Senin, 25 Mei 2026

UTS Psikologi Lingkungan Kelas Karyawan Mei 2026

 UJIAN TENGAH SEMESTER - MEI 2026

Rahardian Wicaksono

24310410218

PSIKOLOGI LINGKUNGAN - B

DOSEN PENGAMPU: Dr. Arundati Shinta, M.A.

25 Mei 2026

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta


    Bertambahnya penduduk dan pergeseran gaya konsumsi masyarakat mempengaruhi tingkat penumpukan sampah di seluruh daerah. Secara umum, Hambatan yang paling utama dalam pengendalian sampah bukan pada fasilitas teknologi daur ulang, tetapi pada pola pikir individu. Masyarakat sebenarnya mengetahui bahwa sampah dapat merusak lingkungan, tetapi tidak dapat berperilaku sesuai dengan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari. ketidaksesuaian antara apa yang dipahami dengan apa yang dilakukan bisa disebut sebagai kesenjangan nilai dan tindakan. Di daerah perkotaan, tata kelola kebersihannya dipengaruhi perilaku masyarakatnya yang belum baik, terutama di Indonesia (Wibowo, 2009). Hanya dengan membuang sampah di tempat sampah, masyarakat menganggap telah berperilaku peduli lingkungan. Padahal, setiap sampah yang dibuang ke tempat sampah jika terus menerus dibiarkan tanpa adanya pengelolaan yang baik dari individu akan berkontribusi tinggi pada penumpukkan sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu. Selain itu, kurangnya pemahaman terkait jenis plastik yang dimiliki masyarakat, juga menjadi alasan atau penyebab timbunan sampah hulu menjadi begitu sulit untuk dikurangi atau dikendalikan secara efektif (Setyowati & Mulasari, 2012).

    Agar pengendalian sampah dapat dilaksanakan secara efektif, perlu adanya edukasi terstruktur dan simulasi langsung bagi masyarakat terkait pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Salah satu solusi intervensi yang dapat dilakukan adalah dengan pengintegrasian konsep 3R (reduce,reuse, dan recycle) dengan tujuan membentuk perilaku atau kebiasaan baru yang berbasis perilaku ramah lingkungan (Wibowo, 2009). Reduce sebagai langkah ini sebagai tindakan prioritas atau pertama yang disarankan. Reduce berfungsi sebagai upaya preventif dalam mengurangi produksi sampah berlebih dan melatih pengendalian diri individu untuk mengurangi kebiasaan konsumtif impulsif yang berkontribusi pada peningkatan jumlah sampah sekali pakai. Reuse sebagai langkah kedua yang berfokus pada usaha memperpanjang umur ekonomis dan fungsionalitas suatu barang sebelum dikelompokkan menjadi sampah. Reuse dapat memotivasi individu untuk meningkatkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap barang-barang yang mereka miliki, sehingga tidak mudah menjadi sampah begitu saja. Recycle  sebagai langkah terakhir yang melibatkan proses pemilihan dan penyortiran sampah berdasarkan jenisnya, sampah organik atau anorganik, sampah kering atau sampah basah. Melalui kegiatan recycle atau penyortiran sampah, individu dapat menekan jumlah sampah yang sampai di TPST secara efektif dan memperoleh pengetahuan terkait bentuk-bentuk sikap peduli lingkungan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari (Setyowati & Mulasari, 2012).  

    Bagan 3R:

    Saya sangat setuju dengan pernyataan bahwa perilaku 3R adalah pendekatan yang efektif dalam mengurangi tumpukan sampah di berbagai konteks sosial dan geografis. Dari sudut pandang Psikologi Lingkungan, hirarki 3R telah mempermudah beban psikologis dan kognitif masyarakat dalam menentukan tindakan seperti apa yang dapat dilakukan dan langkah apa yang dilakukan lebih dulu. Keberhasilan praktik di TPST Randu Alas, Sleman menunjukkan bahwa ketika struktur lingkungan berupa fasilitas yang mendukung hirarki ini, maka perilaku ramah lingkungan akan lebih mudah terbentuk. Penanggulangan sampah di perkotaan tidak bisa hanya mengandalkan sarana teknologi pembuangan saja, melainkan harus sampai pada sisi psikologis manusia yaitu perubahan pola perilaku masyarakatnya. Ketika masyarakat mulai memahami secara penuh bahwa tindakan reduce memiliki efektivitas tertinggi dibanding sekadar membuang atau mendaur ulang, maka beban penanganan sampah di hilir akan berkurang secara signifikan. Oleh karena itu, sinergi antara edukasi terkait psikologi, khususnya perilaku dan kesadaran individu, serta penerapan hirarki 3R secara konsisten menjadi kunci utama untuk mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan.


Daftar Pustaka

Setyowati, R., & Mulasari, S. A. (2012). Pengetahuan dan Perilaku Ibu Rumah Tangga dalam Pengelolaan Sampah Plastik. Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 7.

Suwerda, B., Kurniawan, A., & Hardoyo, S. R. (2019). Pengelolaan Bank Sampah Berkelanjutan di Wilayah Perdesaan Kabupaten Bantul. Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan, 11(1).

Wibowo, I. (2009). Pola Perilaku Kebersihan: Studi Psikologi Lingkungan Tentang Penanggulangan Sampah Perkotaan. MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, 13(1).

0 komentar:

Posting Komentar