Rabu, 27 Mei 2026

ESAI 7: BELAJAR DI TPST

Manajemen Pengelolaan Sampah di TPST Randu Alas

Yufika Dwi Rezeki

25310440003

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas 7 – Belajar di TPST

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Mei 2026

Pada tanggal 2 Mei 2026, saya bersama dosen mata kuliah Psikologi Lingkungan, Ibu Shinta, dan teman-teman kelas melakukan kunjungan belajar ke TPST Randu Alas. Kegiatan ini memberikan pengalaman belajar secara langsung mengenai bagaimana pengelolaan sampah dilakukan di masyarakat. Selama ini saya hanya mengetahui pengolahan sampah dari teori atau media sosial, tetapi melalui kunjungan ini saya dapat melihat secara nyata proses pengolahan sampah dari awal hingga akhir.

Ketika sampai di lokasi, kami diajak berkeliling untuk melihat berbagai bagian pengolahan sampah. Di TPST Randu Alas terdapat pengelolaan sampah organik dan anorganik. Sampah terlebih dahulu dipilah sesuai jenisnya agar lebih mudah diolah. Sampah anorganik seperti plastik dipisahkan untuk didaur ulang, sedangkan sampah organik diolah menjadi berbagai produk yang bermanfaat. Kami juga melihat adanya mesin pengolah sampah yang membantu mempercepat proses pengolahan.

Para pekerja sedang memilah sampah.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah penggunaan cairan eco lindi bakteri yang digunakan untuk mengurangi bau sampah. Saya baru mengetahui bahwa cairan tersebut dapat membantu mengatasi aroma tidak sedap di area pengolahan. Selain itu, di TPST Randu Alas juga dihasilkan berbagai produk seperti POC (Pupuk Organik Cair), MOL (Mikroorganisme Lokal), dan pupuk organik. Hal ini menunjukkan bahwa sampah sebenarnya masih memiliki nilai guna apabila dikelola dengan baik dan benar.

Setelah berkeliling, kami mendapatkan materi mengenai sejarah berdirinya TPST Randu Alas. Dijelaskan bahwa TPST ini awalnya didirikan oleh Pak Joko bersama tiga orang temannya. Pada awal berdiri, pelanggan mereka hanya sekitar 25 orang. Dalam waktu satu setengah tahun jumlah pelanggan meningkat menjadi 60 orang. Namun, pada dua tahun pertama mereka tidak terlalu memikirkan keuntungan atau pembayaran. Fokus utama mereka adalah menjaga konsistensi pelayanan dan tetap membantu masyarakat, termasuk warga yang kurang mampu atau belum bisa mengolah sampah secara mandiri.


Pemaparan materi dari pihak TPST Randu Alas.

Dari penjelasan tersebut saya belajar bahwa perubahan lingkungan tidak dapat terjadi secara instan. Dibutuhkan ketekunan, kerja sama, dan kepedulian sosial agar program pengelolaan sampah dapat berjalan dengan baik. Saya juga menyadari bahwa pengelolaan lingkungan berkaitan erat dengan perilaku manusia. Dalam psikologi lingkungan, perilaku peduli lingkungan dapat terbentuk melalui kebiasaan, edukasi, dan dukungan dari lingkungan sekitar.

Selain manfaatnya, pekerjaan di TPST juga memiliki risiko yang besar. Kami diberi tahu bahwa selama proses pengolahan sampah sering terjadi kecelakaan kerja, misalnya kaki terkena paku meskipun pekerja sudah menggunakan APD dan sepatu bot lengkap. Hal ini membuat saya lebih menghargai para pekerja pengolahan sampah yang selama ini berperan penting menjaga kebersihan lingkungan.

Kunjungan ke TPST Randu Alas memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Saya menjadi lebih memahami pentingnya memilah sampah, menjaga kebersihan lingkungan, dan menghargai proses pengolahan sampah yang tidak mudah. Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau petugas kebersihan, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat.

Dokumentasi kegiatan bersama teman-teman kelas.

0 komentar:

Posting Komentar