memiliki nilai ekonomi dan dimanfaatkan kembali dalam bidang industri maupun pertanian.

Kegiatan di TPST Randu Alas menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan hidup. Dengan adanya inovasi seperti eco lindi, dukungan pemerintah, serta partisipasi masyarakat, pengelolaan sampah dapat menjadi solusi untuk mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Lampiran

          

           





0 komentar:

Posting Komentar