JAWABAN UJIAN TENGAH SEMESTER
NAMA : Bintar Tri Atmaji
NIM : 25310430003
MATA KULIAH : Psikologi Lingkungan
PENGAMPU : Dr. Arundati Shinta, M.A
BAB I
PENDAHULUAN
Komentar saya terkait kasus soal ini dengan mendalami dekonstruksi pada hierarki pengelolaan sampah dan perilaku masyarakat terhadap sampah, dengan kata lain teori versus praktek. Hierarki tersebut menempatkan perilaku 3R (reduce, reuse, dan recycle) yang artinya merupakan tahapan pengelolaan sampah modern yang wajib diterapkan dalam hierarki penanganan limbah sebelum sampah tersebut akhirnya dimusnahkan, Cunningham, W. P., & Cunningham, M. A. (2004).
BAB II
ISI
Pada prioritas utama yang ada di TPST Randu Alas secara teori menurut hierarki adalah Reduce yaitu mengurangi timbulan sampah sejak awal, tetapi fakta dilapangan TPST Randu Alas justru pada saat musim-musim tertentu misal Idhul Fitri, Liburan panjang atau banyak acara/event justru sampah yang di kelola mengalami lonjakan yang signifikan dan pada akhirnya di TPST Randu Alas lebih fokus pada penanganan sampah yang sudah terlanjur diterima untuk mengolah sampah organik dan memilah sampah anorganik. Bagan pengelolaan sampah menurut Suyoto. (2008) dalam alur penerapan skala rumah tangga yaitu :
Perilaku 3R merupakan pendekatan yang efektif dalam mengurangi timbulan sampah di berbagai konteks sosial dan geografis, tetapi kendala di lapangan sangatlah komplek. Seperti contoh di TPST Randu Alas dengan letak geografis berada di permukiman umum yang sangat rentan dengan konflik politik, kepentingan pribadi serta golongan. Contoh kasus yang terjadi pada waktu proses pembakaran sampah, saat itu pengelola dan pengurus TPST Randu Alas sampai di demo oleh warga. Keterlibatan dari berbagai stakeholder sangat diperlukan dalam menangani sampah di Indonesia, dari unsur pemerintah, LSM, aktivis, sektor swasta, akademisi serta komunitas untuk bersama-sama mengedukasi kepada warga tentang perilaku 3R.
BAB III
KESIMPULAN
Dalam hal ini saya mengambil kesimpulan Hierarki 3R tidak salah, namun perlu diperluas menjadi ekosistem yang melibatkan tanggung jawab bersama, baik dari segi industri misal dalam pembuatan botol plastik untuk diminimalkan dalam setiap kemasan, serta regulasi pemerintah yang ketat dalam pengurusan ijin industri yang nantinya menimbulkan masalah sampah dikemudian hari. Keterlibatan masyarakat tidak cukup hanya dengan edukasi dan mengajak spontan tanpa adanya aksi yang nyata, tetapi harus didukung dengan insentif nyata. Misal dalam satu kampung tingkat RT/RW menjadi percontohan kampung bersih lalu dari pemerintah memberikan hadiah atau insentif kepada warganya.
DAFTAR PUSTAKA
Cunningham, W. P., & Cunningham, M. A. (2004). Principles of Environmental Science: Inquiry and Applications. Edisi ke-2. New York: McGraw-Hill.
Suyoto. (2008). Fokus Sampah: Sampah Mau Dibawa Kemana?. Jakarta: Penerbit Buku Prima.






0 komentar:
Posting Komentar