UTS PISIKILOGI LINGKUNGAN
Hirarki Pengelolaan Sampah: Analisis Struktur Tradisional dan Kritik Hierarki Terbalik Mengenai Limbah (Chowdhury et al. 2014)
Moch Aziiz Suharyadi
24310410211
Kelas Psikologi
Lingkungan – B
Tugas Essai 11
Dosen Pengampu : Dr.
Arundati Shinta, M.A.
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
2026
Hirarki pengelolaan limbah
merupakan kerangka konseptual yang dirancang untuk memandu dan memberi
peringkat keputusan pengelolaan limbah pada tingkat individu dan organisasi. Hirarki
ini memberikan prioritas utama pada pencegahan limbah, diikuti oleh penggunaan
kembali, daur ulang, pemulihan, dan akhirnya pembuangan. Hirarki ini membantu
kita memikirkan kembali hubungan kita dengan sampah berdasarkan lima prioritas
yang diurutkan berdasarkan apa yang terbaik bagi lingkungan , dan hal ini
sering digambarkan sebagai piramida terbalik dengan lima tingkatan.
Adapun tahapan hirarki pengelolaan
limbah terdiri dari beberapa tingkatan. Urutan paling atas adalah Prevention
atau dalam bahasa Indonesia memiliki arti Pencegahan , yang merupakan tahap
paling atas dan paling utama dalam hierarki pengelolaan sampah. Langkah
pencegahan pada prinsipnya mengurangi pencemar dari sumbernya untuk mencegah
dampak lingkungan yang lebih berat. Pencegahan bertujuan menghindari atau
meminimalkan produksi sampah sejak awal, misalnya dengan mengurangi konsumsi
berlebihan dan memilih produk yang ramah lingkungan serta kemasan yang dapat
digunakan ulang. Di lingkungan yang terdekat, misalnya dengan mengurangi jumlah
sampah yang dihasilkan. Dengan mencegah timbulan sampah, beban pengelolaan
sampah pada tahap selanjutnya dapat berkurang secara signifikan.
Langkah berikutnya adalah
Pengurangan Sampah (Reduce) yaitu mengurangi jumlah sampah yang
dihasilkan. Reduce atau reduksi sampah merupakan upaya mengurangi
timbulan sampah di lingkungan sumber dan bahkan dapat dilakukan sejak sebelum
sampah dihasilkan. Ini bisa dilakukan dengan mengubah pola konsumsi dan
produksi, seperti menggunakan produk dengan kemasan minimal atau sistem isi
ulang (refill). Setiap sumber sampah dapat melakukan upaya reduksi
sampah dengan cara mengubah pola hidup konsumtif, yaitu dengan perubahan
kebiasaan dari yang boros dan menghasilkan banyak sampah menjadi lebih hemat
atau efisien dan hanya menghasilkan sampah dalam jumlah yang sedikit. Pengurangan
sampah juga mencakup upaya meminimalkan limbah yang tidak dapat didaur ulang.
Setelah pencegahan dan pengurangan,
hierarki mengedepankan Penggunaan Kembali (Reuse). Reuse berarti
menggunakan kembali bahan atau material agar tidak menjadi sampah (tanpa
melalui proses pengolahan). Barang bekas dapat dimanfaatkan kembali untuk
fungsi yang sama atau berbeda, sehingga mengurangi kebutuhan akan bahan baru
dan mengurangi sampah yang harus diolah lebih lanjut. Dengan melakukan reuse
berarti akan memperpanjang usia penggunaan barang melalui perawatan dan
pemanfaatan kembali barang secara langsung.
Tahap selanjutnya adalah Daur Ulang
(Recycle). Recycling berasal dari kata Recycle yaitu
mendaur ulang suatu bahan yang sudah tidak berguna menjadi bahan lain atau
barang yang baru setelah melalui proses pengolahan. Daur ulang adalah proses
mengolah sampah menjadi bahan baku baru atau produk lain yang berguna. Sebagai
contoh, pengolahan sampah organik menjadi kompos dan sampah plastik menjadi
pelet plastik. Daur ulang membantu mengurangi volume sampah yang dibuang ke
tempat pembuangan akhir (TPA) dan menghemat sumber daya alam.
Pada tahap berikutnya terdapat
Penghematan Energi (Energy Recovery). Energy Recovery yaitu
menangkap energi yang ada pada sampah atau menjadikan sampah menjadi sumber
energi alternatif. Pada tahap ini, sampah yang tidak dapat didaur ulang diolah
untuk menghasilkan energi, misalnya melalui proses pembakaran (insinerasi),
gasifikasi, atau pembuatan biogas. Penghematan energi ini merupakan alternatif
pemanfaatan sampah yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pembuangan langsung.
Langkah terakhir dalam hierarki
adalah Pembuangan (Disposal) sampah ke TPA. Disposal dalam
konteks pengelolaan sampah mengacu pada tindakan pembuangan atau pemusnahan
sampah yang tidak dapat didaur ulang atau dimanfaatkan kembali. Ini adalah
tahap akhir dalam proses pengelolaan sampah, setelah tahap pengurangan (Reduce),
penggunaan ulang (Reuse), dan daur ulang (Recycle) telah
dilakukan. Pembuangan dilakukan jika sampah tidak dapat diolah atau
dimanfaatkan melalui langkah-langkah sebelumnya. Tujuan utama disposal
adalah untuk memastikan sampah yang tidak dapat diolah lagi dibuang secara aman
dan terkontrol, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Pembuangan
merupakan opsi yang paling tidak diinginkan karena berpotensi menimbulkan
pencemaran lingkungan dan membutuhkan lahan yang luas.
Contoh Perilaku Hirarki Pengelolaan
Limbah
Penerapan tahapan tersebut dapat
diwujudkan melalui contoh perilaku hirarki pengelolaan limbah berikut:
- Pencegahan Sampah (Prevention): Membawa tas belanja pribadi untuk mengurangi penggunaan kantong plastik dan menggunakan tumbler. Contoh lain adalah menggunakan kembali barang yang masih bisa digunakan, seperti memanfaatkan botol bekas untuk wadah atau menggunakan wadah makanan untuk menyimpan sisa makanan , serta menggunakan kertas secara efisien, seperti menggunakan kedua sisi kertas untuk penulisan dan fotokopi.
- Penggunaan Kembali (Reuse): Memanfaatkan bungkus makanan plastik bekas untuk dibuat tas plastik bermotif unik serta memberikan botol bekas atau barang layak pakai kepada orang lain agar tidak langsung dibuang. Perilaku ini juga termasuk menggunakan kertas bolak-balik, menggunakan kembali botol bekas minuman untuk tempat air, dan lain-lain. Contohnya seperti menggunakan kembali pakaian lama yang sudah tidak terpakai untuk diubah menjadi kain lap, tas, atau bahan kerajinan tangan , serta menggunakan kembali botol air mineral dengan membawa botol air minum sendiri daripada membeli air kemasan setiap kali.
- Pengurangan Sampah (Reduce): Mengurangi pembelian barang yang tidak perlu sehingga sampah juga berkurang serta menghindari penggunaan bahan kimia berbahaya yang dapat menimbulkan limbah sulit terurai. Contoh lainnya adalah mengurangi konsumsi kertas seperti mengurangi konsumsi penggunaan tisu dan beralih menggunakan kain lap atau sapu tangan , serta menggunakan kemasan yang bisa diisi ulang seperti menggunakan botol sabun dan sampo yang bisa diisi ulang.
- Daur Ulang (Recycle): Memilah sampah organik dan anorganik secara mandiri serta mengikuti program bank sampah yang memberikan insentif bagi masyarakat yang memilah dan mengumpulkan sampah. Contoh nyata pengolahannya adalah mengolah sisa kain perca menjadi selimut, kain lap, keset kaki dan sebagainya , serta sampah dapur yang berupa sisa-sisa makanan dijadikan kompos.
- Penghematan Energi (Energy Recovery): Mengolah sampah organik menjadi kompos sehingga mengurangi sampah dan menghasilkan energi biologis , serta menggunakan teknologi pembakaran sampah yang ramah lingkungan untuk menghasilkan energi listrik. Contoh teknisnya meliputi pemanfaatan limbah industri untuk pembangkitan listrik, di mana limbah industri seperti limbah pabrik kertas atau kayu dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi panas yang dapat digunakan untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik. Selain itu, terdapat Gasifikasi Sampah, di mana sampah yang tidak dapat didaur ulang dapat diolah melalui proses gasifikasi untuk menghasilkan gas sintetik (syngas) yang dapat digunakan sebagai bahan bakar atau untuk menghasilkan listrik.
- Pembuangan
(Disposal):
Membuang sampah pada tempatnya dan mengikuti jadwal pengangkutan sampah
yang rutin agar sampah tidak menumpuk. Adapun contoh untuk mencegah
terjadinya disposal yang berlebih adalah dengan buang sampah pada
tempatnya untuk memastikan sampah dibuang pada tempat pembuangan yang
disediakan , serta gunakan teknologi tepat guna untuk mengelola sampah,
misalnya membuat kompos sendiri di rumah atau menggunakan minicomposter.
Solusi dan Kritik Terhadap Hirarki
Pengelolaan Limbah
Terdapat solusi dan kritik terhadap
hirarki pengelolaan limbah yang berkembang. Saya menyetujui kritik untuk
Chowdhury et al. (2014) di mana akan lebih bijak bila energy recovery
ada pada peringkat pertama. Artinya, kita membuang sampah kemudian sampah
langsung menjadi energi. Setelah itu, sisa-sisa dari energy recovery
tersebut akan dibuat kompos, kotak pensil, eco enzym, sabun cair, dan juga
produk-produk ekonomi sirkuler lainnya. Hal tersebut bisa menjadi solusi atas
rendahnya motivasi masyarakat untuk melaksanakan perilaku 3R yang mana hal
tersebut memang sulit untuk dilakukan, membutuhkan biaya yang mahal, dan juga
konsistensi yang luar biasa.
Namun di sisi lain, jika energy
recovery ditempatkan pada urutan pertama maka risikonya akan mendorong
masyarakat untuk menghasilkan lebih banyak sampah karena masyarakat merasa ada
manfaat dari pembakaran sampah tersebut. Hal ini mengabaikan prinsip
pengurangan sampah yang harusnya dilakukan, dan membuat ketergantungan pada
jumlah sampah. Memang agak sulit mempraktikkan 3R, memilih sampah dan membuat
kompos pada kehidupan sehari-hari; hal ini memerlukan ketekunan dan dukungan
dari sekitar, sehingga peran pemerintah sangat diperlukan untuk menjadikan 3R
menjadi lebih mudah dan menarik. Kesulitan dalam melakukan bukan menjadi
hambatan, karena kita harus memiliki tujuan untuk keberlanjutan jangka panjang.
Energy recovery walaupun menghasilkan energi tetapi proses dari
pembakarannya tentu masih menghasilkan abu beracun, emisi karbon, dan masalah
residu sisa pembakaran. Hal tersebut bisa mendatangkan banyak risiko baik
pencemaran lingkungan ataupun udara.
Daftar Pustaka
Suryani, L. Sugiartha, G, N, I. Putra, D, O, M, I.
“Pengelolaan Sampah Plastik Rumah Tangga, Dalam Rangka Pencegahan
Pencemaran Lingkungan (Study di Lingkungan Kelurahan Pedungan Kecamatan
Denpasar Selatan Kota Denpasar)”. 2021. Jurnal Konstruksi Hukum. Vol. 2,
No. 1. hal. 89
Buana Angga, L, C. 2016. “Motivasi, Pendorong dan Penghambat Ibu Rumah Tangga Dalam Pengelolaan Sampah Berbasis 3R (Reuse, Reduce, Recycle) Berdasarkan Kelas Sosial”. Universitas Ma Chung Malang. Parsimonia Vol. 2 No. 3 . 114-115.
Anaerobic Digestion. Waste management hierarchy - the driver for sustainable biogas development Diakses pada 26 Mei 2026, dari: https://anaerobic-digestion.com/waste-management-hierarchy/
Ali, N.E.H., Talmizi, N.M., Wahab, S.N.A., Rijal, N.S.,
Rased, A.N.N.W.A. & Saleh, A.A. (2021). Solid waste management hierarchy:
An empirical investigation. Conference: Changing Lives in Briliant Ways
International Invention & Innovative Competition (InIIC). August, pp.
1-7. Retrieved from:
https://www.researchgate.net/publication/353827740_Solid_Waste_Management_Hierarchy_An_Empirical_Investigation







0 komentar:
Posting Komentar