Senin, 25 Mei 2026

Esai 11 - UTS Psikologi Lingkungan

 

Nama : B Arifin

NIM : 25310440002

JAWABAN SOAL UTS


Pernyataan tersebut sudah tepat dalam menempatkan hierarki pengelolaan sampah secara normatif, yaitu menjadikan reduce sebagai prioritas utama, diikuti reuse, lalu recycle. Namun, dari perspektif psikologi lingkungan, yang lebih penting untuk dicermati bukan sekadar urutan ideal dalam hierarki tersebut, melainkan kesenjangan antara urutan yang dianjurkan dan perilaku nyata masyarakat, atau yang dikenal sebagai value action gap. Inti kajian psikologi lingkungan justru terletak pada pertanyaan mengapa perilaku pro-lingkungan kerap tidak sejalan dengan pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang. Dengan kata lain, mengetahui bahwa 3R itu baik tidak otomatis membuat seseorang melakukannya.

Bukti empiris mendukung kritik ini. Studi di Shah Alam, Malaysia (Ali et al., 2021) menemukan bahwa perilaku yang paling banyak dilakukan justru reuse, dengan penggunaan ulang kantong plastik mencapai 58%, botol 48,6%, dan koran 45,3%. Sebaliknya, tingkat partisipasi dalam recycle tergolong sangat rendah karena mayoritas responden lebih memilih membuang elektronik bekas dan minyak jelantah daripada membawanya ke pusat daur ulang. Temuan ini menunjukkan bahwa urutan prioritas normatif tidak otomatis tercermin dalam urutan perilaku aktual. Pola serupa juga tampak di Bangladesh (Chowdhury et al., 2014), di mana praktik daur ulang sebagian besar bergantung pada sektor informal sementara sistem formalnya masih lemah. Maka, klaim bahwa 3R efektif di berbagai konteks sosial dan geografis sebaiknya diperhalus menjadi pernyataan bahwa 3R menghadapi hambatan psikologis dan struktural yang serupa di berbagai konteks.



Bagan 1. Hierarki pengelolaan sampah 3R disandingkan dengan tingkat partisipasi nyata masyarakat (data: Ali et al., 2021).

Mengapa kesenjangan ini terjadi dapat dijelaskan melalui sejumlah teori psikologi lingkungan. Berdasarkan Theory of Planned Behavior (Ajzen), perilaku 3R dipengaruhi oleh sikap, norma subjektif, dan persepsi kemampuan mengendalikan perilaku atau perceived behavioral control. Perilaku reuse lebih dominan karena mudah, murah, dan telah menjadi kebiasaan rumah tangga sehari-hari, sehingga persepsi kendali atasnya tinggi. Sebaliknya, recycle menuntut usaha yang jauh lebih besar, seperti memilah sampah dan mengangkutnya ke pusat daur ulang, sehingga persepsi kendalinya rendah dan niat untuk melakukannya melemah. Faktor ekonomi turut berperan diantaranya studi di Malaysia mencatat banyak orang merasa mampu membeli barang baru sehingga insentif kecil dari daur ulang dianggap tidak berarti. Hal ini sejalan dengan Norm Activation Model, yang menjelaskan bahwa perilaku pro-lingkungan baru muncul ketika seseorang merasa bertanggung jawab secara personal dan menyadari konsekuensi dari tindakannya. Ketika kesadaran ini lemah, kesenjangan antara sikap dan tindakan semakin lebar.

Temuan tersebut memberikan implikasi penting bagi rancangan intervensi. Rekomendasi yang umum diberikan, yaitu kampanye edukasi, sebenarnya belum memadai. Dari sudut pandang psikologi lingkungan, perubahan perilaku tidak hanya bergantung pada niat baik individu, tetapi juga pada apakah faktor situasional memungkinkan perilaku tersebut terjadi. Edukasi yang hanya menambah pengetahuan tanpa diiringi kemudahan bertindak cenderung gagal mengubah perilaku. Karena itu, edukasi sebaiknya dikombinasikan dengan penyediaan fasilitas daur ulang yang mudah diakses, pemberian insentif yang berarti, dorongan halus atau nudges, umpan balik berkala, serta pemanfaatan norma sosial agar perilaku 3R menjadi hal yang lazim dan diharapkan dalam komunitas.

Sebagai penutup, pernyataan dalam soal akan menjadi lebih kuat apabila tidak berhenti pada urutan hierarki yang ideal, melainkan turut menjelaskan faktor individual dan struktural yang menjembatani kesenjangan antara sikap dan perilaku 3R. Dengan demikian, hierarki 3R tidak dipahami semata sebagai aturan normatif yang ideal, tetapi sebagai perilaku nyata yang dipengaruhi oleh psikologi individu sekaligus konteks lingkungan tempat individu itu berada. Pemahaman ini sejalan dengan tujuan psikologi lingkungan, yakni menjelaskan dan mendorong perilaku berkelanjutan melalui pendekatan yang memadukan dimensi kognitif, sosial, dan situasional secara menyeluruh.


 

Daftar Pustaka

Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50(2), 179–211.

Ali, N. E. H., Talmizi, N. M., Wahab, S. N. A., Rijal, N. S., Rased, A. N. N. W. A., & Saleh, A. A. (2021). Solid waste management hierarchy: An empirical investigation. International Invention & Innovative Competition (InIIC) Series 1.

Bahraini, A. (2023). Apa itu 3R? Pengertian reduce, reuse, recycle dan contohnya. Waste4Change. Diakses dari https://waste4change.com/blog/konsep-prinsip-3r-reduce-reuse-recycle/

Chowdhury, A. H., Mohammad, N., Haque, M. R. U., & Hossain, T. (2014). Developing 3Rs (reduce, reuse and recycle) strategy for waste management in the urban areas of Bangladesh: Socioeconomic and climate adoption mitigation option. IOSR Journal of Environmental Science, Toxicology and Food Technology, 8(5), 9–18.

Schwartz, S. H. (1977). Normative influences on altruism. Advances in Experimental Social Psychology, 10, 221–279.


25/5/2026

Suatu hari di sebuah mall yang berlokasi di depan Polda Provinsi.

Di suatu toilet, ketika saya menghampiri ruang janitor dilantai 1 dan bertanya kepada seorang OB,

"Pak, izin tanya, OB yang tunawicara, hari ini shiftnya di mana ya?"

"Oh, si Muslih."

"Dia biasanya ada di LG atau di Ruang Loading, Mas, Ada apa ya pak ?" 

"Oh, gpp Mas, tanya aja…"

Sampai akhirnya saya cari cari di toilet LG,  kok tidak ada ya. Sampailah saya teringat, kalau tidak ada di toilet, cari aja ke ruang loading. Jadi di LG ada pintu dengan pembatas plastik, didorong aja, itu akan mengarah ke ruang loading. 

Saya pun mencari beliau di ruang loading, cari sana sini, sana sini,  gak ketemu. Sampailah saya menghampiri seorang satpam yang bernama Pak Rizky. 

"Pak, izin tanya, Muslih di mana ya, Pak? Kok saya cari di ruang loading gak ada?"

"Ada keperluan apa ya, Pak?"

"Gpp Pak, jadi…"

"Oh, baik Pak, sebentar pak, saya carikan dulu ya."

Akhirnya beliau pun mencarikannya di ruang OB, dengan saya pun mengekor dibelakang.
Sampai pada akhirnya di
 kantor OB pun saya dihampiri seseorang yang sepertinya seniornya, yg menanyakan ada apa, dan saya pun menjawab hal yang sama seperti menjawab ke OB pertama dan ketika menjawab ke Pak Rizky. Sampai pada akhirnya, "Sebentar Pak, saya carikan…"

Tidak lama kemudian, beliau pun datang. Dengan membawa Ember dan kain pel. Dan pada akhirnya saya bilang sama rekannya yang juga sama sama datang dari lokasi yang sama, mbak izin saya ngobrol berdua sama Pak Muslih, ada hal yang mau dibicarakan…

"oh baik baik pak"

Sampai pada akhirnya, episode itu pun tiba. Di sekitar jam 10.30. 25/5/2025.

Dan saya agak deg degan juga.  

"Pak, masih inget saya gak pak ? jumat lalu, di tanggal 22 mei saya pernah ketemu bapak di ......dan bapak ……."

Habis ngomong itu, saya pun langsung menunjukkan sebuah teks, yang izin saya blur bagian bawahnya…


 


Dan ketika beliau membaca tulisan tersebut, saya pun melihat wajah haru di wajahnya. 

Beliau pasti gak nyangka bahwa paparan paparan kebaikan yang dia lakukan di tanggal 22 mei 2026 sekitar jam 15.00 itu memiliki........... tersendiri dan merupakan suatu hal yang…………..... bagi saya. 

Dan, Setelah itu, kita pun berfoto.


-End

Terima kasih, Pak Muslih. Terima kasih, Bu Shinta, Terimakasih atas segala ilmu yang telah Ibu berikan, saya memaknai betul pengalaman seru ke tpst, seluruh pengamatan detail saya se every detailnya everydetailnya dari berinteraksi antar teman, mahasiswa ke dosen, mahasiswa ke tim tpst memiliki daya tular positifnya tersendiri ke mahasiswa-mahasiswanya. 😊


 

Dokumentasi Ketika Kunjungan ke TPST





 



0 komentar:

Posting Komentar