Manajemen Pengelolaan Sampah di
TPST Randu Alas
Yufika Dwi Rezeki
25310440003
Kelas Psikologi Lingkungan – B
Tugas 7 – Belajar di TPST
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.
Mei 2026
Pada
tanggal 2 Mei 2026, saya bersama dosen mata kuliah Psikologi Lingkungan, Ibu
Shinta, dan teman-teman kelas melakukan kunjungan belajar ke TPST Randu Alas.
Kegiatan ini memberikan pengalaman belajar secara langsung mengenai bagaimana
pengelolaan sampah dilakukan di masyarakat. Selama ini saya hanya mengetahui
pengolahan sampah dari teori atau media sosial, tetapi melalui kunjungan ini
saya dapat melihat secara nyata proses pengolahan sampah dari awal hingga
akhir.
Ketika sampai di lokasi, kami diajak berkeliling untuk melihat berbagai bagian pengolahan sampah. Di TPST Randu Alas terdapat pengelolaan sampah organik dan anorganik. Sampah terlebih dahulu dipilah sesuai jenisnya agar lebih mudah diolah. Sampah anorganik seperti plastik dipisahkan untuk didaur ulang, sedangkan sampah organik diolah menjadi berbagai produk yang bermanfaat. Kami juga melihat adanya mesin pengolah sampah yang membantu mempercepat proses pengolahan.
Salah
satu hal yang menarik perhatian saya adalah penggunaan cairan eco lindi bakteri
yang digunakan untuk mengurangi bau sampah. Saya baru mengetahui bahwa cairan
tersebut dapat membantu mengatasi aroma tidak sedap di area pengolahan. Selain
itu, di TPST Randu Alas juga dihasilkan berbagai produk seperti POC (Pupuk
Organik Cair), MOL (Mikroorganisme Lokal), dan pupuk organik. Hal ini
menunjukkan bahwa sampah sebenarnya masih memiliki nilai guna apabila dikelola
dengan baik dan benar.
Setelah
berkeliling, kami mendapatkan materi mengenai sejarah berdirinya TPST Randu
Alas. Dijelaskan bahwa TPST ini awalnya didirikan oleh Pak Joko bersama tiga
orang temannya. Pada awal berdiri, pelanggan mereka hanya sekitar 25 orang.
Dalam waktu satu setengah tahun jumlah pelanggan meningkat menjadi 60 orang.
Namun, pada dua tahun pertama mereka tidak terlalu memikirkan keuntungan atau
pembayaran. Fokus utama mereka adalah menjaga konsistensi pelayanan dan tetap
membantu masyarakat, termasuk warga yang kurang mampu atau belum bisa mengolah
sampah secara mandiri.
Dari
penjelasan tersebut saya belajar bahwa perubahan lingkungan tidak dapat terjadi
secara instan. Dibutuhkan ketekunan, kerja sama, dan kepedulian sosial agar
program pengelolaan sampah dapat berjalan dengan baik. Saya juga menyadari
bahwa pengelolaan lingkungan berkaitan erat dengan perilaku manusia. Dalam
psikologi lingkungan, perilaku peduli lingkungan dapat terbentuk melalui
kebiasaan, edukasi, dan dukungan dari lingkungan sekitar.
Selain
manfaatnya, pekerjaan di TPST juga memiliki risiko yang besar. Kami diberi tahu
bahwa selama proses pengolahan sampah sering terjadi kecelakaan kerja, misalnya
kaki terkena paku meskipun pekerja sudah menggunakan APD dan sepatu bot
lengkap. Hal ini membuat saya lebih menghargai para pekerja pengolahan sampah
yang selama ini berperan penting menjaga kebersihan lingkungan.
Kunjungan ke TPST Randu Alas memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Saya menjadi lebih memahami pentingnya memilah sampah, menjaga kebersihan lingkungan, dan menghargai proses pengolahan sampah yang tidak mudah. Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau petugas kebersihan, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat.


.jpeg)
.jpeg)







0 komentar:
Posting Komentar