Disusun oleh:
Yufika Dwi Rezeki
NIM 25310440003
Psikologi Lingkungan —Kelas B
Esai 10 Partisipasi Lomba
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Juli 2026
Mengembangkan Potensi Diri melalui Partisipasi dalam Lomba Esai dan Puisi Bertema Lingkungan
(sertifikat lomba esai)
(sertifikat lomba puisi)
Pada Juni 2026, saya mengikuti Creation Fest 2026 tingkat nasional dengan berpartisipasi dalam dua kategori lomba, yaitu esai dan puisi bertema lingkungan. Saya mengikuti kompetisi tersebut setelah panitia memberikan perpanjangan masa pendaftaran sehingga saya memiliki kesempatan untuk menyempurnakan kedua karya yang saya susun. Bagi saya, mengikuti dua kategori lomba sekaligus bukan hanya menjadi ajang untuk menguji kemampuan menulis, tetapi juga kesempatan untuk belajar, mengembangkan kreativitas, serta meningkatkan kepedulian terhadap isu lingkungan. Saya bersyukur karena karya esai yang saya kirimkan berhasil masuk dalam 10 besar, sehingga pengalaman ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus berkarya.
Pada kategori esai, saya mengangkat judul “EcoConnect+: Inovasi Digital Generasi Z untuk Mendorong Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Era Society 5.0.” Gagasan tersebut berangkat dari keresahan saya terhadap permasalahan sampah yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah. Saya melihat bahwa banyak masyarakat sebenarnya memiliki keinginan untuk mengelola sampah, tetapi informasi mengenai bank sampah, lokasi daur ulang, edukasi lingkungan, dan pemasaran produk hasil daur ulang masih belum terintegrasi dengan baik. Oleh karena itu, saya menawarkan konsep platform digital yang dapat menghubungkan masyarakat dengan berbagai layanan pengelolaan sampah sekaligus memberikan edukasi dan sistem insentif agar masyarakat lebih termotivasi menjaga lingkungan.
Selain mengikuti kategori esai, saya juga mengikuti kategori puisi dengan karya berjudul “Di Antara Akar dan Algoritma.” Melalui puisi tersebut, saya ingin menyampaikan bahwa kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat manusia semakin jauh dari alam. Sebaliknya, teknologi perlu dimanfaatkan sebagai sarana untuk menjaga keberlanjutan lingkungan. Saya menggambarkan bumi yang seolah berbicara melalui sungai yang tercemar, hutan yang kehilangan kehidupan, dan langit yang dipenuhi asap sebagai pengingat bahwa alam juga membutuhkan kepedulian manusia.
Proses penyusunan kedua karya tersebut memberikan pengalaman yang berbeda. Dalam menulis esai, saya mencari berbagai referensi, memahami persoalan lingkungan, kemudian menyusun solusi yang logis dan realistis. Sementara itu, ketika menulis puisi, saya berusaha mengubah fakta mengenai kondisi lingkungan menjadi rangkaian kata yang mampu menyentuh emosi pembaca. Saya juga beberapa kali melakukan revisi agar pesan yang ingin saya sampaikan menjadi lebih kuat dan mudah dipahami.
Pengalaman mengikuti kedua lomba ini semakin memperkuat motivasi internal saya. Saya menyadari bahwa keberanian untuk mencoba merupakan langkah awal dalam mengembangkan potensi diri. Keberhasilan saya masuk dalam 10 besar memberikan kebanggaan tersendiri sekaligus menjadi bukti bahwa proses belajar, ketekunan, dan kemauan untuk terus memperbaiki karya dapat menghasilkan pencapaian yang bermakna. Bagi saya, mengikuti lomba bukan semata-mata tentang memperoleh penghargaan, melainkan tentang keberanian untuk belajar, menerima tantangan, dan terus berkembang. Saya berharap pengalaman ini dapat menjadi motivasi bagi saya untuk terus berkarya serta berkontribusi dalam menyuarakan berbagai isu lingkungan melalui tulisan.
.jpeg)







0 komentar:
Posting Komentar